Anda di halaman 1dari 9

KASUS 6 Nama Kelompok 1.

Rosmala Atina R ( Konflik )

2. Samantya Laksonowati ( Isu Moral ) 3. Sholikah Siti Maryati 4. Titis Eka Gusti 5. Venti Megiana Kasus 6 Suatu hari ada seorang ibu bersama suaminya kebidan F ibu datang kebidan bertujuan untuk suntik KB. Ibu awalnya memakai KB suntik 1 bulan tapi ibu meminta ke bidan F untuk mengganti Kb suntik 3 bulan sekali, setelah itu bidan F menjelaskan kemungkinan yang akan terjadi apabila berganti KB suntik 1 bulan sekali ke suntik KB 3 bulan sekali. Apabila tidak cocok akan mengalami perdarahan ibu dan suaminya menyetujui. Bidan pun memberikan suntikan KB 3 bulan itu ke Ibu tersebut. Dua bulan kemudian , ibu datang bersama suaminya, dengan keluhan keluar darah lumayan banyak dari vaginanya. Ibu terlihat pucat dan lemas, Bidan F menjelaskan kepada bapak dan ibu tersebut bahwa KB suntik 3 bulan sekali itu tidak cocok untuk Ibu dan Ibu tersebut dibaringkan ditempat tidur. Suami ibu tersebut meminta ke bidan diberikan obat agar darah yang keluar sedikit berkurang, tapi bidan F tidak memberikan dengan alasan agar tidak terjadi penyakit. Setelah beberapa menit darah yang keluar dari vagina Ibu semakin banyak, sehingga Bidan merujuk ke dokter. Sesampainya ke dokter Ibu tersebut Syok sehingga dokter memberikan vitamin K peroral dengan kejadian itu bidan ditegur oleh dokter. ( Dilema ) ( Informed Choise ) ( Isu Etik dan Aspek Legal )

A. KONFLIK 1. Pasien Meminta kepada Bidan F untuk mengganti yang pada awalnya menggunakan suntikan 1 bulan sekali menjadi 3 bulan sekali dengan ketentuan apabila KB tidak cocok maka akan terjadi perdarahan. 2. Pasien tidak menghiraukan penjelasan Bidan bahwa penggantian KB dapat menyebabkan perdarahan 3. 2 Bulan kemudian pasien tersebut mengalami perdarahan. 4. Suami pasien meminta Bidan F untuk diberikan obat untuk mengurangi perdarahan akan tetapi bidan tersebut menolak dengan alasan agar tidak terjadi penyakit. 5. Keadaan Umum pasien semakin menurun serta darah yang keluar semakin banyak, akhirnya pasien dirujuk ke Doker. 6. Pasien Syok

B. ISSU MORAL: Masyarakat menilai bidan itu tidak bertanggung jawab terhadap apa yang dialami pasiennya berdasarkan tindakan yang telah dilakukan kepada pasien sebelumnya. PENANGANAN: a. Memberikan informed consent kepada ibu dan suami tentang KB suntik 1 bulan dan KB suntik 3 bulan. b. Bidan harus menjelaskan secara lengkap apa saja dampak penyakit yang terjadi apabila diberi obat tersebut. c. Memberikan informed choice kepada pasien dan suaminya mengenai tindakan terhadap kontraindikasi dari KB suntik 3 bulan yang dialami oleh pasien (perdarahan), informed choice yang diberikan adalah merujuk pasien, atau melakukan pemberian obat untuk menghentikan perdarahan dengan efek samping yang telah dijelaskan. tersebut

C. ISU ETIK DAN LEGAL Isu etik yaitu kesalahan bidan sehingga menimbulkan pelanggaran komplikasi. Disini Bidan tidak mau mengobati pasien dan tidak segera merujuk pasien sehingga ibu mengalami perdarahan dan syok 1. LEGALITAS BIDAN DALAM PELAYANAN KB Dasar hukum yang digunakan adalah Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan, Keputusan Menteri Kesehatan Nomor

