Anda di halaman 1dari 35

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang 1,2,3 Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau hilangnya jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik, dan radiasi. Luka bakar merupakan salah satu jenis trauma yang mempunyai angka morbiditas dan mortalitas tinggi yang memerlukan penatalaksanaan khusus sejak awal (fase syok ) sampai fase lanjut. ada kasus luka bakar ini harus diperhatikan berbagai aspek, karena pada kasus luka bakar memerlukan biaya yang sangat besar, perlu perawatan yang lama, perlu operasi berulang kali, bahkan meskipun sembuh bisa menimbulkan ke!a!atan yang menetap, sehingga penanganan luka bakar sebaiknya dikelola oleh tim trauma yang terdiri dari spesialis bedah (bedah anak, bedah plastik, bedah thoraks, bedah umum), intensifis, spesialis penyakit dalam, ahli gi"i, rehabilitasi medik, psikiatri, dan psikologi. rognosis dan penangangan luka bakar terutama tergantung pada dalam dan luasnya permukaan luka bakar dan penanganan sejak fase awal sampai penyembuhan. #elain itu faktor letak daerah yang terbakar, usia, dan keadaan kesehatan penderita juga turut menentukan ke!epatan penyembuhan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 ANATOMI DAN HISTOLOGI KULIT $ulit adalah organ tubuh terluas yang menutupi otot dan mempunyai peranan dalam homeostasis. $ulit merupakan organ terberat dan terbesar dari tubuh. #eluruh kulit beratnya sekitar 1% & berat tubuh, pada orang dewasa sekitar 2,' ( 3,% kg dan luasnya sekitar 1,) ( 1,* meter persegi. +ebalnya kulit ber,ariasi mulai -,) mm sampai % mm tergantung dari letak, umur dan jenis kelamin. $ulit tipis terletak pada kelopak mata, penis, labium minus dan kulit bagian medial lengan atas. #edangkan kulit tebal terdapat pada telapak tangan, telapak kaki, punggung, bahu dan bokong. #e!ara embriologis kulit berasal dari dua lapis yang berbeda, lapisan luar adalah epidermis yang merupakan lapisan epitel berasal dari e!toderm sedangkan lapisan dalam yang berasal dari mesoderm adalah dermis atau korium yang merupakan suatu lapisan jaringan ikat 2. 2.1.1 EPIDERMIS .pidermis adalah lapisan luar kulit yang tipis dan a,askuler. +erdiri dari epitel berlapis gepeng bertanduk, mengandung sel melanosit, Langerhans dan /erkel. +ebal epidermis berbeda0beda pada berbagai tempat di tubuh, paling tebal pada telapak tangan dan kaki. $etebalan epidermis hanya sekitar ) & dari seluruh ketebalan kulit. +erjadi regenerasi setiap 10% minggu. 2ungsi .pidermis 3 roteksi barier, organisasi sel, sintesis ,itamin 4 dan sitokin, pembelahan dan mobilisasi sel, pigmentasi (melanosit) dan pengenalan alergen (sel Langerhans). .pidermis terdiri atas lima lapisan (dari lapisan yang paling atas sampai yang terdalam) 3 1. #tratum $orneum 3 +erdiri dari sel keratinosit yang bisa mengelupas dan berganti. 2. #tratum Lusidum 3 Berupa garis translusen, biasanya terdapat pada kulit tebal telapak kaki dan telapak tangan. +idak tampak pada kulit tipis.

3. #tratum 5ranulosum 3 4itandai oleh 30) lapis sel polygonal gepeng yang intinya ditengah dan sitoplasma terisi oleh granula basofilik kasar yang dinamakan granula keratohialin yang mengandung protein kaya akan histidin. +erdapat sel Langerhans. 1. #tratum #pinosum 3 +erdapat berkas0berkas filament yang dinamakan tonofibril, dianggap filamen0filamen tersebut memegang peranan penting untuk mempertahankan kohesi sel dan melindungi terhadap efek abrasi. .pidermis pada tempat yang terus mengalami gesekan dan tekanan mempunyai stratum spinosum dengan lebih banyak tonofibril. #tratum basale dan stratum spinosum disebut sebagai lapisan /alfigi. +erdapat sel Langerhans. ). #tratum Basale (#tratum 5erminati,um) 3 +erdapat aktifitas mitosis yang hebat dan bertanggung jawab dalam pembaharuan sel epidermis se!ara konstan. .pidermis diperbaharui setiap 26 hari untuk migrasi ke permukaan, hal ini tergantung letak, usia dan faktor lain. /erupakan satu lapis sel yang mengandung melanosit 2. 2.1.2 DERMIS +erdiri atas jaringan ikat yang menyokong epidermis dan

menghubungkannya dengan jaringan subkutis. +ebalnya ber,ariasi, yang paling tebal pada telapak kaki sekitar 3 mm. 4ermis terdiri dari dua lapisan 3

Lapisan papiler7 tipis 3 mengandung jaringan ikat jarang. Lapisan retikuler7 tebal 3 terdiri dari jaringan ikat padat.

#erabut0serabut kolagen menebal dan sintesa kolagen berkurang dengan bertambahnya usia. #erabut elastin jumlahnya terus meningkat dan menebal, kandungan elastin kulit manusia meningkat kira0kira ) kali dari fetus sampai dewasa. ada usia lanjut kolagen saling bersilangan dalam jumlah besar dan serabut elastin berkurang. 8al ini menyebabkan kulit terjadi kehilangan kelemasannya dan tampak mempunyai banyak keriput. 4ermis mempunyai

banyak jaringan pembuluh darah. 4ermis juga mengandung beberapa deri,at epidermis yaitu folikel rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar keringat. $ualitas kulit tergantung banyak tidaknya deri,at epidermis di dalam dermis. 2ungsi 4ermis 3 struktur penunjang, me!hani!al strength, suplai nutrisi, menahan shearing for!es dan respon inflamasi . 2.1.3 SUBKUTIS /erupakan lapisan di bawah dermis atau hipodermis yang terdiri dari lapisan lemak. Lapisan ini terdapat jaringan ikat yang menghubungkan kulit se!ara longgar dengan jaringan di bawahnya. 9umlah dan ukurannya berbeda0beda menurut daerah di tubuh dan keadaan nutrisi indi,idu. Berfungsi menunjang suplai darah ke dermis untuk regenerasi. 2ungsi #ubkutis : hipodermis 3 melekat ke struktur dasar, isolasi panas, !adangan kalori, kontrol bentuk tubuh dan me!hani!al sho!k absorber 2. 2.2 2.2.1 LUKA BAKAR DEFINISI Luka bakar adalah luka yang terjadi akibat sentuhan permukaan tubuh dengan benda0benda yang menghasilkan panas (api se!ara langsung maupun tidak langsung, pajanan suhu tinggi dari matahari, listrik, maupun bahan kimia, air, dll) atau "at0"at yang bersifat membakar (asam kuat, basa kuat) 1. 2.2.2 ETIOLOGI 3 Luka bakar karena api Luka bakar karena air panas Luka bakar karena listrik dan petir Luka bakar karena bahan kimia ( yang bersifat asam atau basa kuat ) Luka bakar karena radiasi ;edera akibat suhu sangat rendah ( frost bite )

