Anda di halaman 1dari 30

KONSEP PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN A.

Definisi Pertumbuhan dan Perkembangan Pertumbuhan adalah pertambahan ukuran ukuran tubuh yang meliputi BB, TB, LK, LD, dan lain-lain atau bertambahnya jumlah dan ukuran sel sel pada semua sistem organ tubuh. (Vivian nanny, 2010). Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan yang bersifat kuantitas, yang mengacu pada jumlah, besar, dan luas, serta bersifat konkret yang menyangkut ukuran dan struktur biologis (Mansur, 2009). Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil proses pematangan (Soetjiingsih, 2005). Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan atau fungsi semua system organ tubuh sebagai akibat bertambahnya kematangan fungsi-fungsi system organ tubuh (Vivian nanny, 2010) Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian (Pemkot Malang Dinkes, 2007) B. Ciri ciri dan Prinsip- prinsip Tumbuh kembang 1. Ciri ciri tumbuh kembang anak. a. Perkembangan menimbulkan perubahan Perkembangan terjadi bersama dengan pertumbuhan.Setiap pertumbuhan disertai perubahan fungsi. b. Pertumbuhan dan perkembangan pada tahap awal menentukan

perkembangan selanjutnya. Setiap anak tidak akan bisa melewati satu tahap perkembangan sebelum ia belum melewati tahapan sebelumnya. c. Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda sebagaimana pertumbuhan, perkembangan mempunyai kecepatan yang

berbeda-beda, baik dalam pertumbuhan fisik maupun perkembangan fungsi organ dan perkembangan pada masing-masing anak. d. Perkembangan berkolerasi dengan pertumbuhan Anak sehat, bertambah umur, bertambah besar dan tinggi badannya serta bertambah kepandaiannya. e. Perkembangan memiliki tahap yang berurutan Tahap-tahap perkembangan tidak bisa menjadi terbalik. f. Perkembanagn mempunyai pola yang tetap Perkembangan fungsi organ tubuh mempunyai dua pola, yaitu pola sefalokaudal dan pola proksimodistal. 1. Prinsip prinsip tumbuh kembang. a. Perkembangan merupakan hasil proses kematangan dan belajar kematangan merupakan proses intrinsik yang terjadi dengan sendirinya sesuai dengan potensi yang ada pada individu. Belajar merupakan perkembangan yang berasal dari latihan dan usaha melalui belajar.Anak memperoleh kemampuan menggunakan sumber yang diwariskan dan pola potensi yang dimiliki anak. b. Pola perkembangan dapat diramalkan. Terdapat persamaan pola perkembangan bagi semua anak. Dengan demikian perkembangan seorang anak dapat diramalkan.Perkembangan berlangsung dari tahapan spesifik dan terjadi berkesinambungan.

C.

Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak Masa lima tahun pertama merupakan masa terbentuknya dasar dasar kepribadian manusia. Kemampuan pengindraan, berfikir, ketrampilan, berbahasa dan berbicara, bertingkah laku sosial dll. Ada 2 faktor yang mempengaruhi proses tumbuh kembang optimal seorang anak yaitu : 1. Faktor dalam a. Ras / etnik dan bangsa 2

Anak yang dilahirkan dari ras / bangsa Amerika maka ia tidak memiliki faktor hereditas ras / bangsa Indonesia atau sebaliknya. b. Keluarga Ada kecenderungan keluarga yang memiliki postur tubuh tinggi, pendek, gemuk atau kurus. c. Umur Kecepatan pertumbuhan yang pesat adalah pada masa prenatal, tahun pertama kehidupannya. d. Jenis kelamin Fungsi reproduksi pada anak perempuan berkembang lebih cepat daripada laki laki. Tetapi setelah melewati masa pubertas, pertumbuhan anak lakilaki akan lebih cepat. e. Genetik Genetic (heredokonstitusional) adalah bawaan anak yaitu potensi anak akan menjadi ciri khasnya. Ada beberapa kelainan genetik yang bepengaruh pada tumbuh kembang anak seperti kerdil. f. Kelainan kromosom Kelainan kromosom umumnya disertai dengan kegagalan pertumbuhan seperti ada sindrom downs dan sindrom turner. 2. Faktor luar a. Faktor prenatal b. Faktor persalinan c. Faktor pasca salin D. Aspek aspek perkembangan yang dipantau 1. Gerak kasar atau motorik kasar adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak melakukan pergerakan dan sikap tubuh yang melibatkan otot-otot besar seperti duduk, berdiri dan sebagainya.

2. Gerak halus atau motorik halus adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak melakukan gerakan yang melibatkan begian bagian tubuh tertentu dan dilakukan oleh otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat seperti mengambil sesuatu, menjimpit, menulis, dan sebagainya.

