Anda di halaman 1dari 8

PENGARUH ABU TERBANG SEBAGAI PENGGANTI SEJUMLAH SEMEN TYPE V PADA BETON MUTU TINGGI

Surya Sebayang

ABSTRAKSI
Pada umumnya bangunan beton yang berhubungan dengan air laut atau air limbah lebih cepat terkena korosi, baik beton maupun tulangannya. Hal ini dapat diantisipasi dengan meningkatkan kuat tekan beton, menggunakan beton tahan sulfat dan menggunakan bahan tambahan yang antara lain berupa abu terbang. Beton mutu tinggi pada penelitian ini menggunakan abu terbang yang berasal dari Suralaya Banten sebagai bahan pengganti sejumlah semen. Pengujian yang dilakukan meliputi kelecakan adukan beton, kuat tekan beton, waktu pengikatan beton, dan modulus elastisitas beton. Perancangan campuran beton menggunakan metode ACI 211-4R-1993. Semen yang dipakai adalah semen portland type V, agregat halus alami berasal dari Lampung Tengah, agregat kasar merupakan batu pecah andesit berasal dari Lampung Selatan dengan diameter maksimum 20 mm. Adukan beton terdiri dari 5 variasi, yaitu kadar abu terbang 0 %, 5%, 10%, 15%, 20%, dan 25%. Dari hasil penelitian diperoleh, semakin besar kadar abu terbang pada adukan beton maka kelecakan beton semakin bertambah. Penggunaan abu terbang ternyata dapat mengurangi bleeding dan segregasi pada adukan beton Penggunaan abu terbang pada adukan beton secara umum memperlambat waktu pengikatan awal dan pengikatan akhir beton. Kontribusi kuat tekan beton abu terbang lebih lambat daripada beton tanpa abu terbang dibawah umur 28 hari. Kuat tekan maksimum beton abu terbang pada pada umur 56 hari diperoleh pada kadar abu terbang 20 % sebagai bahan pengganti sejumlah semen. Kata kunci : kuat tekan, abu terbang, modulus elastisitas, waktu pengikatan, Portland semen tipe V, kelecakan.

1. PENDAHULUAN Dalam pembangunan konstruksi beton dewasa ini, beton yang paling banyak digunakan adalah beton normal dengan semen type I. Banyak penelitian-penelitian tentang beton normal dengan semen type I telah dilakukan. Namun penelitian tentang pengaruh penggunaan semen type V pada beton abu terbang mutu tinggi masih dirasakan kurang. Semen type V adalah semen yang digunakan pada struktur beton untuk konstruksi-konstruksi yang menuntut persyaratan yang sangat tahan terhadap sulfat (SK SNI S 04 1989). Biasanya beton dengan semen type V digunakan pada air laut, air payau, atau tanah lokasi yang mengandung sulfat, kadar SO3 melebihi 0,20 % (SK SNI T-15, 1990) antara lain instalasi pengolahan limbah, pelabuhan, kostruksi yang berada di tepi pantai. Bangunan-bangunan yang berhubungan dengan air limbah maupun air laut biasanya kurang awet, artinya baik beton maupun tulangan lebih cepat terkena korosi. Hal ini dapat diantisipasi dengan meningkatkan mutu beton, menggunakan semen tahan sulfat, dan 116
Volume 6 No. 2, April 2006 : 116 - 123