Luka bakar berdasarkan penyebab dibedakan atas3

$erusakan jaringan disebabkan oleh api lebih berat dibandingkan dengan air panas7 kerusakan jaringan akibat bahan yang bersifat koloid (misalnya bubur panas) lebih berat dibandingkan air panas. Luka bakar akibat ledakan juga menyebabkan kerusakan organ dalam akibat daya ledak (eksplosif). ada luka bakar yang disebabkan oleh bahan kimia terutama asam menyebabkan kerusakan yang hebat akibat reaksi jaringan sehingga terjadi diskonfigurasi jaringan yang menyebabkan gangguan proses penyembuhan. 2.2.3. PATOFISIOLOGI % <kibat pertama luka bakar adalah syok karena kaget dan kesakitan. embuluh kapiler yang terpajan suhu tinggi rusak dan permeabilitas meninggi. #el darah yang ada di dalamnya ikut rusak sehingga dapat terjadi anemia. /eningkatnya permeabilitas menyebabkan oedem dan menimbulkan bula yang banyak elektrolit. 8al itu menyebabkan berkurangnya ,olume !airan intra,askuler. $erusakan kulit akibat luka bakar menyebabkan kehilangan !airan akibat penguapan yang berlebihan, masuknya !airan ke bula yang terbentuk pada luka bakar derajat dua dan pengeluaran !airan dari keropeng luka bakar derajat tiga. Bila luas luka bakar kurang dari 2-&, biasanya mekanisme kompensasi tubuh masih bisa mengatasinya, tetapi bila lebih dari 2-& akan terjadi syok hipo,olemik dengan gejala yang khas, seperti gelisah, pu!at, dingin, berkeringat, nadi ke!il, dan !epat, tekanan darah menurun, dan produksi urin berkurrang. embengkakkan terjadi pelan0pelan, maksimal terjadi setelah delapan jam. ada kebakaran dalam ruang tertutup atau bila luka terjadi di wajah, dapat terjadi kerusakan mukosa jalan napas karena gas, asap, atau uap panas yang terhisap. =edem laring yang ditimbulkannya dapat menyebabkan hambatan jalan napas dengan gejala sesak napas, takipnea, stridor, suara serak dan dahak bewarna gelap akibat jelaga. 4apat juga kera!unan gas ;= dan gas bera!un lainnya. $arbon monoksida akan mengikat hemoglobin dengan kuat sehingga hemoglobin tak mampu lagi mengikat oksigen. +anda kera!unan ringan adalah lemas, bingung, pusing, mual

dan muntah.

ada kera!unan yang berat terjadi koma. Bisa lebih dari %-&

hemoglobin terikat ;=, penderita dapat meninggal. #etelah 12 ( 21 jam, permeabilitas kapiler mulai membaik dan mobilisasi serta penyerapan kembali !airan edema ke pembuluh darah. >ni di tandai dengan meningkatnya diuresis 3 <. ?=@< $.AB#<$<@ 9<A>@5<@ 1. Zona Koagula ! 4aerah yang langsung mengalami kerusakan (koagulasi protein) akibat pengaruh panas. 2. Zona S"a"! 4aerah yang berada langsung di luar "ona koagulasi, terjadi kerusakan endotel pembuluh darah disertai kerusakan trombosit dan leukosit, sehingga terjadi gangguan perfusi (no flow phenomena), diikuti perubahan permeabilitas kapiler dan respons inflamasi lokal. 3. Zona H!#$%$&! 4aerah di luar "ona statis, ikut mengalami reaksi berupa ,asodilatasi tanpa banyak melibatkan reaksi seluler. B. 2<#. LB$< B<$<A% 4alam perjalanan penyakit dibedakan 3 fase pada luka bakar, yaitu 3 1. Fa $ a'al ada fase ini problem yang berkisar pada gangguan saluran nafas karena adanya !edera inhalasi dan gangguan sirkulasi. ada fase ini juga terjadi gangguan keseimbangan sirkulasi !airan dan elektrolit, akibat !edera termis yang bersifat sistemik. 2. Fa $ $"$la( )o* +$%a*(!% , -!a"a ! , .a $ u+a*u" 2ase ini berlangsung setelah syok berakhir : dapat di atasi. Luka terbuka akibat kerusakan jaringan (kulit dan jaringan dibawahnya) dapat menimbulkan masalah, yaitu 3 roses ini berlangsung selama 12021 jam pas!a !edera dan mungkin berakhir dengan nekrosis jaringan.

a.

roses inflamasi roses inflamasi yang terjadi pada luka bakar berbeda dengan luka sayat elektif7 proses inflamasi di sini terjadi lebih hebat disertai eksudasi dan kebo!oran protein. ada saat ini terjadi reaksi inflamasi lokal yang kemudian berkembang menjadi reaksi sistemik dengan dilepaskannya "at0"at yang berhubungan dengan proses immunologik, yaitu kompleks lipoprotein (lipid protein complex, burn-toxin) yang menginduksi respon inflamasi sistemik (#>A# C Systemic Inflammation Response syndrome).

b. >nfeksi yang dapat menimbulkan sepsis !. roses penguapan !airan tubuh disertai panas : energi ( evaporative heat loss) yang menyebabkan perubahan dan gangguan proses metabolisme. 3. Fa $ lan/u" 2ase ini berlangsung setelah terjadi penutupan luka sampai terjadi maturasi. /asalah pada fase ini adalah timbul penyulit dari luka bakar berupa parut hipertrofik, kontraktur dan deformitas lain yang terjadi karena kerapuhan jaringan atau organ0organ stuktural, misalnya bouttonirre deformity. 2.2.0. KLASIFIKASI LUKA BAKAR 2,3 1. Luka bakar derajat satu 4itandai dengan luka bakar superfisial dengan kerusakan pada lapisan epidermis. +ampak eritema. enyebab tersering adalah sengatan sinar matahari. ada proses penyembuhan terjadi lapisan luar epidermis yang mati akan terkelupas dan terjadi regenerasi lapisan epitel yang sempurna dari epidermis yang utuh dibawahnya. +idak terdapat bula, nyeri karena ujung0ujung saraf sensorik teriritasi. 4apat sembuh spontan selama )01- hari. 2. Luka bakar derajat dua

$erusakan terjadi pada lapisan epidermis

dan sebagian dermis ada luka

dibawahnya, berupa reaksi inflamasi akut disertai proses eksudasi.

bakar derajat dua ini ditandai dengan nyeri, ber!ak0ber!ak berwarna merah muda dan basah serta pembentukan blister atau lepuh.biasanya disebabkan oleh tersambar petir, tersiram air panas. 4alam waktu 301 hari, permukaan luka bakar mengering sehingga terbentuklah krusta tipis berwarna kuning ke!oklatan seperti kertas perkamen. Beberapa minggu kemudian, krusta itu akan mengelupas karena timbul regenerasi epitel yang baru tetapi lebih tipis dari organ epitel kulit yang tidak terbakar didalamnya. =leh karena itu biasanya dapat terdapat penyembuhan spontan pada luka bakar superfisial atau partial thickness burn.

Gambar. 1 bula pada telapak tan an karena meme an dandan panas, luka in i di olon kan ke dalam luka bakar dera!at dua, karena epidermis berada diatas luka 4ibedakan menjadi 2 (dua)3 a. "era!at II dan kal #superfisial$ kerusakan mengenai sebagian superfisial dari dermis apendises kulit seperti folikel rambut, kelenjer keringat, kelenjer sebasea masih utuh penyembuhan terjasi spontan dalam waktu 1-011 hari.

b. 4erajat >> dalam (deep)

kerusakan mengenai hampir saluruh bagian dermis apendises kulit sperti folikel rambut, kelenjer keringat, kelenjer sebasea sebagian masih utuh.
D

enyembuhan terjadi lebih lama, tergantung apendises kulit yang tersisa. Biasanya terjadi dalam waktu lebih dari satu bulan.

