Anda di halaman 1dari 14

Kesetaraan Dan Keadilan Gender

I. Pendahuluan

Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) sudah menjadi isu yang sangat penting dan sudah menjadi komitmen bangsa-bangsa di dunia termasuk Indonesia sehingga seluruh negara menjadi terikat dan harus melaksanakan komitmen tersebut. Upaya mewujudkan Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG), di Indonesia dituangkan dalam kebijakan nasional sebagaimana ditetapkan dalam Garis-Garis Besar aluan !egara (GB !) "###, UU !o. $% th. $&&& tentang 'rogram 'embangunan !asional-'()'*!+, $&&&-$&&-, dan dipertegas dalam Instruksi 'residen !o. # tahun $&&& tentang 'engarusutamaan Gender ('UG) dalam 'embangunan nasional, sebagai salah satu strategi untuk mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender.

.isamping itu pengarusutamaan gender juga merupakan salah satu dari empat key /ross /utting issues dalam 'ropenas. 'elaksanaan 'UG diisntruksikan kepada seluruh departemen maupun lembaga pemerintah dan non departemen di pemerintah nasional, propinsi maupun di kabupaten0kota, untuk melakukan penyusunan program dalam peren/anaan, pelaksanaan, pemantauan dan e1aluasi dengan mempertimbangkan permasalahan kebutuhan, aspirasi perempuan pada pembangunan dalam kebijakan, program0proyek dan kegiatan. .isadari bahwa keberhasilan pembangunan nasional di Indonesia baik yang dilaksanakan oleh pemerintah, swasta maupun masyarakat sangat tergantung dari peran serta laki-laki dan perempuan sebagai pelaku dan peman2aat hasil pembangunan. 'ada pelaksanaannya sampai saat ini peran serta kaum perempuan belum dioptimalkan. )leh karena itu program pemberdayaan perempuan telah menjadi agenda bangsa dan memerlukan dukungan semua pihak.

'enduduk wanita yang jumlahnya -#.#3 ("&$.4-5.-"%) dari total ($&6.$6-.%#%) penduduk Indonesia (,ensus 'enduduk $&&&) merupakan sumberdaya pembangunan yang /ukup besar. 'artisipasi akti2 wanita dalam setiap proses pembangunan akan memper/epat ter/apainya tujuan pembangunan. Kurang berperannya kaum perempuan, akan memperlambat proses pembangunan atau bahkan perempuan dapat menjadi beban pembangunan itu sendiri.

Kenyataannya dalam beberapa aspek pembangunan, perempuan kurang dapat berperan akti2. al ini disebabkan karena kondisi dan posisi yang kurang menguntungkan dibanding laki-laki. ,eperti peluang dan kesempatan yang terbatas dalam mengakses dan mengontrol sumberdaya pembangunan, sistem upah yang merugikan, tingkat kesehatan dan pendidikan yang rendah,

sehingga man2aat pembangunan kurang diterima kaum perempuan.

Berbagai upaya pembangunan nasional yang selama ini diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, baik perempuan maupun laki-laki, ternyata belum dapat memberikan man2aat yang setara bagi perempuan dan laki-laki. Bahkan belum /ukup e2ekti2 memperke/il kesenjangan yang ada. al ini menunjukkan bahwa hak-hak perempuan memperoleh man2aat se/ara optimal belum terpenuhi sehingga pembangunan nasional belum men/apai hasil yang optimal, karena masih belum meman2aatkan kapasitas sumber daya manusia se/ara penuh. 7aktor penyebab kesenjangan gender yaitu 8ata nilai sosial budaya masyarakat, umumnya lebih mengutamakan laki-laki daripada perempuan (ideology patriarki)9 'eraturan perundangundangan masih berpihak pada salah satu jenis kelamin dengan kata lain belum men/erminkan kesetaraan gender9 'ena2siran ajaran agama yang kurang komprehensi2 atau /enderung tekstual kurang kontekstual, /enderung dipahami parsial kurang kholistik9 Kemampuan, kemauan dan kesiapan perempuan sendiri untuk merubah keadaan se/ara konsisten dan konsekwen9 (endahnya pemahaman para pengambil keputusan di eksekuti2, yudikati2, legislati2 terhadap arti, tujuan, dan arah pembangunan yang responsi2 gender. +danya kesenjangan pada kondisi dan posisi laki-laki dan perempuan menyebabkan perempuan belum dapat menjadi mitra kerja akti2 laki-laki dalam mengatasi masalah-masalah sosial, ekonomi dan politik yang diarahkan pada pemerataan pembangunan. ,elain itu rendahnya kualitas perempuan turut mempengaruhi kualitas generasi penerusnya, mengingat mereka mempunyai peran reproduksi yang sangat berperan dalam mengembangkan sumber daya manusia masa depan.

