Anda di halaman 1dari 104

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Hakekat pembangunan nasional menurut Propenas adalah rencana pembangunan yang berskala nasional serta nasional serta mertipakan konsekuensi dan komitmen bersama masyarakat Indonesia mengenai pencapaian visi dan misi bangsa. Dengan demikian, fungsi Propenas adalah untuk menyatukan pandangan dan derap langkah seluruh lapisan masyarakat dalam melaksanakan prioritas pembangunan selarna lima tahun ke depan. (Propenas 2 !2 "#

Pembangunan $konomi adalah merupakan salah satu upaya dalam rangka mendukung pelaksanaan salah satu prioritas yang tercantum dalam Prioritas Pembangunan %asional, yaitu mempercepat pemulihan ekonomi dan memperkuat landasan pembangunan ekonomi berkelan&utan dan berkeadilan berdasarkan sistem kerakyatan. Penetapan prioritas tersebut mendasarkan pada masalah dan tantangan yang dihadapi serta arah kebi&akan dalam pembangunan ekonomi, baik pembangunan &angka pendek maupun &angka menengah (Propenas 2 2!2 "#.

'e&ak timbulnya krisis ekonomi yang dipicu oleh krisis moneter pertengahan 1((), pembangunan di Indonesia terhenti karena ketidakmampuan pemerintah dalam membiayai proyek!proyek pembangunan yang disebabkan pendapatan pemerintah berkurang, khususnya dari sektor pa&ak dan retribusi. *risis ekonomi telah berhasil memunculkan kepermukaan beberapa kelemahan perekonomian nasional. +erbagai distorsi yang ter&adi pada masa lalu telah 1

melemahkan ketahanan ekonomi nasional dalam menghadapi krisis, menimbulkan berbagai bentuk kesen&angan sosial dan menghambat kemampuan untuk mengatasi krisis dengan cepat. *urang meratanya penyebaran pelaksanaan pembangunan membuat kesen&angan pertumbuhan antar daerah, antara perkotaan dan pedesaan, antar ka,asan seperti ka,asan barat dan ka,asan timur Indonesia, maupun antar golongan masyarakat sehingga ge&olak sosial men&adi sangat mudah ter&adi. 'alah satu alasan penyelenggaraan otonomi daerah adalah agar pembangunan di daerah ber&alan seiring dengan pembangunan pusat. Ini merupakan bentuk koreksi atas pelaksanaan pembangunan ekonomi yang selama ini menitik beratkan pembangunan di pusat dan kurang memperhatikan perkembangan pembangunan daerah. Dengan kebi&akan yang sentralistik ini menyebabkan ter&adinya disparitas dan ketidakseimbangan pelaksanaan

pembangunan di pusat dan daerah. -kibatnya hampir seluruh potensi ekonomi di daerah tersedot ke pusat sehingga daerah tidak mampu berkembang secara memadai. .adi dengan otonomi daerah terkandung maksud untuk memperbaiki kekeliruan selama ini dengan cara memberikan peluang kepada daerah untuk mendapatkan dana lebih besar dan kebebasan untuk mengelolanya sendiri. Dalam sistem otonomi bertingkat berdasarkan // %o. 0 tahun 1()", rendahnya pendapatan asli daerah (P-D# sebagai sumber pembiayaan

pembangunan atau realisasi -P+D bukan merupakan masalah besar, karena pemerintah pusat mengalokasikan dana untuk belan&a pega,ai, pengeluaran rutin dan pembangunan daerah. Istilah 1bukan masalah besar1 tersebut meru&uk pada

kenyataan bah,a otonomi yang dikembangkan, diimplementasikan dengan penyerahan urusan pusat pada daerah 3unculnya /ndang!undang nomor 22 tahun 1((( tentang Pemerintahan. Daerah dan /ndang!undang nomor 20 tahun 1((( tentang Perimbangan *euangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, adalah &a,aban atas permasalahan tersebut, Dengan demikian ideologi politik dan struktur pemerintahan negara akan lebih bersifat desentralisasi dibanding dengan struktur pemerintahan sebelumnya yang bersifat sentralisasi. 3aka sudah saatnya bagi pemerintah Indonesia untuk melaksanakan sistem pemerintahan yang meletakkan peranan pemerintah daerah pada Posisi yang sangat krusial dalam meningkatkan kese&ahteraan ,arganya. Pemberian ke,enangan yang luas, nyata dan bertanggung &a,ab yang tersirat dalam perundangan tersebut, adalah pencerminan proses demokratisasi dalam pelaksanaan otonomi daerah untuk membantu pemerintah pusat dalam menyelenggarakan pemerintahan di daerah dengan titik berat kepada pemerintah *abupaten4*ota. 'ecara yuridis, pelaksanaan otonomi yang luas dan nyata tersebut bukan merupakan kelan&utan. 5etapi secara faktual empiris, merupakan kesinambungan dari pelaksanaan otonomi daerah berdasarkan // nomor 0 tahun 1()" dan bahkan peraturan sebelumnya. .adi tu&uan kebi&akan desentralisasi adalah 6 me,u&udkan keadilan antara kemampuan dan hak daerah7 peningkatan pendapatan asli daerah dan pengurangan subsidi dari pusat7 mendorong pembangunan daerah sesuai dengan aspirasi masing!masing daerah. 3enghadapi implementasi undang!undang tersebut, salah satu hal yang perlu dipersiapkan adalah penentuan kekhasan daerah yang merupakan unggulan

"

dengan potensi sumber daya manusia, kelembagaan dan sumberdaya fisik lokal sebagai modal untuk peningkatan kegiatan ekonomi. Pemerintah daerah dituntut untuk siap menerima beban dan tanggung&a,ab yang berkaitan dengan potensi yang dimilikinya dalam mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. -rtinya bah,a daerah provinsi perlu didorong dan harus mampu meningkatkan kemampuan dalam memanfaatkan peluang yang ada, serta menggali sumber!sumber baru yang potensial untuk meningkatkan penerimaan daerah. 'ebaliknya dengan sistem otonomi baru yang nyata dan luas (// %omor 22 tahun 1(((#, dengan rendahnya P-D maka daerah dihadapkan pada permasalahan yang rumit. Disamping harus meningkatkan penerimaan, daerah &uga harus memacu produktivitas pemerintah daerah dengan membangun sarana dan prasarana penun&ang bagi tumbuh dan berkembangnya investasi yang merupakan penggerak dalam proses pembangunan ekonomi di suatu daerah. 8tonomi fiskal daerah merupakan salah satu aspek penting dari otonomi daerah secara keseluruhan, karena pengertian otonomi fiskal daerah

menggambarkan kemampuan pemerintah daerah dalam meningkatkan P-D seperti pa&ak, retribusi dan lain!lain. %amun harus diakui bah,a dera&at otonomi fiskal daerah di Indonesia masih rendah, artinya daerah belum mampu membiayai pengeluaran rutinnya. *arena itu otonomi daerah bisa di,u&udkan hanya apabila disertai keuangan yang efektif. Pemerintah daerah secara finansial harus bersifat independent terhadap pemerintah pusat dengan &alan sebanyak mungkin menggali sumber!sumber P-D (9adianto, 1((),"27- Halim, 2 1,2":#. 9ealitas hubungan

fiskal antara daerah dan pusat, ditandai dengan tingginya kontrol pusat terhadap proses pembangunan daerah. Ini terlihat &elas dari rendahnya P-D terhadap total pendapatan dibandingkan dengan total subsidi yang didrop dari pusat. 'elama ini sumber dana P-D di empat provinsi di Pulau *alimantan mencerminkan ketergantungan daerah kepada pemerintah pusat masih sangat dominan. 5abel berikut ini adalah struktur penerimaan pemerintah daerah dari empat Provinsi di Pulau *alimantan.

; Tabel 1.1 Realisasi Penerimaan Daerah Propinsi Besar di P la !alimantan "en r t #enis Penerimaan Tah n $%%&'$%%('$%1% ) Dalam # taan *

TAHUN A 2 : :22,:2;.;( 1(.;(< 2 (

!ALI"ANTAN TI"UR B 1,;(2,::(.2: " .01< 1,;;2,):).12 2(.)(< D ",1):,012.1( 1 . < A 2:,0":.(: 2.0:<

!ALI"ANTAN BARAT B ""2,2)0.) "1.22< 0(2,"02.:: 00.1(< D 1, )0,2)).0; 1 . < A "(,1":.:0 0.00<

!ALI"ANTAN TEN+AH B 21:,0;;.;; 20.("< 01:,0(0.: 0:.01< D ::;,211.22 1 . < A )(, 1(.:; :.12<

!ALI"ANTAN ,ELATAN B 02(,(;;.:0 00.0;< 202,(2).1 2;.21< D ()1,(12.:1 1 . <

:)(,22;.) 1:.1(<

2,"2(,2:0.1 0 .";<

1,010, 11."0 21.2"<

",:22,;22.20 1 . <

10),0").20 1 .(1<

;(",;21.): ":.11<

0(1,;11.2 " .(:<

1,""2,): .22 1 . <

:;,2().0" ).(:<

")",21 .20 "2.:"<

021,122.0; ":.1:<

1, :1,;21."0 1 <

1"",0"2.2; 11.10<

):), ;".:2 ; .)2<

2;",;;1." 2:.12<

1,2(;,2;:.": 1 . <

2 1

1,);),11;.)0 1:.2(<

",2 (,10 .:( "2.0)<

2,;:","0;.1" 2:.1"<

(,;; ,)22.)( 1 . <

2:",;);.0" 11.:2<

1,211,"1).)2 0 .21<

(11,; 2. 2).:;<

2," ),;().2; 1 . <

22),:)0. ; 11.):<

:2 ,()".1; "2.(;<

:)0,2 ".12 "0.2;<

1,(2",102.2" 1 . <

";2,"01.)0 1).;:<

1,21 ,022.); 0 .11<

:"2,22 . ( 22.21<

2,;10,21".;1 1 . <

2 11

2,22(, 22.() 2 . (<

0,;20, 0(.;2 0 .")<

2,2:2, "2."" 2(."0<

11,1";,120. 2 1 . <

122, ;2."" 0.:;<

1,1:",;1(.01 02.;1<

(20, ) .2" "1.02<

2,201,)02.1( 1 . <

"2(, (1.:2 1).(;<

1,2"1,;"".:( 01.(;<

)1(, 20. ( 2 . (<

2,2:(,);1.)( 1 . <

2;),)";.(" 1".22<

1,22;,21". 01.)2<

:)(,2)2.) 2". "<

2,0:2,"2".;" 1 . <

2 12

012,;:2.22 0.1"<

0,);1,:01."1 0).)2<

2,) ),;2).(" 2).1"<

(,(:2,1)1.0) 1 . <

::,2(1.2 2.)1<

2, :2,2 2."" ;2.):<

1, (2,:(1.21 22.01<

2,2;",":".(0 1 . <

""),:1".0) 10.""<

1,";), ".0) 0 .0:<

(:0," ).() 22.(:<

2,( ,22).11 1 . <

2 ,02(.;0 ;.21<

2,1(;,:;0.;" ;(.12<

): ,0;1.1( 2".0;<

2,1)),(;;.": 1 . <

+ > D

6 'I=P6 P-D 6 P$%$9I3--% D-9I P/'-5 D-% PI%.-3-% D-$9-H 6 585-= P$%D-P-5-%

Dengan melihat realisasi penerimaan Pemerintah Daerah Provinsi *alimantan 5engah yang terdiri dari berbagai &enis penerimaan seperti diatas, penerimaan Pendapatan -sli Daerah (P-D# mengalami peningkatan dari tahun ke tahun pada tahun 2 :42 ( P-D nya sebesar 9p 21:,.0;;.;;" atau 20,("< dari ( P-D nya sebesar

total penerimaan sebesar 9p ::;.211.21:, tahun 2

")".21 .2"( atau "2,:"< dari total penerimaan sebesar 9p 1. :1.;21.""0, pada tahun 2 1 P-Dnya sebesar 9p :2 .()".10; atau "2,(;< dari total penerimaan sebesar 9p 1.(2".102.222 serta pada tahun 2 11 P-D nya sebesar 9p. ( (.0;:.";: atau ")< dari total penerimaan sebesar 9p 1.(20.22;.12;. *eleluasaan dalam usaha menggali sumber!sumber penerimaan tersebut, banyak daerah yang memikirkan bagaimana meningkatkan tarif pa&ak dan retribusi daerah serta obyek!obyek pa&ak dan retribusi yang baru. Hal ini menimbulkan keresahan di daerah, karena rakyat kha,atir akan membayar pa&ak lebih banyak dibanding sebelum adanya otonomi daerah. Dalam // %o. 2" tahun 2 pasal 2 ayat ("# disebutkan bah,a dengan

Peraturan daerah dapat ditetapkan &enis pa&ak *abupaten4*ota selain yang ditetapkan dalam ayat (2#. 'edangkan dalam ayat (2# dinyatakan &enis!&enis pa&ak yaitu pa&ak hotel, restoran, hiburan, reklame, penerangan &alan, pengambilan bahan galian golongan >, dan pa&ak parkir. *enyataan ini berpotensi untuk mendorong pemerintah daerah saling berlomba dalam menerbitkan Peraturan Daerah (Perda# dengan mengesampingkan kriteria maupun prinsip perpa&akan. /ndang!/ndang nomor 22 tahun 1((( dan /ndang!/ndang nomor 20 tahun 1((( yang sebenarnya dimaksudkan untuk mengurangi ketergantungan

daerah terhadap pemerintah pusat, &ustru berimplikasi menciptakan hori?ontal imbalance, disamping mengurangi vertical imbalance (@A. 'ugiyanto, 2 1.$. Per m san masalah *onsekuensi dari pelaksanaan otonomi terletak pada kesiapan dan kemampuan daerah untuk menerima beban dan tanggung&a,ab yang dimilikinya dalam mengatur serta mengurus rumah tangganya sendiri. -rtinya, pemerintah daerah provinsi *alimantan 5engah harus mampu meningkatkan P-Dnya melalui berbagai potensi yang dimiliki. Penerimaan yang berasal dari P-D provinsi *alimantan 5engah &umlahnya masih lebih rendah dibandingkan dengan provinsi *alimantan 5imur, *alimantan +arat dan *alimantan 'elatan, sehingga untuk membiayai kebutuhan daerahnya, Provinsi *alimantan 5engah masih sangat tergantung pada penerimaan dari pemerintah pusat. Dengan kata lain, P-D Provinsi *alimantan 5engah masih rendah dan selama daerah masih memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap pusat, maka selain akan meningkatkan beban anggaran pemerintah pusat, otonomi yang diharapkan dapat menciptakan kemandirian tersebut akan sulit untuk dilaksanakan. +erdasarkan latar belakang diatas, maka pertanyaan penelitian yang dia&ukan adalah sebagai berikut 6 a. 'e&auhmana kemampuan fiskal daerah dalam mendukung kemandirian ekonomi Provinsi *alimantan 5engah. b. @aktor!faktor apa sa&a yang berpengaruh dalam penerimaan P-D Provinsi *alimantan 5engah. 6 "#.

1... T / an dan man0aat penelitian. 1...1. T / an Penelitian Bang men&adi tu&uan penelitian ini adalah6 a. 3enganalisis faktor!faktor yang mempengaruhi Pendapatan -sli Daerah (P-D# 1.2.2. 3anfaat Penelitian. 'edangkan manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah 6 a. 'ebagai bahan masukan bagi pihak!pihak yang memerlukan, terutama Pemerintah Provinsi *alimantan 5engah terkait peningkatan potensi penerimaan P-D. b. 'ebagai bahan pertimbangan bagi pengambil kebi&akan guna peningkatan P-D. c. 'ebagai bahan masukan bagi penelitian lebih lan&ut. dengan pemanfaatan dan

BAB. II TIN#AUAN PU,TA!A DAN !ERAN+!A PE"I!IRAN TE1RITI,

$.1. Tin/a an P staka $.1.1. 1tonomi Daerah. Pemberian otonomi daerah diharapkan dapat meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan akuntabilitas sektor publik di Indonesia. Dengan otonomi, Daerah dituntut untuk mencari alternatif sumber pembiayaan pembangunan tanpa mengurangi harapan masih adanya bantuan dan bagian (sharing# dari Pemerintah Pusat dan menggunakan dana publik sesuai dengan prioritas dan aspirasi masyarakat. Dengan kondisi seperti ini, peranan investasi s,asta dan perusahaan milik daerah sangat diharapkan sebagai pemicu utama pertumbuhan dan pembangunan ekonomi daerah (enginee of gro,th#. Daerah &uga diharapkan mampu menarik investor untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah serta menimbulkan efek multiplier yang besar. Pemberian otonomi daerah diharapkan dapat memberikan keleluasaan kepada daerah dalam pembangunan daerah melalui usaha!usaha yang se&auh mungkin mampu meningkatkan partisipasi aktif masyarakat, karena pada dasarnya terkandung tiga misi utama sehubungan dengan pelaksanaan otonomi daerah tersebut, yaitu6 a. b. 3enciptakan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sumber daya daerah 3eningkatkan kualitas pelayanan umum dan kese&ahteraan masyarakat 1

11

c.

3emberdayakan dan menciptakan ruang bagi masyarakat untuk ikut serta (berpartisipasi# dalam proses pembangunan. +erikut ini daftar investasi Pemerintah Provinsi *alimantan 5engah dari

tahun 2

0 sampai dengan tahun 2 12

5abel 2.1 Daftar Pendapatan dan +elan&a Daerah


TH 2 0 2 ; 2 ) 2 : PENDAPATAN ;:".;(2.12:.: (";.22).00:.:"0 1. :1.;21.""".(02 1.(2".102.22 .(:1 BELAN#A ;20.0"".2:;."12 :0;."1). 22. "( :0).2):."1)."2( 1.0 :. 2".:().1:; 2.122.102.")2.2"" 2.;10.::;. 10.:2" 2.0)2.00".20:.( : 2.(2;.21 .:1".;)( IN2E,TA,I 1)1.;2;.2(2.)"" 1)". 2 .)1(.)"" 1: . ( .)1(.)"" 1(0. ( .)1(.)"" 2 0.;)).(0;. 2"1.220.02(. 01).2; .:(0.111 ( 2."( .22;.;22 PAD 22:.:)".(:.2;: 21:.0;;.;;".12) ")".21 .2":.:2; :2 .()".10".0 " 1.2"1.;"".::).22" 1.";). ".0);.:10 1.:;0.2(1.1(1.2:0 2."( .;"2.)"2.;""

2 ( 2.2:(.);1.)(0."1 2 1 2."02."12.00(.2:0

2 11 2.::2.0((.:):.22: 2 12 2.02;.:2(." .10(

'umber Data 6 -P+D Provinsi *alimantan 5engah 5h. 2

0 s4d 2 12

Dilihat dari tabel di atas menun&ukkan bah,a Pemerintah Provinsi *alimantan 5engah telah berupaya menginvestasikan sebagian dari P-D nya untuk untuk menambah penerimaan dari usaha daerah guna mense&ahterakan masyarakat. /ntuk mencapai tu&uan agar dapat me,u&udkan masyarakat yang se&ahtera baik secara regional maupun nasional, sebagai langkah a,al perlu meningkatkan

12

efisiensi dan produktivitas, dan melakukan perubahan yang struktural untuk memperkuat kedudukan dan peran ekonomi rakyat dalam perekonomian nasional. Perubahan struktural adalah perubahan dari ekonomi tradisional yang subsistem menu&u ekonomi modern yang berorientasi pada pasar. /ntuk mendukung perubahan struktural dari ekonomi tradisional yang subsistem menu&u ekonomi moderen diperlukan pengalokasian sumber daya, penguatan kelembagaan, penguatan teknologi dan pembangunan sumber daya manusia. =angkah!langkah yang perlu diambil dalam me,u&udkan kebi&akan tersebut adalah sebagai berikut ('umodiningrat, 1(((# 6 a. Pemberian peluang atau akses yang lebih besar kepada aset produksi, yang paling mendasar adalah akses pada dana. b. c. 3emperkuat posisi transaksi dan kemitraan usaha ekonomi rakyat. 3eningkatkan pelayanan pendidikan dan kesehatan dalam rangka kualitas sumber daya manusia, disertai dengan upaya peningkatan gi?i. d. *ebi&akan pengembangan industri harus mengarah pada penguatan industri rakyat yang terkait dengan industri besar. Industri rakyat yang berkembang men&adi industri!industri kecil dan menengah yang kuat harus men&adi tulang punggung industri nasional. e. *ebi&akan ketenagaker&aan yang mendorong tumbuhnya tenaga ker&a mandiri sebagai cikal bakal ,irausaha baru yang nantinya berkembang men&adi ,irausaha kecil dan menengah yang kuat dan saling menun&ang.