pemberian bahan tambahan, antara lain berupa abu terbang untuk memperkecil volume pori beton. Abu terbang merupakan limbah pembakaran batu bara yang butirannya lebih halus daripada semen Portland, yang mempunyai sifat-sifat hidrolik. Pada awalnya abu terbang ini digunakan sebagai bahan penambah semen dengan kadar 5 %-20 % dengan maksud untuk menambah plastisitas adukan beton dan menambah kekedapan beton (Suhud, 1993). Karena kehalusan dan bentuk bulat butirannya maka pemakaian abu terbang pada adukan beton dapat menambah kelecakan pada adukan beton. Pada beton keras penggunaan abu terbang 10-15 % sebagai bahan pengganti semen dapat menambah kekuatan beton (Surya, 2002 ; Udin, 1994). Pemikiran ini sangat beralasan karena secara mekanik abu terbang akan mengisi rongga antara butiran semen dan secara kimiawi akan memberikan sifat hidrolik pada kapur mati yang dihasilkan dari hidrasi. Definisi beton mutu tinggi selalu dikaitkan dengan batasan kuat tekan minimum yang dapat dicapai yang biasanya bervariasi. Beton mutu tinggi didefinisikan sebagai beton yang mempunyai kekuatan tekan minimum 6000 psi atau sekitar 41 MPa (Ronald, 1976) Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan pada beton mutu tinggi untuk kuat tekan diatas 50 MPa, penggunaan semen berkisar antara 380 - 530 kg/m3, sedangkan faktor air semen berkisar antara 0,32-0,47 (Munaf, 1994). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh abu terbang sebagai bahan pengganti semen type V terhadap kuat tekan, kelecakan adukan beton, waktu pengikatan dan modulus elastisitas beton mutu tinggi.

2. METODE PENELITIAN Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah semen portland tipe V merek Semen Padang, agregat halus (pasir) asal Gunung Sugih Lampung, agregat kasar (batu pecah) asal Tanjungan Lampung. Air dari Laboratorium Bahan dan Konstruksi Fakultas Teknik Unila. Abu terbang yang digunakan berasal dari PLTU Suralaya, termasuk dalam jenis F pada ASTM C 618. Super plasticizer (SP) yang digunakan merek Sikament NN dengan dosis pemakaian 1 % terhadap berat semen. Alat-alat utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah: concrete mixer kapasitas 40 liter digerakkan dengan kecepatan 20 putaran permenit, cetakan benda uji silinder dari baja dengan diameter 100 mm dan tinggi 200 mm. Kerucut Abram untuk mengukur kelecakan adukan beton, Universal Testing Machine kapasitas 100 ton, untuk menguji kuat tekan beton, dial gauge untuk mengukur regangan beton pada saat pengujian kuat tekan, dan penetration resistance untuk mengukur waktu pengikatan beton. Perancangan campuran beton menggunakan metode ACI 211-4R-93, dengan ketentuan kuat tekan rencana 50 MPa, nilai slump rencana 25-50 mm, ukuran agregat maksimum sebesar 20 mm. Abu terbang yang digunakan sebesar 0%, 5 %, 10 %, 15 %, 20 % dan 25 % dari berat semen. Kebutuhan bahan dalam 1 m3 beton dapat dilihat pada Tabel 1. Jumlah benda uji pada masing-masing umur dari masing-masing komposisi adalah 3 buah. Pengujian kuat tekan dilakukan pada umur 7, 28, dan 56 hari. Pengukuran kelecakan adukan beton digunakan dengan slump test sedangkan pemadatan beton pada cetakan dilakukan dengan merojok dan memukul perlahan dinding cetakan dengan palu karet. Untuk pengujian waktu pengikatan maka dilakukan pemisahan mortar dari adukan beton dengan menggunakan saringan 4,75 mm, selanjutnya dilakukan pengujian waktu pengikatan sesuai dengan ASTM C 403.
Pengaruh Abu Terbang Sebagai Pengganti Sejumlah Semen Type V Pada Beton Mutu Tinggi (Surya Sebayang)

117

Tabel 1. Kebutuhan Bahan untuk 1 m3 Beton No 1 2 3 4 5 6 Kadar abuter (%) 0 5 10 15 20 25 Semen (kg) 522,025 495,924 469,823 443,721 417,620 391,519 Air (kg) 195,851 195,851 195,851 195,851 195,851 195,851 B.Pecah (kg) 1075,19 1075,19 1075,19 1075,19 1075,19 1075,19 Pasir (kg) 540,28 540,28 540,28 540,28 540,28 540,28 Abuter (kg) 0 26,101 52,202 78,304 104,405 130,506 SP (kg) 5,22 5,22 5,22 5,22 5,22 5,22