II. Kondisi perempuan Indonesia

,e/ara keseluruhan indeks kualitas hidup manusia digambarkan melalui Indeks 'embangunan :anusia0 uman .e1elopment Inde; ( .I) yang berada pada peringkat ke-#6 pada tahun "##% yang kemudian menurun ke peringkat "&# pada tahun "##4 dari "5- negara. 8ahun "### berada pada peringkat "&$ dari "6$ negara dan tahun $&&$, ""& dari "5< negara. Berdasarkan uman .e1elopment (eport $&&<, .I Indonesia menempati urutan ke-""$ dari "5% negara, dibandingkan !egara-negara +,*+! lainnya seperti .I :alaysia, 8hailand, 'hilippina yang menempati urutan %#, 5& dan 55. ,edangkan Gender related .e1elopment Inde; (G.I) berada pada peringkat ke-44 pada tahun "##%, kemudian menurun ke peringkat #& ("##4) dan peringkat #$ ("### dari "-6 negara). Kemudian pada tahun $&&$ pada peringkat #" dari "-- negara G.I inipun masih tertinggal dibandingkan dengan-negara di +,*+! seperti :alaysia, 8hailand, 'hilippina yang masingmasing berada pada peringkat %-, 6&, 6<. Berdasarkan hasil ,ur1ey 'enduduk $&&& (B',) diketahui jumlah penduduk Indonesia sebesar $&6.$6-.%#% orang. =umlah laki-laki sedikit lebih banyak dibandingkan perempuan, (%&,"3 diantaranya laki-laki dan -#,#3 perempuan).

Indeks pembangunan manusia skala internasional dan nasional dilihat dri tiga aspek yaitu pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Kondisi dan posisi perempuan meliputi < (tiga) aspek tersebut di atas sebagai berikut>

". 'endidikan .i bidang pendidikan, kaum perempuan masih tertinggal dibandingkan laki-laki. Kondisi ini antara lain disebabkan adanya pandangan dalam masyarakat yang mengutamakan dan mendahulukan laki-laki untuk mendapatkan pendidikan daripada perempuan. Ketertinggalan perempuan dalam bidang pendidikan ter/ermin dari presentase perempuan buta huru2 ("-,%-3 tahun $&&") lebih besar dibandingkan laki-laki (6,453), dengan ke/enderungan meningkat selama tahun "###-$&&&. 8etapi pada tahun $&&$ terjadi penurunan angka buta huru2 yang /ukup signi2ikan. !amun angka buta huru2 perempuan tetap lebih besar dari laki-laki, khususnya perempuan kepala rumah tangga. +ngka buta huru2 perempuan pada kelompok "& tahun ke atas se/ara nasional ($&&$) sebesar #,$#3 dengan komposisi laki-laki %,4%3 dan perempuan "$,6#3 (,umber> B',, ,tatistik Kesejahteraan (akyat "###-$&&$). :enurut ,atatistik Kesejahteraan (akyat $&&<. +ngka buta huru2 perempuan "$,$43 sedangkan laki-laki %,4-3.

$. Kesehatan :enurut Gender ,tatisti/s and indi/ators $&&& (B',), kemajuan di bidang kesehatan ditunjukkan dengan menurunnya angka kematian bayi (dari -# bayi per "&&& kelahiran pada tahun "##4 menjadi <6 tahun $&&&, (,umber> B',, ,tatistik Kesejahteraan (akyat "###-$&&"). :enurunnya angka kematian anak serta meningkatnya angka harapan hidup dari 6-,4 tahun ("##4) menjadi 65,# tahun ($&&&), Berdasarkan estimasi parameter demogra2i "##4 yang dikeluarkan B',, angka harapan hidup (eo) pada periode "##4-$&&& /enderung meningkat. Usia harapan hidup (li2e e;pe/tan/y rate) perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki, yaitu 6#,5 tahun berbanding 6%,# tahun. (,umber> B',, *stimasi 'arameter .emogra2i, "##4). .ibidang kesehatan, selama periode "##4-$&&& ada penurunan angka kematian bayi, In2ant :ortality (ate (I:(). !amun angka kematian bayi laki-laki lebih tinggi dibandingkan angka kematian bayi perempuan. ?aki-laki -", perempuan <", (,umber> B',, ,tatistik Kesejahteraan (akyat "###-$&&"). ,ejalan dengan semakin meningkatnya kondisi kesehatan masyarakat, angka kematian anak, @hild :ortality (ate (@:() periode ini juga menunjukkan penurunan, namun demikian angka kematian anak laki-laki lebih tinggi dibandingkan kematian anak perempuan laki-laki #,4 sedangkan perempuan 5,#. (,umber> B',, ,tatistik Kesejahteraan (akyat "###-$&&"). .ibidang kesehatan dan status giAi perempuan masih merupakan masalah utama, yang ditunjukkan dengan masih tingginya angka kematian ibu (+KI) <#&0"&&.&&& (,.KI "##-), <<50"&&.&&& (,.KI "##5), dan menurun <&50"&&.&&& (,.KI $&&$).

<. *konomi .i bidang ekonomi, se/ara umum partisipasi perempuan masih rendah, kemampuan perempuan memperoleh peluang kerja dan berusaha masih rendah, demikian juga dengan akses terhadap sumber daya ekonomi. al ini ditunjukkan dengan 8ingkat 'artisipasi +ngkatan Kerja (8'+K) yang masih jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki, yaitu -%3 ($&&$) sedangkan laki-laki 5%,<-3, (,umber> B',, ,tatistik Kesejahteraan (akyat "###-$&&$). ,edangkan ditahun $&&< 8'+K laki-laki lebih besar dibanding 8'+K perempuan yakni 56,"$3 berbanding --,4"3. (B',, ,tatistik Kesejahteraan (akya, $&&<).

