Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

CARCINOMA CERVIX

Disusun oleh: Nazwar Alwi, S.Kep NIM: 4006130026

PROGRAM PROFESI NERS SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN DHARMA HUSADA BANDUNG 2013/2014

LAPORAN PENDAHULUAN CARCINOMA CERVIKS

A. Pengertian Kanker serviks adalah tumor ganas yang tumbuh didalam leher rahim atau serviks yang terdapat pada bagian terendah dari rahim yang menempel pada puncak vagina (Diananda, Rama, 2009). Kanker serviks adalah Kanker yang terjadi pada serviks uteri, dan merupakan karsinoma ginekologi yang terbanyak diderita oleh Wanita. Kanker Leher Rahim ( Kanker Serviks ) adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim / serviks ( bagian terendah dari rahim yang menempel pada puncak vagina ). Kanker serviks biasanya menyerang wanita berusia 35-55 tahun.

90% dari kanker serviks berasal dari sel skuamosa yang melapisi serviks dan 10% sisanya berasal dari sel kelenjar penghasil lendir pada saluran servikal yang menuju ke dalam rahim (Sarjadi, 2001). Kanker leher rahim adalah kanker yang terjadi pada servik uterus, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dengan liang senggama (vagina). Kanker ini biasanya terjadi pada wanita yang telah berumur, tetapi bukti statistik menunjukan bahwa kanker leher rahim dapat juga menyerang wanita yang berumur antara 20 sampai 30 tahun.

B. Etiologi Kanker serviks terjadi jika sel-sel serviks menjadi abnormal dan membelah secara tak terkendali. Jika sel serviks terus membelah maka akan terbentuk suatu massa jaringan yang disebut tumor yang bisa bersifat jinak atau ganas. Jika tumor tersebut ganas, maka keadaannya disebut kanker serviks. Penyebab terjadinya kelainan pada sel-sel serviks tidak diketahui secara pasti, tetapi terdapat beberapa faktor resiko yang berpengaruh terhadap terjadinya kanker serviks: 1. HPV (human papillomavirus) HPV adalah virus penyebab kutil genitalis (kondiloma akuminata) yang ditularkan melalui hubungan seksual. Varian yang sangat berbahaya adalah HPV tipe 16, 18, 45 dan 56. 2. Merokok Tembakau merusak sistem kekebalan dan mempengaruhi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi HPV pada serviks.

3. Hubungan seksual pertama dilakukan pada usia dini 4. Berganti-ganti pasangan seksual 5. Suami/pasangan seksualnya melakukan hubungan seksual pertama pada usia di bawah 18 tahun, berganti-ganti pasangan dan pernah menikah dengan wanita yang menderita kanker serviks 6. Pemakaian DES (dietilstilbestrol) pada wanita hamil untuk mencegah keguguran (banyak digunakan pada tahun 1940-1970) 7. Gangguan sistem kekebalan 8. Pemakaian pil KB 9. Infeksi herpes genitalis atau infeksi klamidia menahun 10. Golongan ekonomi lemah (karena tidak mampu melakukan Pap smear secara rutin)

C. WOC Faktor risiko Virus HPV Virus Herpes Genetalia

Ca Cervix

Psikologis Penekanan Kurang Pengetahuan Vesika Sel saraf Urinaria Cemas Nyeri Hidroureter hidronefrosis

Infeksi Pengobatan Keputihan berlebihan

Perdarahan Pervaginam

Eksternal radiasi

Hipovolemia

Kulit

Depresi Mulut

Merah sumsum stomalitis Perdarahan pada saat Kering tulang Penurunan Hb turun nafsu makan Resti syok hipovolemik