E. Teori Tumbuh Kembang 1. Teori Tumbuh Kembang Sidmund Freud Sidmund Freud terkenal sebagai pengganti teori alam bawah sadar dan pakar psikoanalisis. Tapi kita sering lupa bahwa Freud lah yang menekankan pentingnya arti perkembangan psikososial pada anak. Freud menerangkan bahwa berbagai problem yang dihadapi penderita dewasa ternyata disebabkan oleh gangguan atau hambatan yang dialami perkembangan psikososialnya. Dasar psikaonalisis yang dilakukannya adalah untuk menelusuri akar gangguan jiwa yang dialami penderita jauh kemasa anak, bahkan kemasa bayi. Freud membagi perkembangan menjadi 5 tahap, yang secara berurut dapat dilalui oleh setiap individu dalam perkembangan menuju kedewasaan. a. Fase Oral Disebut fase oral karena dalam fase ini anak mendapat kenikmatan dan kepuasan berbagai pengalaman sekitar mulutnya. Fase oral mencakup tahun pertama kehidupan ketika anak sangat tergantung dan tidak berdaya. Ia perlu dilindungi agar mendapat rasa aman. Dasar perkembangan mental sangat tergangtung dari hubungan ibu anak pada fase ini. Bila terdapat gangguan atau hambatan dalam hal ini maka akan terjadi fiksasi oral, artinya pengalaman buruk, tentang masalah makan dan menyapih akan menyebabkan anak terfiksasi pada fase ini, sehingga perilakunya diperoleh pada fase oral. Pada fase pertama belum terselesaikan dengan baik maka persoalan ini akan terbawa ke fase kedua. Ketidak siapan ini meskipun belum berhasil

dituupi biasanya kelak akan muncul kembali berupa berbagai gangguan tingkah laku. b. Fase Anal Fase kedua ini berlangsung pada umur 1-3 tahun. Pada fase ini anak menunjukkan sifat ke-AKU-annya. Sikapnya sangat narsistik dan egoistic. Ia pun mulai belajar kenal tubuhnya sendiri dan mendapatkan kepuasan dari pengalaman. Suatu tugas penting dalam yang lain dalam fase ini adalah perkembangan pembicaraan dan bahasa. Anak mula-mula hanya mengeluarkan bahasa suara yang tidak ada artinya, hanya untuk merasakan kenikmatan dari sekitar bibir dan mulutnya. Pada fase ini hubungan interpersonal anak masih sangat terbatas. Ia melihat bendabenda hanya untuk kebutuhan dan kesenangan dirinya. Pada umur ini seorang anak masi bermain sendiri, ia belum bias berbagi atau main bersama dengan anak lain. Sifatnya sangat egosentrik dan sadistik. c. Fase Falik Fase falik antara umur 3-12 tahun. Fase ini dibagi 2 yaitu fase oediopal antara 3-6 tahun dan fase laten antara 6-12 tahun. Fase oediopal dengan pengenalan akan bagian tubuhnya umur 3 tahun. Disini anak mulai belajar menyesuaiakan diri dengan hukum masyarakat. Perasaan seksual yang negative ini kemudia menyebabkania menjauhi orang tua dengan jenisn kelamin yang sama. Disinilah proses identifikasi seksual. Anak pada fase praoediopal biasanya senang bermain denagn anak yang jenis kelaminnya berbeda, sedangkan anak pasca oediopal lebih suka berkelompok dengan anak sejenis. d. Fase Laten Resolusi konflik oediopal ini menandai permulaan fase laten yang terentang 7-12 tahun, untuk kemudian anak masuk ke permulaan masa pubertas. Periode ini merupakan integrasi, yang bercirikan anak harus berhadapan dengan berbagai tuntutan dan hubungan denagn dunia dewasa. 5

Anak belajar untuk menerapkan dan mengintegrasikan pengalaman baru ini. Dalam fase berikutnya berbagai tekanan sosial akan dirasakan lebih berat oleh karena terbaur dengan keadaan transisi yang sedang dialami si anak. e. Fase Genital Dengan selesainya fase laten, maka sampailah anak pada fase terakhir dalam perkembangannya. Dalam fase ini si anak menghadapi persoalan yang kompleks. Kesulitan sering timbul pada fase ini disebabkan karena si anak belum dapat menyelesaikan fase sebelumnya dengan tuntas. 2. Teori tumbuh Kembang Erik Erikson Erikson melihat anak sebagai makhluk psisososial penuh energy. Ia mengungkapakan bahwa perkembangan emosional berjalan sejajar dengan pertumbuhan fisis, dan ada interaksi antara perkembangan fisis dan psikologis. Ia melihat adanya suatu keteraturan yang sama antara perkembangan psikologis dan pertumbuhan fisis. Erikson membagi

perkembangan manusi dari awal hingga akhir hayatnya menjadi 8 fase dengan brbagai tugas yang harus diselesaikan pada setiap fase. Lima fase pertama adalah saat anak tumbuh dan berkembang. a. Masa Bayi Kepercayaan dasar vs ketidak percayaan. Dalam masa ini terjadi interaksi sosial yang erat antara ibu dan anak yang menimbulkan rasa aman dalam diri si anak. Dari rasa aman tumbuh rasa kepercayaan dasar terhadap dunia luar. b. Masa Balita Kemandirian vs ragu dan malu. Masa balita dari Erikson ini kira-kira sejajar dengan fase anal. Pada masa ini anak sedang belajar untuk menegakkan kemandiriannya namun ia belum dapat berfikir, oleh karena itu masih perlu mebdapat bimbingan yang tegas. Psikopatologi yang