III. Faktor Kesenjangan dibidang hukum dan politik 7aktor penyebab kesenjangan kondisi dan posisi perempuan dan laki-laki dipengaruhi oleh peraturan perundang-undangan yang bias gender karena dalam bidang hukum masih banyak dijumpai substansi, struktur, dan budaya hukum yang diskriminati2 gender. =umlah peraturan perundang-undangan yang diskrimintai2 terhadap perempuan berjumlah kurang lebih <$ buah. 7aktor penyebab kesenjangan gender pada aspek lain misalnya politik sebagai berikut> hasil 'emilu tahun "### yang menyertakan %53 pemilih perempuan hanya terwakili 4,43 dari seluruh anggota .'(, lebih rendah dari hasil pemilu "##5 yang berjumlah "",$3 dari jumlah pemilih %"3, (,umber> ,tatistik dan Indikator Gender Indonesia $&&$). 'emilu $&&- perempuan hanya terwakili ""3. =umlah perempuan yang menjabat sebagai akim +gung dan akim Bustisial !on ,truktural di :ahkamah +gung juga menunjukkan penurunan dari <6 pada tahun "##4 menjadi <- pada tahun "###, dan $4 pada tahun $&&$, (,umber> ,tatistik dan Indikator Gender Indonesia $&&$-Bab5). 'ada tahun "### jumlah '!, perempuan adalah <6,#3, laki-laki sebesar 6<,"3 dari jumlah seluruh '!, (-.&&%.46"), dan dari jumlah tersebut hanya "%,$3 '!, perempuan yang menduduki jabatan struktural, sedangkan '!, laki-laki sebesar 4-,43. ,edangkan tahun $&&& terjadi sedikit perubahan dimana jumlah '!, perempuan adalah <5,63, laki-laki sebesar 6$,-3 dari jumlah seluruh '!, (<.#$5."-6), dan dari jumlah tersebut hanya "%,53 yang menduduki jabatan struktural, sedangkan '!, laki-laki sebesar 4-,<3. (,tatitik dan Indikator Gender, B',, $&&&). :asalah +: bagi perempuan termasuk isu gender yang menuntut perhatian khusus adalah masalah penindasan dan eksploitasi, kekerasan, dan persamaan hak dalam keluarga, masyarakat, dan negara. :asalah yang sering mun/ul adalah perdagangan perempuan, dan pela/uran paksa, yang umumnya timbul dari berbagai 2aktor yang saling terkait, antara lain dampak negati2 dari proses urbanisasi, relati2 tingginya angka kemiskinan dan pengangguran, serta rendahnya tingkat pendidikan.

IV. Pengertian Kesetaraan dan Keadilan gender

Kesetaraan gender berarti kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan pertahanan dan keamanan nasional (hankamnas), serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan tersebut. Kesetaraan gender juga meliputi penghapusan diskriminasi dan ketidak adilan struktural, baik terhadap laki-laki maupun perempuan.

Keadilan gender adalah suatu proses dan perlakuan adil terhadap perempuan dan laki-laki. .engan keadilan gender berarti tidak ada pembakuan peran, beban ganda, subordinasi, marginalisasi dan kekerasan terhadap perempuan maupun laki-laki.

8erwujudnya kesetaran dan keadilan gender ditandai dengan tidak adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki, dan dengan demikian mereka memiliki akses, kesempatan berpartisipasi, dan kontrol atas pembangunan serta memperoleh man2aat yang setara dan adil dari pembangunan. :emiliki akses dan partisipasi berarti memiliki peluang atau kesempatan untuk menggunakan sumber daya dan memiliki wewenang untuk mengambil keputusan terhadap /ara penggunaan dan hasil sumber daya tersebut. :emiliki kontrol berarti memiliki kewenangan penuh untuk mengambil keputusan atas penggunaan dan hasil sumber daya. ,ehingga memperoleh man2aat yang sama dari pembangunan.

V. Pengertian gender dan seks Gender adalah perbedaan dan 2ungsi peran sosial yang dikonstruksikan oleh masyarakat, serta tanggung jawab laki-laki dan perempuan ,ehingga gender belum tentu sama di tempat yang berbeda, dan dapat berubah dari waktu ke waktu. ,eks0kodrat adalah jenis kelamin yang terdiri dari perempuan dan laki-laki yang telah ditentukan oleh 8uhan. )leh karena itu tidak dapat ditukar atau diubah. Ketentuan ini berlaku sejak dahulu kala, sekarang dan berlaku selamanya. Gender bukanlah kodrat ataupun ketentuan 8uhan. )leh karena itu gender berkaitan dengan proses keyakinan bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan berperan dan bertindak sesuai dengan tata nilai yang terstruktur, ketentuan sosial dan budaya ditempat mereka berada. .engan demikian gender dapat dikatakan pembedaan peran, 2ungsi, tanggung jawab antara perempuan dan laki-laki yang dibentuk0dikonstruksi oleh sosial budaya dan dapat berubah sesuai perkembangan Aaman.

.engan demikian perbedaan gender dan jenis kelamin (seks) adalah Gender> dapat berubah, dapat dipertukarkan, tergantung waktu, budaya setempat, bukan merupakan kodrat 8uhan, melainkan buatan manusia. ?ain halnya dengan seks, seks tidak dapat berubah, tidak dapat dipertukarkan, berlaku sepanjang masa, berlaku dimana saja, di belahan dunia manapun, dan merupakan kodrat atau /iptaan 8uhan.

