Anda di halaman 1dari 16

BUKU PANDUAN TAMU

BUKU PANDUAN TAMU

RANGKAIAN HAUL DAN ZIARAH KUBRA ULAMA & AULIYA PALEMBANG DARUSSALAM 1434 H 2013 M
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Ziarah di Pemakaman Auliya dan Habaib Al-Habib Ahmad bin Syech Shahab .......................................... Rauhah dan Haul di Pondok Pesantren Ar-Riyadh ................... Ziarah di Pemakaman Ulama dan Auliya Telaga Sewidak.......................................................................... Haul Al-Imam Al-Faqihil Muqaddam Tsani Al-Habib Abdurrahman As-Seggaf ............................................ Haul Al-Habib Abdullah bin Idrus Shahab dan Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad Al-Bin Hamid ...................... Ziarah Kubra Ulama dan Auliya Palembang Darussalam ............................................................. Wisata Bahari.............................................................................

2 6 9 11 13 15 23

Hari Jam

: Jumat Pagi : Bada Shubuh s/d Selesai - Pemakaman Al-Habib Ahmad bin Syech Shahab

Tanggal : 19 Syaban 1434 H / 28 Juni 2013 M Tempat : - Masjid Darul Muttaqien (Pasar Kuto) Palembang

Diterbitkan oleh :

PANITIA HAUL & ZIARAH KUBRA ULAMA & AULIYA PALEMBANG DARUSSALAM Sekretariat : Jl. Dr. M. Isa No. 154 RT. 21 Palembang 30114 Telp. 0711-7331004 / 0815-32753400

Pemakaman Al-Habib Ahmad bin Syeikh Shahab atau Gubah Duku terletak di Jalan Dr. M. Isa Lr. Gubah 8 Ilir Palembang. Perjalanan ziarah dimulai dari Masjid Darul Muttaqien yang berlokasi di dekat pertigaan Jalan Slamet Riady dan Jalan Dr. M. Isa (Pasar Kuto) menuju ke Gubah Duku. Masjid dan gubah tersebut dibangun oleh Al-Habib Ahmad bin Syech bin Shahab, diatas tanah wakaf milik ayahnya yaitu Al-Habib Syech bin Ahmad Shahab. Karena, semasa hidupnya Al-Habib Syech dihadiahi sultan sebidang tanah luas dari Kuto hingga Kenten. Di pemakaman inilah sebagian besar Sadah Baalawi Palembang dimakamkan dan diantaranya dimakamkan juga para ulama dan waliyullah.

Pemakaman Habib Ahmad bin Syech Shahab

Haul & Ziarah Kubra Ulama & Auliya Palembang Darussalam

Haul & Ziarah Kubra Ulama & Auliya Palembang Darussalam

BUKU PANDUAN TAMU

BUKU PANDUAN TAMU

Di pertengahan perjalanan menuju Pemakaman Al-Habib Ahmad bin Syech Shahab, diziarahi pula makam Al-Habib Aqil bin Muhammad bin Yahya yang terletak di Jl. Dr. M. Isa (Simpang 4 Lampu Merah Veteran) Palembang. Al-rif Billh Al-Habib Ahmad bin Syech Shahb Habb Ahmad adalah seorang yang alim dan banyak karomahnya. Semasa hidupnya beliau banyak menimba ilmu pengetahuan di Palembang, bahkan hingga ke Hadhramaut. AlHabb Ahmad banyak memilki keturunan dan beliau termasuk penghulu nasab Bin Shahb di Palembang. Semasa hidupnya, beliau dan Al-Habb Umar bin Muhammad As-Seggf termasuk orang pertama yang melakukan perluasan pembangunan Masjid Agung Palembang setelah Sultan Mahmd Badaruddn. Selain Masjid Agung Palembang, beliaupun turut andil dalam pembangunan Masjid Jami di

Al-Arif Billah Al-Habib Aqil bin Muhammad bin Yahya Al-Habib Aqil bin Muhammad bin Yahya (Datuk Aqil) adalah seorang waliyullah yang banyak karomahnya. Beliau dilahirkan dan besar di Hadramaut, kemudian hijrah Palembang dan menetap di kota ini. Sebelum ke Palembang, Habib Aqil singgah di Malaysia untuk beberapa tahun. Di Malaysia, beliau menikah dan mendapat gelar Datuk, sehingga beliau terkenal dengan nama Datuk Aqil. Pada tahun 1306 Habib Aqil ke Palembang. Beliau tinggal di rumah AlHabib Ahmad bin Syech bin Shahab selama lebih kurang 3 bulan. Di Palembang beliau menikah dengan Syarifah Sidah binti Umar Al-Bar. Dari pernikahan tersebut beliau dikaruniai 2 putra dan 3 putri, 2 diantara putrinya dinikahkan dengan putra-putra Al-Habib Ahmad bin Syech Shahab. Putra-putranya bernama Umar (tidak memiliki keturunan) dan Muhammad. Habib Muhammad memiliki anak bernama Syech dan Agil. Dari Habib Syech, mempunyai anak bernama Muhammad dan Habib Aqil mempunyai anak bernama Alwi dan Abdurrahman, konon kabarnya berada di Malaysia.
Makam Habib Aqil bin Yahya

Makam Habib Ahmad bin Syech Shahab

Kecamatan Muntok, Pulau Bangka. Beliau juga memiliki menantu-menantu yang alim diantaranya, Al-Habb Abdullh bin Idrs bin Shahb, Al-Habb Syech bin Ali bin Shahb, Al-Habb Ahmad bin Hmid Al-Bin Hmid, Al-Habb Ali bin Alwi bin Shahb (Habb Ali Jenggot Abang). Habb Ahmad bin Syech wafat bertepatan pada bulan Syaban tahun 1367 H. Sedangkan rumah peninggalan beliau hingga saat ini masih terjaga rapi. Di pemakaman ini dimakamkan juga para waliyullah lainnya, diantaranya yaitu Al-Habib Abdullah bin Idrus Shahab, Al-Habib Syech bin Ali Shahab, Al-Habib Umar bin Hud As-Seggaf, Al-Habib Ali bin Alwi Shahab, Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad Al-Bin Hamid, Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad Al-Musawa, dll.

Banyak kisah karomah Habib Aqil bin Yahya. Diantaranya, pernah suatu ketika tatkala sedang berada di tepi Sungai Musi, beliau mendapati seseorang tengah membawa gula merah dengan menggunakan Perahu Jukung (Perahu Besar). Timbullah keinginan Habib Aqil untuk mencicipi gula tersebut, sehingga beliau meminta berulang kali kepada pemiliknya, namun yang didapati jawaban dusta dari pembawa barang tersebut dengan mengatakan yang mereka bawa adalah kayu yang mirip gula merah. Jawaban tersebut membuat Habib Aqil kecewa, sehingga dengan izin Allah didapatilah gula merah tersebut berubah menjadi kayu. Akhirnya si pemilik perahu menyesali tindakannya yang keliru. Al-Habib Aqil bin Muhammad bin Yahya dimakamkan di area tempatnya berkhalwat.
Haul & Ziarah Kubra Ulama & Auliya Palembang Darussalam

Haul & Ziarah Kubra Ulama & Auliya Palembang Darussalam

BUKU PANDUAN TAMU

BUKU PANDUAN TAMU

JADWAL ACARA ZIARAH PEMAKAMAN AL-HABIB AHMAD BIN SYECH SHAHAB

Acara

Jam

Tempat

Kegiatan

ZIARAH PEMAKAMAN AL-HABIB AHMAD BIN SYECH SHAHAB

Bada Shubuh | 06.30 WIB

Masjid Darul Muttaqien Jl. Dr. M. Isa (Pasar Kuto) Palembang Pemakaman Al-Habib Ahmad bin Syech Shahab Jl. Dr. M. Isa Lr. Gubah 8 Ilir Palembang

Hari
Pembacaan Wirdul Lathif, Qashidah Sembari menghimpun jemaah ziarah.

