Anda di halaman 1dari 21

PERENCANAAN LINK TRANSMISI MIKROWAVE

Perencanaan Mikrowave link transmisi merupakan hal yang penting untuk menghasilkan sebuah jaringan transmisi yang handal untuk meningkatkan

performansi dan pelayanan kepada pelanggan. Dengan melakukan perencanaan radio link transmisi, diharapkan untuk sepuluh tahun ke depan dapat mengatasi permasalahan kapasitas link, rute link transmisi dan proteksi jaringan.

1 Konsep Dasar Perencanaan Link Transmisi. Perencanaan link transmisi pada system komunikasi bergerak GSM merupakan proses dalam menentukan kapasitas link transmisi apakah perlu diupgrade atau tidak, jenis-jenis konfigurasi, tipe-tipe antena microwave, penentuan diameter antena, pemilihan frekuensi, rute transmisi (link), LOS (Line Of Sigt) dan link Budget . Adanya pertumbuhan pelanggan yang semakin besar, maka akan

menyebabkan trafik semakin besar sehingga diperlukan perencanaan link transmisi microwave yang baik dan dapat mengikuti kebutuhan dan pertumbuhan pelanggan. Oleh karena itu, perencanaan link transmisi microwave merupakan suatu proses yang tidak pernah berhenti karena harus dapat mengikuti pertumbuhan untuk selalu menjaga kepuasan pelanggan.

Hal 1

2.

Dasar Perencanaan. Dalam perencanaan link transmisi microwave secara teknis ada beberapa hal

yang harus diperhatikan, yaitu: a) Kapasitas Link Transmisi Kapasitas link transmisi yang dibutuhkan, biasanya disesuaikan terhadap trafik pelanggan. Semakin besar trafiknya, semakin besar pula link transmisi yang dibutuhkan. Penentuan jenis-jenis konfigurasi juga mutlak diperlukan dalam hal ini. Data trafik pelanggan biasanya diperoleh dari divisi RNP (Radio Network Planning) yang berhubungan dengan parameter kesuksesan panggilan dan coverage area. b) Tipe Antena Pemilihan tipe antena sangat berpengaruh terhadap kehandalan jaringan transmisi microwave. Tipe antena yang dimaksud berhubungan dengan pemilihan diameter antena, pemilihan frekuensi serta system proteksi antena. c) Kondisi Topografi Kondisi topografi suatu daerah yang berbeda-beda dengan daerah yang lainnya erat kaitannya terhadap kondisi link transmisi yang LOS (Line Of side) tanpa ada halangan diantara link transmisi tersebut. Sehingga pada perakteknya diperlukan survey lapangan.

Hal 2

Secara umum perencanaan link transmisi microwave dapat digambarkan dalam langkah kerja proses sebagai berikut :

Gambar 2.1 Langkah kerja proses perencanaan Link Transmisi.

Perencanaan Link Transmisi. Dalam perencanaan link transmisi semua dilakukan berdasarkan data dari

master planning, kapasitas trafik pelanggan sangat berpengaruh terhadap kapasitas link transmisi. Data mengenai kapasitas trafik pelanggan biasanya diperoleh dari divisi RNP (Radio Network planning). Data-data tersebut berisi asumsi prediksi jumlah pelanggan, intensitas trafik, dan sebagainya. Berdasarkan data-data tersebut, maka dibuat sebuat design link transmisi. Dalam perencanaan link transmisi pada system selular, ditentukan oleh kapasitas link transmisi, jenis-jenis konfigurasi, tipe-tipe antena microwave,

Hal 3

penentuan diameter antena, pemilihan frekuensi, rute transmisi (link), LOS (Line Of Side), dan Link budget. 3.1 Kapasitas Link Transmisi. Merupakan salah satu faktor yang penting dalam perencanaan link transmisi yang erat kaitannya terhadap prediksi jumlah pelanggan untuk jangka waktu kedepan. Perencanaan tersebut dilakukan berdasarkan informasi, analisa dan pertimbangan tentang segala sesuatu yang menyangkut dan mempunyai pengaruh dalam perencanaan link transmisi. Perencanaan yang akurat merupakan faktor penting

dalam menentukan kebijakan dan menyusun strategi dalam pelaksanaan perencanaan selanjunya.