VI. Permasalah Ketidakadilan Gender

Ketertinggalan perempuan men/erminkan masih adanya ketidakadilan dan ketidak setaraan antara laki-laki dan perempuan di Indonesia, hal ini dapat terlihat dari gambaran kondisi perempuan di Indonesia. ,esungguhnya perbedaan gender dengan pemilahan si2at, peran, dan posisi tidak menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan. !amun pada kenyataannya perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidak adilan, bukan saja bagi kaum perempuan, tetapi juga bagi kaum laki-laki. Berbagai pembedaan peran, 2ungsi, tugas dan tanggung jawab serta kedudukan antara laki-laki dan perempuan baik se/ara langsung maupun tidak langsung, dan dampak suatu peraturan perundang-undangan maupun kebijakan telah menimbulkan berbagai ketidakadilan karena telah berakar dalam adat, norma ataupun struktur masyarakat. Gender masih diartikan oleh masyarakat sebagai perbedaan jenis kelamin. :asyarakat belum memahami bahwa gender adalah suatu konstruksi budaya tentang peran 2ungsi dan tanggung jawab sosial antara laki-laki dan perempuan. Kondisi demikian mengakibatkan kesenjangan peran sosial dan tanggung jawab sehingga terjadi diskriminasi, terhadap laki-laki dan perempuan. anya saja bila dibandingkan, diskriminasi terhadap perempuan kurang menguntungkan dibandingkan laki-laki.

7aCih dalam +/hmad :. menyatakan, ketidak adilan gender adalah suatu sistem dan struktur yang menempatkan laki-laki maupun perempuan sebagai korban dari sistem (7aCih, "##4a9 "##5). ,elanjutnya +/hmad :. menyatakan, ketidak adilan gender termani2estasikan dalam berbagai bentuk ketidakadilan, terutama pada perempuan9 misalnya marginalisasi, subordinasi, stereotipe0pelabelan negati2 sekaligus perlakuan diskriminati2 (Bhasin, "##69 :osse, "##6), kekerasan terhadap perempuan ('rasetyo dan :arAuki, "##5), beban kerja lebih banyak dan panjang (Ihromi, "##&). :anis2estasi ketidakadilan gender tersebut masing-masing tidak bisa dipisah-pisahkan, saling terkait dan berpengaruh se/ara dialektis (+/hmad :. hal. <<, $&&").

VII. Bentuk-bentuk ketidakadilan akibat diskriminasi gender ". :arginalisasi perempuan sebagai salah satu bentuk ketidakadilan gender 'roses marginalisasi (peminggiran0pemiskinan) yang mengakibatkan kemiskinan, banyak terjadi dalam masyarakat terjadi dalam masyarakat di !egara berkembang seperti penggusuran dari kampong halaman, eksploitasi. !amun pemiskinan atas perempuan maupun laki yang disebabkan jenis kelamin merupakan salah satu bentuk ketidakadilan yang disebabkan gender. ,ebagai /ontoh, banyak pekerja perempuan tersingkir dan menjadi miskin akibat dari program pembangunan seperti internsi2ikasi pertanian yang hanya mem2okuskan petani laki-laki. 'erempuan dipinggirkan dari berbagai jenis kegiatan pertanian dan industri yang lebih memerlukan keterampilan yang biasanya lebih banyak dimiliki laki-laki. ,elain itu perkembangan teknologi telah menyebabkan apa yang semula dikerjakan se/ara manual oleh perempuan diambil alih oleh mesin yang ummunya dikerjakan oleh tenaga laki-laki.

Beberapa studi dilakukan untuk membahas bagaimana program pembangunan telah meminggirkan sekaligus memiskinkan perempuan (,hi1a, "##59 :osse, "##6). ,eperti 'rogram re1olusi hijau yang memiskinkan perempuan dari pekerjaan di sawah yang menggunakan ani-ani. .i =awa misalnya re1olusi hijau memperkenalkan jenis padi unggul yang panennya menggunakan sabit.

@ontoh-/ontoh marginalisasi> 'emupukan dan pengendalian hama dengan teknologi baru yang dikerjakan laki-laki9 'emotongan padi dengan peralatan sabit, mesin yang diasumsikan hanya membutuhkan tenaga dan keterampilan laki-laki, menggantikan tangan perempuan dengan alat panen ani-ani9 Usaha kon1eksi lebih suka menyerap tenaga perempuan9 'eluang menjadi pembantu rumah tangga lebih banyak perempuan9 Banyak pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan perempuan seperti Dguru taman kanakkanakE atau DsekretarisE dan DperawatE.

$. ,ubordinasi ,ubordinasi pada dasarnya adalah keyakinan bahwa salah satu jenis kelamin dianggap lebih penting atau lebih utama dibanding jenis kelamin lainnya. ,udah sejak dahulu ada pandangan yang menempatkan kedudukan dan peran perempuan lebih rendah dari laki-laki. Banyak kasus dalam tradisi, ta2siran ajaran agama maupun dalam aturan birokrasi yang meletakan kaum perempuan sebagai subordinasi dari kaum laki-laki. Kenyataan memperlihatkan bahwa masih ada nilai-nilai masyarakat yang membatasi ruang gerak terutama perempuan dalam kehidupan. ,ebagai /ontoh apabila seorang isteri yang hendak mengikuti tugas belajar, atau hendak berpergian ke luar negeri harus mendapat iAin suami, tatapi kalau suami yang akan pergi tidak perlu iAin dari isteri.