: Jumat Sore : Shalat Ashar Berjamaah s/d Selesai Jl. K.H.A. Azhari 13 Ulu Palembang

Tanggal : 19 Syaban 1434 H / 28 Juni 2013 M Jam Tempat : Pondok Pesantren Ar-Riyadh

06.30 WIB | 09.00 WIB

Pembacaan Surah Yasin & Tahlil, Qasidah Salaf dan Mauizhoh Hasanah.

Acara berikutnya dari Rangkaian Haul dan Ziarah Kubra Ulama dan Auliya Palembang Darussalam yaitu Rauhah dan Taushiah di Pondok Pesantren Ar-Riyadh, yang terletak di Jalan K.H.A. Azhari Kelurahan 13 Ulu Palembang. Sejarah berdirinya pesantren ini tidak terlepas dari jasa besar Habib Abdurrahman bin Abdullah Al-Habsyi. Setelah belajar selama 4 tahun di Rubath Seiwun, Hadhramaut kepada AlHabib Ali bin Muhammad AlHabsyi, ia kembali ke Palembang. Untuk memperlancar misi dakwah serta mewujudkan visinya membangun pesantren, di kota ini ia berdagang kayu besi. Meskipun tidak terjun secara langsung, namun bisnis yang dirintisnya ini Al-Habib Abdurrahman ternyata cukup berhasil. Sehingga bin Abdullah Al-Habsyi ia dapat mengirimkan cucunya ke pelbagai pesantren di Jawa, seperti Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyah, Malang dan Pesantren Darun Nasyiin, Lawang, yang belakangan para cucunya ini memegang roda kepemimpinan Ar-Riyadh.

Perjalanan dari Masjid Darul Muttaqien menuju Pemakaman Al-Habib Ahmad bin Syeikh Shahab dilakukan dengan berjalan kaki dan arak-arakan.

Haul & Ziarah Kubra Ulama & Auliya Palembang Darussalam

Haul & Ziarah Kubra Ulama & Auliya Palembang Darussalam

BUKU PANDUAN TAMU

BUKU PANDUAN TAMU

Sejak berdirinya, banyak santri berdatangan dari berbagai daerah untuk menuntut ilmu. Dan terbukti saat ini banyak alumnusnya yang menjadi dai, guru-guru agama dan pimpinan Bangunan Pondok Pesantren Ar-Riyadh pondok pesantren baik di Pulau Jawa maupun Sumatera. Selain itu, dibawah Yayasan Ar-Riyadh dimasa kepemimpinan Habib Ahmad bin Abdullah Al-Habsyi, didirikan juga beberapa lembaga pendidikan dan dakwah. Diantaranya Pesantren Putri Az-Zahra (1984) 13 Ulu, Pesantren Ar-Riyadh Hadaiqurroyyan (1989), yang bergerak di bidang pertanian dan peternakan, berlokasi di Desa Kayu Ara Kuning KM. 4 dengan luas areal 12 hektar, TK / TPA Bidayah Al-Hidayah (1992) Lorong BBC 12 Ulu, SMP / SMU IPTEK Islam Ar-Riyadh (1993) di Desa Talang Betutu Palembang, Panti Asuhan Al-Wiam, selain menjalankan pendidikan 6 tahun, serta memberikan santunan biaya pendidikan bagi anak yang kurang mampu di luar panti. Selain itu, dibuka juga lahan perkebunan karet demi kelangsungan dan kemandirian pesantren serta beberapa lembaga dibawah naungannya. Perkembangan Ar-Riyadh ini juga tidak terlepas dari peran saudara Habib Ahmad, yaitu Habib Ali dan Habib Abdul Mutthalib serta partisipasi staf pengajar yang profesional saat itu, diantaranya Habib Muhammad bin Husin Shahab dan para asatidz serta habaib lainnya. Pesantren yang menyelenggarakan pendidikan jenjang tsanawiyah dan aliyah ini memiliki 10 ruang kelas dilengkapi dengan laboratorium bahasa dan perpustakaan kampus. Ar-Riyadh juga mempunyai lembaga Bitsatud Dakwah yang bertujuan mendidik santri agar mempunyai perhatian terhadap masyarakat dan siap terjun ke masyarakat, dengan cara melakukan pengajian ke kampung-kampung di daerah Palembang dan sekitarnya. Setiap

setengah bulan atau pasca catur wulan, santri juga diajak untuk rihlah ke luar Palembang. Bahkan, satu tahun sekali rihlah ke Singapura atau Malaysia. Sejak tahun 1991, dengan bantuan pemerintah daerah, Ar-Riyadh memiliki pengolahan air bersih yang diberi nama Salsabil. Instalasi air bersih ini mempunyai bak penampungan seluas 40 meter dengan kedalaman 2 meter. Air bersih tersebut digunakan secara bersama untuk kebutuhan pesantren dan juga didistribusikan secara cuma-cuma ke masyarakat sekitar pesantren.

JADWAL ACARA RAUHAH DAN HAUL DI PONDOK PESANTREN AR-RIYADH.


Acara Waktu Tempat Pondok Pesantren Ar-Riyadh Jl. K.H.A. Azhari 13 Ulu Palembang Kegiatan

RAUHAH DAN HAUL

Shalat Ashar Berjamaah | Selesai

Pembacaan Qasidah Salaf, Rauhah dan Taushiah.

Haul & Ziarah Kubra Ulama & Auliya Palembang Darussalam

Haul & Ziarah Kubra Ulama & Auliya Palembang Darussalam

BUKU PANDUAN TAMU

10

BUKU PANDUAN TAMU

Hari Jam

: Sabtu Pagi : 06.00 WIB (Pagi) s/d Selesai - Pemakaman Auliya dan Habaib Telaga Sewidak

ini dilakukan dengan tujuan mengangkat syiar Islam serta membuka wawasan masyarakat mengenai tradisi ibadah yang biasa dilakukan oleh para salaf. Banyak sekali ulama dan auliya yang dimakamkan di Telaga Kediaman Habib Ahmad bin Hasan Al-Habsyi Sewidak, diantaranya adalah Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Habsyi, Al-Habib Alwi bin Ahmad Bahsin, Al-Habib Ahmad bin Hamid Al-Kaf, Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Munawwar, dll.

Tanggal : 20 Syaban 1434 H / 29 Juni 2013 M Tempat : - Kediaman Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Habsyi

Pemakaman Habaib Telaga Sewidak

Termasuk rangkaian acara Haul dan Ziarah Kubra Ulama dan Auliya Palembang Darussalam adalah berziarah ke Pemakaman Ulama dan Auliya di Seberang Ulu, yaitu ke Pemakaman Habaib Telaga Sewidak yang terletak di 14 Ulu Palembang.

