Anda di halaman 1dari 75

POSTUR KERJA

2.1. Kerja Fisik dan Konsumsi Energi


1
Kerja fisik (physical work) adalah kerja yang memerlukan energi fisik otot
manusia sebagai sumber tenaganya (power). Kerja fisik seringkali disebut sebagai
manual operation dimana performance kerja sepenuhnya akan tergantung
manusia baik yang berfungsi sebagai sumber tenaga (power) ataupun pengendali
kerja (control). Dalam hal kerja fisik ini, konsumsi energi (energi consumption)
merupakan faktor utama dan tolak ukur yang dipakai sebagai penentu berat atau
ringannya kerja fisik tersebut. Proses mekanisasi kerja dalam dalam berbagai
kasus akan diaplikasikan sebagai jalan keluar untuk mengurangi beban kerja yang
terlalu berat dan harus dipikul manusia. Dengan mekanisasi peran manusia
sebagai sumber energi kerja akan digantikan oleh mesin. Hal ini akan memberikan
kemampuan yang lebih besar lagi untuk penyelesaian aktivitas-aktivitas yang
memerlukan energi fisik yang besar dan berlangsung dalam periode waktu yang
lama.
Mengukur aktivitas kerja manusia adalah mengukur berapa besarnya
tenaga tenaga kerja yang dibutuhkan oleh seorang pekerja untuk melaksanakan
pekerjaannya. Tenaga yang dikeluarkan biasanya diukur dalam satuan kilokalori.
Secara umum kriteria pengukuran aktivitas kerja manusia dapat dibagi
dalam dua kelas yaitu kriteria fisiologis dan kriteria operasional, yaitu:
1. Kriteria fisiologis
Kriteria fisologis dari kegiatan manusia biasanya ditentukan berdasarkan
kecepatan denyut jantung dan pernafasan. Usaha untuk menentukan besarnya
tenaga yang setepat-tepatnya berdasarkan kriteria ini agak sulit, karena
perubahan fisik dari keadaan normal menjadi keadaan fisik yang aktif akan
melibatkan beberapa fungsi fisiologis yang lain, seperti tekanan darah,
peredaran udara dalam paru-paru, jumlah oksigen yang digunakan, jumlah
karbondioksida yang dihasilkan, temperatur badan, banyaknya keringat, dan

1
Wignjosoebroto, Sritomo.2000. Ergonomi, Studi Gerak dan Waktu: Teknik Analisis untuk
Peningkatan Produktivitas Kerja Hal 272-286
komposisi kimia dalam urin dan darah. Secara lebih luas dapat dikatakan
bahwa kecepatan denyut jantung dan kecepatan pernafasan dipengaruhi oleh
tekanan psikologis, tekanan oleh lingkungan atau tekanan akibat kerja keras,
dimana ketiga tekanan tersebut sama pengaruhnya. Sehingga apabila
kecepatan denyut jantung seseorang meningkat, kita akan sulit menentukan
apakah meningkatnya hal ini disebabkan akibat kerja atau tingkat temperatur
yang terlampau panas. Dengan demikian pengukuran berdasarkan kriteria
fisiologis ini bisa digunakan apabila faktor-faktor yang berpengaruh tersebut
kecil atau situasi kerjanya harus dalam keadaan normal. Volume oksigen
yang dibutuhkan selama bekerja dipakai sebagai dasar menentukan jumlah
kalori yang diperlukan selama kerja atas dasar persamaan: 1 liter = 4,7-5,0
kilokalori/menit. Volume oksigen yang digunakan tersebut dihitung dengan
cara mengukur udara ekspirasi dan kemudian kadar oksigen ditentukan
dengan teknik sampling. Dengan mengetahui temperatur dan tekanan udara,
maka volume oksigen yang digunakan akan bisa diketahui. Pengukuran
berdasarkan kecepatan denyut jantung lebih mudah dilakukan tetapi
pengukuran ini kurang tepat dibandingkan dengan konsumsi oksigen karena
lebih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor individu, seperti: emosi, kondisi
fisik, kelamin dan lain-lain. Sehubungan dengan pekerjaannya sendiri,
terdapat banyak faktor yang mempengaruhi besarnya pengeluaran tenaga
selama bekerja, diantaranya cara melaksanakan kerjanya, kecepatan
kerjanya, sikap pekerja, kondisi lingkungannya.
2. Kriteria Operasional
Kriteria operasional melibatkan teknik-teknik untuk mengukur atau
menggambarkan hasil-hasil yang bisa dilakukan tubuh atau anggota-anggota
tubuh pada saat melaksanakan gerakan-gerakannya. Secara umum hasil
gerakan yang bisa dilakukan tubuh atau anggota tubuh dapat dibagi dalam
berbagai bentuk yaitu range (rentangan) gerakan, pengukuran aktivitas
berdasarkan kekuatan, ketahanan, kecepatan dan ketelitian. Untuk mengukur
aktivitas-aktivitas tersebut, bisa digunakan bermacam-macam alat ukur
seperti alat pengukur tegangan dinamometer. Pengukuran aktivitas fisik
berdasarkan range dari gerakan, digunakan untuk jenis pekerjaan yang
berulang dengan tetap. Hasil gerakan tubuh dikatakan menurun atau
meningkat jika range gerakannya makin kecil atau makin besar. Maka dalam
hal ini diperlukan teknik tertentu untuk menggambarkan atau mencatat
informasi-informasi tentang gerakan fisik yang terlibat dalam suatu aktivitas.
Teknik-teknik yang biasa digunakan untuk mencakup teknik film, pemakaian
chronophoto graphy dan teknik elektronik serta mekanik. Pengukuran
aktivitas fisik berdasarkan kekuatan dan daya tahan pada hakekatnya tidak
hanya ditentukan oleh kekuatan otot saja, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-
faktor subjektif lainnya, seperti besarnya tenaga yang dikeluarkan, kecepatan
kerja, cara dan sikap melaksanakan kerja, kebiasaan olahraga, jenis kelamin,
umur, daya reaksi, stabilitas, letak posisi beban dan arah gerakan dari
anggota tubuh. Besarnya penggunaan tenaga saat melakukan aktivitas tentu
akan berpengaruh pada kekuatan dan daya tahan tubuh untuk melaksanakan
aktivitas tersebut. Makin besar tenaga yang dituntut oleh pekerjaan tersebut
berarti kekuatan dan daya tahan tubuh untuk menangani pekerjaan tersebut
akan makin rendah, dan sebaliknya.

2.1.1. Proses Metabolisme
Proses metabolisme yang terjadi dalam tubuh manusia merupakan phase
yang penting sebagai penghasil energy yang diperlukan untuk kerja fisik. Proses
metabolism ini bisa dianalogikan dengan proses pembakaran yang kita temui
dalam mesin motor bakar (combustion engine). Lewat proses metabolism akan
dihasilkan panas dan energi yang diperlukan untuk kerja fisik (mekanis) lewat
sistem otot manusia. Di sini, zat-zat makanan akan bersenyawa dengan oksigen
yang dihirup, terbakar dan menimbulkan panas serta energy mekanik.
Dalam literatur ergonomi, besarnya energi yang dihasilkan/dikonsumsi
akan dinyatakan dalam unit satuan kilo kalori atau kkal atau Kilo Joule (KJ),
bilamana akan dinyatakan dalam satuan standar Internasional (SI), dimana:
1 kilocalorie(kkal)= 4,2 kilojoules (KJ)
Nilai konversi di atas dapat berguna bilamana nilai konsumsi energi
diberikan dalam unit satuan watt (1 watt = 1 joule / detik).
Selanjutnya, dalam fisiologi kerja, energi yang dikonsumsikan seringkali bisa
diukur secara langsung yaitu melalui konsumsi oksigen yang dihisap. Dalam hal
ini konversi bisa dinyatakan sebagai berikut:
1 liter O2 = 4,8 Kkal = 20 KJ
Istilah yang sering digunakan untuk mengkonversikan nilai 1 liter oksigen
dengan energi yang dihasilkan oleh tubuh manusia adalah nilai klarifik dari
Oksigen.
Pengukuran detak/denyut jantung nadi akan sangat sensitif terhadap
temperatur dan tekanan emosi manusia, dan diisi lain pengukuran melalui
konsumsi oksigen pada dasarnya tidak akan banyak dipengaruhi oleh perbedaan
karakteristik individu manusia yang akan di ukur. Dalam aktivitas penelitian
tentang pengukuran energi fisik untuk kerja maka kedua metode ini yang paling
sering diaplikasikan. Untuk pengukuran denyut nadi/jantung, pengukuran
dilaksanakan pada saat sebelum siklus kerja dimulai, kemudian pada saat setiap
menit selama siklus kerja berlangsung dan tiga menit selama periode pemulihan
(recovery). Sedangkan untuk pengukuran oksigen yang dikonsumsikan
(liter/menit), maka pengukuran dilakukan terhadap volume oksigen yang dihirup
permenit yang diambil lima menit terakhir setiap siklus berlangsung.
Perlu diketahui konsumsi oksigen akan tetap diperlukan meskipun orang
tidak melakukan aktivitas fisik kondisi seperti ini disebut sebagai basal
metabolism dimana dalam kondisi seperti ini energi kimiawi dari makanan
hampir seluruhnya akan di pakai untuk menjaga panas badan agar manusia bisa
tetap hidup. Adanya kerja fisik akan menyebabkan penambahan energi. Kenaikan
konsumsi energi dalam kerja fisik ini disebut kalori kerja sehingga nilai konsumsi
energi untuk kerja atau metabolisme kerja dapat diformulasikan sebagai berikut :
Konsumsi energi untuk kerja = metabolisme basal + nilai kalori kerja
Basal metabolisme sering juga disebut sebagai metabolisme dasar. Besar
kecilnya akan ditentukan oleh berat badan, tinggi badan dan jenis kelamin.
Sebagai acuan dasar metabolisme untuk:
Metabolisme Basal Pria = 1,7 Kkal/menit
Metabolisme Basal Wanita = 1,4 Kkal/menit

2.1.2. Standar untuk Energi kerja
Dari hasil penelitian mengenai fisiologi kerja diperoleh kesimpulan bahwa
5,2 kkal/menit akan dipertimbangkan sebagai maksimum energi yang
dikonsumsikan untuk melaksanakan kerja fisik berat atau kasar secara terus-
menerus. Nilai 5,2 kkal/menit dapat pula dikonversikan dalam bentuk konsumsi
oksigen :
5,2 Kkal/menit = 5,2/4,8 = 1,08 liter oksigen/menit
Tenaga atau daya :
5,2 kkal/menit = 5,2 x 4,2 KJ/menit = 21,84 KJ/menit
atau
21,48 x 1000/60 = 364 watt
Bilamana nilai metabolisme basal = 1,2 Kkal/menit, maka energi yang
dikonsumsikan untuk kerja fisik berat adalah (5,2-1,2=4,0 Kkal/menit). Nilai
kalori kerja 5,2 pada kondisi kerja standar ini akan menyebabkan jantung/nadi
berdetak sekitar 120 detik/menit. Nilai-nilai ini kemudian akan dipakai sebagai
tolok ukur yang akan menggambarkan kondisi kerja standar. Kepastian energi
yang mampu dihasilkan oleh seseorang juga akan dipengaruhi oleh faktor usia.
Disini kapasitas maksimum seorang pekerja adalah pada usia antara 2-30 tahun
(100%).

2.1.3. Pengukuran Denyut Jantung
2

Pengukuran denyut jantung selama bekerja merupakan suatu metode untuk
menilai cardiiovasculair strain. Derajat beban kerja hanya tergantung pada
jumlah kalori yang dikonsumsi, akan tetapi juga bergantung pada pembebanan
otot statis. Sejumlah konsumsi energi tertentu akan lebih berat jika hanya
ditunjang oleh sejumlah kecil otot relatif terhadap sejumlah besar otot. Beberapa
hal yang berkaitan dengan pengukuran denyut jantung adalah sebagai berikut:

2
Nurmianto, Eko. 1998. Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasinya.Hal 138-140.
1. Astrand dan Christensen meneliti pengeluaran energi dari tingkat denyut
jantung dan menemukan adanya hubungan langsung antara keduanya.
Tingkat pulsa dan denyut jantung permenit dapat digunakan untuk
menghitung pengeluaran energi.
2. Secara lebih luas dapat dikatakan bahwa kecepatan denyut jantung dan
pernapasan dipengaruhi oleh tekanan fisiologis, tekanan oleh lingkungan,
atau tekanan akibat kerja keras, di mana ketiga faktor tersebut memberikan
pengaruh yang sama besar. Pengukuran berdasarkan kriteria fisiologis ini
bisa digunakan apabila faktor-faktor yang berpengaruh tersebut dapat
diabaikan atau situasi kegiatan dalam keadaan normal.
Pengukuran denyut jantung dapat dilakukan dengan berbagai cara antara
lain :
1. Merasakan denyut jantung yang ada pada arteri radial pada pergelangan
tangan.
2. Mendengarkan denyut jantung dengan stethoscope.
3. Menggunakan ECG (Electrocardiograph), yaitu mengukur signal elektrik
yang diukur dari otot jantung pada permukaan kulit dada. Salah satu yang
dapat digunakan untuk menghitung denyut jantung adalah telemetri dengan
menggunakan rangsangan Electroardiograph (ECG). Apabila peralatan
tersebut tidak tersedia dapat memakai stopwatch dengan metode 10 denyut
(Kilbon, 1992). Dengan metode tersebut dapat dihitung denyut nadi kerja
sebagai berikut:
( ) 60
n Perhitunga Waktu
Denyut 10
it denyut/men Jantung Denyut =
Selain metode denyut jantung tersebut, dapat juga dilakukan penghitungan
denyut nadi dengan menggunakan metode 15 atau 30 detik. Penggunaan nadi
kerja untuk menilai berat ringanya beban kerja memiliki beberapa keuntungam.
Selain mudah, cepat, dan murah juga tidak memerlukan peralatan yang mahal,
tidak menggangu aktivitas pekerja yang dilakukan pengukuran. Kepekaan denyut
nadi akan segera berubah dengan perubahan pembebanan, baik yang berasal dari
pembebanan mekanik, fisika, maupun kimiawi. Denyut nadi untuk mengestimasi
index beban kerja terdiri dari beberapa jenis, Muller (1962) memberikan definisi
sebagai berikut :
1. Denyut jantung pada saat istirahat (resting pulse) adalah rata-rata denyut
jantung sebelum suatu pekerjaan dimulai.
2. Denyut jantung selama bekerja (working pulse) adalah rata-rata denyut
jantung pada saat seseorang bekerja.
3. Denyut jantung untuk bekerja (work pulse) adalah selisish antara denyut
jantung selama bekerja dan selama istirahat.
4. Denyut jantung selama istirahat total (recovery cost or recovery cost) adalah
jumlah aljabar denyut jantung dan berhentinya denyut pada suatu pekerjaan
selesai dikerjakannya sampai dengan denyut berada pada kondisi istirahatnya.
5. Denyut kerja total (total work pulse or cardiac cost) adalah jumlah denyut
jantung dari mulainya suatu pekerjaan samapi dengan denyut berada pada
kondisi istirahatnya (resting level).
Peningkatan denyut nadi mempunyai peran yang sangat penting di dalam
peningkatan cardio output dari istirahat sampai kerja maksimum, peningkatan
tersebut oleh Rodahl (1989) didefinikan sebagai heart rate reserve (HR reserve).
HR reserve tersebut diekspresikan dalam presentase yang dihitung dengan
menggunakan rumus :
100
istirahat nadi Denyut maksimum nadi Denyut
istirahat nadi Denyut kerja nadi Denyut
Reserve %HR

=


2.1.4. Kalori dalam Makanan
3

Kandungan energi dalam makanan ditentukan dengan kalorimetri
langsung dengan menggunakan alat kalorimeter bom/bomb calorimeter. Energi
yang ditentukan melalui kalorimeter bom adalah nilai energi kasar makanan dan
mewakili energi kimia total dari makanan tersebut. Angka energi kasar untuk

3
Almatsier, Sunita.2001.Prinsip Dasar Ilmu Gizi.Hal :133-136.

karbohidrat adalah 4,1 kkal/g, untuk lemak 8,87 kkal/g, sedangkan untnuk protein
5.65 kkal/g.
Kebutuhan energi seseorang menurut FAO/WHO (1985) adalah konsumsi
energi berasal dari makanan yang diperlukan untuk menutupi pengeluaran energi
seseorang bila ia mempunyai ukuran dan komposisi tubuh dengan tingkat aktivitas
yang sesuai dengan kesehatan jangka panjang, dan yang memungkinkan
pemeliharaan aktivitas fisik yang dibutuhkan secara sosial dan ekonomi.
Kebutuhan energi total orang dewasa diperlukan untuk metabolisme basal,
aktivitas fisik, dan efek makanan atau pengaruh dinamik khusus. Kebutuhan
energi terbesar pada umumnya diperlukan untuk metabolisme basal.

