Anda di halaman 1dari 13

OSMOREGULASI

OSMOREGULASI Oleh : Nama : Cikha Farahdiba Iman NIM : B1J011157 : Rombongan V Kelompok :

Oleh :

Nama

:

Cikha Farahdiba Iman

NIM

: B1J011157

:

Rombongan

V

Kelompok

:

4

Asisten

:

Rio Rakhmanandika S.

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN II

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO

2013

  • 1.1 Latar Belakang

I.

PENDAHULUAN

Osmoregulasi merupakan suatu fungsi fisiologis yang membutuhkan energi, yang dikontrol oleh penyerapan selektif ion-ion yang melewati insang dan pada beberapa bagian tubuh lainnya dikontrol oleh pembuangan yang selektif terhadap garam-garam. Sedangkan kemampuan osmoregulasi bervariasi bergantung suhu, musim, umur, kondisi fisiologis, jenis kelamin dan perbedaan genotip (Goenarso,

1989).

Menurut Kastowo (1982), ikan bertulang sejati (telestei), ikan air tawar maupun ikan laut pada dasarnya mempunyai kemampuan untuk mempertahankan komposisi ion-ion dan osmolaritas cairan tubuhnya pada tingkat yang secara signifikan berbeda dari lingkungan eksternalnya. Proses ini merupakan suatu mekanisme dasar osmotik. Untuk menghadapi masalah osmoregulasi hewan melakukan pengaturan tekanan osmotiknya dengan cara :

  • 1. Mengurangi gradien osmotik antara cairan tubuh dengan lingkungannya.

  • 2. Mengurangi permeabilitas air dan garam.

  • 3. Melakukan pengambilan garam secara selektif Menurut Evans (2002), Osmoregulasi pada organisme akuatik dapat terjadi

dalam dua cara yang berbeda, yaitu :

  • 1. Usaha untuk menjaga konsentrasi osmotik cairan di luar sel (ekstraseluler). Agar

tetap konstan terhadap apapun yang terjadi pada konsentrasi osmotik medium eksternalnya.

  • 2. Usaha untuk memelihara isoomotik cairan dalm sel (interseluler) terhadap cairan luar sel (ekstraseluler).

    • 1.2 Tujuan

Tujuan praktikum kali ini adalah untuk mempelajari osmoregulasi pada hewan eurihalin (hewan yang mampu hidup dalam perairan dengan salinitas yang cukup luas), ikan Nila (Oreochromis sp.) serta hewan stenohalin ikan Nilem (Osteochilus haseelti) dan atau kepiting.

  • 2.1 Materi

II.

MATERI DAN CARA KERJA

Bahan-bahan yang digunakan ialah ikan nila (Oreochromis sp.) dan ikan nilem (Osteochilus hasselti), kepiting bakau (Scylla sernata) akuabidest, larutan EDTA, air dengan salinitas 0, 10, 20, 30 ppt. Alat -alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah jarum spuit, osmometer, handrefractometer, makrosentrifuge, baki, lap, mikrotip dan eppendork.

  • 2.2 Metode

    • A. Pengamatan Toleransi Salinitas

      • 1. Medium air dibuat dengan salinitas 0 ppt, 10 ppt, 20 ppt, dan 30 ppt.

      • 2. Benih ikan baik ikan nila maupun ikan nilem dipilih 10 ekor.

      • 3. Benih ikan nila dan ikan nilem kemudian dipindahkan dari larutan 0 ppt ke larutan 10 ppt secara direct (langsung tanpa bertahap).

      • 4. Benih ikan nila didiamkan dan diamati selama 10 menit, 20 menit, 30 menit dan 40 menit kemudian dilakukan penghitungan untuk benih ikan nila yang hidup dan mati kemudian dicatat.

      • 5. Sintasan dihitung.

        • B. Pengukuran Osmolalitas Plasma dan Medium

          • 1. Ikan nila yang telah di aklimasi pada salinitas medium 24 jam diambil darahnya menggunakan spuit secukupnya sebelumnya spuit dibasahi larutan EDTA supaya darah tidak mengental.