RANGKAIAN DAN JADWAL ACARA ZIARAH DI PEMAKAMAN ULAMA & AULIYA TELAGA SEWIDAK
Acara Jam Tempat Rumah Habib Ahmad bin Hasan Al-Habsyi (Gg. BBC Plg) Kegiatan Burdah dan pembacaan qasidah salaf sembari menghimpun jemaah ziarah Pembacaan Qasidah Ziarah, Surah Yasin dan Tahlil, Qasidah, Tausiah, Talqinuz Zikir serta Ziarah-ziarah singkat

06.00 WIB | 07.00 WIB ZIARAH PEMAKAMAN 07.00 WIB | Selesai

Acara dimulai dari kediaman Al-Habib Ahmad bin Hasan AlHabsyi, yang beralamat di Jl. K.H.A. Azhari Gg. BBC Karang Panjang Palembang. Beliau salah seorang Arif Billah yang menjadi tokoh kebanggaan masyarakat Palembang, konon semasa hidupnya beliau merupakan guru besar para ulama di masanya. Di rumah beliau yang penuh berkah, acara diisi dengan burdah dan pembacaan qasidah salaf sembari menghimpun jemaah yang ingin berziarah bersama. Kemudian acara dilanjutkan dengan berziarah ke Pemakaman Habaib Telaga Sewidak dengan melalui situs Perkampungan Alawiyin Al-Munawwar 13 Ulu. Perjalanan menuju ke pemakaman dilakukan dengan berjalan kaki diiringi tetabuhan hajir marawis, hal
Haul & Ziarah Kubra Ulama & Auliya Palembang Darussalam

Pemakaman Habaib Telaga Sewidak (14 Ulu Plg)

Rute perjalanan dari Rumah Habib Ahmad bin Hasan Al-Habsyi menuju Pemakaman Habaib Telaga Sewidak dilakukan dengan melintasi situs perkampungan alawiyin Al-Munawwar di 13 Ulu Palembang dan dilakukan dengan berjalan kaki dan arak-arakan.

Haul & Ziarah Kubra Ulama & Auliya Palembang Darussalam

BUKU PANDUAN TAMU

11

12

BUKU PANDUAN TAMU

Rangkaian haul sendiri diisi dengan Shalat Maghrib berjamaah, Maulid, Pembacaan Surah Yasin, Tahlil dan Doa, Pembacaan Manaqib, Tausiah, Shalat Isya berjamaah dan ditutup dengan santap malam bersama. Pada acara haul ini juga seringkali disertakan akad nikah ataupun tasmiyah (pemberian nama anak) bagi siapapun yang ingin mendapatkan keberkahan dari shohibul haul. Hal ini dilakukan secara gratis tanpa dipungut biaya sedikitpun dari mereka yang punya hajatan. Bahkan pihak panitia sangat mengharapkan adanya akad nikah ataupun tasmiyah pada haul ini demi menambah keberkahan pada acara ini.
Tasmiyah (Pemberian nama anak)

Hari Tanggal Waktu Tempat

: Sabtu Sore : 20 Syaban 1434 H / 29 Juni 2013 M : Shalat Ashar Berjamaah s/d Selesai : Gedung Baalawi (10 Ilir Palembang)

Setelah mengikuti Ziarah Pemakaman Telaga Sewidak, pada sore harinya dilaksanakan Haul seorang Waliyullah besar yang menjadi penghulu sebagian nasab keturunan Alawiyyin. Beliau adalah Al-Faqihil Muqaddam Tsani Al-Habib Abdurrahman AsSeggaf bin Muhammad Maula Ad-Dawilaih R.A. yang merupakan salah seorang tokoh para wali dan ulama besar dari Ahlil Bait Al-Baalawi. Beliau wafat dan dimakamkan di pemakaman Zanbal di kota Tarim (Hadramaut Yaman) pada tahun 819 H. Haul ini dilaksanakan di Gedung Baalawi yang beralamat di Jl. Ali Gathmir 10 Ilir Palembang. Acara yang dimulai sejak sore hari, diisi dengan shalat ashar berjamaah, rauhah (pembacaan kitab-kitab salaf) dan pem-bacaan adzkar. Dilanjutkan Suasana Haul Al-Imam Abdurrahman As-Seggaf dengan acara inti yaitu haul Al-Imam Al-Faqihil Muqaddam Tsani Al-Habib Abdurrahman As-Seggaf.
Haul & Ziarah Kubra Ulama & Auliya Palembang Darussalam

RANGKAIAN DAN JADWAL ACARA HAUL AL-IMAM AL-HABIB ABDURRAHMAN AS-SEGGAF

Jadwal

Jam

Tempat

Acara

1 2

15.20 | 18.10 Gedung Baalawi 10 Ilir (Sungai Bayas)

Shalat Ashar berjamaah, Pembacaan Adzkar, Rauhah, Pembacaan Wirdul Lathief

18.20 | Selesai

Shalat Maghrib berjamaah, Maulid Singkat (jika ada Tasmiyah / Akad Nikah), Yasin, Tahlil dan Doa, Pembacaan Manaqib, Mauizhoh Hasanah, Shalat Isya berjamaah.

Haul & Ziarah Kubra Ulama & Auliya Palembang Darussalam

BUKU PANDUAN TAMU

13

14

BUKU PANDUAN TAMU

Hari Tanggal Jam Tempat

: Ahad / Minggu Pagi : 21 Syaban 1434 H / 30 Juni 2013 M : 06.30 s/d 08.30 WIB : Rumah Sejarah Sungai Bayas Kelurahan Kuto Batu (8 Ilir) Palembang
Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad Al-Bin Hamid

Sedangkan Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad Al-Bin Hamid merupakan seorang habib yang mulia, ia banyak menimba ilmu pengetahuan dari para habib baik di Palembang maupun dari Hadramaut, diantaranya Habib Abdullah bin Idrus bin Shahab. Adapun tokoh habaib yang banyak menimba ilmu pengetahuan darinya antara lain putranya sendiri Habib Ahmad, Habib Ahmad bin Zein bin Shahab dan Habib Muhammad bin Hamid bin Syech Abubakar.

Al-Habib Abdullah bin Idrus Shahab

Sebagai acara pembuka dari rangkaian ziarah kubra adalah Haul Al-Arif Billah Al-Habib Abdullah bin Idrus Shahab dan Al-Arif Billah Al-Habib Abdurrahman bin Hamid. Al-Habib Abdullah bin Idrus adalah salah seorang tokoh kebanggaan masyarakat Palembang, semasa hidupnya ia mempunyai kedudukan yang tinggi disebabkan ilmu dan akhlaknya yang mulia, itu terjadi dimanapun ia berada, bahkan di Hadhramaut, ia pun mendapatkan penghormatan yang lebih dari para habib disana.

Acara yang diadakan di perkampungan Alawiyyin Sungai Bayas Kelurahan Kuto Batu Palembang ini diisi dengan pembacaan Burdah, Haul, Pembacaan Manaqib serta Tausiah.