Statis urin

coitus

Gangguan pola seksual Resti kerusakan integritas kulit

Anemia

Kelemahan, keletihan

Ketidakseimbang an nutrisi: kurang dari kenutuhan tubuh

Risiko injury

Risiko penyebaran infeksi

D. Patofisiologi Dari beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya kanker sehingga menimbulkan gejala atau semacam keluhan dan kemudian sel - sel yang mengalami mutasi dapat berkembang menjadi sel displasia. Apabila sel karsinoma telah mendesak pada jaringan syaraf akan timbul masalah keperawatan nyeri. Pada stadium tertentu sel karsinoma dapat mengganggu kerja sistem urinaria menyebabkan hidroureter atau hidronefrosis yang menimbulkan masalah keperawatan resiko penyebaran infeksi. Keputihan yang berkelebihan dan berbau busuk biasanya menjadi keluhan juga, karena mengganggu pola seksual pasien dan dapat diambil masalah keperawatan gangguan pola seksual. Gejala dari kanker serviks stadium lanjut diantaranya anemia hipovolemik yang menyebabkan kelemahan dan kelelahan sehingga timbul masalah keperawatan gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. Pada pengobatan kanker leher rahim sendiri akan mengalami beberapa efek samping antara lain mual, muntah, sulit menelan, bagi saluran pencernaan terjadi diare gastritis, sulit membuka mulut, sariawan, penurunan nafsu makan (biasa terdapat pada terapi eksternal radiasi). Efek samping tersebut menimbulkan masalah keperawatan yaitu nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. Sedangkan efek dari radiasi bagi kulit yaitu menyebabkan kulit merah dan kering sehingga akan timbul masalah keperawatan resiko tinggi kerusakan integritas kulit. Semua tadi akan berdampak buruk bagi tubuh yang menyebabkan kelemahan atau kelemahan sehingga daya tahan tubuh berkurang dan resiko injury pun akan muncul. Tidak sedikit pula pasien dengan diagnosa positif kanker leher rahim ini merasa cemas akan penyakit yang dideritanya. Kecemasan tersebut bisa dikarenakan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit, ancaman status kesehatan dan mitos dimasyarakat bahwa kanker tidak dapat diobati dan selalu dihubungkan dengan kematian. (Price, syivia Anderson, 2005)

E. Manifestasi Klinis Perubahan prekanker pada serviks biasanya tidak menimbulkan gejala dan perubahan ini tidak terdeteksi kecuali jika wanita tersebut menjalani pemeriksaan panggul dan Pap smear. Gejala biasanya baru muncul ketika sel serviks yang abnormal berubah menjadi keganasan dan menyusup ke jaringan di sekitarnya. Pada saat ini akan timbul gejala berikut: 1. Perdarahan vagina yang abnormal, terutama diantara 2 menstruasi, setelah melakukan hubungan seksual dan setelah menopause 2. Menstruasi abnormal (lebih lama dan lebih banyak)

3. Keputihan yang menetap, dengan cairan yang encer, berwarna pink, coklat, mengandung darah atau hitam serta berbau busuk. Gejala dari kanker serviks stadium lanjut: 1. Nafsu makan berkurang, penurunan berat badan, kelelahan 2. Nyeri panggul, punggung atau tungkai 3. Dari vagina keluar air kemih atau tinja 4. Patah tulang (fraktur).

F. Klasifikasi Klasifikasi menurut FIGO 1978 : Tingkat 0: I: Ia: Kriteria Karsinoma in situ atau karsinoma intraepitel Proses terbatas pada serviks (perluasan ke korpus uteri tidak dinilai) Karsinoma serviks preklinis hanya dapat diagnosis secara mikroskopis, lesi tidak lebih dari 3mm atau secara mikroskopik kedalamannya >3-5 mm dari epitel basal dan memanjang tidak lebih boleh dari 7 mm Ib: II: Lesi invasif > 5,, dibagi atas lesi < 4 cm dan > 4cm Proses keganasan telah keluar dari serviuks dan menjalar ke 2/3 bagian atas vagina dan atau ke parametrium tetapi tidak sampai dinding panggul IIa: IIb: III: IIIa: IIIb: Penyebaran hanya ke vagina , parametrium masih bebas dari infiltrate tumor Penyebaran ke parametrium,uni atau bilateral tetapi belum sampai dinding panggul Penyebaran sampai 1/3 distal vagina atau keparametriumsampai dinding panggul Penyebaran sampai 1/3 distal vagina namun tidak sampai ke dinding panggul Penyebaran sampai dinding panggul tidak ditemukan daerah bebas infiltrasi antara tumor dengan dinding panggul atau proses pada tingkat I atau II tetapi sudah ada gangguan faal ginjal /hidronefrosis IV: Proses keganasan telah keluar dari panggul kecil dan melibatkan mukosa rectum dan atau vesika urinaria ( dibuktikan secara histology) atau telah bermetastasis keluar panggul atau ketempat yang jauh IVa: IVb: Telah bermetastasis ke organ sekitar Telah bermetastasis jauh