3.2

Jenis jenis Konfigurasi (Network Topologi). Pada dasarnya penentuan jenis jenis konfigurasi jaringan erat kaitannya

terhadap penentuan node-node atau concentrator (pusat) link transmisi mana yang membawa jumlah kapasitas trafik yang besar. Ada beberapa jenis-jenis konfigurasi jaringan link transmisi, yaitu Chain (rantai), star (bintang), tree (pohon), ring (lingkaran), protection (perlindungan) dan meshed (jaring).

3.2.1

Chain (rantai), star (bintang), dan tree (pohon). Tipe chain (rantai) merupakan bentuk konfigurasi dasar link transmisi. Dalam

implementasinya sering juga disebut sebagai konfigurasi star (bintang) dan tree (pohon).

Hal 4

Untuk tipe chain (rantai), star (bintang) atau tree (pohon) biasanya terdapat satu buah node (titik) yang menjadi pusat link transmisi. Sementara BTS-BTS yang berada dibelakang pusat node disebut sebagai anak-anaknya dan BTS-BTS tersebut secara lansung berhubungan kepada pusat node. Pemilihan bentuk topologi chain, star, atau tree biasanya berdasarkan pada kapasitas link transmisi (jumlah BTS-BTS ) pengikutnya. Jika kapasitas trafik BTS-BTS yang berada dibelakang pusat node tidak terlalu besar, maka pemilihan bentuk topologi chain (rantai), star (bintang), atau tree (pohon) lebih efisien dari segi biaya. Tetapi kekurangannya dari topologi bentuk chain (rantai), star (bintang) atau tree (pohon) adalah jika node (titik) pusat link transmisi putus maka BTS-BTS yang ada dibelakang pusat node ikut terputus juga. Hal ini dikarenakan bentuk topologi chain (rantai), star (bintang) atau tree (pohon) tidak terdapat system proteksi atau perlindungan untuk mengalihkan BTS-BTS yang berada di belakang pusat node.

Gambar 3.1 Bentuk-bentuk Topology Link Transmisi.

Hal 5

3.2.2

Ring (Lingkaran). Pemilihan topologi jaringan link transmisi dengan bentuk ring (lingkaran) bila

dalam jaringan link transmisi terdapat baberapa pusat node (titik). Hal ini dikarenakan beberapa pusat node tersebut membawa kapasitas` link transmisi dengan jumlah E1 yang besar. Untuk itu diperlukan sebuah topology jaringan yang bentuknya mirip seperti lingkaran ( ring). Biasanya beberapa pusat node tersebut akan terhubung satu sama lainnya dengan pusat node yang lain secara bolak-balik. Dengan kata lain dengan topologi ring (lingkaran) akan terdapat dua buah rute link transmisi yang beroperasi secara bergantian jika jalur utama link transmisi pusat putus, maka dengan otomatis jalur cadangan link transmisi akan berfungsi. Dengan demikian BTS-BTS yang ikut dibelakang node pusat masih dapat beroperasi. Biasanya digunakan untuk hubungan antara BTS ke BTS dengan kapasitas link transmisi yang besar atau antara BTS ke BSC.

3.2.3

Protection (perlindungan). Pemilihan topologi dengan bentuk protection (perlindungan) lebih

difokuskan kepada hubungan antara BTS-BTS yang menjadi node pusat ke BSC. Hal ini dikarenakan BTS yang menjadi pusat node sudah pasti membawa kapasitas link transmisi yang jumlahnya besar. Makanya jika link transmisi antar BTS-BTS yang pusat node tidak diberi topologi proteksi, maka dapat dibayangkan berapa jumlah subscriber yang tidak dapat dilayani oleh BTS. Proteksi yang disebut disini adalah dengan menggunakan tipe antena yang berfungsi sebagai link active dan bisa juga berfungsi sebagai standbye link . Hal 6

3.2.4

Meshed (jaring). Topologi jaringan dengan bentuk meshed (jaring) adalah sebuah topologi

dimana pada jalur link transmisi menggunakan bentuk ring (lingkaran), star (bintang) dan chain (rantai). Topologi Meshed (jaring) biasanya digunakan untuk link transmisi antara intra BSC dan MSC. Topologi Meshed (jaring) sangat efisien jika digunakan komunikasi link transmisi yang jamak.