RANGKAIAN DAN JADWAL ACARA HAUL AL-IMAM AL-HABIB ABDULLAH BIN IDRUS SHAHAB DAN AL-HABIB ABDURRAHMAN BIN AHMAD AL-BIN HAMID
Acara Jam Tempat Kegiatan

Didalam kitab Tuhfatu Al-Ahbab fi Manaqib Al-Habib Alwi bin Abdullah bin Idrus bin Shahab disebutkan bahwa setiap kali Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, Seiwun datang ke kota Tarim, beliau selalu berusaha untuk memuliakan dan mengutamakan Habib Abdullah untuk menjadi imam shalat baik di majlis-majlis umum maupun khusus. Beliau berkata Aku melihat semua hati manusia mencintainya dan tidak ada satupun yang memusuhinya. Habib Abdullah bin Idrus adalah ayah dari Habib Alwi Qolbu Tarim, Hadramaut.
Haul & Ziarah Kubra Ulama & Auliya Palembang Darussalam

Haul

06.30 WIB | 08.30 WIB

Sungai Bayas

Pembacaan Burdah, Haul Habib Abdullah bin Idrus bin Syahab & Habib Abdurrahman bin Ahmad Al-Bin Hamid, Pembacaan Manaqib serta Mauizoh Hasanah

Setelah mengikuti haul, jemaah bersiap-siap untuk mengikuti acara selanjutnya yaitu Ziarah Kubra Ulama dan Auliya Palembang Darussalam.

Haul & Ziarah Kubra Ulama & Auliya Palembang Darussalam

BUKU PANDUAN TAMU

15

16

BUKU PANDUAN TAMU

Hari Jam Tempat

: Ahad / Minggu : 08.30 WIB s/d Selesai : - Pemakaman Al-Habib Pangeran Syarif Ali BSA - Pemakaman Kesultanan Kawah Tengkurep - Pemakaman Auliya dan Habaib Kambang Koci

Tanggal : 21 Syaban 1434 H / 30 Juni 2013 M

Rangkaian ziarah dimulai di Pemakaman Al-Arif Billah Al-Habib Pangeran Syarif Ali Syekh Abubakar yang berlokasi di Kelurahan 5 Ilir Boom Baru. AlHabib Pangeran Syarif Ali, merupakan seorang waliyullah yang alim dan berwibawa, sehingga ia disegani oleh banyak orang. Syarif Ali dilahirkan di Palembang pada tahun 1795 M dari seorang ibu yang bernama Syarifah Nur binti Ibrahim bin Zain bin Yahya. Adapun Al-Habib Pangeran Syarif Ali BSA ayahnya Habib Abubakar dilahirkan di kota Inat, Hadramaut. Habib Abubakar datang ke kota Palembang bersama ayahnya yaitu Habib Sholeh bin Ali sekitar tahun 1755 diakhir masa kepemimpinan Sultan Mahmud Badaruddin I. Setelah itu Habib Sholeh kembali ke Hadramaut dan meninggal di kota kelahirannya Inat. Sebagaimana lazimnya para wali, disamping mendapatkan pendidikan agama dari ayahnya, ia juga banyak menimba ilmu agama dari para habib baik dari kota Palembang sendiri maupun dari Hadhramaut. Selain terdidik dalam lingkungan keagamaan, pada usia dewasanya, Syarif Ali giat melakukan pelayaran niaga, terutama ke Kalimantan dan Jawa. Pelayaran dengan kapal kayu sederhana (Pinisi), mengarungi lautan luas selama beberapa waktu dengan segala macam rintangan, membentuk watak dan kepribadian yang kuat dalam jiwanya sehingga ia dikenal sebagai seorang yang gagah berani, teguh pendirian, tidak banyak berbicara dan bersikap tegas dalam menangani persoalan. Dari pergaulan yang luas dalam hubungannya dengan para pembesar kesultanan, Syarif Ali mem-peroleh pengalaman diplomatik. Karena itu ia tampil sebagai seorang yang berwibawa dan mendapat kepercayaan Sultan. Pernah suatu ketika Syarif Ali melakukan misi khusus ke

Setelah mengikuti haul Al-Habib Abdullah bin Idrus Shahab dan Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad Al-Bin Hamid, berikutnya adalah acara inti yaitu :

ZIARAH KUBRA ULAMA & AULIYA PALEMBANG DARUSSALAM


Makam-makam yang diziarahi dalam Ziarah Kubra adalah Pemakaman Al-Habib Pangeran Syarif Ali BSA, Pemakaman Kesultanan Kawah Tengkurep dan Makam Auliya dan Habaib Kambang Koci. Perjalanan ke tempat-tempat pemakaman dilakukan dengan berjalan kaki dan disemarakkan tetabuhan hajir marawis dan untaian qasidah, juga dengan membawa umbul-umbul yang bertuliskan kalimat tauhid.

Ziarah di Pemakaman Pangeran Syarif Ali BSA

Haul & Ziarah Kubra Ulama & Auliya Palembang Darussalam

Haul & Ziarah Kubra Ulama & Auliya Palembang Darussalam

BUKU PANDUAN TAMU

17

18

BUKU PANDUAN TAMU

Kalimantan untuk keperluan Sultan Husin Dhiauddin dan misi tersebut berhasil dengan baik. Karena ini Sultan menikahkan salah seorang putrinya yang bernama Laila dan dari perkawinan inilah Syarif Ali diberi gelar Pangeran. Bahkan beliau meskipun dalam usia yang relatif muda sudah dipercaya untuk menduduki jabatan bendahara kesultanan. Pangeran Syarif Ali wafat pada tanggal 27 Muharram 1295 H / 1877 M. Selain makam Habib Pangeran Syarif Ali dan keluarganya, disini juga dimakamkan Habib Umar bin Alwi bin Zain bin Syahab yang merupakan ipar dari Pangeran Syarif Ali, beliau dimakamkan tepat disebelah makam Pangeran Syarif Ali. Habib Umar adalah seorang ulama yang banyak menyebarkan agama Islam ke pelosokpelosok terpencil, beberapa suku adat di pedalaman Palembang masuk Islam berkat beliau, terutama di pesisir sungai Musi, antara lain daerah Pegayut, Pemulutan, Muara Batun, Lingkis, Ulak Temago, Suko Darmo, bahkan sampai saat ini banyak keturunannya tinggal di daerah Bungin Kiaji yang lebih dikenal dengan dengan Desa Pegayut. Dari Pemakaman Pangeran Syarif Ali, rombongan ziarah melanjutkan perjalanan menuju ke Pemakaman Kesultanan Kawah Tengkurep yang terletak di Kelurahan 3 Ilir Boom Baru Palembang. Pemakaman ini dibangun pada tahun 1728 M oleh Sultan Mahmud Badaruddin I Ziarah di Kawah Tengkurep (1724-1758 M), yang merupakan seorang pemimpin yang arif dan adil, bahkan ia adalah seorang ulama yang hafal Al-Quran. Didalam pemerintahannya, Sultan Mahmud Badaruddin I banyak mengadakan musyawarah terutama dengan para habib, iapun memiliki guru-guru agama dari kalangan habaib. Bahkan hampir semua putrinya dinikahkan dengan habaib. Adapun Imam Kubur - istilah untuk penasehat agama kesultanan yang biasanya dimakamkan bersebelahan dengan para sultan - dari Sultan Mahmud Badaruddin I yaitu Al-Arif Billah AlHaul & Ziarah Kubra Ulama & Auliya Palembang Darussalam

