Anda di halaman 1dari 7

1. Analisis bilangan hidroksil poliol (Budi F.S.

2001) Bilangan hidroksil didefiniskan sebagai jumlah miligram KOH yang ekivalen terhadap kandungan hidroksil sampel berdasarkan pada berat minyak atau lemak yang tidak terasetilasi. Bahan yang digunakan: asam asetat anhidrid, larutan NaOH, sampel poliol, aquades, indikator PP. Alat yang digunakan : erlenmeyer 500 mL, tabung reaksi dengan tutup segelnya, bekerglass 250 mL, buret 50 mL, pendingin balik, hot plate, pipet ukur 5 mL, neraca dan oven. Sampel poliol sebanyak 2,8 3,2 g dimasukkan kedalam tabung reaksi kemudian ditambahkan dengan 1 - 1,2 g / 0,9 1,1 mL asam asetat anhidrid. Tabung reaksi ditutup dengan rapat (disegel) dan dikocok sampai rata. Campuran dipanaskan 2 jam pada posisi vertikal dalam oven pada suhu 150 5oC kemudian didinginkan. Campuran yang diperoleh dituangkan ke dalam erlenmeyer 500 mL yang berisi 50 mL air. Tabung dan tutup dibilas dengan air panas dan kemudian dengan air dingin sampai volume 200 mL. Campuran dididihkan dibawah pendingin balik, didinginkan dan pendingin balik dibilas. Campuran yang telah dingin dititrasi dengan larutan NaOH 0,5 N dan indicator PP 10 tetes. Standarisasi dilakukan dengan mellakukan run blank pada asam asetat anhidrid (prosedur sama tetapi tidak menggunakan poliol dan pemanasan). Jika sampel mengandung asam lemak bebas harus dilakukan koreksi. Bilangan OH- = (V1-V2) x N2 x 56,1 /W + V3 x N3 x 56,1/B Keterangan: W = berat sampel untuk asetilasi (g) B = berat sampel untuk titrasi keasaman sampel (g) V1= volume NaOH untuk titrasi blangko (mL) V2= volume NaOH untuk titrasi sampel terasetilasi (mL) V3= volume KOH untuk titrasi keasaman sampel (mL). N2= normalitas larutan NaOH N3= normalitas larutan KOH.

2. Analisis bilangan Iodin Sampel ditimbang sebanyak 0,5 g, kemudian dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer 250 mL bertutup asah. CCl4 sebanyak 10 mL ditambahkan dengan menggunakan gelas ukur untuk melarutkan lemak, kemudian sebanyak 25 mL larutan Hanus ditambahkan ke dalamnya, setelah itu larutan disimpan selama 1 jam dalam ruang gelap. Setelah 1 jam, larutan tersebut ditambahkan 10 mL KI 10% dan erlenmeyer segera ditutup. Dikocok sebentar, kemudian dititrasi menggunakan larutan NaS2O3 0,1 N sampai larutan berwarna kuning muda, lalu ditambahkan amilum 1% sebagai indikator. Titrasi dihentikan pada saat larutan berubah dari warna biru menjadi tidak berwarna. Bilangan Iodin dinyatakan sebagai gram iod yang diserap per 100 g. Pembuatan larutan Hanus. Sebanyak 13,2 g iodium murni dilarutkan dalam 1 liter asam asetat glasial sambil dipanaskan sehingga iodium melarut sempurna (lakukan dengan hati-hati di ruang asam). Larutan yang terjadi dibiarkan sampai dingin, dan setelah itu ditambahkan 3 mL brom sehingga larutan berwarna kelabu tua. Larutan disimpan dalam botol berwarna gelap dan ditutup rapat. Bilangan iod dihitung sebagai berikut: dengan:

T = normalitas larutan standar Na2S2O3 0,1 N V3= volume larutan Na2S2O3 0,1 N yang diperlukan untuk mentitrasi larutan bangko (mL). V4= volume larutan Na2S2O3 0,1 N yang diperlukan untuk mentitrasi larutan sampel (mL). M = bobot sampel (g)