banyak ditemukan sebagai akibat kekurangan fase ini adalah sifat obsesifkompulsif dan yang lebih berat lagi adalah sifat atau keadaan paranoid. c. Masa Bermain Inisiatif vs bersalah. Masa ini berkisar antara umur 4-6 tahun. Anak pada umur ini sangat aktif dan banyak bergerak. Ai mulai belajar mengembangkan kemampuannya untuk bermasyarakat. Inisiatifnya mulai berkembang pula dan bersama temannya mulai belajar merencanakan suatu permainan dan melakukannya dengan gembira. d. Masa Sekolah Berkarya vs rasa rendah diri. Masa usia 6-12 tahun adalah masa anak mulai memasuki sekolah yang lebih formal. Ia sekarang berusaha merebut perhatian dan penghargaan atas karyanya. Ia belajar untuk menyelesaikan tugas yang diberikan padanya, rasa tanggung jawab mulai timbul, dan ia mulai senang untuk belajar bersama. e. Masa Remaja Identitas diri vs kebingungan akan peran diri. Pada sekitar umur 13 tahun masa kanak-kanak berakhir dan masa remaja dimulai. Pertumbuhan fisis menjadi sangat pesat dan mencapai taraf dewasa. Peran orang tua sebagai figure identifikasi lain. Nilai-nilai dianutnya mulai diaragukan lagi satu per satu. 3. Teori Tumbuh Kembang Menurut Piaget Piaget adalah pakar terkemuka dalam bidang teori perkembangan kognitif. Seperti juga Freud, Piaget melihat bahwa perkembangan itu mulai dari suatu orientasi yang egosentrik, kemudian makin meluas dan akhirnya memasuki dunia sosial. Piaget membagi perkembangan menjadi empat fase: a. Fase Sensori-motor (0-2 tahun) Seorang anak mempunyai sifat yang sangat egosentrik dan sangat terpusat pada diri sendiri. Oleh karena itu kebutuhan pada fase ini bersifat fisik,

fungsi ini menyebabkan si anak cepat menguasainya dan dibekali dengan keterampilan tersebut melangkah ke fase berikutnya. b. Fase Pra-operasional (2-7 tahun) Fase ini dibagi menjadi dua, yaitu fase para konseptual dan fase intuitif. Fase pra konseptual (2-4 tahun). Disini anak mulai mengembangkan kemampuan bahasa yang memungkinkan untuk berkomunikasi dan bermasyarakat dengan dunia kecilnya. Fase intuitif (4-7 tahun) anak makin mampu bermasyarakat namun ia belum dapat berfikir secara timbal balik. Ia banyak memperhatikan dan meniru perilaku orang dewasa. c. Fase Operasional Konkrit (7-11 tahun) Pengalaman dan kemampuan yang diperoleh pada fase sebelumnya menjadi mantap. Ia mulai belajar untuk menyesuaikan diri dengan temantemannyadan belajar menerima pendapat yang berbeda dari pendapatnya sendiri. d. Fase Operasional Formal (11-16 tahun) Pada fase akhir ini kemampuan berfikir anak akan mencapai taraf kemampuan berfikir orang dewasa. Tercapainya kemampuan ini memungkinkan remaja untuk masuk ke dalam dunia pendidikan yang lebih kompleks, yaitu dunia pendidikan tinggi.

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN KEJANG DEMAM

A. DEFINISI Kejang adalah perubahan fungsi otak mendadak dan sementara sebagai akibat dari aktivitas neural yang abnormal dan pelepasan listrik serebral yang berlebihan. (Cecily L. Betz, buku saku keperawatan pediatric, 2002) Kejang demam adalah bangkitan kejang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38 c) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang demam sering juga disebut kejang demam tonik-klonik, sangat sering dijumpai pada anak-anak usia di bawah 5 tahun. Kejang ini disebabkan oleh adanya suatu awitan hypertermia yang timbul mendadak pada infeksi bakteri atau virus. (Sylvia A. Price, Latraine M. Wikson, 2006). Kejang merupakan malfungsi singkat pada system listrik otak yang terjadi akibat cetusan atau pelepasan muatan neuron kortikal. (Whaley & Wongs, edisi 6, 2009)

B. ETIOLOGI Penyebab kejang meliputi beberapa faktor: (Wong, 2009) 1. Faktor genetik 2. Cedera otak pada masa prenatal, perinatal, atau pascanatal. Cedera dapat berupa trauma, hipoksia (gangguan sirkulasi), infeksi (encephalitis,

meningitis), toksin eksogen atau endogen dan berbagai factor lain. 3. Gangguan biokimia (hipoglikemia, hipokalsemia, dan defisiensi nutrisi tertentu).

C. KLASIFIKASI KEJANG Menurut Price, 2006 kejang diklasifikasikan sebagai berikut: a. Kejang parsial (fokal, local) 1. Kejang parsial sederhana 9

a) Kesadaran tidak terganggu b) Kedutan pada wajah, tangan atau salah satu sisi tubuh c) Muntah, berkeringat, muka merah, dilatasi pupil 2. Kejang parsial kompleks a) Terdapat gangguan kesadaran b) Mengecap-ngecapkan bibir, mengunyah, gerakan mencongkel yang berulang-ulang pada tangan. b. Kejang umum (konvulsif atau non konvulsif) 1. Kejang absens a) Gangguan kewaspadaan dan responsivitas b) Tatapan terpaku kurang dari 15 detik c) Awitan dan akhiran cepat, setelah itu kembali waspada d) Dimulai dari usia 4-14 tahun dan sembuh sendiri saat usia 18 tahun 2. Kejang mioklonik a) Kedutan-kedutan involunter pada otot atau sekelompok otot yang terjadi mendadak b) Sering terlihat pada orang sehat saat tidur c) Umumnya berlangsung kurang dari 5 detik d) Kehilangan kesadaran hanya sesaat 3. Kejang tonik-klonik a) Diawali hilangnya kesadaran dan saat tonik, kaku pada ekstremitas, batang tubuh dan wajah, berlangsung kurang dari 1 menit b) Disertai hilangnya control kandung kemih dan usus c) Tidak ada respirasi dan sianosis d) Saat tonik diikuti dengan gerakan klonik pada ekstremitas atas dan bawah e) Letargi, konfusi 4. Kejang atonik