900/MENKES/SK/VII/2002 tentang Registrasi Dan Praktik Bidan.Ruang Lingkup dalam kompetensi bidan antara lain Pengetahuan konsepsi, KB, dan Ginekologi, Asuhan Konseling Selama umum, Pra

Kehamilan,

Asuhan Selama Persalinan dan Kelahiran, Asuhan Pada Ibu Nifas dan Menyusui,Asuhan Pada Bayi Baru Lahir, Asuhan Pada Bayi dan Balita, Kebidanan Komunitas, Asuhan Pada Ibu/Wanita Dengan Gangguan Reproduksi.Bidan melakukan praktiknya sesuai dengan kompetensinya. Karena kompetensi bidan telah diatur dalam Standar Profesi Bidan yang terdiri dari bermacam-macam pelayanan pada ibu dan anak. Bidan Praktik Mandiri telah melaksanakan praktik pelayanan kebidanan sesuai dengan

kompetensinya. Namun, karena keterbatasan pada kewenangan bidan sehinggan bidan praktik mandiri banyak yang melanggar pada kewenangan bidan yang diatur dalam Peraturan yang berlaku. Pelaksanaan Kewenangan Bidan Dalam Pelayanan Kebidanan Pada Bidan Praktik Mandiri (BPM) Menurut Kepmenkes Nomor

900/Menkes/SK/VII/2002, Permenkes NomorHK.02.02/ Menkes/ 149/ 2010 dan Permenkes Nomor 1464/Menkes/Per/X/2010. a. Pelaksanaan Kewenangan Bidan Dalam Pelayanan Kebidanan Pada Bidan Praktik Mandiri (BPM) Menurut Kepmenkes Nomor

900/Menkes/SK/VII/2002Dasar hukumnya

Undang-Undang Nomor

23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintah Derah, Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 Tentang Tenaga Kesehatan, Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 77 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Keputusan Presiden Nomor 23 Tahun 1994 Tentang Pengangkatan Bidan Sebagai Pegawai Tidak Tetap. Asas yang terdapat dalam Kepmenkes 900/2002

adalah asas legalitas dan lex superior. Tujuan Untuk melaksanakan otonomi daerah perlu diadakan penyempurnaan Peraturan Menteri Kesehatan tentang registrasi dan praktik bidan.Ruang lingkup kewenangan bidan meliputi Pelayanan Kebidanan, Pelayanan Keluarga Berencana, Pelayanan Kesehatan Masyarakat. Menurut pandangan bidan praktik mandiri bahwa Kepmenkes 900/2002 sudah sesuai dengan kompetensi bidan yang diajarkan dalam pendidikan. Bidan praktik mandiri memiliki peranan yang sangat besar dalam penurunan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi.Sehingga tidak ada batasan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. b. Pelaksanaan Kewenangan Bidan Dalam Pelayanan Kebidanan Pada Bidan Praktik Mandiri (BPM) Menurut Permenkes Nomor HK.02.02/ Menkes/ 149/2010Dasar hukum Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah, Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan, Peraturan Pemerintah Nomor 32 Keputusan Menteri

Tahun 1996 Tentang Tenaga Kesehatan,

Kesehatan Nomor 369/Menkes/SK/III/2007 Tentang Standar Profesi Bidan.Asas yang terdapat dalam Permenkes 149/2010 adalah asas legalitas dan lex superior. Tujuan dalam menjalankan pelayanan

kesehatan, tenaga kesehatan wajib memiliki ijin dari Pemerintah sehingga diperlukan adanya Peraturan dari Menteri Kesehatan tentang praktik dan penyelenggaraan ijin bidan.Ruang lingkup kewenangan bidan meliputi Pelayanan Kebidanan, Pelayanan Kesehatan Masyarakat. 149/2010