Bilangan Iodium (BI) Bilangan iodium mencerminkan ketidakjenuhan asam lemak penyusun minyak dan lemak. Asam lemak tak jenuh mampu mengikat iod dan membentuk senyawaan yang jenuh.Banyaknya iod yang diikat menunjukkan banyaknya ikatan rangkap. Lemak yang tidak jenuhdengan mudah dapat bersatu dengan iodium (dua atom iodium ditambahkan pada setiap ikatanrangkap dalam lemak). Semakin banyak iodium yang digunakan semakin tinggi derajatketidakjenuhan. Biasanya semakin tinggi titik cair semakin rendah kadar asam lemak tidak jenuhdan demikian pula derajat ketidakjenuhan (bilangan iodium) dari lemak bersangkutan. Asamlemak jenuh biasanya padat dan asam lemak tidak jenuh adalah cair; karenanya semakin tinggibilangan iodium semakin tidak jenuh dan semakin lunak lemak tersebut.Bilangan iodium dinyatakan sebagai banyaknya gram iod yang diikat oleh 100 gramminyak atau lemak. Penentuan Bilangan iodium dapat dilakukan dengan cara Hanus atau caraKaufmaun dan cara Von Hubl atau cara Wijs (Sudarmadji dkk, 1997). Pada cara Hanus, larutaniod standarnya dibuat dalam asam asetat pekat (glasial) yang berisi bukan saja iod tetapi jugaiodium bromida. Adanya iodium bromida dapat mempercepat reaksi. Sedang cara Wijsmenggunakan larutan iod dalam asam asetat pekat, tetapi mengandung iodium klorida sebagaipemicu reaksi (Winarno, 1997).Pada percobaan kali ini, penentuan bilangan iodium dilakukan dengan cara Hanus.Pereaksi iodomonobromida bereaksi dengan ikatan olefenik.

Pereaksi iodomonobromida ditambahkan ke dalam sampel yang dilarutkan dalamkloroform menggunakan buret. Campuran dikocok, kemudian disimpan dalam wadah tertutuprapat, dan terhindar dari cahaya (di tempat gelap). KI dan iodium yang telah dibebaskan ,ditambahkan ke dalam campuran, dan kemudian campuran dititrasi dengan natrium tiosulfat0,1N menggunakan indikator kanji. Kemudian dilakukan titrasi blangko. Bilangan iodium dihitung dengan rumus:

3.3.6.1 Analisis Bilangan Iodin Analisis ini dilakukan terhadap metil ester asam lemak dari minyak jarak dan 9,10,12-trihidroksi metil stearat campuran. Ditimbang sampel sebanyak 0,5 gram ke dalam gelas erlenmeyer 250 mL yang bertutup lalu ditambahkan 20 mL sikloheksana kemudian dikocok/diguncang untuk memastikan sampel telah benar-benar larut. Ditambahkan 25 mL larutan Wijs ke dalamnya kemudian ditutup dan dikocok agar campuran telah benar-benar bercampur dan disimpan tabung tersebut dalam ruang gelap selama 30 menit. Diambil bahan tersebut dari tempat penyimpanan dan ditambahkan 20 mL larutan KI 15%, dan 150 mL air suling. Dititrasi dengan larutan Na2S2O3 0,1 N sampai warna kuning hampir hilang (kuning pucat). Ditambahkan 1-2 mL indikator pati ke dalamnya dan dititrasi kembali sampai warna biru hilang. Dilakukan hal yang sama terhadap larutan blanko dan dihitung dengan :

Keterangan:

B = Volume Blanko (mL) S = Volume Sampel (mL) N = Normalitas Na2S2O3

11. Bilangan Iod Bilangan iod adalah bilangan yang menunjukkan gram Iod yang dapat diikat oleh 100 gram minyak atau lemak. Iod akan mengadisi ikatan rangkap pada asam lemak. Bilangan iod menunjukkan tingkat ketidakjenuhan asam lemak penyusun minyak atau lemak. Banyaknya iod yang terikat menunjukkan banyaknya ikatan rangkap. Kecepatan reaksi antara asam lemak tidak jenuh dengan halogen tergantung pada macam halogen dan struktur dari asam lemak. (I 2 > Br2 > F2 > Cl2 ). Penetapan bilangan iod ini dapat dilakukan dengan tiga cara (prinsip kerjanya sama), yaitu :

Cara Hanus Larutan I2 standarnya digunakan IBr dalam asam asetat glasial (20 g IBr dilarutkan dalam 1 l alkohol murni bebas asam asetat). Adanya iodium bromida ini dapat mempercepat reaksi. Jumlah sampel yang ditimbang berdasarkan perkiraan besarnya bilangan iod dalam sampel minyak. Cara Wijs Menggunakan larutan I2 dalam asam asetat glasial dan mengandung Icl sebagai pemacu reaksi (16 g ICl dalam 1 l asam asetat glasial atau 13 g I2 dalam 1 l as. asetat glasial lalu dialirkan gas Cl2 sampai terlihat perubahan warna). Larutan ini sangat peka terhadap cahaya, panas, serta udara, sehingga harus dissimpan di tempat gelap, sejuk, dan tertutup rapat. Cara Kaufmann dan Von Hubl Pereaksi Kaufmann yang terdiri dari camp. 5,2 ml larutan Br2 murni dalam 1 l metanol dan dijenuhkan dengan NaBr. Reaksi dilakukan di tempat gelap. Pereaksi Von Hubl terdiri dari larutan 25 g I2 dalam 500 ml etanol dan larutan 30 g HgCl2 dalam 500 ml etanol. Pereaksi ini umur simpannya tidak lebih dari 48 jam. Pereaksi ini mempunyai reaktivitas yang lebih kecil dibandingkan dengan metode-metode lainnya, sehingga membutuhkan waktu reaksi 12-14 jam.