Sebelum benda uji untuk kuat tekan dibuka dari cetakannya, maka benda uji dicapping terlebih dahulu dengan menggunakan pasta semen. Benda uji yang telah dibuka dari cetakan, kemudian dirawat dengan cara perendaman. Pengujian kuat tekan dilakukan dengan Universal Testing Machine dengan kecepatan pembebanan 0,14-0,34 MPa per detik sesuai dengan ASTM C39. Pengujian modulus elastisitas sesuai dengan ASTM C 469, interval beban yang digunakan pada pengujian modulus elastisitas adalah 20 KN.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Kelecakan Pengukuran kelecakan adukan beton dilakukan dengan slump test. Selanjutnya hasil pengukuran disajikan pada Tabel 2. Slump yang terjadi pada semua komposisi adalah true slump (Neville,1987). Masingmasing adukan terlihat kohesive, tidak terjadi segregasi. Demikian pula pada adukan tidak terjadi bleeding hal ini disebabkan karena faktor air semen yang rendah dan adanya bahan tambahan abu terbang yang menghambat naiknya air ke permukaan. Semakin besar persentase kadar abu terbang yang ditambahkan pada adukan beton maka kelecakan adukan akan bertambah. Hal ini terjadi karena butiran abu terbang berbentuk bulat dan permukaan butirannya halus, sehingga friksi yang terjadi pada adukan semakin kecil (Ryan, 1992). Tabel 2. Nilai Slump Adukan Beton Kadar Abu terbang (%) 0 5 10 15 20 25 118 Slump (mm) 30 33 35 38 40 42
Volume 6 No. 2, April 2006 : 116 - 123

3.2. Waktu Pengikatan Beton Pengukuran waktu pengikatan awal dan waktu pengikatan akhir dilakukan dengan alat penetration resistance. Waktu pengikatan awal terjadi pada perlawanan penetrasi sebesar 3,5 MPa dan waktu pengikatan akhir terjadi pada perlawanan penetrasi sebesar 27,6 MPa. Selanjutnya waktu pengikatan awal dan waktu pengikatan akhir pada masing-masing komposisi disajikan pada Tabel 3 dan Gambar 1 Semakin besar persentase abu terbang maka waktu pengikatan awal maupun akhir semakin lambat. Senyawa-senyawa C3S, C2S, C3A dan C4AF akan bereaksi dengan air, yang diawali dengan senyawa C3A. Hasil reaksi akan bereaksi kembali dengan unsur-unsur utama yang terdapat pada abu terbang yaitu silika dan alumina dengan demikian maka rantai reaksi hidrasi akan semangkin panjang yang pada akhirnya akan menambah waktu pengikatan beton.. Tabel 3. Hasil Pengujian Waktu Pengikatan Beton Kadar Abu Terbang (%) 0 5 10 15 20 25 Waktu pengikatan awal (menit) 210 232 252 307 341 352 Waktu pengikatan akhir (menit) 357 397 412 451 477 485

Waktu Pengikatan (menit)

600 500 400 300 200 100 0

Awal Akhir

0%

5%

10%

15%

20%

25%

Kadar Abu terbang

Gambar 1. Waktu Pengikatan dengan Kadar Abu Terbang

Pengaruh Abu Terbang Sebagai Pengganti Sejumlah Semen Type V Pada Beton Mutu Tinggi (Surya Sebayang)

