Anda di halaman 1dari 4

TUGAS

STRUKTUR PERLINDUNGAN PANTAI


REVIEW DARI VIDEO PERLINDUNGAN PANTAI DI BALI

Disusun Oleh: ADE LIDO TANIZAR NRP 4310 100 702

JURUSAN TEKNIK KELAUTAN FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER 2013

A. Proyek Pelindung Pantai Pura Tanah Lot Pura Tanah Lot yang terkenal di Bali mengalami masalah pengikisan pada batu penyangganya, diakibatkan angin dan gelombang yang begitu kuat. Penelitian menunjukkan bahwa terjadi pengikisan batu penyangga pada Pura Tanah Lot sebesar 1,5 cm per tahun. Oleh karena itu, pada tahun 1992, dimulai upaya untuk pengamanan batu penyangga tersebut. Perlindungan yang diberikan berupa bangunan breakwater dan pembuatan artificial coral reef. Kemudian di tahun 1998 dilakukan pembaruan desain. Akhirnya pada Juni 2000 dilakukan perbaikan konstruksi. Kegiatan ini melibatkan 1000 pekerja menggunakan bahan material yang berasal dari berbagai lokasi di Bali. Dilakukan pengujian materi untuk mendapatkan kadar air, karena komposisi air pada material sangat menentukan campuran yang diperlukan pada beton. Beton dicetak dengan model tetrapod, yang kemudian diuji kembali untuk mengetahui kadar airnya. Setelah itu, dilakukan pengujian tekan (stress). Menurut pengamatan, kekuatan standar tekan di Tanah Lot 250kg/cm2. Maka dari itu, untuk sampel balok dilakukan pengujian kelenturan dengan nilai yang di ijinkan harus melebihi 25kg/m2. Tetrapod yang dicetak berjumlah 7110 buah yang memiliki ukuran 16 ton dan 6,3 ton. Untuk mengangkut tetrapod tersebut, dibangun jembatan besi sementara dengan lebar 7 m yang akan dibongkar setelah selesai. Pemasangan dilakukan dengan unit crane dan menggunakan alat GPS untuk ketepatan peletakan. Tetrapod yang berukuran 16 ton ditempatkan di bagian luar, dan yang 6,3 ton dibagian dalamnya. Jumlah untuk ukuran 16 ton adalah 4411 unit, dan 2699 unit untuk ukuran 6,3 ton. Tetrapod tersebut dipasang 0,35 m dari permukaan air terendah (LLWL) agar buih ombak tetap sampai di tepi pantai untuk kesan natural. Penataan tetrapod harus sesuai dengan desain, jika terdapat ketidaksesuaian maka akan ditata ulang. Saat surut, tetrapod-tetrapod ini diuji penempatannya untuk memastikan tetap terpasang 0,5 m dari permukaan laut terendah. Pemasangan tetrapod ini menghabiskan waktu kurang lebih satu tahun. Metode Perkuatan Dinding Karang/Artificial Rock Dalam metode ini, langkah pertama adalah survei panel panel penyangga pura. Setelah dilakukan survey ternyata ada 32 panel yang harus diduplikasi. Caranya dengan memberikan cat silikon, kemudian fiber ditempel pada permukaannya. Ketika sudah kering, terbentuklah cetakan panel yang akan diduplikasi tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan pengecoran cetakan. Bahan cornya yaitu semen, pasir, air, dsb. Sebelum dipasang batu duplikat ini diuji kekuatannya. Sebelum dipasang, dibuat landasan penyangga pada karang penyangga pura. Apabila landasan sudah sesuai desain, pemasangan dapat dilakukan. Untuk kesan natural dan estetika, batu buatan ini dicat dengan warna yang sesuai. Diperkirakan struktur ini dapat bertahan selama 25 tahun. Selain itu, di Tanah Lot juga dibangun tangga masuk dan tangga keluar pura. Kemudian dilakukan pemindahan tetrapod lama yang ada di sekitar pura sebanyak 1500 buah, serta

penataan penimbunan pasir. Proyek ini selesai dan diresmikan oleh Presiden RI pada tanggal 14 Juni 2003.