          • 2. Darah dipindahkan ke tabung Eppendork.

          • 3. Darah tersebut di sentrifuge untuk memperoleh plasma darah

          • 4. Plasma diambil lalu, diukur tingkat osmolalitasnya melalui Osmometer.

          • 5. Hitung rasio antara osmolalitas plasma dengan osmolalitas medium.

          • 6. Catat semua data yang diperoleh.

            • C. Pengukuran Osmolalitas hemolimfe pada Kepiting

2.

Injeksi yang digunakan untuk mengambil hemolimfe sebelumnya dilapisi dengan larutan ETDA agar sampel hemolimfe tidak membeku.

  • 3. Ukur osmolalitas hemolimfe dengan osmometer.

  • 4. Hitung rasio antara osmolalitas plasma dengan osmolalitas medium.

  • 5. Catat semua data yang diperoleh.

3.2. Pembahasan

Hasil pengamatan, ikan Nilem yang ditempatkan pada salinitas 0 ppt mempunyai osmolaritas media 188 mmol/kg dan osmolaritas plasma darah 327 mmol/kg. Salinitas 10 ppt osmolaritas media 383 mmol/kg, osmolaritas plasma darahnya 373 mmol/kg. Pada kadar garam 20 ppt didapat osmolaritas media sebesar 600 mmol/kg dan plasma darah 341 mmol/kg. Terakhir untuk 30 ppt medianya 822 mmol/kg dan plasmanya 295 mmol/kg. Sehingga grafik yang di dapat menunjukan nilai osmolalitas media yang meningkat. Sedangkan nilai osmolalitas plasma terjadi peningkatan pada salinitas 10 ppt dan menurun di salinitas 20 ppt dan 30 ppt. Peningkatan salinitas pada beberapa ppt merupakan fase untuk menyesuaikan diri. Semakin singkat waktu penyesuaian maka semakin besar kesempatan hidupnya. Teori yang ada menyatakan difusi substansi akan keluar dari tubuh melalui insang. Rasio insang dengan permukaan tubuh sangat mempengaruhi difusi tersebut. Ikan kecil dengan metabolisme tinggi mempunyai permukaan insang luas dari pada ikan besar dalam satu spesies (Johnson et al., 1984). Menurut Hoar (1984), konsentrasi cairan tubuh (plasma darah) yang lebih tinggi daripada konsentrasi osmotik lingkungan eksternalnya disebut hiperosmotik. Untuk salinitas 10 ppt dan 15 ppt hipoosmotik karena konsentrasi osmotik cairan tubuhnya lebih rendah daripada konsentrasi osmotik lingkungan eksternalnya. Adanya kenaikan pada osmolaritas ikan sejalan dengan naiknya kadar garam, karena garam-garam pada medium ikut masuk ke dalam tubuh ikan, tetapi kenaikan osmolaritas pada tubuh ikan tidak begitu besar. Isoosmotik yaitu bila konsentrasi cairan tubuh sama dengan konsentrasi media, misalnya ikan-ikan yang hidup pada daerah estuari. Hasil percobaan yang dilakukan diperoleh hasil bahwa pada ikan nilem terdapat hubungan antara plasma darah, dan media dengan perlakuan salinitas yang berbeda, dimana nilai osmolaritas pada media dan plasma darah selalu meningkat dengan bertambahnya salinitas. Hasil percobaan diketahui ikan nilem termasuk kedalam osmoregulator, dimana dapat mengatur konsentrasi osmotik dalam tubuhnya walaupun mereka berada dalam lingkungan yang berbeda, dan termasuk stenohalyne dimana memiliki kisaran toleransi terhadap salinitas yang luas. Plasma darah ikan yang masih segar yaitu berkisar antara 260-330 mmol/kg dan ikan cenderung untuk