3. Metode ketiga
Bilangan hidroksi adalah suatu bilangan pembanding yang digunakan untuk mengkarakterisasi suatu senyawa poliol. Senyawa poliol adalah senyawa yang mengandung banyak gugus hidroksida. Asam lemak dapat termasuk kategori poliol apabila memiliki banyak gugus hidroksi pada rantai sampingnya.Bilangan hidroksi dinyatakan sebagai jumlah KOH dalam mg yang diperlukan untuk menetralkan sejumlah ekivalen asam asetat yang digunakan untuk asetilasi satu gram sampel . Metode analisis yang biasa digunakan dalam hal ini adalah titrasi asam basa. Prosedur: Untuk menentukan bilangan hidroksi suatu sampel asam lemak diperlukan reagen asam asetat anhidrida. Sebanyak 30 mL asam asetat anhidrida dilarutkan dalam 350 mL larutan piridin. Asetilasi gugus hidroksi dilakukan dengan mereaksikan 2 mL sampel ke dalam 4 mL larutan asam asetat anhidrida. Reaksi dilakukan selama 2 jam pada temperatur 90 C. Setelah 2 jam reaksi, larutan kemudian ditambahkanaqua dm sebanyak 4 mL pada temperatur ruangan. Penentuan bilangan hidroksi dapat dilakukan dengan mentitrasi larutan hasil reaksi yang sudah diencerkan tersebut dengan larutan KOH 1N.
o

Perhitungan: Bilangan hidroksi ditentukan dengan persamaan berikut:

Va = Volume KOH yang diperlukan untuk mentitrasi sampel asam lemak Vb = Volume KOH yang diperlukan untuk mentitrasi sampel + reagen asetilasi Vc = Volume KOH yang diperlukan untuk mentitrasi reagen asetilasi W = Berat sampel asam lemak (gram).

(mL). (mL). (mL).

2.4.2 Penentuan Bilangan Hidroksi


o

Sebanyak 4 mL reagen asetilasi ditambahkan ke dalam 0,5 gram sampel, dipanaskan sampai suhu 98 C selama 2 jam, kemudian didinginkan pada temperatur kamar. Sebanyak 6 mL aquadest ditambahkan ke dalam larutan, kemudian tutup dan dinding botol dibilas, dan didiamkan selama 24 jam. Indikator pp 1% sebanyak 3-4 tetes ditambahkan ke dalam larutan dan larutan dititrasi dengan menggunakan larutan KOH 0,1 N. Bilangan hidroksi (-OH) ditentukan dengan persamaan: Bilangan OH = (b a) . N . 56,1 / m di mana: b = mL KOH yang digunakan untuk menitrasi blanko a = mL KOH untuk menitrasi sampel N = konsentrasi KOH m = berat sampel

3.3.6.2 Analisis Bilangan Hidroksi Analisis ini dilakukan terhadap metil ester asam lemak dari minyak jarak dan 9,10,12-trihidroksi metil stearat campuran. Ditimbang 1 gram sampel ke dalam labu dan ditambahkan 5 mL reagen asetilasi (asam asetat anhidrida dalam pyridin) dan direfluks pada suhu 95-100 C selama 1 jam. Setelah selesai didinginkan dan ditambah 1 mL akuades, dan dipanaskan selama 10 menit. Setelah dingin ditambah 5 mL alkohol netral dan dipindahkan larutan ke dalam gelas erlenmeyer kemudian ditambahkan 2-3 tetes indikator fenolftalein selanjutnya dititrasi dengan larutan KOH-Etanol 0,5 N. Dilakukan titrasi terhadap larutan blanko pada kondisi sama. Ditentukan bilangan asam terhadap sampel dan dihitung bilangan hidroksi.

Dimana:

T = Normalitas KOH-Etanol Vo = Volume KOH-Etanol untuk titrasi blanko (mL) V = Volume KOH-Etanol untuk titrasi sampel (mL) AV = Bilangan asam dari ester