<. 'andangan stereotipe ,etereotipe dimaksud adalah /itra baku tentang indi1idu atau kelompok yang tidak sesuai dengan kenyataan empiris yang ada. 'elabelan negati2 se/ara umum selalu melahirkan ketidakadilan. ,alah satu stereotipe yang berkembang berdasarkan pengertian gender, yakni terjadi terhadap salah satu jenis kelamin, (perempuan), al ini mengakibatkan terjadinya diskriminasi dan berbagai ketidakadilan yang merugikan kaum perempuan. :isalnya pandangan terhadap perempuan yang tugas dan 2ungsinya hanya melaksanakan pekerjaan yang berkaitan dengan pekerjaan domistik atau kerumahtanggaan. al ini tidak hanya terjadi dalam lingkup rumah tangga tetapi juga terjadi di tempat kerja dan masyaraklat, bahkan di tingkat pemerintah dan negara. +pabila seorang laki-laki marah, ia dianggap tegas, tetapi bila perempuan marah atau tersinggung dianggap emosional dan tidak dapat menahan diri. ,tandar nilai terhadap perilaku perempuan dan laki-laki berbeda, namun standar nilai tersebut banyak menghakimi dan merugikan perempuan. ?abel kaum perempuan sebagai Dibu rumah tanggaE merugikan, jika hendak akti2 dalam Dkegiatan laki-lakiE seperti berpolitik, bisnis atau birokrat. ,ementara label laki-laki sebagai pen/ari nakah utama, (breadwinner) mengakibatkan apa saja yang dihasilkan oleh perempuan dianggap sebagai sambilan atau tambahan dan /enderung tidak diperhitungkan.

-. Kekerasan Berbagai bentuk tidak kekerasan terhadap perempuan sebagai akibat perbedaan, mun/ul dalam bebagai bentuk. Kata kekerasan merupakan terjemahkan dari 1iolen/e, artinya suatu serangan terhadap 2isik maupun integritas mental psikologis seseorang. )leh karena itu kekerasan tidak hanya menyangkut serangan 2isik saja seperti perkosaan, pemukulan dan penyiksaan, tetapi juga yang bersi2at non 2isik, seperpti pele/ehan seksual sehingga se/ara emosional terusik. 'elaku kekerasan berma/am-ma/am, ada yang bersi2at indi1idu, baik di dalam rumah tangga sendiri maupun di tempat umum, ada juga di dalam masyarakat itu sendiri. 'elaku bisa saja suami0ayah, keponakan, sepupu, paman, mertua, anak laki-laki, tetangga, majikan.

%. Beban Ganda Bentuk lain dari diskriminasi dan ketidak adilan gender adalah beban ganda yang harus dilakukan oleh salah satu jenis kalamin tertentu se/ara berlebihan. .alam suatu rumah tangga pada umumnya beberapa jenis kegiatan dilakukan laki-laki, dan beberapa dilakukan oleh perempuan. Berbagai obser1asi, menunjukkan perempuan mengerjakan hampir #&3 dari pekerjaan dalam rumah tangga. ,ehingga bagi mereka yang bekerja, selain bekerja di tempat kerja juga masih harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga. .alam proses pembangunan, kenyataannya perempuan sebagai sumber daya insani masih mendapat pembedan perlakuan, terutama bila bergerak dalam bidang publik. .irasakan banyak ketimpangan, meskipun ada juga ketimpangan yang dialami kaum laki-laki di satu sisi.

VIII. Peran perempuan di domestik dan publik

Fomen ha1e a 1ital role to play in the promotion o2 pea/e in all sphares o2 li2e, in the 2amily, the /ommunity, the nation, and the world. Fomen must parti/ipate eCually with men in the de/ision making pro/ess whi/h help to promote pea/e at all the le1els (.eklarasi Kon2erensi :e;i/o, "#5%) Kelebihan0potensi perempuan> G (asa sosial, toleransi, ikatan kelompok G =iwa interpreneur (keseimbangan pendapatan-pengeluaran) G 'erhatian terhadap pemenuhan kebutuhan dasar keluarga, terutama bagi anak-anaknya G 'erajut persatuan dan kesatuan hidup masyarakat, bangsa, dan negara G 'endidik pertama dan utama bagi generasi penerus keluarga, bangsa, dan negara 'erjuangan Kesetaraan laki-laki dan perempuan (internasional) G .eklarasi +:, 'BB ("#-4) memberi aspirasi bagi gerakan 2eminis untuk memperjuangkan hak-hak perempuan (all human beings are born 2ree and eCual in dignity and rights), "#%$ hak politik dan ekonomi perempuan diadopsi 'BB. G "#6<, gerakan global emasipasi masuk dalam agenda 'BB (*@),)@) untuk diakomodasi !egara anggota, @ommission on the ,tatus o2 Fomen ("#65) memberi aspirasi pada lahirnya 'KK. G Kon2erensi di :e;i/o, "#5% menyetujui program FI. (Fomen in .e1elopment) sebagai strategi meningkatkan peran wanita. G Kon2erensi di !airobi, "#4% setujui pembentukan U!I7*: lembaga 'BB untuk perempuan dengan program F+. (Fomen and .e1elopment) "#5# @*.+F-'BB, melalui UU !o. 5 tahun "#4-, Indonesia merati2ikasi @*.+F. G 'ertemuan di Hienna, "##& menyetujui program G+. (Gender and .e1elopment) dengan strategi 'engarustuaamaan Gender, melalui Keputusan 'residen !o. <6 tahun "##&, Indonesia merati2ikasi @(@ (@on1ention (ights o2 @hildren). G Kon2erensi I@'., @airo "##- mengagendakan perlindungan terhadap hak reproduksi perempuan dalam pembangunan yang berkelanjutan. G Kon2erensi di Beijing, "##% merin/i "$ keprihatinan terhadap perempuan yang dikenal dengan "$ /riti/al issues. ,e/ara !asional antara lain> +danya UU. "#-% yang sudah empat kali diamandemen tentangUU !o. $% tahun $&&& 'ropenas UU !o. "$ tahun $&&& tentang 'emilu 'residen !o. #IInstruksi tahun $&&& tentang 'engarusutamaan Gender dalam 'embangunan !asional. 'rinsip dasar membangun kesetaran gender di Indonesia G :enghargai pluralistik G 'endekatan sosio-kultural G 'eningaktan ekonomi dan kesejahteraan rakyat G 'enegakan +: dan supremasi hukum