Gambar.% &luka bakar dera!at dua dalam, pada anak yan tersiram kopi panas, luka ber'arna merah muda, lunak pada penekanan, dan tampak basah, sensasi nyeri sulit ditentukan pada anak. 3. Luka bakar derajat tiga +erjadi kerusakan pada seluruh ketebalan kulit. /eskipun tidak seluruh tebal kulit rusak, tetapi bila semua organ kulit sekunder rusak dan tidak ada kemampuan lagi untuk melakukan regenerasi kulit se!ara spontan: reepitelisasi, maka luka bakar itu juga termasuk derajat tiga. enyebabnya adalah api, listrik,atau "at kimia. /ungkin akan tampak berwarna putih seperti mutiara dan biasnya tidak melepuh, tampak kering dan biasanya relatif anestetik. 4alam beberapa hari, luka bakar sema!am itu akan membentuk eschar berwarna hitam, keras, tegang dan tebal.

Gambar.( &luka bakar dera!at ti a, pada anak yan rambut luka kerin tidak kemerahan dan ber'arna putih

meme an

pen eritin

#elama periode pas!a luka bakar dini sampai ) hari, akan sulit untuk membedakan luka bakar derajat dua atau tiga, tetapi pada minggu kedua sampai minggu ketiga pas!a luka bakar di mana tampak drainase dan es!har yang terpisah dari luka bakar derajat tiga. #etelah es!har diangkat, sisa jaringan dibawahnya (biasanya lapisan subkutan) akan membentuk jaringan granulasi, suatu massa yang terdiri dari sel0sel fibroblas dan jaringan penyambung yang kaya pembuluh darah kapiler. ermukaan jaringan granulasi yang berwarna merah tua itu terbentuk setelah 21 hari, dan dalam waktu 1 sampai 2 minggu kemudian sebaiknya dilakukan skin raft.

10

+abel 2 $lasifikasi kedalaman luka bakar% $lasifikasi Luka dangkal (superfi!ial burn) Luka sebagian dangkal (superfi!ial partial0 thi!kness burn) Luka sebagian dalam partial0 thi!kness burn) bakar ;airan atau uap5elembung panas minyak panas berisi+erasa G21 hari 8ipertrofi, berisiko untuk kontraktur akibat (kekakuan berlebih) enyebab enampakan luar BF,$ering nyalamemu!at penekanan berisi@yeri bila berkeringat, terpapar memu!atudara panas dan '02- hari Bmumnya terjadi parut7 untuk pigmen tidak jaringan potensial perubahan dan #ensasi merah7@yeri dengan Eaktu 9aringan parut terjadi penyembuhan 3 ( %+idak hari

bakar #inar paparan api

jaringan parut

bakar ;airan atau uap5elembung panas (tumpahan!airan, atau api per!ikan),merah7 paparan

nyaladengan penekanan

!airan (rapuh)7 basahdengan berwarna sampai memu!at penekanan dari merah7 putihsaja tidak dengan

(deep (tumpahan), api,atau kering berminyak,penekanan

jaringan parut yang

Luka seluruh lapisan

bakar ;airan atau uap utih berminyak sampai+erasa panas, (full minyak, kimia, api,abu0abu dan kehitaman7hanya bahankering dan tidak elastis7dengan yang kuat

+idak sembuh luka

dapatAisiko bakarkontraktur

sangat

(jikatinggi untuk terjadi

thi!kness burn)

listriktidak memu!at denganpenekanan mengenai G2& dari +B#<)


11

tegangan tinggi penekanan

2.2.1. PERHITUNGAN LUAS LUKA BAKAR 1,2,3 Ealaupun hanya perkiraan saja , the rule of nine, tetap merupakan petunjuk yang baik dalam menilai luasnya luka bakar3 kepala, ' persen, dan leher, 2 persen sehingga totalnya * persen. #etiap ekstrimitas atas, * persen 3 dan bagian anterior,2 H * persen. Badan bagian posterior, 13 persen, dan bokong ) persen, sehingga total 16 persen3 dan setiap ekstrimitas bawah, 2 H * 3 dan genitalia , 1 persen. Beberapa !ara penentuan derajat luka bakar3 almar surfa!e Luas permukaan pada telapak tangan pasien (termasuk jari0jari) se!ara kasar adalah -,6& dari seluruh luas permukaan tubuh. ermukaan telapak tangan dapat digunakan untuk mengukur luka bakar yang ke!il. Bntuk luka bakar dengan ukuran sedang, pengukuran dengan !ara ini tidak akurat.

Gambar ). *almar surface Ealla!e Aule of @ines /erupakan !ara yang baik dan !epat untuk mengukur luas luka bakar pada orang dewasa. +ubuh dibagi menjadi area sembilan persen, dan total daerah yang terkena luka bakar dapat dihitung. +etapi !ara ini tidak akurat pada anak0anak.pada anak dan bayi digunakan rumus lain karena luas relatif permukaan kepala anak jauh lebih besar dan luas relatif permukaan

12

kaki lebih ke!il. $arena perbandingan luas permukaan bagian tubuh anak ke!il berbeda, dikenal rumus 1- untuk bayi dan rumus 1-01)02- untuk anak.

Gambar +. *erhitun an luas luka bakar berdasarkan Rule of ,ine oleh -allace Lund and Bowder ;hart +abel ini apabila digunakan dengan benar merupakan !ara yang paling akurat. +abel ini mengkompensasi ,ariasi bentuk tubuh dengan umur, sehingga dapat memberikan perhitungan luas luka bakar yang akurat pada anak0anak.

13

Gambar .. /und and 0o'der 1hart 2.2.2


PEMERIKSAAN PENUNJANG +erutama untuk luka bakar yang berat Lab darah
o o o o o

8itung jenis $imia darah <nalisa gas darah dengan !arboHyhemoglobin <nalisis urin ;reatinin hosphokinase dan myoglobin urin ( Luka bakar akibat listrik)

14

emeriksaan fa!tor pembekuan darah ( B+, ;+) 2oto thoraks 3 untuk mengetahui apakah ada kerusakan akibat luka bakar inhalasi atau adanya trauma dan indikasi pemasangan intubasi ;+ s!an 3 mengetahui adanya trauma

Aadiologi
o

+es lain 3 dengan fiberopti! bron!hos!opy untuk pasien dengan luka bakar inhalasi. )

2.2.3.

PENATALAKSANAAN 1rinsip penanganan pada luka bakar sama seperti penanganan pada luka

akibat trauma yang lain, yaitu dengan <B; (<irway Breathing ;ir!ulation) yang diikuti dengan pendekatan khusus pada komponen spesifik luka bakar pada sur,ey sekunder A!%'a) an- B%$a"(!ng erhatikan adanya stridor (mengorok), suara serak, dahak berwana jelaga (bla!k sputum), gagal napas, bulu hidung yang terbakar, bengkak pada wajah. Luka bakar pada daerah orofaring dan leher membutuhkan tatalaksana intubasi (pemasangan pipa saluran napas ke dalam trakea:batang tenggorok) untuk menjaga jalan napas yang adekuat:tetap terbuka. >ntubasi dilakukan di fasilitas kesehatan yang lengkap dengan !ara intubasi endotrakeal, kemudian beri oksigen melalui fa!e mask atau endotrakeal tube. +eknik paling aman pada kasus ini adalah melakukan intubasi pada kondisi pasien sadar. $un!i penanganan pada teknik ini adalah anestesi topikal yang adekuat, memposisikan pasien dengan baik, dan pemberian oksigen dengan baik. emberian opioid intra,ena dapat diberikan untuk analgesi sistemik, tetapi obat sedatif harus hati0hati atau jangan diberikan pada pasien ini karena dapat memperburuk kondisi jalan nafas. +eknik intubasi yang ideal adalah dengan menggunakan fiberoptik fleksibel, meskipun teknik terbaik tergantung kemampuan dan pengalaman anestesiolog yang ada. <pabila jalan nafas bagian

