Anda di halaman 1dari 11

Peranan Faktor Host, Agent dan Lingkungan

Pada Terjadinya Penyakit Flu Burung,


Perjalanan Alamiah dan Tahap-tahap
Pencegahannya

TUGAS EPIDEMIOLOGI

OLEH
I KOMANG CANDRA WIGUNA
0820025045

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
SEPTEMBER
2009
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Selama beberapa tahun terakhir ini banyak kasus penyakit menular yang
terjadi di seluruh dunia. Dari berbagai penyakit menular tersebut, salah satu
penyakit yang pernah menjadi sorotan dunia adalah avian influenza atau yang
lebih dikenal sebagai flu burung. Flu burung ini sempat membuat banyak orang
panik karena penyakit ini dapat menular dengan sangat cepat, hal ini disebabkan
karena penularannya dapat melalui udara, selain itu virus penyebab penyakit ini
dapat bermutasi dengan cepat.

Dampak yang ditimbulkan dari flu burung ini sangatlah luas selain di
bidang kesehatan juga di bidang ekonomi, karena dengan adanya penyakit ini
orang-orang menjadi takut untuk mengonsumsi daging ayam sehingga permintaan
pasar terhadap ayam juga semakin menurun, bahkan banyak diantaranya yang
bangkrut karena harus merelakan ternak unggas mereka dimusnahkan agar tidak
sampai menulari masyarakat. Selain itu dengan adanya penyakit ini orang-orang
menjadi takut untuk berpergian terutama ke daerah yang dinyatakan endemi flu
burung, bahkan beberapa Negara sampai harus mengeluarkan travel warning
sehingga melumpuhkan stabilitas ekonomi Negara yang bersangkutan.

Walaupun orang-orang sudah banyak yang tahu akan bahaya penyakit ini,
namun masih banyak juga yang kurang paham atau tidak tahu sama sekali
bagaimana proses penularan penyakit ini, sehingga kadang timbul pandangan
yang salah mengenai flu burung di kalangan masyarakat, misalnya bahwa
“mengkonsumsi daging ayam ternak lebih berisiko flu burung dibandingkan
dengan ayam kampung”, padahal baik ayam kampung maupun ayam ternak
memiliki risiko yang sama menularkan flu burung. Karena ketidaktahuan akan
bagaimana proses penyebaran penyakitnya, maka masyarakat juga banyak yang
tidak tahu langkah-langkah apa yang harus dilakukan agar mereka terhindar dari
penularan penyakit ini. Maka dari itu melalui paper ini, penulis berharap agar

canzyber@yahoo.com canzyber.com
wawasan pembaca akan flu burung menjadi lebih luas dan pembaca tahu apa
tindakan-tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya flu burung
ini.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa faktor-faktor penyebab terjadinya flu burung?
1.2.2 Bagaimana perjalanan alamiah penyakit flu burung?
1.2.3 Bagaimana upaya pencegahan serta penanggulangan penyakit flu
burung?

1.3 Tujuan
1.3.1 Mengetahui sejarah perkembangan flu burung.
1.3.2 Mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya flu burung.
1.3.3 Mengetahui perjalanan alamiah penyakit flu burung.
1.3.4 Mengetahui upaya-upaya pencegahan serta penanggulangan penyakit
flu burung.

1.4 Manfaat penulisan

Manfaat yang dapat diharapkan dalam pembuatan paper ini adalah:

1.4.1 Pembaca mendapat informasi tentang faktor-faktor penularan flu


burung.
1.4.2 Pembaca mendapat informasi tentang perjalanan alamiah penyakit flu
burung.
1.4.3 Pembaca mendapat informasi tentang berbagai upaya pencegahan
serta penanggulangan penyakit flu burung

canzyber@yahoo.com canzyber.com
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Flu Burung

Flu burung sebenarnya bukanlah penyakit yang baru, penyakit ini pertama
kali ditemukan di Italia pada tahun 1878 oleh Perroncito. Saat itu Perroncito
melaporkan adanya suatu penyakit menular yang menyerang unggas dengan
kemampuan menyebar sangat cepat dan mengakibatkan jumlah kematian yang
tinggi. Selanjutnya pada tahun 1880 Rivolto dan Dalpatro menyebutkannya
sebagai fowl plaque dan mereka menggunakan istilah typhus exudation
gallinarum yang dalam perkembangannya kini disebut dengan istilah highly
pathogenic aviant influenza (HPAI) atau yang dikenal sebagai penyakit flu
burung. Sebutan fowl plaque adalah salah satu terminology yang digunakan
secara historis sewaktu awal mulanya penyakit ini ditemukan pada unggas piara
species Gallus gallus domesticus, sedangkan HPAI merupakan sebutan yang
lebih tepat secara ilmiah untuk semua jenis burung yang berarti penyakit influenza
yang sangat pathogen pada jenis avian. Selain fowl plaque ada juga istilah peste
aviarie, geflugelpest, brunswick bird plaque, brunswick disease, fowl grippe, atau
bird grippe.

