Anda di halaman 1dari 8

DISTRIBUSI SPATIAL SEISMOTEKTONIK DAN POTENSINYA SEBAGAI

PRECURSOR TINGKAT KEGEMPAAN DI WILAYAH SUMATERA

Supriyanto Rohadi1,2, Hendra Grandis2, Mezak A. Ratag3.


1
Balai Besar Meteorologi dan Geofisika Wilayah II Jakarta
2
Program Magister Sains Kebumian, Institut Teknologi Bandung
3
Puslitbang BMG

ABSTRAK

Distribusi spatial parameter seismotektonik dari relasi Gutenberg-Richter memegang peranan


penting terkait dengan mitigasi bencana gempabumi. Pada penelitian ini, analisis parameter
seismotektonik menggunakan data gempabumi dari katalog BMG dan National Earthquake
Information Center (NEIC), tahun 1973 - 2008, dengan batas 5,0° LS - 8° LU dan 92° BT -106°
BT, yaitu meliputi wilayah Sumatera-Andaman. Dari analisis menggunakan softaware analisis
ZMAP diperoleh variasi nilai-b berkisar antara 0.5 - 2.2, variasi nilai-a berkisar antara 4-12
sedangkan periode ulang gempabumi dengan magnitude 6,8 secara umum adalah berkisar
antara 5-23 tahun. Gempa-gempa besar pada kurun waktu 2004 - 2008 diindikasikan terjadi di
wilayah dengan parameter seisotektonikk yang relatif rendah.

PENDAHULUAN kali penurunan aktivitas terkait dengan


kenaikan dalam tiap unit magnitude.
Wilayah Sumatera-Andaman merupakan Penelitian variasi spatial nilai-b telah
salah satu wilayah aktif gempa di dunia. Dua dilakukan oleh beberapa peneliti di sejumlah
gempa besar terjadi, yaitu gempa Aceh, 26 daerah aktif gempa. Beberapa peneliti
Desember 2004, pukul 07;58;54 (waktu menyimpulkan bahwa nilai tersebut tidak
lokal) dengan kekuatan Mw = 9,0 dan Nias bervariasi secara sistematis pada berbagai
28 Maret 2005 dengan kekuatan Mw = 8,7. regim aktif gempa. Tetapi Schorlemmer et
Gempabumi yang terjadi di wilayh ini telah all. (2005) dan beberapa peneliti lain
menelan banyak korban jiwa dan harta menunjukkan bahwa nilai-b bervariasi
benda. Tingginya aktivitas kegempaan di secara signifikan di beberapa zona patahan
wilayah Sumatera dapat dilihat dari peta (misalnya Wesnousky, 1983; Schorlemmer
kegempaan (Gambar 1) dan plot kumulatif dan Wiemer, 2004) dan juga pada tempat
gempa (Gambar 3). dan jangka waktu tertentu (misalnya
Nuannin et al, 2005). Dari pengamatan
Berbagai cara yang berbeda-beda telah variasi ruang nilai-b, diketahui bahwa nilai-b
dilakukan untuk meneliti proses mencerminkan aktivitas stress lokal, dimana
gempabumi, hubungan frekuensi-magnitude cecara statistik perubahan nilai-b yang
(Frequency-Magnitude Disribution, FMD) signifikan telah teramati di beberapa regime
merupakan salah satu cara untuk menguji stress seperti zona subduksi lempeng dan
aktivitas kegempaan di suatu wilayah. FMD zona patahan.
dari gempabumi, pertama kali dikemukakan
oleh Ishimoto dan Iida (1939) dan Gutenber- Penelitian ini difokuskan pada penentuan
Ricther (1964), dimana merupakan parameter seismo-tektonik, periode ulang,
hubungan pangkat (power law). Secara dan potensinya sebagai precursor
global nilai-b mendekati 1, yang berarti 10 kegempaan terkait dengan usaha mitigasi
bencana gempabumi.

1
Gambar 1. Plot gempabumi dengan kedalaman sumber dangkal dan menengah
di wilayah Sumatera-Andaman, tahun 1973 - 2007, dari katalog BMG & NEIC.