Habib Abdullah bin Idrus Al-Idrus. Habaib lainnya yang dimakamkan di Pemakaman Kawah Tengkurep ini antara lain Al-Arif Billah AlHabib Abdurrahman bin Husin Al-Idrus (Maula Taqooh) yang merupakan Imam Kubur Sultan Ahmad Najamuddin (1758-1776 M), Al-Arif Billah Al-Habib Muhammad bin Ali Al-Haddad (Datuk Murni) yang merupakan Imam Kubur Sultan Muhammad Bahauddin (17761803 M), Al-Arif Billah Al-Habib Muhammad bin Yusuf Al-Angkawi dan Al-Arif Billah Al-Habib Agil bin Alwi Al-Madihij (Penghulu AlMadihij di Palembang) Selain itu disini juga dimakamkan seorang waliyah bernama Hababah Sidah binti Abdullah bin Agil Al-Madihij. Dikisahkan bahwa ia pernah bertemu dengan Rasulullah SAW secara yaqozoh (dalam keadaan sadar) dengan iringan tetabuhan rebana dan aroma harum wewangian, sehingga seluruh perkampungan disekitar rumahnya pun dapat mendengar suara tabuhan rebana tersebut. Hingga kini rumah tempat tinggalnya masih ada dan terawat dengan baik. Setelah melakukan perjalanan ke kedua pemakaman tersebut, rute ziarah pun berakhir di Pemakaman Habaib Kambang Koci yang terletak bersebelahan dengan Pemakaman Kawah Tengkurep. Konon, pada tahun 1151 H / 1735 M, Sultan Mahmud Badaruddin I Ziarah di Pemakaman Auliya dan Habaib Kambang Koci mewakafkan sebidang tanah yang cukup luas untuk pemakaman anak cucu serta menantunya. Tanah pemakaman tersebut dinamakan Kambang Koci yang berasal dari kata-kata kambang (kolam) dan sekoci (perahu), karena jauh sebelumnya tempat itu merupakan tempat pencucian perahu. Dalam sejarahnya, areal pemakaman ini telah beberapa kali berusaha direbut oleh pihak-pihak yang merasa berkepentingan. Bermula pada masa pendudukan Belanda sekitar tahun 1913 M, melihat posisinya yang begitu strategis terletak di tepi Sungai Musi, di
Haul & Ziarah Kubra Ulama & Auliya Palembang Darussalam

BUKU PANDUAN TAMU

19

20

BUKU PANDUAN TAMU

kawasan ini dibangun Pelabuhan Boom Baru, dan berselang 11 tahun kemudian, Pihak Belanda berusaha mengambil areal pemakaman ini, namun pihak ahli waris mempertahankannya sehingga sampailah pada suatu pengadilan di Batavia (sekarang Jakarta) dengan dimenangkan oleh pihak ahli waris. Demikian pula pada masa penjajahan Jepang serta masa kemerdekaan, upaya-upaya perebutan areal pemakaman tersebut masih terjadi namun tetap tidak berhasil. Mengenai makam-makam di Kambang Koci, hampir keseluruhan keturunan Alawiyyin yang tinggal di Palembang memiliki silsilah bersambung dengan para habaib yang dimakamkan di pemakaman ini, paling tidak silsilah dari sebelah ibu. Beberapa penghulu habaib yang dimakamkan disini antara lain Al-Arif Billah Al-Habib Syech bin Ahmad bin Syahab yang merupakan ulama besar pada masanya dan dikarenakan kedekatannya dengan Sultan Mahmud Badaruddin I, ia dianugerahi tanah yang sangat luas oleh Sultan dari daerah Kuto sampai Kenten, yang antara lain ia wakafkan sebagai tanah pemakaman kaum alawiyyin Palembang serta tanah wakaf masjid Daarul Muttaqien. Al-Arif Billah Al-Habib Ibrahim bin Zein bin Yahya (w.1790 M), merupakan seorang ulama besar yang memahami banyak masalah Ilmu Fiqh, beliau adalah menantu Sultan Mahmud Badaruddin I yang beristerikan Raden Ayu Aisyah binti Sultan Mahmud Badaruddin I. Al-Arif Billah Al-Habib Alwi bin Ahmad Al-Kaaf yang dikenal sebagai seorang wali Quthb, diceritakan bahwa pernah suatu kali saat ayahnya melakukan pelayaran ke Singapura dengan sebuah kapal. Di dalam perjalanan, kapal tersebut mengalami kebocoran pada lambungnya, ketika akan diperbaiki ternyata kapal tersebut telah ditambal dari luar kapal dan setelah diperiksa ternyata didapati sebuah sandal yang menutup rapat kebocoran tersebut. Setelah sandal tersebut diambil dan dihadapkan kepada Habib Ahmad, maka beliau mengenali sandal tersebut adalah milik anaknya, Habib Alwi. Setibanya kembali di Palembang didapati Habib Alwi tengah menunggu ayahnya dengan mengenakan sebelah sandal seraya meminta sandal yang satunya lagi dari ayahnya yang digunakan untuk menambal kapal tersebut. Masih banyak lagi keramat dari Habib Alwi ini, bahkan tatkala ia wafat, maka datanglah surat dari Kampung Al-Hajrain, Hadhramaut (setelah 6 bulan perjalanan laut dari Hadhramaut ke Palembang) yang isinya menanyakan siapakah wali di Palembang yang wafat sehingga di Kota Tarim, Hadhramaut terjadi gempa.
Haul & Ziarah Kubra Ulama & Auliya Palembang Darussalam

Selain itu, di pemakaman ini juga dimakamkan Habib Abdullah bin Salim Al-Kaaf yang merupakan seorang ulama besar sekaligus pengusaha yang sukses. Beliaulah yang membangun Masjid Sungai Lumpur pada tahun 1287 H yang Masjid Sungai Lumpur berlokasi di 11 Ulu Palembang, dan Habib Abdullah bin Ali Al-Kaaf yang merupakan seorang wali yang mastur (tersembunyi). Adapun keturunannya banyak yang menjadi orang sholeh dan ulama besar yang tersebar di Tegal, Jakarta, Jeddah, dan Hadhramaut. Antara lain Habib Abdurrahman bin Ahmad AlKaaf, Jeddah dan Habib Abdullah bin Ahmad Al-Kaaf, Jakarta dengan anak-anaknya yang menjadi muballighin. Banyaknya para wali yang dimakamkan disini membuat para peziarah selalu menyempatkan diri untuk berziarah ke pemakaman ini, baik dari kalangan awam maupun tokoh habaib. Tercatat sebagian kecil diantaranya, yaitu Habib Muhammad bin Ahmad AlMuhdor (Bondowoso), Habib Muhammad bin Husin Al-Idrus (Surabaya), Habib Salim bin Ahmad bin Jindan (Jakarta), Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Kwitang), Habib Ali bin Husin Al-Atthos (Bungur), Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid (Tanggul), Habib Abdul Qodir bin Ahmad Assegaf (Jeddah), Habib Umar bin Hafizh BSA, Habib Ali Zainal Abidin Al-Jufri dan Habib Musa AlKazhim bin Jafar As-Seggaf (Hadhramaut-Yaman). Pernah suatu ketika dalam ziarahnya, Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid (Tanggul) diberitahu bahwasanya pemakaman ini akan dibongkar, mendengar hal itu ia hening sesaat dan berkata bahwa pembongkaran tidak akan terjadi, dikarenakan Allah SWT yang akan selalu menjaganya, dan hal ini benar-benar terbukti. Sebagai contoh tatkala ada usaha untuk memindahkan jenazah dari pemakaman ini ke pemakaman lain dalam usaha mengambil alih areal pemakaman pada tanggal 19 Desember 1997, setelah peti-peti jenazah yang berjumlah lebih kurang 104 buah (dihitung