10

a) Hilangya tonus secara mendadak sehingga meyebabka kelopak mata turun, kepala menunduk atau jatuh ke tanah b) Singkat dan terjadi tanpa peringatan 5. Status epileptikus a) Biasanya kejang tonik-klonik umumnya terjadi berulang-ulang b) Anak tidak sadar kembali diantara kejang c) Potensila depresi pernafasan, hipotensi dan hipoksia d) Memerlukan pengobatan medis darurat dengan segera.

D. PATOFISIOLOGI Peningkatan suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu singkat terjadi difusi ion kalium dan natrium melalui membran tersebut dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas keseluruh sel maupun membran sel sekitarnya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmiter dan terjadi kejang. Kejang demam yang terjadi singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak meninggalkan gejala sisa. Tetapi kejang yang berlangsung lama (lebih dari 15 menit) biasanya disertai apnea, meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat yang disebabkan oleh metabolisme anaerobik, hipotensi arterial disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh makin meningkat yang disebabkan oleh makin meningkatnya aktivitas otot, dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otak meningkat. Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah yang mengakibatkan hipoksia sehingga meningkatkan permeabilitas kapiler dan timbul edema otak yang mngakibatkan kerusakan sel neuron otak. Kerusakan pada daerah medial lobus temporalis setelah mendapat serangan kejang yang berlangsung lama dapat menjadi matang di kemudian hari sehingga terjadi serangan epilepsi spontan, karena itu kejang demam yang

11

berlangsung lama dapat menyebabkan kelainan anatomis di otak hingga terjadi epilepsi.

E.

PATHWAY
Infeksi ekstrakranial : suhu tubuh Gangguan keseimbangan membran sel neuron

Difusi Na dan Ca berlebih Depolarisasi membran dan lepas muatan listrik berlebih kejang

parsial

umum

sederhana

kompleks

absens

mioklonik

Tonik klonik

atonik

Kesadaran

Gg peredaran darah

Aktivitas otot

Resiko injury

Reflek menelan

hipoksi

Metabolisme

aspirasi

Permeabilitas kapiler

Keb. O2

Suhu tubuh makin meningkat 12

Sel neuron otak rusak

asfiksia

F.

TANDA DAN GEJALA 1. Serangan kejang klonik atau tonik-klonik bilateral 2. Mata terbalik ke atas 3. Gerakan sentakan berulang tanpa didahului kekakuan atau hanya sentakan atau kekakuan fokal 4. Umumnya kejang berlangsung kurang dari 6 menit, kurang dari 8% berlangsung lebih dari 15 menit 5. Kejang dapat diikuti hemiparesis sementara (hemiparesis todd), 6. Suhu 38 0C atau lebih.

G. PENATALAKSANAAN MEDIS a. Penanganan fase akut (Mansjoer A.,dkk, 2000) 1. Hentikan kejang segera Pemberian antipiretik (jika terjadi hiperpireksia) Pemberian diazepam a) IV: 0.3-0.5mg/kgBB/kali dengan kecepatan 1-2mg/ menit dengan dosis maksimal 20mg. b) Intrarektal: 5mg (BBkg<10), 10mg (BB>10kg) 2. Tindakan penunjang a) Posisi kepala lebih rendah & miring b) Saluran napas tetap terbuka c) Pakaian ketat dilonggarkan d) Amankan lidah e) Kosongkan isi lambung f) Jamin intake g) Oksigen / antibiotik kalau perlu

13

Jika kejang berhenti dengan diazepam, lanjutkan dengan fenobarbital (IM) diberikan langsung setelah kejang berhenti. Dosis untuk usia 1bln1thn: 50mg, usia >1thn 75mg. Jika kejang tidak berhenti dengan diazepam, berikan fentolin 10-20mg/kgBB (IV), dengan kecepatan 1mg/kgBB/menit. Setelah pemberian fentolin harus dilakukan pembilasan dengan NaCl fisiologis karena fentolin bersifat basa dan menyebabkan iritasi vena. b. Maintenance anti kejang Jika kejang berhenti dengan diazepam, lanjutkan dengan fenobarbital (IM) diberikan langsung setelah kejang berhenti. Dosis untuk usia 1bln-1thn: 50mg, usia >1thn 75mg. 4 jam kemudian berikan fenobarbital untuk 2 hari pertama 8-10mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis. Dosis total tidak melebihi 200mg/hari. Efek samping dapat berupa hipotensi, penurunan kesadaran, dan depresi pernapasan. Jika kejang tidak berhenti dengan diazepam, berikan fentolin 10-20mg/kgBB (IV), dengan kecepatan 1mg/kgBB/menit. Setelah pemberian fentolin harus dilakukan pembilasan dengan NaCl fisiologis karena fentolin bersifat basa dan menyebabkan iritasi vena. Lanjutkan fentolin dengan dosis 48mg/kgBB/hari, 12-24jam setelah dosis awal. c. Mencari & mengobati penyebab Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menyingkirkan

kemungkinan meningitis, terutama pada pasien kejang demam yang pertama. Walaupun demikian kebanyakan dokter melakukan pungsi lumbal hanya pada kasus yang dicurigai sebagai meningitis, misalnya bila ada gejala meningitis atau bila kejang demam berlangsung lama. d. Pengobatan profilaksis. 1) Profilaksis intermiten