METODOLOGI
TEKTONIK SETTING
Relasi Getenberg-Richter
Wilayah Sumatera merupakan bagian dari
busur kepulauan Sunda, yang terbentang Metode untuk mengetahui parameter
dari kepulauan Andaman-Nicobar hingga seismik dan tektonik suatu wilayah adalah
busur Banda (Timor). Busur Sunda dengan hubungan Gutenberg-Richter
merupakan busur kepulauan hasil dari atau magnitude-frequency relation
interaksi lempeng samudera (lempeng Indo- (MFR) yang dituliskan sebagai :
Australia bergerak ke utara dengan
kecepatan 7 cm pertahun) yang menunjam di log n( M ) = a − bM ...............
bawah lempeng benua (Lempeng Eurasia). (1)
Penunjaman lempeng terjadi di selatan busur
Sunda berupa palung (trench). Disamping dimana n(M) adalah jumlah
itu, penunjaman lempeng juga menghasilkan gempabumi dengan magnitude M
busur volkanik dan non-volkanik. Busur dan n(M) adalah jumlah kumulatif.
volkanik terdiri dari rangkaian gunung Nilai-a merupakan parameter
berapi yang menjadi tulang punggung pulau- seismik yang besarnya bergantung
pulau busur Sunda, sedangkan busur banyaknya even dan untuk wilayah
nonvolkanik merupakan rangkaian pulau- tertentu bergantung pada
pulau yang terletak di sisi samudera busur penentuan volume dan time
volkaniknya. Pada zona kovergensi ini window. Nilai-b merupakan
terdapat aktivitas tektonik dan vulkanisme parameter tektonik biasanya
akibat penunjaman lempeng, dimana mendekati 1 dan menunjukkan
kedalaman zona Benioff di bawah Sumatera jumlah relatif dari getaran yang
mencapai kedalaman sekitar 100 - 170 km. kecil dan yang besar. Nilai-b dapat
ditentukan dengan metode least
square atau maksimum likelihood.

2
Metode maksimum likelihood Magnitude Histogram
menggunakan persamaan yang 1000
diberikan Utsu (1965) yaitu 800

Number
log e 0.4343 600
b= = …......(2)
M − M min M − M min 400

200
dimana M adalah magnitude rata-rata dan
Mmin adalah magnitude minimum. Standar 0
deviasi menggunakan formula dari Shi dan -5 0 5 10
Magnitude
Bold (1982) sebagai berikut :
Gambar 2. Histogram magnitude vs jumlah
gempa, katalog BMG & NEIC (1973 -
∑(M − M ) / n( n − 1) ..
n
δb = 2.30b 2
2 2007).
i
i =1

(3) Pengolahan Data

dimana n adalah jumlah gempa Tahapan utama pengolahan data meliputi :


pada sampling perhitungan.
i. Seleksi data dan penyeragaman
DATA DAN PENGOLAHAN magnitude ke magnitude moment (Mw)
dan dekluster katalog.
Data ii. Plot distribusi frekuensi
magnitude untuk melihat kelengkapan
Data gempabumi dari katalog BMG dan data sehingga diketahui kelengkapan
NEIC wilayah Sumatera-Andaman, meliputi magnitude (Mc).
batas 6,5° LS - 8,0° LU dan 92° BT - 106° iii. Perhitungan nilai-b, nilai-a,
BT, kurun waktu Januari 1973 - Juni 2008. periode ulang menggunakan program
Katalog kegempaan Sumatera didominasi ZMAP (Wiemer, 2002).
gempabumi dengan magnitude sekitar 5
(Gambar 2). Data berjumlah 10140 gempa Perhitungan Nilai-b menggunakan metode
setetah dilakukan dekluster katalog maximum likelihood dan weighted least
jumlahnya menjadi 4185 gempa. square. Berdasarkan plot kumulatif
Dekluster katalog bertujuan untuk kegempaan (Gambar 3), selanjutnya periode
menghilangkan pengaruh kegempaannya dibagi menjadi dua, yaitu
afftershok sehingga diperoleh Januari 1973 - November 2004 sebagai
gempa yang independent. Selain periode observasi dan Januari 1973 - Juni
dekluster dilakukan juga konversi 2008 sebagai periode analisis. Pemetaan
magnitude menjadi magnitude spatial nilai-b, wilayah penelitian dibagi
moment (Mw), karena magnitude menjadi grid-grid dan parameter
ini tersaturasi pada skala yang seismotektonik dihitung untuk tiap titik grid
lebih tinggi dibandingkan tipe dalam radius konstan atau jumlah gempa
magnitude lain. konstan. Bila menggunakan metode ini,
radius tidak divariasikan terhadap densitas
gempa di wilayah tersebut. Dalam analisis
ini dipilih kriteria yaitu jumlah gempa N=80
atau radius konstan 110 km dan grid
pengolahan data 0.1° x 0.1°.