G. Pemeriksaan penujang Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan berikut: a. Pap smear Pap smear dapat mendeteksi sampai 90% kasus kanker serviks secara akurat dan dengan biaya yang tidak terlalu mahal. Akibatnya angka kematian akibat kanker servikspun menurun sampai lebih dari 50%. Setiap wanita yang telah aktif secara seksual atau usianya telah mencapai 18 tahun, sebaiknya menjalani Pap smear secara teratur yaitu 1 kali/tahun. Jika selama 3 kali berturut-turut menunjukkan hasil yang normal, Pap smear bisa dilakukan 1 kali/2-3tahun. Hasil pemeriksaan Pap smear menunjukkan stadium dari kanker serviks: 1. Normal 2. Displasia ringan (perubahan dini yang belum bersifat ganas) 3. Displasia berat (perubahan lanjut yang belum bersifat ganas) 4. Karsinoma in situ (kanker yang terbatas pada lapisan serviks paling luar) 5. Kanker invasif (kanker telah menyebar ke lapisan serviks yang lebih dalam atau ke organ tubuh lainnya). b. Biopsi Biopsi dilakukan jika pada pemeriksaan panggul tampak suatu pertumbuhan atau luka pada serviks, atau jika Pap smear menunjukkan suatu abnormalitas atau kanker. c. Kolposkopi (pemeriksaan serviks dengan lensa pembesar) d. Tes Schiller Serviks diolesi dengan lauran yodium, sel yang sehat warnanya akan berubah menjadi coklat, sedangkan sel yang abnormal warnanya menjadi putih atau kuning. e. Untuk membantu menentukan stadium kanker, dilakukan beberapa pemeriksan berikut: 1. Sistoskopi 2. Rontgen dada 3. Urografi intravena 4. Sigmoidoskopi 5. Skening tulang dan hati 6. Barium enema. 7. Servikografi 8. Gineskopi

9. Pap net ( pemeriksaan terkompuerisasi dengan hasil lebih sensitif )

H. Penatalaksanaan Tingkat 0 Ia Ib,IIa Penatalaksanaan : Biopsi kerucut, Histerektomi transvaginal : Biopsi kerucut, Histerektomi transvaginal : Histerektomi radikal dengan limfadenektomi panggul dan evaluasi kelenjar limfe paraaorta (bila terdapat metastasis dilakukan radioterapi pasca pembedahan) IIb,III,IV IVa, IVb : Histerektomi transvaginal : Radioterapi,Radiasi paliatif,Kemoterapi

I.

Prognosis Karsinoma serviks yang tidak diobati atau tidak memberikan respons terhadap pengobatan 95% akan mengalami kematian dalam dua tahun setelah timbul gejala. Pasien yang mengalami histerektomi dan memiliki risiko tinggi terjadinya rekurensi harus terus diawasi karena lewat deteksi dini dapat diobati dengan radioterapi.Setelah histerektomi radikal terjadi 80% rekurensi dalam dua tahun.

J.