14

Diberikan diberikan diazepam secara oral dengan dosis 0,3-0,5 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis saat pasien demam. Diasepam dapat pula diberikan secara intrarektal tiap 8 jam sebanyak 5 mg (BB < 10 kg) dan 10 mg (BB> 10 kg) setiap pasien menunjukkan suhu lebih dari 38,5C. Efek samping diazepam adalah ataksia, mengantuk dan hipotonia. 2) Profilaksis terus menerus. Diberikan untuk mencegah berulangnya kejang demam berat yang dapat menyebabkan kerusakan otak tapi tidak dapat mencegah terjadinya epilepsy di kemudian hari. Profilaksis terus menerus setiap hari dengan fenobarbital 4-5 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis. Obat lain yang dapat digunakan adalah asam valproat dengan dosis 15-40 mg/kgBB/hari. Antikonvulsan profilaksis terus menerus diberikan selama 1-2 tahun setelah kejang terakhir dan dihentikan bertahap selama 1-2 bulan. Profilaksis terus menerus dapat dipertimbangkan bila ada 2 kriteria (termasuk poin 1 dan 2) : 1) Sebelum kejang demam yang pertama sudah ada kelainan neurologist atau perkembangan (missal serebral palsy atau mikrosefal) 2) Kejang demam lebih lama dari 15 menit, fokal, atau diikuti kelainan neurologist sementara atau menetap. 3) Ada riwayat kejang tanpa demam pada orang tua atau saudara kandung 4) Bila kejang demam terjadi pada bayi berumur kurang dari 12 bulan atau terjadi kejang multiple dalam satu episode demam. 5) Bila hanya memenuhi satu criteria saja dan ingin memberikan pengobatan jangka panjang, maka berikan profilaksis intermiten yaitu pada waktu anak demam dengan diazepam oral atau rtektal tiap 8 jam di samping antipiretik.

15

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG a. EEG: untuk membantu menentukan jenis dan fokus dari kejang. b. CT-Scan: mendeteksi perbedaan perapatan jaringan. c. MRI: memperlihatkan daerah-daerah otak yang tidak terlihat dengan CTScan d. Labolatorium: elektrolit, glukosa, ureum, kreatinin, darah lengkap, kadar obat dalam serum e. LP: mendeteksi tekanan abdnormal dari CSS. f. PET (positron emission tomography): mendemonstrasikan perubahan metabolic (mis: penurunan metabolism glukosa pada sisi lesi). (Betz, Cecily L, dkk. 2002.)

I. ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pengkajian a. b. Identitas : umur, alamat Riwayat Kesehatan 1) Keluhan utama (keluhan yang dirasakan klien saat pengkajian) : demam, iritabel, menggigil, kejang) 2) Riwayat kesehatan sekarang (riwayat penyakit yang diderita klien saat masuk rumah sakit) : kapan mulai panas ? 3) Riwayat kesehatan yang lalu (riwayat penyakit yang sama atau penyakit lain yang pernah diderita oleh klien) : pernah kejang dengan atau tanpa demam? 4) Riwayat kesehatan keluarga (riwayat penyakit yang sama atau penyakit lain yang pernah diderita oleh anggota keluarga yang lain baik bersifat genetik atau tidak) : orang tua, saudara kandung pernah kejang? 5) Riwayat tumbuh kembang : adakah keterlambatan tumbuh kembang ? 6) Riwayat imunisasi 16

c.

Pemeriksaan Fisik 1) Keadaan umum : kesadaran, vital sign, status nutrisi (berat badan, panjang badan, usia) 2) Pemeriksaan persistem a) Sistem persepsi sensori : Penglihatan : air mata ada / tidak, cekung / normal Pengecapan : rasa haus meningkat / tidak, lidah lembab / kering b) Sistem persyarafan : kesadaran, menggigil, kejang, pusing c) Sistem pernafasan : dispneu, kusmaul, sianosis, cuping hidung, d) Sistem kardiovaskuler : takikardi, nadi lemah dan cepat / tak teraba, kapilary refill lambat, akral hangat / dingin, perifer e) Sistem gastrointestinal : Mulut : membran mukosa lembab / kering Perut : turgor ?, kembung / meteorismus, distensi Informasi tentang tinja : warna (merah, hitam), volume, bau, konsistensi, darah, melena f) Sistem integumen : kulit kering / lembab g) Sistem perkemihan : bak 6 jam terakhir, oliguria / anuria sianosis

d. Pola Fungsi Kesehatan a) Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan : sanitasi ?, b) Pola nutrisi dan metabolisme : anoreksia, mual, muntah e. Pola eliminasi a) b) Bab : frekuensi, warna (merah?, hitam?), konsistensi, bau, darah Bak : frekuensi, warna, bak 6 jam terakhir?, oliguria, anuria

f. Pola aktifitas dan latihan g. Pola kognitif dan perceptual h. Pola toleransi dan koping stress i. Pola nilai dan keyakinan 17

j. Pola hubungan dan peran k. Pola seksual dan reproduksi l. Pola percaya diri dan konsep diri 2. Diagnosa Keperawatan a. Hipertermi b.d viremia, peningkatan metabolic b. Resiko aspirasi b.d akumulasi secret, muntah, penurunan kesadaran c. Risiko injuri / cedera b.d. adanya kejang, hipoksia jaringan d. Perfusi jaringan serebral tak efektif b.d. hipovolemia, gangguan aliran vena dan arteri. e. Kecemasan (orang tua, anak) b.d. ancaman perubahan status kese-hatan, krisis situasional