2.2. Peningkatan Efesiensi Kerja Fisik
Gerakan-gerakan yang harus dilakukan oleh anggota tubuh manusia
khususnya tangan dan kaki pada saat melaksanakan kerja fisik akan sangat
ditentukan oleh kemampuan ototnya. Manusia bisa bergerak ataupun
menggerakkan anggota tubuhnya karena adanya sistem otot yang tersebar di
seluruh tubuhnya (lebih dari 45% berat badan). Kemampuan otot untuk
mengencang dan mengerut inilah yang akan menghasilkan tenaga (muscle power)
yang diperlukan untuk melakukan aktivitas fisik.
Tenaga otot dari seorang pekerja laki-laki yang diperoleh akibat
mengencangnya otot maksimal bisa mencapai 4 kilogram per cm2 luas
penampang otot. Dengan luas penampang otot sekitar 2 cm2, maka beban
maksimum bisa diangkat atau digerakkan bisa sebesar 12 kg . tengaa terbesar
dalam hal ini diperoleh
pada saat otot mulai mengencang. Energi mekanis yang mengencangnya otot
disebabkan oleh cadangan energi kimiawi dari otot. Di sini, glukosa yang
diperoleh dari zat makanan yang termasuk dan diolah dalam tubuh akan
merupakan sumber energi terpenting bagi bekerjanya otot di samping oksigen
yang dihirup dan diperlukan bagi proses pembakaran (metabolisme). Aliran darah
dalam hal ini akan berfungsi sebagai sarana untuk menyuplai glukosa dan oksigen
ke sistem otot yang bekerja dan juga membuang sisa-sisa pembakaran.
Agar penggunaan tenaga otot bisa optimal, maka pengaturan cara kerjanya
otot harus diperhatikan dengan benar. Dalam hal ini juga kegiatan otot dapat
dibedakan dalam 2 hal, yaitu :
1. Kerja otot dinamik (berirama)
2. Kerja otot statik (kerja bersikap/tetap)
Pada kerja dinamik, otot akan mengencang dan mengerut (mengendor)
secara bergantian atau berirama. Sedangkan pada kerja static atau bersikap di sini
akan berada pada posisi mengencang dalam waktu yang cukup lama.
Selama bekerja dinamik berlangsung, maka otot akan bekerja secara
bergantian sesuai dengan irama tegang/kencang tekan dan kendor seperti layaknya
kerja dari sebuah pompa yang membawa dampak pada kelancaran aliran darah.
Otot akan banyak sekali membawa/menerima glukosa dan oksigen pada saat
mengencang dan selanjutnya membuang metabolis (sisa hasil pembakaran atau
metabolisme) pada saat mengendor karena mekanisme mengencang dan
mengendornya otot terjadi secara bergantian. Maka sirkulasi aliran darah + O
2
dan
metabolis akan berlangsung secara lancar.
Sebaliknya yang terjadi dalam kerja otot secara statik dan mengencangnya
otot dalam waktu yang lama akan menyebabkan aliran darah terganggu menyuplai
glukosa dan oksigen terhambat dan metabolis tidak bisa segera terbuang. Kondisi
tersebut akan mengakibatkan rasa sakit dan lelah pada otot.
Maksimum tenaga yang bisa dihasilkan oleh otot manusia akan sangat
tergantung pada jenis kelamin (seks) dan umur. Puncak tenaga otot baik laki-laki
atau wanita akan berada pada umur antara 20-30 tahun. Pada umur sekitar 50-60
tahun tenaga otot hanya bisa menghasilkan sekitar 75% dari maksimumnya.
Selanjutnya berdasarkan fisologis bisa ditarik kesimpulan bahwa kekuatan otot
yang dihasilkan rata-rata wanita ternyata hanya sekitar 70% saja dari kekuatan
otot laki-laki. Oleh karena itu, dalam perancangan dan penyusunan diskripsi kerja
harus ada pertimbangan-pertimbangan khusus yang berkaitan dengan penyesuaian
kemampuan pekerja ditinjau dari kedua aspek (jenis kelamin dan umur).

2.3. Evaluasi Metode Kerja dengan Cara Pengukuran Energi yang
Dikonsumsi
Pengukuran fisiologis sering kali juga diaplikasikan sebagai dasar untuk
mengevaluasi dan menetapkan tata cara kerja yang harus diikuti. Suatu cara kerja
dibandingkan dengan cara kerja yang lain, dimana tolak ukur akan ditetapkan
berdasarkan pemakaian energi fisik yang paling minimal. Beberapa sikap dan cara
kerja tertentu yang harus diselesaikan dengan posisi berdiri tegak, duduk,
jongkok, ataupun harus membungkukkan badan ternyata memerlukan konsumsi
energi fisik yang berbeda-beda.
Dalam kasus pengukura fisiologis kerja yang dilakukan terhadap berbagai
macam cara membawa beban akan memberikan hasil yang berbeda-beda dalam
hal konsumsi energi yang harus dipikul. Dalam penelitian ini, pengukuran
fisiologis dilakukan dengan mengukur konsumsi oksigen yang dihirup bilamana
orang yang harus membawa beban dalam jumlah yang sama dengan berbagai
macam cara. Cara membawa beban dari hasil penelitian adalah:
1. Metode Double Pack
Dalam metode ini, beban dibawa dengan cara meletakkannya menempel di dekat
dada dan di bahu. Kebutuhan konsumsi oksigen dalam hal ini ternyata yang paling
kecil dibandingkan dengan cara lain. Bilamana kebutuhan O
2
dengan cara seperti
ini ditetapkan 100%, maka tolok ukur tersebut selanjutnya akan dipakai sebagai
referensi cara-cara lain untuk membawa beban yang sama.
2. Metode Head Pack
Metode Head Pack dilakukan dengan cara meletakkan beban di atas kepala.
Dalam kasus ini kebutuhan relatif untuk oksigen adalah sebesar 105%
dibandingkan dengan metode Double Pack.
3. Metode Yoke Pack
Dalam metode ini, beban diletakkan pada masing-masing ujung alat pemikul
badan. Di sini akan terjadi momen pada masing-masing ujung pikulan, sehingga
konsumsi relatif oksigen yang dibutuhkan juga lebih besar lagi yaitu sebesar
130%.
4. Metode Hands Pack
Pada metode ini, beban akan dibawa dengan kedua tangan. Cara semacam ini
ternyata memberikan hasil yang paling buruk, dimana konsumsi relatif oksigen
sekitar 145%. Selain itu otot menjadi kaku dan tangan akan memikul beban statis.
Beban kerja statik akibat rancangan kerja yang salah bisa dihindari dengan cara
membuat rancangan kerja yang memperhatikan ukuran tubuh manusia. Dengan
rancangan yang lebih ergonomis maka pekerja tidak lagi harus bekerja dengan
posisi membungkuk atau posisi lain yang tidak memberi kenyamanan bagi
anggota tubuh lainnya.

2.4. Kelelahan Akibat Kerja
2.4.1. Pengertian Kelelahan
4

Kelelahan adalah suatu mekanisme perlindungan tubuh agar tubuh
terhindar dari kerusakan lebih lanjut sehingga terjadi pemulihan setelah istirahat.
Kelelahan diatur secara sentral oleh otak. Pada susunan saraf pusat terdapat sistem
aktivasi yang bersifat simpatis dan inhibisi yang bersifat parasimpatis. Istilah
kelelahan biasanya menunjukkan koondisi yang berbeda-beda dari setiap individu,
tetapi semuanya bermuara kepada kehilangan efisiensi dan penurunan kapasitas
kerja serta ketahanan tubuh.
Kelelahan diklasifikasikan dalam dua jenis, yaitu kelelahan otot dan
kelelahan umum. Kelelahan otot merupakan tremor pada otot atau perasaan nyeri
pada otot. Sedangkan kelelahan umum biasanya ditandai dengan berkurangmya
kemauan untuk bekerja yang disebabkan oleh monotoni, intensitas dan lamanya
kerja fisik, keadaan lingkungan, mental, status kesehatan dan keadaan gizi
(Grandjean, 1993). Secara umum gejala kelelahan dapat dimulai dari yang sangat
ringan sampai perasaan yang sangat melelahkan. Kelelahan subjektif biasanya
terjadi pada akhir jam kerja, apabila rata-rata jam kerja melebihi 30% sampai 40%
dari tenaga aerobic.
Sampai saat ini masih berlaku dua teori tentang kelelahan otot yaitu teori
kimia dan teori saraf pusat terjadinya kelelahan. Pada teori kimia secara umum
menjelaskan bahwa terjadinya kelelahan adalah akibat berkurangnya cadangan

4
Sutalaksana, Iftikar Z.2005. Teknik Perancangan Sistem Kerja.Hal 73-75.
energi dan meningkatnya sisa metabolisme sebagai penyebab hilangnya efisiensi
otot, sedangkan perubahan arus listrik pada otot dan saraf adalah penyebab
sekunder. Sedangkan pada teori saraf pusat menjelaskan bahwa perubahan kimia
hanya merupakan penunjang proses.
Perubahan kimia yang terjadi mengakibatkan dihantarkannya rangsangan
saraf melalui saraf sensoris ke otak yang disadari sebagai kelelahan otot.
Rangsangan aferen atau rangsangan sensorik ini menghambat pusat-pusat otak
dalam mengendalikan gerakan sehingga frekuensi potensial kegiatan pada sel
saraf menjadi berkurang. Berkurangnya frekuensi tersebut akan menurunkan
kekuatan da kecapatan kontraksi otot dan gerakan atas perintah kemauan menjadi
lambat. Dengan demikian semakin lambat gerakan seseorang akan menunjukkan
semakin lelah kondisi otot seseorang.

2.4.2. Faktor Penyebab Terjadinya kelelahan Akibat Kerja
Grandjean (1991) menjelaskan bahwa faktor penyebab terjadinya kelelahan
di industri sangat bervariasi, dan untuk memelihara atau mempertahankan
kesehatan dan efisiensi, proses penyegaran harus dilakukan di luar tekanan.
Penyegaran terjadi terutama selama waktu tidur malam, tetapi periode istirahat
dan waktu-waktu berhenti kerja juga dapat memberikan penyegaran.
Kelelahan yang disebabkan oleh karena kerja statis berbeda dengan kerja
dinamis. Pada kerja otot dinamis, dengan pengerahan tenaga 50% dari kekuatan
maksimum otot hanya dapat bekerja selama 1 menit, sedangkan pada pengerahan
tenaga kurang dari 20% kerja fisik dapat berlangsung cukup lama. Tetapi
pengerahan tenaga otot statis sebesar 15% sampai 20% akan menyebabkan
kelelahan dan nyeri jika pembebanan berlangsung sepanjang hari. Astrand &
Rodhal (1997) berpendapat bahwa kerja dapat dipertahankan beberapa jam per
hari tanpa gejala kelelahan jika tenaga yang dikerahkan tidak melebihi 8% dari
maksimum tenaga otot.
Waters & Bhattacharya (1996) berpendapat bahwa kontraksi otot baik
statis maupun dinamis dapat menyebabkan kelelahan otot setempat. Kelelahan
tersebut terjadi pada waktu ketahanan otot terlampaui. Waktu ketahanan otot
tergantung pada jumlah tenaga ynag dikembangkan oleh otot sebagai suatu
persentase tenaga maksimum yang dapat dicapai oleh otot. Kemudian pada saat
kebutuhan metabolisme dinamis dan aktivitas melampaui kapasitas energi yang
yang dihasilkan oleh tenaga kerja, maka kontraksi otot akan terpengaruh sehingga
kelelahan seluruh badan terjadi.
Kemudian mereka merekomendasikan bahwa penggunaan energi tidak
melebihi 50% dari tenaga aerobik maksimum untuk kerja 1 jam, 40% untuk kerja
2 jam, dan 33% untuk kerja 8 jam terus menerus. Nilai tersebut didesain untuk
mencegah kelelahan yang dipercaya dapat meningkatkan risiko cedera otot
skeletal pada tenaga kerja.

2.4.3. Langkah-langkah Mengatasi Kelelahan
Kelelahan disebabkan oleh banyak faktor yang sangat komleks dan saling
mengkaitkan antara faktor yang satu dengan yang lainnya, yang terpenting adalah
bagaimana menanngani setiap kelelahan yang muncul agar tidak kronis. Agar
dapat menangani kelelahan dengan tepat, maka kuta harus dapat mengetahui apa
yang menjadi penyebab terjadinya kelelahan. Berikut akan diuraikan secara
skematis antara faktor penyebab terjadinya kelelahan, penyegaran dan cara
menangani kelelahan agar tidak menimbulkan risiko yang lebih parah.

Gambar 2.1. Penyebab Kelelahan, Cara Mengatasi dan Manajemen Resiko
Kelelahan

2.4.4. Pengukuran Kelelahan
Sampai saat ini belum ada cara untuk mengukur tingkat kelelahan secara
langsung. Pengukuran-pengukuran yang dilakukan oleh para peneliti sebelumnya
hanya berupa indikator-indikator yang menunjukkan terjadinya kelelahan akibat
kerja. Grandjean (1993) mengelompokkan metode pengukuran kelelahan dalam
beberapa kelompok sebagai berikut:
1. Kualitas dan kuantitas kerja yang dilakukan
Pada metode ini, kuantitas output digambarkan sebagai jumlah proses kerja
atau proses operasi yang dilakukan setiap unit waktu. Namun demikian
banyak yang harus dipertimbangkan seperti target produksi, faktor sosial, dan
prilaku psikologis dalam kerja. Sedangkan kualitas output (kerusakan produk,
penolakan produk) atau frekuensi kecelakaan dapat menggambarkan
terjadinya kelelahan, tetapi faktor tersebut bukanlah merupakan casual factor.