B. Proyek Pengamanan di Pantai Nusa Dua Pantai Nusa Dua yang merupakan pusat industri pariwisata di Bali Selatan. Erosi adalah masalah utama yang terdapat Pantai Nusa Dua. Berbagai upaya dilakukan untuk menanggulanginya. Proyek ini dijalankan atas kerja sama Japan Tank International Corporation, Dinas Pekerjaan Umum, Sumber Daya Air dan Infrastruktur. Penanganan Pantai Nusa Dua dilakukan dengan membangun revertmen, groin, pengisian pasir, lanskap, dan jalan setapak di sekitar Pantai Nusa Dua. Sebelum pembangunan dilaksanakan, diadakan opening ceremony dengan upacara mapak kelam dan mulang dasar oleh masyarakat sekitar pantai. Kemudian proyek resmi dibuka oleh pemimpin proyek Penanganan Pantai Bali. Sosialisasi juga dilakukan sebelum pengerjaan konstruksi dimulai. Quarry development dilakukan di Taliwang, Sumbawa. Sedangkan Adhesitte quarry dilakukan di desa Tukan Batu, Kubu, Karangasem. Untuk stockpile area terletak di pelabuhan Benoa. Sampling batu dan analisa lab dilakukan tiap kelipatan 5000 m3. Faktor konversi dari tonase ke m3 dilakukan dengan membuat model untuk groin baik untuk armor dan adhesitte. Kemudian batu batu tersebut dibawa ke area konstruksi menggunakan kapal tongkang, kapal tunda, dan fisher boat. Beberapa tahapan konstruksi groin telah dikerjakan, hingga menghasilkan konstruksi modifikasi G0, G1, G4, G5, konstruksi modifikasi new groin GN1,G9, G10, new groin GN2, G12, new groin GA1, new groin GA2, new groin GA3, new groin GA4, modifikasi GA5, GA8, konstruksi revertment A, dan revertment B. Upaya menjaga mutu groin dilakukan inspeksi dari pihak engineer dan kontraktor. Selain pekerjaan konstruksi, juga dilakukan environmental monitoring untuk menjaga kealamian ekosistem bawah laut dan memastikan konstruksi yang dibangun tidak mengganggu keseimbangan ekosistem . Beach fill dilakukan diantara groin G12-GA2. Perakitan pipa sinker dilakukan di Benoa, kemudian ditarik dengan tug boat ke Nusa Dua. Lokasi donor pasir terletak di lepas pantai hotel niko. Perakitan pipa darat dilakukan langsung di lokasi pengisian di sepanjang area 1500 m. Kapal penyedot pasir yang digunakan memiliki kapasitas penyedotan 10.834 m3 dan memiliki 2 pompa. Penyemprotan dilakukan sampai area GA8. Sebelum penyemprotan dilakukan, pasir diambil sampelnya dulu untuk dicek di lab. Selama proses penyemprotan, inspeksi pipa bawah air tetap dilakukan. Setelah pekerjaan konstruksi groin dan beach nourishment, ada pekerjaan konstruksi jalan setapak di atas groin dengan konstruksi dasar beton bertulang. Finishing batu marmo, permukaan dilakukan dengan bulatan bulatan batu agar lebih terkesan natural. Jalan setapak dibangun di antara groin G12-GA2 dengan lebar 2m. Jalan setapak selebar 1,2 m juga dibangun di sepanjang revertment A dan B sampai groin GA6. Konstruksi dasar gazebo dari pasangan batu kali dibangun dengan tanpa meninggalkan gaya arsitek Bali. Gazebo dibangun sebanyak 14 unit.

Proyek ini dikerjakan oleh Taisei, Rinkai, Pembangunan Perumahan Joint Operation. Diselesaikan keseluruhan pada tanggal 5 Oktober 2004. Total waktu penyelesaian 1117 hari kalender. Berbagai kunjungan dari Gubernur Bali, DPRD Komisi IV, dan perguruan tinggi merupakan bentuk perhatian terhadap proyek pengamanan Nusa Dua. Hasil proyek ini dipresentasikan kepada pihak pihak terkait dan keseluruhan telah dilaksanakan dan diterima oleh Dinas Pekerjaan Umum. C. Proyek Pengamanan Pantai Sanur Pantai Sanur sebagai salah satu andalan pariwisata di Pulau Bali memiliki masalah utama yaitu abrasi pantai yang terjadi hampir di sepanjang kawasan pantai. Untuk mengatasi masalah ini maka dibuat bangunan pengaman pantai meliputi pembangunan groin dan dilanjutkan dengan pengisian pasir. Kegiatan berlangsung cukup lama dan diduga akan memberikan tekanan ekologis terhadap lingkungan di sekitarnya khususnya ekosistem terumbu karang. Kerusakan ekosistem terumbu karang dikhawatirkan akan terjadi apabila kegiatan yang dilaksanakan tidak dikelola dengan baik. Masalah yang dihadapi Pantai Sanur tidak berbeda dengan Pantai Nusa Dua, yaitu abrasi sepanjang 6 km dari Pantai Grand Bali dan Pantai Tumerta Sari. Untuk antisipasi masalah tersebut, NIPPON KOEI CO., LTD in Association; PT Tata Guna Patria; Institut Teknologi Bandung; Universitas Gajah Mada, Penta Waskita Joint Operation mengadakan proyek pembangunan Groin dan Beach Fill. Proses pembangunan groin dimulai dari penggalian sebagai fondasi awal peletakan bebatuan. Bebatuan yang digunakan berasal dari pulau Benoa menggunakan kapal tongkang dan kapal tunda dan nantinya akan dilakukan proses peletakan batuan menggunakan alatalat berat seperti ekskavator untuk mempermudah proses peletakan batuan dalam pembuatan groin di Pantai Sanur. Lalu batu-batuan diletakkan menggunakan excavator. Instalasi pertama yaitu instalasi under layer. Setelah instalasi under layer selesai, maka akan dilanjutkan dengan instalasi armour line stones. Armour line stones diletakkan satu per satu menggunakan excavator. Lalu ketinggian di cek oleh orang yang bertugas untuk menyurvei. Proses selanjutnya adalah beach fill. Beach fill dilakukan diantara bangunan groin. Diawali dengan perakitan pipa sinker, kemudian ditarik dengan tug boat ke lokasi penambahan pasir di Pantai Sanur. Perakitan pipa darat dilakukan langsung dilokasi pengisian di sepanjang area 1500 m. Kapal penyedot pasir yang digunakan memiliki kapasitas penyedotan 10.834 m3 dan memiliki 2 pompa. Sebelum penyemprotan dilakukan, pasir diambil sampelnya dulu untuk dicek di lab. Selama proses penyemprotan, inspeksi pipa bawah air tetap dilakukan.