3.3

Tipe-tipe Antena Microwave. Pemilihan tipe antena yang tepat dalam sebuah design link transmisi sangat

berpengaruh terhadap kualitas link itu sendiri. Pemilihan tipe antena microwave yang dimaksud adalah penentuan system proteksi perangkat. Pada system antena microwave dibagi atas dua system yaitu IDU (Indoor Unit ) dan ODU ( Outdoor Unit ). IDU biasanya terpasang dibawah (dalam shelter) dan berfungsi sebagai interface antara notebook dan perangkat. Semua software yang berkaitan dengan system perangkat yaitu setting frekuensi, setting Tx power, setting Rx power,remote control, kondisi alarm, dan E1 (PCM 2 Mbps) dapat diakses malalui IDU. Sedangkan ODU terpasang diluar biasanya dekat dengan antena dan berfungsi sebagai pendistribusi semua hasil yang diproses oleh IDU. Interface yang digunakan antara IDU dan ODU adalah kabel coaxial. Ada beberapa system porteksi biasa digunakan pada antena microwave, yaitu : 1+0, 1+1 HSBY ( Host Stand Bye ), 1+1 S/D (Space Diversity), 1+1 F/D (Frequency Diversity ).

Hal 7

3.3.1

Antena 1+0. Antena dengan tipe 1+0 adalah sebuah system tanpa menggunakan proteksi.

Dalam 1 hop (sisi Tx dan Rx ) hanya terdiri dari satu buah antena microwave, satu buah IDU, satu buah ODU. Dan hanya menggunakan kanal frekuensi yang sama. Jika terjadi perputusan ( link putus) yang diakibatkan kegagalan perangkat maka BTS yang berada dalam link tersebut ikut terputus. Sehingga subscriber yang berada dalam jangkauan service area BTS tersebut tidak dapat dilayani. Hal ini dikarenakan antena microwave tersebut tidak memiliki backup proteksi.

Gambar 3.2 Antena 1 + 0

3.3.2

Antena 1+1 HSBY (Host Stand Bye ). Antena dengan tipe 1+1 HSBY adalah sebuah system antena yang

menggunakan proteksi. Dalam 1 hop (sisi Tx dan Rx) terdiri atas satu buah antena microwave, satu buah IDU (1+1 HSBY), dua buah ODU (active dan standbye). Dan menggunakan kanal frekuensi yang sama. Cara kerjanya adalah berdasarkan ODU 1 dipilih sebagai ODU working (main). Apabila ODU 1 mengalami gangguan yang disebabkan oleh kegagalan perangkat maka dengan otomatis ODU 2 akan bekerja. Sehingga ODU 1 menjadi standbye. Demikian seterusnya cara kerja perangkat ini. Hal 8

Jika benar masalahnya ODU 1 tadi mengalami kerusakan perangkat maka ODU 1 harus diganti. Kerugiannya dari system perangkat dengan proteksi 1+1 HSBY adalah tidak bisa mengatasi gangguan propagasi. Dengan adanya system perangkat dengan menggunakan system proteksi 1+1 HSBY, diharapkan pada saat terjadi masalah pada link transmisi BTS yang berada dalam link tersebut tidak mengalami gangguan yang berarti. Sehingga BTS tersebut masih bisa melayani subscriber yang berada dalam service areanya.

Gambar 3.3 Antena 1 + 1 MHSB.

Cara kerja radio 1 + 1 MHSB

Gambar 3.4 Cara kerja radio 1 + 1 .