2. Uji psikomotor (Psychomotor test)
a. Pada metode ini melibatkan fungsi persepsi, interpretasi dan reaksi
monitor. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan pengukuran
waktu reaksi. Waktu reaksi adalah jangka waktu dari pemberian suatu
rangsang sampai pada suatu saat kesadaran atau dilaksanakan kegiatan.
Dalam hal uji waktureaksi dapat digunakan nyala lampu, denting suara,
sentuhan kulit atau goyangan badan. Terjadinya pemanjangan waktu
reaksi merupakan petunjuk adanya perlambatan pada proses faal saraf dan
otot.
b. Sanders dan McCormick mengatakan bahwa waktu reaksi adalah waktu
untuk membuat suatu respon yang spesifik saat satu stimuli terjadi. Waktu
terpendek biasanya berkisar antara 150 sampai dengan 200 milidetik.
Waktu reaksi tergantung dari stimuli yang dibuat, intensitas dan lamanya
perangsangan, umur subjek, dan perbedaan-perbedaan individu lainnya.
c. Setyawati melaporkan bahwa dalam uji waktu reaksi, ternyata stimuli
suara. Hal tersebut disebabkan karena stimuli suara lebih cepat diterima
oleh reseptor daripada stimuli cahaya.
d. Alat ukur waktu reaksi yang telah dikembangkan di Indonesia
menggunakan nyala lampu dan denting suara sebagai stimuli.
3. Uji hilangnya kelipan (flicker-fusion test)
Dalam kondisi yang lelah, kemampuan tenaga kerja untuk melihat kelipan
akan berkurang. Semakin lelah akan semakin panjang waktu yang diperlukan
untuk jarak antara dua kelipan. Uji kelipan, disamping untuk mengukur
kelelahan juga menunjukkan keadaan kewaspadaan tenaga kerja.
4. Perasaan kelelahan secara subjektif (Subjective feeling of fatigue)
a. Subjective Self Rating Test dan Industrial fatigue Research (IFRC) Jepang
, merupakan salah satu kuisioner yang dapat digunakan untuk mengukur
tingkat kelelahan subjektif. Kuesioner tersebut berisi 30 daftar pertanyaan
yang terdiri dari:
1. 10 pertanyaan tentang pelemahan kegiatan yang berisi tentang
perasaan berat dikepala, lelah diseluruh tubuh, berat dikaki, menguap,
pikiran kacau, mengantuk, ada beban pada mata, gerakan canggung
dan kaku, berdiri tidak stabil, dan ingin berbaring.
2. 10 pertanyaan tentang pelemahan motivasi yang berisi tentang susah
berpikir, lelah untuk berbicara, gugup, mudah lupa, sulit memusatkan
perhatian, mudah cemas, kepercayaan diri berkurang, sulit
mengontrol sikap, dan tidak tekun dalam pekerjaan
3. 10 pertanyaan tentang gambaran kelelahan fisik yang berisi tentang
sakit di kepala, kaku di bahu, nyeri di punggung, sesak nafas, haus,
suara serak, merasa pening, spasme di kelopak mata, tremor pada
anggota badan, dan kurang sehat.
b. Sinclair menjelaskan beberapa metode yang dapat digunakan dalam
pengukuran subjektif. Metode tersebut antara; ranking methods, rating
methods, questionnaire methods, interviews, dan checklist.
5. Uji mental
Pada metode ini konsentrasi merupakan salah satu pendekatan yang dapat
digunakan untuk menguji ketelitian dan kecepatan menyelesaikan pekerjaan.
Bourdon Wiersma test, merupakan salah satu alat yang dapat digunakan untuk
menguji kecepatan, ketelitian dan konstansi. Hasil test akan menunjukkan
bahwa semakin lelah seseorang maka tingkat kecepatan, ketelitian dan
konstansi akan semakin rendah atau sebaliknya. Namun demikian Bourdon
Wiersma test lebih tepat untuk mengukur kelelahan akibat aktivitas atau
pekerjaan yang lebih bersifat mental.

2.5. Beban Kerja
2.5.1. Faktor yang Mempengaruhi Beban Kerja
Menurut Rodahl (1989), Adiputro (2000) dan Manuaba (2000) bahwa
secara umum sehubungan dengan beban kerja dan kapasitas kerja dipengaruhi
oleh berbagai faktor yang sangat kompleks, baik faktor eksternal dan internal.
1. Beban kerja karena faktor eksternal
Faktor eksternal adalah beban kerja yang berasal dari luar tubuh pekerja,
yang termasuk beban kerja eksternal adalah tugas (task) itu sendiri, organisasi
dan lingkungan kerja. Ketiga faktor tersebut disebut stressor.
a. Tugas-tugas (tasks) yang dilakukan baik yang bersifat fisik, seperti
stasiun kerja, kondisi atau medan, sikap kerja, dan lain-lain. Sedangkan
tugas-tugas yang bersifat mental seperti kompleksitas pekerjaan, atau
tingkat kesulitan pekerjaan yang mempengaruhi tingkat emosi pekerja,
tanggung pekerja, dan lain-lain.
b. Organisasi kerja yang dapat mempengaruhi beban kerja seperti lamanya
waktu kerja, waktu istirahat, kerja bergilir, kerja malam, sistem
pengupahan, sistem kerja, musik kerja, pelimpahan dan wewenang kerja,
dan lain-lain.
c. Lingkungan kerja yang dapat memberikan beban tambahan kepada
pekerja adalah :
1. Lingkungan kerja fisik seperti: mikroklimat, intensitas kebisingan,
intensitas cahaya, vibrasi mekanis, dan tekanan udara
2. Lingkungan kerja kimiawi seperti debu, gas-gas pencemar udara,
dan lain-lain.
3. Lingkungan kerja biologis, seperti bakteri, virus, parasit, dan lain-
lain.
4. Lingkungan kerja fisiologis seperti penempatan dan pemilihan
karyawan, hubungan sesama pekerja, pekerja dengan atasan,
pekerja dengan lingkungan sosial, dan lain-lain.
2. Beban kerja karena faktor internal
Faktor internal beban kerja adalah faktor yang berasal dari dalam tubuh itu
sendiri sebagai akibat adanya reaksi dari beban kerja eksternal. Reaksi
tersebut disebut strain, besar kecilnya strain dapat dinilai baik secara objektif
maupun subjektif. Secara objektif yaitu melalui perubahan reaksi fisiologis,
secara subjektif dapat melalui perubahan fisiologis dan perubahan perilaku.
Secara singkat faktor internal meliputi :
a. Faktor somatic (jenis kelamin, umur, ukuran tubuh, kondisi kesehatan,
kondisi kesehatan).
Faktor psikis (motivasi, persepsi, kepercayaan, keinginan, kepuasan, dan lain-
lain).

2.5.2. Penilaian Beban Kerja Fisik
Menurut Astrand dan Rodahl (1977) dan Rodahl (1989) bahwa penilaian
beban fisik dapat dilakukan dengan dua metode secara objektif, yaitu penelitian
secara langsung dan metode tidak langsung. Metode pengukuran langsung yaitu
dengan mengukur oksigen yang dikeluarkan (energi expenditure) melalui asupan
energi selama bekerja. Semakin berat kerja semakin banyak energi yang
dikeluarkan. Meskipun metode dengan menggunakan asupan oksigen lebih akurat,
namun hanya mengukur secara singkat dan peralatan yang diperlukan sangat
mahal.
Lebih lanjut Christensen (1991) dan Grandjean (1993) menjelaskan bahwa
salah satu pendekatan untuk mengetahui berat ringannya beban kerja adalah
dengan menghitung nadi kerja, konsumsi energi, kapasitas ventilasi paru dan suhu
inti tubuh. Pada batas tertentu ventilasi paru, denyut jantung, dan suhu tubuh
mempunyai hubungan yang linear dengan konsumsi oksigen atau pekerjaan yang
dilakukan. Kemudian Konz (1996) mengemukakan bahwa denyut jantung adalah
suatu alat estimasi laju metabolisme yang baik, kecuali dalam keadaan emosi dan
konsodilatasi. Kategori berat ringannya beban kerja didasarkan pada metabolisme
respirasi, suhu tubuh, dan denyut jantung menurut Christensen, dapat dilihat pada
Tabel 2.1.






Tabel 2.1. Kategori Beban Kerja Berdasarkan Metabolisme Respirasi, Suhu
Tubuh, dan Denyut Jantung
Kategori
Beban Kerja
Konsumsi
Oksigen
Ventilasi
Paru
Suhu
Rectal
Denyut Jantung
Ringan 0,5-1 11-20 37,5 75-100 x/menit
Sedang 1-1,5 20-31 37,5-38 100-125 x/menit
Berat 1,5-2 31-43 38-38,5 125-150 x/menit
Sangat Berat 2-2,5 43-56 38,5-39 150-175 x/menit
Berat Sekali 2,5-4,0 60-100 >39 >175 x/menit

Berat ringannya beban kerja yang diterima oleh seorang tenaga kerja dapat
digunakan untuk menentukan berapa lama seorang tenaga kerja dapat melakukan
aktivitas kerjanya sesuai dengan kemampuan atau kapasitas kerja yang
bersangkutan. Di mana semakin berat beban kerja, maka akan semakin pendek
waktu seseorang untuk bekerja tanpa kelelahan dan gangguan fisiologis yang
berarti atau sebaliknya. Kerja fisik dikelompokkan oleh David dan Miller :
a. Kerja total seluruh tubuh, yang mempergunakan sebagian besar otot biasanya
melibatkan dua pertiga atau tiga perempat oleh otot tubuh.
b. Kerja sebagian otot, yang membutuhkan lebih sedikit energi expenditure karena
otot yang dipergunakan lebih sedikit.
c. Kerja otot statis, yaitu otot yang dipergunakan untuk menghasilkan gaya, tetapi
tanpa kerja mekanik membutuhkan kontraksi sebagian otot.
Namun, sampai saat ini metode pengukuran fisik dilakukan dengan
menggunakan standar :
1. Konsep HorsePower (Foot-Pounds of Work Per Minute) oleh Taylor, tapi
tidak memuaskan.
2. Tingkat konsumsi energi untuk mengukur pengeluaran energi.
3. Perubahan tingkat kerja jantung dan konsumsi oksigen (dengan metode
terbaru).


2.5.2.1. Penilaian Beban Kerja Secara Lansung
Penilaian beban kerja fisik secara langsung dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu :
1. Metode Heart Rate reserve (HR reserve)
Untuk melakukan penilaian beban kerja fisik dengan menggunakan metode
ini, dapat ditentukan klasifikasi beban kerjanya berdasarkan peningkatan
cardiac output dari istirahat sampai kerja maksimum. Peningkatan yang
potensial dalam denyut nadi dari istirahat sampai kerja maksimum tersebut
oleh Rodhal (1989) didefenisikan sebagai heart rate reserve (HR reserve). HR
reserve tersebut diekspresikan dalam persentase yang dapat dihitung dengan
menggunakan rumus sebagai berikut :
100
istirahat nadi Denyut - maksimum nadi Denyut
istirahat nadi Denyut - kerja nadi Denyut
Reserve HR % x =


2. Metode Cardiovasculair Load (CVL)
Menurut Manuaba & Vanwonterghem (1996), untuk melakukan penilaian
beban kerja fisik dengan menggunakan metode ini, dapat ditentukan
klasifikasi beban kerjanya berdasarkan peningkatan denyut nadi verja yang
dibandingkan dengan denyut nadi maksimum karena beban kardiovaskuler
(cardiovasculair load = %CVL) yang dihitung dengan humus sebagai berikut:
istirahat) nadi Denyut - maksimum nadi (Denyut
istirahat) nadi Denyut - kerja nadi (Denyut x 100
CVL % =
Dimana denyut nadi maksimum adalah (220 umur) untuk laki-laki dan (200
umur) untuk wanita.
Dari hasil penghitungan % CVL tersebut kemudian dibandingkan dengan
klasifikasi yang telah ditetapkan sebagai berikut :
< 30% = Tidak terjadi kelelahan
30 s.d. < 60% = Diperlukan perbaikan
60 s.d. < 80% = Kerja dalam waktu singkat
80 s.d. < 100% = Diperlukan tindakan segera
> 100% = Tidak diperbolehkan beraktivitas

2.5.2.2. Penilaian Beban Kerja Secara Tidak Lansung
Penilaian beban kerja fisik secara tidak langsung dapat dilakukan dengan
cara metode Brouha. Kilbon (1992) mengusulkan denyut nadi pemulihan atau
dikenal dengan metode Brouha. Keuntungan dari metode ini adalah sama sekali
tidak mengganggu atau menghentikan pekerjaan, karena pengukuran dilakukan
tepat estela subjek berhenti bekerja. Denyut nadi pemulihan (P) dihitung pada
akhir 30 detik pada menit pertama, kedua, dan ketiga.
P
1,
P
2,
dan P
3
adalah rata-rata dari ketiga tersebut dan dihubungkan
dengan total cardiac cost dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Jika P
1
P
3
> 10 atau P
1,
P
2,
dan P
3
seluruhnya < 90, maka nadi pemulihan
normal.
2. Jika rata-rata P
1
yang tercatat 110, dan P
1
P
3
> 10,maka beban kerja tidak
berlebihan.
3. Jika P
1
P
3
< 10, dan jika P
3
> 90, perlu ada perbaikan.
Laju pemulihan denyut nadi dipengaruhi oleh nilai absolut denyut nadi
pada ketergantungan pekerjaan (the interruption of work), tingkat kebugaran
(individual fitness) dan pemaparan panas lingkungan. Jika nadi pemulihan tidak
segera tercapai, maka diperlukan redesign pekerjaan untuk mengurangi tekanan
fisik. Redesign tersebut dapat berupa variabel tunggal maupun variabel
keseluruhan dari variabel bebas (tasks, organisasi kerja, dan lingkungan kerja)
yang menyebabkan beban kerja tambahan.

2.6. Penentuan Waktu Kerja dan Waktu Istirahat
Kelelahan tubuh yang merupakan akibat dari perpanjangan kerja adalah
konsekuensi kehabisan energi tubuh, dimana beban kerja yang diterima lebih
besar dari konsumsi enegi yang ada pada tubuh. Kelelahan dapat mengakibatkan
operator kehilangan konsentrasi saat bekerja, produktivitas rendah, sehingga
sering melakukan kesalahan saat bekerja yang dapat merugikan perusahaan. Oleh
karena itu hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi kelelahan adalah dengan
memberikan waktu istirahat yang cukup untuk proses pemulihan pemulihan
kondisi fisik yang lelah, dan melakukan pengaturan waktu kerja.
Beberapa penelitian telah berhasil membuktikan bahwa pengaturan waktu
kerja yang diselingi dengan beberapa kali waktu istirahat di samping juga
perubahan lamanya periode waktu kerja bisa memberikan dampak perubahan
terhadap efisiensi operator. Pengaturan waktu kerja-waktu istirahat harus
disesuaikan dengan sifat, jenis pekerjaan, dan faktor lingkungan yang
mempengaruhinya seperti lingkungan kerja panas, dingin, bising, berdebu, dan
lain-lain. Namun demikian secara umum, di Indonesia telah ditetapkan lamanya
waktu kerja sehari maksimum adalah 8 jam kerja dan selebihnya adalah waktu
istirahat (untuk kehidupan keluarga dan sosial kemasyarakatan).
Memperpanjang waktu kerja lebih dari itu hanya akan menurunkan
efisiensi kerja, meningkatkan kelelahan, kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
Dari sudut pandang fisiologi, kerja lembut sangat merugikan kesehatan. Dalam
putaran 24 jam sehari terdapat 3 siklus keseimbangan tubuh yaitu 8 jam kerja, 8
jam interaksi sosial, dan 8 jam istirahat.
Dalam hal lamanya waktu kerja melebihi ketentuan yang telah ditetapkan
(8 jam per hari atau 40 jam seminggu), maka perlu diatur waktu-waktu istirahat
khusus agar kemampuan kerja dan kesegaran jasmani tetap dapat dipertahankan
dalam batas-batas rtoleransi. Pemberian waktu istirahat tersebut secara umum
dimaksudkan untuk:
1. Mencegah terjadinya kelelahan yang berakibat kepada penurunan kemampuan
fisik dan mental serta kehilangan efisiensi kerja.
2. Memberi kesempatan tubuh untuk melakukan pemulihan atau penyegaran.
3. Memberi kesempatan waktu untuk melakukan kontak sosial.
Kaitannya dengan masalah waktu istirahat, berdasarkan pengalaman dan
pengamatan di lapangan, ternyata terdapat empat jenis istirahat yang dilakukan
oleh para pekerja selama jam kerja berlangsung, yaitu istirahat secara spontan,
istirahat curian, istirahat oleh karena adanya hubungan dengan proses kerja dan
istirahat yang merupakan ketetapan resmi.
Untuk menghitung lamanya waktu kerja marilah kita mengikuti rumus
berikut ini:


Tw = 25/E - 5
Keterangan :
E = konsumsi energi selama bekerja (kkal/menit)
( E 5,0) = habisnya cadangan energi (kkal/menit)
Tw = waktu kerja (menit)
Sedangkan untuk menghitung lamanya waktu istirahat kita dapat
menggunakan rumus berikut ini:
R
T
= 0 ; untuk k < 3
R
T
= {(k/S 1) x 100 +(k S)/ (k BM )}/2 ; untuk S k 2S
R
T
= T (k S) / k BM ) x 1,11 ; untuk k > 2S
Keterangan :
K = E
t
- E
i
(kkal/menit)
E
t
( konsumsi energi saat bekerja)
E
i
( konsumsi energi saat istirahat)
R
T
= Waktu Istirahat (menit)
S = Pengeluaran energi rata-rata yang direkomendasikan (kkal/menit)
BM = Basal Metabolism
BM
F
= 1,4
BM
M
= 1,7

2.7. Biomekanika
2.7.1. Pengertian Biomekanika
5

Biomekanika merupakan ilmu yang membahas aspek-aspek dari gerakan
tubuh manusia dan kombinasi antara keilmuan mekanika, antropometri dan dasar
ilmu kedokteran (biologi dan fisiologi). Menurut Adrian et al (1989), biomekanika
merupakan ilmu yang menyelidiki, menggambarkan, dan menganalisis beberapa
gerakan manusia.
Menurut Frankel & Nordin, biomekanika menggunakan konsep fisika
teknik untuk menjelaskan gerakan pada berbagai macam bagian tubuh dan gaya

5
Philips. 2000. Human Factors Engineering. Hal 35-36
yang bekerja pada bagian tubuh pada aktivitas sehari-hari. Menurut Cavin &
Anderson (1984), occupational biomechanic adalah ilmu yang mempelajari
hubungan antara pekerja dan peralatannya, lingkungan kerja, dan lain-lain untuk
meningkatkan performansi dan meminimalisasi kemungkinan cidera.
Biomekanika dan cara kerja adalah pengaturan sikap tubuh dalam bekerja.