mendapatkan air dengan difusi melalui permukaan tubuhnya. Mekanisme osmoregulasi pada ikan nila yaitu dengan sedikit minum air, dan mengeluarkan urine dalam jumlah banyak (Hariyadi, 2003). Dari data pengamatan sintasan iklan nilem dan ikan nila dengan perlakuan gradual dan direct transfer mendapati hasil bahwa ikan nilem lebih lama hidup dibandingkan dengan ikan nila. Data tersebut dapat diketahui bahwa semakin tinggi salinitas lingkungan, maka nilai osmolalitas yang diperoleh baik pada media maupun plasma berbeda. Hal itu menunjukan bahwa semakin tinggi salinitas suatu perairan maka konsentrasi osmotik medianya semakin tinggi. Semakin tinggi konsentrasi osmotik media maka konsentrasi osmotik plasmanya akan naik walaupun tidak terlalu besar. Ini menandakan bahwa ikan nilem yang digunakan bersifat osmoregulator (Hurkat dan Martur, 1976). Hickman (1972) menambahkan bahwa ikan nilem merupakan ikan air tawar yang toleran terhadap perubahan salinitas mediumnya. Saat ikan berada pada medium bukan air tawar maka terjadi perubahan osmoregulasi dimana air pada medium akan masuk ke dalam tubuh pada medium tawar dan cairan tubuh keluar dalam cairan medium bukan air tawar, maka pada medium bersalinitas tinggi ikan harus mampu menjaga cairan dalam tubuhnya dan mengeluarkan ion-ion yang masuk ke dalam tubuh ketika ikan meminum air dari medianya. Sedangkan Ikan Nila (Oreochromis niloticus ) termasuk euryhalin dapat bertahan di air payau (BW; 20 %) tapi dapat mati di air laut (SW; 35%) pada kedalaman 6 h terjadi transfer secara langsung dimulai dari air yang segar (FW). Kemampuan dari ikan Nila (Oreochromis niloticus) yaitu than terhadap salinitas mencapai 120% membuat ikan Nila menjadi model organisme yang baik untuk ionik dan perubahan osmotik sebagai telestoi euryhalin. Ikan Nila (Oreochromis niloticus) sama seperti kebanyakan spesies euryhalin memiliki organ utama yaitu kelenjar ginjal untuk menyeimbangkan diantara pertaambahan ion yang tidak berfungsi atau kehilangan ion. Perbedaan fungsi dan struktur insang dipengaruhi oleh salinitas perubahan lingkungan (Wang, 2008). Osmoregulasi artinya kemampuan untuk mengatur komposisi cairan tubuh dalam batasan konsentrasi ion dan air. Hewan air tawar memiliki cairan tubuh yang pekat dari lingkungannya. Ikan air tawar tidak mampu beradaptasi terhadap lingkungan dengan salinitas tinggi, karena sifatnya yang hiperosmotik. Salinitas yang