3
Gambar 3. Plot kumulatif gempabumi dan
gempa mgnitude lebih besar 6.8 (warna
kuning).
Gambar 4. Distribusi frekuensi-
HASIL DAN ANALISIS magnitude kegempaan di wilayah
Sumatera, slope dari kurva
Perhitungan dan pemetaan merupakan nilai-b dari relasi
parameter seismotektonik Gutenberg-Richter.
dilakukan dengan software ZMAP,
dengan memilih radius konstan, Analisis
jumlah gempa yaitu 80, dan Mc
yang digunakan. Selanjutnya nilai-b Plot kumulatif gempabumi dimana
dihitung menggunakan luasan menunjukkan adanya perubahan arah slope
lingkaran yang berpusat pada node sekitar tahun 2004 (Gambar 3), yang
(pusat grid). menunjukkan adanya peningkatan aktivitas
kegempaan setelah mulai tahun 2004
terutama setelah gempa Aceh (26 Desember
Distribusi Frekuensi-Magnitude
2004). Dari distribusi frekuensi magnitude
(Gambar 4) diketahui kelengkapan
Distrubusi frekuensi magnitude (Gambar 4)
magnitude (Mc) dari katalog 4,9, hal ini
menggambarkan distribusi katalog tentang
menunjukkan kombinasi katalog BMG dan
bagaimana hubungan magnitude dan jumlah
NEIC merekam dengan baik gempa dengan
gempa yang terjadi. Parameter paling
magnitude terkecil 4,9. Dari distribusi
penting dalam menentukan nilai-b dan nilai-
frekuensi magnitude diperoleh parameter
a adalah magnitude completenes (Mc)
seismotektonik secara umum, nilai b yaitu
dimana diperlukan deskripsi akurat dari Mc
1,03, sedangkan nilai-a yaitu 8,5. Dengan
lokal karena Mc pada wilayah penelitian
wilayah kegempaan Sumatera yang relatif
sangat bervariasi. Mc ini dapat diperoleh
luas besarnya nilai-b seperti hasil penelitian
dengan cukup akurat dari data observasi
sebelumnya di beberapa wilayah lain (misal
dengan mengasumsikan sebuah power-law
Wyss, 1973) didapatkan nilai-b mendekati
distribution sehingga kehilangan data
satu. Nilai-a menunjukkan tingkat keaktifan
diujung katalog dapat dimodelkan. Nilai Mc
gempabumi, dengan nilai-a 8,5 berarti
di wilayah penelitian seperti pada Gambar 4,
wilayah Sumatera memiliki keaktifan
dimana Mc sekitar 4,6. Nilai Mc ini sangat
kegempaan yang tinggi. Besarnya
berpengaruh terhadap penentuan nilai-b
arameter ini bergantung
dengan metode maksimum likelihood.
banyaknya even dan untuk wilayah
tertentu bergantung pada

4
penentuan volume dan time Korelasi stress yang tinggi dengan nilai-b
window. yang relatif rendah jelas terlihat, hal ini
dibuktikan dengan terjadinya gempa-gempa
Pada periode observasi (Januari 1973 - besar pada wilayah dengan nilai-b yang
November 2004), variasi parameter rendah pada tahun berikutnya. Berdasarkan
seismotektonik secara spatial dapat dilihat hasil penelitian para ahli sebelumnya bahwa
pada gambar 5.a dan gambar 6.a. Pada nilai-b yang rendah biasanya bekorelasi
Gambar 5.a tampak variasi spatial nilai-b dengan tingkat stress yang tinggi, sedangkan
hingga bulan November 2004, terlihat nilai-b rendah sebaliknya. Selain itu,
adanya nilai-b yang relatif rendah, yaitu di wilayah dengan heterogenitas yang besar
sekitar Andaman, pulau Simeuleu, Nias, berkorelasi dengan harga nilai-b yang tinggi
kepulauan Mentawai dan sekitar Bengkulu. (Mogi, 1962).