12

f.

Pemerataan pembangunan antar daerah. $konomi rakyat tersebut tersebar di seluruh pen&uru tanah air, oleh karena itu pemerataan pembangunan daerah diharapkan mempengaruhi peningkatan pembangunan ekonomi rakyat. 'e&alan dengan upaya untuk memantapkan kemandirian Pemerintah

Daerah yang dinamis dan bertanggung &a,ab, serta me,u&udkan pemberdayaan dan otonomi daerah dalam lingkup yang lebih nyata, maka diperlukan upaya! upaya untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan profesionalisme sumber daya manusia dan lembaga!lembaga publik di daerah dalam mengelola sumber daya daerah. /paya!upaya untuk meningkatkan pengelolaan sumber daya daerah harus dilaksanakan secara komprehensif dan terintegrasi mulai dari aspek perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi sehingga otonomi yang diberikan kepada daerah akan mampu meningkatkan kese&ahteraan masyarakat. Dari aspek perencanaan, Daerah sangat membutuhkan aparat daerah (baik eksekutif maupun legislatif# yang berkualitas tinggi, bervisi strategik dan mampu berpikir strategik, serta memiliki moral yang baik sehingga dapat mengelola pembangunan daerah dengan baik. Partisipasi aktif dari semua elemen yang ada di daerah sangat dibutuhkan agar perencanaan pembangunan daerah benar!benar mencerminkan kebutuhan daerah dan berkaitan langsung dengan permasalahan yang dihadapi daerah. Dari aspek pelaksanaan, Pemerintah Daerah dituntut mampu menciptakan sistem!sistem mana&emen yang mampu mendukung operasionalisasi

pembangunan daerah.

1"

'alah satu aspek dari pemerintahan daerah yang harus diatur secara hati! hati adalah 3asalah pengelolaan keuangan daerah dan anggaran daerah. -nggaran Daerah atau -nggaran Pendapatan dan +elan&a Daerah (-P+D# merupakan instrumen kebi&akan yang utama bagi Pemerintah Daerah. 'ebagai instrumen kebi&akan, -P+D menduduki posisi sentral dalam upaya pengembangan kapabilitas dan efektivitas pemerintah daerah. -P+D

digunakan sebagai alat untuk menentukan besarnya pendapatan dan pengeluaran, membantu pengambilan keputusan dan perencanaan pembangunan, otorisasi pengeluaran dimasa!masa yang akan datang. 'umber pengembangan ukuran!ukuran standar untuk evaluasi kiner&a, alat untuk memotivasi para pega,ai, dan alat koordinasi bagi semua aktivitas dari berbagai unit ker&a. Dalam kaitan ini, proses penyusunan dan pelaksanaan -P+D hendaknya difokuskan pada upaya untuk mendukung pelaksanaan program dan aktivitas yang men&adi preferensi daerah yang bersangkutan. /ntuk memperlancar pelaksanaan program dan aktivitas yang telah direncanakan dan 3empermudah pengendalian, pemerintah daerah dapat membentuk pusat!pusat pertanggung&a,aban

(responsibility centers# sebagai unit pelaksana. /ntuk memastikan bah,a pengelolaan dana publik (public money# telah dilakukan sebagaimana mestinya (sesuai konsep value for money#, perlu dilakukan evaluasi terhadap hasil ker&a pemerintah daerah. $valuasi dapat dilakukan oleh pihak internal yang dapat dilakukan oleh internal auditor maupun oleh eksternal auditor, misalnya auditor independen. /ntuk menciptakan

10

transparansi dan akuntabilitas publik, pemerintah daerah perlu membuat =aporan *euangan yang disampaikan kepada publik. Penga,asan dari semua lapisan masyarakat dan khususnya dari DP9D mutlak diperlukan agar otonomi yang diberikan kepada daerah tidak CkebablasanD dan dapat mencapai tu&uannya. $.1.$. Pengelolaan !e angan Daerah 3ang berorientasi pada !epentingan P blik. 'ecara garis besar, pengelolaan (mana&emen# daerah dapat dibagi men&adi dua bagian yaitu mana&emen penerimaan daerah dan mana&emen pengeluaran daerah. *edua komponen tersebut akan sangat menentukan kedudukan suatu pemerintah daerah dalam rangka melaksanakan otonomi daerah. *onsekuensi logis pelaksanaan otonomi daerah berdasarkan // %o. 22 tahun 1((( dan // %o. 20 tahun 1((( menyebabkan perubahan dalam mana&emen keuangan daerah. Perubahan tersebut antara lain adalah perlunya dilakukan budgeting reform atau reformasi anggaran. -spek utama budgeting reform adalah perubahan dari traditional budget ke performance budget. 'ecara garis besar terdapat dua pendekatan utama yang memiliki perbedaan mendasar. *edua pendekatan tersebut adalah6 (a# -nggaran tradisional atau anggaran konvensional7 dan (b# Pendekatan baru yang sering dikenal dengan pendekatan %e, Public 3anagement. $.1.$.1. Anggaran Tradisional -nggaran tradisional merupakan pendekatan yang paling banyak digunakan di negara berkembang de,asa ini. 5erdapat dua ciri utama dalam pendekatan ini, yaitu6 (a# cara penyusunan anggaran yang didasarkan atas pendekatan incrementalism dan (b# struktur dan susunan anggaran yang bersifat

1;

line!item. >iri lain yang melekat pada pendekatan anggaran tradisional tersebut adalah6 (c# cenderung sentralistis7 (d# bersifat spesifikasi7 (e# tahunan7 dan (f# menggunakan prinsip anggaran bruto. 'truktur anggaran tradisional dengan ciri! ciri tersebut tidak mampu mengungkapkan besarnya dana yang dikeluarkan untuk setiap kegiatan, dan bahkan anggaran tradisional tersebut gagal dalam memberikan informasi tentang besarnya rencana kegiatan. 8leh karena tidak tersedianya berbagai informasi tersebut, maka satu!satunya tolok ukur yang dapat digunakan untuk tu&uan penga,asan hanyalah tingkat kepatuhan penggunaan anggaran. 3asalah utama anggaran tradisional adalah terkait dengan tidak adanya perhatian terhadap konsep value for money. *onsep ekonomi, efisiensi dan efektivitas seringkali tidak di&adikan pertimbangan dalam penyusunan anggaran tradisional. Dengan tidak adanya perhatian terhadap konsep value for money ini, seringkali pada akhir tahun anggaran ter&adi kelebihan anggaran yang pengalokasiannya kemudian dipaksakan pada aktivitas!aktivitas yang sebenarnya kurang penting untuk dilaksanakan. Dilihat dari berbagai sudut pandang, metode penganggaran tradisional memiliki beberapa kelemahan, antara lain (3ardiasmo, 2 2#6

a. Hubungan yang tidak memadai (terputus# antara anggaran tahunan dengan rencana pembangunan &angka pan&ang. b. Pendekatan incremental menyebabkan se&umlah besar pengeluaran tidak pernah diteliti secara menyeluruh efektivitasnya.

1)

c. =ebih berorientasi pada input daripada output. Hal tersebut menyebabkan anggaran tradisional tidak dapat di&adikan sebagai alat untuk membuat kebi&akan dan pilihan sumber daya, atau memonitor kiner&a. *iner&a dievaluasi dalam bentuk apakah dana telah habis dibelan&akan, bukan apakah tu&uan tercapai. d. 'ekat!sekat antar departemen yang kaku membuat tu&uan nasional secara keseluruhan sulit dicapai. *eadaan tersebut berpeluang menimbulkan konflik, overlapping, kesen&angan, dan persaingan antar departemen. e. Proses anggaran terpisah untuk pengeluaran rutin dan pengeluaran modal4investasi. f. -nggaran tradisional bersifat tahunan. -nggaran tahunan tersebut sebenarnya terlalu pendek, terutama untuk proyek modal dan hal tersebut dapat mendorong praktik!praktik yang tidak diinginkan (korupsi dan kolusi#. g. 'entralisasi penyiapan anggaran, ditambah dengan informasi yang tidak memadai menyebabkan lemahnya perencanaan anggaran. 'ebagai akibatnya adalah munculnya budget padding atau budgetary slack. h. Persetu&uan anggaran yang terlambat, sehingga gagal memberikan mekanisme pengendalian untuk pengeluaran yang sesuai, seperti seringnya dilakukan revisi anggaran dan Emanipulasi anggaran.E i. -liran informasi (sistem informasi finansial# yang tidak memadai yang men&adi dasar mekanisme pengendalian rutin, mengidentifikasi masalah dan tindakan.

1:

+eberapa kelemahan anggaran tradisional di atas sebenarnya lebih banyak merupakan kelemahan pelaksanaan anggaran, bukan bentuk anggaran tradisional. $.1.$.$. Era Ne4 P bli5 "anagement )NP"* 9eformasi sektor publik yang salah satunya ditandai dengan munculnya era %e, Public 3anagement telah mendorong usaha untuk mengembangkan pendekatan yang lebih sistematis dalam perencanaan anggaran sektor publik. 'eiring dengan perkembangan tersebut, muncul beberapa teknik penganggaran sektor publik, misalnya adalah teknik anggaran kiner&a

(performance budgeting#, Fero +ased +udgeting (F++#, dan Planning, Programming, and +udgeting 'ystem (PP+'#. Pendekatan baru dalam sistem anggaran publik tersebut cenderung memiliki karakteristik umum sebagai berikut6 ! ! ! ! ! ! ! *omprehensif4komparatif 5erintegrasi dan lintas departemen Proses pengambilan keputusan yang rasional +er&angka pan&ang 'pesifikasi tu&uan dan perangkingan prioritas -nalisis total cost dan benefit (termasuk opportunity cost# +erorientasi input, output, dan outcome (value for money#, bukan sekedar input. ! -danya penga,asan kiner&a.

1(

Tabel $.$. "en3a/ikan perbedaan mendasar antara anggaran tradisional dengan anggaran era ne4 p bli5 management. 5abel 2..2 Perbandingan -nggaran 5radisional G' -nggaran Dengan Pendekatan %P3

AN++ARAN TRADI,I1NAL
'entralistis +erorientasi pada input 5idak terkait dengan perencanaan &angka pan&ang Line-item dan incrementalism +atasan departemen yang kaku (rigid department# 3enggunakan aturan klasik6 Vote accounting Prinsip anggaran bruto +ersifat tahunan

NEW PUBLIC MANAGEMENT


Desentralisasi H devolved management +erorientasi pada input, output, dan outcome (value for money# /tuh dan komprehensif dengan perencanaan &angka pan&ang +erdasarkan sasaran dan target kiner&a =intas departemen (cross department# Zero-Base Budgeting, Planning Programming Budgeting System 'istematik dan rasional Bottom-up budgeting

'umber Data 6 -rtikel 85D- I 5h. I I " I .uni 2

5raditional budget didominasi oleh penyusunan anggaran yang bersifat line!item dan incrementalism, yaitu proses penyusunan anggaran yang hanya mendasarkan pada besarnya realisasi anggaran tahun sebelumnya, konsekuensinya tidak ada perubahan mendasar atas anggaran baru. Hal ini seringkali bertentangan dengan kebutuhan riil dan kepentingan masyarakat. Dengan basis seperti ini, -P+D masih terlalu berat menahan arahan, batasan, serta orientasi subordinasi kepentingan pemerintah atasan. Hal tersebut menun&ukkan terlalu dominannya peranan pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah. +esarnya dominasi ini seringkali mematikan inisiatif dan prakarsa Pemerintah Daerah, sehingga

memunculkan fenomena pemenuhan petun&uk pelaksanaan dan petun&uk teknis dari pemerintah pusat. Performance budget pada dasarnya adalah sistem penyusunan dan pengelolaan anggaran daerah yang berorientasi pada pencapaian hasil atau kiner&a. *iner&a tersebut harus mencerminkan efisiensi dan efektivitas pelayanan publik, yang berarti harus berorientsi pada kepentingan publik. 3erupakan kebutuhan masyarakat daerah untuk menyelenggarakan otonomi secara luas, nyata dan bertanggung &a,ab dan otonomi daerah harus dipahami sebagai hak atau ke,enangan masyarakat daerah untuk mengelola dan mengatur urusannya sendiri. -spek atau peran pemerintah daerah tidak lagi merupakan alat kepentingan pemerintah pusat belaka melainkan alat untuk memper&uangkan aspirasi dan kepentingan daerah. Perubahan dalam pengelolaan keuangan daerah harus tetap berpegang pada prinsip!prinsip pengelolaan keuangan daerah (anggaran# yang baik. Prinsip mana&emen keuangan daerah yang diperlukan untuk mengontrol kebi&akan keuangan daerah tersebut meliputi6 -kuntabilitas7 Galue for 3oney7 *e&u&uran dalam mengelola keuangan publik (probity#7 5ransparansi7 dan Pengendalian.

21

a# -kuntabilitas -kuntabilitas adalah prinsip pertanggung&a,aban publik yang berarti bah,a proses penganggaran mulai dari perencanaan, penyusunan dan pelaksanaan harus benar!benar dapat dilaporkan dan dipertanggung&a,abkan kepada DP9D dan masyarakat. -kuntabilitas mensyaratkan bah,a pengambil keputusan berperilaku sesuai dengan mandat yang diterimanya. /ntuk ini, perumusan kebi&akan, bersama!sama dengan cara dan hasil kebi&akan tersebut harus dapat diakses dan dikomunikasikan secara vertikal maupun hori?ontal dengan baik. b# Galue for 3oney Galue for money berarti diterapkannya tiga prinsip dalam proses penganggaran yaitu ekonomi, efisiensi, dan efektivitas. $konomi berkaitan dengan pemilihan dan penggunaan sumber daya dalam &umlah dan kualitas tertentu pada harga yang paling murah. $fisiensi berarti bah,a penggunaan dana masyarakat (public money# tersebut dapat menghasilkan output yang maksimal (berdaya guna#. $fektivitas berarti bah,a penggunaan anggaran tersebut harus mencapai target!target atau tu&uan kepentingan publik. Dalam konteks otonomi daerah, value for money merupakan &embatan untuk menghantarkan pemerintah daerah mencapai good governance. Galue for money tersebut harus dioperasionalkan dalam pengelolaan keuangan daerah dan anggaran daerah. /ntuk mendukung dilakukannya pengelolaan dana publik (public money# yang mendasarkan konsep value for money, maka diperlukan sistem pengelolaan keuangan daerah dan anggaran daerah yang

22

baik. Hal tersebut dapat tercapai apabila pemerintah daerah memiliki sistem akuntansi yang baik. c# *e&u&uran dalam Pengelolaan *euangan Publik (Probity# Pengelolaan keuangan daerah harus dipercayakan kepada staf yang memiliki integritas dan ke&u&uran yang tinggi, sehingga kesempatan untuk korupsi dapat diminimalkan. d# 5ransparansi 5ransparansi adalah keterbukaan pemerintah dalam membuat

kebi&akan! kebi&akan keuangan daerah sehingga dapat diketahui dan dia,asi oleh DP9D dan masyarakat. 5ransparansi pengelolaan keuangan daerah pada akhirnya akan menciptakan hori?ontal accountability antara pemerintah daerah dengan masyarakatnya sehingga tercipta pemerintahan daerah yang bersih, efektif, efisien, akuntabel, dan responsif terhadap aspirasi dan kepentingan masyarakat. e# Pengendalian Penerimaan dan pengeluaran daerah (-P+D# harus selalu dimonitor, yaitu dibandingkan antara yang dianggarkan dengan yang dicapai. /ntuk itu perlu dilakukan analisis varians (selisih# terhadap penerimaan dan pengeluaran daerah agar dapat sesegera mungkin dicari penyebab timbulnya varians dan tindakan antisipasi ke depan. Prinsip!prinsip yang mendasari pengelolaan keuangan daerah tersebut harus senantiasa dipegang teguh dan dilaksanakan oleh penyelenggara

22

pemerintahan, karena pada dasarnya masyarakat (publik# memiliki hak dasar terhadap pemerintah, yaitu6 1. Hak untuk mengetahui (right to kno,#, yaitu6 a. 3engetahui kebi&akan pemerintah. b. 3engetahui keputusan yang diambil pemerintah. c. 3engetahui alasan dilakukannya suatu kebi&akan dan keputusan tertentu. 2. Hak untuk diberi informasi (right to be informed# yang meliputi hak untuk diberi pen&elasan secara terbuka atas permasalahan!permasalahan tertentu yang men&adi perdebatan publik. 2. Hak untuk didengar aspirasinya (right to be heard and to be listened to#. Dalam upaya pemberdayaan pemerintah daerah, maka perspektif perubahan yang diinginkan dalam pengelolaan keuangan daerah dan anggaran daerah adalah sebagai berikut6 1. Pengelolaan keuangan daerah harus bertumpu pada kepentingan publik (public oriented#. Hal ini tidak sa&a terlihat pada besarnya porsi pengalokasian anggaran untuk kepentingan publik, tetapi &uga terlihat pada besarnya partisipasi masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan dan penga,asan4 pengendalian keuangan daerah. 2. *e&elasan tentang misi pengelolaan keuangan daerah pada umumnya dan anggaran daerah pada khususnya.

2"

2. Desentralisasi pengelolaan keuangan dan ke&elasan peran para partisipan yang terkait dalam pengelolaan anggaran, seperti DP9D, *DH, 'ekda dan perangkat daerah lainnya. ". *erangka hukum dan administrasi bagi pembiayaan, investasi, dan pengelolaan uang daerah berdasarkan kaidah mekanisme pasar, value for 0. *e&elasan tentang kedudukan keuangan DP9D, *DH, dan P%'!Daerah, baik ratio maupun dasar pertimbangannya. ;. *etentuan tentang bentuk dan struktur anggaran, anggaran kiner&a, dan anggaran multi!tahunan. ). Prinsip pengadaan dan pengelolaan barang daerah yang lebih profesional. :. 'tandar dan sistem akuntansi keuangan daerah, laporan keuangan, peran akuntan independen dalam pemeriksaan, pemberian opini dan rating kiner&a anggaran, dan transparansi informasi anggaran kepada publik. (. -spek pembinaan dan penga,asan yang meliputi batasan pembinaan, peran asosiasi, dan peran anggota masyarakat guna pengembangan profesionalisme aparat pemerintah daerah. 1 . Pengembangan sistem informasi keuangan daerah untuk menyediakan informasi anggaran yang akurat dan pengembangan komitmen pemerintah daerah terhadap penyebarluasan informasi sehingga memudahkan pelaporan dan pengendalian, serta mempermudahkan mendapatkan informasi. 'ecara lebih spesifik, paradigma anggaran daerah yang diperlukan di era otonomi daerah adalah sebagai berikut6 1. -nggaran Daerah harus bertumpu pada kepentingan publik.

20

2.

-nggaran Daerah harus dikelola dengan hasil yang baik dan biaya rendah (,ork better and cost less#.

2.

-nggaran Daerah harus mampu memberikan transparansi dan akuntabilitas secara rasional untuk keseluruhan siklus anggaran.

".

-nggaran Daerah harus dikelola dengan pendekatan kiner&a (performance oriented# untuk seluruh &enis pengeluaran maupun pendapatan.

0.