Hal 9

Cara kerjanya : Pada saat local site transmitte (mengirimkan sinyal), sinyal dikirimkan sekaligus (simultan) dan di sisi remote sinyal yang dikirim tersebut akan diseleksi berdasarkan kualitas receive level yang terbaik, sebaliknya pada saat sisi remote mengirimkan sinyal ke local site, maka sinyal akan diterima berdasarkan kualitas receive level yang tebaik.

3.3.3

Antena 1+1 Frequency / SD (Space Diversity). Antena dengan tipe 1+1 Frekuensi S/D (Space Diversity) adalah sebuah

system antena yang menggunakan proteksi. Dalam 1 hop (sisi Tx dan Rx) terdiri atas dua buah antena microwave, dua buah IDU, dan masing- masing antena terdiri atas 1 buah ODU. Dan menggunakan kanal Frekuensi yang berbeda. Cara kerjanya adalah berdasarkan pemilihan kanal frekuensi yang secara kualitas sangat baik. Dengan kata lain masing- masing ODU bekerja bersamaan dan tidak saling mengganggu karena beda frekuensi. Frekuensi yang secara kualitas baik akan dipakai sebagai frekuensi kerja. Demikian seterusnya cara kerja perangkat ini.

Gambar 3.5 Gambar cara kerja radio 1 + 1 frekuensi SD.

Hal 10

Biasanya system 1+1 Frekuensi S/D digunakan untuk link transmisi yang jaraknya jauh dan membawa kapasitas E1 yang sangat besar, dan jalur link transmisi yang melalui perairan, laut karena adanya efek cermin yang ditimbulkan oleh permukaan air. Antena dengan system 1+1 Frekuensi S/D dapat menangani gangguan perangkat dan propogasi.

3.3.4

Antena 2x (1+1) dengan fitur XPIC.

Gambar 3.6 Cara Kerja Radio 2 x (1+1) dengan fitur XPIC.

Antena dengan type 2x(1+1) atau 2 x STM_1 dengan fitur XPIC (Cross Pole ) adalah sebuah system yang menggukan satu channel frekuensi dan dual polarisasi (V dan H) dengan tidak menimbulkan interferensi. Dalam satu hop terdiri atas 8 buah ODU, 2 buah antena dan 2 buah IDU. Tujuan menggunakan fitur XPIC selain menghemat pemakaian channel frekuensi adalah untuk mengetahui seberapa besar interferensi yang diakibatkan oleh sinyal pada frekuensi yang sama tetapi dengan polarisasi (Cross Pole ) yang berseberangan. Cara umum yang dilakukan adalah dengan mengirim sinyal carrier murni (tanpa pemodulasi) dengan daya pancar yang cukup, supaya sinyal dapat diterima dengan baik pada receiver. Pada polarisasi yang sama akan diperoleh level Hal 11

sinyal yang besar sedangkan pada polarisasi yang berseberangan akan diperoleh level sinyal yang jauh lebih kecil. Level kedua sinyal tersebut kemudian dapat diukur perbedaanya, jika perbedaanya lebih kecil dari 30dB berarti polasasi antena belum di kalibrasi (proses kalibrasi polarisasi sering disebut cross pole interferensi (X-pole Polarization). Untuk mengatasi kalibrasi polarisasi yang lebih kecil dari 30dB maka feedhorn dari antena harus diputra-putar sedemikan rupa sehingga diperoleh polarisasi yang tepat (perbedaan level lebih besar atau sama dengan 30dB). Nilai 30dB cukup untuk mengisolasi dua buah sinyal yang berasal dari polarisasi yang berbeda dengan frekuensi yang sama. Dengan demikian kedua sinyal tersebut tidak akan saling interferensi.

3.4

Penentuan Diameter Antena. Penentuan diameter antena biasanya terkait dengan jarak link transmisi dalam

1 hop (komunikasi link antara Tx dan Rx ) serta gain antena. Diameter antena berbanding lurus dengan jarak. Semakin jauh jarak sebuah link transmisi maka semakin besar pula diameter antena yang akan digunakan. Diameter antena juga berbanding lurus dengan gain antena. Semakin besar diameter antena maka semakin besar pula gain antenanya.