Haul & Ziarah Kubra Ulama & Auliya Palembang Darussalam

BUKU PANDUAN TAMU

21

22

BUKU PANDUAN TAMU

berdasarkan jumlah nisan yang nampak) disiapkan di Kambang Koci untuk memindahkan makam yang ada, didapatlah kabar mengenai jatuhnya pesawat Boeing 737-300 Silk Air dari Singapura di Muara Makati, Perairan Sungsang, Sumatera Selatan yang menewaskan seluruh penumpang dan awak pesawat. Dan yang mengherankan jumlah korban tewas yang dipastikan sebanyak peti yang disiapkan, yang terdiri dari 104 penumpang termasuk 7 awak. Mengingat keperluan yang lebih mendesak akhirnya peti-peti yang telah disiapkan tersebut tidak jadi digunakan, dan lahan pekuburan yang telah disediakan bagi jenazah Kambang Koci diisi dengan jenazah korban tewas dalam kecelakaan pesawat tersebut. Mengingat banyaknya para wali yang dimakamkan di Pemakaman Kambang Koci serta di beberapa pemakaman lainnya di kota Palembang, maka banyak dari pemuka habaib dari Hadhramaut menyebut Kambang Koci sebagai Zanbal (pemakaman para wali di Kota Tarim, Hadhramaut)-nya Palembang. Dan Kota Palembang sendiri sebagai Hadramaut Tsani alias Hadramaut Kedua. DENAH LOKASI PEMAKAMAN DAN RUTE PERJALANAN ZIARAH KUBRA

RANGKAIAN DAN JADWAL ACARA ZIARAH KUBRA ULAMA DAN AULIYA PALEMBANG DARUSSALAM
Rute Jam 08.30 | 09.00 Tempat Menuju Makam Al-Habib Pangeran Syarif Ali bin Syeikh Abubakar Makam Al-Habib Pangeran Syarif Ali bin Syeikh Abubakar Menuju Makam Kawah Tengkurep Acara

Arak - Arakan

1 2

09.00 | 09.45 09.45 | 10.15 10.15 | 11.00 11.00 | 11.30

Salam Ziarah, Ziarah Mukhtasor dan Doa serta Pembacaan Qosidah Shofat Li

Arak - Arakan

Pemakaman Kawah Tengkurep

Salam Ziarah, Ziarah Mukhtasor dan Doa serta Ziarah-ziarah Singkat

Rumah Al-Habib Abdurrahman bin Hamid

Masjid Lawang Kidul

SUNGAI BAYAS

Menuju Makam Auliya Kambang Koci

Arak - Arakan

PEMAKAMAN KAWAH TENGKUREP

1
Jembatan Pasar Kuto

Pelabuhan Boom Baru


Jembatan

Gedung Baalawi

3
Arah Perintis Kemerdekaan

4
MAKAM AULIYA KAMBANG KOCI

Jl. Dr. M. Isa

3
11.30 Selesai Makam Auliya Kambang Koci

MAKAM PANGERAN SYARIF ALI

Salam Ziarah, Yaasiin, Tahlil dan Doa, Qosidah, Qiroah Quran, Kata Sambutan dari Ketua Yayasan Kambang Koci dan Ketua Rabithah Alawiyah Cab.Palembang, Mauizhoh Hasanah, Talqinuz Zikir dan Doa Penutup.

Rumah Sakit Pelabuhan

Arah Lemabang

Haul & Ziarah Kubra Ulama & Auliya Palembang Darussalam

Haul & Ziarah Kubra Ulama & Auliya Palembang Darussalam

BUKU PANDUAN TAMU

23

24

BUKU PANDUAN TAMU

Hari Waktu

: Ahad / Minggu Sore : Bada Ashar s/d Selesai Dermaga Benteng Kuto Besak (BKB) Pulau Kemaro Makam dan Masjid Jami Kyai Muara Ogan

Tanggal : 21 Syaban 1434 H / 30 Juni 2013 M Tempat : -

Dari summary (kesimpulan) yang disimpulkan oleh Dr. M. O. Woelders dalam bukunya itu, dia mengatakan bahwa ahli-ahli sejarah barat banyak sekali memberikan besar pada masa ini (18111825), di dalamnya politik kolonial Belanda dan Inggris memainkan peranan penting. Sumber-sumber sejarah tentang Kesultanan Palembang periode 1811-1825 itu diambil oleh Dr. M. O. Woelders dari bermacam sumber, antara lain dari Teks KI 4 (hal. 69) tertulis dalam bahasa Melayu (Indonesia), Teks UBL 7 pada halaman pertama bertuliskan dengan aksara Arab berbahasa Melayu, dan banyak sumber-sumber lainnya dari sejarawan Belanda, Inggris, Portugis dan lain-lainnya. Secara singkat kita ambil sekilas dari peristiwa dalam tahun 1819 1821 s/d 1825 : Dalam tahun 1819 itu pihak Belanda dua kali mengadakan penyerangan untuk merebut Kota Palembang. Di bidang sistem pertahanan sejak tahun 1819 sampai Pulau Kemaro dengan tahun 1821 sangatlah mengagumkan pihak musuh (Belanda). Hal ini diakui oleh pihak Belanda waktu Edelheer Muntinghe (Idelir Menteng) menyerang benteng-benteng pertahanan di Pulau Kemaro dan Tambak Bayo di Plaju pada tahun 1819 dan 1821, yang menyebabkan mereka sampai beberapa kali gagal mencapai Benteng Kuto Besak. Di Pulau Kemaro ada 19 pucuk meriam dan Tambak Bayo Plaju 19 pucuk meriam, kemudian di atas rakit yang menutup rapat-rapat selat antara Pulau Kemaro dan Plaju itu terdapat 16 pucuk meriam, sehingga berjumlah 126 pucuk meriam (lihat gambar peta Plan van de Batteryen en Ligging der Schepen op de 24 Juni 1821). Idelir Menteng dua kali mengalami kekalahan pada tahun 1819, yaitu pada tanggal 15 Juni 1819. Kemudian dengan pasukan yang lebih kuat dan besar, Belanda kembali lagi menyerang untuk merebut Kota Palembang di bawah pimpinan Jenderal Schobert dengan dibantu oleh Laksamana Wolterbeek, dan Idelir Menteng ikut serta di bulan September 1819.
Haul & Ziarah Kubra Ulama & Auliya Palembang Darussalam

Dalam 4 (tiga) tahun belakangan, termasuk dalam rangkaian acara Ziarah Kubra, adalah wisata air dan perjalanan bahari menyusuri Sungai Musi serta singgah dan berziarah ke Pulau Kemaro, sebuah pulau yang menjadi saksi bisu sejarah perjuangan Kesultanan Palembang Darussalam melawan penjajah Belanda. Wong (orang) Palembang pada umumnya mengenal Pulau Kemaro hanya dengan adanya perayaan Cap Go Meh, setiap tanggal 15 tahun baru Cina Imlek. Padahal seharusnya juga diketahui, digali Wisata Bahari dan Ziarah Kaum serta dikaji kembali Muslimin di Pulau Kemaro peranan sejarah Pulau Kemaro pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin II yang didasarkan faktafakta sejarah yang diakui sendiri oleh pihak Belanda. Buktinya faktafakta tersebut dapat ditemukan di buku sejarah karangan seorang sarjana Belanda yang bernama Dr. M. O. Woelders yang berjudul Het Sultaanat Palembang 1811 1825.