Reproduksi

Perempuan,

Pelayanan

Kesehatan

Pelaksanaan pelayanan

kebidanan pada Permenekes

memiliki perubahan dalam kewenangan bidan. Permenkes ini berlakuhanya sementara, tetapi bidan praktik mandiri sudah merasakan dampak dari kewenangan yang terlalu dibatasi. Berdasarkan hasil penelitian bahwa 80% bidan praktik mandiri menyatakan tidak setuju dengan berlakunya Permenkes 149/2010. Kompetensi yang menjadi kewenangan bidan untuk praktik terlalu dibatasi dalam peraturan ini. Dan masih banyaknya bidan melaksanakan praktik mandiri tidak

sesuai dengan Permenkes 149/2010 tetapi menggunakan Kepmenkes 900/2002. c. Pelaksanaan Kewenangan Bidan Dalam Pelayanan Kebidanan Pada Bidan Praktik Mandiri (BPM) Menurut 1464/Menkes/Per/X/2010Dasar hukum Permenkes Nomor

Undang-Undang Nomor 29

Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran, Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah, Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan, Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit, Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 Tentang Tenaga Kesehatan, Keputusan Menteri Kesehatan

Nomor 369/Menkes/SK/III/2007 Tentang Standar Profesi Bidan, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 161/Menkes/Per/I/2010 Tentang Registrasi Tenaga Kesehatan.Asas yang terdapat dalam Permenkes 1464/2010 adalah asas legalitas dan lex superior. Untuk

menyelaraskan kewenangan bidan dengan tugas Pemerintah dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang merata, sehingga diperlukan Peraturan Menteri Kesehatan tentang Izin dan

Penyelenggaraan Praktik Bidan, Untuk menetapkan kembali Peraturan Menteri Kesehatan tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan.Ruang lingkup kewenangan bidan meliputi Pelayanan

Kesehatan Ibu, Pelayanan Kesehatan Anak, Pelayanan Kesehatan Reproduksi Perempuan dan Keluarga Berencana. Dari hasil penelitian didapatkan sebesar 60% dari bidan praktik mandiri menyatakan

Permenkes 1464/2010 tidak sesuai dengan kewenangan bidan. Adapun 40% daribidan praktik mandiri sesuai dengan kewenangan bidan. Alasan mereka pun bermacam-macam, yaitu karena sudah merupakan peraturan mau tidak mau harus dilaksanankan, dan ada yang tidak mengerti Permenkes 1464/2010 sebagai peraturan bidan. praktik mandiri masih menggunakan Kepmenkes 900/2002. Bidan

D. DILEMA: 1. Pasien meminta kepada bidan F untuk memberikan suntikan KB 3 bulan, padahal bidan sudah mengetahui resiko yang akan terjadi jika dilakukan penyuntikan yaitu berakibat perdarahan. Bidan F memenuhi keinginan pasien dengan menyuntik KB 3 bulan atas persetujuan pasien dan suami, setelah dilakukan penyuntikan benar menyebabkan pasien perdarahan. 2. Bidan sejak awal ragu untuk memberikan suntikan KB 3 bulan karena telah mengetahui resiko yang mungkin akan terjadi akan tetapi setelah memberikan inform choice kepada ibu dan suami bersedia untuk dilakukannya tindakan penyuntikan KB 3 bulan. Setelah apa yang dikhawatirkan tersebut terjadi yaitu perdarahan pervaginam, ibu kembali ke bidan untuk meminta pertolongan agar perdarahan dapat berhenti, setelah pasien berada di tempat, bidan tidak melakukan tindakan apapun karena takut akan terjadi komplikasi yang lebih buruk. Sejak awal seharusnya bidan tidak memberikan suntikan KB 3 bulan karena mengetahui kondisi ibu dan akibat yang akan terjadi. Ketika dihadapakan pada dilema seperti ini, bidan harus mengingat akan tanggung jawab profesional, yaitu tindakan selalu ditujukan untuk peningkatan kenyamanan kesejahteraan pasien atau klien. Dan menjamin bahwa tidak ada tindakan yang dapat menimbulkan resiko berbahaya bagi klien, serta tanggung jawab memperhatikan kondisi dan keamanan pasien atau klien. Namun jika perdarahan sudah terlanjur terjadi bidan seharusnya melakukan tindakan awal penanganan pada ibu yang mengalami perdarahan karena itu merupakan suatu kejadian darurat yang butuh penanganan secara cepat. 3. Setelah perdarahan yang semakin banyak bidan merujuk pasien ke tempat dokter, ibu mengalami syok dan dokter memberikan memberikan vitamin K peroral, dengan tindakan yang demikian bidan dapat dilaporkan ke puskesmas hal ini disebabkan bidan F tidak melakukan penanganan secara cepat dan tepat kepada pasien, selain itu bidan juga telah menyebabkan terjadinya kasus ini yang bisa dikatakan sebagai kelalaian dari tindakan bidan tetapi di sisi lain bidan takut melakukan tindakan penanganan perdarahan yang bisa mengakibatkan komplikasi pada ibu sehingga bidan mengambil keputusan untuk merujuk pasien ke dokter. Jika terjadi sesuatu yang lebih fatal pada pasien bidan F yang dirujuk ke tempat dokter maka dokter yang bertanggung jawab padahal hal ini dikarenakan bidan yang tidak memberikan penanganan

