Anda di halaman 1dari 6

PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)

RSUD WALUYO JATI, KRAKSAAN


2013 2015

DIABETES MELITUS
1. Pengertian (Definisi)

Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2010, Diabetes


mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan
karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin,

2. Anamnesis

kerja insulin, atau kedua-duanya.


1.
Keluhan Klasik DM, yaitu: Poliuria, Polifagia, Polidipsia, dan
penurunan Berat Badan
2.

Keluhan lain, yaitu: lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur,


dan disfungsi ereksi pada pria, serta pruritus vulvae pada wanita

3. Klasifikasi

4. Pemeriksaan Fisik

Pengukuran tinggi badan, berat badan,dan lingkar pinggang

Pengukuran tekanan darah, termasuk pengukuran tekanan darah


dalam posisi berdiri untuk mencari kemungkinan adanya
hipotensi ortostatik, serta ankle brachial index (ABI),untuk
mencari kemungkinan penyakit pembuluh darah arteri tepi

Pemeriksaan funduskopi

Pemeriksaan rongga mulut dan kelenjar tiroid

Pemeriksaan jantung

Evaluasi nadi, baik secara palpasi maupun dengan stetoskop

Pemeriksaan ekstremitas atas dan bawah, termasuk jari

Pemeriksaan kulit (acantosis nigrican dan bekas tempat


penyuntikan insulin) dan pemeriksaan neurologis

Tanda-tanda penyakit lain yang dapat menimbulkan DM tipe


lain

5. Kriteria Diagnosis

Kriteria Diagnosis DM:


1. Gejala klasik DM + glukosa plasma sewaktu 200 mg/dL (11,1
mmol/L) Glukosa plasma sewaktu merupakan hasil pemeriksaan sesaat
pada suatu hari tanpa memperhatikan waktu makan terakhir
Atau
2. Gejala klasik DM + Kadar glukosa plasma puasa 126 mg/dL (7.0
mmol/L) Puasa diartikan pasien tak mendapat kalori tambahan sedikitnya
8 jam
Atau
3. Kadar gula plasma 2 jam pada TTGO 200 mg/dL (11,1 mmol/L)
TTGO yang dilakukan dengan standar WHO, menggunakan beban
glukosa yang setara dengan 75 g glukosa anhidrus yang dilarutkan ke
dalam air.
* Pemeriksaan HbA1c (>6.5%) oleh ADA 2011 sudah dimasukkan
menjadi salah satu kriteria diagnosis DM, jika dilakukan pada sarana

6. Diagnosis Kerja

laboratorium yang telah terstandardisasi dengan baik.


Diabetes Melitus

7. Pemeriksaan Penunjang

1.

Dilakukan pada kelompok dengan resiko tinggi untuk DM, yaitu


kelompok usia dewasa tua (>40 tahun), obesitas, tekanan darah
tinggi, riwayat keluarga DM, riwayat kehamilan dengan berat
badan lahir bayi >4.000 gr, riwayat DM pada kehamilan, dan
dislipidemia.

2.

Dilakukan dengan pemeriksaan gula darah sewaktu, kadar


glukosa darah puasa, kemudian diikuti dengan Tes Toleransi
Glukosa Oral (TTGO) standar. Untuk kelompok resiko tinggi
yang

hasil

pemeriksaannya

negative

perlu

dilakukan

pemeriksaan penunjang ulangan setiap tahun, bagi pasien berusia


> 45 tahun tanpa faktor resiko, pemeriksaan penunjang dapat
dilakukan setiap 3 tahun.
3.

Pemeriksaan penyaring bertujuan untuk menemukan pasien


dengan DM, TGT, maupun GDPT, sehingga dapat ditangani
lebih dini secara tepat. Pasien dengan TGT dan GDPT juga
disebut

sebagai

intoleransi

glukosa,

merupakan

tahapan

sementara menuju DM.


4.

TGT: Diagnosis TGT ditegakkan bila setelah pemeriksaan


TTGO didapatkan glukosa plasma 2 jam setelah beban antara
140 199 mg/dL (7,8-11,0 mmol/L).

5.

GDPT: Diagnosis GDPT ditegakkan bila setelah pemeriksaan


glukosa plasma puasa didapatkan antara 100 125 mg/dL (5,6
6,9 mmol/L) dan pemeriksaan TTGO gula darah 2 jam < 140
mg/dL.