18

3. Intervensi Keperawatan No 1. Diagnosa Keperawatan Hipertermi b.d, pening-katan metabolik, viremia Batasan karakteristik : Suhu tubuh > normal Kejang Takikardi Respirasi meningkat Diraba hangat Kulit memerah Tujuan Setelah dilakukan tindakan perawatan selama X 24 jam suhu badan pasien normal, dengan kriteria : Intervensi Mengatur Demam (3900) Monitor suhu sesuai kebutuhan Monitor tekanan darah, nadi dan respirasi Monitor suhu dan warna kulit Monitor dan laporkan tanda dan gejala hipertertermi Anjurkan intake cairan dan nutrisi yang adekuat Ajarkan klien bagaimana mencegah panas yang tinggi Berikan antipiretik sesuai advis dokter

Termoregulasi (0800) 1. Suhu kulit normal 2. Suhu badan 35,9-37,3C 3. Tidak ada sakit kepala / pusing 4. Tidak ada nyeri otot 5. Tidak ada perubahan warna Mengobati Demam (3740) kulit 1. Monitor suhu sesuai kebutuhan 6. Nadi, respirasi dalam batas 2. Monitor IWL normal 3. Monitor suhu dan warna kulit 7. Hidrasi adequate 4. Monitor tekanan darah, nadi dan respirasi 8. Pasien menyatakan nyaman 5. Monitor derajat penurunan kesadaran 9. Tidak menggigil 6. Monitor kemampuan aktivitas 10. Tidak iritabel / gra-gapan / 7. Monitor leukosit, hematokrit, Hb kejang 8. Monitor intake dan output 9. Monitor adanya aritmia jantung 10. Dorong peningkatan intake cairan 11. Berikan cairan intravena 12. Tingkatkan sirkulasi udara dengan kipas angin 13. Dorong atau lakukan oral hygiene

19

14. Berikan obat antipiretik untuk mencegah klien menggigil / kejang 15. Berikan obat antibiotic untuk mengobati penyebab demam 16. Berikan oksigen 17. Kompres hangat diselangkangan, dahi dan aksila. 18. Anjurkan klien untuk tidak memakai selimut 19. Anjurkan klien memakai baju berbahan dingin, tipis dan menyerap keringat Manajemen Lingkungan (6480) 1. Berikan ruangan sendiri sesuai indikasi 2. Berikan tempat tidur dan kain / linen yang bersih dan nyaman 3. Batasi pengunjung Mengontrol Infeksi (6540) 1. Anjurkan klien untuk mencuci tangan sebelum makan 2. Gunakan sabun untuk mencuci tangan 3. Cuci tangan sebelum dan sesudah me-lakukan kegiatan perawatan klien 4. Ganti tempat infuse dan bersihkan sesuai dengan SOP 5. Berikan perawatan kulit di area yang odema 6. Dorong klien untuk cukup istirahat 7. Lakukan pemasangan infus dengan teknik aseptik 8. Anjurkan klien minum antibiotik sesuai advis

20

dokter 2. Resiko aspirasi b.d aku-mulasi sekret, muntah, penurunan kesadaran Faktor Resiko Penurunan reflek batuk Penurunan kesadaran Gangguan menelan Produksi secret meningkat Dispneu Setelah dilakukan tindakan Memonitor Respirasi (3350) keperawatan selama x 24 jam 1. Monitor rata-rata, ritme, kedalaman, dan usaha klien tidak mengalami aspirasi, napas dengan kriteria : 2. Catat gerakan dada apakah simetris, ada penggunaan otot tambahan, dan retraksi 3. Monitor crowing, suara ngorok Respiratory status : ventilation 4. Monitor pola napas : bradipneu, takipneu, (0403) 1. Respirasi dalam rentang kusmaull, apnoe normal 5. Dengarkan suara napas : catat area yang 2. Ritme dalam batas normal ventilasinya menurun / tidak ada dan catat 3. Ekspansi dada simetris adanya suara tambahan 4. Tidak ada sputum 6. K/p suction dengan mendengarkan suara ronkhi 5. Tidak ada penggunaan ototatau krakles otot tambahan 7. Monitor peningkatan gelisah, cemas, air hunger 6. Tidak ada retraksi dada 8. Monitor kemampuan klien untuk batuk efektif 7. Tidak ditemukan dispneu 9. Catat karakteristik dan durasi batuk 8. Dispneu saat aktivitas tidak 10. Monitor secret di saluran napas ditemukan 11. Monitor adanya krepitasi 9. Napas pendek-pendek tidak 12. Monitor hasil roentgen thorak ditemukan 13. Bebaskan jalan napas dengan chin lift atau jaw 10. Tidak ditemukan taktil thrust bila perlu fremitus 14. Resusitasi bila perlu 11. Tidak ditemukan suara napas 15. Berikan terapi pengobatan sesuai advis (oral, tambahan injeksi, atau terapi inhalasi) Membersihkan Jalan Nafas (3160) 1. Pastikan kebutuhan suctioning 2. Auskultasi suara napas sebelum dan sesudah