awal saat terjadi perdarahan. Hal ini bisa menimbulkan hubungan kurang baik bagi bidan dan dokter/ profesi lain. Solusi jika sudah terjadi hal yang demikian adalah dengan menetukan terlebih dahulu langkah-langkah rujukan

kegawatdaruratan yaitu : a. Menentukan kegawatdaruratan penderita 1) Pada tingkat kader atau dukun bayi terlatih ditemukan penderita yang tidak dapat ditangani sendiri oleh keluarga atau kader/dukun bayi, maka segera dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang terdekat, oleh karena itu mereka belum tentu dapat menerapkan ke tingkat kegawatdaruratan. 2) Pada tingkat bidan desa, puskesmas pembantu dan puskesmas. Tenaga kesehatan yang ada pada fasilitas pelayanan kesehatan tersebut harus dapat menentukan tingkat kegawatdaruratan kasus yang ditemui, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya, mereka harus menentukan kasus mana yang boleh ditangani sendiri dan kasus mana yang harus dirujuk. b. c. Menentukan tempat rujukan Prinsip dalam menentukan tempat rujukan adalah fasilitas pelayanan yang mempunyai kewenangan dan terdekat termasuk fasilitas pelayanan swasta dengan tidak mengabaikan kesediaan dan kemampuan penderita. 1) Memberikan informasi kepada penderita dan keluarga 2) Kaji ulang rencana rujukan bersama ibu dan keluarga. Jika perlu dirujuk, siapkan dan sertakan dokumentasi tertulis semua asuhan, perawatan dan hasil penilaian (termasuk partograf) yang telah dilakukan untuk dibawa ke fasilitas rujukan. Jika ibu tidak siap dengan rujukan, lakukan konseling terhadap ibu dan keluarganya tentang rencana tersebut. Bantu mereka membuat rencana rujukan pada saat awal persalinan. 3) Mengirimkan informasi pada tempat rujukan yang dituju d. e. Memberitahukan bahwa akan ada penderita yang dirujuk. Meminta petunjuk apa yang perlu dilakukan dalam rangka persiapan dan selama dalam perjalanan ke tempat rujukan. f. Meminta petunjuk dan cara penangan untuk menolong penderita bila penderita tidak mungkin dikirim.