2.7.2. Keterkaitan Biomekanika dengan Ergonomi
6

Setiap hari manusia selalu terlibat dengan kegiatan-kegiatannya yang
memerlukan tenaga. Hal yang harus kita perhatikan yaitu: mengatur sedemikian
rupa posisi tubuh, sehingga dapat bekerja atau bergerak dalam keadaan nyaman
tanpa mempengaruhi hasil kerjanya. Tubuh manusia dapat dianggap sebagai suatu
mesin, dimana untuk melaksanakan kegiatannya dibatasi oleh serangkaian
hukum-hukum alam.
Kemampuan manusia untuk melaksanakan kegiatannya tergantung pada
struktur fisik dari tubuhnya yang terdiri dari sebagaimana yang kita ketahui,
perancangan suatu produk berdasarkan prinsip human centre design. Artinya
suatu produk dirancang berpusat pada manusia pemakainya. Produk yang
dirancang tersebut harus memperhatikan batasan massa beban yang dimiliki oleh
manusia penggunanya. Tujuannya adalah untuk menghasilkan produktivitas yang
tinggi.
Dasarnya gerakan dibagi menjadi 2 kategori, yaitu: gerakan terencana dan
gerakan tidak terencana. Semua jenis gerakan pada organ tubuh dilakukan oleh
kontraksi otot. Gerakan biomekanik ditujukan untuk mendapatkan gerakan yang
efisien. Hukum dasar dalam biomekanika dirumuskan oleh Isaac Newton (1643-
1727). Pada awalnya Newton mengembangkan hukum gerakan dan menjelaskan
gerak gaya tarik gravitasi antara dua benda.

2.7.3. Ruang Lingkup Biomekanika

6
Tarwaka, dkk. 2004. Ergonomi untuk Keselamatan Kesehatan Kerja dan Produktivitas.
Hal 127-128

Biomekanika merupakan kombinasi antara disiplin ilmu mekanika terapan
dan ilmu-ilmu biologi dan fisiologi. Sesuai dengan defenisinya, biomekanika
merupakan ilmu yang mempelajari aspek-aspek gerakan tubuh manusia, dan
dalam mempelajari aspek-aspek gerakan tersebut, data antropometri, prinsip-
prinsip mekanika dan sistem dalam biologi serta kedokteran dipakai dalam
penyusunan konsep, analisis, dan perancangan sistem kerja serta peralatan.

2.8. NIOSH (National Instituteof Occupational Safety and Health)
2.8.1. Latar Belakang Berdirinya NIOSH
Berdasarkan data statistika yang didapat dari Departemen Tenaga Kerja
Amerika Serikat (Accident Facts, 1990), cedera tulang belakang adalah salah satu
kecelakaan keja yang paling sering terjadi dan paling banyak membutuhkan biaya
untuk pengobataannya. Salah satu penyebab dari cedera ini adalah overload yang
dipikul oleh tulang belakang dan 60% dari overload ini disebabkan oleh pekerjaan
mengangkat barang, 20% dari pekerjaan mendorong atau menarik barang dan
20% akibat membawa barang. Di dalam suatu industri yang seharusnya
memberikan perhatian khusus pada masalah kesehatan dan keselamatan kerja, hal
ini menjadi suatu masalah yang harus diatasi karena penanganan pada masalah itu
sendiri pada akhirnya dapat mengakibatkan kerugian bagi perusahaan. Oleh sebab
itu, perlu dilakukan pencegahan timbulnya kecelakaan pada saat bekerja dengan
cara merancang suatu sistem kerja yang ergonomis.
Untuk menjawab permasalahan tentang kesehatan dan keselamatan kerja
tersebut, maka pemerintah Amerika Serikat mengambil kebijakan untuk
mendirikan suatu organisasi yang bertugas untuk melakukan penelitian dan
mengajukan rekomendasi untuk pencegahan pekerjaan yang dapat menimbulkan
cedera atau penyakit. Badan organisasi ini diberi nama National Institute of
Occupational Safety and Health (NIOSH) dan secara resmi didirikan pada tanggal
29 Desember 1970, di mana anggotanya terdiri dari orang-orang dari beragam
organisasi profesional dengan staf pekerja lebih dari 1400 orang yang mewakili
berbagai disiplin ilmu termasuk epidemiologi, kedokteran, industri kebersihan,
keamanan, psikologi, teknik, kimia, dan statistik yang berperan sebagai Pusat
Pengendalian dan Pencegahan Penyakit atau Centres for Desease Control and
Prevention (CDC). NIOSH berkantor pusat di Washington DC, Amerika Serikat
dan riset laboratoriumnya berada di Cincinnati, Morgantown, Pittsburgh,
Spokane, WA, dan Atlanta.

2.8.2. Fungsi dan Tujuan Berdirinya NIOSH
7

Sesuai dengan nama intitusi resminya, secara umum NIOSH lebih
menekankan pada fungsi dan perannya sebagai institusi nasional yang mengambil
bagian dalam menciptakan kesejahteraan karyawan melalui penganalisaan
terhadap kesehatan dan keselamatan kerja. Selain itu, NIOSH juga memiliki
beberapa fungsi lain, yaitu:
1. Melakukan pengamatan yang disertai dengan identifikasi terhadap masalah-
masalah yang ada dalam suatu perusahaan yang pada kaitannya dapat
mengakibatkakan terjadinya kecelakaan kerja .
2. Mengevaluasi bahaya di tempat kerja, mulai dari bahan-bahan kimia untuk
mesin, peralatan, serta tata letak mesin yang berada pada posisi yang kurang
aman.
3. Melakukan penyelidikan terhadap tempat kerja di bawah wewenang dari
Occupational Safety and Health Act (Undang-undang Keselamatan dan
Kesehatan Pekerja).
NIOSH juga mempunyai beberapa tujuan yang mendukung peran dan
fungsinya, yaitu :
1. Merekomendasikan suatu metode kerja yang dinilai efektif untuk mencegah
terjadinya penyakit, cedera, dan cacat karena bahaya kerja.
2. Melakukan penelitian dan memberikan rekomendasi ilmiah, misalnya
merumuskan persamaan pengangkatan (lifting equation) yang bertujuan
untuk melindungi pekerja.
3. Menetapkan standar kesehatan dan keselamatan kerja bagi suatu perusahaan.
4. Memberikan informasi mengenai batas-batas keamanan dari zat-zat kimia
yang terdapat pada bahan baku ataupun pada mesin dan peralatan, sehingga

7
www.efka.utm.my/2009/Fungsi dan Tujuan NIOSH.doc
dapat dilakukan pencegahan dan solusi akibat penggunaan barang yang
berbahaya bagi kesehatan.
5. Menguji peralatan perlindungan pribadi dan bahaya dari instrumen
pengukuran.

2.9. Manual Material Handling dan Masalah-masalah yang Dihadapi
8

Peranan manusia sebagai sumber tenaga kerja masih dominan dalam
menjalankan proses produksi terutama kegiatan yang bersifat manual. Salah satu
bentuk peranan manusia adalah aktivitas pemindahan material secara manual
(Manual Material Handling / MMH). Penggunaan MMH yang dominan bukanlah
tanpa sebab, MMH memiliki keunggulan dalam hal fleksibilitas yang tinggi dan
murah dibandingkan dengan alat transportasi (alat bantu pemindahan material)
lainnya. Kelebihan MMH bila dibandingkan dengan penanganan material
menggunakan alat bantu adalah pada fleksibilitas gerakan yang dapat dilakukan
untuk beban-beban ringan. Akan tetapi aktivias MMH dalam pekerjaan-pekerjaan
industri banyak diidentifikasi beresiko besar sebagai penyebab penyakit tulang
belakang (low back pain) akibat dari penanganan material secara manual yang
cukup berat dan posisi tubuh yang salah dalam bekerja.
Faktor lain yang dapat menyebabkan penyakit ini adalah beban kerja yang
berat, postur kerja yang salah dan pengulangan pekerjaan yang tinggi, serta
adanya getaran terhadap keseluruhan tubuh. Faktor-faktor yang dapat
menimbulkan adanya gangguan pada tubuh manusia jika pekerjaan berat
dilakukan secara terus menerus akan berakibat buruk pada kondisi kesehatan
pekerja terutama dalam jangka waktu yang panjang. Hampir seluruh kegiatan
utama manusia dalam sebuah industri dilakukan dengan penanganan bahan secara
manual. Kebanyakan operator dalam sebuah industri diminta untuk melakukan
perakitan barang, mengangkut bahan baku, dan berbagai kegiatan lainnya yang
memiliki kemungkinan timbulnya kecelakaan kerja. Berbagai data statistik
mengenai kecelakaan kerja akibat manual material handling adalah sebagai
berikut:

8
http://repository.usu.ac.id/2010/Tugas Akhir.pdf
1. Hampir 25% kecelakaan yang terjadi dalam sebuah industri setiap tahunnya
diakibatkan karena manual material handling.
2. Mengangkat dan mengangkut barang mengakibatkan 50-60% keluhan sakit
pada punggung bagian bawah.
3. Orang yang bekerja selama kurang dari 3 tahun dalam pekerjaannya memiliki
banyak keluhan tentang kesehatan.
4. Populasi yang berusia 30-45 tahun merupakan penderita sakit pinggang
dengan jumlah paling tinggi.
5. Postur kerja yang buruk mengakibatkan kecelakaan kerja dengan persentase
12-19%.
6. Biaya untuk operator yang menderita keluhan sakit pinggang akibat bekerja,
yang harus ditanggung oleh perushaan setiap tahunnya adalah US$ 4,6 milliar.
Untuk mengurangi resiko kecelakaan akibat kerja manual tersebut, maka
diperlukan kontrol terhadap manual material handling. Kontrol terhadap manual
material handling dilakukan dengan mengevaluasi potensi kecelakaan kerja yang
melalui beberapa pendekatan penyelesaian masalah, yaitu:
1. Pendekatan epidemiologis. Pendekatan ini mengidentifikasi sifat-sifat
pekerjaan, area kerja, dan faktor-faktor lainnya untuk mendapatkan beberapa
kecenderungan yang dapat mengakibatkan kecelakaan akibat kerja.
2. Pendekatan biomekanika. Pada pendekatan ini, yang diidentifikasi adalah
besar gaya/tumpuan dan momen dari elemen gerakan tubuh yang bervariasi
untuk memperkirakan karakteristik beban dan pekerjaan yang dapat
menyebabkan kecelakaan kerja.
3. Pendekatan psiko-fisika. Pada tipe analisis ini, pengamat merancang beban dan
pekerjaan yang disesuaikan dengan kemampuan masing- masing operator.
Pendekatan fisiologis. Pendekatan ini mengevaluasi sebuah tugas penanganan
(handling task) dengan menggunakan parameter fisiologis, seperti denyut
jantung, tekanan darah, konsumsi oksigen, dan penumpukan asam laktat.


2.10. Macam-macam Persamaan Pembebanan
Di dalam suatu industri maupun dalam kehidupan sehari- hari sering kali
manusia dihadapkan pada kegiatan mengangkat, mendorong atau memindahkan
barang yang bobotnya berbeda-beda. Mungkin beban yang diangkat masih dapat
ditoleransi. Namun, pada suatu industri yang mengharuskan karyawannya untuk
mengangkat atau memindahkan bahan baku dari satu stasiun kerja menuju stasiun
kerja yang lain, hal ini dapat menjadi masalah yang serius karena terkadang tanpa
disadari ternyata beban yang diangkat melebihi batas wajar yang dapat ditahan
oleh tubuh sehingga sering menimbulkan kecelakaan kerja. Oleh karena itu, suatu
perusahaaan atau industri harus mengetahui terlebih dahulu batas wajar berat
beban yang dapat diangkat oleh operator. Ada empat pendekatan terhadap batasan
dari massa beban yang diangkat, yaitu:
1. Batasan Legal (Legal Limitations)
Batasan ini menetapkan batasan pembebanan resmi bagi seorang operator agar
tercipta suasana kerja yang aman dan sehat. Batasan ini dipakai pada berbagai
negara bagian di benua Australia dengan ketetapan sebagai berikut:
a. Batas maksimum pengangkatan untuk pria di bawah usia 16 tahun adalah
14 kg.
b. Batas maksimum pengangkatan untuk pria berusia antara 1618 tahun
adalah 18 kg.
c. Untuk pria yang berusia >18 tahun tidak ada batasan angkat.
d. Batas maksimum pengangkatan untuk wanita berusia antara 1618 tahun
adalah 11 kg.
e. Batas maksimum pengangkatan untuk wanita berusia >18 tahun adalah
18kg.
2. Batasan Biomekanika (Biomechanical Limitations)
Batasan biomekanika menekankan pada batas kemampuan tubuh ditinjau dari
faktor-faktor mekanika yang meliputi rentang postur atau posisi aktivitas kerja,
ukuran beban, dan ukuran manusia. Sedangkan kriteria keselamatannya
didasarkan pada beban tekan tulang sebagai alat gerak aktif.
3. Batasan Fisiologi (Physiological Limitations)
Batasan ini ditetapkan dengan mempertimbangkan aspek fisiologis tubuh
manusia, yaitu berupa tetapan terhadap rata-rata beban metabolisme dari
aktivitas angkat yang berulang (repetitive lifting), pengukuran langsung
terhadap tekanan dalam perut selama aktivitas angkat.
4. Batasan Psiko-fisik (Phycho-physical Limitations)
Batasan ini ditetapkan berdasarkan penentuan berat beban maksimum pada
berbagai keadaan dan posisi atau ketinggian beban yang berbeda-beda. Ada
tiga macam kategori posisi angkat, yaitu :
a. Knuckle height, yaitu posisi angkat dari permukaan lantai ke ketinggian
genggaman tangan.
b. Shoulder height, yaitu posisi angkat dari ketinggian genggaman tangan ke
ketinggian bahu.
c. Vertical arm reach, yaitu posisi angkat dari ketinggian bahu ke jangkauan
maksimum tangan.

2.10.1. AL (Action Limit)
AL (Action Limit ) adalah batas pembebanan untuk sebagian besar
individu (batasan gaya angkat normal). AL (Action Limit) didefinisikan dengan
persamaan berikut:


atau


H = jarak horizontal lokasi beban ke depan dari titik tengah antara
pergelangan kaki dari asal pengangkatan (dalam inci).
V = jarak vertikal kedua tangan dengan lantai (dalam inci).
D = jarak perbedaan ketinggian vertikal antara destination dan origin dari
pengangkatan (dalam inci).
F = frekuensi rata-rata pengangkatan (lift/menit)
F
max
= frekuensi maksimal lifting yang dapat dipertahankan (dari meja NIOSH)
AL (kg) = 45(15/H)(1-0.004/V-75)(0,7+7,5/D)(1-F/Fmax)

AL (lb) = 90(6/H)(1-0.001/V-30)(0,7+3/D)(1-F/Fmax)


2.10.2. MAWL (Maximum Acceptable Weight of Lift)
Maximum Acceptable Weight Limit (MAWL) merupakan batas berat
maksimum yang dapat diterima oleh seorang pekerja. Faktor-faktor yang
mempengaruhi MAWL adalah frekuensi, titik awal angkatan, jarak angkatan, tipe
angkatan (simetri atau tidak simetri), ukuran, dan berat jenis barang yang
diangkat.