15

atas sudah sangat rusak atau intubasi trakheal tidak bisa dilakukan, perlu dilakukan tindakan penanganan jalan nafas dengan pendekatan pembedahan (krikotiroidotomi jarum, krikotiroidotomi pembedahan, atau trakheostomi). 4!%5ula"!on #ebagai bagian dari perawatan awal pasien yang terkena luka bakar, emberian !airan intra,ena yang adekuat harus dilakukan. <kses intra,ena yang adekuat harus ada, baik se!ara akses ,ena perifer maupun akses ,ena sentral. +ujuan utama dari resusitasi !airan adalah untuk menjaga dan mengembalikan perfusi jaringan tanpa menimbulkan edema. $ehilangan !airan terbesar adalah pada 1 jam pertama terjadinya luka dan akumulasi maksimum edema adalah pada 21 jam pertama setelah luka bakar. rinsip dari pemberian !airan pertama kali adalah pemberian garam ekstraseluler dan air yang hilang pada jaringan yang terbakar, dan sel0sel tubuh ;airan infus yang diberikan adalah !airan kristaloid (ringer laktat, @a;l -,*&:normal #aline). $ristaloid dengan dekstrosa (gula) di dalamnya dipertimbangkan untuk diberikan pada bayi dengan luka bakar. 2ormula yang terkenal untuk resusitasi !airan adalah formula arkland yaitu3 I301 !! H berat badan (kg) H &+B#<J K !airan rumatan (maintenan!e per 21 jam). ;airan rumatan adalah 1!!:kgBB dalam 1- kg pertama, 2!!:kgBB dalam 1kg ke 2 (1102-kg) dan 1!!:kgBB untuk tiap kg diatas 2- kg. ;airan formula parkland (301!!H kgBB H &+B#<) diberikan setengahnya dalam 6 jam pertama dan setengah sisanya dalam 1% jam berikutnya. engawasan ke!ukupan !airan yang diberikan dapat dilihat dari produksi urin yaitu -,)01!!:kgBB:jam. ;ara lain adalah !ara .,ans 3 l. luas luka bakar dalam & H berat badan dalam kg C jumlah @a;l : 21 jam 2. luas luka bakar dalam & H berat badan dalam kg Cjumah plasma : 21 jam (no 1 dan 2 pengganti !airan yang hilang akibat oedem. lasma untuk mengganti plasma yang keluar dari pembuluh dan meninggikan tekanan osmosis

16

hingga mengurangi perembesan keluar dan menarik kembali !airan yang telah keluar) 3. 2--- !! 4eHtrose )& : 21 jam (untuk mengganti !airan yang hilang akibat penguapan ) #eparuh dari jumlah !airan 1K2K3 diberikan dalam 6 jam pertama, sisanya diberikan dalam 1% jam berikutnya. ada hari kedua diberikan setengah jumlah !airan pada hari pertama. 4an hari ketiga diberikan setengah jumlah !airan hari kedua. ;ara lain yang banyak dipakai dan lebih sederhana adalah menggunakan rumus BaHter yaitu 3 6 7 BB 7 0 55 #eparuh dari jumlah !airan ini diberikan dalam 6 jam pertama, sisanya diberikan dalam 1% jam berikutnya. 8ari pertama terutama diberikan elektrolit yaitu larutan AL karena terjadi defisit ion @a. 8ari kedua diberikan setengah !airan hari pertama. ;ontoh 3 seorang dewasa dengan BB )- kg dan luka bakar seluas 2- & permukaan kulit akan diberikan )- H 2- & H 1 !! C 1--- !! yang diberikan hari pertama dan 2--- !! pada hari kedua.* $ebutuhan kalori pasien dewasa dengan menggunakan formula ;urreri, adalah 2) k!al:kgBB:hari ditambah denga 1- k!al:& luka bakar:hari. etunjuk perubahan !airan emantauan urin output tiap jam +anda0tanda ,ital, tekanan ,ena sentral $e!ukupan sirkulasi perifer +idak adanya asidosis laktat, hipotermi 8ematokrit, kadar elektrolit serum, p8 dan kadar glukosa Analg$"!*

17

Aasa sakit merupakan masalah yang signifikan untuk pasien yang mengalami luka bakar untuk melalui masa pengobatan. ada luka bakar yang mengenai jaringan epidermis akan menghasilkan rasa sakit dan perasaan tidak nyaman. 4engan tidak terdapatnya jaringan epidermis (jaringan pelindung kulit), ujung saraf bebas akan lebih mudah tersensitasi oleh rangsangan. ada luka bakar derajat >> yang dirasakan paling nyeri, sedangkan luka bakar derajat >>> atau >F yang lebih dalam, sudah tidak dirasakan nyeri atau hanya sedikit sekali. #aat timbul rasa nyeri terjadi peningkatan katekolamin yang mengakibatkan peningkatan denyut nadi, tekanan darah dan respirasi, penurunan saturasi oksigen, tangan menjadi berkeringat, flush pada wajah dan dilatasi pupil. asien akan mengalami nyeri terutama saat ganti balut, prosedur operasi, atau saat terapi rehabilitasi. 4alam kontrol rasa sakit digunakan terapi farmakologi dan non farmakologi. +erapi farmakologi yang digunakan biasanya dari golongan opioid dan @#<>4. reparat anestesi seperti ketamin, @2= (nitrous oHide) digunakan pada prosedur yang dirasakan sangat sakit seperti saat ganti balut. 4apat juga digunakan obat psikotropik sepeti anHiolitik, tranLuili"er dan anti depresan. enggunaan ben"odia"epin dbersama opioid dapat menyebabkan ketergantungan dan mengurangi efek dari opioid. 6 An"!&!*%o+a 4engan terjadinya luka mengakibatkan hilangnya barier pertahanan kulit sehingga memudahkan timbulnya koloni bakteri atau jamur pada luka. Bila jumlah kuman sudah men!apai 1-) organisme jaringan, kuman tersebut dapat menembus ke dalam jaringan yang lebih dalam kemudian mengin,asi ke pembuluh darah dan mengakibatkan infeksi sistemik yang dapat menyebabkan kematian. emberian antimikroba ini dapat se!ara topikal atau sistemik. emberian se!ara topikal dapat dalam bentuk salep atau !airan untuk merendam. ;ontoh antibiotik yang sering dipakai 3 #alep 3 #il,er sulfadia"ine, /afenide a!etate, #il,er nitrate, Ba!itra!in (biasanya untuk luka bakar grade >), @eomy!in, @ysatatin, mupiro!in , /ebo. o,idone0iodine, olymiyHin B,

18

P$%a'a"an Lu*a Ba*a% #etelah keadaan umum membaik dan telah dilakukan resusitasi !airan dilakukan perawatan luka. sakit yang minimal. #etelah luka dibersihkan dan di debridement, luka ditutup. enutupan luka ini memiliki beberapa fungsi3 pertama dengan penutupan luka akan melindungi luka dari kerusakan epitel dan meminimalkan timbulnya koloni bakteri atau jamur. $edua, luka harus benar0benar tertutup untuk men!egah e,aporasi pasien tidak hipotermi. $etiga, penutupan luka diusahakan semaksimal mungkin agar pasien merasa nyaman dan meminimalkan timbulnya rasa sakit. ilihan penutupan luka sesuai dengan derajat luka bakar.