3.5

Pemilihan Kanal Frekuensi. CCIR (ITU-R) merekomendasikan pemakaian band frekuensi radio, yang

disebut Perencanaan Alokasi Kanal RF. Rekomendasi tersebut menjelaskan tentang penggunaan band frekuensi, jumlah maksimum kanal RF yang bisa digunakan, lebar Hal 12

spasi antar kanal RF dan polarisasi frekuensi kanal RF. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pengaturan kanal RF yaitu : 1) Untuk pemakaian multikanal dalam tiap hop, maka antar kanal yang berdekatan tidak boleh saling mengganggu. 2) Hop yang satu dengan yang lainnya tidak boleh saling mengganggu. 3) Dua arah transmisi dalam tiap hop juga tidak boleh saling mengganggu. Berdasarkan hal tersebut diatas, maka tiap-tiap vendor telekomunikasi yang beroperasi di Indonesia telah mendapat alokasi frekuensi masing- masing untuk perangkat antena MW. Biasanya kanal frekuensi yang dipakai untuk microwave adalah 2 GHz, 7 GHz,8 GHz, 15 GHz, 18 GHz, 23 GHz. Yang membedakan kanalkanal frekuensi yang digunakan antara masing- masing vendor terletak pada sub-band frekuensi tersebut.

3.6

Polarisasi Antena. Polarisasi antena yang dimaksud adalah polarisasi vertikal dan polarisasi

horizontal. Polarisasi merupakan model perambatan gelombang di udara. Polarisasi terkait dengan gelombang listrik dan gelombang magnet. Jika gelombang listrik (E) merambat secara tegak lurus maka polarisasinya adalah horisontal. Tidak masalah polarisasi jenis apa yang dipilih, selama link transmisi tidak ada masalah.

3.7

Rute Transmisi. Penentuan rute link transmisi ditentukan oleh kapasitas E1 pada BSC, factor

LOS, dan topologi jaringan. Dalam menentukan rute link transmisi , harus ditentukan Hal 13

terlebih dahulu BSC mana yang akan melayani BTS (site) tersebut. Kemudian menentukan BTS mana yang akan menjadi concentrator (pusat node ), apakah terdapat LOS antara masing- masing site, dan bagaimana bentuk topologi jaringannya.

3.8

LOS (Line Of Side). Pemilihan jalur komunikasi dilakukan berdasarkan hasil dari field survey

dengan study map dengan menggunakan peta topografi (countur) yang dikeluarkan oleh BAKOSURTANAL. Hasil dari field survey biasanya terdiri atas koordinat site, evaluasi permukaan tanah (altitude), kondisi topografi lintasan link apakah daerah pegunungan, dataran rendah, atau perairan, tinggi tower yang akan digunakan dan sebagainya. Pada tahapan study map meliputi : 1. Pemilihan lokasi untuk New site 2. Data Koodinat site yang diperoleh dari GPS (Global Positioning System). 3. Perhitungan dengan menggunakan software pathloss ver 4.0

3.9 Perhitungan Link Budget. Link Budget adalah besarnya level nominal penerimaan dalam satu hop. Biasanya dalam satuan dBm.

Hal 14

Gambar 3.7 Perhitungan Link Budget untuk satu hop.

Link Budget dapat dihitung secara bertahap dengan menggunakan persamaan dibawah ini : Menghitung LFS ( Loss Free Space ) berdasarkan persamaan (2.2)
= 92,5 + 20 log + 20 log

dimana : = Loss pada Free Space (dB) = Frekuensi (GHz)

= Jarak antara pemancar dan penerima (km)

Setelah menghitung LFS , kemudian menghitung Rx power dengan menggunakan persamaan dibawah ini :

Hal 15

= () = + + 1 2 1 2 ...(3.1) = () = + + 1 2 1 2 ......(3.2)

dimana : = Tx Power (dBm) 1 2 1 2

= Loss Branching / filter pada sisi Tx (dB) = Loss Feeder pada sisi Tx (dB) = Loss Branching / filter pada sisi Rx (dB) = Loss Feeder pada sisi Rx (Ghz)