8. Terapi

Tujuan penatalaksanaan
Jangka pendek: menghilangkan keluhan dan tanda DM,
mempertahankan rasa nyaman, dan mencapai target pengendalian
glukosa darah.
Jangka panjang: mencegah dan menghambat progresivitas
penyulit mikroangiopati, makroangiopati, dan neuropati.
1.

Kerangka utama penatalaksanaan DM adalah perencanaan


makanan, latihan jasmani, obat hiperglikemik, dan penyuluhan.

2.

Obat Hiperglikemik Oral (OHO), antara lain:

Golongan Sulfonilurea

Golongan Biguanid, preparat: Metformin

Golongan glukosidase (Acarbose)


3.

Insulin sensitizing agent


Insulin, dengan indikasi penggunanan sebagai berikut:

Penurunan berat badan yang cepat

Hiperglikemia berat yang disertai ketosis

Ketoasidosis diabetic

Hiperglikemia hiperosmolar non ketotik

Hiperglikemia dengan asidosis laktat

Gagal dengan kombinasi OHO dosis optimal

Stres berat (infeksi sistemik, operasi besar, IMA, stroke)

Kehamilan dengan DM/diabetes melitus gestasional yang tidak


terkendali dengan perencanaan makan

9. Edukasi

1.

Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat

Kontraindikasi dan atau alergi terhadap OHO


Melakukan latihan jasmani teratur, 3-4 kali tiap minggu selama
0,5 jam yang sifatnya sesuai CRIPE (Continuos, Rhytmical,
Progressive, Endurance training). Misalnya jogging, jalan kaki,
lari, renang, bersepeda, dan mendayung.

2.

Mengatur pola makan harian yaitu dengan menu 3 porsi besar


untuk makan pagi (20%), siang (30%) dan sore (25%) serta 2-3
porsi (makanan ringan, 10 - 15%) di antaranya , dengan
konsultasi pada ahli atau pakar gizi terlebih dahulu sebelum
melakukan diet DM.

3.

Menurunkan Berat badan hingga mencapai berat badan ideal

4.

Mematuhi aturan selama minum obat Hiperglikemik Oral atau


penggunaan preparat insulin untuk mencegah komplikasi dan
memperbaiki kualitas hidup pasien.

10. Prognosis

Ad vitam

: dubia ad bonam/malam

Ad sanationam : dubia ad bonam/malam


11. Tingkat Evidens
12. Tingkat Rekomendasi
13. Penelaah Kritis

Ad fungsionam : dubia ad bonam/malam


I/II/III/IV
A/B/C
1.

2.

14. Indikator Medis

Pasien diabetes memiliki tantangan seumur hidup untuk


mencapai dan menjaga kadar glukosa darah sedekat mungkin ke
angka normal. Dengan pengendalian glikemia yang cocok,
resiko terjadinya komplikasi mikrovaskuler dan neuropati
menurun secara bermakna. Sebagai tambahan, jika hipertensi
dan hiperlipidemia ditangani secara agresif, resiko terjadinya
komplikasi makrovaskuler juga menurun secara drastis.

Sekitar 60% pasien DM tipe I yang mendapat insulin dapat


bertahan seperti orang normal, sisanya dapat mengalami
kebutaan, gagal ginjal kronik, dan kemungkinan meninggal
menjadi lebih cepat.

15. Kepustakaan

1.

Departemen Kesehatan RI. 2005. Pharmaceutical Care Untuk


Penyakit Diabetes Mellitus. Direktorat Bina Farmasi Komunitas
dan Klinik. Jakarta.

2.

PERKENI.

2011.

Revisi

Konsensus

Pengelolaan

dan

Pencegahan Diabetes Melitus tipe 2 di Indonesia.


3.

American Diabetes Association. Position statement: Standards of


Medical Care in Diabetes 2010. Diab Care. 2010;33 (Suppl.1)

4.

American Association of Clinical Endocrinologist (AACE)


Diabetes Mellitus Clinical Practice Guidelines Task Force.
AACE Medical guidelines for clinical practice for the
management of diabetes mellitus. Endo Pract. 2007;13 (Suppl.1)

5.

Noer HMS, Waspadji S, Rachman AM, et al. Buku Ajar Ilmu


Penyakit Dalam, Jilid III Edisi IV. Jakarta: Balai penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007