erawatan tergantung pada karakteristik dan ukuran

dari luka. +ujuan dari semua perawatan luka bakar agar luka segera sembuh rasa

Luka bakar derajat > /erupakan luka ringan dengan sedikit hilangnya barier pertahanan kulit. Luka seperti ini tidak perlu di balut, !ukup dengan pemberian salep antibiotik untuk mengurangi rasa sakit dan melembabkan kulit. Bila perlu dapat diberi @#<>4 (>buprofen, <!etaminophen) untuk mengatasi rasa sakit dan pembengkakan Luka bakar derajat >> (superfisial ) erlu perawatan luka setiap harinya, pertama0tama luka diolesi dengan salep antibiotik, kemudian dibalut dengan perban katun dan dibalut lagi dengan perban elastik. ilihan lain luka dapat ditutup dengan penutup luka sementara yang terbuat dari bahan alami (Menograft (pig skin) atau <llograft (homograft, !ada,er skin) ) atau bahan sintetis (opsite, biobrane, trans!yte, integra) Luka derajat >> ( dalam ) dan luka derajat >>> erlu dilakukan eksisi awal dan !angkok kulit (early eHi!ision and grafting )
%,6

4engan metode ini es!har di angkat se!ara operatif dan

kemudian luka ditutup dengan !angkok kulit (autograft atau allograft ), setelah terjadi penyembuhan, graft akan terkelupas dengan sendirinya.

19

.N5 dilakukan 30' hari setelah terjadi luka, pada umumnya tiap harinya dilakukan eksisi 2-& dari luka bakar kemudian dilanjutkan pada hari berikutnya. +api ada juga ahli bedah yang sekaligus melakukan eksisi pada seluruh luka bakar, tapi !ara ini memiliki resiko yang lebih besar yaitu 3 dapat terjadi hipotermi, atau terjadi perdarahan masi,e akibat eksisi. /etode ini mempunyai beberapa keuntungan dengan penutupan luka dini, men!egah terjadinya infeksi pada luka bila dibiarkan terlalu lama, mempersingkat durasi sakit dan lama perawatan di rumah sakit, memperingan biaya perawatan di rumah sakit, men!egah komplikasi seperti sepsis dan mengurangi angka mortalitas. Beberapa penelitian membandingkan teknik .N5 dengan teknik kon,ensional, hasilnya tidak ada perbedaan dalam hal kosmetik atau fungsi organ, bahkan lebih baik hasilnya bila dilakukan pada luka bakar yang terdapat pada muka, tangan dan kaki. ada luka bakar yang luas (G6-& +B#<), akan timbul kesulitan mendapatkan donor kulit. Bntuk itu telah dikembangkan metode baru yaitu dengan kultur keratino!yte. $eratino!yte didapat dengan !ara biopsi kulit dari kulit pasien sendiri. +api kerugian dari metode ini adalah membuthkan waktu yang !ukup lama (203 minggu) sampai kulit (autograft) yang baru tumbuh dan sering timbul luka parut. /etode ini juga sangat mahal % 2L=E;8<A+ 4<A> .@<@5<@<@ LB$< .<AL>.A .A>=4 ( 1 ( % 8<A> ) Blister di pungsi , kulitnya dibiarkan utuh. Beri /.B= pd luka setebal -,)01 mm. 5anti dan beri lagi /.B= tiap % jam hari ke 30) kulit penutup bulla diangkat L>OB.2<;+>=@ .A>=4 ( %01) 8<A> ) <ngkat "at !air yg timbul diatas lukaBersihkan dgn kasa, beri mebo lagi setebal 1 mm A. <A<+>F. .A>=4 ( 1-021 8<A> )

20

Bersihkan luka seperti sebelumnyaBeri /.B= dengan ketebalan -,) ( 1 mm5anti dan beri lagi /.B= tiap % 06 jam A.8<B>L>+<+>=@Bersihkan luka yg sembuh dengan air hangatBeri /.B= -,) mm, 1M02M :hari9angan !u!i luka yg sudah sembuh berlebihanLindungi luka yg sembuh dari sinar matahari 1. Bntuk luka bakar grade 2 superfi!ial 3 ada hari %01) 3 luka sembuh , mebo tetap diberi untuk 2 minggu2M :hari 2. Bntuk luka bakar grade 2 deep : grade 3 3 ada hari ke % ( 1) terjadi pen!airan jaringan ne!roti!. ;airan rendam 3 -.)& sil,er nitrate, )& mafenide a!etate, -.-2)& sodium hypo!hlorite, -.2)& a!eti! a!id %,6 P$nggan"!an Da%a( Luka bakar pada kulit menyebabkan terjadinya kehilangan sejumlah sel darah merah sesuai dengan ukuran dan kedalaman luka bakar. #ebagai tambahan terhadap suatu kehan!uran yang segera pada sel darah merah yang bersirkulasi melalui kapiler yang terluka, terdapat kehan!uran sebagian sel yang mengurangi waktu paruh dari sel darah merah yang tersisa. $arena plasma predominan hilang pada 16 jam pertama setelah terjadinya luka bakar, tetapi relati,e polisitemia terjadi pertama kali. =leh sebab itu, pemberian sel darah merah dalam 16 jam pertama tidak dianjurkan, ke!uali terdapat kehilangan darah yang banyak dari tempat luka. #etelah proses eksisi luka bakar dimulai, pemberian darah biasanya diperlukan ' Nu"%! ! enderita luka bakar membutuhkan kuantitas dan kualitas yang berbeda dari orang normal karena umumnya penderita luka bakar mengalami keadaan hipermetabolik. $ondisi yang berpengaruh dan dapat memperberat kondisi hipermetabolik yang ada adalah3

Bmur, jenis kelamin, status gi"i penderita, luas permukaan tubuh, massa bebas lemak.

21

Aiwayat penyakit sebelumnya seperti 4/, penyakit hepar berat, penyakit ginjal dan lain0lain. Luas dan derajat luka bakar #uhu dan kelembaban ruangan ( memepngaruhi kehilangan panas melalui e,aporasi) <kti,itas fisik dan fisioterapi enggantian balutan Aasa sakit dan ke!emasan enggunaan obat0obat tertentu dan pembedahan. enatalaksanaan nutrisi pada luka bakar dapat dilakukan dengan beberapa

metode yaitu 3 oral, enteral dan parenteral. Bntuk menentukan waktu dimualinya pemberian nuftrisi dini pada penderita luka bakar, masih sangat ber,ariasi, dimulai sejak 1 jam pas!atrauma sampai dengan 16 jam pas!atrauma. Pang sering di rekomendasikan adalah perhitungan kebutuhan kalori basal dengan formula 8<AA># B.@.4>;$ yang melibatkan faktor BB, +B dan Bmur. #edangkan untuk kebutuhan kalori total perlu dilakukan modifikasi formula dengan menambahkan faktor aktifitas fisik dan faktor stress. P%!a 8 99:1 ; <13:2 = BB> ; <1 = TB> ? <9.3 = U> = AF = FS @an!"a 8 91:9 ; <A:9 = BB> ; <1:3 = TB>B <0:2 = U> = AF = FS erhitungan kebutuhan kalori pada penderita luka bakar perlu perhatian khusus karena kurangnya asupan kalori akan berakibat penyembuhan luka yang lama dan juga meningkatkan resiko morbiditas dan mortalitas. 4isisi lain, kelebihan asupan kalori dapat menyebabkan hiperglikemi, perlemakan hati. Ko&#o ! ! Ma*%onu"%!$n Ka%+o(!-%a" $onsekuensi pas!a luka bakar berat adalah keadaan hiperglikemia. $adar gula darah yang tinggi pada fase sho!k akibat dari menurunnya fungsi insulin terhadap peningkatan kadar gula darah. >ntoleransi glukosa ini akan tetap bertahan pada fase flow yang sekarang terutama disebabkan resistensi insulin di jaringan dan peningkatan glukoneogenesis. ada pasien luka bakar berat sangat diperlukan