Haul & Ziarah Kubra Ulama & Auliya Palembang Darussalam

BUKU PANDUAN TAMU

25

26

BUKU PANDUAN TAMU

Maka pertempuran meletus lagi tanggal 18 Oktober 1819, di luar dugaan Belanda Benteng Tambak Bayo Plaju menembaki kapalkapal perang mereka dengan gencarnya, sehingga keadaan menjadi kacau balau. Tidak diduga oleh Belanda, tiap benteng dengan tiada henti-hentinya memuntahkan peluru-pelurunya ke arah kapal-kapal mereka. Sebuah peluru dari Tambak Bayo Plaju tepat jatuh di kapal perang Belanda dan meledak begitu hebatnya, patah mematah tiang-tiangnya dan berlobang-lobanglah dinding kapal itu. Pertempuran ini dimenangkan lagi oleh Palembang. Kemudian Belanda mundur kembali ke Batavia, dan mengadakan Sidang Perang (Kriygsraad). Setelah dua tahun kemudian, baru pihak Belanda berani mengadakan serangan lagi di bawah pimpinan Jenderal Mayor Hendrik Marcus Baron de Kock yang membawa serta sebuah armada yang luar biasa besar dan lengkap berjumlah 35 buah kapal, terdiri dari jenis fregat, halk, korvet, kapal-kapal pencabut cerucup, kapalkapal meriam, schoener, brik, kapal-kapal pendarat, kapal-kapal pengangkut dan juga kapal rumah sakit. Dan juga mereka telah menggunakan peluru granat (gurnat) yang dapat meledak. Dan dengan perlengkapan yang sangat matang dan besar ini serta kerjasama angkatan darat dan lautnya, maka pertahanan Kota Palembang dapat ditembus oleh Belanda. Tetapi itu dengan susah payah terlebih dulu, di hadapan Pulau Kemaro mereka tertahan selama 5 (lima) hari, 20 s/d 24 Juni 1821, hingga pada 27 Juni 1821 mereka baru berhasil sampai di hadapan Kuto Besak (lihat peta).

Sebelum itu pada tanggal 16 Juni 1821, kapal perang Nassau telah terkena tembakan dari pertahanan Pulau Kemaro dan Mangun Tapo. Dua buah kapal langboot berlapis tembaga berikut meriam-meriamnya berhasil dirampas, sebuah diantaranya berhasil dinaikkan ke daratan Pulau Kemaro, lalu diberi nama Sri Betawi. Kapal Nassau patah tiangnya, terkena peluru meriam Palembang, sehingga akhirnya mereka mundur. Dan kemudian secara serentak mereka mengerahkan seluruh armadanya pada tanggal 20, 24 dan 27 Juni 1821, mereka baru berhasil menerobos menuju Kuto Besak. Demikianlah sekilas sejarah peranan Pulau Kemaro, selayaknya dan alangkah baiknya di Pulau Kemaro dibangun sebuah monumen tugu peringatan Perjuangan Sultan Mahmud Badaruddin II, sebagai seorang Pahlawan Nasional untuk wong Palembang. MAKAM-MAKAM DI PULAU KEMARO Tentang adanya makam-makam yang berada di Pulau Kemaro itu perlu diperhatikan kembali, siapa-siapakah yang sebenarnya dikuburkan di sana itu ? Menurut cerita orang-orang tua di Palembang, bahwa yang dimakamkan di Pulau Kemaro itu adalah seorang ulama Arab yang bernama Ahmad bin Muhammad Alaydrus yang tercantum namanya di batu nisannya dan banyak orang yang Makam Kaum Muslimin telah menyaksikan akan kebenaran fakta ini. Dan di sebelah beliau itu adalah makam seorang wanita yang bernama Fatimah, kemudian ada lagi satu makam seseorang yang belum diketahui identitasnya. Namun jelas itu adalah makam seorang Muslim, terlihat dari bentuk makam yang mempunyai dua nisannya. Dan pula sejak dari dulu kala penjaga makam-makam tersebut adalah seorang muslim penduduk Palembang Lamo yang tinggal berdekatan dengan Pulau Kemaro tersebut.

Haul & Ziarah Kubra Ulama & Auliya Palembang Darussalam

Haul & Ziarah Kubra Ulama & Auliya Palembang Darussalam

BUKU PANDUAN TAMU

27

28
BERZIARAH KE MAKAM DAN MASJID KYAI MASAGUS ABDUL HAMID BIN MAHMUD (MUARA OGAN)

BUKU PANDUAN TAMU

Dan pada masa sekarang ini, hal tersebut dapat ditanyakan langsung kepada juru kunci makam-makam tersebut yang telah digantikan dengan juru kunci dari golongan etnis Cina dan makam-makam tersebut telah berada dalam sebuah kelenteng Bangunan Kelenteng Tanda-tanda tulisan Arab di makam-makam tersebut telah diganti dengan tulisan Latin yang tak dapat diketahui makna-maknanya. Apakah ini bukan sebuah manipulasi yang hendak menghapuskan originalitas atau keaslian makam-makam tersebut ? Maka perlu sekali untuk direstorasi keaslian dari makammakam tersebut dengan cara melibatkan pejabat-pejabat pemerintah, ahli arkeologi, para zurriyat yang dimakamkan tersebut dan juga dari zurriyat Sultan Mahmud Badaruddin II, dan semua kaum muslimin Kota Palembang yang berminat untuk meluruskan dan merestorasikan keaslian para almarhum di makam-makam tersebut. Maka marilah kita beramai-ramai melakukan hal tersebut sebagai peninggalan hak warisan kita yang benar, dan dapat menghapuskan manipulasi-manipulasi dalam sejarah Kota Palembang Lamo.
Sumber : o Peranan Sejarah Pulau Kemaro Pada Masa Pemerintahan Kesultanan Mahmud Badaruddin II, Habib Zen Muhsin BSA (sejarawan Kota Palembang), 2007.