G 'enghapusan kekerasan dan diskriminasi G 'enyadaran pilar pembangunan G 'emerintah> sosialisasi dan ad1okasi G :asyarkat> sensitisasi dan ad1okasi G .unia usaha, penyadaran dan ad1okasi G 'enyatuan persepsi, pemahman, dan penyadaran kepada semua pihak untuk mewujudkan kesetaran gender dan perlindungan anak dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.

IX. Upa a-upa a dan usaha ang dilakukan pemerintah dalam rangka KKG

Upaya mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender sebagai 1isi Kementerian 'emberdayaan 'erempuan (I sebenarnya merupakan bentuk pembaruan pembangunan pemberdayaan perempuan yang selama tiga dasa warsa telah memberikan man2aat yang /ukup besar. Berbagai peningkatan pemberdayaan perempuan bisa dilihat dengan meningkatnya kualitas hidup perempuan dari berbagai aspek , meskipun masih belum optimal.

Untuk meningkatkan status dan kualitas perempuan juga telah diupayakan namun hasilnya masih belum memadai, ini terlihat dari kesempatan kerja perempuan belum membaik, beban kerja masih berat, kedudukan masih rendah. .i lain pihak, pada saat ini masih banyak kebijakan, program dan kegiatan pembangunan yang belum peka gender, yang mana belum mempertimbangkan perbedaan pengalaman, aspirasi dan kepentingan antara perempuan dan laki-laki serta belum menetapkan kesetaran dan keadilan gender sebagai sasaran akhir pembangunan.

'enyebabnya antara lain belum adanya kesadaran gender terutama di kalangan para peren/ana dan pembuat keputusan9 ketidak lengkapan data dan in2ormasi gender yang dipisahkan menurut jenis kelamin (terpilah)9 juga masih belum mapannya hubungan kemitraan antara pemerintah dengan masyarakat maupun lembaga-lembaga yang memiliki 1isi pemberdayaan perempuan yaitu dalam tahap-tahap peren/anaan, pelaksanaan, pemantauan dan e1aluasi kebijakan dan program pembangunan

Bergesernya proporsi pekerjaan utama perempuan dari pertanian ke ranah industri, meningkatnya mobilitas perempuan baik migrasi domestik maupun internasional serta semakin membaiknya peran perempuan di lingkup keluarga, masyarakat dan berbangsa serta bernegara merupakan indikator keberhasilan pemberdayaan perempuan khususnya upaya kesetaraan dan keadilan gender mulai dapat dirasakan. :eskipun kemajuan perempuan ini hanya bisa dinikmati pada tataran masyarakat yang sosial ekonominya mapan (menengah ke atas).

,ebaliknya pada tingkat sosial ekonomi menengah ke bawah, masih sering dijumpai ketimpangan antara laki-laki dan perempuan baik dalam memperoleh peluang, kesempatan dan akses serta kontrol dalam pembangunan, serta perolehan man2aat atas hasil pembangunan. al ini tidak lain karena masalah struktural utamanya. ,elain nilai-nilai budaya patriarkhi yang dilegitimasi dengan (atas nama) agama dan sistem sosial yang menempatkan perempuan dan laki-laki dalam kedudukan dan peran yang berbeda dan dibeda-bedakan. (Iaitunah ,ubhan, hal. "5-"4, $&&")

.alam GB ! "###-$&&- menetapkan dua arah kebijakan pemberdayaan perempuan yakni pertama meningkatkan kedudukan dan peranan perempuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui kebijakan nasional yang diemban oleh lembaga yang mampu memperjuangkan terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender. Kedua meningkatkan kualitas peran dan kemandirian organisasi perempuan dengan tetap mempertahankan nilai persatuan dan kesatuan serta nilai historis perjuangan perempuan dalam rangka melanjutkan usaha pemberdayaan perempuan serta kesejahteraan keluarga dan masyarakat.