1. Frekuensi
Pengaruh dari perbedaan frekuensi lebih besar dari pengaruh perbedaan ukuran
barang yang diangkat (Mital, 1984). Dari beberapa penelitian, ditemukan
bahwa kenaikan frekuensi berpengaruh secara signifikan terhadap beban yang
bisa diangkat. Salah satu studi menyatakan bahwa beban yang diangkat turun
sekitar 29% bila frekuensi naik dari 1 menjadi 12 angkatan per menit.
2. Titik awal angkatan
Nilai MAWL akan turun bila titik awal angkatan berubah dari lantai ke bahu
(Mital, 1984).
3. Jarak vertikal
Semakin besar jarak vertikal angkatan, maka berat beban yang bisa diangkat
akan semakin rendah (Ciriello and Snook, 1983).
4. Tipe angkatan
Tipe angkatan merupakan faktor simetri dan tidak simetrinya angkatan yang
dilakukan. Bila suatu angkatan membentuk sudut antara awal angkatan dan
akhir angkatan, maka dikatakan bahwa angkatan tersebut adalah jenis asimetri.
Makin besar sudut ini, makin kecil pula beban yang bisa diangkat. Dalam
banyak penelitian, faktor ini merupakan faktor yang signifikan dalam
menentukan MAWL.
Di samping faktor- faktor tersebut, MAWL juga akan bertambah sesuai
dengan pertambahan berat badan. Namun, dalam hal ini usia tidak memiliki
pengaruh yang signifikan terhadap MAWL. Pengalaman kerja yang lebih banyak
dengan bertambahnya usia merupakan kompensasi dari faktor usia itu sendiri.

2.10.3. MPL (Maximum Permissible Limit)
9

MPL merupakan batas besarnya gaya tekan pada segmen L5/S1 dari
kegiatan pengangkatan dalam satuan Newton yang distandarkan oleh NIOSH
(National Instiute of Occupational Safety and Health) tahun 1981. Besar gaya
tekannya adalah di bawah 6500 N pada L5/S1. Sedangkan batasan gaya angkatan
normal (the Action Limit) sebesar 3500 pada L5/S1. Sehingga, apabila Fc < AL
(aman), AL < Fc < MPL (perlu hati-hati) dan apabila Fc > MPL (berbahaya).
Batasan gaya angkat maksimum yang diijinkan, yang direkomendasikan
oleh NIOSH (1991) adalah berdasarkan gaya tekan sebesar 6500 N pada L5/S1,
namun hanya 1% wanita dan 25% pria yang diperkirakan mampu melewati
batasan angkat ini. Perlu diperhatikan bahwa nilai dari analisa biomekanika
adalah rentang postur atau posisi aktivitas kerja, ukuran beban, dan ukuran
manusia yang dievaluasi. Sedangkan kriteria keselamatan adalah berdasarkan
pada beban tekan (compression load) pada intebral disk antara lumbar nomor
lima dan sacrum nomor satu (L5/S1).
Analisa dari berbagai macam pekerjaan yang menunjukkan rasa nyeri
(ngilu) berhubungan erat dengan beban kompresi (tekan) yang terjadi pada
(L5/S1), demikian kata Chaffin dan Park (1973). Telah ditemukan pula bahwa 85-
95% dari penyakit hernia pada disk terjadi dengan relatif frekuensi pada L4/L5
dan L5/S1. Kebanyakan penyakit tulang belakang adalah merupakan hernia pada
intervertebral disk, yaitu keluarnya inti intervertebral (pulpy nucleus) yang
disebabkan oleh rusaknya lapisan pembungkus intervertebral disk. Evan dan
Lissner (1962) dan Sonoda (1962) melakukan penelitian dengan uji tekan pada
spine (tulang belakang). Mereka menemukan bahwa tulang belakang yang sehat
tidak mudah terkena hernia, akan tetapi lebih mudah rusak atau retak jika
disebabkan oleh beban yang ditanggung segmen tulang belakang (spinal) dan
yang terjadi diawali oleh rusaknya bagian atas atau bawah segmen tulang
belakang (the castilage end-plates in the vertebrae).

9
http://apk.lab.uii.ac.id/2009/Modul Regular Biomekanika.pdf

Retak kecil yang terjadi pada vertebral akan menyebabkan keluarnya
cairan dari dalam vertebrae menuju kedalam intervetrebae disk dan selanjutnya
mengakibatkan degenerasi (kerusakan) pada disk. Dari kejadian ini dapat ditarik
kesimpulan bahwa degenerasi adalah merupakan prasyarat untuk terjadinya hernia
pada intervertebral disc yang pada gilirannya akan menjadi penyebab umum
timbulnya rasa nyeri pada bagian punggung bawah (low-back pain). Dalam
gerakan pada sistem kerangka otot, otot bereaksi terhadap tulang untuk
mengendalikan gerak rotasi di sekitar sambungan tulang, beberapa sistem
pengungkit menjelaskan hal tersebut. Dalam sistem ini otot bertindak sebagai
sistem mekanis yang berfungsi sebagai suplai energi kinetik dan gerakan angular.
Dengan menggunakan teknik perhitungan keseimbangan gaya pada tiap segmen
tubuh manusia, maka didapat momen resultan pada L5/S1. Kemudian untuk
mencapai keseimbangan tubuh pada aktivitas pengangkatan, momen pada L5/S1
tersebut diimbangi gaya otot pada spinal erector (FM) yang cukup besar dan juga
gaya perut (FA) sebagai pengaruh tekanan perut (PA) atau abdominal pressure
yang berfungsi untuk membantu kestabilan badan karena pengaruh momen dan
gaya.

2.10.4. RWL (Recommended Weight Limit)
10

Sebuah lembaga yang menangani masalah kesehatan dan keselamatan
kerja di Amerika, NIOSH (National Institute of Occupational Safety and Health)
melakukan analisis terhadap kekuatan manusia dalam mengangkat atau
memindahkan beban, serta merekomendasikan batas maksimum beban yang
masih boleh diangkat oleh pekerja yaitu Action Limit (AL) dan MPL (Maximum
Permissible Limit) pada tahun 1981. Kemudian, lifting equation tersebut direvisi
sehingga dapat mengevaluasi dan menyediakan pedoman untuk range yang lebih
luas dari manual lifting. Revisi tersebut menghasilkan RWL (1991), yaitu batas
beban yang dapat diangkat oleh manusia tanpa menimbulkan cedera meskipun
pekerjaan tersebut dilakukan secara
Besarnya FM dan CM dapat dilihat pada Tabel 2.2. dan Tabel 2.3.

10
http://iniputri.blog.uns.ac.id/2010/Modul Evaluasi Ergonomi.pdf
Tabel 2.1. Faktor Pengali Kopling
Coupling Type V<75 cm V>75 cm
Good
Fair
Poor
1,00
0,95
0,90
1,00
1,00
0,90

Kategori untuk Coupling Multiplier (CM) adalah :
a. Kriteria Good:
1. Benda dirancang secara optimal, pegangan bahannya tidak licin.
2. Benda yang didalamnya tidak mudah tumpah.
3. Tangan dapat dengan nyaman meraih benda tersebut.
b. Kriteria Fair:
1. Benda tidak mempunyai pegangan.
2. Tangan tidak dapat meraih benda dengan mudah.
c. Kriteria Poor:
1. Benda tidak mempunyai handle/pegangan.
2. Benda sulit dipegang (licin, tajam, dll).
3. Berisi barang yang tidak stabil (pecah, jatuh, tumpah, dll).
4. Memerlukan sarung tangan untuk mengangkatnya.








Tabel 2.2. Faktor Pengali Frekuensi
Frek.
Lift/min
Durasi Kerja
s 1 jam 1 2 jam 2 8 jam
V<75 V>75 V<75 V>75 V<75 V>75
0.2
0.5
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
>15
1.00
0.97
0.94
0.91
0.88
0.84
0.80
0.75
0.70
0.60
0.52
0.45
0.41
0.37
0.00
0.00
0.00
0.00
1.00
0.97
0.94
0.91
0.88
0.84
0.80
0.75
0.70
0.60
0.52
0.45
0.41
0.37
0.34
0.31
0.28
0.00
0.95
0.92
0.88
0.84
0.79
0.72
0.60
0.50
0.42
0.35
0.30
0.26
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.95
0.92
0.88
0.84
0.79
0.72
0.60
0.50
0.42
0.35
0.30
0.26
0.23
0.21
0.00
0.00
0.00
0.00
0.85
0.81
0.75
0.65
0.55
0.45
0.35
0.27
0.22
0.18
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.85
0.81
0.75
0.65
0.55
0.45
0.35
0.27
0.22
0.18
0.15
0.13
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
Keterangan:
Horizontal Location (H) : jarak telapak tangan dari titik tengah antara dua
tumit, diproyeksikan pada lantai.
Vertical Location (V) : jarak antara kedua tangan dengan lantai.
Vertical Travel Distance (D) : jarak perbedaan ketinggian vertikal antara
destination dan origin dari pengangkatan.
Lifting Frequency (F) : angka rata-rata pengangkatan/menit selama
periode 15 menit
Sudut asimetrik yang merupakan sudut yang dibentuk antara garis asimetrik
dan pertengahan garis sagital. Garis Asimetrik adalah garis horizontal yang
menghubungkan titik tengah garis yang menghubungkan kedua mata kaki bagian
dalam dan proyeksi titik tengah beban pada lantai.
Garis Sagital adalah garis yang melalui titik tengah kedua mata kaki bagian
dalam dan berada pada bidang sagital.Bidang sagital adalah bidang yang membagi
tubuh menjadi dua bagian, kanan dan kiri, saat posisi tubuh netral (tangan berada
di depan tubuh dan tidak ada perputaran pada bahu dan kaki).
Perancangan work space harus memperhatikan batasan-batasan ini, karena
faktor jarak perpindahan dan tinggi benda kerja merupakan salah satu faktor yang
berpengaruh terhadap RWL. Telah dilakukan penelitian mengenai rumus RWL
yang telah disesuaikan untuk orang Indonesia. Berikut ini adalah penelitian-
penelitian faktor pengali yang telah dilakukan, yaitu:
a. Horizontal Multiplier oleh Mahachandra, 2006
b. Vertical Multiplier oleh Widyanti,1998
c. Assymetric Multiplier oleh Salmiah,2001
d. Frequency Multplier oleh Alwin, 2005

2.11. Ergonomi
11

Istilah ergonomi berasal dari bahasa Latin yaitu Ergo (kerja) dan Nomos
(hukum alam) dan dapat didefinisikan sebagai studi tentang aspek-aspek manusia
dalam lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anatomi, psikologi, fisiologi,
engineering, manajemen dan perancangan. Ergonomi berkenaan pula dengan
optimasi, efisiensi, kesehatan, keselamatan dan kenyamanan manusia di tempat
kerja, di rumah, dan di tempat rekreasi.
Ergonomi adalah suatu cabang ilmu yang sistematis untuk memanfaatkan
informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan, dan keterbatasan manusia untuk
merancang suatu sistem kerja, sehingga orang dapat hidup dan bekerja pada
sistem tersebut dengan baik, yaitu mencapai tujuan yang diinginkan melalui
pekerjaan itu dengan efektif, aman, sehat, nyaman, dan efisien. Sistem kerja di
sini dimaksudkan sistem hubungan manusia-mesin (teknologi) yang
dipertimbangkan sebagai sistem yang terpadu.

11
http://chalisbrother-engineering.blogspot.com/2009/12/postur-kerja.html
Ergonomi merupakan penerapan pengetahuan-pengetahuan tentang manusia
secara sistematis dan perancangan sistem manusiabenda, manusia-fasilitas dan
manusialingkungan. Dengan kata lain ergonomi adalah suatu ilmu yang
mempelajari manusia yang berinteraksi dengan objek-objek fisik dalam berbagai
kegiatan sehari-hari. Tujuan dari ergonomi secara umum ada 3, yaitu tercapainya
kenyamanan kerja, kesejahteraan, serta efisiensi yang mencakup fisik, mental dan
produksi.

2.12. Postur Kerja
Banyak orang merasa lelah, pegal, sakit pinggang atau bahkan merasakan
cedera berat saat selesai dari pekerjaan mereka. Hal itu bisa saja disebabkan
karena postur kerja anda yang salah. Kesalahan postur memang tidak dapat
berdampak secara langsung, walaupun banyak kasus yang mengalami cedera akut
akibat postur kerja yang memang berbahaya.
Secara gamblang atau kasat mata, kita dapat menilai postur tubuh baik
atau tidak dengan menggunakan perasaan (common sense) atau lebih tepatnya
feeling. Namun sekarang ada metode yang sangat tepat yang telah dikembangkan
oleh para peneliti ahli biomekanika dalam menilai apakah postur pekerjaan kita
sudah baik atau tidak. Metode itu adalah dengan penilaian secara cepat dengan
menggunakan RULA (Rapid Upper Limb Assessment).
Dengan menggunakan RULA kita dapat tahu apakah postur kerja kita
(secara fisik) baik, buruk, atau bahkan berbahaya. Walau demikian, hasil penilaian
hanyalah berupa angka dan anjuran, yang artinya jika kita sudah mengetahui
bahwa postur kerja buruk, maka langkah selanjutnya adalah terserah anda, apakah
memperbaikinya dengan merubah postur atau mungkin menggunakan bantuan
orang lain (menambah SDM) untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Sekarang
sepertinya layak kita periksa apakah pekerjaan yang kita lakukan berbahaya atau
tidak. Ingat, bekerja dalam postur duduk pun dapat berbahaya jika dilakukan
dengan durasi lebih dari batas toleransi tubuh kita. Berikut ini beberapa hal yang
harus diperhatikan berkaitan dengan postur tubuh saat bekerja, yaitu :
1. Semaksimal mungkin mengurangi keharusan pekerja untuk bekerja dengan
postur membungkuk dengan frekuensi kegiatan yang sering atau dalam jangka
waktu yang lama. Untuk mengatasi masalah ini maka stasiun kerja harus
dirancang dengan memperhatikan fasilitas kerjanya yang sesuai dengan
kondisi fisik pekerja, agar operator dapat menjaga postur kerjanya dalam
keadaan tegak dan normal. Ketentuan ini sangat ditekankan khususnya pada
pekerjaan yang harus dilaksanakan dalam keadaan berdiri.
2. Pekerja tidak seharusnya menggunakan jangkauan maksimum. Pengaturan
postur kerja dalam hal ini dilakukan dalam jarak jangkauan normal. Untuk
hal-hal tertentu operator harus mampu dan cukup leluasa mengatur tubuhnya
agar memperoleh postur kerja yang nyaman.
3. Pekerja tidak seharusnya duduk atau berdiri dengan leher, kepala, dada atau
kaki berada dalam posisi miring.