Setelah mengunjungi Pulau Kemaro, perjalanan bahari dilanjutkan dengan berziarah ke Makam dan Masjid Muara Ogan di daerah Kertapati Palembang. Kyai Merogan (Muara Ogan) adalah seorang Masjid Muara Ogan tokoh ulama dan auliya yang berjasa besar di Kota Palembang. Berikut sekelumit riwayat hidup Kyai Merogan : Kyai Merogan, nama aslinya adalah Kyai Masagus Haji Abdul Hamid bin Masagus Haji Mahmud alias Kanang. Menurut sejarah beliau lahir di fajar hari tahun 1227 H bersamaan dengan tahun 1811 M. Beliau lahir di Kampung Karang Berahi (sekarang kelurahan Kertapati). Oleh karena beliau berdomisili di tepi sungai Musi di pertemuan antara Sungai Ogan dan Sungai Musi, tepatnya di muara Sungai Ogan beliau lebih dikenal dengna sebutan Kyai Muara Ogan atau Kiai Marogan atau Kiai Merogan. Ayah Kiai Merogan juga seorang ulama, merupakan salah seorang murid dari Syeikh Abdus Shomad Al-Falembani, sedangkan ibunya bernama Verawati seorang wanita Siam. Pada masa kanak-kanak, beliau mendapat pendidikan langsung dari ayahnya. Kemudian pada usia lebih kurang 9 (sembilan) tahun beliau ikut ayahnya menunaikan ibadah haji ke Mekkah, namun pada waktu perjalanan pulang dengan menumpang kapal laut, ayahandanya jatuh sakit dan meninggal dunia pada waktu melewati Laut Aden Yaman Selatan. Menurut kisah pada waktu meninggalnya ayah beliau, kapal yang ditumpanginya tidak mau bergerak. Akhirnya, setelah jenazah ayahnya dimakamkan di daratan yaitu di Gubah Al-Jawi, Aden Yaman Selatan, barulah kapal tersebut dapat meneruskan perjalanan pulang ke Indonesia.

Dimana Makam Fatimah ?

Haul & Ziarah Kubra Ulama & Auliya Palembang Darussalam

Haul & Ziarah Kubra Ulama & Auliya Palembang Darussalam

BUKU PANDUAN TAMU

29

30

BUKU PANDUAN TAMU

Kyai Muara Ogan dimasa mudanya sangat giat berusaha dan belajar agama Islam. Beliau giat berusaha di bidang perkayuan, sehingga dalam usia yang relatif muda beliau telah terkenal sebagai tauke (saudagar) kayu disamping juga seorang ulama. Dari hasil usaha bisnis perkayuan inilah beliau dapat mendirikan dan mengarsiteki sendiri beberapa masjid, terutama Masjid Muara Ogan dan Masjid Lawang Kidul dengan dana pribadi seratus persen, dan kedua masjid ini dapat kita saksikan sampai sekarang.

Sesampainya di rumah, untuk meyakinkan ceritanya mengenai kejadian tersebut, ia memakan salah satu dari buah yang dibawanya tadi. Namun ternyata buah tersebut rasanya menjadi seperti sediakala, pahit dan memabukkan, sehingga membuatnya jatuh sakit. Sampailah kabar ini ke Kyai Merogan, lalu beliau menjenguknya. Setelah diminumkan segelas air putih oleh beliau, muridnya tersebut langsung sembuh. Dinyatakan oleh beliau bahwa buah tersebut hanya dapat dimakan apabila dalam keadaan darurat seperti yang telah dialami oleh mereka. Masih banyak kisah kekeramatan beliau yang hingga kini masih sering diceritakan dari mulut ke mulut, diantaranya bahwa beliau bisa berjalan diatas air, menghidupkan kembali ikan-ikan yang hendak dijual, mengangkat balok sokoguru masjid dengan sebelah tangan, sayur-mayur menjadi emas dan menahan perahu agar tidak karam. Juga kisah mengenai dimana ada air disitu ada ikan, yang beliau buktikan bahwasanya didalam buah kelapa pun jika Allah mengizinkan pasti ada ikannya. Setelah 90 tahun berjuang dalam dakwah, beliau berpulang ke rahmatullah pada tanggal 31 Oktober 1901 M / 17 Rajab 1319 H dan dimakamkan di lingkungan Masjid Muara Ogan bersama keluarga dan kerabat beliau. Silsilah nasab beliau dan jubah yang pernah dikenakannya tersimpan rapi di sebuah pemondokan di Arab Saudi. Dan juga hingga kini, jika ada jenazah yang diantarkan ke kuburan, selalu diiringi dengan kalimat Laa Ilaaha Illallahul Malikul Haqqul Mubiin, Muhammadur Rasuulullah Shodiqul Wadul Amiin yang merupakan kalimat zikir yang dipopulerkan oleh Kyai Merogan dikalangan masyarakat Palembang. Zikir tersebut selalu dibawakan oleh Kyai Merogan dan murid-muridnya diatas perahu dalam perjalanan diantara kedua masjid yang dibangunnya.
Sumber : o Sejarah Singkat Kiai Muara Ogan, H. Mgs. Memet Ahmad, SE., 2007.
Haul & Ziarah Kubra Ulama & Auliya Palembang Darussalam Makam Kyai Merogan

Masjid Lawang Kidul

Dalam hal pendidikan, selain dari ayahnya, Kiai Merogan juga menuntut ilmu dari Pangeran Suryo Alim, Syeikh Muhammad Akib bin Hasanuddin, Syeikh Muhammad Azhari bin Abdullah, Syeikh Sambas Mufti Masjidil Haram di Mekkah, dan lain-lain. Dalam hal perjuangan telah diakui oleh banyak kalangan, tidak saja dari masyarakat Kota Palembang tetapi juga luar kota Palembang mengakui eksistensi perjuangan beliau seperti masyarakat Pemulutan, Pedu, Jejawi, Batun, Lingkis sampai ke hulu sungai Rotan, dan lain-lain umumnya masyarakat Batang Hari Sembilan. Selain mengajarkan agama Islam, beliau juga mendirikan dan memperbaiki masjid-masjid di tempat beliau berdakwah, seperti di dusun Pedu, Pemulutan Ulu, Ogan Komering Ilir dan sebagainya. Kemasyhuran Kyai Merogan juga tidak terlepas dari kisah-kisah kekeramatan yang terjadi pada diri beliau. Dikisahkan bahwa suatu ketika beliau berdakwah ke daerah Sungai Rotan yang biasa dilakukan bersama murid-muridnya. Keterbatasan perbekalan yang dibawa, memaksa mereka untuk mencari makanan dalam perjalanan, setelah sekian lama akhirnya yang didapatkan hanyalah buah simalakama, lalu Kyai Merogan memerintahkan kepada murid-muridnya untuk memakan buah tersebut. Anehnya, buah simalakama yang terkenal dengan rasanya yang pahit dan memabukkan berubah menjadi manis dan lezat. Hal ini mendorong salah seorang muridnya untuk membawa beberapa buah simalakama untuk dicicipkan kepada keluarganya.
Haul & Ziarah Kubra Ulama & Auliya Palembang Darussalam

BUKU PANDUAN TAMU

31

RANGKAIAN DAN JADWAL ACARA WISATA BAHARI


Acara Jam Bada Ashar | 16.00 WIB Tempat Kegiatan

Dermaga BKB (Benteng Kuto Besak)

Menghimpun jemaah ziarah

WISATA BAHARI

Pulau Kemaro 16.00 WIB Memulai perjalanan | Selesai

Ziarah Singkat

Makam dan Masjid Kyai Muara Ogan

Shalat Maghrib Berjamaah dan Berziarah ke Shohibul Maqom

PETA PERJALANAN WISATA BAHARI

Haul & Ziarah Kubra Ulama & Auliya Palembang Darussalam