-nggaran Daerah harus mampu menumbuhkan profesionalisme ker&a di setiap organisasi yang terkait. -nggaran Daerah harus dapat memberikan keleluasaan bagi para

pelaksananya untuk memaksimalkan pengelolaan dananya dengan memperhatikan prinsip value for money. $.1... 1tonomi Daerah dan ,istem Desentralisasi 8tonomi daerah menurut // %omor 22 5ahun 1(((, adalah hak masyarakat daerah untuk mengatur dan mengelola rumah tangganya sendiri, serta mengembangkan potensi dan sumber daya daerah. Penyelengaraan otonomi dimaksudkan agar dapat mendorong pemberdayaan masyarakat, menumbuhkan prakarsa dan kreativitas, meningkatkan peran masyarakat serta mengembangkan peran dan fungsi DP9D. Dengan pemberian otonomi kepada daerah, maka sistem yang dianut daerah adalah sistem desentralisasi. 5u&uan otonomi daerah menurut 'mith dalam analisa >'I' yang dikemukakan oleh 'yarif Hidayat (Buliati, 2 # dibedakan dari dua sisi

kepentingan yaitu kepentingan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Dari kepentingan pemerintah pusat tu&uan utamanya adalah pendidikan politik,

2;

pelatihan kepemimpinan, menciptakan stabilitas politik dan me,u&udkan demokratisasi sistem pemerintahan di daerah. 'ementara bila dilihat dari sisi kepentingan pemerintah daerah ada tiga yaitu 6 a. /ntuk me,u&udkan apa yang disebut sebagai political eJuality artinya melalui otonomi daerah diharapkan akan lebih membuka kesempatan bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam berbagai aktivitas politik di tingkat lokal atau daerah. b. /ntuk menciptakan local accountability artinya dengan otonomi daerah akan meningkatkan kemampuan pemerintah daerah dalam memperhatikan hak! hak masyarakat. c. /ntuk me,u&udkan local responsiveness artinya dengan otonomi daerah diharapkan akan mempermudah antisipasi berbagai masalah yang muncul dan sekaligus meningkatkan akselerasi pembangunan sosial dan ekonomi daerah. 'elan&utnya tu&uan otonomi daerah menurut // %omor 22 5ahun 1((( pada dasarnya adalah sama yaitu otonomi diarahkan untuk memacu pemerataan pembangunan dan hasilIhasilnya, meningkatkan kese&ahteraan rakyat,

menggalakkan prakarsa dan peran serta aktif masyarakat serta peningkatan potensi pembangunan daerah secara optimal dan terpadu secara nyata, dinamis dan bertanggung &a,ab sehingga memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa, mengurangi beban pemerintah pusat dan campur tangan di daerah yang akan memberikan peluang untuk koordinasi tingkat lokal. %yata berarti pemberian otonomi pada daerah didasarkan pada faktorIfaktor perhitungan tindakan dan

2)

kebi&aksanaan yang benar I benar men&amin daerah yang bersangkutan dapat mengurus rumah tangganya sendiri. 'edangkan dinamis didasarkan pada kondisi da perkembangan pembangunan. *emudian bertanggung &a,ab adalah pemberian otonomi yang diupayakan untuk memperlancar pembangunan di pelosok tanah air. /raian diatas merupakan tu&uan ideal dari otonomi daerah. Pencapaian tu&uan tersebut tentunya tergantung dari kesiapan masing I masing daerah yang akan menyangkut ketersediaan sumber daya atau potensi daerah terutama adalah sumber daya manusia yang tentunya akan berperan dan berfungsi sebagai motor penggerak &alannya pemerintah daerah. 'edangkan desentralisasi menurut // %o 22 5ahun 1((( adalah penyerahan ,e,enang pemerintahan oleh pemerintah kepada daerah otonom dalam kerangka negara kesatuan 9epublik Indonesia. -gar daerah otonom

tersebut mampu mengurus dan mengatur rumah tangga yang telah diserahkan, maka daerah harus memiliki bermacamImacam kemampuan antara lain keuangan, aparatur, ekonomi, dan lain sebagainya. 3enurut Dennis 9odinelli dkk. (Didit Pont&o,inoto, 1((1# keberhasilan kebi&akan desentralisasi pada negara sedang berkembang sangat dipengaruhi oleh faktorI faktor politik, ekonomi dan budaya seperti 6 a. 'ampai berapa &auh pimpinan politik pusat dan birokrasi mendukung desentralisasi dan organisasi yang mendapat pelimpahan tanggung &a,ab. b. 'ampai berapa &auh perilaku, sikap dan budaya yang ada mendorong terciptanya desentralisasi pengambilan keputusan dan pemerintahan.

2:

c. *ebi&akan dan program yang dirancang dengan memadai untuk mendorong desentralisasi pengambilan keputusan dan mana&emen pembangunan. d. 'ampai seberapa &auh tersedianya sumber daya keuangan, manusia dan prasarana fisik yang memadai bagi organisasi yang mendapat pelimpahan tanggung &a,ab. *eempat faktor tersebut mempunyai dera&at kepentingan yang sama dan dalam banyak hal sangat relevan dalam kebi&akan desentralisasi di Indonesia. -tas desakan yang cukup kuat dari masyarakat dan semakin beratnya beban pusat untuk mengatasi sendiri tantangan pembangunan yang semakin komplek, timbul kesadaran baru bah,a penyelenggaraan pemerintahan harus lebih demokratis, mendorong partisipasi, kema&uan dan kemandirian daerah. 'ecara konseptual hal itu tercermin dari kemauan pusat untuk menempatkan daerah kabupaten dan kota dengan ke,enang yang luas (5urtiantoro, 2 #.

2.1.". Desentralisasi @iskal Daerah Desentralisasi fiskal daerah menun&ukkan seberapa besar ketergantungan pemerintah daerah terhadap pemerintah pusat dalam membiayai pembangunan. /ntuk mengetahui seberapa besar tingkat ketergantungan tersebut maka dilakukan dengan menggunakan ukuran apa yang disebut Dera&at Desentralisasi @iskal dengan berbagai proKy sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh 9ouhaty %ur Hikmah ('ukanto 9eksohadipro&o, 1(((# sebagaimana berikut 6

2(

(a#

Pendapa tan !sli Daera ( P!D# x1 Total Penerimaan Daera (TPD #

<

(b#

Bagi asil Pa$a# dan bu#an Pa$a# untu# Daera ( B"PBP# x1 Total Penerimaan Daera (TPD# Sumbangan Daera ( SB # x1 Total Penerimaan Daera (TPD # <

<

(c#

Dimana 6 5PD L P-D M +HP+P M '+, kalau hasilnya tinggi, dera&at desntralisasinya besar (mandiri#. +erdasarkan kriteria yang dibuat oleh +adan =itbang Depdagri dan @isipol /N3 (1((1#, maka kriteria dera&at desentralisasi fiskal tersebut adalah sebagai berikut 6 1# , < s4d 1 < 6 sangat kurang 6 kurang 6 cukup. 6 baik 6 sangat baik

2# 1 ,1< s4d 2 < 2# 2 ,1< s4d 2 < "# 2 ,1< s4d " < 0# " ,1< s4d 0 < ;# O 0 <

6 memuaskan "# desentralisasi fiskal memiliki berbagai

3enurut -bdul Halim (2

keuntungan, yakni (1# meningkatnya demokrasi akar rumput (2# perlindungan atas kebebasan dan hak asasi manusia, (2# meningkatkan efisiensi melalui pendelegasian ke,enangan, ("# meningkatkan kualitas pelayanan dan (0# meningkatkan pembangunan ekonomi dan sosial.

*emandirian @iskal daerah merupakan salah satu aspek yang sangat penting dari otonomi daerah secara keseluruhan. 3enurut 3ardiasmo (1(((# disebutkan bah,a manfaat adanya kemandirian fiskal adalah 6 a. 3endorong peningkatan partisipasi prakarsa dan kreativitas masyarakat dalam pembangunan serta akan mendorong pemerataan hasil I hasil pembangunan (keadilan# di seluruh daerah dengan memanfaatkan sumber daya serta potensi yang tersedia di daerah. b. 3emperbaiki alokasi sumber daya produktif melalui pergeseran penghambilan keputusan publik ke tingkat pemerintahan yang lebih rendah yang memiliki informasi lebih lengkap. Dari hal tersebut diatas kemandirian fiskal daerah menggambarkan *emampuan pemerintah daerah dalam meningkatkan pendapatan asli daerah (P-D# seperti pa&ak daerah, retribusi dan lain I lain. *arena itu otonomi daerah dan pembangunan daerah bisa di,u&udkan hanya apabila disertai kemandirian fiskal yang efektif. Ini berarti bah,a pemerintahan daerah secara finansial harus bersifat independen terhadap pemerintah pusat dengan &alan sebanyak mungkin menggali sumber I sumber P-D seperti pa&ak, retribusi dan sebagainya ($lia 9adianto,1(()#. *emudian untuk mengukur seberapa besar kemandirian fiskal

suatu daerah digunakan ukuran Dera&at *emandirian @iskal Daerah 4 Dera&at 8tonomi @iskal Daerah (D*@D 4 D8@D# yaitu rasio antara P-D dengan total penerimaan -P+D pada tahun yang sama, tidak termasuk transfer dari pemerintah pusat ($lia 9adianto,1(()#.

21

'ementara itu 3achfud 'idik (2

"# menyatakan bah,a desentralisasi

memiliki peran yang strategis sebagai salah satu piranti kebi&akan fiskal pemerintah, yang ditu&ukan untuk (1# menyelaraskan dengan kebi&akan ketahanan fiskal yang berkesinambungan dalam konteks kebi&akan ekonomi makro, (2# memperkecil ketimpangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah, (2# mengoreksi ketimpangan antar daerah dalam kemampuan keuangan, ("#

meningkatkan akuntabilitas, efektifitas, dan efisiensi dalam rangka peningkatan kiner&a pemerintah daerah, (0# meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat serta (;# meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan di sektor publik. 'alah satu aspek penting dari otonomi daerah secara keseluruhan adalah desentralisasi fiskal daerah (otonomi fiskal#. Pengertian otonomi fiskal daerah menggambarkan kemampuan pemerintah daerah dalam meningkatkan pendapatan asli daerah seperti pa&ak, retribusi dan lain!lain. *arena itu pemerintah daerah secara financial harus bersifat independen terhadap pemerintah pusat dengan &alan sebanyak mungkin menggali sumber!sumber P-D (9adianto, 1((), "2#. 3enurut 9adianto, kemampuan daerah dalam membiayai pembangunan masih sering mengalami kendala berupa rendahnya kemampaun daerah dalam meningkatkan P-Dnya. Indikator rendahnya kemampuan daerah in dapat dilihat dari Indeks *emampuan 9utin (I*9# daerah, yang diperoleh dari besarnya perubahan P-D terhadap pengeluaran rutin daerah dalam persentase tahun yang sama.

22

9ealitas hubungan fiskal antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah ditandai dengan tingginya kontrol pusat terhadap pembangunan daerah. Hal ini terlihat &elas dari rendahnya P-D terhadap total pendapatan daerah dibandingkan dengan total subsidi yang didrop dari pusat. Indlikator desentralisasi fiskal adalah rasio antara P-D dengan total pendapatan daerah (*uncoro, 1((), " :#. 3enurut 'ugiyanto (2 , 2#, ukuran yang digunakan adalah

perbandingan antara P-D terhadap pengeluaran

pemerintah

kota4kabupaten.

9umusan perhitungannya adalah 94$ (9 L P-D dan $ L anggaran pengeluaran#. -pabila rasio tersebut semakin tinggi, berarti kecenderungan tingkat kemandirian tersebut akan semakin besar. 2.1.0. 'umber Penerimaan Daerah Dalam konteks otonomi daerah di Indonesia, proses pengelolaan anggaran miliki implikasi yang sangat luas terhadap pelaksanaan berbagai kebi&akan pemerintah daerah, baik secara ekonomis maupun politis. 'etiap daerah memiliki masalah proporsi kebi&akan keuangan yang berbeda, dengan mempertimbangkan berbagai faktor seperti kemampuan keuangan daerah, struktur sosial dan ekonomi penduduk, budaya, politis dan aturan yang berlaku dari pemerintah pusat (-bdul Halim, 2 "#

@aktor keuangan merupakan hal yang penting dalam setiap kegiatan pemerintahan, karena hampir tidak ada kegiatan pemerintahan yang tidak membutuhkan biaya (*aho, 1((), ;17 'uparmoko, 2 2, 1;#. 'ehubungan dengan

posisi keuangan ini, ditegaskan bah,a pemerintah daerah tidak akan dapat

22

melaksanakan fungsinya dengan efektif dan efisien tanpa biaya yang cukup untuk memberikan pelayanan terhadap masyarakat dan melaksanakan pembangunan. 'umber!sumber penerimaan di dalam -P+D terdiri dari lima komponen besar, yaitu 6 P-D7 bagi hasil pa&ak dan bukan pa&ak7 sumbangan4bantuan pemerintah pusat7 pin&aman daerah7 dan sisa lebih tahun sebelumnya. P-D terdiri dari 6 Penerimaan pa&ak daerah7 retribusi daerah7 bagian laba dari perusaahaan atau +/3D7 dan pendapatan lain!lain. Pendapatan lain!lain mencakup 6 penerimaan dari hasil pen&ualan barang bekas dan sisa7 bunga simpanan di bank7 dan sebagainya (%a?ara, 1((),2 #. 3enurut pasal )( // nomor 22 tahun 1((( tentang Pernerintahan Daerah, sumber pandapatan daerah terdiri atas 1. Pendapatan asli daerah, yaitu 6 1# hasil pa&ak daerah7 2# hasil retribusi daerah7 2# hasil perusahaan milik daerah, dan hasil pen&ualan kekayaan daerah yang dipisahkan7 dan "# lain!lain pendapatan asli daerah yang sah7 2. Dana perimbangan7 2. Pin&aman daerah7 dan ". =ain!lain pendapatan daerah yang sah. 'edangkan menurut Davey (1(::#, sumber pendapatan pemerintah regional adalah6 1. -lokasi dari pemerintah pusat6 1# anggaran pusat (votes#

2"

2# bantuan pusat (grants# 2# bagi!hasil pa&ak "# pin&aman 0# penyertaan modal 2. Perpa&akan 2. 9etribusi (charging# ". Pin&aman 0. Perusahaan (badan usaha#. 2.1.;. Pa&ak Pa&ak merupakan hak prerogative pemerintah berupa pungutan yang didasarkan pada undang!undang dan dapat dipaksakan kepada subyeknya tanpa batas yang langsung dapat ditun&ukkan (Nuritno, 2 1, 1:1#. Hal terpenting

3enurut Nuritno, belum tentu si pembayar pa&ak adalah pihak yang akhirnya menderita beban pa&ak tersebut. *arena ada kemungkinan pa&ak tersebut dapat dilimpahkan kepada Pihak lain. 'edangkan pihak yang menderita karena membayar pa&ak disebut taK impact. Hal!hal semacam ini disebut teori insidens pa&ak (taK incidence theory# yang umum dibagi dalam tiga konsep beban pa&ak yaitu6 1. -bsolut, analisisnya hanya manfaat pengaruh suatu &enis pa&ak terhadap distribusi pendapatan masyarakat tanpa melihat efek distributif &enis pa&ak lainnya atau akibat suatu program pemerintah. 2. -nggaran berimbang, menganalisis pengaruh distributive pa&ak terhadap pengeluaran pemerintah yang berasal dari pa&ak dalam &umlah yang sama.

20

2. Diferensial, menganalisis berbagai alternatif pembiayaan dengan pa&ak terhadap suatu program pemerintah dalam &umlah yang sama. Dari sudut pandang ekonomi publik, difinisi ekonomi (direct taK maupun indirect taK# tersebut kurang tepat karena ter&adinya pergeseran suatu pa&ak tergantung pada " faktor!faktor ekonomi, yaitu 6 elastisitas pena,aran7 elastisitas permintaan7 bentuk pembayaran dan motivasi pengusaha. Hukum pa&ak, sebagai bagian dari hukum publik, diatur secara khusus dengan menganut paham imperalif yang artinya bah,a pelaksanaanya tidak dapat ditunda. 'ebagaimana fungsi pa&ak dalarn mengatur hubungan antara pemerintah dengan ,a&ib pa&ak, maka hukum pa&ak dibagi dua macam6 1. 3ateril, bermuatan norma!norma antara lain keadaan, perbuatan, obyek, subyek, tarif, segala sesuatu tentang timbul dan hapusnya pa&ak dan hubungan hukum antara pemerintah dan ,a&ib pa&ak. 2. @ormil, memuat tata cara dalam norma materiil yang mencakup 6 prosedur, hak!hak dan ke,a&iban ,a&ib pa&ak. Dalam kapasitas nya sebagai sumber dana dalam negeri, pa&ak memiliki 2 fungsi6 1. +udgetair yaitu untuk membiayai pengeluaran!pengeluaran negara7 dan 2. 3engatur yaitu untuk melaksanakan kebi&aksanaan dalam bidang sosial dan ekonomi. 3isalnya untuk barang!barang konsumsi yang mengganggu kesehatan, gaya hidup konsumtif, bea masuk untuk proteksi produk!produk lokal, dan lain!

2;

lain. +eberapa teori yang memberikan hak kepada negara untuk pemungutan pa&ak antara lain6 1. 5eori asuransi, yaitu melindungi keselamatan &i,a, harta benda, dan hak!hak rakyat, sehingga pa&ak diibaratkan sebagai premi asuransi, 2. 5eori kepentingan, pembebanannya didasarkan pada kepentingan masing masing individu yang hubungannya searah. 2. 5eori daya pikul, yang disesuaikan dengan kemampuan tiap individu baik secara obyektif (penghasilan4kekayaan# maupun subyektif (kebutuhan yang harus dipenuhi#. ". 5eori bakti, mendasarkan pada kesadaran rakyat akan ke,a&iban membayar pa&ak. 0. 5eori asas daya beli, yaitu dampak terhadap pemungutannya. Pa&ak dari rakyat ke negara dan dikembalikan lagi dalam bentuk pemeliharaan kese&ahteraan masyarakat. 3enurat -. 'mith (Nuritno, 2 1# dan para ahli keuangan negara lainnya,

sistem pa&ak yang baik harus memenuhi kriteria 6 1. Distribusi beban pa&ak yang adil, sesuai dengan bagian yang ,a&ar. 2. 'edikit mungkin mencampuri mekanisme pasar. 2. 3ampu memperbaiki inefisiensi sektor s,asta. ". 'truktur pa&ak harus mampu digunakan dalam kebi&akan fiskal. 0. 'istemnya harus dimengerti oleh ,a&ib pa&ak ;. -dministrasi dan biaya pelaksanaannya harus minimal. ). +ersifat pasti, dapat dilaksanakan dan dapat diterima.

2)

Pa&ak daerah adalah iuran ,a&ib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang!undangan yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah dan pembangunan daerah ('iman&untak, 2 1,(:#.

3enurut Davey (1(::,2(#, perpa&akan daerah dapat diartikan sebagai6 1. Pa&ak yang dipungut oleh pemerintah daerah dengan pengaturan dari daerah sendiri7 pa&ak yang dipungut berdasarkan peraturan nasional tetapi penetapan tarifnya dilakukan oleh pemerintah daerah7 2. Pa&ak yang ditetapkan dan atau dipungut oleh pemerintah daerah7 2. Pa&ak yang dipungut dan diadministrasikan oleh pemerintah pusat tetapi hasil pungutannya diberikan, dibagikan dengan, atau dibebani pungutan tambahan (opsen# oleh pemerintah daerah. Penilaian potensi pa&ak sebagai penerimaan daerah, ada 0 (lima# kriteria yaitu6 1. *ecukupan dan elastisitas, ini menyangkut apakah hasil yang diperoleh sebanding dengan biaya pelayanan yang akan dikeluarkan. 2. *eadilan, prinsipnya adalah beban pengeluaran pemerintah haruslah dipikul oleh semua golongan dalam masyarakat sesuai dengan kekayaan dan kesanggupan masing!masing golongan. *eadilan ini mempunyai tiga dimensi yaitu 6 pemerataan secara vertikal7 horisontal7 dan keadilan secara geografis. 2. *emampuan administratif yang berkaitan dengan perbedaan &umlah pendapatan, integritasnya, dan keputusan yang diperlukan.