Gambar 5. a) Peta variasi spatial nilai-b wilayah Sumatera, periode observasi (1973 - 2004),
b) Peta variasi nilai-b, periode analisis (1973 - 2008).

Gambar 6. a) Peta variasi spatial nilai-a wilayah Sumatera, periode observasi (1973 - 2004),

5
b) Peta variasi nilai-a, periode analisis (1973 - 2008).

Distribusi spatial nilai-a (Gambar 6.a) wilayah sebelah barat Padang, hal ini juga
tampak mirip dengan sebaran nilai-b, perlu diwaspadai sebagai zona yang
dimana nilai-a yang rendah juga terjadi di berpotensi gempa besar. Scholz (1968)
wilayah sekitar Andaman, pulau Simeuleu, adalah yang pertama menyatakan bahwa
Nias, kepulauan Mentawai dan sekitar nilai-b memilki hubungan yang jelas
Bengkulu. Nilai-a yang rendah terhadap stress di dalam suatu volume
menunjukkan aktivitas kegempaan yang batuan. Dalam eksperimennya, ia
relatif rendah, yang berarti adanya mengamati bahwa penurunan b dengan
akumulasi energi (asperity) di wilayah- kenaikan stress di dalam batuan. Pada
wilayah tersebut, demikian sebaliknya penelitian akhir-akhir ini pada katalog
dengan wilayah dengan nilai-a yang rendah. global dan katalog regional yang berbeda
Nilai absolut dari b dan variabilitasnya, menjukkan bahwa nilai-b secara signifikan
sangat bergantung pada akurasi dari katalog lebih rendah untuk even yang terkait dengan
gempabumi, homogeitas dan panjang thrust dibandingkan dengan normal dan
katalog, tehnik perhitungan dan algoritma patahan strike-slip (Schorlemmer et al.,
yang digunakan. 2005). Karena tipe patahan secara langsung
dibangkitkan oleh orientasi dan magitude
Parameter seismotektonik pada periode ada regime stress suatu wilayah, hal ini
analisis (Januari 1973 - Juni 2008) secara membuktikan bahwa stress memiliki
spatial tampak pada Gambar 5.b dan 6.b, pengaruh pada b.
pada Gambar 5.b tampak nilai-b yang
rendah di sekitar Andaman, Aceh, pulau Pada Gambar 8. gempabumi dengan
Simeuleu, Nias, kepuleuan Mentawai dan magnitude 6,8 di wilayah ini memiliki
sekitar Bengkulu. Dari analisis sebelumnya periode ulang yang berbeda-beda yaitu
dapat ditafsirkan di wilayah ini masih sekitar 5 hingga sekitar 23 tahun. Periode
berpeluang terjadi gempa besar diwaktu ulang sekitar lima tahun meliputi sekitar
yang akan datang. Indikasi tersebut juga pulau Enggano dan kepulauan Mentawai,
tampak dari variasi spatial parameter sedangkan periode ulang sekitar 8 tahun
seismik atau nilai-a, dimana pada wilayah meliputi Aceh dan pulau Simeuleu. Periode
tersebut memiliki nilai-a yang relatif rendah. ulang yang pendek biasanya berkorelasi
Dari variasi spatial parameter dengan nilai-b dan nilai-a yang tinggi.
seismotektonik dan densitas kegempaan Periode gempabumi yang pendek
(Gambar 8) juga mengindikasikan adanya berkorelasi dengan wilayah yang memiliki
zona gap kegempaan (seismic gap) di aktivitas kegempaan yang relatif tinggi.