.engan demikian pemberdayaan perempuan dalam rangka mewujudkan KKG merupakan komitmen bangsa Indonesia yang pelaksanaannya menjadi tanggung jawab seluruh pihak eksekuti2, legislati2, yudikati2, tokoh-tokoh agama dan masyarakat se/ara keseluruhan. ,esuai dengan dua arahan kebijakan itu, pemerintah bertanggung jawab untuk merumuskan kebijakan-kebijakan pemberdayaan perempuan di tingkat nasional maupun daerah, yang pelaksanaannya dapat memberikan hasil terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender di segala bidang kehidupan dan pembangunan. Berdasarkan arah kebijakan yang dimandatkan oleh GB ! "###-$&&- untuk butir pemberdayaan perempuan, 'ropenas $&&&-$&&- telah melakukan mainstreaming kebijakan dan program pembangunan pemberdayaan perempuan. ,elanjutnya 'ropenas telah dirumusakan se/ara lebih rin/i setiap tahunnya ke dalam (en/ana 'embangunan tahunan ((epeta), untuk tahun $&&" ((epeta $&&"). ,elanjutnya dalam (en/ana ,trategi Kementerian 'emberdayaan 'erempuan $&&"-$&&-, program yang disusun terdiri dari program dalam rangka pembangunan pemberdayaan perempuan, peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak dan upaya peningkatan kemampuan. :en/akup 'rogram 'engembangan dan Keserasian Kebijakan 'emberdayaan 'erempuan9 'rogram 'eningkatan Kualitas idup 'erempuan9 'rogram 'eningkatan 'eran :asyarakat 'emampuan Kelembagaan 'engarusutamaan Gender9 'rogram 'eningkatan Kesejahteraan dan 'erlindungan +nak9 'rogram ,umber .aya, ,arana dan 'rasarana. :engingat produk tersebut merupakan undang-undang, maka untuk mewujudkan kesetaran dan keadilan gender harus menjadi komitmen bersama.

.alam rangka mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender melaui program yang peka akan permasalahan gender, Kementerian 'emberdayaan 'erempuan telah bekerjasama dengan U!7'+ dalam melaksanakan serangkaian kegiatan :ainstreaming Gender Issues in (eprodu/ti1e ealth and 'opulation 'oli/ies and 'rogrammes.

8ujuan utama program ini adalah ter/apainya perbaikan status kesehatan reproduksi kaum perempuan dan laki-laki melalui kebijakan program kesehatan reproduksi dan kependudukan yang sensiti2 gender. al ini akan di/apai melalui penguatan kapasitas nasional untuk melakukan pengarusutamaan gender, serta melalui aplikasi konsep gender dalam 2ormulasi dan pelaksanaan kebijakan dan program untuk kesehatan reproduksi dan kependudukan.

Upaya mengaktualisasikan dan memani2estasikan dan mengakselerasi-kan 'UG di sektor strategis, propinsi dan kabupaten0kota, Kementerian 'emberdayaan 'erempuan juga telah melaksanakan program dan langkah konkrit antara lain> G 'rogram 'engembangan dan keserasian kebijakan pemberdayaan perempuan, serta serangkaian koordinasi telah dilakukan dalam upaya perbaikan undang-undang yang masih bias gender seperti UU !o. " tahun "#5- tentang 'erkawinan dan UU !o. 6$ tahun "#%4 tentang Kewarganegaraan. G 'rogram 'eningkatan 'eranserta masyarakat dan penguatan kelembagaan 'UG dilakukan dengan melalui> sosialisasi, ad1okasi, dan pelatihan analisis gender baik di tingkat pusat, propinsi, dan kabupaten0kota9 G 'engembangan modul sosialisasi0ad1okasi gender9 G 'engembangan alat untuk analisis gender yang digunakan dalam peren/anaan program dan dikenal dengan Gender +nalysis 'athway (G+')9 dan 'roblem Base +nalysis ('()B+). G 'engembanagan omepage untuk penyediaan data dan in2ormasi program pembangunan pemberdayaan perempuan, konsep kesetaraan dan keadilan gender dan jaringan in2ormasi dengan website9 G 'enyusunan 'ro2il Gender untuk $6 propinsi9 G 7asilitasi bantuan teknis kepada daerah propinsi, kabupaten dan kota9 G 8ersedianya data dan in2ormasi yang terpilah menurut jenis kelamin se/ara berkala dan berkesinambungan dari propinsi dan kabupaten0kota mengenai pengarusutamaan gender dalam pembangunan daerah.

X. Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas menunjukkan bahwa diskriminasi gender telah melahirkan ketimpangan dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, selain itu ketimpangan lebih banyak dialami perempuan dari pada laki-laki.

+kibat diskriminasi gender yang telah berlaku sejak lama, kondisi perempuan di bidang ekonomi, sosial, dan budaya, politik, hankam dan +: berada pada posisi yang tidak menguntungkan. Kondisi yang tidak menguntungkan ini apabila tidak diatasi, maka ketimpangan atau kesenjangan pada kondisi dan posisi perempuan tetap saja akan terjadi.