E. Informed Choise (Venti Megiana) Menurut saya bidan sudah memberikan pelayanan yang baik. Materi yang disampaikan sudah sesuai dengan apa yang seharusnya disampaikan. Dalam memberikan pelayanan, petugas kesehatan harus melakukan : 1. Memperlakukan klien dengan baik Petugas bersikap sabar, memperlihatkan sikap menghargai klien dan mencuptakan rasa percaya diri sehingga klien dapat berbicara secara terbuka dalam segala hal termasuk masalah-masalah pribadi sekalipun. Petugas menyakinkan klien bahwa ia tidak akan mendiskusikan rahasia klien terhadap orang lain. 2. Interaksi antara petugas dan klien Petugas harus mendengarkan, mempelajari dan menanggapi keadaan klien karena setiap klien mempunyai kebutuhan dan tujuan reproduksi yang berbeda. Bantuan terbaik seorang petugas adalah bagaimana cara memahami bahwa klien adalah orang yang membutuhkan perhatian dan bantuan. Oleh karena itu, petugas kesehatan harus mendorong agar klien berani berbicara dan bertanya. 3. Memberikan informasi yang baik dan benar kepada klien Dengan mendengarkan apa yang disampaikan klien berarti petugas belajar mendengarkan informasi apa saja yang dibutuhkan oleh setiap klien. Dalam memberikan informasi, petugas kesehatan harus menggunakan bahasa yang mudah dimengerti. 4. Menghindari informasi yang berlebihan Klien membutuhkan penjelasan yang cukup dan tepat untuk menentukan pilihan (informed choice). Namun tidak semua klien menangkap semua informasi tentang berbagai macam kontrasepsi. Terlalu banyak informasi akan menyebabkan kesulitan bagi klien dalam mengingat informasi yang penting. Pada waktu memberikan informasi, petugas harus memberikan waktu bagi klien untuk berdiskusi, bertanya dan mengajukan pendapat. 5. Membahas metode yang diinginkan klien Petugas membantu klien membuat keputusan mengenai pilihannya dan tanggap terhadap pilihan klien meskipun klien menolak memutuskan atau menangguhkan penggunaan kontrasepsi. Dalam memberikan konseling, petugas mengkaji apakah klien sudah mengerti mengenai jenis kontrasepsi termasuk keuntungan dan kerugian serta bagaimana cara penggunaannya. Dengan cara ini maka klien akan membuat sebuah pilihan (informed choice). 6. Membantu klien untuk mengerti dan mengingat

Petugas memberi contoh alat kontrasepsi dan menjelaskan pada klien agar memahami dengan memperlihatkan bagaimana cara penggunaannya. Petugas juga memperlihatkan dan menjelaskan dengan flipchart, poster, pamphlet, atau halaman bergambar. Dalam melaksanakan pelayanan, bidan harus selalu memberikan informed choice kepada klien karena : 1. Informed choice adalah pilihan dari klien yang telah diputuskan setelah mendapatkan informasi yang lengkap melalui KIP/K 2. Memberdayakan para klien untuk melakukan informed choice adalah kunci yang baik menuju pelayanan KB yang berkualitas. 3. Bagi peserta calon KB baru, informed choice merupakan proses memahami kontrasepsi yang akan digunakan. 4. Bagi pesrta KB apabila mengalami gangguan efek samping, komplikasi dan kegagalan tidak terkejut karena sudah mengerti tentang kontrasepsi yang dipilihnya. 5. Peserta KB juga tidak akan terpengaruh dengan rumor yang tersebar di masyarakat yang belum tentu kebenarannya. 6. Bagi peserta KB apabila mengalami gangguan efek samping atau mengalami komplikasi akan cepat berobat ke tempat pelayanan kesehatan. Dari kasus 6, pelayanan yang seharusnya diberikan tetapi tidak diberikan adalah ketika pasien mengalami perdarahan hebat tetapi bidan tidak segera memberikan pertolongan dan malah merujuk ke dokter. Karena tindakan ini bidan mendapat teguran. Seharusnya bidan memberikan suntikan vitamin K untuk mengatasi perdarahan. Kemudian diobservasi, apabila kondisi klien membaik maka tidak perlu dirujuk, tetapi jika kondisi klien malah memburuk barulah dilakukan rujukan. Perlu kita ingat bahwa bidan tidak boleh merujuk pasien tanpa memberikan intervensi apapun karena bisa memperburuk keadaan pasien ketika dalam perjalanan merujuk. Bidan berhak memberikan suntikan vitamin K karena merupakan salah satu obat legal yang boleh dikelola bidan dalam menjalankan pelayanan..