Pengkajian Fokus Usia saat pertama kali melakukan hubungan seksual Salah satu faktor yang menyebabkan kanker serviks ini adalah menikah dibawah umur 18 tahun. 1. Perilaku seks berganti - ganti pasangan Dengan perilaku tersebut kemungkinan virus penyebab terjadinya kanker serviks dapat ditularkan dengan mudah. 2. Sosial Ekonomi Sosial ekonomi rendah dikaitkan erat karena tidak dapat melakukan pap smear secara rutin dan pola hubungan seksual yang tidak sehat. 3. Tingkat pengetahuan Tingkat pengetahuan yang rendah dapat juga dihubungkan dengan kurangnya pemahaman mengenai pencegahan dan penaganan kanker seviks. 4. Aspek mental: harga diri, identitas diri, gambaran diri, konsep diri, peran diri, emosional. 5. Perineum; keputihan, bau, kebersihan

Keputihan yang gatal dan berbau adalah tanda dari kanker leher rahim yang mulai mengalami metastase. 6. Nyeri ( daerah panggul atau tungkai ) Nyeri bisa diakibatkan oleh karena sel kanker yang sudah mendesak dan abnormalitas pada organ - organ daerah panggul. 7. Perasaan berat daerah perut bagian bawah Sel - sel kanker yang mendesak mengakibatkan gangguan pada syaraf - syaraf disekitar panggul dan perut, sehingga menimbulkan perasaan berat pada daerah tersebut. 8. Gaya hidup Gaya hidup yang tidak sehat, seperti makan - makanan cepat saji dapat memicu sel kanker untuk tumbuh dengan cepat, pada orang orang dengan gemar berganti - ganti pasangan dengan mengesampingkan efek negatifnya kemungkinan besar dapat timbul gejala - gejala tersebut sehingga mengarah pada terjadinya kanker leher rahim. 9. Siklus Menstruasi Siklus menstruasi yang tidak teratur atau terjadi perdarahan diantara siklus haid adalah salah satu tanda gejala kanker leher rahim. 10. Riwayat Keluarga Seorang ibu yang mempunyai riwayat ca serviks. ( Doengoes, 2005 )

K. Diagnosa Keperawatan yang bisa muncul : 1. Nyeri berhubungan dengan penekanan sel kanker pada saraf dan kematian sel 2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan nafsu makan dan mual muntah karena proses eksternal radiasi 3. Risiko penyebaran infeksi berhubungan dengan pengeluaran pervaginam (darah, keputihan) 4. Gangguan perfusi jaringan (anemia) berhubungan dengan perdarahn intraservikal 5. Cemas berhubungan dengan terdiagnose Ca serviks sekunder akibat kurangnya pengetahuan tentang Ca. Serviks dan pengobatannya. 6. Risiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan efek pengobatan 7. Risiko injury berhubungan dengan kelemahan dan kelelahan 8. Gangguan pola seksual berhubungan dengan metaplasia penyakit 9. Risiko tinggi syok hipovolemik berhubunan dengan perdarahan pervaginam

L. Intervensi 1. Nyeri berhubungan dengan penekanan sel kanker pada syaraf dan kematian sel. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama nyeri hilang atau berkurang. Kriteria : a. Pasien mengatakan nyeri hilang atau berkurang dengan skala nyeri 0 - 3. b. Ekspresi wajah rileks. c. Tanda - tanda vital dalam batas normal. Intervensi : a. Kaji riwayat nyeri, lokasi, frekuensi, durasi, intensitas, dan skala nyeri. b. Berikan tindakan kenyamanan dasar: relaksasi, distraksi, imajinasi, message. c. Awasi dan pantau TTV d. Berikan posisi yang nyaman. e. Kolaborasi pemberian analgetik. Rasional : a. Mengetahui tingkat nyeri pasien dan menentukan tindakan yang akan dilakukan selanjutnya. b. Mengurangi rasa nyeri. c. Mengetahui tanda kegawatan. d. Memberikan rasa nyaman dan membantu mengurangi nyeri. e. Mengontrol nyeri maksimum

2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah karena proses eksternal Radiologi. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan status nutrisi dipertahankan untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Kriteria hasil : a. Pasien menghabiskan makanan yang telah diberikan oleh petugas. b. Konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik c. Berat badan klein normal. d. Hasil hemoglobin dalam batas normal.