119

3.3. Kuat Tekan Kuat tekan uniaksial benda uji silinder dihitung dengan menggunakan rumus pada Persamaan 1 sebagai berikut: fc = P/A (1) dengan : fc = kuat tekan silinder (MPa) P = beban yang dipikul pada saat runtuh (N) A = luas penampang silinder (mm2) Selanjutnya hasil kuat tekan rata-rata benda uji silinder untuk masing-masing komposisi abu terbang dan umur disajikan pada Tabel 4 dan Gambar 2. Kuat tekan beton abu terbang pada umur 7 hari dan 28 hari belum menunjukkan peningkatan kuat tekan dibandingkan dengan beton tanpa abu terbang, terlihat pada Tabel 4 dan Gambar 2. Hal ini terjadi pada semua komposisi campuran dengan abu terbang. Ini terjadi karena senyawa yang membentuk kekuatan awal pada semen adalah senyawa C3S yang dibantu oleh panas hidrasi dari senyawa C3A. Dengan adanya butiran dari abu terbang maka reaksi hidrasi dari kedua senyawa ini akan terganggu, artinya rantai reaksi akan lebih panjang yang mengakibatkan pengerasan beton akan lebih lama. Setelah umur 28 hari maka kuat tekan beton abu terbang menunjukkan peningkatan kuat tekan yang lebih besar. Hal ini disebabkan reaksi antara senyawa kalsium hidroksida, Ca(OH)2 yang merupakan produk hidrasi dengan senyawa silika yang ada pada abu terbang berlangsung lambat (Ryan, 1992), sehingga terbentuknya calsium silikat hidrat, CSH lebih lama (diatas 28 hari). Selanjutnya senyawa CSH inilah yang memberikan kekuatan tambahan pada beton. Secara mekanik ukuran butiran abu terbang yang lebih halus akan meningkatkan kerapatan beton, yang pada akhirnya akan meningkatkan kekuatan beton. Pengurangan senyawa kalsium hidroksida pada beton akibat telah bereaksi dengan SiO2 pada abuterbang, dapat meningkatkan ketahanan beton terhadap serangan sulfat. Pada penelitian ini hanya dipantau samapai umur 56 hari saja, dimana peningkatan kuat tekan diatas 56 hari masih dapat berlangsung. Dari Tabel 4 terlihat bahwa penggantian abu terbang sebesar 20 % dari berat semen pada umur 56 hari memberikan kuat tekan optimum yaitu mencapai 55,275 Mpa. Tabel 4. Hasil Pengujian Kuat Tekan Rata-Rata Kadar Abu terbang (%) 0 5 10 15 20 25 7 hari 34,980 28,248 28,706 29,661 31,500 29,342 Kuat Tekan Rata-Rata (Mpa) 28 hari 48,438 39,406 40,879 44,576 46,223 43,337 56 hari 51,563 47,805 50,011 52,002 55,275 51,730

120

Volume 6 No. 2, April 2006 : 116 - 123

60 Kuat Tekan (Mpa) 50 40 30 20 10 0 0% 5% 10% 15% 20% 25% Kadar Abu Terbang 7 hari 28 hari 56 hari

Gambar 2. Hubungan Kadar Abu Terbang dengan Kuat Tekan 3.4. Berat Volume Beton Berat volume Beton adalah perbandingan antara berat beton (berat benda uji silinder) dengan volume beton (volume benda uji silinder). Benda uji ditimbang pada saat permukaan benda uji mengering dari rendaman air. Berat volume beton rata-rata untuk masing-masing kadar abu terbang disajikan pada Tabel 5. Tabel 5. Berat Volume Beton Kadar Abu Terbang (%) 0 5 10 15 20 25 Berat Volume Beton (kg/m3) 2503 2501 2498 2493 2488 2472

Dari Tabel 5 terlihat bahwa semakin besar kandungan abu terbang sebagai pengganti semen, maka semakin kecil berat volume beton. Hal ini disebabkan karena berat jenis abu terbang lebih kecil dari berat jenis semen. 3.5. Modulus Elastisitas Beton Modulus elastisitas merupakan rasio dari tegangan normal uniaksial terhadap regangan benda uji silinder yang ditentukan dengan rumus pada Persamaan 2 sebagai berikut: E = (S2 - S1)/(2 - 0,000050) (2) 121

Pengaruh Abu Terbang Sebagai Pengganti Sejumlah Semen Type V Pada Beton Mutu Tinggi (Surya Sebayang)

dengan : E S2 S1 2

= = = =

modulus elastisitas tegangan pada 40 % beban runtuh tegangan pada regangan 0,000050 regangan pada S2