2:

". *esepakatan politis, menyangkut sensitivitas dalam pengenaan pa&ak, 'truktur tarif siapa yang harus membayar dan bagaimana pa&ak tersebut ditetapkan, memungut pa&ak secara fisik, dan memaksakan sanksi. 0. *ecocokan, apakah sebagai pa&ak pusat atau pa&ak daerah. 'edangkan menurut Davey (1(:(, ;1!;2#, tolok ukuran untuk menilai berbagai pa&ak daerah yang ada menggunakan serangkaian ukuran 6 1. Hasil (yield#, memadai tidaknya hasil suatu pa&ak dalam kaitannya dengan berbagai layanan yang dibiayainya7 stabilitas dan mudah tidaknya

memperkirakan besar hasil itu7 dan elastisitas hasil pa&ak terhadap inflasi, pertumbuhan penduduk, dan sebagainya, &uga perbandingan hasil pa&ak dengan biaya pungut. 2. *eadilan (eJuity#, dasar pa&ak dan ke,a&iban membayar harus &elas dan tidak se,enang!,enang7 pa&ak bersangkutan harus adil secara horisontal, artinya beban pa&ak haruslah sama besar antara berbagai kelompok yang berbeda tetapi dengan kedudukan ekonomi yang sama7 harus adil secara vertikal7 artinya kelompok yang memiliki sumberdaya ekonomi yang lebih besar memberikan sumbangan yang lebih besar7 dan pa&ak itu haruslah adil dari tempat ke tempat, artinya hendaknya tidak ada perbedaan besar dan se,enang! ,enang dalam beban pa&ak satu daerah ke daerah lain, kecuali &ika perbedaan ini mencerminkan perbedaan dalam cara menyediakan layanan masyarakat. 2. Daya guna ekonomi (economic efficiency#6 pa&ak hendaknya mendorong (atau setidak!tidaknya tidak menghambat# penggunaan sumberdaya secara berdaya guna dalam kehidupan ekonomi7 mencegah &angan sampai pilihan konsumen

2(

dan produsen men&adi salah arah atau orang men&adi segan beker&a atau menabung, dan memperkecil 1beban lebih1 pa&ak. ". *emampuan melaksanakan (ability to implement# 6 suatu pa&ak harus dapat dilaksanakan, dari sudut kemauan politik dan kemauan tata usaha. *ecocokan sebagai sumber penerimaan daerah (suitability as a local revenue source# 6 artinya harus &elas kepada daerah mana suatu pa&ak harus dibayarkan, dan tempat memungut pa&ak sedapat mungkin sama dengan tempat akhir beban pa&ak, pa&ak tidak mudah dihindari, dengan cara memindahkan obyek pa&ak dari suatu daerah ke daerah lain7 pa&ak daerah hendaknya &angan memperta&am perbedaan!perbedaan antara daerah, dari segi potensi ekonomi masing!masing7 dan pa&ak hendaknya tidak menimbulkan beban yang lebih besar dari kemampuan tata usaha pa&ak daerah. 'eiring dengan perkembangan pengeluaran pemerintah yang semakin besar dari tahun ke tahun, maka dibutuhkan toleransi masyarakat dalam membayar pa&ak untuk membiayai pengeluaran pemerintah tersebut. 5ingkat toleransi tersebut merupakan kendala bagi pemerintah untuk menarik pungutan pa&ak. Dalam teorinya. Peacock dan Piseman (Nuritno, 2 1,

1)2# mengatakan bah,a 1perkembangan ekonomi menyebabkan pungutan pa&ak yang semakin meningkat ,alaupun tarif pa&ak tidak berubah7 dan meningkatnya penerimaan pa&ak menyebabkan pengeluaran pemerintah &uga meningkat. 8leh karena itu dalam keadaan normal, meningkatnya N%P menyebabkan penerimaan pemerintah &uga semakin besar, begitu pula pengeluaran pemerintah men&adi semakin besar1.

"

'esuai /ndang!/ndang nomor 2" tahun 2

tentang Perubahan atas

/ndang!/ndang nornor 1: tahun 1(() tentang Pa&ak Daerah dan 9etribusi Daerah!&enis pa&ak provinsi terdiri dari6 1. Pa&ak kendaraan bermotor dan kendaraan di atas air, 2. +ea balik nama kendaraan bermotor dan kendaraan di atas air, 2. Pa&ak bahan bakar kendaraan bermotor, ". Pa&ak pengambilan dan pemanfaatan air ba,ah tanah dan air permukaan. +erikut ini digambarkan tabel 2.2 menun&ukkan &umlah kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat yang ada di *alimantan 5engah, dimana Pa&ak *endaraan +ermotor memberikan kontribusi terbesar terhadap P-D Provinsi *alimantan 5engah. 5abel 2.2. Daftar .umlah *endaraan +ermotor Di *alimantan 5engah 5ahun 2 0 'ampai Dengan 5ahun 2 12
No 1 2 2 " 0 ; ) : Tah n 2 0 2 ; 2 ) 2 : 2 ( 2 1 2 1 1 2 1 2 !endaraan Roda $ 1.;((.22 : 1.:1 .(; 0 1.(0;.") 2.1)2.;: 2."; .( 2.)20. 0 " 2.1)2.22 2.;0".1 2 !endaraan Roda 6 2);.1 : 2(".( ( "2". 2 : "":.02 " ")2.01 2 "(;.: 1 02).2" " 0:)."0 : # mlah !endaraa n 2. )0.2" ; 2.2 0.:) " 2.2: .0 : 2.;22.2 " 2.(2"."1 2 2.221.:0 0 2.)1 .0) " ".2"1.0; 1

'umber Data 6 Dinas Pendapatan Daerah Provinsi *alimantan 5engah

"1

Dari data di atas dapat diketahui bah,a &umlah kendaraan bermotor di *alimantan 5engah baik roda 2 maupun roda " setiap tahun selalu bertambah cukup besar, sehingga peningkatan P-D dari Pa&ak *endaraan +ermotor &uga meningkat setiap tahunnya. Pertumbuhan kendaraan roda 2 dan roda " dapat dilihat pada tabel 2." berikut ini.

5abel 2.". Daftar Pertumbuhan *endaraan +ermotor 9oda 2 dan 9oda " di *alimantan 5engah 5ahun 2 0 'ampai Dengan 5ahun 2 12
No 1 2 2 " 0 ; ) : Tah n 2 0 2 ; 2 ) 2 : 2 ( 2 1 2 1 1 2 1 2 !endaraan Roda $ 20.): 1 111.)2 ) 1"0.0 0 21).21 2:).22 2)".10 " "2;.1) ; ": .:) 2 !endaraan Roda 6 10.;) 1 1:.: 1 2(.12 ( 2".": ; 2".(: : 22.2: ( " .0" 2 0 .11 " # mlah !endaraa n "1."0 2 12 .02 : 1)".;2 " 2"1.;( ; 212.2 : 2()."" 2 "):.)1 ( 02 .(: )

'umber Data 6 Dinas Pendapatan Daerah Provinsi *alimantan 5engah Dilihat dari daftar diatas, pada tahun 2 ) &umlah kendaraan roda 2

mengalami pertumbuhan yang fantastik yaitu sebesar "22,2; < dari tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan masuknya kendaraan roda 2 buatan >hina yang harganya relatif lebih murah dibandingkan dengan kendaraan roda 2 buatan

"2

.epang. 'edangkan pada tahun 2

2 pertumbuhan kendaran di *alimantan

5engah sedikit menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu untuk kendaraan roda 2 hanya mencapai (0,02 < dan roda " sebesar (2,2 <. 2.1.). 9etribusi 9etribusi adalah pemungutan daerah sebagai pembayaran atas &asa atau pemberian i&in tertentu yang khusus disediakan dan4atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan (// nomor 2" tahun 2 &o. // nomor 1: tahun 1(()#. 9etribusi daerah dibagi atas tiga

golongan yaitu 6 1. 9etribusi .asa /mum, 2. 9etribusi .asa /saha, dan 2. 9etribusi Peri&inan 5ertentu. 3enurut Davey (1(::, 2 #, retribusi adalah suatu pembayaran langsung oleh mereka yang menikmati suatu pelayanan dari pemerintah. Pembayaran tersebut biasanya dimaksudkan untuk menutup seluruh atau sebagian dari biaya pelayanannya. 'edangkan menurut Davey (1(:(, (0#, kebi&akan memungut bayaran untuk barang dan layanan yang disediakan pemerintah berpangkal pada Pengertian efisiensi ekonomi. 3enurutnya, seseorang bebas untuk menentukan besar layanan tertentu yang hendak dinikmatinya. =ebih lan&ut dikatakan, bah,a dalam teori ekonomi, harga barang atau layanan yang disediakan pemerintah hendaknya didasarkan pada biaya tambahan (marginal cost# yaitu biaya untuk melayani konsumen terakhir. *arena sebagian besar layanan pemerintah merupakan hak monopoli, maka manfaat ekonomi

"2

tertinggi untuk masyarakat adalah &ika penetapan harga layanan tersebut diumpamakan adanya suatu persaingan pasar. Dengan demikian pemerintah akan memproduksi &asa tersebut pada titik tempat biaya tambahan sama dengan penerimaan tambahan (marginal revenue#. $.1.&. Perimbangan ke angan antara pemerintah p sat dan daerah. Perubahan dalam bentuk hubungan pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dan implikasinya terhadap pengelolaan keuangan daerah telah melahirkan berbagai persepsi. 'ementara pihak meragukan kemampuan daerah, baik dari segi kesiapan sumberdaya manusia maupun perangkat pendukungnya,

sementara yang lain berpandangan bah,a saat pemerintah daerah bisa menun&ukan kemampuannya sebagai pelayan masyarakat dengan lebih baik dibanding sebelumnya. $kses lain adalah keterbukaan atas informasi yang semakin luas sehingga kebi&akan yang dikeluarkan oleh pernerintah daerah dapat diamati oleh masyarakat, terutama melalui peran media masa dan ='3 (-bdul Halirn, 2 "#.

'ebagaimana diketahui bah,a salah satu tugas pemerintah adalah menyediakan barang publik yang pembiayaannya melalui berbagai sumber, khususnya pa&ak. Dengan kondisi kemampuan keuangan antar daerah berbeda, maka adanya sistem keuangan negara yang dapat men&amin kelancaran

pemerintahan dan pembangunan secara menyeluruh. -lokasi tugas tersebut memba,a konsekuensi pada perimbangan keuangan pemerintah pusat dan daerah, terkait dengan kenyataan pada dera&at otonomi yang tinggi ('uparmoko, 2 2, 2)!2:#.

""

+erhubungan dengan pembiayaan pemerintahan di daerah, maka perlu diketahui pendapatan yang pasti agar ada kepastian mengenai pelaksanaan dan keinginan kegiatan pemerintahan di daerah. Perimbangan keuangan ini merupakan suatu sistem pembiayaan dalam kerangka negara kesatuan yang mencakup pembagian keuangan pemerintah pusat dan daerah. 'elain itu &uga merupakan pemerataan antar daerah secara proporsional, demokratis, adil, dan transparan dengan memperhatikan potensi, kondisi, dan kebutuhan daerah se&alan dengan ke,a&iban dan pembagian ke,enangan serta tata cara penyelenggaraan ke,enangan tersebut, termasuk pengelolaan dan penga,asan keuangannya. 3elalui dana perimbangan, pemerintah daerah akan memperoleh alokasi dana besar sebagai konsekuensi otonomi daerah. 5ugas!tugas yang selama ini secara sentralistik men&adi tugas pemerintah pusat kini men&adi tugas pemerintah daerah. 8leh karena itu pembiayaan untuk pelaksanaan tugas!tugas tersebut harus &uga dialokasikan ke daerah melalui mekanisme perimbangan keuangan tersebut. -rtinya pemerintah daerah harus meningkatkan mutu pengelolaan keuangan. 3enurut // %o. 20 tahun 1((( pasal ; dinyatakan bah,a dana perimbangan terdiri dari 6 (1# bagian daerah dari penerimaan Pa&ak +umi dan +angunan (P++#, +ea Perolehan Hak atas 5anah dan +angunan (+PH5+#, penerimaan dari 'umber Daya -lam7 (2# Dana -lokasi /mum (D-/#, dan (2# Dana -lokasi *husus (D-*#. Pada 5abel berikut ini digambarkan subsidi dari pemerintah pusat yang dialokasikan pada Provinsi *alimantan 5engah se&ak tahun 2 tahun 2 12. 0 sampai dengan

"0

5abel 2.0 Daftar 5ransfer Pemerintah Pusat *epada Provinsi *alimantan 5engah 5ahun 2 0 '4D 2 12
Bagi Hasil Pa/ak dan B kan Pa/a k "2.2 ".2(2.0(: "(.:;(.;02.2": 00.2"2. ).;12 11(.(;2.2;1.0"1 10:.2(0. :(.;20 1;;.:2 . . Dana Alokasi Um m 2"2.)2 .20;.1 21).20 ." ".)2 2::.0:).:22.1:2 ;").)02.220.(22 0; .;2 . 0 (.:) . 002. ;". 0"(.(0;. . . . . 2)1.);;.)0 . 22(.122. 22(. ;2. . . Penerimaan lainn3a' Dana Pen3eimbang 12:.1; .1) .))) 211.2 1.(:0.202 1)).2(2.)2 .020 1 ).0:(."2;. # mlah Trans0er dari Pemerintah P sat "1". :".:1(.")0 0):.022. "2.22 021.122.0; .22 :)0.2 ".112.";" )1(. 20. :(.;20 (":.";;.)0 . 1. 1:.2 :.;:;.("2 1. 2;.1(0.;0).010

Tah n 2 0 2 ; 2 ) 2 : 2 ( 2 1 2 11 2 12

22;. 12.;:;.("2 20).1);.;0).010

'umber Data 6 -P+D Provinsi *alimantan 5engah 5ahun -nggaran 2 2 12 diolah.

0 s4d

Dari tabel diatas dapat diketahui bah,a setiap tahun bantuan pemerintah pusat &umlahnya semakin meningkat, hal ini disebabkan karena kebutuhan daerah untuk melaksanakan tugas dan ke,enangannya &uga semakin besar untuk tiap tahunnya. Hanya pada tahun 2 ) dan 2 ( &umlah penerimaan dari pemerintah

pusat yang peningkatannya negatif dari tahun sebelumnya, hal ini disebabkan karena pada tahun 2 ) pemerintah mengambil kebi&akan untuk merubah tahun

anggaran men&adi tahun tak,im, sehingga pada tahun anggaran yang sebelumnya dimulai pada tanggal 1 -pril sampai dengan 21 3aret tahun berikutnya, maka tahun anggaran 2 Desember tahun 2 ) dimulai pada tanggal 1 -pril 2 ), &adi tahun anggaran 2 ) sampai dengan 21

) hanya memiliki ,aktu hanya :

bulan. 'edangkan tahun 2

) penerimaan dari pemerintah pusat lebih rendah dari

";

tahun 2

( karena pada tahun 2

) ada kebi&akan bah,a sisa D-/ pada tahun

sebelumnya diperhitungkan dengan alokasi D-/ tahun berkenaan. Pada tahun 2 ( penerimaan D-/ Provinsi *alimantan 5engah mengalami kenaikan yang ) ataupun dari tahun 2 ( atau penerimaan D-/

sangat signifikan dari tahun 2

tahun 2 12 peningkatannya mencapai 2 ",11< dibandingkan penerimaan tahun 2 ) dan 22","0< dibandingkan dengan penerimaan D-/ tahun 2 ). Hal ini

berkaitan dengan dimulainya otonomi daerah sesuai dengan /ndang!undang %omor 22 5ahun 1((( bah,a otonomi daerah dimulai tanggal 1 .anuari 2 1.

$.$. Hasil Penelitian Terdah l . +eberapa penelitian yang berkaitan antara lain 6 1. -ndi *usuma %egara (1((:#, melakukan penelitian yang bertu&uan menganalisis kontribusi P-D terhadap total penerimaan daerah, analisis perkembangan P-D', dan evaluasi dera&at sentralisasi. 9umus yang dipakai 6 (P-D't 4 PDt#Q1 <, dimana P-D't L pendapatan asli daerah sendiri pada

tahun t, PDt L penerimaan daerah pada tahun t. *esimpulannya P-D' *abupaten Dati II *ota,aringin +arat relatif kecil (rata I rata 2(,02<# terhadap total penerimaan daerah. 2. 9ichard 5umilaar (1(()#, dalam thesisnya menganalisis dera&at otonomi fiskal di Propinsi 'ula,esi /tara, menyimpulkan bah,a faktor yang paling berpengaruh adalah tingkat bantuan pemerintah pusat. 'ementara tingkat ekonomi dan transfer menun&ukkan pengaruh yang bervariasi pada masing! masing daerah. 5etapi yang terpenting adalah aspek ekonomi dan keuangan

")

adalah yang paling besar pengaruhnya untuk mengukur dera&at otonomi fiskal. Penelitian memakai metode 8=' dengan model koreksi kesalahan ($ngle Nranger $>3# dengan data runtut ,aktu tahun 1()(! 1((2. Gariabel yang digunakan adalah 6 dera&at otonomi fiskal (B#7 perkembangan ekonomi daerah (A1#7 bantuan pemerintah pusat (A2#7 dan transfer (A2#. 2. Buliati (2 1# pada penelitiannya tentang kemampuan keuangan daerah dalam

menghadapi otonomi daerah di *abupaten 3alang menyebutkan bah,a untuk mencapai kemandirian dangan mengandalkan P-D M bagi hasil, efeknya relatif lebih cepat daripada hanya mengandalkan P-D sa&a. 'ementara penghitungan rasio P-D terhadap PD9+ dengan menggunakan harga berlaku, menun&ukkan hasil yang kurang baik. Penelitian ini menggunakan data runtut ,aktu (2 dengan pengelompokan beberapa alat analisis, yaitu 6 ! Dera&at desentralisasi fiskal, yaitu 6 rasio P-D dengan total pendapatan7 rasio P-D M bagi hasil dengan total pendapatan7 rasio P-D dengan pengeluaran rutin 7 dan rasio P-D M bagi hasil dengan pengeluaran rutin. ! *ebutuhan fiskal, dihitung dari total antara pengeluaran daerah dibagi &umlah penduduk, kemudian dibagi dengan &umlah kabupaten4kota. ! *apasitas fiskal diperoleh dari &umlah antara PD9+ dibagi &umlah penduduk, lalu dibagi dengan &umlah kabupaten4kota. ! /paya fiskal, dihitung dengan mencari koefisien elastisitas pertumbuhan rata!rata P-D terhadap PD9+ (harga konstan dan berlaku#. 042 ;!2 (42 1 #,

":

". $lia 9adianto (1(()#, dalam penelitiannya tentang 8tonomi *euangan Daerah 5ingkat II di 3aluku, menyimpulkan bah,a variabel tingkat perkembangan ekonomi (P$# dan bantuan pemerintah pusat (N#, baik dalam &angka pendek maupun &angka pan&ang berpengaruh positif terhadap dera&at otonomi fiskal daerah (B#. 3enggunakan alat analisis linear dinamis yaitu Partial -d&ustment 3odel (P-3# dengan data kurun ,aktu tahun 2 042 ;!2 )42 :. #

0. *er&asama =P2I 'emarang dengan pemerintah Propinsi .a,a 5engah (2

tentang penggalian sumber!sumber pendapatan baru di .a,a 5engah, menyebutkan bah,a kondisi geografis, pelaksanaan // %o. 22 tahun 1((( dan PP nomor 20 tahun 2 , merupakan peluang utama dalam penelitian

tersebut. Gariabel lainnya adalah kondisi demografi, sosial budaya, serta kondisi pemerintahan. *ontribusi terbesar pada P-D adalah retribusi yang diikuti pa&ak, sumber lain, dinas, dan +/3D. %amun secara keseluruhan masih lebih baik daripada kondisi yang ada di 20 kabupaten4kota di Propinsi .a,a 5engah. Penelitian tersebut menggunakan analisis 'P85 dari hasil diskusi kelompok dengan beberapa instansi terkait serta para pakar di bidang keuangan publik yang dilan&utkan dengan analisis diskriptif. ;. -bdul Halim (2 1# dalam penelitiannya tentang fiscal stress, disebutkan

bah,a P-D masih berperan terhadap total penerimaan daerah4propinsi. 9etribusi sebagai komponen utama P-D, berpengaruh secara signifikan daripada pa&ak. 'edangkan proporsi pa&ak daerah relatif tidak berpengaruh terhadap P-D. -nalisis berdasarkan data realisasi anggaran propinsi sebelum fiscal stress (1((;41(()# dan sesudahnya (1((:41(((#. 'elan&utnya dilakukan