6
Gambar 7. a) Peta densitas kegempaan wilayah Sumatera, periode observasi (1973-2004).
b) Peta densitas kegempaan wilayah Sumatera , periode analisis (1973-2008).
Bengkulu yang memiliki nilai-b rendah
sebelum gempa-gempa besar pada tahun
berikutnya.
2 Parameter seismotektonik pada periode
analisis, (Januari 1973 – Juni 2008)
secara spatial didapatkan nilai-b yang
rendah di sekitar Andaman, Aceh, pulau
Simeuleu, Nias, kepuleuan Mentawai
dan sekitar Bengkulu. Dari analisis
sebelumnya dapat ditafsirkan di wilayah
ini masih berpeluang terjadi gempa
besar diwaktu yang akan datang.
3 Periode ulang gempabumi dengan
magnitude 6,8 di wilayah Sumatera
Gambar 8. Peta periode ulang gempabumi, bervariasi sekitar 5 hingga sekitar 23
M=6,8 di wilayah Sumatera. tahun. Periode ulang sekitar lima tahun
diantaranya meliputi sekitar pulau
KESIMPULAN Enggano dan kepulauan Mentawai.

Berdasarkan studi variasi parameter DAFTAR PUSTAKA


seismotektonik di wilayah Sumatera-
Andaman dapat disimpulkan bahwa :
1. Aki, K. 1965, Maksimum likelihood
1 Berdasarkan distribusi spatial estimate of b-values in the formula log
seismotektonik pada periode observasi, N = A – bM and its confidence limits,
(Januari 1973 - November 2004) Bull. Earthquake Res. Inst., Tokio Univ.
mengindikasikan bahwa wilayah dengan 43, 237- 240.
nilai-b yang rendah berpotensi terjadi
gempa besar, hal ini terjadi di wilayah 2. Gutenberg, B. and Richter, C.F.,
Andaman, pulau Simeuleu, Nias, 1942. Earthquake magnitude,
kepulauan Mentawai dan sekitar intensity, energy and

7
acceleration. Bull. Seismol. Soc. Stationarity of b-values, J. of
Am., 32: 163-191. Geophys. Res. 109, B12307,
doi10.1029 /2004-JB003234.
3. Hamilton, W., 1979, Tectonics of
Indonesian Region, U.S Geol. Survey, 11. Ustu, T. (1965), A method in
Prof. Paper, 1078, Whasington, 345 pp. determining the value of b in a
formula logn =a-bM showing
4. Hanks, T.C. and Kanamori, H.,
the magnitude frequency for
1979. A moment magnitude
earthquakes. Geophys. Bull.
scale. J. Geophys. Res., 84:
Hokkaido Univ., 13, 99-103.
2348-2350.
5. Ishimoto, M. and Iida, K., 1939. 12. Wesnouski, S.G., Scholz, C.H.,
Shimazaki, K. and Matsuda, T.,
Observations sur les seismes
1983. Earthquake frequency
enregistres par le
distribution and the mechanics
microsismographe construit
of faulting. J. Geophys. Res., 88:
dernierement (1). Bull.
9331-9340.
Earthquake Res. Inst., Univ.
Tokyo 17: 443-478 (in Japanese 13. Wiemer S., and M. Wyss, (2002),
with French abstract). Mapping spatial variability of the
frequency-magnitude distribution of
6. Mogi, K., 1962. Magnitude-
earthquakes, Adv. Geophys., 45, 259–
frequency relationship for
302.
elastic shocks accompanying
fractures of various materials 14. Wyss, M., (1973), Towards a
and some related problems in physical understanding of
earthquakes. Bull. Earthquake earthquake frequency
Res. Inst. Univ. Tokyo, 40: 831- distribution. Geophys. J. R.
883. astron. Soc., 31, 341– 359.
7. Nuannin, P.-, Kulhanek, O. and
Persson, L., 2005. Spatial and
temporal b value anomalies
preceding the devastating off
coast of NW Sumatra
earthquake of December 26,
2004. Geophys. Res. Let., 32,
L11307.
8. Shi, Y., and B.A. Bolt (1982),
The standard error of the
magnitude-frequency b value,
Bull. Seismol. Soc. Am., 72,
1677-1687.
9. Scholz, C. H. 1968. The
frequency-magnitude relation of
microfracturing in rock and its
relation to earthquakes. Bull.
Seismol. Soc. Am., 58: 399-415.
10. Schorlemmer, D., S. Wiemer,
and M. Wyss (2004), Earthquake
statistics at Parkfield,