2.13. OWAS, RULA, REBA, dan QEC
2.13.1. OWAS (Ovako Working Postures Analysis System)
OWAS adalah suatu metode untuk mengevaluasi beban postur (postural
load) selama bekerja. Metode OWAS didasarkan pada sebuah klasifikasi yang
sederhana dan sistematis dari postur kerja yang dikombinasikan dengan
pengamatan dari tugas selama bekerja. Metode OWAS pertama kali dilakukan
untuk menganalisis postur kerja pada industri baja.
Prosedur OWAS dilakukan dengan melakukan observasi untuk mengambil
data postur, beban/tenaga, dan fase kerja untuk kemudian dibuat kode berdasarkan
data tersebut. Evaluasi penilaian didasarkan pada skor dari tingkat bahaya postur
kerja yang ada, dan selanjutnya dihubungkan dengan kategori tindakan yang harus
diambil.
Klasifikasi postur kerja dari metode OWAS adalah pada pergerakan tubuh
bagian belakang (back), lengan (arms), dan kaki (legs). Setiap postur tubuh
tersebut terdiri atas 4 postur bagian belakang, 3 postur lengan, dan 7 postur kaki.
Berat beban yang dikerjakan juga dilakukan penilaian yang mengandung 3 skala
point.
A. Skor tubuh bagian belakang (back):

Gambar 2.2. Postur Tubuh Bagian Belakang OWAS
Tabel 2.3. Skor Tubuh Bagian Belakang OWAS
Pergerakan Skor
Lurus/tegak 1
Bungkuk ke depan 2
Miring ke samping 3
Bungkuk ke depan & miring ke samping 4




B. Skor postur bagian lengan (arm)

Gambar 2.3. Postur Lengan OWAS
Tabel 2.4. Tabel Skor Lengan OWAS
Pergerakan Skor
Kedua tangan di bawah bahu 1
Satu tangan pada bahu di atas bahu 2
Kedua tangan pada atau di atas bahu 3

1
1
2
1
2
3
1
3
1 4 3
3
2
2
C. Skor tubuh bagian kaki (legs)

Gambar 2.4. Postur Bagian Kaki OWAS

Tabel 2.5. Skor Bagian Kaki OWAS
Pergerakan Skor
Duduk 1
Berdiri dengan kedua kaki lurus 2
Berdiri dengan bertumpu pada satu kaki lurus 3
Berdiri atau jongkok dengan kedua lutut 4
Berdiri atau jongkok dengan satu lutut 5
Berlutut pada satu atau dua lutut 6
Berjalan atau bergerak 7

D. Skor berat beban (load)
Tabel 2.6. Skor Beban OWAS
Beban/Load Skor
<10kg 1
10 - 20kg 2
>20kg 3



1 2 4
5 6 7
3
Kategori tindakan OWAS
Tabel 2.7. Kategori Tindakan OWAS
Kategori Tindakan Tindakan
1 Aman
2 Diperlukan beberapa waktu ke depan
3 Tindakan dalam waktu dekat
4 Tindakan sekarang juga

2.13.2. RULA (Rapid Upper Limb Assesment)
RULA adalah suatu metode penelitian yang dipakai untuk menginvestigasi
gangguan pada anggota badan bagian atas. RULA dikembangkan oleh
McAtamney dan Corlett pada tahun 1993, menyediakan media perhitungan rating
beban musculoskeletal dalam suatu pekerjaan dimana seseorang akan memiliki
resiko dari pembebanan bagian atas tubuh dan leher.
RULA dibuat untuk mendeteksi dan menetapkan evaluasi faktor resiko.
Faktor resiko disebut sebagai faktor beban eksternal yaitu :
1. Jumlah pergerakan.
2. Kerja otot statik.
3. Tenaga/kekuatan.
4. Penentuan postur kerja oleh peralatan.
5. Waktu kerja tanpa istirahat.
Metode RULA dikembangkan untuk hal-hal seperti :
1. Menyaring suatu populasi kerja dengan cepat, yang berhubungan dengan
kerja yang beresiko yang menyebabkan gangguan pada anggota badan bagian
atas.
2. Mengidentifikasi usaha otot yang berhubungan dengan postur kerja,
penggunaan tenaga dan kerja yang berulang-ulang, yang dapat menyebabkan
kelelahan otot.
3. Memberikan hasil yang dapat digabungkan dengan sebuah metode penilaian
ergonomi yaitu epidemiologi, fisik, mental, lingkungan dan faktor organisasi.
Pengembangan metode RULA terdiri atas 3 tahapan yaitu :
1. Mengidentifikasi postur kerja.
2. Sistem pemberian skor.
3. Skala level tindakan yang menyediakan sebuah pedoman pada tingkat resiko
yang ada dan dibutuhkan untuk mendorong penilaian yang lebih detail
dengan analisis yang diperoleh.
Dalam mempermudah penilaiannya maka tubuh dibagi atas dua grup yaitu
grup A terdiri atas lengan atas (upper arm), lengan bawah (lower arm), dan
pergelangan tangan (wrist). Sedangkan grup B terdiri atas leher (neck), batang
tubuh (trunk), dan kaki (legs). Berikut penilaian postur kerja berdasarkan metode
RULA.
1. Lengan atas (upper arm)
Tabel 2.8. Skor Lengan Atas RULA
Pergerakan Skor Skor Perubahan
20
0
ke depan maupun ke belakang
tubuh
1
+ 1 jika bahu naik
+1 jika lengan berputar /
bengkok
>20
0
(ke belakang) atau 20-45
0
2
45 - 90
0
3
> 90
0
4

2. Lengan bawah (lower arm)
Tabel 2.9. Skor Lengan Bawah RULA
Pergerakan Skor Skor Perubahan
60-100
0
1
+1 Jika lengan bawah bekerja melewati/keluar sisi
tubuh
<60
0
atau
>100
0

2




3. Pergelangan tangan (wrist)
Tabel 2.10. Skor Pergelangan Tangan RULA
Pergerakan Skor Skor Perubahan
Posisi netral 1
+1 jika pergelangan tangan menjauhi sisi tengah 0-15
0
2
>15
0
3

4. Leher (neck)
Tabel 2.11. Skor Leher RULA
Pergerakan Skor Skor Perubahan
0-10
0
1
+1 jika leher berputar/bengkok
10-20
0
2
> 20
0
3
Ekstensi
4

5. Batang tubuh (Trunk)
Tabel 2.12. Skor Batang Tubuh RULA
Pergerakan Skor Skor Perubahan
Posisi normal 1
+1 jika leher berputar/bengkok
+1 jika batang tubuh bungkuk
0-20
0
2
20-60
0
3
> 60
0
4





6. Kaki (legs)
Tabel 2.13. Skor Kaki RULA
Pergerakan Skor
Posisi normal / seimbang 1
Tidak seimbang 2

7. Beban (load) dan otot (muscle)
Tabel 2.14. Skor Beban dan Otot RULA
Beban Skor Otot
Dibawah 2 Kg 0
Postur statis atau bergerak 4 kali permenit +1
2-10 Kg (terputus-
putus)
1
2-10 Kg (statis atau
berulang)
2
Diatas 10 Kg atau
tesentak
3

Skor dari hasil kombinasi postur kerja diklasifikasikan dalam kategori
tindakan pada Tabel 2.15.
Tabel 2.15. Kategori Tindakan RULA
Kategori Tindakan Level Tindakan
1-2 Minimum Aman
3-4 Kecil Diperlukan beberapa waktu ke depan
5-6 Sedang Tindakan dalam waktu dekat
7 Tinggi Tindakan sekarang juga

2.13.3. REBA (Rapid Entire Body Assesment)
REBA merupakan suatu penilaian postur untuk menilai faktor risiko
gangguan tubuh secara keseluruhan. Untuk masing-masing tugas (task), menilai
faktor postur tubuh dengan penilaian pada masing-masing group yang terdiri atas
2 group, yaitu: group A terdiri atas postur tubuh kanan dan kiri dari batang tubuh
(trunk), leher (neck), dan kaki (legs), sedangkan group B terdiri atas postur tubuh
kanan dan kiri dari lengan atas (upper arm), lengan bawah (lower arm), dan
pergelangan tangan (wrist).
Penilaian terhadap postur masing-masing anggota tubuh dapat dilihat melalui
tabel penilaian untuk masing-masing postur, tabel A untuk group A, dan tabel B
digunakan untuk group B. Skor A adalah jumlah dari hasil pada tabel A dan skor
beban/kekuatan. Skor B adalah jumlah skor dari tabel B dan skor coupling untuk
masing-masing tangan. Skor C dibaca dari tabel C, denan memasukkan skor A
dan skor B, sehingga diperoleh skor REBA dengan jumlah dari skor C dan skor
tindakan, dan akhirnya diperoleh suatu hasil berupa tingkatan level risiko.
Group A:
a. Batang Tubuh (trunk)

Gambar 2.5. Postur Batang Tubuh REBA
Tabel 2.16. Skor Batang Tubuh REBA
Pergerakan Skor Skor Penambahan
Posisi normal 1
+1 jika batang tubuh
berputar/bengkok/bungkuk
0-20
0
(ke depan dan belakang) 2
<20
0
atau 20-60
0
3
>60
0
4






b. Leher (Neck)

Gambar 2.6. Postur Leher REBA
Tabel 2.17. Skor Leher REBA
Pergerakan Skor Skor Penambahan
0-20
0
1
+1 jika leher berputar/bengkok
>20
0
-ektensi 2

c. Kaki (Legs)

Gambar 2.7. Postur Kaki REBA
Tabel 2.18. Skor Kaki REBA
Pergerakan Skor Skor Penambahan
Posisi normal/seimbang(berjalan/duduk) 1 +1 jika lutut antara 30-60
0

+2 jika lutut >60
0
Bertumpu pada satu kaki lurus 2




d. Beban (load)
Tabel 2.. Skor Beban REBA
Pergerakan Skor Skor Perubahan
<5 kg 0
+1 jika kekuatan cepat 5-10 kg 1
>10 kg 2

Group B:
a. Lengan atas (upper arm)

Gambar 2.8. Postur Lengan Atas REBA
Tabel 2.21. Skor Lengan Atas REBA
Pergerakan Skor Skor Perubahan
20
0
(ke depan dan ke belakang) 1
+1 jika bahu naik
+1 jika lengan berputar/bengkok
-1 miring, menyangga berat lengan
>20
0
(ke belakang) atau 20-45
0
2
45-90
0
3
>90
0
4

b. Lengan bawah (lower arm)

Gambar 2.9. Postur Lengan Bawah REBA
Tabel 2.21. Skor Lengan Bawah REBA
Pergerakan Skor
60-100
0
1
<60
0
atau >100
0
2

c. Pergelangan tangan (wrist)

Gambar 2.10. Postur Pergelangan Tangan REBA
Tabel 2.22. Skor Pergelangan Tangan REBA
Pergerakan Skor Skor Perubahan
0-15
0
(ke atas dan bawah) 1 +1 jika putaran pergelangan tangan
menjauhi sisi tengah >15
0
(ke atas dan bawah) 2

d. Coupling
Tabel 2.23. Coupling
Couping Skor Keterangan
Baik 0 Kekuatan pegangan baik
Sedang 1 Pegangan bagus tapi tidak ideal dengan bagian tubuh
Kurang baik 2 Pegangan tangan tidak sesuai walaupun mungkin
Tidak dapat
diterima
3
Kaku, pegangan tidak nyaman, tidak ada pegangan atau
kopling tidak sesuai dengan bagian tubuh

Tabel 2.24. Skor Aktivitas
Aktivitas Skor Keterangan
Postur statik +1 Satu atau lebih bagian tubuh statis/diam
Pengulangan +1 Tindakan berulang-ulang
Ketidakstabilan +1
Tindakan menyebabkan jarak yang besar dan cepat pada
postur (tidak stabil)

Berikut adalah nilai level tindakan REBA:
Tabel 2.25. Nilai Level Tindakan REBA
Skor REBA Level Risiko Level Tindakan TIndakan
1 Dapat diabaikan 0 Tidak diperlukan
2-3 Kecil 1 Mungkin diperlukan

Tabel 2.26. Nilai Level Tindakan REBA (Lanjutan)
Skor REBA Level Risiko Level Tindakan TIndakan
4-7 Sedang 2 Perlu
8-10 Tinggi 3 Segera
11-15 Sangat tinggi 4 Sekarang juga

2.13.4. QEC (The Quick Exposure Check)
Quick Exposure Check (QEC) adalah suatu alat untuk penilaian terhadap
risiko kerja yang berhubungan dengan gangguan otot (work-related
musculosceletal disorders/WMDs) di tempat kerja. QEC menilai gangguan risiko
yang terjadi pada bagian belakang punggung (back), bahu/lengan (shoulder/arm),
pergelangan tangan (hand/wrist), dan leher (neck).
Alat ini mempunyai fungsi utama sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi faktor risiko untuk WMDS
2. Mengevaluasi gangguan risiko untuk daerah/bagian tubuh yang berbeda-beda.
3. Menyarankan suatu tindakan yang perlu diambil dalam rangka mengurangi
gangguan risiko yang ada.
4. Mengevaluasi efektivitas dari suatu intervensi ergonomi di tempat kerja.
5. Mendidik para pemakai tentang risiko musculoskeletal di tempat kerja.
Penilaian postur kerja dengan metode QEC dilakukan dari dua sisi.
Penilaian pertama didasarkan kepada penilaian pengamat (Observers Assesment)
dengan mengisi Observers Assessment Checklist dan penilaian kedua didasarkan
kepada penilaian pekerja (Workers Assessment) dengan mengisi Workers
Assessment Checklist.
Selanjutnya menghitung skor penilaian untuk masing-masing bagian tubuh
yang dinilai dengan tabel skor penilaian, dan terakhir menghitung total skor
penilaian sebagai skor akhir QEC untuk dinyatakan dalam empat tingkatan/level
tindakan. Dari kategori tindakan yang didapat, akan dilakukan pengevaluasian
terhadap postur kerja, serta langkah-langkah yang harus diambil jika ternyata hasil
penilaian mennjukkan adanya tingkat risiko yang tinggi pada postur kerja
bersangkutan. Hal yang dapat dilakukan adalah dengan merancang ulang stasiun
dan metode kerja.

Tabel 2.27. Penilaian Observer QEC
Faktor Kode 1 2 3
Belakang (Back) A Hampir netral
Berputar/bengkok
sedikit
Cenderung
berputar/bengkok
Frekuensi pergerakan
bagian belakang
B 3/menit Kira-kira 8/menit 12/menit
Tinggi tugas C
Pada/setinggi
pinggang
Setinggi dada Setinggi bahu
Gerakan bahu/lengan D Sesekali
Reguler/teratur
dengan jeda
Hampir kontinu
Postur pergelangan
tangan/lengan
E Hampir lurus Bengkok/berputar
Pergerakan
pergelangan
F 10/menit 11-20/menit >20/menit
Postur leher G Hampir netral
Kadang-kadang
bengkok/berputar
Bengkok/berputar
secara berlebihan






Tabel 2.28. Penilaian Pekerja QEC
Faktor Kode 1 2 3 4
Beban a <5 kg 6-10 kg 11-20 kg
>20
kg
Durasi b <2 jam 2-4 jam >4 jam
Kekuatan tangan c <1 kg 1-4 kg >4 kg
Vibrasi d Tidak ada/kecil Sedang Tinggi
Visual e Tidak diperlukan
Diperlukan untuk
melihat detail

Langkah f Tidak susah
Kadang-kadang
susah
Lebih sering
susah

Tingkat stress g Tidak ada Kecil Sedang Tiggi

Penilaian dengan metode QEC memiliki beberapa keuntungan dan juga
beberapa kekurangan. Keuntungan yang diperoleh dari penggunaan metode ini
adalah:
1. Dapat mencakup sejumlah besar faktor fisik terhadap pekerjaan yang memiliki
risiko gangguan otot.
2. Mempertimbangkan kebutuhan dari pengguna dan dapat digunakan oleh
pengguna yang belum berpengalaman.
3. Mempertimbangkan kombinasi dan interaksi dari faktor risiko terhadap
pekerjaan dengan banyak stasiun kerja.
4. Memiliki tingkat sensitivitas dan kemudahan penggunaan yang baik.
5. Memiliki tingkat reliabilitas antar dan intra peneliti yang baik.
6. Mudah dipelajari dan cepat dipahami.
Selain keuntungan di atas, QEC juga memeliki beberapa kekurangan
diantaranya adalah:
1. Metode ini hanya berfokus kepada faktor-faktor tempat kerja fisik.
2. Skor penilaian antara hipotesis dengan tingkat tindakan yang disarankan perlu
divalidasi lebih lanjut.
% 100
Xmax
(%) E x
X
=
3. Pelatihan tambahan mungkin diperlukan untuk pengguna pemula sebagai
peningkatan penilaian reliabilitas.
Exposure Level (E) dihitung berdasarkan persentase antara total skor
actual exposure (X) dengan total skor maksimum (X
max
) yaitu:

Dimana :
X = total skor yang diperoleh dari penilaian terhadap postur (punggung +
bahu/lengan + pergelangan tangan + leher).
X
max
= total skor maksimum postur kerja (punggung + bahu/lengan +
pergelangan tangan + leher).
X
max
adalah adalah konstan untuk tipe-tipe tugas tertentu. Pemberian skor
maksimum (X
max
= 162) apabila tipe tubuh adalah statis, termasuk duduk atau
berdiri dengan/tanpa pengulangan (repetitive) yang sering dan penggunaan
tenaga/beban yang relatif rendah. Untuk pemberian skor maksimum (X
max
=176)
apabila dilakukan manual handling, yaitu mengangkat, mendorong, menarik, dan
membawa beban.
Tabel 2.29. Nilai Level Tindakan QEC
Level Tindakan Persentase Skor Tindakan Total Skor Exposure
1 0-40% Aman 32-70

Tabel 2.30. Nilai Level Tindakan QEC (Lanjutan)
Level
Tindakan
Persentase
Skor
Tindakan Total Skor Exposure
2 41-50%
Diperlukan beberapa waktu
ke depan
71-88
3 51-70%
Tindakan dalam waktu
dekat
89-123
4 71-100% Tindakan sekarang juga 124-176


LINGKUNGAN KERJA
2.1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Aktivitas dan Hasil Kerja
Manusia
12

Keberhasilan kerja manusia dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor
individual dan faktor situasional. Faktor pertama terdiri dari faktor-faktor yang
datang dari diri si pekerja itu sendiri dan faktor yang kedua hampir sepenuhnya
dapat diatur dan dapat diubah, berada diluar diri pekerja. Faktor situasional
terbagi kedalam dua sub kelompok yaitu yang terdiri dari faktor-faktor sosial dan
keorganisasiannya, dan yang terdiri dari dari faktor-faktor fisik pekerjaan yang
bersangkutan.
Besarnya pengaruh faktor-faktor ini semua terhadap keberhasilan kerja
tidaklah sekedar hasil jumlah atau rata-rata dari pengaruh setiap factor, tetapi
merupakan interaksi faktor-faktor tersebut dan kadang-kadang dalam cara yang
rumit. Hasil interaksi keseluruhan inilah secara kesatuan memberikan pengaruh
kepada keberhasilan kerja.
Lingkungan kerja atau tempat kerja dikatakan baik apabila dalam kondisi
tertentu manusia dapat melakukan kegiatannya dengan optimal. Ketidaksesuaian
lingkungan kerja dengan manusia yang bekerja pada lingkungan tersebut dapat
terlihat akibatnya dalam jangka waktu tertentu, seperti turunnya produktivitas
kerja, efisiensi dan ketelitian. Keselamatan dan kesehatan kerja serta lingkungan
fisik tempat bekerja sangat berpengaruh dalam peningkatan produktivitas suatu
perusahaan.

