Anda di halaman 1dari 6

MDGs 2015

1. Millenium Development Goals (MDGs) atau Tujuan Pembangunan Milenium merupakan komitmen 189 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium pada tahun 2000. Pemerintah dari negara-negara tersebut sepakat untuk mengadopsi deklarasi milenium untuk menangani isu perdamaian, keamanan, pembangunan, hak asasi manusia dan kebebasan

fundamental dalam satu paket. MDGs juga merupakan pendekatan yang inklusif dalam pemenuhan hak-hak dasar manusia, terdiri dari delapan tujuan (goals) yang dijabarkan kedalam delapan belas target dan lima puluh dua indikator terkait untuk dapat dicapai dalam jangka waktu 25 tahun antara 1990 dan 2015.

2. Tujuan MDGs adalah : Tujuan 1 : Memberantas kemiskinan dan kelaparan ekstrem Tujuan 2 : Mewujudkan pendidikan dasar untuk semua Tujuan 3 : Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan Tujuan 4 : Menurunkan angka kematian anak Tujuan 5 : Meningkatkan kesehatan ibu Tujuan 6 : Memerangi HIV dan AIDS, Malaria serta penyakit lainnya

Tujuan 7 : Memastikan kelestarian lingkungan Tujuan 8 : Promote global partnership for development

3. Target MDGs adalah : Tujuan 1 : Memberantas kemiskinan dan kelaparan ekstrem Target 1A : Menurunkan proporsi penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan menjadi setengahnya antara 1990 2015. Target 1B : Menyediakan seutuhnya pekerjaan yang produktif dan layak, terutama untuk perempuan dan kaum muda

Tujuan 2 : Mewujudkan pendidikan dasar untuk semua Target 2A : Memastikan bahwa pada 2015 semua anak di manapun, laki laki maupun perempuan, akan bisa menyelesaikan pendidikan dasar secara penuh.

Tujuan 3 : Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan Target 3A : Menghilangkan ketimpangan gender di tingkat pendidikan dasar dan lanjutan lebih baik pada 2005, dan disemua jenjang pendidikan paling lambat tahun 2015.

Tujuan 4 : Menurunkan angka kematian anak Target 4A : Menurunkan angka kematian balita sebesar dua pertiganya antara tahun 1990 dan 2015.

Tujuan 5 : Meningkatkan kesehatan ibu Target 5A :Menurunkan angka kematian ibu sebesar tiga perempat antara tahun 1990 dan 2015. Target 5B :Mencapai dan menyediakan akses kesehatan reproduksi untuk semua pada tahun 2015

Tujuan 6 : Memerangi HIV dan AIDS, Malaria serta penyakit lainnya Target 6A : Menghentikan dan mulai membalikkan tren penyebaran HIV dan AIDS pada tahun 2015 Target 6B : Tersedianya akses universal untuk perawatan terhadap HIV / AIDS bagi yang memerlukan pada 2015. Target 6C:Menghentikan dan mulai membalikkan kecenderungan

persebaran malaria dan penyakit-penyakit utama lainnya pada 2015

Tujuan 7 : Memastikan kelestarian lingkungan

Target 7A : Memadukan prinsip prinsip pembangunan berkelanjutan ke dalam kebijakan dan program Negara serta mengakhiri kerusakan sumber daya alam. Target 7B : Mengurangi laju hilangnya keragaman hayati, dan mencapai pengurangan yang signifikan pada tahun 2015 Target 7C : Menurunkan separuh proporsi penduduk yang tidak memiliki akses yang berkelanjutan terhadap air minum yang aman dan sanitasi dasar pada tahun 2015. Target 7D: Pada 2020 telah mencapai perbaikan signifikan dalam kehidupan ( setidaknya ) 100 juta penghuni kawasan kumuh.

Tujuan 8 : Promote global partnership for development

4. MDG yang berhubungan / berkaitan dengan gizi : a. Goal 1, Memberantas kemiskinan dan kelaparan b. Goal 4, Menurunkan angka kematian balita c. Goal 5, Meningkatkan derajat kesehatan ibu d. Goal 6, Memerangi HIV dan AIDS, Malaria serta penyakit lainnya

5. Komentar tentang presentasi bahan.

Ada satu hal yang perlu mendapatkan perhatian kita semua yaitu yang berhubungan dengan kesenjangan/disparitas pencapaian antar daerah. Jika dilihat satu target sudah tercapai, namun jika dilihat dari capaian masing-masing daerah, masih banyak daerah yang berada di bawah angka nasional. Kesenjangan antar wilayah yang menyebabkan target dari MDGs belum optimal. Salah satunya dilihat dari masih tingginya angka kematian Ibu (AKI) yang berbeda antar daerah. Terdapat kesenjangan yang menyolok antar wilayah, baik dari pendidikan, status sosial maupun ekonomi. Angka kematian bayi menurun tajam menjadi 35 per 10000 kelahiran hidup pada kurun 1998-2002. Padahal pada tahun 1960 angka kematian balita (AKB) yaitu 216 per 1000 kelahiran hidup. Meskipun demikian angka tersebut masih tergolong tinggi bila dibandingkan dengan negara-negara anggota ASEAN yaitu 4,6 kali lebih tinggi dari Malaysia, 1,3 kali lebih tinggi dari Filipina, dan 1,8 kali lebih tinggi dari Thailand. Variasi kematian bayi antar propinsi masih cukup besar. Angka kematian ibu (AKI) telah mengalami penurunan menjadi 307 per 100.000 kelahiran hidup (1998-2002). Di samping itu, lebih dari setengah kematian bayi (56%) merupakan kematian neonatal (bayi baru lahir) yang umumnya berusia 0-6 hari. Dari sini bisa ditarik kesimpulan, tindakan pemeriksaan pada masa neonatus di masyarakat masih sangat rendah. Dikatakan, hanya 57,6% neonatus diperiksa oleh tenaga kesehatan dalam minggu pertama, dan hanya 33,5% yang diperiksa ketika umur 8-28 hari. Menurut Riskesdas 2007, penyebab kematian utama bayi adalah ganguan pernapasan (35,9%) dan berat lahir rendah (32,4%). Sedangkan kematian pada balita paling banyak diakibatkan oleh diare, pneumonia

dan hal yang berlatar pada kekurangna gizi. Jadi, jika ingin menekan kematian bayi dan balita, perhatian yang besar perlu pada upaya penyelamatan bayi baru lahir dan penangangan penyakit infeksi (diare dan pneumonia). Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih meningkat, namun masih memerlukan perhatian yang khusus, di antaranya dalam penyediaan tenaga kesehatan. Persebaran tenaga kesehatan saat ini belum merata, terutama di daerah tertinggal, terpencil, kawasan perbatasan dan kepulauan. Selain itu, pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan bervariasi antar provinsi dengan cakupan pertolongan persalinan di bawah angka rata-rata nasional, yakni di , Jambi, Kalimantan Tengah, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan NTT. Prevalensi HIV/AIDS pada penduduk usia 15-29 tahun

diperkirakan masih dibawah 0,1 persen. Namun angka prevalensi pada sub populasi beresiko tinggi telah melebihi 5 persen. Hingga akhir tahun 2008, semua propinsi telah melaporkan adanya penduduk yang terinfeksi HIV dengan jumlah penderita AIDS yang tercatat sebanyak 16.110 kasus. Tapi penderita HIV/AIDS yang sebenarnya diperkirakan melebihi kasus tersebut. Angka ini lebih kecil dari jumlah penderita di Thailand, Myanmar dan Vietnam, namun lebih tinggi dari Malaysia dan Filipina.