optimal bagi ikan air tawar (ikan Nila) adalah 20 ppt, karena pada salinitas ini konsentrasi cairan tubuh ikan mendekati isoosmotik dengan konsentrasi cairan lingkungan (Soetarto, 1986). Hewan jika dilihat dari kemampuan dalam menyesuaikan diri dengan salinitas lingkungan eksternalnya dibagi menjadi dua yaitu osmoregulator dan osmoconformer. Hewan yang dikatakan osmoconformer adalah hewan yang kadar garam lingkungan internalnya menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan luar sekelilingnya. Contoh dari hewan osmoconformer yaitu crustacea. Kategori yang kedua yaitu hewan osmoregulator yaitu hewan yang kadar garam lingkungan internalnya cenderung tidak berubah, walaupun kadar garam lingkungan eksternalnya berubah. Contoh dari hewan osmoregulator adalah ikan Nilem (Ville et al., 1988). Hewan dengan keterbatasan toleransi terhadap bermacam-macam lingkungan disebut stenohalin. Sedangkan hewan dengan kemampuan toleransi yang besar terhadap berbagai macam kedaan lingkungan disebut eurihalin. Selain stenohalin dan eurihalin, hewan juga dapat dibagi menjadi kelompok berdasarkan pola perubahan yang terjadi pada internal tubuhnya terhadap konsentrasi osmosis cairan tubuh sebagai respon terhadap variasi eksternalnya (Susilo dan Sri, 2010). Mekanisme osmoregulasi merupakan proses untuk mempertahankan homeostatis dengan cara memantapkan osmotik dalm tubuh. Hewan yang hidup di daerah yang mempunyai kadar garam tinggi berarti lingkingannya hiperosmotik terhadap tubuhnya. Hewan ini akan menghadapi problem yaitu kehilangan air dalam tubuhnya karena terperas keluar. Untuk mengatasinya hewan ini selalu meminum air dari lingkungan dan mengeluarkan garam yang ikut terserap secara aktif melalui insang dan mengeluarkan urine yang sifatnya hiperosmotik dengan kandungan air yang sangat rendah. Hal ini berlawanan dengan hewan yang hidup di air tawar dimana mereka biasa mengeluarkan urine dalam jumlah besar dan bentuk yang cair serta berusaha mengambil sedikit garam dari lingkungan sekitarnya (Johnson et al., 1984). Salinitas merupakan faktor pembatas bagi ikan. Konsentrasi garam air tawar tergantung pada air tawar tersebut, tetapi kadar tersebut selalu sangat rendah. Jadi lingkungan luar selalu hipoosmotik terhadap cairan tubuh internal hewan air tawar,

oleh karena itu hewan tersebut harus menanggapi kecenderungan air untuk berdifusi ke dalam tubuh, terutama ke bagian yang berlapis tipis seperti insang (Soegiri, 1988). Alat yang digunakan pada praktikum osmoregulasi antara lain, timbangan analitik fungsi dari alat ini untuk menimbang bobot tubuh ikan yang digunakan untuk praktikum. Gelas ukur dan beker gelas fungsi dari alat ini untuk mengambil air laut dan air tawar yang digunakan pada pengamatan sintasan ikan Nila dan ikan nilem. Pipet untuk mengambil larutan. Spuit untuk mengambil plasma darah pada ikan. Wadah plasma untuk menampung plasma darah. Osmometer alat untuk mengukur osmolalitas plasma darah. Sentrifuge alat untuk mengsentrifuge atau memisahkan cairan dengan plasma darah.

IV.

KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil praktikum osmoregulasi sebagai

berikut:

  • 1. Ikan Nilem (Osthechilus hasselti) adalah hewan osmoregulator serta bersifat hiperosmotik terhadap lingkungannya.

  • 2. Ikan Nilem termasuk stenohalin yaitu mempunyai toleransi terhadap salinitas yang sempit mencapai 35 ppt, sedangkan pertumbuhan optimalnya berkisar antara 0-10 ppt.

  • 3. Ikan Nila termasuk hewan euryhalin yaitu hewan dengan kemampuan toleransi yang besar terhadap berbagai macam kedaan lingkungan.

DAFTAR REFERENSI

Evans, D.H. 2002. The York.

Physiology of

Fishes Second Edition. CRC Press. New

Goenarso.

1989.

Bandung.

Fisiologi Hewan. Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat, ITB,

Gordon, M.S. 1982. Animal Physiology Principles. MacMillan Pub. Co., New York.

Hariyadi, B. 2003. Fisiologi Hewan II. Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.

Hickman, C. F. 1972. Biology of Animals. The C. V. Mosby Company, Saint Louis.

Hoar, W. S. 1984. General and Comparative Physiology 3 nd . Prentice Hall of India Private Limited, New Delhi.

Hurkat and Martur. 1976. A Text Book of Animal Physiology. Chank and Co. Ltd., New Delhi.

Johnson, K.D.D Crayle and H.L.ldberg. 1984. Biology an Introduction.S.Chand and Co, New Delhi.

Kastowo. 1982. Zoologi Umum. Alumni, Bandung.

Soegiri. 1988. Zoologi Umum. Erlangga, Jakarta.