2.1.1. Beberapa Segi Mengenai Faktor-faktor Diri
Setiap pekerjaan memiliki ciri-cirinya sendiri, dari mana timbul tuntutan
masing-masing tentang pekerjaan yang seperti apa yang dibutuhkannya. Faktor-
faktor yang terdapat dalam diri manusia tidak dapat berubah dan untuk itu harus
ada penyesuaian dengan pekerjaan yang akan dilakukannya.
Kecocokan antara pekerja dengan pekerjaannya merupakan suatu syarat
penting karena jika diabaikan hasil pekerjaannya akan rendah. Begitu pekerja

12
Sutalaksana.1979.Teknik Tata Cara Kerja.Bandung: ITB. Halaman 58.
yang bersangkutan menyadari hal ini, apalagi jika dengan demikian ia kehilangan
kesempatan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya lewat dari kerjanya ini,
maka hasil kerjanya akan semakin rendah lagi. Hal ini jelas semakin tidak
dikehendaki baik oleh pekerja maupun perusahaan.

2.1.2. Beberapa Segi Mengenai Faktor-faktor Sosial dan Keorganisasian
13

Manusia selalu ingin memenuhi kebutuhan hidupnya baik itu materi
maupun non materi. Karena itu pekerja dalam bekerja ingin mendapatkan
perlakuan sebagai manusia walaupun mereka merupakan salah satu alat produksi.
Bila berbicara tentang segi kemanusiaan dari seseorang maka segera tampaklah
berbagai kebutuhan seperti rasa aman, rasa terjamin, ingin perlakuan yang adil,
ingin prestasinya dihargai dan diakui orang lain, ingin berteman, ingin diakui
dirinya sebagai bagian dari masyarakat bahkan ingin menonjol.
Herzberg melihat sebagian besar dari hal-hal tersebut sebagai motivator,
yaitu yang jika terpenuhi membuat seorang pekerja mendapat kepuasan kerja dan
semangat dalam bekerja. Tentu pada gilirannya hal ini dapat diharapkan
mendatangkan keberhasilan kerja.
Peranan perubahan disini sangat besar seperti dalam menciptakan iklim kerja yang
baik, menjalankan kepemimpinan yang baik, mengadakan hubungan-hubungan
terbuka baik formal maupun informal, penyelenggaraan sistem upah yang adil,
penghargaan dan hukuman (reward and punishment) yang tepat, latihan-latihan
yang cukup, pembagian tugas yang memadai dan sebagainya.
2.1.3. Beberapa Segi Mengenai Faktor-faktor Pekerjaan
14

Hubungan antara manusia pekerja dengan mesin dan peralatan-peralatan
dan lingkungan kerja dapat dilihat sebagai hubungan yang unik karena interaksi
antara hal-hal diatas yang membentuk suatu sistem kerja tidak terlampau
sederhana bahkan melibatkan berbagai disiplin ilmu.
Hal tersebut perlu diperhatikan oleh pimpinan perusahaan agar pada
akhirnya dapat mendatangkan produktivitas yang tinggi. Selain itu perlu

13
Sutalaksana.1979.Teknik Tata Cara Kerja.Bandung: ITB. Halaman 58-59.
14
Sutalaksana.1979.Teknik Tata Cara Kerja.Bandung: ITB. Halaman 59.
diperhatikan keadaan-keadaan faktor fisik lain seperti kemampuan kerja, pengaruh
lingkungan fisik terhadap lingkungan kerja, perancangan mesin dan peralatan agar
cocok dengan pemakaiannya dan cara-cara untuk menangani pemakaiannya.

2.2. Lingkungan Kerja, Kesehatan, dan Keselamatan Kerja (K3), dan
Produktivitas Kerja
Keselamatan dan kesehatan kerja serta lingkungan fisik tempat kerja
sangat berpengaruh terhadap produktivitas kerja dan peningkatan produktivtas
suatu perusahaan. Seorang pekerja akan mampu bekerja dengan baik apabila
ditunjang oleh lingkungan yang baik pula sehingga dicapai hasil yang optimal.
Lingkungan kerja adalah tempat kerja dikatakan baik apabila dalam
kondisi tertentu manusia dapat melakukan kegiatannya dengan optimal.
Lingkungan kerja sangat penting dalam kehidupan manusia dalam melakukan
pekerjaan. Dan teknologi sangat dibutuhkan untuk mencapai hasil optimal dalam
melakukan pekerjaan yang dipengaruhi oleh lingkungan kerja, serta bila perlu
teknologi digunakan untuk mengendalikan lingkungan kerja. Itulah sebabnya
lingkungan kerja harus dapat dirancang sebaik mungkin sehingga dapat
diharapkan untuk memberikan rasa aman dan nyaman pada pemakaiannya dan
akhirnya menghasilkan produktivitas yang baik











.

















Gambar 2.2. Hubungan Antara Lingkungan Kerja, K3 dan Produktivitas

2.3. Pengaruh Kebisingan di Tempat Kerja Terhadap Kinerja Operator
15

Kemajuan teknologi ternyata banyak menimbulkan masalah-masalah
seperti diantaranya yang dikatakan polusi, dimana keadaan ini tidak terjadi di
masa lampau. Salah satu polusi yang sekarang menyibukkan para ahli untuk
mengatasinya adalah kebisingan. Kebisingan adalah bunyi-bunyian yang tidak
dikehendaki oleh telinga kita. Tidak dikehendaki, karena dalam jangka waktu
yang panjang bunyi-bunyian tersebut dapat merusak pendengaran, mengganggu
ketenangan bekerja, dan dapat menimbulkan kesalahan komunikasi, bahkan
menurut penyelidikan, kebisingan yang serius bias menyebabkan kematian.
Ada tiga aspek yang menentukan kualitas suatu bunyi yang bisa
menentukan tingkat gangguan terhadap manusia, yaitu: lama, intensitas, dan

15
Sutalaksana.1979.Teknik Tata Cara Kerja.Bandung: ITB. Halaman 85-86.
Faktor Fisik
- Temperatur
- Kelembaban
- Sirkulasi Udara
- Pencahayaan
- Kebisingan
- Getaran Mekanis
- Bau-bauan
- Warna
Faktor Kimia
- Zat Padat
- Zat Cair
Faktor Biologi
- Bakteri
- Virus
Faktor Ergonomi
- Mesin & Peralatan
- Sikap Badan
- Beban Kerja
- Sikap & Cara Kerja
-
Faktor Psikologis
- Konflik
- Kebosanan
- Monotomi
Lingkungan
Kerja
K3

Produktivitas







frekuensinya. Semakin lama telinga kita mendengar kebisingan maka semakin
buruk akibatnya bagi kita, diantaranya pendengaran yang semakin berkurang.
Intensitas biasanya diukur dengan satuan decibel (dB), yang menunjukkan
besarnya arus energi persatuan luas. Kebisingan diatas batas-batas normal (85 dB;
decibel = satuan kepekaan suara) perlu disisihkan dari tempat-tempat kerja guna
mencegah kemerosotan syaraf karyawan, mengurangi keletihan mental, dan
meningkatkan moral kerja.
Tabel 2.1. Skala Intensitas Kebisingan
Kondisi Suara Desibel (dB) Batas Dengar Tertinggi

Menulikan
120 Halilintar
110 Meriam
100 Mesin Uap

Sangat Hiruk
100 Jalan hiruk-pikuk
90 Perusahaan sangat gaduh
80 Pluit polisi


Kuat
80 Kantor gaduh
70 Jalan pada umumnya

60

Radio
Perusahaan


Sedang
60 Rumah gaduh
50 Kantor umumnya

40
Percakapan kuat
Radio perlahan
Tenang 40 Rumah tenang
30 Kantor perorangan
20 Auditorium
Percakapan







Tabel 2.1. Skala Intensitas Kebisingan (Lanjutan)
Kondisi Suara Desibel (dB) Batas Dengar Tertinggi

Sangat Tenang
20 Suara daun-daun
10 Berisik
0 Batas dengar terendah

2.4. Pengaruh Pencahayaan di Tempat Kerja Terhadap Kinerja
Operator
16

Pencahayaan sangat mempengaruhi kemampuan manusia untuk melihat
obyek secara jelas, cepat, tanpa menimbulkan kelelahan. Kebutuhan akibat adanya
penerangan yang baik, akan semakin diperlukan apabila kita mengerjakan suatu
pekerjaan yang memerlukan ketelitian karena penglihatan. Penerangan yang
terlalu suram, mengakibatkan mata pekerja semakin cepat lelah akibat mata akan
berusaha untuk bisa melihat, dimana lelahnya mata akan mengakibatkan kelelahan
mental, lebih jauh lagi keadaan tersebut bisa menimbulkan rusaknya mata, karena
bisa menyilaukan.
Kemampuan mata untuk bisa melihat obyek dengan jelas ditentukan oleh:
ukuran obyek, derajat kontras diantara obyek dan sekelilingnya, luminansi
(brightness) dan lamanya melihat.Yang dimaksud dengan derajat kontras adalah
perbedaan derajat terang relatif antara obyek sekelilingnya, sedangkan luminansi
berarti arus cahaya yang dipantulkan oleh obyek. Standar penerangan yang
diterima adalah setara dengan 100 sampai dengan 200 kali lilin. Penerangan harus
memperhatikan tidak timbulnya kesilauan (glare), pantulan dari permukaan
yang berkilat, dan peningkatan suhu ruangan. Ternyata lampu-lampu fluorescent
(neon TL = tube luminesence) lebih memenuhi syarat dalam hal ini.






16
Sutalaksana.1979.Teknik Tata Cara Kerja.Bandung: ITB. Halaman 84.
2.5. Pengaruh Warna di Tempat Kerja Terhadap Kinerja Operator
17

Yang dimaksud disini adalah warna tembok ruangan tempat kerja, dimana
warna ini selain berpengaruh terhadap kemampuan mata untuk melihat objek,
juga warna disekitar tempat kerja berpengaruh secara psikologis bagi para pekerja.
Menurut penyelidikan, tiap warna itu memberikan pengaruh secara
psikologis yang berbeda-beda terhadap manusia. Diantaranya: warna merah
bersifat merangsang; warna kuning memberikan kesan yang luas atau lega; warna
hijau atau biru memberikan kesan sejuk, aman dan menyegarkan; warna gelap
memberikan kesan sempit dan warna terang memberikan kesan leluasa.
Dalam keadaan dimana ruangan terasa sempit, warna yang sesuai dapat
menghilangkan warna tersebut, hal ini secara psikologis menguntungkan karena
kesan sempit cenderung menimbulkan ketegangan. Dengan adanya sifat-sifat
itulah, maka pengaturan warna ruangan tempat kerja perlu diperhatikan dalam arti
luas harus disesuaikan dengan kegiatan kerjanya.

















17
Sutalaksana.1979.Teknik Tata Cara Kerja.Bandung: ITB. Halaman 88.
ANTROPOMETRI
2.11.1. Anthropometri
Antropometri dalam antropologi fisik merujuk pada pengukuran individu
manusia untuk mengetahui variasi fisik manusia. Antropometri berperan penting
dalam bidang perancangan industri, perancangan pakaian, ergonomik, dan
arsitektur. Dalam bidang-bidang tersebut, data statistik tentang distribusi dimensi
tubuh dari suatu populasi diperlukan untuk menghasilkan produk yang optimal.
Perubahan dalam gaya kehidupan sehari-hari, nutrisi, dan komposisi etnis dari
masyarakat dapat membuat perubahan dalam distribusi ukuran tubuh (misalnya
dalam bentuk epidemik kegemukan), dan membuat perlunya penyesuaian berkala
dari koleksi data antropometrik.

2.12.1. Definisi Anthropometri
18

Menurut Sritomo (1989), salah satu bidang keilmuan ergonomis adalah
istilah Anthropometri yang berasal dari Anthro yang berarti manusia dan
Metron yang berarti ukuran Secara definitif Anthropometri dinyatakan sebagai
suatu studi yang menyangkut pengukuran dimensi tubuh manusia dan aplikasi
rancangan yang menyangkut geometri fisik, massa dan kekuatan tubuh.Sedangkan
pengertian Anthropometri menurut Stevenson (1989) dan Nurmianto (1991)
adalah satu kumpulan data numeri yang berhubungan dengan karakteristik tubuh
manusia berupa ukuran, bentuk dan kekuatan serta penerapan dari data tersebut
untuk penanganan masalah desain.
Manusia pada dasarnya memiliki bentuk, ukuran (tinggi, lebar, dsb) berat
dan lain-lain yang berbeda satu dengan yang lainnya. Anthropometri secara lebih
luas digunakan sebagai pertimbangan ergonomis dalam proses perencanaan
produk maupun sistem kerja yang memerlukan interaksi manusia.