21

Respiratory status : gas exchange (0402) 1. Status mental dalam batas normal 2. Bernapas dengan mudah 3. Gelisah tidak ditemukan 4. Tidak ada sianosis 5. Tidak ada somnolent

suctioning 3. Informasikan pada klien dan keluarga tentang suctioning 4. Meminta klien napas dalam sebelum suctioning 5. Berikan oksigen dengan kanul nasal untuk memfasilitasi suctioning na-sotrakheal 6. Gunakan alat yang steril setiap melakukan tindakan 7. Anjurkan klien napas dalam dan istirahat setelah kateter dikeluarkan dari nasotrakheal 8. Monitor status oksigen pasien 9. Hentikan suction apabila klien me-nunjukkan bradikardi Manajemen Jalan Nafas ( 3140) 1. Buka jalan napas, gunakan teknik chin lift atau jaw thrust bila perlu 2. Posisikan klien untuk memaksimalkan ventilasi 3. Identifikasi pasien perlunya pema-sangan jalan napas buatan 4. Pasang mayo bila perlu 5. Lakukan fisioterapi dada bila perlu 6. Keluarkan secret dengan batuk atau suction 7. Auskultasi suara napas , catat adanya suara nafas tambahan 8. Kolaborasi pemberian bronkodilator bila perlu 9. Monitor respirasi dan status oksigen

22

Mencegah Aspirasi (3200) 1. Monitor tingkat kesadaran, reflek batuk, gag reflek dan kemampuan menelan 2. Monitor status paru-paru 3. Pertahankan airway 4. Alat suction siap pakai, tempatkan disamping bed, dan suction sebelum makan 5. Beri makanan dalam jumlah kecil 6. Pasang NGT bila perlu 7. Cek posisi NGT sebelum memberikan makan 8. Cek residu sebelum memberikan makan 9. Hindari pemberian makanan jika residu banyak 10. Libatkan keluarga selama pemberian makan 11. Potong makanan menjadi kecil-kecil 12. Jaga posisi kepala klien elevasi 30-40 selama dan setelah pemberian makan 13. Anjurkan / atur posisi klien semi fowler atau fowler ketika makan 14. K/p per sonde atau drip feeding 15. Cek apakah makanan mudah di telan Mengatur posisi (0840) Miringkan kepala bila kejang untuk mencegah aspirasi ludah atau muntahan.

Risiko injuri / cedera b.d. adanya kejang, hipoksia jaringan

Setelah dilakukan tindakan Manajemen Lingkungan keperawatan selama X 24 jam 1. Diskusikan tentang upaya-upaya mencegah cedera, tidak terjadi cidera, dengan seperti lingkungan yang aman untuk klien,

23

criteria : 1. Status neurologist 2. Fungsi neurologi: sadar, kontrol gerakan pusat, fungsi motorik atau sensorik otak dalam batas yang diharapkan. 3. Dapat berkomunikasi 4. Ukuran pupil dalam batas normal 5. Pupil reaktif 6. Tak ada kejang 7. Tak ada sakit kepala 8. Pola nafas dalam batas normal. 9. Pola istirahat tidur ter-cukupi Kontrol Resiko - Mengakui adanya risiko - Monitor faktor risiko lingkungan. - Mengembangkan strategi kontrol risiko yang efektif - Menghindari eksposur yang mengancam kesehatan. - Mengenali perubahan status kesehatan

2. 3. 4. 5. 6.

menghindarkan lingkungan yang berbahaya (misalnya memindahkan perabotan) Memasang pengaman tempat tidur Memberikan penerangan yang cukup Menganjurkan keluarga untuk menemani klien Memindahkan barang-barang yang dapat membahayakan Bersama tim kesehatan lain, berikan penjelasan pada klien dan keluarga adanya perubahan status kesehatan

Manajemen kejang 1. Tunjukkan gerakan yang dapat mencegah injury / cidera. 2. Monitor hubungan antara kepala dan mata selama kejang. 3. Longgarkan pakaian klien 4. Temani klien selama kejang 5. Mengatur airway 6. Berikan oksigen bila perlu 7. Berikan terapi iv line bila perlu 8. Monitor status neurology 9. Monitor vital sign 10. Orientasikan kembali klien setelah kejang 11. Laporkan lamanya kejang 12. Laporkan karakteristik kejang: bagian tubuh yang terlibat, aktivitas motorik, dan pening-katan kejang. 13. Dokumentasikan informasi tentang kejang

24

14. Kelola medikasi (kolaborasi) 15. Kelola anti kejang (kolaborasi) bila diperlukan. 16. Monitor tingkat obat antiepilepsi, bila perlu 17. Monitor lama periode postictal dan karakteristiknya Pencegahan kejang 1. Sediakan tempat tidur yang bisa diatur rendah tinggi, bila perlu 2. Temani klien selama melakukan aktivitas diluar rumah sakit, bila perlu 3. Monitor regimen terapi 4. Monitor pemenuhan medikasi antiepilepsi. 5. Instruksikan keluarga / orang terdekat untuk melaporkan medikasi dan aktivitas kejang yang terjadi 6. Ajarkan pada klien tentang medikasi dan efek sampingnya. 7. Monitor tingkat obat antiepilepsi, bila perlu 8. Sediakan suction, ambubag, nasopharyngeal airway disamping tempat tidur. 9. Pasang side rail tempat tidur 10. Ajarkan orang tua untuk mengenali faktor pemicu. 5 Perfusi jaringan serebral tak efektif b.d. hipovolemia, gangguan aliran vena Setelah dilakukan tindakan Peningkatan perfusi cerebral : keperawatan selama X 24 jam 1. Mengkonsultasikan dengan dokter untuk perfusi jaringan serebral efektif, menentukan parameter hemodinamik (volume dengan criteria : perfusi darah, nadi, respirasi, kesadaran,

25

dan arteri.