Intervensi : a. Kaji status nutrisi pasien b. Ukur berat badan setiap hari atau sesuai indikasi. c. Dorong Pasien untuk makan - makanan tinggi kalori, kaya protein dan tetap sesuai diit ( Rendah Garam ). d. Pantau masukan makanan setiap hari. e. Anjurkan pasien makan sedikit tapi sering. Rasional : a. Untuk mengetahui status nutrisi b. Memantau peningkatan BB. c. Kebutuhan jaringan metabolik adequat oleh nutrisi. d. Identifikasi defisiensi nutrisi. e. Agar nutrisi terpenuhi

3. Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan pengeluaran pervaginam (darah, keputihan). Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan jam pasien tidak terjadi penyebaran infeksi dan dapat menjaga diri dari infeksi. Kriteria hasil : a. Tidak ada tanda - tanda infeksi pada area sekitar serviks b. Tanda - tanda vital dalam batas normal. c. Tidak terjadi nasokomial hilang, baik dari perawat ke pasien, pasien keluarga, pasien ke pasien lain dan klien ke pengunjung. d. Tidak timbul tanda - tanda infeksi karena lingkungan yang buruk e. Hasil hemoglobin dalam batas normal, dilihat dari leukosit. Intervensi : a. Kaji adanya infeksi disekitar area serviks b. Tekankan pada pentingnya personal hygiene. c. Pantau tanda - tanda vital terutama suhu. d. Berikan perawatan dengan prinsip aseptik dan antisepik. e. Tempatkan klien pada lingkungan yang terhindar dari infeksi. f. Koloborasi pemeberian antibiotik. Rasional : a. Mengurangi terjadinya infeksi. b. Agar tidak terjadi penyebaran infeksi.

c. Mencegah terjadinya infeksi. d. Membantu mempercepat penyembuhan. e. Mencegah terjadinya infeksi.

4. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang prosedur pengobatan. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan kecemasan hilang atau berkurang. Kriterial hasil : a. Pasien mengatakan perasaan cemasnya hilang atau berkurang. b. Terciptanya lingkungan yang aman dan nyaman bagi pasien. c. Pasien tampak rileks, tampak senang karena mendapat perhatian. d. Keluarga atau orang terdekat dapat mengenai dan mengklarifikasi rasa takut. e. Pasien mendapat informasi yang akurat, serta prognosis dan pengobatan dan klien mendapat dukungan dari terdekat. Intervensi : a. Dorong pasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya. b. Beri lingkungan terbuka dimana pasien merasa aman untuk mendiskusikan perasaan atau menolak untuk bicara. c. Pertahankan bentuk sering bicara dengan pasien, bicara dengan menyentuh klien. d. Bantu pasien atau orang terdekat dalam mengenali dan mengklarifikasi rasa takut.Beri informasi akurat, konsisten mengenai prognosis, pengobatan serta dukungan orang terdekat. Rasional : a. Memberikan kesempatan untuk mengungkapkan ketakutannya. b. Membantu mengurangi kecemasan. c. Meningkatkan kepercayaan klien. d. Meningkatkan kemampuan kontrol cemas. e. Mengurangi kecemasan.