Pengujian modulus elastisitas dilakukan pada umur 28 hari, hasil pengujian untuk masingmasing kadar abu terbang disajikan pada Tabel 6. Modulus elastisitas beton dapat juga dihitung berdasarkan nilai kuat tekan dan berat volume beton dengan menggunakan rumus empiris dari ACI 318 M 1989 sebagai berikut: Ec = Wc1,5. 0,043 fc dengan : Ec = Modulus elastisitas beton (MPa) Wc = Berat volume beton (kg/m3) fc = Kuat tekan beton (MPa) Secara umum pada umur 28 hari nilai modulus elastisitas beton abu terbang hasil pengujian tidak jauh berbeda dengan modulus elastisitas dari rumus empiris ( Tabel 6) Pada umur 28 hari, modulus elastisitas beton abu terbang lebih kecil dari beton tanpa abu terbang, seperti terlihat pada Tabel 6. Hal ini disebabkan pada umur 28 hari kuat tekan beton abu terbang masih lebih kecil dari beton tanpa abu terbang. Tabel 6. Modulus Elastisitas Beton Kadar Abu Terbang (%) BAT 0 BAT 5 BAT 10 BAT 15 BAT 20 BAT 25 Modulus Elastisitas Beton Hasil Pengujian (MPa) 41.223,404 29.406,716 33.925,311 36.219,917 39.591,006 38.849,049 Modulus Elastisitas Beton Empiris (MPa) 37.475,965 33.761,378 34.324,738 35.735,710 36.280,485 34.791,293 (3)

4. KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan 1. Penggantian abu terbang terhadap sejumlah semen type V pada adukan beton mutu tinggi ternyata mampu meningkatkan kelecakan adukan beton. Semakin besar penambahan abu terbang maka semakin tinggi kelecakan adukan beton. Penggunaan abu terbang sebagai bahan pengganti belum memberikan peningkatan kuat tekan pada umur dibawah 28 hari. Tetapi setelah umur 28 hari, penggantian semen dengan abu terbang dapat meningkatkan kuat tekan beton.
Volume 6 No. 2, April 2006 : 116 - 123

2.

122

3. 4. 5.

Kuat tekan beton optimum dihasilkan pada umur 56 hari pada komposisi abu terbang sebesar 20 % sebagai pengganti semen. Semakin besar persentase abu terbang maka waktu pengikatan awal maupun akhir semakin lambat Modulus elastisitas beton abu terbang lebih kecil dibandingkan dengan modulus elastisitas beton tanpa abu terbang pada umur 28 hari.

4.2. Saran Penelitian selanjutnya dapat digunakan bahan mineral yang lain sebagai bahan pengganti semen antara lain silika fume, abu sekam padi.

DAFTAR PUSTAKA ACI 211. 1993. Guide for Selecting Proportion for High Strength Concrete with Portland Cement and Fly Ash. Journal ACI ACI 318M-89. 1993. Building Code Requirements for reinforced Concrete. American Concrete Institute. Detroit. ASTM 04.02. 1994. Annual Book of ASTM Standards, Concrete and Aggregates. Philadelphia. Munaf, D. R. 1992. Pembuatan dan Penyelidikan Perilaku Beton Mutu Tinggi serta Bahan Pembentuknya. Laporan Penelitian. Fakultas Teknik dan Perencanaan ITB Neville, A.M. dan Brooke, J.J. 1987. Concrete Technology. Longman Scientific & Technical, London. Ronald, L.B., Charles, F.P., dan Michael, E.W. 1976. Proportioning and Controling High Strength Concrete. Publication SP-46. American Concrete Institute. Detroit. Ryan,W.G. 1992. Australian Concrete Technology. Longman Cheshire, Melbourne. SK SNI S-04. 1989. Spesifikasi Bahan Bangunan Bagian A. Departemen Pekerjaan Umum. Yayasan LPMB. Bandung SK SNI T-15. 1990. Tata Cara Rencana Pembuatan Campuran Beton Normal. Departemen Pekerjaan Umum. Yayasan LPMB. Bandung Suhud, R. 1993. Beton Mutu Tinggi. Institut Teknologi Bandung Surya Sebayang. 2002. Pengaruh Kadar Abu Terbang Terhadap Kuat Tekan Beton Alir Mutu Tinggi. Jurnal Penelitian Rekayasa Sipil dan Perencanaan. Edisi Keenam. Udin, M. 1994. Korelasi antara Sifat-Sifat Beton Terhadap Kadar Abu Terbang Sebagai Pengganti Semen. Tesis. Institut Teknologi Bandung

RIWAYAT PENULIS Ir. Surya Sebayang, M.T., adalah staf pengajar pada Jurusan Teknik Sipil Universitas Lampung.

Pengaruh Abu Terbang Sebagai Pengganti Sejumlah Semen Type V Pada Beton Mutu Tinggi (Surya Sebayang)

123