22

pemantauan terhadap hiperglikemia dan glukosuria.

emberian insulin kadan

dibutuhkan untuk meningkatkan kadar glukosa serum dan memaksimalkan utilisasi glukosa. <njuran pemberian karbohidrat adalah %-0%)& kalori total atau tidak melebihi 10)mg:kgBB:menit. P%o"$!n as!a luka bakar, metabolisme protein akan berubah !epat dimana pada fase akut asam amino akan dijadikan sumber energi. #tatus protein tubuh dipengaruhi oleh pelepasan nitrogen melalui eksudat luka dan urin, kemampuan hati untuk membentuk protein dan adekuatnya nutrisi. <sam amino merupakan substrat untuk penyembuhan luka. 4alam usaha untuk meningkatkan sintesis protein ,iseral, menjaga balan!e nitrogen K, dan meningkatkan mekanisme pertahahan tubuh, maka pada luka bakar berat dianjurkan pemberian protein sebesar 2302)& kalori total dengan perbandingan kalori 3 nitrogen C 6- 3 1 atau 2, ) 0 1 g protein:kgBB. erlu juga diperhatikan jenis protein yang diberikan, sebaiknya adalah protein bernilai biologis tinggi. emberian diet protein tinggi dapat menjadi beban bagi ginjal, oleh karena itu dibutuhkan pemantauan seperti status !airan, kadar ureum, dan kreatinin serum. L$&a* emberian lemak berkontribusi untuk meminimalkan katabolisme protein endogen dengan jalan memenuhi kebutuhan energi. <sam lemak omega03 khususnya asam ekosapentanoat (. <) yang dapat diperoleh dari minyak ikan merupakan pre!ursor dari ekosanoid prostaglandin seri 3 ( 5.03) dan leukotrien seri ). $eduannya berefek antiinflamasi dan meningkatkan sistem imunitas tubuh, demikian pula 5.03 berperan sebagai ,asodilator. =mega03 akan berkompetisi dan menginhibisi pembentukan 5.01 dan 5.02 dari asam linoleat, sehingga omega03 ini sangat dianjurkan pada pasien luka bakar. enelitian menunjukan dalam usaha untuk meningkatkan sistem imunitas tubuh, maka pemebrian asam lemak omega0% dan omega03 dalam perbandingan yang ideal adalah 203 3 1 dan akan berefek mengurangi kondisi imunosupresan pas!a luka bakar. lemak pas!a trauma sebesar )01)& dari total kalori. emberian

23

Su#l$&$n M!*%onu"%!$n /ikronutrien diperlukan sebagai koen"im dan kofaktor untuk reaksi fisiologis dalam sel, metabolisme makronutrien dan energi. 4engan meningkatnya kebutuhan energi dan protein, kehilangan melalui luka, perubahan metabolisme, absorpsi, eskresi, dan utilisasi maka kebutuhan mikronutrien ini perlu ditingkatkan. Fitamin berpotensi untuk sintesis protein, penyembuhan luka, meningkatkan fungsi imunitas dan anti oksidan pada penderita luka bakar dalam kondisi sakit berat dan hipermetabolisme, maka kebutuhan ,itamin ini meningkat. 4ianjurkan peningkatan suplementasi )-01-- kali A.;=/.@4.+ 4<>LP <LL=E<@;. (A4<) untuk ,itamin larut air dan ,itamin .. #edangkan dosis aman untuk ,itamin larut lemak dan ,itamin B% sampai 1- kali A4<. /ineral juga memainkan peranan penting dalam penyembuhan luka, fungsi imunitas dan anti oksidan. 1 Ea%l) E7!5! !on an- G%a."!ng <ECG> 4engan metode ini es!har diangkat se!ara operatif dan kemudian luka ditutup dengan !angkok kulit (autograft atau allograft), setelah terjadi penyembuhan, graft akan terkelipas dengan sendirinya. .N5 dilakukan setelah 30 ' hari setelah terjadi luka, pada umumnya tiap hari dilakukan eksisi 2-& dari luka bakar kemudian dilanjutkan pada hari berikutnya. +api ada juga ahli bedah yang sekaligus melakukan eksisi pada seluruh luka bakar, tapi !ara ini memiliki resiko yang lebih besar yaitu dapat terjadi hipotermi, atau terjadi perdatrahan masif akibat eksisi. /etode ini mempunyai beberapa keuntungan dengan penutupan luka dini, men!egah terjadinya infeksi pada luka bila dibiarkan terlalu lama, mempersingkat durasi sakit dan lama perawatan di rumah sakit, memperingankan biaya perawatan di rumah sakit, men!egah komplikasi dan mengurangkan angka mortalitas. ada luka bakar yang luas (G6-& +B#<), akan timbul kesulitan mendapatkan donor kulit. Bntuk itu dikembangkan metode baru yaitu kultur keratinosyte.

24

E 5(a%o"o&) Luka bakar grade >>> yang melingkar pada ekstremitas dapat menyebabkan iskemik distal yang progresif, terutama apabila terjadi edema saat resusitasi !airan, dan saat adanya pengerutan keropeng. >skemi dapat menyebabkan gangguan ,askuler pada jari0jari tangan dan kaki. +anda dini iskemi adalah nyeri, kemudian kehilangan daya rasa sampai baal pada ujung0ujung distal. 9uga luka bakar menyeluruh pada bagian thoraH atau abdomen dapat menyebabkan gangguan respirasi, dan hal ini dapat dihilangkan dengan es!harotomy. 4ilakukan insisi memanjang yang membuka keropeng sampai penjepitan bebas. P$%&a ala(an Pa 5a Lu*a Ba*a% #etelah sembuh dari luka, masalah berikutnya adalah jaringan parut yang dapat berkembang menjadi !a!at berat. $ontraktur kulit dapat mengganggu fungsi dan menyebabkan kekakuan sendi atau menimbulkan !a!at estetik yang buruk sekali sehingga diperlukan juga ahli ilmu jiwa untuk mengembalikan keper!ayaan diri. ermasalahan0permasalahan yang ditakuti pada luka bakar3 2.2.A >nfeksi dan sepsis =liguria dan anuria =edem paru <A4# (<dult Aespiratory 4istress #yndrome ) <nemia $ontraktur $ematian KOMPLIKASI <kibat pertama dari luka bakar adalah syok karena kaget dan kesakitan. embuluh kapiler yang terpajan suhu tinggi akan rusak dan permeabilitas meninggi. #el darah yang ada di dalamnya ikut rusak sehingga dapat terjadi anemia. /eningkatnya permeabilitas menyebabkan udem dan menimbulkan bula