= Gain antena pada sisi Tx (dB) = Gain antena pada sisi Rx (dB) = Level penerimaan sinyal

4 Perencanaan system backbone radio link transmisi DESA KOHA >< MGW MANADO.

Berdasarkan data master planning PT. HCPT, maka dipilih link DESA KOHA >< MGW MANADO sebagai rute backbone untuk link transmisi yang ada dibawahnya karena faktor LOS. Berikut tahap-tahap perencanaan link DESA KOHA >< MGW MANADO dengan menggunakan software Pathloss:

Hal 16

1. Memasukan data-data hasil survey lapangan seperti letak koordinat (Longitude dan Latitude), tinggi tower, tinggi antena, type radio, kapasitas radio.

Gambar 3.8 Data summary link DESA KOHA >< MGW MANADO

2. Melakukan Terrain data base untuk mengechek skala, elevasi dan jarak antara Near End sampai dengan Far End, serta menentukan tinggi pohon atau gedung yang berada dalam lintasan kedua site tersebut.

Gambar 3.9 Terrain data link link DESA KOHA >< MGW MANADO.

Hal 17

3. Melakukan print profile untuk menampilkan hasil LOS atau tidaknya suatu link transmisi.

Gambar 3.10 Link profile DESA KOHA >< MGW MANADO.

4. Menampilkan hasil link budget yang dibutuhkan untuk dijadikan acuan implementasi atau proses instalasi perangkat.

Gambar 3.11 Data link budget DESA KOHA >< MGW MANADO.

Hal 18

Dari tahapan-tahapan diatas dapat dilihat bahwa link DESA KOHA >< MGW MANADO terdapat faktor LOS, dalam skripsi ini saya juga membahas satu link transmisi yang tidak terdapat faktor LOS, yaitu link KEC. TARERAN >< MGW MANADO.

Tahapan-tahapan perencanaannya sebagai berikut : 1. Memasukan data-data hasil survey lapangan seperti letak koordinat (Longitude dan Latitude), tinggi tower, tinggi antena, type radio, kapasitas radio.

Gambar 3.12 Data summary link DESA KOHA >< MGW MANADO.

2. Melakukan Terrain data base untuk mengechek skala, elevasi dan jarak antara Near End sampai dengan Far End, serta menentukan tinggi pohon atau gedung yang berada dalam lintasan kedua site tersebut.

Hal 19

Gambar 3.13 Terrain data link KEC. TARERAN >< MGW MANADO.

3. Melakukan print profile untuk menampilkan hasil LOS atau tidaknya suatu link transmisi.

Gambar 3.14 Link profile KEC. TARERAN >< MGW MANADO.

Hal 20

Faktor Degradasi. Pada system radio gelombang mikro digital, kita harus mempertimbangkan

adanya degradasi perangkat, degradasi fading terhadap gelombang dikehendaki (desired) dan degradasi non fading terhadap gelombang dikehendaki yang semuanya merupakan faktor yang mengakibatkan adanya Bit error. Pengukuran Bit error dengan menggunakan alat ukur Bit Error Test. Satu dari tiga komponen diatas, degradasi perangkat sangat bergantung pada perangkat radionya bersifat tetap (fixed). Degradasi fading dengan gelombang yang diinginkan disebut Non Variable Component sedangkan degradasi non fading disebut variable Component. Ada 3 jenis faktor degradasi yaitu : 1) Degradasi perangkat 2) Degradasi karena propagasi 3) Degradasi variable component. Degradasi perangkat terjadi pada perangkat yang kurang sempurna pembuatannya yang berasal dari inter-symbol interference (ISI) akibat pembatasan bandwidth, jitter, degradasi karena temperature ruangan. Sedangkan degradasi karena propagasi terjadi karena faktor residual hasil proses transversal equalizer component pada sinyal Baseband bagian terima. Dan degradasi variable terjadi karena faktor non-fading dengan gelombang yang

dikehendaki, dimana gelombang gelombang yang tidak dikehendaki (undesired) merambat pada jalur yang berbeda seperti gelombang yang dikehendaki.

Hal 21