Penyakit flu burung diketahui menyebar ke berbagai belahan dunia


terutama Eropa sejak awal 1900-an, dimana awal penularannya terjadi malalui
penyelenggaraan pemeran unggas, kemudian bersifat endemi pada unggas
peliharaan sampai tahun 1930, sejak saat itu terjadi penyebaran yang semakin
meluas sampai ke benua lain seperti Amerika, Afrika Utara, Timur Tengah,
sampai Rusia. Penyebarannya yang luas membuat orang semakin serius
mendalami penyakit ini, begitu pula dengan laporan-laporan penyakit yang ada,
namun orang belum begitu peduli dengan ancaman virus ini hingga pada tahun
2002 virus ini menjangkit banyak orang di Hongkong-Cina dan menelan banyak
korban jiwa.

canzyber@yahoo.com canzyber.com
Flu burung merupakan penyakit yang ditimbulkan oleh virus avian
influenza (H5N1) yang tergolong dalam kategori virus flu A yang artinya virus ini
dapat menjangkit baik manusia maupun hewan serta memiliki kemampuan mutasi
gen yang tinggi, hal itulah yang membuat virus ini sangat mudah menyebar dan
sulit diberantas, bahkan oleh Office International des Epizooties (OIE), flu burung
dimasukkan sebagai salah satu dari 15 penyakit hewan menular yang paling
berbahaya. Hingga kini diketahui diketahui bahwa virus dapat menginfeksi
manusia melalui aves, kucing dan manusia.

Wabah flu burung sangat merugikan masyarakat, selain dari segi


kesehatan terutama dalam bidang ekonomi. Hal ini disebabkan karena wabah flu
burung membuat orang menjadi takut mengnsumsi daging ayam serta takut
berpergian di daerah yang dinyatakan positif endemi flu burung, sehingga secara
tidak langsung melumpuhkan sektor peternakan dan pariwisata di Negara tersebut,
padahal jika dilihat dari data FAO pada tahun 2003 Asia tenggara termasuk
Indonesia merupakan tempat peternakan unggas terbesar kedua terbesar didunia,
sehingga bias dibayangkan berapa banyak kerugian yang akan diderita apabila
sektor peternakan unggas ini lumpuh.

Di Indonesia flu burung muncul pada tahun akhir tahun 2003, dimana
virus ini diduga masuk ke Indonesia melalui impor daging ayam yang dilakukan
secara illegal. Hingga tahun 2005 tercatat temuan kasus flu burung sebanyak 310
kasus dengan 189 kematian pada manusia dimana di Indonesia ditemukan 99
kasus dengan 79 kematian.

2.2 Faktor Penyebab Terjadinya Flu Burung

2.2.1 Faktor intrinsik (host)


Yang dimaksud dengan faktor intristik adalah faktor yang berasal dari
host. Host sendiri merupakan adalah organisme tempat hidup agent tertentu yang
dalam suatu keadaan menimbulkan penyakit pada organisme tersebut. Jika
membicarakan masalah penyakit flu burung pada manusia maka host yang

canzyber@yahoo.com canzyber.com
dimaksud adalah manusia. Faktor intristik pada flu burung diantaranya kekebalan
tubuh (imunitas) dan pola pikir seseorang.
Flu burung sebenarnya tidak mudah menular dari hewan yang telah
terinfeksi, namun jalan untuk penularan itu akan semakin mudah apabila
seseorang itu berada dalam kondisi yang lemah dan tidak memiliki system imun
yang baik, begitu pula dengan pola pikir orang yang masih tidak percaya dan
terkesan meremehkan bahaya penyakit ini.
2.2.2 Faktor ekstrinsik
Faktor ekstrinsik atau faktor lingkungan merupakan faktor diluar dari host
itu sendiri. Faktor lingkungan ini dibagi menjadi tiga:
a) Lingkungan Biologis
Faktor lingkungan biologis pada penyakit flu burung yaitu agent. Agent
merupakan sesuatu yang merupakan sumber terjadinya penyakit yang dalam hal
ini adalah virus aviant influenza (H5N1). Sifat virus ini adalah mampu menular
melalui udara dan mudah bermutasi. Daerah yang diserang oleh virus ini adalah
organ pernafasan dalam, hal itulah yang membuat angka kematian akibat penyakit
ini sangat tinggi.
b) Lingkungan Fisik
 Suhu
Pada suhu lingkungan yang tidak optimal baik suhu yang terlalu tinggi
maupun terlalu rendah akan berpengaruh terhadap daya tahan tubuh
seseorang pada saat itu sehingga secara tidak langsung berpengaruh
terhadap mudah tidaknya virus menjangkiti seseorang. Selain itu virus flu
burung juga memerlukan suhu yang optimal agar dapat bertahan hidup.
 Musim
Faktor musim pada penyakit flu burung terjadi karena adanya faktor
kebiasaan burung untuk bermigrasi ke daerah yang lebih hangat pada saat
musim dingin. Misalkan burung-burung yang tinggal di pesisir utara Cina
akan bermigrasi ke Australia dan Asia Tenggara pada musim dingin,
burung-burung yang telah terjangkit tersebut akan berperan menularkan
flu burung pada hewan yang tinggal di daerah musim panas atau daerah
tropis tempat burung tersebut migrasi.