Perfusi jaringan celebral - Fungsi neurology - Tekanan intrakranial dalam batas normal - Tak ada sakit kepala - Tak ada bunyi bruit carotis - Tak gelisah - Tak ada agitasi - Tak ada muntah - Tak ada sinkope Status neurology : kesadaran - Membuka mata terhadap stimulasi eksternal - Orientasi cognitif - Komunikasi sesuai situasi - Mematuhi perintah - Berespon (gerak) terhadap stimulus yang berbahaya (nyeri). - Mengikuti terhadap stimulus dari lingkungan - Tak ada kejang

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

perdarahan), dan mengelola parameter tersebut dalam batas normal Kelola / kolaborasi obat vasoaktif, untuk mengatur hemodinamik Monitor prothrombin, partial thromboplastin. Atur serum glukosa dalam batas normal Jaga hematokrit pada rentang 33% untuk terapi hemodilusi hipervolemia. Monitor tanda perdarahan, status neurologikesadaran Monitor tanda overload cairan. Monitor intake dan out put

Monitoring Neurologik : 1. Monitor ukuran pupil, bentuk, kesimetrisan, dan reaktivitas. 2. Monitor tingkat kesadaran 3. Monitor tingkat orientasi 4. Monitor PCS 5. Monitor memori saat ini, rentang perhatian, memori masa lalu, mood, perasaan/emosi, tingkah laku. 6. Monitor vital sign suhu, tekanan darah, nadi, respirasi. 7. Monitor status respirasi (kedalaman, pola, usaha untuk bernafas) 8. Monitor refleks kornea 9. Monitor refleks batuk dan refleks muntah 10. Monitor tonus otot, gerakan motorik.

26

11. Monitor adanya tremor 12. Monitor gangguan visual: diplopia, nistagmus, pemendekan lapang pandang, aktivitas visual 13. Monitor karakteristik bicara: lancar, aphasia, kesulitan menemukan kata-kata. 14. Monitor respon terhadap stimulus: verbal, taktil, stimulus berbahaya. 15. Monitor adanya parestesia 16. Monitor refleks babinski, respon cushing 6. Kecemasan (orang tua, anak) b.d. ancaman perubahan status kese-hatan, krisis situasional Setelah dilakukan tindakan 1. Gunakan pendekatan dengan konsep atraumatik keperawatan selama X 24 jam care kecemasan orang tua berkurang / 2. Jangan memberikan jaminan tentang prognosis hilang, dengan criteria : penyakit 3. Jelaskan semua prosedur dan dengarkan keluhan klien/keluarga Mengotrol cemas 1.Klien/keluarga mampu 4. Pahami harapan pasien/keluarga dalam situasi mengidentifikasi dan stres mengungkapkan gejala cemas. 5. Temani pasien/keluarga untuk memberikan 2.Mengidentifikasi, keamanan dan mengurangi takut mengungkapkan, dan 6. Bersama tim kesehatan, berikan informasi menunjukkan teknik untuk mengenai diagnosis, tindakan prognosis mengontrol cemas 7. Anjurkan keluarga untuk menemani anak dalam 3.Vital sign (TD, nadi, respirasi) pelaksanaan tindakan keperawatan dalam batas normal 8. Lakukan massage pada leher dan punggung, bila 4.Postur tubuh, ekspresi wajah, perlu bahasa tubuh, dan tingkat 9. Bantu pasien mengenal penyebab kecemasan aktivitas menunjukkan 10. Dorong pasien/keluarga untuk mengungkapkan berkurangnya kecemasan perasaan, ketakutan, persepsi tentang penyakit

27

5.Menunjukkan peningkatan konsentrasi dan akurasi dalam berpikir

11. Instruksikan pasien/keluarga menggunakan teknik relaksasi (sepert tarik napas dalam, distraksi, dll 12. Kolaborasi pemberian obat untuk mengurang

28

DAFTAR PUSTAKA Betz, Cecily L, dkk. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatri, Edisi 3. Jakarta: EGC John W. Santrock, 2002, Life Span Development; Perkembangan Masa Hidup, edisi 5, Erlangga, Jakarta. Judith M. Wilkinson, Prentice Hall Nursing Diagnosis Handbook with NIC Intervention and NOC Outcomes, Upper Saddle River, New Jersey, 2005 Mansjoer. A. Dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Edisi 3. Jakarta : Media Aesculapius. Marilyn E. Doenges. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. EGC. Jakarta Sylvia A. Price & Loraine M. Wilson, 2006. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses Penyakit, edisi 6. EGC. Jakarta Wong, Donna L. 2004. Pedoman Klinis Keperawtan Pediatrik, Edisi 4. Jakarta: EGC Wong, Donna L. 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik, Edisi 6. Jakarta: EGC

29

30

Anda mungkin juga menyukai