Soetarto. 1986. Biologi. Widya Duta, Surakarta.

Susilo, U dan Sri S. 2010. Osmoregulasi Ikan Sidat Anguilla bicolor Mc Clelland Pada Media Dengan Salinitas Berbeda. Sains Akuatik 10 (2) : 111-119.

Ville, C.W., W.F. Barnes, R.D. Barnes. 1988. Zoologi Umum. Erlangga, Jakarta.

Wang, Pei-jen, Chia-Hao Lin, Lie-Yueh Hwang, Chao-Lu Huang, Tsung-Han Lee, Pung-Pung Hwang. 2008. Differential Responses in Gills of Euryhaline Tilapia, Oreochromis mossambicus, to Various Hyperosmotic Shocks. Department of Life Sciences, National Chung-Hsing University, Taichung, 402, Taiwan. Comparative Biochemistry and Physiology, Part A 152 (2009)

544551.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

  • 1. Tabel Pengamatan Sintasan Ikan Nila pada Perlakuan direct transfer

No

Salinitas (ppt)

 

Waktu Pengamatan (menit)

 

10

20

30

40

1

0

100%

100%

100%

100%

2

  • 10 100%

 

100%

100%

100%

3

  • 20 100%

 

100%

100%

100%

4

  • 30 100%

 

40%

10%

0%

2.

Tabel Pengamatan Sintasan ikan Nila pada Perlakuan direct transfer

 
     

Waktu Pengamatan (jam)

 

No

 

Salinitas (ppt)

24

48

72

96

1

 

0

100%

100%

100%

100%

2

 
  • 10 100%

 

80%

70%

40%

3

 
  • 20 80%

 

60%

40%

0%

4

 
  • 30 0%

 

0%

0%

0%

3.

Tabel Pengamatan Sintasan ikan Nila pada Perlakuan gradual transfer

     

Waktu Pengamatan (jam)

 

No

 

Salinitas (ppt)

24

48

72

96

 
  • 1 100%

0

 

100%

100%

100%

 
  • 2 100%

10

       
  • 3 20

   

80%

   
  • 4 30

     

0%

 

4.

Tabel Pengamatan Sintasan ikan Nilem pada Perlakuan direct transfer

     

Waktu Pengamatan (menit)

 

No

 

Salinitas (ppt)

10

20

30

40

1

0

100%

100%

100%

100%

2

  • 10 100%

 

100%

100%

100%

3

  • 20 80%

 

0%

   

4

  • 30 0%

       
  • 5. Tabel Pengamatan Sintasan ikan Nilem pada Perlakuan direct transfer

     

Waktu Pengamatan (jam)

 

No

Salinitas (ppt)

24

48

72

96

 
  • 1 100%

0

 

100%

100%

100%

  • 2 10

 

80%

0%

   
  • 3 20

         
  • 4 30

         
  • 6. Tabel Pengamatan Sintasan ikan Nilem pada Perlakuan direct gradual

     

Waktu Pengamatan (jam)

 

No

Salinitas (ppt)

24

48

72

96

 
  • 1 100%

0

 

100%

100%

100%

  • 2 10

 

80%

     
  • 3 20

   

0%

   
  • 4 30

         
  • 7. Pengamatan Osmolalitas Plasma dan Medium Ikan Nila

   

Osmolalitas

Kapasitas

No

Salinitas (ppt)

Plasma

Medium

Osmoregulasi

1

0

327

  • 189 1,97

 

2

10

327

  • 383 0,97

 

3

20

341

  • 600 0,567

 

4

30

295

  • 822 0,358

 

8.

Pengamatan Osmolalitas Plasma dan Medium Kepiting

 

Kapasitas

Osmoregulasi

 

591

  • 189 3,13

   

Osmolalitas

 

No

Salinitas (ppt)

Plasma

Medium

1

0

     

2

  • 10 681

 
  • 383 1,79

 

3

  • 20 612

 
  • 600 1,02

 

4

  • 30 331

 
  • 822 0,4