"(

pengu&ian dengan Paired 'ample 5 5est, yaitu membandingkan dua sampel dengan subyek yang sama namun mengalami dua perlakuan yang berbeda. Penelitian tersebut hanya terfokus pada angka rata!rata seluruh propinsi di Indonesia. ). 9ita $ngleni (2 1# yang meneliti tentang P-D di *ota Padang

menyimpulkan perlunya rencana penerimaan P-D &angka menengah yang memenuhi unsur rasionalitas dan berorientasi ke depan. 'kenario ini merupakan langkah penting sebagai respon semangat kemandirian pendanaan daerah. Disamping sebagai pedoman penentuan langkah dan tindakan oleh dinas4unit ker&a pengelola penerimaan P-D, &uga sebagai tolok ukur keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitas yang dikaitkan dengan beberapa indikator pokok yaitu rata!rata pertumbuhan komponen P-D sebagai dasar untuk memprediksi rumusannya. :. 'usiyati (1(:)# menelaah keuangan di Indonesia mengungkapkan beberapa permasalahan di bidang keuangan daerah yang dihadapi pemerintah daerah selama ini yaitu6 a. *etergantungan pemerintah daerah kepada subsidi pemerintah pusat yang tercermin dari besarnya bantuan pusat baik dari sudut anggaran rutin yaitu melalui subsidi daerah otonom maupun dari sudut anggaran pembangunan yaitu bantuan pembangunan daerah.

b. 9endahnya kemampuan daerah untuk menggali sumber asli daerah yang tercermin dari penerimaan P-D yang relatif kecil dibandingkan dengan total penerimaan daerah. c. *urangnya usaha dan kemampuan pemerintah daerah mengelola dan menggali sumber pendapatan yang ada. d. *urangnya kesadaran masyarakat dalam membayar pa&ak, retribusi dan pungutan lainnya karena kurangnya pengertian mereka tentang fungsi perpa&akan tersebut. (. +ooth (1(::# yang membahas pendanaan pemerintah pusat dalam pengeluaran pembangunan pemerintah daerah, mengatakan bah,a kelemahan sistem dana yang dikembangkan se&ak tahun 1() !an adalah ketergantungan daerah pada pusat sehingga tidak ada keinginan atau inisiatif untuk meningkatkan sumberdaya sendiri dalam membiayai proyek!proyeknya. Dengan kata lain, pola alokasi bantuan tersebut hanya sedikit menyediakan inisiatifR daerah dalam memobilisasi sumber!sumber daya lokal. 2.2. *erangka Pemikiran 5eoritis. *erangka pemikiran teoritis dalam penelitian ini adalah pada era otonomi daerah yang dimulai pada a,al tahun 2 1 dapat memberdayakan daerah untuk

mengembangkan sumberdaya yang dimiliki, sehingga dapat berkembang dan mandiri dalam menentukan arah kebi&akan yang diambil oleh daerah tetapi masih dalam koridor negara kesatuan 9epublik Indonesia (%*9I#. /ntuk me,u&udkan kemandirian daerah, pemerintah daerah harus mampu menggali potensi daerah guna menun&ang P-D, dan mencari faktorIfaktor yang

01

berpengaruh secara signifikanterhadap P-D. 'ebagai upaya peningkatan P-D perlu diambil langkah kebi&akan efisiensi didalam pelaksanaan anggaran yang tertuang dalam -nggaran Pendapatan dan +elan&a Daerah (-P+D#, sehingga ada saving yang dapat dimanfaatkan untuk investasi daerah yang dialokasikan pada badan usaha baik milik daerah sendiri maupun s,asta yang mau dia&ak beker&asama agar mendapatkan hasil yang lebih bermanfaat untuk menambah penerimaan daerah selain dari sektor pa&ak pa&ak dan retribusi daerah serta dari transfer pemerintah pusat melalui pengalokasian D-/ atau dana perimbangan. 3elalui tabel 1 dimuka, diketahui bah,a pa&ak dan retribus merupakan komponen terbesar dalam peningkatan penerimaan P-D. Penerimaan dari hasil usaha daerah belum begitu signifikan, tetapi segi belan&a setiap tahun Pemerintah Provinsi *alimantan 5engah selalu mengalokasikan belan&a penyertaan modal untuk menun&ang peningkatan P-D, dan bila dibandingkan dengan P-D Provinsi *alimantan 5imur, *alimantan +arat dan *alimantan 'elatan P-D *alimantan 5engah masih lebih rendah. Dari 5abel 2.1 diketahui bah,a modal usaha yang di investasikan pada +/3D selalu meningkat seiring dengan peningkatan P-D setiap tahunnya. Dengan melakukan penghitungan rasio terhadap masing!masing

komponen penerimaan, maka akan dapat diketahui tingkat kemampuan masing! masing komponen penerimaan terhadap P-D Provinsi *alimantan 5engah. 'edangkan untuk memastikan apakah D-/ yang selama ini diterima oleh daerah memang signifikan4dipengaruhi oleh variabel!variabel dalam penelitian,

02

maka perlu dilakukan analisis realokasi anggaran. -dapun variabel!variabel yang digunakan yaitu 6 1. *ebutuhan daerah, yang di,akili oleh &umlah penduduk daerah yang bersangkutan (=ains, 1(:0, 02#, 'emakin banyak penduduk suatu daerah, makin besar pula &umlah dana yang diterima untuk pembiayaan terhadap &asa! &asa lokal dan &asa teknis yang diperlukan penduduk setempat. Hal ini dapat digambarkan pada alokasi transfer dari pemerintah pusat yang diterima dengan total belan&a daerah dalam -P+D. 2. +erapa besar penerimaan dari sektor pa&ak, khususnya pa&ak kendaraan bermotor yang dalam tabel merupakan sumber penerimaan yang sangat dominan. 2. 'eberapa besar pengaruh diinvestasi Pemerintah Provinsi *alimantan 5engah dapat menun&ang peningkatan P-D, serta sektor lain yang mungkin berpengaruh terhadap P-D Provinsi *alimantan 5engah. -dapun kerangka dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 2.2 berikut ini 6 Nambar 2.1. *erangka Pemikiran 5eoritis 5ransfer Pemerintah Pusat .umlah kendaraan 9oda " atau lebih .umlah kendaraan bermotor roda 2 Penyertaan 3odal Pemerintah Daerah 4Investasi Daerah

PAD

02

$.6. Hipotesis 'esuai dengan tu&uan penelitian, ka&ian teoritis, dan beberapa penelitian sebelumnya, maka hipotesis yang dapat disusun dalarn penelitian ini adalah 6 1. Diduga ada pengaruh 5ransfer pemerintah pusat terhadap P-D Provinsi *alimantan 5engah. 2. Diduga ada pengaruh &umlah kendaraan bermotor roda " atau lebih terhadap P-D Provinsi *alimantan 5engah 2. Diduga ada pengaruh &umlah kendaraan bermotor roda 2 terhadap P-D Provinsi *alimantan 5engah ". Diduga ada pengaruh Investasi Daerah terhadap P-D Provinsi *alimantan 5engah

0"

BAB. III "ET1DE PENELITIAN

De0inisi operasional Gariabel Dependen dalam penelitian ini yang masuk dalam variabel dependen adalah pendapatan asli daerah ( P-D #. P-D adalah merupakan suatu pendapatan yang menun&ukkan kemampuan suatu daerah untuk menghimpun sumber I sumber dana untuk membiayai kegiatan daerah. .adi pengertian P-D dapat dikatakan sebagai pendapatan rutin dari usaha I usaha pemerintah daerah dalam memanfaatkan potensi I potensi sumber I sumber keuangan untuk

membiayai tugas I tugas dan tanggung &a,abnya ( 'utrisno PH, 1(:2 #. Pendapatan -sli Daerah merupakan salah satu komponen penting dalam pembangunan ekonomi daerah, karena pendapatan asli daerah digunakan untuk membiayai kegiatan I kegiatan yang berhubungan dengan pembangunan ekonomi di suatu daerah, oleh karena itu pendapatan asli daerah sangat diperlukan dalam pembangunan ekonomi daerah, &ika pendapatan asli daerah meningkat maka dapat pula mempengaruhi produksi nasional, pendapatan asli daerah diperoleh dari6 ! ! ! Pa&ak Daerah 9etribusi Daerah +agian =aba dari +/3D (Hasil Investasi#

Gariabel pendapatan asli daerah dinotasikan dengan simbol ( B #.

0"

00

Gariabel!variabel independen yang dipakai dalam penelitian ini dapat di&elaskan sebagai berikut 6 1. Pendapatan -sli Daerah (P-D# merupakan seluruh penerimaan daerah yang masuk ke *as Daerah baik yang bersumber dari pa&ak daerah maupun retribusi daerah, sumbangan pihak ketiga dan hasil usaha daerah serta penerimaan lainnya yang men&adi hak daerah dan merupakan potensi daerah. 2. 5ransfer dari pemerintah pusat yaitu penerimaan yang bersumber dari pemerintah pusat guna pelaksanaan pemerintahan di daerah sebagai tangan pan&ang dalam melaksanakan sebagian urusan pemerintah pusat yang diserahkan kepada daerah. 5ransfer dari pemerintah pusat terdiri dari 6 Dana -lokasi /mum (D-/#, Dana -lokasi *husus (D-*#, +agi Hasil Pa&ak dan +ukan Pa&ak serta penerimaan lainnya yang sah (Dana Penyeimbang#. 5ransfer dari pemerintah pusat atau disebut &uga dengan perimbangan keuangan ini merupakan suatu sistem pembiayaan dalam kerangka negara kesatuan yang mencakup pembagian keuangan pemerintah pusat dan daerah. 'elain itu &uga merupakan pemerataan antar daerah secara proporsional, demokratis, adil dan transparan dengan memperhatikan potensi, kondisi dan kebutuhan daerah se&alan dengan ke,a&iban dan pembagian ke,enangan serta tata cara penyelenggaraan ke,enangan tersebut. 2. Bang dimaksud dengan .umlah kendaraan roda " atau lebih yaitu &umlah kendaraan roda " atau lebih yang domisili pemiliknya berada di ,ilayah otonomi Pemerintah Provinsi *alimantan 5engah. Hal ini terkait dengan pa&ak atas kepemilikan kendaraan roda " atau lebih yang dipungut oleh

0;

pemerintah daerah dan masuk ke *as Daerah baik yang bersumber dari pa&ak kendaraan bermotor, pa&ak bea balik nama kendaraan bermotor atau pa&ak bahan bakar kendaraan bermotor dan sumbangan pihak ketiga dealer atas kendaraan roda " atau lebih yang baru. ". Bang dimaksud dengan &umlah kendaraan roda 2 yaitu &umlah kendaraan roda 2 yang domisili pemiliknya berada di ,ilayah otonomi Pemerintah Provinsi *alimantan 5engah. Hal ini terkait dengan pa&ak atas kepemilikan kendaraan roda 2 yang dipungut oleh pemerintah daerah dan masuk ke *as Daerah baik yang bersumber dari pa&ak kendaraan bermotor, pa&ak bea balik nama kendaraan bermotor atau pa&ak bahan bakar kendaraan bermotor dan sumbangan pihak ketiga dealer atas kendaraan roda 2 yang baru. 0. Penyertaan 3odal Pemerintah Daerah yaitu dana pemerintah daerah yang dialokasikan kepada badan usaha lebih baik milik pemerintah maupun s,asta yang diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada pemerintah daerah melalui bagian labanya. #enis dan , mber Data .enis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu dokumen data yang ada pada Dinas atau Instansi terkait dan literatur serta data!data lain yang dapat menun&ang terselesaikannya penelitian ini menggunakan data series tahun 1((: sampai dengan 2 Data yang diperlukan adalah sebagai berikut 6 a. Data -P+D Propinsi *alimantan 5engah 5ahun 2 0 I 2 12. 0.

0)

b. Data .umlah Penyertaan 3odal Pemerintah Propinsi *alimantan 5engah 5ahun 2 0 I 2 12. 0

c. Data .umlah *endaraan +ermotor di Propinsi *alimantan 5engah 5ahun 2 !2 12.

d. Data mengenai 5ransfer Pemerintah Pusat ke Propinsi *alimantan 5engah 5ahun 2 0 ! 2 12.

"etode Peng mp lan Data 3etode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan studi kepustakaan. 'tudi pustaka adalah metode pengumpulan data yang dapat dilakukan dengan cara melakukan pengamatan data dari literatur I literatur dan buku I buku yang mendukung. Dalam penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan cara 6 a. Data diperoleh dari +adan Pusat 'tatistik (+P'# b. =aporan *euangan Pemerintah Provinsi *alimantan 5engah tahun 2 2 12. c. Data atau informasi yang diperoleh dari buku referensi, &urnal, ma&alah, surat kabar yang berkaitan dengan penelitian ini. "etode Analisis Data Analisis ! alitati0 -nalisis kualitatif adalah analisa yang berdasarkan data dan dinyatakan dalam bentuk uraian. Data ini merupakan data yang berupa informasi uraian dalam bentuk bahasa prosa kemudian dikaitkan dengan 0 I

0:

data lainnya untuk mendapatkan ke&elasan atau menguatkan suatu gambaran yang telah ada. Analisis ! antitati0 -nalisis kuantitatif digunakan untuk memecahkan masalahI masalah yang bersifat pengukuran kuantitas (&umlah dan angka#. Pendekatan ini berangkat dari data yang diproses men&adi informasi yang berharga bagi pengambilan keputusan. Analisis Regresi Linier Berganda 3etode yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linier dengan metode kuadrat terkecil biasa atau 8=' ( 8rdinary =east 'Juare #, yaitu metode yang digunakan untuk mengetahui besarnya pengaruh dari suatu variabel independent terhadap variabel dependent, maka model penelitian ini secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut 6
780 )91:9$:9.:96*.................................................................................... )..1*

'ecara pengertian ekonomi, pen&elasan fungsi matematis diatas adalah bah,a penerimaan pemerintah daerah (B# akan dipengaruhi oleh &umlah transfer pemerintah pusat (A1#, &umlah kendaraan bermotor roda " atau lebih (A2#, &umlah kendaraan roda 2 (A2# dan &umlah investasi pemerintah daerah pada +/3D (A"#. 3odel penerimaan daerah dari variabel I variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah 6

0(

L + 1 % 1 + 2 % 2 + 2 % 2 + " % " + i ..................................(2.2#

Di mana 6 B 1, 2, 2, " A1 A2 (rupiah # A2 A"

L pendapatan asli daerah ( rupiah # L konstanta L parameter L &umlah transfer pemerintah pusat ( rupiah # L &umlah kendaraan bermotor roda " atau lebih L &umlah kendaraan bermotor roda 2 (rupiah # L &umlah investasi pemerintah pada +/3D ( rupiah # L faktor gangguan ( disturbance error #

-nalisis ini bertu&uan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel bebas yaitu 6 &umlah transfer pemerintah pusat, &umlah kendaraan bermotor roda " atau lebih, &umlah kendaraan roda 2 dan &umlah investasi pemerintah pada +/3D, terhadap variabel terikat yaitu pendapatan asli daerah. ..6.6 U/i Pen3impangan As msi !lasik

..6.6.1 U/i " ltikolinearitas /&i ini bertu&uan apakah model regresi ditemukan adanya korelasi diantara variabel bebas. .ika ter&adi multikolinearitas sempurna maka penaksir 8=' men&adi tidak tertentu dan varians atau kesalahan standarnya &uga men&adi tidak tertentu ( Nu&arati dalam 'umarmo Fain, 1(() 6 1;2 #. /ntuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinearitas di dalam model regresi adalah sebagai berikut 6 a. %ilai 92 yang dihasilkan dari suatu estimasi model empiris sangat tinggi, tetapi secara individual variabel I variabel bebas banyak yang tidak signifikan mempengaruhi variabel terikat. b. %ilai korelasi antar variabel bebas yang cukup tinggi ( biasanya diatas ,( #.

c. %ilai 5olerance and Gariance Inflation @actor ( GI@ # melebihi 1 , dimana hal ini ter&adi ketika nilai 92 melebihi ,( maka suatu variabel dikatakan berkorelasi sangat tinggi. ..6.6.$ U/i Heteroskedastisitas Heteroskedastisitas adalah situasi penyebaran yang tidak sama atau tidak samanya varian sehingga u&i signifikansi tidak valid. /&i heteroskedastisitas bertu&uan untuk mengetahui apakah model regresi yang digunakan ter&adi ketidaksamaan varian dari residual suatu pengamatan lain. .ika ter&adi heteroskedastisitas maka penaksiran 8=' tetap bias dan konsiten tetapi penaksiran tadi tidak lagi efisien baik dalam sampel kecil maupun besar. 3odel regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak mengandung heteroskedastisitas. =ebih &auh lagi untuk mengu&i model regresi yang digunakan terdapat heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan /&i Park. (Nu&arati, 2 ..6.6.. U/i A tokorelasi -utokorelasi adalah suatu keadaan dimana variabel gangguan pada periode tertentu berkorelasi dengan variabel gangguan pada periode lain, dengan kata lain adalah variabel gangguan yang tidak random. /&i ini dilakukan untuk mengu&i apakah ada korelasi antara anggota serangkaian observasi yang diurutkan menurut ,aktu ( seperti dalam deretan ,aktu atau time series # atau ruang (seperti dalam data cross section atau lintas sektoral # ( Nu&arati, 2 2 6 ""2 #. 2 6 " 2 I "1"#.

@aktor I faktor yang menyebabkan autokorelasi antara lain kesalahan dalam menentukan model penggunaan lag pada model, tidak memasukkan

;1

variabel yang penting. -kibat adanya autokorelasi adalah parameter yang diestimasi men&adi bias dan variannya tidak minimum, sehingga tidak efisien. /ntuk mendeteksi adanya autokorelasi pada model regresi dapat dilakukan dengan /&i Durbin Patson. ..6.; Peng /ian Hipotesis 'etelah dinyatakan bebas dari penyimpangan asumsi klasik selan&utnya adalah pengu&ian secara statistik untuk mengetahui apakah semua variabel indepedennya memang secara bersama I sama mempunyai pengaruh nyata terhadap variabel dependennya. /&i statistik adalah mengu&i apakah hasil yang dicapai sudah sesuai dengan metode I metode statistik yang ada, meliputi 6 a. Pengu&ian Parsial ( /&i t # Baitu untuk mengu&i tingkat signifikansi masing I masing parameter dari variabel yang diukur ( independent # terhadap variabel dependen secara terpisah (parsial#, apakah dapat diterima secara statistik dengan membandingkan antara t hitung dengan t tabel. /ntuk mengetahui ada tidaknya pengaruh masing I masing variabel independent secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen maka digunakan u&i t. Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah (Imam Nho?ali, 2 H 6i L 0 6 :"# 6

5idak terdapat pengaruh masing I masing variabel independent terhadap variabel dependen.

H1 6 i S

5erdapat pengaruh masing I masing variabel independen terhadap variabel dependen.

;2

Dasar pengambilan keputusan 6 a. Dengan membandingkan nilai t hitung dengan t tabel ! ! -pabila t hitung O t tabel, maka H ditolak dengan H1 diterima. -pabila t hitung T t tabel, maka H diterima. , 0 # dan nilai df (degree of

Dengan angka signifikansi (0 persen ( L

freedom# n I k L ( 20 I " # L 21, maka dapat diketahui nilai t tabel sebesar 1,;(;. Dengan menggunakan angka signifikansi ! ! -pabila angka signifikansi O , 0 maka H diterima. -pabila angka signifikansi T , 0 maka H ditolak dan H1 diterima.

b. /&i 'imultan ( /&i @ # Baitu untuk mengu&i tingkat signifikansi secara bersama I sama parameter dari variabel yang diukur ( independent # terhadap variabel dependent, apakah dapat diterima secara statistik dengan cara membandingkan antara @ hitung dengan @ tabel. *aidah keputusan u&i @ statistik sebagai berikut 6 ! ! .ika @ hitung T @ tabel, maka hipotesa ditolak .ika @ hitung O @ tabel, maka hipotesa diterima. -rtinya bah,a secara

bersama I sama variabel independent berpengaruh terhadap variabel dependen atau terdapat hubungan yang signifikan. c. *oefisien Determinasi ( 92 # Digunakan untuk melihat besarnya pengaruh dari variabel I variabel independent terhadap variabel dependen. *aidah keputusan 92 adalah 6 ! .ika 92 mendekati , maka diantara variabel independent dan variabel dependen tidak ada keterkaitan.