canzyber@yahoo.com canzyber.com
 Tempat tinggal
Faktor tempat tinggal pada penyakit flu burung misalnya apakah
tempat tinggal seseorang dekat dengan peternakan unggas atau tidak,
di tempat tinggalnya apakah ada orang yang sedang menderita flu
burung atau tidak,
c) Lingkungan sosial
Faktor lingkungan sosial meliputi kebiasaan sosial, norma serta hukum
yang membuat seseorang berisiko untuk tertular penyakit. Misalnya kebiasaan
masyarakat Bali yang menggunakan daging mentah yang belum dimasak terlebih
dahulu untuk dijadikan sebagai makanan tradisional. Begitu pula dengan orang-
orang di eropa yang terbiasa mengonsumsit daging panggang yang setengah
matang atau bahkan hanya seper-empat matang. Selain itu juga pada tradisi
sabung ayam akan membuat risiko penyakit menular pada pemilik ayam semakin
besar.

2.3 Perjalanan Alamiah Penyakit Flu Burung

a. Fase Suseptibel
Adalah fase dimana seseorang belum terjangkit suatu penyakit namun
memiliki faktor-faktor pendukung yang kuat untuk menimbulkan penyakit. Pada
penyakit flu burung misalnya fase suseptibelnya adalah dimana seseorang atau
sekelompok orang yang tinggal bersama dengan hewan yang telah terjangkit flu
burung serta menunjukkan perilaku berisiko untuk tertular seperti tidak
menggunakan masker saat bersama hewan tersebut, tidak mencuci tangan sebelum
makan setelah bersentuhan dengan hewan yang terjangkit, atau mengkonsumsi
daging ayam yang tidak matang sempurna.

b. Fase Presimptomatis
Fase presimptomatis adalah keadaan dimana seseorang telah terjangkit
suatu penyakit yang dalam hal ini adalah flu burung, telah mengalami perubahan
secara patologis, namun orang tersebut belum menunjukkan gejala-gejala klinis.
Pada fase ini terjadi fase inkubasi dari virus yaitu fase dimana agent telah masuk
ke tubuh host sampai sejak terjadinya gejala pertama.

canzyber@yahoo.com canzyber.com
c. Fase Klinis
Fase klinis adalah keadaan dimana seseorang telah mengalami perubahan
anatomis dan fungsional tubuh dengan munculnya gejala-gejala klinis. Adapun
gejala-gejala dari host yang terjangkit flu burung adalah

 Pada unggas/burung:
- Pada betina yang sedang bertelur, telurnya memiliki cangkang yang tipis
kemudian berhenti bertelur dengan cepat.
- Nafsu makan berkurang
- Diare dan sering minum
- Terjadi perubahan warna pada jenger menjadi kebiru-biruan
- Nafas cepat dan berbunyi
- Pendarahan terlihat pada daerah yang tidak ditumbuhi bulu terutama
tulang kering pada kaki
 Pada manusia
- Demam dimana suhu badan sekitar atau di atas 38°C
- Sesak nafas
- Batuk dan nyeri tenggorokan
- Radang paru
- Infeksi mata
- Pusing
- Mual dan nyeri perut
- Muntah
- Diare
- Keluar lendir dari hidung
- Tidak ada nafsu makan

Fase Ketidakmampuan

Fase ketidakmampuan adalah fase dimana telah muncul komplikasi-


komplikasi akibat adanya penyakit flu burung. Pada fase ini orang akan memiliki
dua kemungkinan, kemungkinan pertama yaitu sembuh, dan kemungkinan yang
kedua adalah orang tersebut meninggal.

canzyber@yahoo.com canzyber.com
2.4 Upaya Pencegahan Serta Penanggulangan

Dalam menanggulangi flu burung ada beberapa hal yang dapat dilakukan
antara lain:

2.4.1 Pencegahan primer


Pencegahan primer adalah pencegahan yang dilakukan pada orang orang
yang berisiko terjangkit flu burung
a) Melakukan promosi kesehatan (promkes) terhadap masyarakat luas,
terutama mereka yang berisiko terjangkit flu burung seperti peternak
unggas.
b) Melakukan biosekuriti yaitu upaya untuk menghindari terjadinya kontak
antara hewan dengan mikroorganisme yang dalam hal ini adalah virus flu
burung, seperti dengan melakukan desinfeksi serta sterilisasi pada
peralatan ternak yang bertujuan untuk membunuh mikroorganisme pada
peralatan ternak sehingga tidak menjangkiti hewan.
c) Melakukan vaksinasi terhadap hewan ternak untuk meningkatkan
kekebalannya. Vaksinasi dilakukan dengan menggunakan HPAI (H5H2)
inaktif dan vaksin rekombinan cacar ayam atau fowlpox dengan
memasukan gen virus avian influenza H5 ke dalam virus cacar.
d) Menjauhkan kandang ternak unggas dengan tempat tinggal.
e) Menggunakan alat pelindung diri seperti masker, topi, baju lengan
panjang, celana panjang dan sepatu boot saat memasuki kawasan
peternakan.
f) Memasak dengan matang daging sebelum dikonsumsi. Hal ini bertujuan
untuk membunuh virus yang terdapat dalam daging ayam, karena dari
hasil penelitian virus flu burung mati pada pemanasan 60°C selama 30
menit.
g) Melakukan pemusnahan hewan secara massal pada peternakan yang
positif ditemukan virus flu burung pada ternak dalam jumlah yang
banyak.

canzyber@yahoo.com canzyber.com
h) Melakukan karantina terhadap orang-orang yang dicurigai maupun sedah
positif terjangkit flu burung.
i) Melakukan surveilans dan monitoring yang bertujuan untuk
mengumpulkan laporan mengenai morbilitas dan mortalitas, laporan
penyidikan lapangan, isolasi dan identifikasi agen infeksi oleh
laboratorium, efektifitas vaksinasi dalam populasi, serta data lain yang
gayut untuk kajian epedemiologi.

2.4.2 Pencegahan sekunder


Pencegahan sekunder adalah pencegahan yang dilakukan dengan tujuan
untuk mencegah dan menghambat timbulnya penyakit dengan deteksi dini dan
pengobatan tepat. Dengan melakukan deteksi dini maka penanggulangan penyakit
dapat diberikan lebih awal sehingga mencegah komplikasi, menghambat
perjalanannya, serta membatasi ketidakmampuan yang dapat terjadi. Pencegahan
ini dapat dilakukan pada fase presimptomatis dan fase klinis. Pada flu burung
pencegahan sekunder dilakukan dengan melakukan screening yaitu upaya untuk
menemukan penyakit secara aktif pada orang yang belum menunjukkan gejala
klinis. Screening terhadap flu burung misalnya dilakukan pada bandara dengan
memasang alat detektor panas tubuh sehingga orang yang dicurigai terjangkit flu
burung bias segera diobati dan dikarantina sehingga tidak menular pada orang
lain.

2.4.3 Pencegahan tersier


Pencegahan tersier adalah segala usaha yang dilakukan untuk membatasi
ketidakmampuan. Pada flu burung upaya pencegahan tersier yang dapat dilakukan
adalah dengan melakukan pengobatan intensif dan rehabilitasi.

canzyber@yahoo.com canzyber.com
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa flu burung
merupakan salah satu jenis penyakit yang disebabkan oleh virus dimana virus ini
dapat menular antar hewan aeperti unggas dan kucing, antar hewan dengan
manusia, maupun antar manusia. Flu burung dapat menular melalui udara maupun
melalui kotoran serta cairan tubuh sehingga penularannya sangat cepat, selain itu
virus avian influenza tergolong virus yang sangat mudah mengalami mutasi
sahingga tidak jarang antar virus flu burung daerah satu dengan daerah lain
terdapat perbedaan.
Faktor penyakit flu burung secara garis besar dibagi dua yaitu faktor
intrinsik yaitu host, dan faktor lingkungan seperti agent, lingkungan fisik, serta
sosial. Dalam perjalanannya flu burung mengalami empat fase yaitu fase
suseptibel, presimptomatis, klinis, dan ketidakmampuan
Untuk menanggulangi flu burung dapat dilakukan dengan 3 tahap
pencegahan yaitu pencegahan primer, pencegahan sekunder, dan pencegahan
tersier.

3.2 Saran

Flu burung merupakan penyakit yang sangat berbahaya karena


penularannya yang sangat cepatbdan memiliki angka kematian yang tinggi,
namun sebenarnya kita tidak perlu terlalu takut, karena sebenarnya flu burung
dapat dengan mudah dicegah hanya dengan menerapkan pola hidup bersih dan
sehat (PHBS), karena itu mari budayakan PHBS mulai dari diri sendiri, keluarga
sampai masyarakat.

canzyber@yahoo.com canzyber.com