2.12.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengukuran Antropometri
Manusia pada umumnya akan berbeda-beda dalam hal bentuk dan dimensi
ukuran tubuhnya. Di sini ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi ukuran

18
Sritomo Wignjosoebroto. 2006. Ergonomi Studi Gerak dan Waktu. Hal : 60-69
tubuh manusia, sehingga sudah semestinya orang perancang produk harus
memperhatikan faktor-faktor tersebut yang antara lain adalah:
1. Umur
Hal ini jelas berpengaruh terutama jika desain diaplikasikan untuk
antropometri anak-anak. Antropometrinya akan cenderung terus meningkat
sampai batas usia dewasa. Namun setelah menginjak usia dewasa, tinggi
badan manusia mempunyai kecenderungan untuk menurun yang antara lain
disebabkan oleh berkurangnya elastisitas tulang belakang (invertebral discs).
Selain itu juga berkurangnya dinamika gerakan tangan dan kaki.
2. Jenis Kelamin
Secara distribusi statistik ada perbedaan yang signifikan antara dimensi tubuh
pria dan wanita. Untuk kebanyakan dimensi pria dan wanita ada perbedaan
yang signifikan di antara mean (rata-rata) dan nilai perbedaan ini tidak dapat
diabaikan begitu saja. Pria dianggap lebih panjang dimensi segmen badannya
daripada wanita. Oleh karenannya data antropometri untuk kedua jenis
kelamin tersebut selalu disajikan secara terpisah.
3. Suku Bangsa
Variasi di antara kelompok suku bangsa telah menjadi hal yang tidak kalah
pentingnya terutama karena meningkatnya jumlah angka migrasi dari satu
negara ke negara yang lain. Suatu contoh sederhana bahwa yaitu dengan
meningkatnya jumlah penduduk yang migrasi dari negara Vietnam ke
Australia, untuk mengisi jumlah satuan angkatan kerja (industrial workforce),
maka akan mempengaruhi antropometri secara nasional.
4. Jenis Pekerjaan
Beberapa jenis pekerjaan tertentu menuntut adanya persyaratan dalam seleksi
karyawan atau stafnya. Seperti misalnya buruh dermaga diharuskan
mempunyai postur tubuh yang relatif lebih besar dibandingkan dengan
karyawan perkantoran pada umumnya.
5. Cacat Tubuh
Cacat tubuh, dimana data antropometri disini akan diperlukan untuk
perancangan produk bagi orang-orang cacat, seperti kursi roda, kaki atau
tangan palsu dan lainnya. Masalah yang sering timbul misalnya keterbatasan
jarak jangkauan, dibutuhkan ruang kaki (knee space) untuk desain meja kerja,
lorong atau jalur khusus untuk kursi roda, ruang khusus di dalam lavatory,
jalur khusus untuk keluar masuk perkantoran, kampus, hotel, restoran,
supermarket, dan lain-lain.
6. Pakaian
Hal ini juga merupakan sumber variabilitas yang disebabkan oleh
bervariasnya iklim atau musim yang berbeda dari satu tempat ke tempat yang
lainnya terutama untuk daerah dengan empat musim. Misalnya pada waktu
dingin manusia akan memakai pakaian yang relatif lebih tebal dan ukuran
yang relatif lebih besar. Ataupun untuk para pekerja di pertambangan,
pengeboran lepas pantai, pengecoran logam. Bahkan para penerbang dan
astronot pun harus mempunyai pakaian khusus.
7. Kehamilan
Faktor ini sudah jelas akan mempunyai pengaruh perbedaan yang berarti kalau
dibandingkan dengan wanita yang tidak hamil.

2.12.3. Antropometri Statis (Struktural)
Antropometri statis, dimana pengukuran dilakukan pada saat tubuh dalam
keadaan diam atau posisi diam atau tidak bergerak. Pengukuran manusia pada
posisi diam dan linier pada permukaan tubuh. Ada beberapa metode pengukuran
tertentu agar hasilnya representative. Disebut juga pengukuran dimensi struktur
tubuh dimana tubuh diukur dalam berbagai posisi standar dan tidak bergerak
(tetap tegak sempurna). Dimensi tubuh yang diukur dengan posisi tetap antara lain
meliputi berat badan, tinggi tubuh dalam posisi berdiri maupun duduk, ukuran
kepala, tinggi atau panjang lutut pada saat berdiri atau duduk, panjang lengan, dan
sebagainya. Antropometri struktural yang diukur ini diantaranya adalah tinggi
selangkang, tinggi siku, tinggi mata, rentang bahu, tinggi pertengahan pundak
pada posisi duduk, jarak pantat-ibu jari kaki, dan tinggi mata pada posisi duduk.
Gambar 2.1. di bawah ini memperlihatkan antropometri struktural yang terdapat
pada tubuh manusia dalam berbagai posisi tertentu.

Gambar 2.2. Ukuran Tubuh Manusia
Gambar selanjutnya pada bagian di bawah ini merupakan pengukuran
antropometri yang dilakukan berdasarkan posisi tegak maupun posisi duduk.
Pengukuran dalam posisi tegak diukur dari tinggi selangkangan, tinggi siku dan
tinggi mata sedangkan pada pengukuran dalam posisi duduk diukur dari rentang
bahu, tinggi pertengahan pundak pada posisi duduk, jarak pantat dengan ibu jari
kaki dan tinggi mata pada posisi duduk.

Gambar 2.3. Dimensi-Dimensi pada Tubuh Manusia
Gambar selanjtnya pada bagian di bawah ini memperlihatkan dimensi-
dimensi yang ada pada tubuh manusia dan diukur dari dimensi kepala, wajah,
tangan, kaki. Dimensi kepala, wajah, tangan dan kaki penerapan data ini untuk
merancang terali untuk keamanan, jeruji, panel visual dan pencapaian panel,
peralatan rekreasi, pengaturan dan peralatan tempat penyimpanan sepatu di
rumah, dan sebagainya. Antropometri struktural ditunjukkan pada Gambar 2.3. di
bawah ini.

Gambar 2.4. Antropometri Struktural Kepala, Wajah, Tangan dan Kaki

2.12.4. Antropometri Dinamis (Fungsional)
Antropometri dinamis, dimana dimensi tubuh diukur dalam berbagai
posisi tubuh yang sedang bergerak. Antropometri fungsional adalah pengukuran
keadaan dan ciri-ciri fisik manusia dalam keadaan bergerak atau memperhatikan
gerakan-gerakan yang mungkin terjadi saat pekerja tersebut melaksanakan
kegiatannya. Hasil yang diperoleh merupakan ukuran tubuh yang nantinya akan
berkaitan erat dengan gerakan-gerakan nyata yang diperlukan tubuh untuk
melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu. Antropometri dalam posisi tubuh
melaksanakan fungsinya yang dinamis akan banyak diaplikasikan dalam proses
perancangan fasilitas ataupun ruang kerja.
Adapun gambar antropometri fungsional atau dinamis ditunjukkan pada
gambar 2.4. berikut dimana pada gambar tersebut terdapat pengukuran data-data
dilakukan dengan berdasarkan posisi-posisi tubuh yang berbeda dimulai dari
jangkauan ujung ibu jari tangan yang diluruskan, jangkauan ujung ibu jari tangan,
jangkauan lengan menyamping, jangkauan genggaman vertikal, tinggi siku, tinggi
bahu dan tinggi badan saat operator tersebut dalam keadaan berdiri atau tegak.
Selain itu juga dilakukan pengukuran dalam posisi duduk diantaranya adalah jarak
pantat ke tumit, tinggi jangkauan vertikal pada posisi duduk, tinggi mata pada
posisi duduk, tinggi duduk, jarak bersih paha, jarak pantat ke lipatan dalam lutut,
tinggi lutut, tinggi lipatan dalam lutut, rentang bahu, rentang panggul, tinggi
duduk pada posisi istirahat dan juga tinggi pertengahan bahu pada posisi duduk.
Antropometri fungsional atau dinamis pada tubuh manusia dalam keadaan tegak
maupun duduk dapat dilihat pada Gambar 2.5.

Gambar 2.5. Antropometri Fungsional atau Dinamis

Gambar selanjutnya memperlihatkan posisi pengukuran pada operator
dalam keadaan berdiri tegak, tiarap maupun dalam posisi berlutut. Pada posisi
berdiri tegak, pengukuran dilakukan berdasarkan rentang tubuh dan lebar tubuh
maksimal, pada posisi tiarap, pengukuran dilakukan berdasarkan panjang posisi
tiarap serta tinggi posisi tiarap, sedangkan pada posisi berlutut, pengukuran
dilakukan berdasarkan panjang posisi berlutut maupun merangkak dan juga tinggi
posisi berlutut dan merangkak seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.6.

Gambar 2.6. Antropometri Fungsional Posisi Kerja

2.12.5. Prinsip-prinsip Penggunaan Data Antropometri
Adapun prinsip-prinsip yang digunakan dalam penggunaan data
antropometri adalah sebagai berikut:
1. Prinsip perancangan produk bagi individu dengan ukuran yang ekstrim.
Dalam prinsip ini, rancangan produk dibuat agar bisa memenuhi 2 (dua)
sasaran produk yaitu bisa sesuai untuk ukuran tubuh manusia yang mengikuti
klasifikasi ekstrim dalam arti terlalu besar atau kecil bila dibandingkan dengan
rata-ratanya dan tetap bisa digunakan untuk memenuhi ukuran tubuh yang lain
(mayoritas dari populasi yang ada). Agar bisa memenuhi sasaran pokok
tersebut maka ukuran yang diaplikasikan ditetapkan dengan cara:
a. Untuk dimensi minimum yang harus ditetapkan dari suatu rancangan
produk umumnya didasarkan pada nilai persentil yang terbesar seperti 90-
th, 95-th atau 99-th persentil. Contoh konkrit pada kasus ini bisa dilihat
pada penetapan ukuran minimal lebar dan tinggi dari pintu darurat, dan
lain-lain.
b. Untuk dimensi maksimum yang harus ditetapkan diambil berdasarkan nilai
persentil yang paling rendah (1-th, 5-th, 10-th persentil) dari distribusi data
antropometri yang ada. Secara umum aplikasi data antropometri untuk
perancangan produk ataupun fasilitas kerja akan menetapkan nilai 5-th
persentil untuk dimensi maksimum dan 95-th untuk dimensi minimumnya.
2. Prinsip perancangan produk yang bisa dioperasikan di antara rentang ukuran
tertentu.
Di sini rancangan bisa berubah-rubah ukurannya sehingga cukup fleksibel
dioperasikan oleh setiap orang yang memiliki berbagai macam ukuran tubuh.
Contoh yang paling umum dijumpai adalah perancangan kursi mobil yang
mana dalam hal ini letaknya bisa digeser maju/mundur dan sudut sandarannya
pun bisa berubah-rubah sesuai dengan yang diinginkan. Dalam kaitannya
untuk mendapatkan rancangan yang fleksibel semacam ini maka data
antropometri yang umum diaplikasikan adalah dalam rentang nilai 5-th sampai
dengan 95-th persentil.
3. Prinsip perancangan produk dengan ukuran rata-rata.
Dalam hal ini rancangan produk berdasarkan terhadap rata-rata ukuran
manusia. Problem pokok yang dihadapi dalam hal ini justru sedikit sekali
mereka yang berbeda dalam ukuran rata-rata. Di sini produk dirancang dan
dibuat untuk mereka yang berukuran sekitar rata-rata, sedangkan bagi mereka
yang memiliki ukuran ekstrim akan dibuatkan rancangan tersendiri.

2.12.6. Dimensi Tubuh Pengukuran Data Antropometri
Selanjutnya untuk memperjelas mengenai data Antropometri yang tepat
diaplikasikan dalam berbagai rancangan produk ataupun fasilitas kerja, diperlukan
pengambilan ukuran dimensi anggota tubuh. Penjelasan mengenai pengukuran
dimensi antropometri tubuh yang diperlukan dalam perancangan dijelaskan pada
gambar berikut :

Gambar 2.7. Gambar dimensi struktur kepala
Keterangan Gambar 2.6. diatas, yaitu:
1 = panjang kepala
2 = lebar kepala
3 = diameter maksimum dagu
4 = dagu ke puncak kepala
5 = telinga ke puncak kepala
6 = telinga ke belakang kepala
7 = antara dua telinga
8 = mata ke belakang kepala
9 = mata ke puncak kepala
10 = antara dua pupil mata
11 = hidung ke puncak kepala
12 = hidung ke belakang kepala
13 = mulut ke puncak kepala
14 = lebar mulut

Gambar 2.8. Antropometri tubuh manusia yang diukur dimensinya
Keterangan gambar :
1. Dimensi tinggi tubuh dalam posisi tegak
2. Tinggi mata dalam posisi berdiri tegak
3. Tinggi bahu dalam posisi berdiri tegak
4. Tinggi siku dalam posisi berdiri tegak
5. Tinggi kepalan tangan yang terjulur lepas dalam posisi berdiri tegak (dalam
gambar tidak ditunjukkan)
6. Tinggi tubuh dalam posisi duduk
7. Tinggi mata dalam posisi duduk
8. Tinggi bahu dalam posisi duduk
9. Tinggi siku dalam posisi duduk
10. Tebal atau lebar paha
11. Panjang paha yang diukur dari pantat s/d ujung lutut
12. Panjang paha yang diukur dari pantat s/d bagian belakang dari ujung lutut
13. Tinggi lutut yang bisa diukur baik dalam posisi berdiri ataupun duduk
14. Tinggi tubuh dalam posisi duduk yang diukur dari lantai sampai dengan paha
15. Lebar dari bahu
16. Lebar pinggul/pantat
17. Lebar dari dada dalam keadaan membusung
18. Lebar perut
19. Panjang siku yang diukur dari siku sampai ujung jari dalam posisi siku tegak
lurus
20. Kebar kepala
21. Panjang tangan diukur dari pergelangan sampai dengan ujung jari dalam posisi
tegak
22. Lebar telapak tangan
23. Lebar tangan dalam posisi terbentang
24. Tinggi jangkauan tangan dalam posisi berdiri

2.12.7. Flowchart dan Langkah-langkah Penilaian Data Antropometri
Adapun langkah-langkah yang digunakan dalam penilaian data
antropometri adalah sebagai berikut:
1. Pertama, disiapkan peralatan dan bahan serta sampel yang akan diteliti
datanya.
2. Kemudian, dipilih lokasi dan sumber data tempat akan melakukan penelitian
ataupun pengujian.
3. Dilanjutkan dengan pengukuran masing-masing dimensi tubuh manusia untuk
mendapatkan data yang akurat.
4. Dicatat hasil-hasil pengukuran dalam kertas.
5. Dihitung nilai BKA (Batas Kelas Atas), BKB (Batas Kelas Bawah), nilai
mean (rata-rata), standar deviasi (standard deviation), tingkat kepercayaan dan
tingkat ketelitian serta nilai data.
6. Dilanjutkan dengan pengujian keseragaman data, pengujian kecukupan data
dan pengujian kolmogrorov-Smirnov test.
7. Dianalisis data-data antropometri yang telah didapatkan.
8. Digunakan data-data antropometri tersebut sesuai kebutuhan yang diperlukan.
Mulai
Manusia,
alat ukur
dan alat
tulis
Pemilihan lokasi
dan sumber data
Mengukur
dimensi-dimensi
tubuh manusia
Mencatat hasil
pengukuran
Menguji hasil
pengukuran
Selesai
Menganalisis hasil
antroprometri
BKA, BKB,
SD, Mean,
s, z, Xi

Gambar 2.9. Flowchart dan Langkah-Langkah Penilaian Data Antropometri


2.12.8. Aplikasi Distribusi Normal dalam Penetapan Data Antropometri
Pada penetapan data antropometri, pemakaian distribusi normal
umumditerapkan. Distribusi normal dapat diformulasikan berdasarkan harga rata-
rata dan simpangan standarnya dari data yang ada. Berdasarkan nilai yang ada
tersebut, maka persentil (nilai yang menunjukkan persentase tertentu dari
orangyang memiliki ukuran pada atau di bawah nilai tersebut) bisa ditetapkan
sesuai tabel probabilitas distribusi normal. Jika diharapkan ukuran yang mampu
mengakomodasikan 95% dari populasi yang ada, maka diambil rentang 2,5th
dan97,5th percentile sebagai batas-batasnya.


Gambar 2.10. Kurva Distribusi Normal dengan Persentil 95-th

Tabel 2.2. Tabel Persentil dan Perhitungan dalam Distribusi Normal
Persentil Perhitungan
1-st
X - 2.325
2.5-th
X - 1.96





Tabel 2.3. Tabel Persentil dan Perhitungan dalam Distribusi Normal (Lanjutan)
Persentil Perhitungan
5-th
X - 1.645
10-th
X - 1.28
50-th
X
90-th X
+ 1.28
95-th X
+ 1.645
97.5-th X
+ 1.96
99-th X
+ 2.325

2.12.9. Aplikasi Antropometri dalam Perancangan Produk
Data antropometri yang menyajikan data ukuran dari berbagai macam
anggota tubuh manusia dalam persentil tertentu akan sangat besar manfaatnya
pada saat suatu rancangan produk ataupun fasilitas kerja akan dibuat. Agar
rancangan suatu produk nantinya bisa sesuai dengan ukuran tubuh manusia yang
mengoperasikannya. Antropometri secara luas akan digunakan sebagai
pertimbangan ergonomis dalam memerlukan interaksi manusia. Data antropometri
yang berhasil diperoleh akan diaplikasikan secara luas antara lain dalam hal :
1. Perancangan areal kerja (work station, interior mobil, dll).
2. Perancangan peralatan kerja seperti mesin, equipment, perkakas (tools) dan
sebagainya.
3. Perancangan produk-produk konsumtif seperti pakaian, kursi, meja komputer,
dll.
4. Perancangan lingkungan kerja fisik