;2

.ika 92 mendekati 1, maka diantara variabel independent dan variabel dependent ada keterkaitan.

;"

BAB I2 +A"BARAN U"U" 1B7E! PENELITIAN

!eadaan APBD Pro<insi !alimantan Tengah Dalam melaksanakan roda pemerintahan dan pembangunan daerah, Pemerintah Provinsi *alimantan 5engah tentunya dapat dan mampu

memanfaatkan segala sumber daya yang tersedia secara maksimal dan optimal agar lebih mandiri dan tidak selalu mengharapkan bantuan dari Pemerintah Pusat. 5erlebih lagi dengan diberlakukannya otonomi daerah yang dicanangkan se&ak tahun 2 1, maka Pemerintah Provinsi *alimantan 5engah harus mampu

memanfaatkan potensi daerah yang dimiliki secara optimal agar dapat melaksanakan pembangunan daerah sebagaimana yang telah direncanakan dan dituangkan melalui struktur -P+D. -P+D merupakan kebi&akan keuangan tahunan pemerintah daerah yang disusun berdasarkan keputusan, peraturan atau pedoman menteri dalam negeri yang disesuaikan dengan rencana strategis daerah yang telah disusun agar pembangunan di daerah dapat se&alan dengan program pembangunan yang digariskan oleh pemerintah pusat. Penyusunan -P+D harus mengacu pada ketentuan yang ada dengan maksud agar dalam penyusunan, pelaksanaan maupun pertanggung&a,aban serta pelaporan terhadap pelaksanaannya dapat dengan mudah dipantau serta dievaluasi demi perbaikan pelaksanaan ke depan, oleh karena itu pelaksanaan -P+D harus transparan dan akuntabel.

;"

;0

6.1.1. Perkembangan APBD Pro<insi !alimantan Tengah. Pertumbuhan -P+D Provinsi *alimantan 5engah tahun anggaran 2 0

sampai dengan tahun anggaran 2 12 mengalami peningkatan setiap tahun rata!rata sebesar 2 , 1 < yaitu dari 9p.;:".;(2,12 &uta7 pada tahun 2 men&adi 9p.2.02;.:2(," 0 meningkat

&uta pada tahun 2 12. Dilihat dari pertumbuhannya

-P+D Provinsi *alimantan 5engah selalu mengalami kenaikan setiap tahunnya. Pada tahun 1((( sebesar 9p.2 1.;1:,1( &uta7 tahun 2 &uta7 tahun 2 &uta7 tahun 2 1 sebesar 9p.:02021,:( &uta7 tahun 2 ) sebesar 9p.1(0.22 ,12 ( sebesar 9p."00.; :,"0

2 sebesar 9p.01 .";0,22 &uta7 tahun 2 11 sebesar 9p.2 2.: ),01

&uta7 dan tahun 2 12 sebesar 9p"22.: ",): &uta. 3eskipun pertumbuhan masing!masing tahun tidak sama, namun kecenderungannya selalu meningkat. Nambaran tentang perkembangan rata!rata pertumbuhan -P+D Provinsi *alimantan 5engah dari tahun 2 tahun 2 12 dapat dilihat pada tabel ".1 berikut 6 5abel ".1 Pertumbuhan -P+D Provinsi *alimantan 5engah (dalam &utaan rupiah#
No 1 2 2 " 0 ; ) Tah n Angaran 2 0 # mlah APBD ;:",;(2.1 2 ::;,211.2 2 1, :1,;21." 0 1,(2",102.2 " 2,2:(,);1.) ( 2,( ,22).1 1 2,1 2, 2".; 2 Pert mb han )= * 22.) 0 1:. ; "". : 1(. ) 1).; ;.0 "

0 sampai dengan

2
2 2 2 2 1

;
) : (

2 11

;;

2 12 Rata>rata Pert mb han

2,02;,:2(." 6?.%$%.(%

12. 2 $%.% 1

'umber 6 =aporan *euangan Pemerintah Provinsi *alimantan 5engah 6.1.$. !ontrib si PAD terhadap APBD Pendapatan -sli Daerah (P-D# merupakan salah satu sumber utama keuangan daerah untuk membiayai pembangunan daerah, dan diharapkan selalu meningkat tiap tahunnya. Hal ini penting artinya apalagi setelah otonomi daerah diberlakukan, maka daerah harus mampu membiayai pelaksanaan pembangunan daerahnya sendiri dan tidak mengharapkan bantuan dari pemerintah pusat,

sehingga daerah dapat membangun daerahnya sendiri sesuai dengan aspirasi maupun kondisi daerah itu sendiri dengan mengutamakan potensi unggulan daerah. -dapun besarnya kontribusi P-D terhadap -P+D Provinsi *alimantan 5engah dapat dilihat pada tabel ".2 berikut 6 5abel ".2 *ontribusi P-D terhadap -P+D Provinsi *alimantan 5engah %o 1 2 2 " 0 ; ) : 5ahun 2 2 2 2 2 2 1 2 11 2 12 0 ; ) : ( .umlah -P+D (.utaan rupiah# ;:",;(2.12 ::;,211.22 1, :1,;21."0 1,(2",102.2" 2,2:(,);1.)( 2,( ,22).11 2,1 2, 2".;2 2,02;,:2(." .umlah P-D (.utaan rupiah# 22:.:)",(( 21:.0;;,;; ")".21 ,20 :2 .()",10 1.2"1.;"",:: 1.";). ",0) 1.:;0.2(1,1( 2."( .;"2,)" *ontribusi P-D (<# 2".:( 20.(" "2.:" "2.(; 2:. ; 0 .0: ; .12 ) .;2

;)

'umber 6 =aporan *euangan Pemerintah Provinsi *alimantan 5engah

Dari tabel ".2 di atas dapat diketahui bah,a selama kurun ,aktu : tahun se&ak tahun 2 0 sampai dengan 2 12 kontribusi P-D terhadap -P+D rata!rata

sebesar ").12 < atau sumber P-D mampu membiayai sebesar ").12 < dari pelaksanaan -P+D. Dilihat dari besaran prosentase kontribusi tersebut sebenarnya sudah cukup besar, tetapi apabila dibandingkan dengan provinsi lain di pulau *alimantan, kontribusi P-D provinsi kalimantan tengah masih kalah atau masih lebih rendah, sehingga untuk men&aga supaya disparitas pembangunan antar provinsi di pulau *alimantan tidak terlalu besar, maka *alimantan 5engah harus mampu lebih meningkatkan P-D nya untuk menge&ar ketinggalan tersebut. 6.1... !ontrib si Trans0er terhadap APBD 5ransfer dalam penerimaan daerah yang bersumber dari pemerintah pusat antara lain dari Dana -lokasi /mum (D-/#, Dana -lokasi *husus (D-*#, +agi Hasil Pa&ak dan +ukan Pa&ak. -dapun kontribusi transfer dari pemerintah pusat yang dialokasikan ke provinsi *alimantan 5engah dapat dilihat pada tabel ".2 berikut ini 6 5abel ".2 *ontribusi 5ransfer Pemerintah Pusat terhadap -P+D Provinsi *alimantan 5engah (dalam &utaan rupiah# %o 1 2 2 " 5ahun 2 2 2 2 0 ; ) : .umlah -P+ D ;:",;(2.12 ::;,211.22 1, :1,;21."0 1,(2",102.2" .umlah 5ransfer "1", :".:2 0):,022. " 021,122.0; :)0,2 ".11 *ontribusi 5ransfer (<# ; .") ;0.2) ":.1) "0.20

;:

0 ; )

2 ( 2 1 2 11

2,2:(,);1.)( 2,( ,22).11 2,1 2, 2".;2

)1(, 20. ( (:0," ).() 1, 1:,2 :.;:

2 . : 22.() 22.:1

: 2 12 2,02;,:2(." 1, 2;,1(0.;0 2(.2: 'umber 6 =aporan *euangan Pemerintah Provinsi *alimantan 5engah Dari tabel ".2 di atas dapat diketahui bah,a selama kurun ,aktu : tahun se&ak tahun 2 0 sampai dengan 2 12 kontribusi 5ransfer terhadap -P+D rata! dari besaran prosentase kontribusi tersebut

rata sebesar "2,1) <. Dilihat

menggambarkan bah,a dalam men&alankan pemerintahan dan melaksanakan pembangunan daerah, provinsi kalimantan tengah masih membutuhkan bantuan dari pemerintah pusat sebesar "2,1) <. 5ransfer pemerintah pusat memang harus ada dan selalu ada, karena hal ini dimaksudkan untuk men&aga agar tetap adanya ketergantungan daerah terhadap pemerintah pusat guna menghindari perpecahan daerah (disintegrasi# dalam rangka men&aga persatuan dan kesatuan %*9I. -pabila daerah diberi kebebasan untuk memanfaatkan potensi daerah secara keseluruhan dan tidak ada ketentuan mengenai perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, hal ini dimungkinkan bagi daerah yang sumber daya alamnya besar dan mampu membiayai seluruh kebutuhan didalam penyelenggaraan pembangunan daerahnya, dapat diprediksikan daerah tersebut akan memisahkan diri dan men&adi negara sendiri (disintegrasi#. 8leh karena itu ,alaupun otonomi daerah yang mana daerah diberi ke,enangan yang besar untuk mengurus rumah tangganya sendiri, tetapi tetap ada keterkaitan dengan pemerintah pusat melalui perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang diatur di dalam /ndang!undang %omor 22 5ahun

;(

" tentang Perimbangan *euangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah

Daerah.

6.1.6. !ontrib si Pa/ak !endaraan Bermotor )P!B* terhadap PAD dan APBD Pa/ak !endaraan Bermotor adalah penerimaan pa/ak 3ang dikenakan pada pemilik kendaraan bermotor: baik roda $ ma p n roda 6 3ang berdomisili di kalimantan tengah dan mas k ke kas daerah. Penerimaan pa&ak kendaraan bermotor merupakan penyumbang terbesar bagi P-D provinsi kalimantan tengah. -dapun besarnya kontribusi pa&ak kendaraan bermotor terhadap P-D dapat dilihat pada tabel "." berikut ini 6 5abel "." *ontribusi P*+ terhadap P-D (dalam &utaan rupiah#
5ahu n .umlah P-D .umlah P*+ 9oda 2 .umlah P*+ 9oda " *ontribusi P*+ 9oda 2 terhadap P-D (<# *ontribusi P*+ 9oda " terhadap P-D (<# *ontribusi terhadap total P*+ P-D (<#

%o

1 2 2 " 0 ; ) :

2 2 2 2 2 2 1

0 ; ) : (

22:,:)" 21:,0;; ")",21 :2 ,()" 1,2"1,;"0 1,";), " 1,:;0,2(1 2,"( ,;"2

;1,12: ;:,20 ;",(1" 121,;(: 1;",";2 2 1,)12 2: , 2) 2"2,2):

):,;0) )),(") :;,)( 102,002 2 ;,022 20),( ; 2";,)1( " ;,(2;

20.0( 21."; 12.;( 10.:: 12.20 12.)0 10. 1 12.)(

22.(2 2".") 1:.2 1:.": 1;.;2 1).0: 1:.0( 1;.2"

0:.02 "0.(2 21.(( 2".2; 2(.:: 21.22 22.; 2 .12

2 11 2 12

'umber 6 =aporan *euangan Pemerintah Provinsi *alimantan 5engah

6.1.;. !ontrib si Hasil Pen3ertaan "odal )De<iden* terhadap PAD

Penyertaan modal provinsi kalimantan tengah merupakan investasi pemerintah daerah pada badan usaha milik daerah ataupun s,asta. Penyertaan modal ini diharapkan dapat membantu penerimaan pemerintah daerah dalam rangka meningkatkan P-D. -dapun kontribusi dari hasil penyertaan modal (Deviden# pemerintah provinsi kalimantan tengah dapat dilihat pada tabel ".0. berikut ini 6 5abel ".0 *ontribusi Hasil Penyertaan 3odal (Deviden# terhadap P-D (Dalam &utan rupiah#
# mlah Hasil Pen3ertaan "odal )De<iden* ;2) 1,);2 2, 1: 2,;:2 ;,22" (,1(1 2 2,)1; (2,2"2 !ontrib si Penertaan "odal terhadap PAD )=* .2) .00 ."2 .22 .) .;2 1 .(2 2.)

No 1 2 2 " 0 ; ) :

Tah n 2 2 2 2 2 2 1 2 11 2 12 0 ; ) : (

# mlah PAD 22:,:)" 21:,0;; ")",21 :2 ,()" 1,2"1,;"0 1,";), "

1,:;0,2(1 2,"( ,;"2

'umber 6 =aporan *euangan Pemerintah Provinsi *alimantan 5engah

Prod k Domestik Regional Br to )PDRB* Pro<insi !alimantan Tengah. Pertumbuhan ekonomi *alimantan 5engah ditun&ukkan oleh la&u pertumbuhan Produk Domestik 9egional +ruto (PD9+# atas dasar harga konstan 1((2 dari tahun ketahun semakin membaik. Pertumbuhan sektor riil mengalami fluktuasi antar sektor. Dari data yang ada dapat dilihat bah,a sektor industri

)1

pengolahan memberikan sumbangan tertinggi terhadap ekonomi *alimantan 5engah disusul sektor perdagangan, hotel dan restoran yang &uga merupakan sektor dominan memberikan sumbangan berarti bagi perekonomian *alimantan 5engah, kemudian sektor pertanian &uga masih mempunyai peranan yang cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Perkembangan pendapatan regional per kapita atas dasar harga konstan tahun 1((2 periode 1((:!2 2 secara umum lebih rendah dibandingkan

perkembangan produk regional bruto. Perkembangan produk domestik regional bruto tahun 1((:!2 2 dapat dilihat pada tabel ".; berikut ini 6

5abel ".; Produk Domestik 9egional +ruto menurut =apangan /saha atas dasar Harga *onstan 5ahun 1((2 di *alimantan 5engah 5ahun 1((:!2 0
Tah n 1(() 1((: 1((( 2 2 1 2 2 2 2 2 " PDRB !alimantan Tenga "212(:2:.( 2: ;02)2.20 2(2;2" ".(2 " ("1;;). "22 01);. "2))0;(2. "000)11 . "):0)): . Pert mb han ! !11.)" 2."1 ". 1 2.22 2.": ". ) 0. 0

'umber 6 *al!5eng dalam -ngka, 1((: I 2

"

%aik turunnya PD9+ menggambarkan kondisi perekonomian dari suatu daerah. Hal ini menyebabkan PD9+ di&adikan salah satu acuan bagi para investor untuk memahami kondisi dari daerah yang dimaksud, dengan meningkatnya pendapatan daerah yang tercermin dalam PD9+ maka terdapat kecenderungan peningkatan pula dalam pembentukan modal daerah seperti dalam teori akselerasi.

)2

BAB 2 HA,IL DAN PE"BAHA,AN

5erdiri dari deskripsi ob&ek penelitian, analisis data, dan pembahasan. Pada bagian deskripsi ob&ek penelitian dibahas secara deskriptif variabel I variabel yang berkaitan dengan masalah penelitian. 5u&uan dari analisis data adalah menyederhanakan data kedalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan. Pembahasan merupakan bagian dari isi laporan penelitian yang mendiskusikan implikasi dari analisis data dan interpretasi yang dibuat oleh peneliti. ;.1 Deskripsi 1b/ek Penelitian

;.1.1. !e angan Daerah @aktor keuangan merupakan hal yang penting dalam setiap kegiatan pemerintahan, karena hampir tidak ada kegiatan pemerintahan yang tidak membutuhkan biaya. 'ehubungan dengan posisi keuangan ini, ditegaskan bah,a pemerintah daerah tidak akan dapat melaksanakan fungsinya dengan efektif dan efisien tanpa biaya yang cukup untuk memberikan pelayanan terhadap masyarakat dan melaksanakan pembangunan. 'umber!sumber penerimaan di dalam -P+D terdiri dari lima komponen besar, yaitu 6 P-D7 bagi hasil pa&ak dan bukan pa&ak7 sumbangan4bantuan pemerintah pusat7 pin&aman daerah7 dan sisa lebih tahun sebelumnya. Dalam penelitian ini faktor yang paling dominan mempengaruhi P-D adalah dari pa&ak daerah yaitu pa&ak kendaraan bermotor. Pendapatan dan +elan&a %egara (-P+%# )2

)2

yang dialokasikan kepada Provinsi *aliamantan 5engah. Pada tabel ".1dapat dilihat pendapatan asli daerah cenderung meningkat setiap tahunnya, hanya pada tahun 2 1 dan 2 2 prosentase P-D mengalami penurunan dari tahun

sebelumnya, tetapi secara nominal mengalami kenaikan. -dapun data pendapatan asli daerah Provinsi *alimantan 5engah dapat dilihat pada tabel ".1 diba,ah ini 6 5abel 0.1 Potensi Pendapatan -sli Daerah Dibandingkan Dengan -P+D Provinsi *alimantan 5engah 2 0 I 2 12 (.uta9upiah # %o 5ahun .umlah Penerimaan Daerah P-D Persentase *emandirian 2",:( < 20,(" < "2,:" < "2,(; < 01,(; < 0 ,0: < ; ,12 < ) ,;2 <

1 2 0 ;":.2(2 22:.:)" 2 2 ; (";.22) 21:.0;; 2 2 ) 1. :1.;21 ")".21 " 2 : 1.(2".102 :2 .()" 0 2 ( 2.2:(.);1 1.2"1.;"" ; 2 1 2.( .22) 1.";). " ) 2 11 2.1 2. 2" 1.:;0.2(1 : 2 0 2.02;.:2( 2."( .;"2 'umber 6 =aporan *euangan Provinsi *alimantan 5engah (diolah#

Dari tabel di atas dapat diketahui potensi keuangan daerah setiap tahun menun&ukkan peningkatan yang cukup baik, sehingga dapat menun&ang kemandirian daerah.

)"

;.$. Peng /ian Hipotesis 5abel 0.2 Hasil $stimasi


2ariabel *onstanta 5ransfer .umlah kendaraan roda " atau lebih .umlah kendaraan roda 2 Investasi Daerah !oe0isien 20,"2(( 2,"" 2,:0( ,0 0 1,20 2,; 1 2,;0( 2,020 ",1" ",0(0 t ,ig. , 2) , , , , ; ( 2 1

'umber 6 Data 'ekunder Hasil Pengolahan 'P'' 11.0, 2

;.$.1. Peng /ian Parsial ) U/i t * /ntuk mengetahui ada tidaknya pengaruh masing I masing variabel independent secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen maka digunakan u&i t. Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah (Imam Nho?ali, 2 Ho 6 iL 0 6 :"# 6

5idak terdapat pengaruh masing I masing variabel independent

terhadap variabel dependen. H1 6 i L 5erdapat pengaruh masing I masing variabel independen

terhadap variabel dependen. Dasar pengambilan keputusan 6 a. Dengan membandingkan nilai t hitung dengan t tabel -pabila t hitung O t tabel, maka H ditolak dengan H1 diterima. -pabila t hitung T t tabel, maka H diterima.

)0

Dengan angka signifikansi (0 persen ( U L , 0 # dan nilai df (degree of freedom# n I k L ( : I " # L ", maka dapat diketahui nilai t tabel sebesar 2,122. b. Dengan menggunakan angka signifikansi -pabila angka signifikansi O , 0 maka H diterima. -pabila angka signifikansi T , 0 maka H ditolak dan H1 diterima.

;.$.1.1. 2ariabel Trans0er ) 91 * +erdasarkan perhitungan diketahui bah,a hasil output regresi variabel transfer ( A1 # menun&ukkan t hitung sebesar 2,"" ( 2,"" O 2,122# dengan angka signifikansi sebesar , ;( , ; T , 0 # maka dapat disimpulkan bah,a variabel

transfer secara signifikan berpengaruh positif terhadap variabel pendapatan asli daerah Provinsi *alimantan 5engah. Hal ini men&elaskan bah,a semakin tinggi &umlah transfer akan berdampak pada meningkatnya pendapatan asli daerah Provinsi *alimantan 5engah.