1. #yok hipo,olemik 1,%

25

dengan membawa serta elektrolit. 8al ini menyebabkan berkurangnya ,olume !airan intra,askuler. $erusakan kulit akibat luka bakar menyebabkan kehilangan !airan tambahan karena penguapan yang berlebihan, !airan yang masuk ke bula pada luka bakar derajat >> dan pengeluaran !airan dari kropeng pada luka bakar derajat >>> . Bila luas luka bakar Q 2-& biasanya mekanisme kompensasi tubuh masih bisa mengatasi tetapi bila G 2- & terjadi #yok hipo,olemik dengan gejala yang khas seperti gelisah, pu!at, dingin , berkeringat, nadi ke!il dan !epat, tekanan darah menurun dan produksi urin berkurang. lahan dan maksimal pada delapan jam. 2. Bdem laring 1,% ada kebakaran dalam ruangan tertutup atau bila luka terjadi di muka,. 4apat terjadi kerusakan mukosa jalan napas karena gas , asap, uap panas yang terhisap, udem yang terjadi dapat menyebabkan gangguan berupa hambatan jalan napas karena udem laring. 5ejala yang timbul adalah sesak napas, takipnea, stridor, suara serak, dan dahak berwarna gelap karena jelaga. #etelah 12 ( 21 jam, permeabilitas kapiler mulai membaik dan terjadi mobilisasi dan penyerapan !airan edema kembali ke pembuluh darah . ini ditandai dengan meningkatnya diuresis. 3. $era!unan gas ;= 1,% 4apat juga terjadi kera!unan gas ;= atau gas bera!un lain. $arbon monoksida akan mengikat hemoglobin dengan kuat sehingga hemoglobin tak mampu lagi mengikat oksigen. +anda0tanda kera!unan ringan adalah lemas, bingung, pusing, mual dan muntah. ada kera!unan yang berat terjadi koma. Bila G %- & hemoglobin terikat dengan ;=, penderita dapat meninggal. 1. #>A# (systemic inflammatory respone syndrome) 1,% Luka bakar sering tidak steril. $ontaminasi pada kulit mati, yang merupakan medium yang baik untuk pertumbuhan kuman, akan mempermudah embengkakan terjadi perlahan

26

infeksi. >nfeksi ini sulit untuk mengalami penyembuhan karena tidak terjangkau oleh pembuluh darah kapiler yang mengalami trombosis. $uman penyebab infeksi berasal dari kulitnya sendiri, juga dari kontaminasi kuman dari saluran nafas atas dan kontaminasi kuman di lingkungan rumah sakit. >nfeksi nosokomial ini biasanya berbahaya karena banyak yang sudah resisten terhadap antibiotik. rosesnya dimulai oleh akti,asi makrofag, netrofil, dan pelepasan mediator ( mediator, yang kemudian diikuti oleh 3

gangguan hemodinamik berupa ,asodilatasi, depresi miokardium, gangguan sirkulasi dan redistribusi aliran. perubahan mikro,askuler karena endotel dan edema jaringan, mikroemboli, dan maldigesti aliran. gangguan oksigenasi jaringan. $etiganya menyebabkan hipoksia seluler dan menyebabkan kegagalan fungsi organ. Pang ditandai dengan meningkatnya kadar limfokin dan sitokin dalam darah.

). /=2 (2ulti 3r an 4ailure) 1,% <danya perubahan permeabilitas kapiler pada luka bakar menyebabkan gangguan sirkulasi. 4i tingkat seluler, gangguan perfusi menyebabkan perubahan metabolisme. ada tahap awal terjadi proses perubahan metabolisme anaerob gangguan sirkulasi dan perfusi, sulit untuk yang diikuti peningkatan produksi dan penimbunan asam laktat menimbulkan asidosis. 4engan adanya nekrosis. 5angguan sirkulasi makro menyebabkan gangguan perfusi ke jaringan ( jaringan organ penting terutama otak, hepar, paru, jantung, ginjal, yang selanjutnya mengalami kegagalan menjalankan fungsinya. 4alam mekanisme pertahanan tubuh, terjadi gangguan pada sistem keseimbangan tubuh (homeostasis), maka organ yang dimaksud dalam hal ini adalah ginjal. 4engan adanya penurunan atau disfungsi ginjal ini, beban tubuh semakin berat. Aesusitasi !airan yang inadekuat pada fase ini menyebabkan berjalannya proses sebagaimana diuraikan diatas. #ebaliknya bila terjadi kelebihan pemberian mempertahankan kelangsungan hidup sel, iskemi jaringan akan berakhir dengan

27

!airan (o,erload) sementara sirkulasi dan perifer tidak atau belum berjalan normal, atau pada kondisi syok7 !airan akan ditahan dalam jaringan paru yang manifestasi klinisnya tampak sebagai edema paru yang menyebabkan kegagalan fungsi paru sebagai alat pernafasan, khususnya pertukaran oksigen dengan karbondioksida, kadar oksigen dalam darah sangat rendah, dan jaringan hipoksik mengalami degenerasi yang bersifat irre,ersible. #el ( sel otak adalah organ yang paling sensiti,e7 bila dalam waktu 1 menit terjadi kondisi hipoksik, maka sel ( sel otak mengalami kerusakan dan kematian7 yang menyebabkan kegagalan fungsi pengaturan di tingkat sentral. #ementara edema paru juga merupakan beban bagi jantung sebagai suatu pompa. ada mulanya jantung menjalankan mekanisme kompensasi, namun akhirnya terjadi dekompensasi. %. $ontraktur 12,13 $ontraktur merupakan salah satu komplikasi dari penyembuhan luka, terutama luka bakar. $ontraktur adalah jenis scar yang terbentuk dari sisa kulit yang sehat di sekitar luka, yang tertarik ke sisi kulit yang terluka. $ontraktur yang terkena hingga lapisan otot dan jaringan tendon dapat menyebabkan terbatasnya pergerakan. ada tahap penyembuhan luka, kontraksi akan terjadi pada hari ke01 dimana proses ini bersamaan dengan epitelisasi dan proses biokimia dan seluler dari penyembuhan luka. $ontraktur fleksi dapat terjadi hanya karena kehilangan lapisan superfisial dari kulit. Biasanya dengan dilakukan eksisi dari jaringan parut yang tidak elastik ini akan menyebabkan sendi dapat ekstensi penuh kembali. ada luka bakar yang lebih dalam, jaringan yang banyak mengandung kolagen akan meliputi neurovascular bundles dan ensheathed flexor tendons, juga permukaan ,olar dari sendi akan mengalami kontraksi atau perlekatan sehingga akan membatasi ran e of motion. $ontraktur yang disebabkan oleh hilangnya kulit atau luka bakar derajat >>> pada daerah persendian harus segera dilakukan skin raftin .

28

2.2.1D PROGNOSIS 1 rognosis pada kasus luka bakar ditentukan oleh beberapa faktor, dan menyangkut mortalitas dan morbiditas atau burn illness severity and prediction of outcome 7 yang mana bersifat bersifat kompleks. Beberapa faktor yang berperan antara lain faktor penderita ( usia, gi"i, jenis kelamin, dan kelainan sistemik), faktor trauma ( jenis, luas, kedalaman luka bakar, dan trauma penyerta), dan faktor penatalaksanaan ( prehospital and inhospital treatment). rognosis luka bakar umumnya jelek pada usia yang sangat muda dan usia lanjut. ada usia yang sangat muda (terutama bayi) beberapa hal mendasar menjadi perhatian, antara lain sistem regulasi tubuh yang belum berkembang sempurna 7 komposisi !airan intra,askuler dibandingkan dengan !airan ekstra,askuler, interstitial, dan intraselular yang berbeda dengan komposisi pada manusia dewasa, sangat rentan terhadap suatu bentuk trauma. #istem imunologik yang belum berkembang sempurna merupakan salah satu faktor yang patut diperhitungkan, karena luka bakar merupakan suatu bentuk trauma yang bersifat imunosupresi.