Bahwa status perempuan dalam kehidupan sosial dalam banyak hal masih mengalami diskriminasi haruslah diakui. Kondisi ini terkait erat dengan masih kuatnya nilai-nilai tradisional terutama di pedesaan, dimana perempuan kurang memperoleh akses terhadap pendidikan, pekerjaan, pengambilan keputusan dan aspek lainnya. Keadaan ini men/iptakan permasalahan tersendiri dalam upaya pemberdayaan perempuan, dimana diharapkan perempuan memiliki peranan yang lebih kuat dalam proses pembangunan. Kurangnya keikutsertaan perempuan dalam memberikan konstribusi terhadap program pembangunan menyebabkan kesenjangan yang ada terus saja terjadi.

XI. !aran dan pesan"

'ada kesempatan ini dihimbau kepada para kandidat puteri Indonesia yang dibanggakan untuk berperan akti2 dalam memajukan posisi dan kondisi perempuan Indonesia dalam segala aspek0bidang pembangunan, misalnya melalui akti2itas peningkatan pengetahuan dan penyebarluasan seluruh in2ormasi sebagaimana telah dipaparkan tersebut di atas, baik pada kalangan sendiri, dalam keluarga, serta lingkungan masyarakat luas. :udah-mudahan apa yang telah disampaikan dapat memberi man2aat yang sebesar-besar bagi diri sendiri, masyarakat bangsa dan !egara.

'esan khusus untuk semua kandidat adalah menjaga jatidiri puteri Indonesia yang bermoral karena kita mempunyai ma/am-ma/am agama yang diakui dan ragam budaya yang dapat dijalankan dan dijaga kelestariannya. ,ekaligus saya tekankan semoga semua kandidat puteri Indonesia dapat menjunjung tinggi agamanya dan jatidirinya sebagai Bangsa Indonesia yang aman dan damai.

=akarta, < +gustus $&&-

.a2tar 'ustaka>

+/hmad :uthaliJin, Bias Gender dalam 'endidikan, ,urakarta, :uhammadiyah Uni1ersity 'ress, $&&". B',, United !ations .e1elopmen 7und 2or Fomen. Gender ,tatisti/s and Indi/ators $&&&. B',, Kementerian 'emberdayaan 'erempuan, =I@+ dan U!7'+, Buku (e2erensi 'elatihan> 7akta dan Indikator Gender, 8ingkat

!asional, - 'ropinsi dan "6 Kabupaten0Kota 8erpilih, $&&<. B',, ,tatistik Kesejahteraan (akyat, $&&<. .r. . !asaruddin Umar, :+, et all, .r. . +bdul .jamil, :+. ('engantar), .ra. j. ,ri ,uhandjati ,ukri (*ditor), Bias =ender

dalam 'emahaman Islam, =ilid I 'enerbit I+I! Falisongo dengan Gama :edia, $&&$. =ulia @le1es :osse, Gender dan 'embangunan, .iterbitkan atas kerjasama (I7K+ +!!I,+ FomenJs @risis @entre dengan 'ustaka 'elajar, "##6. Kantor :enteri !egara 'eranan Fanita, "##4, 'ro2il Fanita Indonesia. Kantor :enteri !egara 'eranan Fanita, 'edoman 8eknis 'eren/anaan 'embangunan Berperspekti2 Gender. Kantor :enteri !egara 'emberdayaan 'erempuan, .eputi Bidang Kesetaraan Gender bekerjasama dengan Bangun :itra ,ejati, $&&", :odul 'elatihan, Keadilan dan Kesetaraan Gender untuk BU:!0BU:. dan 'erusahaan ,wasata. Kantor :enteri !egara 'emberdayaan 'erempuan (I, $&&$, 'anduan Gender dalam 'eren/anaan 'artisipati2. Kantor :enteri !egara 'emberdayaan 'erempuan (I, $&&$, Buku ", Bahan In2ormasi 'engarusutamaan Gender, *disi ke-$, +pa Itu Gender. Kantor :enteri !egara 'emberdayaan 'erempuan (I, $&&$, Buku $, Bahan In2ormasi 'engarusutamaan Gender, *disi ke-$, Bagaimana :engatasi Kesenjangan Gender. Kantor :enteri !egara 'emberdayaan 'erempuan (I, $&&$, Buku <, Bahan In2ormasi 'engarusutamaan Gender, *diisi ke-$, 'eren/anaan erperspekti2 Gender. Kantor :enteri !egara 'emberdayaan 'erempuan (I, $&&$, Buku -, Bahan In2ormasi 'engarusutamaan Gender, *didisi ke-$, 'emantauan dan 'enilaian. Kementerian 'emberdayaan 'erempuan, Bahan In2ormasi Gender, :odul "> +pa itu GenderK U!I7*: and !@(7F, "##-, Gender and .e1elopment :aking the Bureau/ra/y gender-responsi1e, a sour/ebook 2or ad1o/ates, planners, and implementors, (de1eloped by dr. amaryllis t. tores and pro2essor rosario s. del rosario with the assistan/e o2 pro2essor rosalinda pineda-o2reneo 2or Uni2em and !@(7F). U!7'+, Kementerian 'emberdayaan 'erempuan, BKKB!, $&&<, Bunga (ampai DBahan 'embelajaran 'elatihan 'engarusutamaan Gender dan 'rogram 'embangunan !asionalE.

Iaitunah ,ubhan, 'eningkatan Kesetaraan dan Keadilan =ender, dalam membangun Good Go1ernan/e.

,umber>