;.$.1.$.2ariabel # mlah !endaraan Roda 6 ata Lebih ) 9$* +erdasarkan perhitungan diketahui bah,a hasil output regresi variabel &umlah kendaraan roda " atau lebih ( A2 # menun&ukkan t hitung sebesar 2,020 (2,020 O 2,122# dengan angka signifikansi sebesar , (( , ( T , 0 # maka

dapat disimpulkan bah,a variabel &umlah kendaraan roda " atau lebih secara signifikan berpengaruh positif terhadap variabel pendapatan asli daerah Provinsi *alimantan 5engah. Hal ini men&elaskan bah,a semakin tinggi &umlah kendaraan roda " atau lebih meningkat akan berdampak pada meningkatnya pendapatan asli daerah Provinsi *alimantan 5engah.

);

;.$.1...2ariabel # mlah !endaraan Roda $ ) 9.* +erdasarkan perhitungan diketahui bah,a hasil output regresi variabel &umlah kendaraan roda 2 ( A2 # menun&ukkan t hitung sebesar ",1" ( ",1" O 2,122# dengan angka signifikansi sebesar , 2 ( , 2 T , 0 # maka dapat

disimpulkan bah,a variabel &umlah kendaraan roda 2 secara signifikan berpengaruh positif terhadap variabel pendapatan asli daerah Provinsi *alimantan 5engah. Hal ini men&elaskan bah,a semakin tinggi &umlah kendaraan roda 2 meningkat akan berdampak pada meningkatnya pendapatan asli daerah Provinsi *alimantan 5engah. ;.$.1.$. 2ariabel In<estasi Daerah ) 96* +erdasarkan perhitungan diketahui bah,a hasil output regresi variabel investasi di daerah ( A0# menun&ukkan t hitung sebesar ",0(0 (",0(0 O 2,122# dengan angka signifikansi sebesar , 1( , 1O , 0 # maka dapat disimpulkan

bah,a variabel investasi daerah signifikan terhadap variabel pendapatan asli daerah Provinsi *alimantan 5engah. Hal ini berarti semakin tinggi investasi maka akan meningkatkan pendapatan asli daerah Provinsi *alimantan 5engah. ;... Peng /ian ,im ltan ) U/i @ * /ntuk mengetahui apakah semua variabel independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama I sama terhadap variabel dependen ( Imam Nho?ali, 2 H 6 1 = 2 = 2 = " = 0 6 :" #. Hipotesa yang digunakan adalah 6 Gariabel independen secara bersama I sama tidak berpengeruh terhadap variabel dependen.

))

H1 6 1 2 2 "

Gariabel independen secara bersama I sama berpengaruh terhadap variabel dependen Dasar pengambilan keputusan 6

a.

Dengan membandingkan nilai @ hitung dengan @ tabel -pabila @ hitung O @ tabel, maka H ditolak atau H1 diterima -pabila @ hitung T @ tabel, maka H diterima Dengan tingkat signifikansi (0 persen (U L , 0# dan nilai df (degree of freedom# n I k I 1 L ( : I " I 1 # L 2 maka dapat diketahui nilai @ tabel sebesar (,12.

b.

Dengan menggunakan angka signifikansi -pabila angka signifikansi O , 0 maka H diterima. -pabila angka signifikansi T , 0 maka H ditolak atau H1 diterima. Hasil output regresi menun&ukkan nilai @ hitung sebesar 22,";: (22,";: O (,12# dengan angka signifikansi sebesar , 12 ( , 12 T , 0 # sehingga dapat disimpulkan bah,a keempat variabel independen yaitu trasnfer, &umlah kendaraan roda " atau lebih, &umlah kendaraan roda 2 dan investasi daerah secara bersamaIsama berpengaruh terhadap pendapatan asli daerah *abupaten4*ota di *alimantan 5engah.

;.6. !oe0isien Determinasi ) R $ * *oefisien determinasi (9 2# pada intinya mengukur seberapa &auh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel independen (Imam Nho?ali, 2 0 6 :2#. +erdasarkan perhitungan diperoleh sebagai berikut

):

5abel 0.2 *oefisien Diterminasi 3odel 'ummaryb "odel 1 R .(:"a R ,A are .(;( Ad/ sted R ,A are .(2: ,td. Error o0 the Estimate .22 12: D rbin> B atson 2. ;

b. Predictors6 (>onstant#, Investasi Daerah, .umlah *endaraan 9oda 2, 5ransfer, .umlah *endaraan 9oda " atau =ebih c. Dependent Gariable6 P-D Dari hasil diatas menun&ukkan bah,a nilai koefisien determinasi yang dinyatakan dalam -d&usted 9 2 sebesar , (;( atau sebesar (;,( persen. Hal ini berarti sebesar (;,( persen variasi yang ter&adi pada variabel pendapatan asli daerah Provinsi *alimantan 5engah dapat di&elaskan oleh variasi dari keempat variabel independen yaitu trasnfer, &umlah kendaraan roda " atau lebih, &umlah kendaraan roda 2 dan investasi daerah. Dengan demikian masih terdapat sebesar 1 persenI (;,( persen L 2,1 persen yang merupakan kontribusi variabel bebas

lain diluar keempat variabel independen yaitu trasnfer, &umlah kendaraan roda " atau lebih, &umlah kendaraan roda 2 dan investasi daerah

;.;. Analisis Regresi Linier Berganda +erdasarkan penghitungan yang dilakukan dengan menggunakan 'P'' versi 11.0 maka di dapat persamaan dari regresi linier berganda sebagai berikut 6

)(

5abel 0." Hasil 9egresi >oefficientsa


"odel 1. >onstant# 5ransfer .umlah *endaraan 9oda " atau =ebih .umlah *endaraan 9oda 2 Investasi Daerah UnstandardiCed -oe00i5ients B ,td. Er 20."2( ). ;" 2."; .;)2 2.:0( .: ( .0 0 .122 1.20 .2(" ,tandardiCed -oe00i5ients Beta .1)) .0": .12 .120 t 2.; 1 2.;0( 2.020 ".1" ".0(0 ,ig. . 2) . ; . ( . 2 . 1 -ollinearit3 ,tatisti 5s Toleran5e 2I@ .:1" 1.22: .)00 1.220 .(2" 1. ) .(22 1. :2

a. Dependent Gariable6 P-D Dari tabel di atas kemudian dimasukkan dalam persamaan regresi B L 20,"2( M 2,"" A1 M 2,:0( A2 M ,0 0 A2 M 1,20 A" Dari persamaan di atas diketahui bah,a 6 5ransfer ( A1 # *oefisien regresi sebesar 2,"" menun&ukkan bah,a variabel transfer

berpengaruh terhadap pendapatan asli daerah di *alimantan 5engah. Hal ini men&elaskan bah,a semakin tinggi transfer, maka akan berdampak pada meningkatnya pendapatan asli daerah di *alimantan 5engah. -tau dengan kata lain, setiap bertambah 1 &uta untuk transfer, maka akan meningkatkan pendapatan asli daerah sebesar 2,"" &uta. .umlah *endaraan 9oda " atau =ebih ( A2 # *oefisien regresi sebesar 2,:0( menun&ukkan bah,a variabel &umlah kendaraan roda " atau lebih signifikan terhadap pendapatan asli daerah Provinsi *alimantan 5engah. Hal ini berarti semakin tinggi &umlah kendaraan

roda " atau lebih, maka akan berdampak pada meningkatnya pendapatan asli daerah di *alimantan 5engah. -tau dengan kata lain, setiap bertambah 1 &umlah kendaraan roda " atau lebih, maka akan meningkatkan pendapatan asli daerah sebesar 2,:0( &uta. .umlah *endaraan 9oda 2 ( A2 # *oefisien regresi sebesar ,0 0 menun&ukkan bah,a variabel &umlah

kendaraan roda 2 signifikan terhadap pendapatan asli daerah Provinsi *alimantan 5engah. Hal ini berarti semakin tinggi &umlah kendaraan roda 2, maka akan berdampak pada meningkatnya pendapatan asli daerah di *alimantan 5engah. -tau dengan kata lain, setiap bertambah 1 &umlah kendaraan roda 2, maka akan meningkatkan pendapatan asli daerah sebesar ,0 0 &uta. Investasi Daerah (A"# *oefisien regresi sebesar 1,20 menun&ukkan bah,a variabel investasi daerah signifikan terhadap pendapatan asli daerah Provinsi *alimantan 5engah. Hal ini berarti semakin tinggi investasi daerah, maka akan berdampak pada meningkatnya deviden yang masuk ke kas daerah Provinsi *alimantan 5engah. -tau dengan kata lain, setiap bertambah 1 &uta untuk investasi daerah, maka akan meningkatkan pendapatan asli daerah sebesar 1,20 &uta. ;.? Pembahasan a. Pengar h 2ariabel # mlah Trans0er Pemerintah P sat Hipotesis pertama yang menyatakan bah,a terdapat pengaruh positif antara &umlah transfer pemerintah pusat terhadap pendapatan asli

:1

daerah menun&ukkan hasil signifikan secara tidak langsung, khususnya transfer yang digunakan untuk membiayai pembangunan infra struktur dan aktivitas ekonomi, sehingga mendorong kegiatan perkonomian di *alimantan 5engah, sehingga dapat meningkatkan P-D. Hal ini dibuktikan dengan nilai t!hitung sebesar signifikansi sebesar , 2,;0( dan angka probabilitas

; yang lebih kecil dari , 0 &uga memperkuat

bukti bah,a &umlah transfer pemerintah pusat signifikan secara tidak langsung terhadap pendapatan asli daerah. Hal ini men&elaskan bah,a semakin tingginya &umlah pendapatan asli daerah Provinsi *alimantan 5engah menyebabkan tingkat kemandirian daerah semakin baik, karena semakin tinngi P-D, transfer yang dialokasikan dalam -P+D semakin kecil dibandingkan dengan P-D. b. Pengar h 2ariabel # mlah !endaraan Roda 6 ata Lebih. Hipotesis kedua yang menyatakan bah,a terdapat pengaruh positif antara &umlah kendaraan roda " atau lebih terhadap pendapatan asli daerah di *alimantan 5engah menun&ukkan hasil yang signifikan, hal tersebut disebabkan adanya kebi&akan dari Pemerintah Provinsi *alimantan 5engah pada tahun 2 " dan 2 0 membebaskan +ea +alik

%ama *endaraan +ermotor (++%*+# II dari luar Provinsi *alimantan 5engah, sehingga masyarakat di *alimantan 5engah bergairah membeli kendaraan luar *alimantan 5engah yang harga pasarannya lebih rendah untuk dimutasikan ke *alimantan 5engah. Palaupun ++%*+ II dari kendaraan luar daerah nihil, tetapi pa&ak kendaraannya masuk ke kas

:2

daerah provinsi *alimantan 5engah, hal ini dibuktikan dengan nilai t! hitung sebesar 2,020 dan angka probabilitas signifikansi sebesar , yang lebih kecil dari (

, 0 &uga memperkuat bukti bah,a &umlah

kendaraan roda " atau lebih berpengaruh signifikan terhadap pendapatan asli daerah di *alimantan 5engah. Hal ini men&elaskan bah,a semakin tinggi &umlah kendaraan roda " atau lebih akan berdampak pada peningkatan pendapatan asli daerah di *alimantan 5engah.. .adi dapat dikatakan &ika semakin banyak &umlah kendaraan roda " atau lebih yang ada di *alimantan 5engah, maka pendapatan asli yang diperoleh Propinsi *alimantan 5engah akan semakin besar, karena pa&ak kendaraan bermotor roda " yang disetor ke kas daerah semakin besar. 5. Pengar h 2ariabel # mlah !endaraan Roda $. Hipotesis ketiga yang menyatakan bah,a terdapat pengaruh positif antara &umlah kendaraan roda 2 terhadap pendapatan asli daerah di *alimantan 5engah menun&ukkan hasil yang signifikan, hal ini dibuktikan dengan nilai t!hitung sebesar ",1" dan -ngka probabilitas signifikansi sebesar , 1 yang lebih kecil dari , 0 &uga memperkuat

bukti bah,a &umlah kendaraan roda 2 atau lebih berpengaruh signifikan terhadap pendapatan asli daerah di *alimantan 5engah. Hal ini yang men&elaskan bah,a semakin tinggi &umlah kendaraan roda 2 akan berdampak pada peningkatan pendapatan asli daerah di *alimantan 5engah. .adi dapat dikatakan &ika semakin banyak &umlah kendaraan roda 2 yang ada di *alimantan 5engah, maka

:2

pendapatan asli yang diperoleh Propinsi *alimantan 5engah akan semakin besar, hal ini &uga disebabkan karena adanya kebi&akan pembebasan ++%*+ II dari luar *alimantan 5engah, sehingga pa&ak kendaraan bermotor roda 2 yang disetor ke kas daerah semakin besar. d. Pengar h 2ariabel In<estasi Daerah. Hipotesis keempat yang menyatakan bah,a terdapat pengaruh positif antara investasi daerah terhadap pendapatan asli daerah di *alimantan 5engah menun&ukkan hasil yang signifikan, hal ini dibuktikan dengan nilai t!hitung sebesar ",0(0 dan angka probabilitas signifikansi sebesar , 11 yang lebih kecil dari , 0 &uga memperkuat bukti bah,a investasi daerah berpengaruh signifikan terhadap pendapatan asli daerah di *alimantan 5engah. Hal ini yang men&elaskan bah,a semakin tinggi investasi daerah akan berdampak pada peningkatan pendapatan asli daerah di *alimantan 5engah atau dapat dikatakan &ika semakin banyak investasi daerah yang dialokasikan dari -P+D, maka pendapatan asli yang diperoleh Propinsi *alimantan 5engah akan semakin besar, karena deviden dari hasil investasi daerah yang disetor ke kas daerah semakin besar.

:"

BAB 2I PENUTUP

5erdiri dari kesimpulan dan saran dari hasil penelitian. 'impulan merupakan penya&ian singkat apa yang telah diperoleh dari pembahasan. 'aran merupakan an&uran yang disampaikan kepada pihak yang berkepentingan terhadap hasil penelitian. ?.1 !esimp lan +erdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut 6 1. Hasil analisis menun&ukkan bah,a &umlah menun&ukkan bah,a variabel &umlah transfer pemerintah pusat mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan asli daerah Provinsi *alimantan 5engah. Dengan koefisien regresi sebesar (2,"" # dan angka probabilitas signifikansi sebesar , ; yang lebih kecil dari , 0 &uga memperkuat bukti bah,a &umlah transfer

pemerintah pusat ,alaupun secara tidak langsung berpengauh signifikan terhadap pendapatan asli daerah. 2. Hasil analisis menun&ukkan bah,a &umlah kendaraan roda " atau lebih mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pendapatan asli daerah Provinsi *alimantan5engah. *oefisien regresi sebesar 2,:0( menun&ukkan bah,a variabel &umlah kendaraan roda " atau lebih berpengaruh terhadap pendapatan asli daerah Provinsi *alimantan 5engah, dan dengan angka probabilitas signifikansi sebesar , :" ( yang lebih kecil dari , 0 &uga

:0

memperkuat bukti bah,a &umlah kendaraan roda " atau lebih berpengaruh signifikan terhadap pendapatan asli daerah di *alimantan 5engah. Hal ini men&elaskan bah,a semakin tinggi &umlah kendaraan roda " atau lebih, maka akan berdampak pada meningkatnya pendapatan asli daerah Provinsi *alimantan 5engah. -tau dengan kata lain, setiap bertambah 1 &umlah kendaraan roda " atau lebih maka akan meningkatkan pendapatan asli daerah sebesar 2,:0( &uta. 2. Hasil analisis menun&ukkan bah,a &umlah kendaraan roda 2 mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pendapatan asli daerah Provinsi *alimantan 5engah. *oefisien regresi sebesar ,0 0 menun&ukkan bah,a

variabel &umlah kendaraan roda 2 berpengaruh terhadap pendapatan asli daerah Provinsi *alimantan 5engah, dan dengan angka probabilitas signifikansi sebesar , 2 yang lebih kecil dari , 0 &uga memperkuat bukti

bah,a &umlah kendaraan roda 2 berpengaruh signifikan terhadap pendapatan asli daerah di *al!5eng. Hal ini men&elaskan bah,a semakin tinggi &umlah kendaraan roda 2, maka akan berdampak pada meningkatnya pendapatan asli daerah Provinsi *alimantan 5engah. -tau dengan kata lain, setiap bertambah 1 &umlah kendaraan roda 2 maka akan meningkatkan pendapatan asli daerah sebesar ,0 0 &uta. ". Hasil analisis menun&ukkan bah,a investasi daerah mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pendapatan asli daerah Provinsi *alimantan 5engah. *oefisien regresi sebesar 1,20 menun&ukkan bah,a

variabel investasi daerah berpengaruh terhadap pendapatan asli daerah

:;

Provinsi *alimantan 5engah, dan dengan angka probabilitas signifikansi sebesar , 1 yang lebih kecil dari , 0 &uga memperkuat bukti bah,a

investasi daerah berpengaruh signifikan terhadap pendapatan asli daerah di *alimantan 5engah. Hal ini men&elaskan bah,a semakin tinggi investasi daerah, maka akan berdampak pada meningkatnya pendapatan asli daerah Provinsi *alimantan 5engah. -tau dengan kata lain, setiap bertambah 1 &uta investasi daerah maka akan meningkatkan pendapatan asli daerah sebesar 1,20 &uta. ?.$ ,aran +erdasarkan kesimpulan hasil penelitian dengan mengacu hasil analisis, penulis mengemukakan se&umlah saran guna meningkatkan P-D, yaitu 6 1. Pemerintah daerah agar berusaha untuk mendapatkan bagi hasil dari pusat terkait sumberdaya daerah yang penerimaannya disetor seluruhnya ke pusat, sebagai contoh bagi hasil cukai yang semuanya merupakan penerimaan pemerintah pusat. 2. Pemerintah daerah agar mempertahankan kebi&akan yang telah ditempuh yaitu pembebasan ++%*+ II yang berlaku selamanya tidak temporer, sehingga kendaraan dari luar *alimantan 5engah yang mutasi ke *alimantan 5engah semakin meningkat. 2. 3embantu masyarakat dalam pengurusan dokumen kendaraan bermotor khususnya kendaraan bekas, sehinga semua kendaraan terdaftar dengan baik dan masyarakat bergairah untuk miliki kendaraan bermotor yang harganya ter&angkau ,alaupun bekas, sehinga dengan meningkatnya pemilik kendaraan

:)

bermotor akan berpengaruh pada penerimaan pa&ak kendaraan bermotor &uga semakin meningkat, dan dengan demikian P-D &uga akan meningkat. ". Perlu ditingkatkannya sarana dan prasarana pelayanan pembayaran pa&ak kendaraan bermotor, atau menambah &umlah outlet pembayaran pa&ak kendaraan bermotor dan memanfaatkan &asa perbankan dalam pembayaran pa&ak kendaraan bermotor. 0. Dengan banyaknya outlet pembayaran pa&ak kendaraan bermotor, akan mempermudah ,a&ib pa&ak dalam memenuhi ke,a&ibannya, sehingga penerimaan dari sektor pa&ak kendaraan bermotor dapat secara efektif dapat diterima oleh kas daerah. ;. 3elaksanakan investasi pada usaha!usaha yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi, dan berpartisipasi pada mega proyek yang ada di daerahnya sehingga dapat menambah penerimaan daerah. !eterbatasan Penelitian Dalam penelitian ini terdapat keterbatasan yang dialami oleh penulis, keterbatasan I keterbatasan yang dialami penulis adalah 6 1. 9eferensi dari penelitian sebelumnya tidak banyak, sehingga acuan dari penelitian ini mendasarkan pada laporan keuangan yang ada. 2. Pengukuran tingkat kemandirian daerah belum ada aturan yang baku, sehingga diasumsikan dengan tingkat kemandirian yang diukur dari prosentase pendapatan asli daerah dibandingkan dengan -P+D. 2. *eterbatasan dari data yang diperoleh, seperti data dan literatur yang men&elaskan tolok ukur kemandirian daerah belum ada.

::

". Pemerintah pusat tidak mengidentifikasi tingkat kemandirian daerah, sehingga data maupun informasi mengenai tingkat kemandirian daerah hanyalah asumsi belaka.