29

BAB 3 LAPORAN KASUS I-$n"!"a Pa !$n K$lu(an U"a&a kanan dan kiri Ana&n$ ! T$laa( 8 alloanamnesis 3 8al ini dialami pasien 1% jam #/A#. <walnya pasien 3 A9, ria, umur 31 tahun, 3 luka bakar pada tungkai bawah kanan dan kiri, serta kaki

bermain dengan man!is sehingga man!is terjatuh dan api menyambar tempat tidur, kemudian pasien berusaha untuk memadamkan api dengan memijak tempat tidur tersebut. +etapi api tidak padam, justru menyambar !elana pasien, saat itu os memakai !elana panjang dan apinya dipadamkan oleh orang sekitar dengan menyiram air. asien langsung dibawa ke A#B .8</ setelah kejadian tersebut. Aiwayat pingsan (0), riwayat muntah (0), riwayat kejang (0), nyeri (K). RPT RPO P$&$%!* aan F! !*8 P%!&a%) u%E$) A!%'a) 3 !lear, !rowing (0), gargling (0), snoring (0), smoke inhalation (0), ;0spine stabil B%$a"(!ng 8 spontan, AAC 22H:i, # C ,esi!ular, #+C (0) 4!%5ula"!on 3 akral hangat, merah, kering, +4C 12-:6-mm8g, 8AC62H:>, regular, +:F !ukup D! a+!l!") 3 sensC ;/, 5;#C1), A; (K:K), 3mm:3mm E7#o u%$ 3 luka bakar di tungkai bawah kanan dan kiri, serta kaki kanan kiri 3 ski"ophrenia paranoid (2--2) 3 tidak jelas

30

S$5on-a%) u%E$) K$#ala 3 dalam batas normal L$($% 3 4alam batas normal T(o%a7 >nspesksi3 #imetris fusiformis alpasi 3 stem fermitus $anan C kiri erkusi 3 #onor <uskultasi3 # 3 ,esikuler7 A+-o&$n >nspeksi 3 #imetris alpasi 3 soepel (K), @yeri tekan (0),bulging (0) erkusi 3 timpani <uskultasi 3 eristaltik normal E* "%$&!"a u#$%!o% 3 dalam batas normal 3

E* "%$&!"a !n.$%!o% 3 !alf and foot (A) bula (K) ) & !alf and foot (L) bula (K) ) & La+o%a"o%) F!n-!ng 8 T$ " <1DB3B2D13> Da%a( L$ng*a# H$&oglo+!n <H+> L$u*o5)"$ <@B4> H$&a"o5%!"$ T%o&+o5)"$ <PLT> 1',6-g & 1%,62 H 1-3:mm3 )-,% & 33) H 1-3:mm3 13.2 ( 1'.1 g & 1.) ( 11.- H1-3:mm3 13 0 1* & 1)- ( 1)- H1-3:mm3 Aesults @ormal Falue

31

La+o%a"o%) F!n-!ng 8 Pa%a&$"$% Falue @ormal Falue

KGD a- %an-o&

1)-.-- mg:dl

Q 2-- mg:dl

U%$u& 4%$a"!n!n Na"%!u& <Na> Kal!u& <K> 4(lo%!-$ <4l>

32,1- mg:dl -,') mg:dl 131 m.L:L 3.6 m.L:L 1-) m.L:L

Q )- mg:dl -,'0 1,2 mg:dl 13) ( 1)) 3,% ( ),) *% ( 1-%

Fo"o T(o%a7 8asil3 !or dan pulmo dalam batas normal. D!agno a8 flame burn 1- & grade >>a dan >>b o:t (A and L) !alf and foot K ski"ophrenia paranoid P$ngo+a"an 3 >F24 AL 2- tts:menit >nj. ;eftriaHone 1gr:12j >nj. Aanitidin )-mg:12j >nj. $etorola! 3-mg:6j 4ebridement lo!al <+# 3--- >B >/ (skin test)

32

BAB 0 KESIMPULAN Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik dan radiasi.Luka bakar dibagi menjadi 1 grade dan ada 3 !ara penentuan derajat luka bakar yaitu almar surfa!e, Ealla!e rules of nine serta Lund and Bowder ;hart. Luka bakar dapat disebabkan oleh api, luka bakar kontak (terkena rokok, solder atau alat0alat memasak), air panas, uap panas, gas panas, listrik, semburan panas dan ter. emeriksaan penunjang men!akup pemeriksaan darah, radiologi, tes dengan fiberopti! bron!hos!opy terutama untuk luka bakar inhalasi. enanganan luka bakar dapat se!ara konser,atif seperti resusitasi !airan, penggantian darah, perawatan luka bakar, pemberian antimikroba serta analgetik, perbaikan nutrisi sampai tindakan pembedahan seperti .arly .Hi!ision and 5rafting (.N5), .s!harotomy. rognosis pada luka bakar tergantung dari derajat luka bakar, luas permukaan badan yang terkena luka bakar, adanya komplikasi seperti infeksi dan ke!epatan pengobatan medikamentosa

33

4<2+<A B#+<$<

1. /oenadjat, Pefta, 4r, #p.B 7 /uka 0akar 5 *en etahuan 6linik *raktis& 9akarta, 2akultas $edokteran Bni,ersitas >ndonesia, 2--3. 2. /ansjoer, <rif, dkk (editor)7 6apita Selekta 6edokteran 7ilid %, edisi III ( /uka 0akar7 9akarta, /edia <es!ulapius, 2akultas $edokteran Bni,ersitas >ndonesia, 2---. 3. 1. ). 8ansbrough 92, 8ansbrough E. *ediatrics 0urns. *edriatics in Revie'. Fol 2-71*** 4a,id, #. 2--6. <natomi 2isiologi $ulit dan enyembuhan Luka. 4alam 3 #urabaya lasti! #urgery. http3::surabayaplasti!surgery.blogspot.!om Eim de 9ong. 2--). Bab 3 3 Luka, Luka Bakar 3 Buku <jar >lmu Bedah. .disi 2. .5;. 9akarta. p %%066 %. 9ames / Be!ker. .ssentials of #urgery. .disi 1. #aunders .lse,ier. hiladelphia. p 116012* '. 6. *. 1-. /ar"oeki, 4johansjah. Ilmu 0edah /uka dan *era'atannya, <irlangga Bni,ersity ress, #urabaya 1**3 3 1- 0 1*. 9erome 2M @arad"ay. http3 :: www. emedi!ine. !om: med: Burns, +hermal. @o,ember 2--% /ayo !lini! staff. Burns 2irst <ids. http3 :: www.nlm.nih.go,:medlineplus. 9anuari 2--6 <meri!an ;ollege of #urgeons. 5uidelines for the =peration of Burn Bnits. Aeprinted from Aesour!es for =ptimal ;are of the >njured atient, ;hapter 11. 113 ;ommittee on +rauma, 1***. <,ailable in website3http3::www.ameriburn.org:guidelinesops.pdf rayitno, E. B., 2--1 Aespiratory roblem in Burn dalam enanganan Luka Bakar /asa $ini. #eminar Luka Bakar. p 160 )3 12. 9ames 8. 8olmes., 4a,id /. heimba!h. 2--). Burns, in 3 #!hwart"Rs rin!iples of #urgery. 16th ed. /!5raw08ill. @ew Pork. p.16*021%

34

13. /ayo !lini! staff. Burns 2irst <ids. http3 :: www.nlm.nih.go,:medlineplus. 9anuari 2--6 11. 9ames 8. 8olmes., 4a,id /. heimba!h. 2--). Burns, in 3 #!hwart"Rs rin!iples of #urgery. 16th ed. /!5raw08ill. @ew Pork. p.16*021% 1). Benjamin ;. Eedro. 2irst <id for Burns. http3::www.medi!inenet.!om. <gustus 2--6 1%. /organ, 5. .. and /ikhail, /. #. 2--2. ;lini!al <nesthesiology, 3 rd edition., <ppleton and Lange. London 1'. <meri!an Burn <sso!iation. Burn modules. <,ailable in website3 http3::www.ameriburn.org 16. Bisono. Aeksopradjo, #oelarto (ed.).6umpulan 6uliah Ilmu 0edah. 1et.I. 9akarta3 Binarupa <ksara.1***

35