5. Resiko tinggi kerusakan intergritas kulit berhubungan dengan efek dari prosedur pengobatan. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi kerusakan intergritas kulit. Kriteria hasil : a. Pasien atau keluarga dapat mempertahankan keberhasilan pengobatan tanpa mengiritasi kulit b. Pasien dan keluarga dapat mencegah terjadi infeksi atau trauma kulit.

c. Pasien keluarga beserta TIM medis dapat meminimalkan trauma pada area terapi radiasi. d. Pasien, keluarga beserta tim medis dapat menghindari dan mencegah cedera dermal karena kulit sangat sensitif selama pengobatan dan setelahnya. Intervensi : a. Mandikan dengan air hangat dan sabun ringan. b. Dorong pasien untuk menghindari menggaruk dan menepuk kulit yang kering dari pada menggaruk. c. Tinjau protokol perawatan kulit untuk pasien yang mendapat terapi radiasi. d. Anjurkan memakai pakaian yang lembut dan longgar pada, biarkan pasien menghindari penggunaan bra bila ini memberi tekanan. Rasional : a. Mempertahankan kebersihan kulit tanpa mengiritasi kulit. b. Membantu menghindari trauma kulit. c. Efek kemerahan dapat terjadi pada terapi radiasi. d. Meningkatkan sirkulasi dan mencegah tekanan pada kulit

6. Resiko injuri berhubungan dengan kelemahan dan kelelehan. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi cedera atau injuri. Kriteria hasil : a. Pasien dapat meningkatkan keamanan ambulasi. b. Pasien mampu menjaga keseimbangan tubuh ketika akan melakukan aktifitas. c. Pasien mampu meningkatkan posisi fungsional pada ektremitas. Intervensi : a. Intruksikan dan bantu dalam mobilitas secara tepat b. Anjurkan untuk berpegangan tangan atau minta bantuan pada keluarga dalam melakukan suatu kegiatan. c. Pertahankan posisi tubuh tepat dengan dukungan alat bantuan. Rasional : a. Membantu mengurangi kelelahan. b. Membantu pasien untuk melakukan kegiatan. c. Membantu mempercepat penyembuhan

7. Gangguan pola seksual berhubungan dengan metaplasia penyakit. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama pasien mampu mempertahankan aktifitas seksual pada tingkat yang diinginkan bila mungkin. Kriteria hasil : a. Pasien mampu memahami tentang arti seksualitas, seksualitas dapat diungkapkan dengan bentuk perhatian yang diberikan seseorang. Intervensi : a. Kaji masalah- masalah perkembangan daya hidup. b. Catat pemikiran pasien/ orang- orang yang berpengaruh bagi pasien mengenai seksualitas\ c. Evaluasi faktor- faktor budaya dan religius/ nilai dan konflik- konflik yang muculberikan suasana yang terbuka dalam diskusi mengenai masalah seksualitas. d. Tingkatkan keleluasaan diri bagi pasien dan orang- orang yang penting bagi pasien. Rasional : a. Faktor- faktor seperti menoupose dan proses penuan remaja dan dewasa awal yang perlu masukan dalam pertimbangan mengenai seksualitas dalam penyakit yang perawatan yang lama. b. Untuk memberikan pandangan bahwa keterbatasan kondisi/lingkungan akan berpengaruh pada kemampuan seksual tetapi mereka takut untuk menanyakan secara lansung. c. Untuk mempengaruhi persepsi pasien terhadap masalah seksual yang muncul. d. Apabila masalah- masalah diidentifikasikan dan di diskusikan maka pemecahan masalah dapat ditemukan e. Perhatikan penerimaan akan kebutuhan keintiman dan tingkatkan makna terhadap pola interaksi yang telah dibina

DAFTAR PUSTAKA

Abdul bari saifuddin,, 2001 , Buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal dan neonatal, penerbit yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo, Jakarta Anonimous. Carcinoma Cervix. Diunduh pada tanggal 16 Desember 2013 http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/135/jtptunimus-gdl-desypuspit-6714-2-babii.pdf Marlyn Doenges,dkk, 2001,Rencana perawatan Maternal/Bayi, EGC , Jakarta Hachermoore, 2001, Esensial obstetric dan ginekologi, hypokrates , jakarta Helen Varney,DKK, 2002, Buku Saku Bidan, cetakan I, EGC, Jakarta Lynda Jual Carpenito, 2001, Buku Saku Diagnosa keperawatan edisi 8,EGC,Jakarta. melalui