:(

DA@TAR PU,TA!A -bdul Halim, C-nggaran Daerah dan @iscal 'tress 6 'ebuah'tudi *asus pada -nggaran Daerah Provinsi di IndonesiaD, .$+I Gol. 1;, %o. ", 2 1. -lfian =ains, CPendapatan Daerah Dalam $konomi 8rde +aruD, P9I'3-, %o. ", 1(:0. +adan Pusat 'tatistik, Pendapatan 9egional. *alimantan 5engah 5ahun 1((( s4d 2 2, *er&asama +appeda dan +P' Provinsi *aliamantan 5engah. +adan Pusat 'tatistik Propinsi .a,a 5engah, C*alimantan 5engah Dalam -ngka, 5ahun 1((( s4d 2 2. *er&asama +appeda dan +P' Provinsi *alimantan 5engah +ooth, -nne., CPendanaan Pemerintah Pusat Dalam Pengeluaran Pembangunan Pemerintah DaerahD, P9I'3- nomor 1 .anuari 1(::, hlm. ;0!):. Davey *.., 1(::, Pembiayaan Pemerintah Daerah 6 Praktek!praktek Internasional dan 9elevansinya bagi Dunia *etigaD, Penerbit /I!Press. Departemen Dalam %egeri, 1((1, CPengukuran *emampuan Daerah Dalam 9angka Pelaksanaan 8tonomi Daerah Bang %yata dan sertanggung&a,ab, =itbang Depdagri, .akarta. Devas, %ick, dkk, 1(:(, C*euangan Pemerintah Daerah di IndonesiaD, Penerbit I Press. Diah =utfi Pi&ayanti, 2 1 C'ektor!'ektor $konomi Potensial dan Pembiayaan Pembangunan Dalam 9angka 8tonomi Daerah 6 DIBD, 5esis '!2 P3' /N3 Bogyakarta (tidak dipublikasikan#. Dumairy, 1((1, C3atematika 5erapan untuk +isnis dan $konomi, +P@$ Bogyakarta. @irmansyah, 2 1, 3odul Pelatihan Praktis $konometrika, -plikasi $conometric Gie,s 2. , ='*$ @$ /%DIP. Nu&arati, D. $konometrika Dasar, 5er&emahan 'umarno Fain, Penerbit $rlangga, .akarta. Nuritno 3angkoesoebroto, 2 1, $konomi Publik, +P@$ Bogyakarta.

Hadi 'asana, 2 1, CPengaruh Hubungan @iskal Pemerintah Pusat!Daerah 5erhadap Produk Domestik 9egional +ruto *abupaten *latenD, 5esis '!2 P3' /N3 Bogyakarta (tidak dipublikasikan#.

Herman Haeruman .s,CPembangunan Daerah dan Peluang Pemerataan Pembangunan -ntar DaerahD, 20 5ahun P9I'3- 1()1!1((;. H. 3iyasto, C9eformasi Pa&ak dan 9etribusi DaerahD, .urnal +isnis H $konomi Politik, Gol. 2 ("# 8ktober 1((:. Imam Nho?ali, 2 1. -plikasi -nalisis 3ultivariate dengan Program 'P''. +adan Penerbit /niversitas Diponegoro. .aya P*, 1((;, C-nalisa *euangan Daerah 6 Pendekatan 3akro, 3odel Program P3'' $', *er&asama Dit&en P/8D Depdagri dengan Pusat Penelitian dan Pengka&ian $konomi dan +isnis /N3. *aho, 1((), CProspek 8tonomi Daerah di 9epublik IndonesiaD, cetakan keempat 9a&a,ali Press, .akarta. =P2I 'emarang dan Pemerintah Propinsi .a,a 5engah, 2 , CPenyusunan Data Potensi Dan *emandirian Daerah!Daerah Propinsi .a,a 5engahD. 3ardiasmo, 2 2, C 8tonomi Daerah 'ebagai /paya 3emperkokoh +asis Perekonomian DaerahD 3iller, '3 dan 9ussek, @', C@iscal 'tructures and $conomic Nro,th at 5he 'tate and =ocal =evelD, Public @inance 9evie,, Gol. 20 %o. 2, 3arch 1((), 212!22), 'age Publications, Inc. C3odul 6 =atihan $konometrika DasarD, Program 3agister 'ains, /niversitas Na&ah 3ada, Bogyakarta 2 1. 3udrad&at *uncoro, CDesentralisasi @iskal di Indonesia 6 Dilema 8tonomi dan *etergantunganD, P9I'3-, nomor ", 1((0, .akarta. 3udrad&at *uncoro, 1((), C$konomi Pembangunan 6 5eori, 3asalah dan *ebi&akan, /PP -3P B*P%, Bogyakarta. 3usgrave 9.- and 3usgrave P.+, 1((2, *euangan %egara Dalam 5eori dan Praktek, $disi kelima, Penerbit $rlangga, .akarta. %ota Perhitungan -P+D Provinsi *alimantan 5engah 5ahun -nggaran 1((: s4d 2 0. Pemerintah Propinsi *alimantan 5engah, C9$P$5-D*-=I3-%5-% 5$%N-H 5-H/% 2 2D. P98PI%'I

(1

9adianto, C8tonomi *euangan Daerah 5ingkat II 6 'uatu 'tudi di 3alukuD, P9I'3- nomor 2, 1((). 9epublik Indonesia, /ndang!/ndang%omor 22 5ahun 1((( tentang Pemerintah Daerah. ................... , /ndang!/ndang %omor 20 5ahun 1((( tentang Perimbangan *euangan -ntara Pemerintah Pusat dan Daerah. ................... , /ndang!/ndang %omor 2" 5ahun 2 tentang Perubahan -tas /ndang! /ndang %omor 1: 5ahun 1(() tentang Pa&ak Daerah dan 9etribusi Daerah. ..................,Peraturan Pemerintah %omor :" 5ahun 2 1 tentang Perubahan -tas Peraturan Pemerintah %omor 1 " 5ahun 2 tentang Dana Perimbangan. 9ichard, =.H.5umilar, 1((), C8tonomi *euangan dan $konomi Dati II di Propinsi 'ula,esi /taraD, 5hesis. Program Pasca 'ar&ana /niversitas Na&ah 3ada, Bogyakarta. 9ita $ngleni, CPentingnya Penyusunan 9encana Penerimaan P-D .angka 3enengah Dalam 3enun&ang -kuntansi 3ena&emen Pada Dinas Pendapatan Daerah *ota PadangD, +unga 9ampai 3ana&emen *euangan Daerah, $disi Pertama, /PP -3P B*P% Bogyakarta, 2 1. 'adono 'ukirno, 1((", Pengantar 5eori 3akroekonomi, $disi *edua, P5 9a&aNrafindo Persada, .akarta. 'adono 'ukirno, 1(((, 3akroekonomi 3odern 6 Perkembangan Pemikiran Dari *lasik Hingga *eynesian +aru, P5. 9a&a Nrafindo Persada, .akarta. 'uahasil %a?ara, C'truktur Penerimaan Daerah 5ingkat Propinsi di IndonesiaD, P9I'3-, 2 3aret 1((). 'ugiyanto, C*emandirian dan 8tonomi DaerahD, 3edia $konomi dan +isnis, Gol. AII, %o. 1 .uni 2 . 'uparmoko, 2 2, C$konomi Publik 6 /ntuk *euangan H Pembangunan DaerahD, Penerbit -ndi Bogyakarta. 'uparmoko, 1((", *euangan %egara 6 Dalan 5eori dan Praktek, +P@$ Bogyakarta. 'usiyati +. Hira,an, 1(:), CPerspektif Daerah Dalam Pembangunan %asional 6 *euangan Daerah di IndonesiaD, +adan 8tonom $conomica beker&a sama dengan =P@$!/I .akarta.

(2

ANALI,I, PEN+EL1LAAN !EUAN+AN DAERAH TERHADAP !E"ANDIRIAN DAERAH

TE,I, Unt k memen hi sebagian pers3aratan "en5apai dera/at ,ar/ana ,>$

Dis s n 1leh "ARBANT1 BUADT1DIN+:,E BBE $1$ %11

PR1+RA" PA,-A ,AR#ANA UNI2ER,ITA, PALAN+!A RA7A $%1.

(2

TE,I, ANALI,I, PEN+EL1LAAN !EUAN+AN DAERAH TERHADAP !E"ANDIRIAN DAERAH


Program 'tudi 3agister Ilmu $konomi

1leh E "ARBANT1 BUA T1DIN+ NI" E BBE $1$ %11

Telah diset / i 1leh

Pembimbing Utama Pembimbing Pendamping

("

ANALI,I, PEN+EL1LAAN !EUAN+AN DAERAH TERHADAP !E"ANDIRIAN DAERAH

1leh E "ARBANT1 BUADT1DIN+ NI" E BBE $1$ %11

5elah dipertahankan di depan de,an pengu&i Pada tanggal Dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima

'usunan de,an pengu&i Pembimbing /tama Pembimbing Pendamping

-nggota pengu&i

5elah dinyatakan lulus program studi 3agister Ilmu $konomi Dan 'tudi Pembangunan Pada tanggal !et a Program ,t di

Dr. HARIN TIAB1N:,E:"P

(0

PERN7ATAAN Dengan ini saya menyatakan bah,a tesis ini adalah hasil peker&aan saya sendiri dan disalamnya tidak terdapat karya yang pernah dia&ukan untuk

memperoleh gelar kesar&anaan di suatu perguruan tinggi dan lembaga pendidikan lainnya. Pengetahuan yang diperoleh dari hasil penerbitan maupun yang belum4tidak diterbitkan, sumbernya di&elaskan di dalam tulisan dan daftar pustaka.

Palangkaraya, 2 12

3ar,anto +uaE5oding

(;

!ATA PEN+ANTAR

Pu&i syukur kehadirat 5uhan Bang 3aha $sa, yang telah melimpahkan rahmat!%ya kepada kami sehingga tugas penulisan tesis ini dapat terselesaikan. 3aksud dan tu&uan penulisan tesis ini dalam rangka memenuhi sebagian persyaratan pada Program 3agister Ilmu $konomi dan 'tudi Pembangunan /niversitas Palangka 9aya. Pada kesempatan ini penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan baik dukungan data, pemikiran dan pemahaman serta bimbingan, sehinga tulisan ini dapat tersusun, terutama kepada 6 1. +apak Prof.D9. @erdinan, 3', selaku Pengelola Program Pascasar&ana Prodi 3agister Ilmu $konomi /%P-9 2. Ibu Dr. Harin 5ia,on,'$,3P dan +apak Drs. 3udakir, 35 selaku pembimbing utama dan pembimbing pendamping dalam penyusunan tesis ini. 2. +apak dan ibu Dosen Program Pascasar&ana @akultas $konomi yang telah

memberikan Ilmu pengetahuan kepada penulis selama menuntut ilmu di /niversitas Palangkara 9aya. ". +apak *epala +iro *euangan 'ekretariat Daerah Provinsi *alimantan 5engah. 0. +apak *epala +adan *epega,aian Provinsi *alimantan 5engah. ;. +apak *epala +iro 8rganisasi dan *epega,aian 'ekretariat Daerah Provinsi *alimantan 5engah.

()

). +apak *epala +agian -kuntansi pada +iro *euangan 'ekretariat Daerah Provinsi *alimantan 5engah. :. +apak *epala Dinas Pendapatan Daerah Provinsi *alimantan 5engah. (. +apak *epala +idang Pa&ak dan 9etribusi Daerah pada Dinas Pendapatan Daerah Provinsi *alimantan 5engah 5engah. 1 . +apak *epala +adan Pusat 'tatistik *alimantan 5engah. 11. Ibunda tercinta yang senantiasa memberikan restu sehingga tesis ini dapat terselesaikan. 12. Istri tercinta yang telah memberikan dorongan dan semangat dalam penulisan tesis ini. 12. 9ekan!rekan yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu dalam penulisan tesis ini. Penulis menyadari bah,a dalam penulisan tesis ini masih terdapat kekurangan!kekurangan, meskipun sudah diupayakan semaksimal mungkin mengingat keterbatasan penulis dalam menyelesaikan tesis ini. 'ehubungan dengan hal tersebut, segala kritik dan saran terhadap tulisan ini dengan senang hati diterima demi penyempurnaan penulisan dikemudian hari.

(:

AB,TRA!,I Pembangunan $konomi adalah merupakan salah satu upaya dalam rangka mendukung pelaksanaan salah satu prioritas yang tercantum dalam Prioritas Pembangunan %asional, yaitu mempercepat pemulihan ekonomi dan memperkuat landasan pembangunan ekonomi berkelan&utan dan berkeadilan berdasarkan sistem kerakyatan. Penetapan prioritas tersebut mendasarkan pada masalah dan tantangan yang dihadapi serta arah kebi&akan dalam pembangunan ekonomi, baik pembangunan &angka pendek maupun &angka menengah (Propenas 2 2!2 "#. Penelitian ini bertu&uan pertama untuk menganalisis besarnya tingkat ketergantungan fiskal antara Provinsi *alimantan 5engah dengan Pemerintah Pusat dilihat dari dera&at desentralisasi fiskal daerah. *edua menganalisis pengaruh pa&ak kendaraan bermotor terhadap pendapatan asli daerah yang merupakan potensi daerah dalam rangka pengembangan kemandirinan fiskal daerah. Penelitian ini menggunakan data sekunder (time series# dari tahun 2 1 s4d 2 :. Data ini dianalisis menggunakan metode regresi linier. +erdasarkan perhitungan diketahui bah,a hasil output regresi variabel transfer ( A1 # menun&ukkan t hitung sebesar2,;0(, variabel &umlah kendaraan roda " atau lebih ( A2 # menun&ukkan t hitung sebesar 2,0(0, variabel &umlah kendaraan roda 2 ( A2 # menun&ukkan t hitung sebesar ",1" dan variabel investasi daerah ( A"# menun&ukkan t hitung sebesar ",0(0 dengan angka signifikansi lebih kecil , 0 maka dapat disimpulkan bah,a variabel bebas secara parsial dan signifikan berpengaruh terhadap variabel pendapatan asli daerah Provinsi .a,a 5engah. %ilai @ hitung sebesar 22,";: (22,";: O (,12# dengan angka signifikansi sebesar , ( , T , 0# sehingga dapat disimpulkan bah,a keempat variabel independen yaitu transfer, &umlah kendaraan roda " atau lebih, &umlah kendaraan roda 2 dan investasi daerah secara bersama I sama berpengaruh terhadap pendapatan asli daerah Provinsi *alimantan 5engah pendapatan asli daerah Provinsi *alimantan 5engah dapat di&elaskan oleh variasi dari keempat variabel Independent yaitu transfer, &umlah kendaraan roda " atau lebih, &umlah kendaraan roda 2 dan investasi daerah sebesar (;,( persen

((

AB,TRA-T $conomic Development is represent by the effort for the agenda of supporting eKecution the priority ,hich ,ritten in Priority %ational Development, that is Juickening cure of economics and strengthen the basis of continnous and fair economics development and ,ith pursuant to nationality system. 'tipulating of the priority base on challenge and problem faced and also policy instructing in short them development of economics as ,ell as middle term (Propenas 2 2! 2 "#. 5his research aim are to analyse the level of depended fiscal bet,een =ocal Novernment >entral +orneo Province# ,ith >entral Novernment seen from degree of fiscal decentrali?ation and analysing influence of motor vehicle to,ard =ocal Novernment 8riginal 9eceipt that represent the local potency in local fiscal enhancement. 5his research use secondary data (series times# of year 1((: to 2 0. 5his data is analysed using linear regresi method. -ccording to calculation kno,n that the output of regression variable transfer ( A1 # sho,ing t count eJual to 2,;0(, variable of amount of four ,heel vehicles or more (A2 # sho,ing t count eJual to 2,0(0, variable of amount of t,o ,heel vehicles ( A2 # sho,ing t count eJual to ",1" and variable of 9egionnal Investment ( A"# sho,ing t count eJual to ",0(0 ,ith significan number smaller than , 0 hence can be concluded that free variable by parsial and isnRt it have an effect on to variable earnings of area genuiness of Provinsi >entral .ava. @ Galue count eJual to 2",";: ( 2",";: O (,12# ,ith number of signifikansi eJual to , ( , T , 0 # so that can be concluded that independent variable doesnEt have an effect on =ocal Novernment 8riginal 9eceipt variable partially and thoroughly. @ Galue cunt eJual to 2",";: (2",";:O(,12# ,ith number of significanci eJual to , ( , T , 0# so that can be concluded that all independent variable that is transfer, amount of four ,heel vehicles or more, t,o vehoicles and regional investment having an effect on =ocal Novernment 8riginal 9eceipt of central &ava. =ocal Novernment 8riginal 9eceipt of >entral +orneo can be aKplained by variation from fourth independent variable that is transfer, amount of four ,heel vehicles or more, t,o ,heel v,hicles and 9egional Investment eJual to (;,( <.

DA@TAR I,I H-=-3-% ./D/=........................................................................................ H-=-3-% P$%N$'-H-%.......................................................................... -+'59-*'I.................................................................................................... *-5- P$%N-%5-9...................................................................................... D-@5-9 5-+$=............................................................................................ D-@5-9 N-3+-9........................................................................................ D-@5-9 =-3PI9-%.................................................................................... +-+ I P$%D-H/=/-%............................................................................... ............................................................................................................. 1 1.1 =atar +elakang.................................................................................... 1.2 9umusan 3asalah............................................................................... 1.2 5u&uan dan 3anfaat Penelitian........................................................... +-+ II 5I%.-/-% P/'5-*-...................................................................... ............................................................................................................. 2.1 =andasan 5eori ................................................................................... 2.2 Penelitian 5erdahulu........................................................................... 2.2 *erangka Pemikiran............................................................................02 2." Hipotesis.............................................................................................. i ii iii iv iK K Ki

1 : ( 1 1 ") 0"

+-+ III3$58D$ P$%$=I5I-%.................................................................... ............................................................................................................. 00 2.1 Definisi 8perasional .................................................................................. 00 2.2 'umber Data...............................................................................................0) 2.2 3etode Pengumpulan Data.........................................................................0: 2." 3etode -nalisis Data.................................................................................0: +-+ IGN-3+-9-% /3/3 8+B$* P$%$=I5I-%................................ ".1 *eadaan -P+D................................................................................... ".2 PD9+ *alimantan 5engah.................................................................. +-+ G H-'I= D-5- D-% P$3+-H-'-%............................................... ............................................................................................................. 0.1 Deskripsi 8b&ek Penelitian)" 0.2 Pengu&ian Hipotesis.................................................................................... 0.2 Pengu&ian 'imultan..................................................................................... 0." *oefisien Diterminasi................................................................................. 0.0 -nalisis 9egresi +erganda.......................................................................... 0.; Pembahasan................................................................................................ +-+ G P$%/5/P........................................................................................... ;0 ;0 )2 )" ); )( : :1 :2

1 1

............................................................................................................. :; ;.1 *esimpulan................................................................................................. :; ;.2 'aran...........................................................................................................:: ;.2 *eterbatasan Penelitian..............................................................................:( Daftar Pustaka =ampiran!lampiran

1 2

D-@5-9 =-3PI9-% =ampiran 1 Data 3entah =ampiran 2 -nalisa 9egresi =ampiran 2 >hart

1 2

D-@5-9 5-+$= 5abel 1.1 5abel 2.1 5abel 2.2 5abel 2.2 5abel 2." 5abel 2.2 5abel ".1 5abel ".2 5abel ".2 5abel "." 5abel ".0 5abel ".; 5abel 0.1 5abel 0.2 5abel 0.2 5abel 0." 9ealisasi Penerimaan -P+D ; 11 1(

Daftar Pendapatan dan +elan&a Daerah Perbandinngan -nggaran 5radisional

Daftar .umlah *endaraan +ermotor Di *alimantan 5engah "1 Daftar Pertumbuhan "2 Daftar 5ransfer Pemerintah Pusat "; Pertumbuhan -P+D *ontribusi P-D ;: ;( ;)

*ontribusi 5ranfer Pemerintah *ontribusi P*+ )) )2

*ontribusi Penyertaan 3odal PD9+ Potensi P-D Hasil $stimasi )2 )0 );

*oefisien Diterminasi : Hasil 9egresi :1

1 "

D-@5-9 N-3+-9

Nambar 2.1 *erangka Pemikiran 5eoritis

0"