Anda di halaman 1dari 28

BAB I PENDAHULUAN

Hepatitis virus akut merupakan infeksi sisitemik yang dominan menyerang hati. Hampir semua kasus hepatitis virus akut disebabkan oleh salah satu dari lima jenis virus yaitu virus hepatitis A (HAV), virus hepatitis B (HBV), virus hepatitis C (HCB), virus hepatitis D (HDV) dan virus hepatits E (HEV). Semua jenis hepatits virus menyerang manusia merupakan virus RNA kecuali virus hepatitis B, yang merupakan virus DNA. Walaupun virus-virus tersebut berbeda dalam sifat molecular dan antigen, akan tetapi semua jenis virus tersebut memperlihatkan kesamaan dalam perjalanan penyakitnya1. Hepatitis virus akut merupakan urutan pertama dari berbagai penyakit hati di seluruh dunia. Penyakit tersebut ataupun gejala sisanya bertanggung jawab atas 1-2 juta kematian setiap tahunnya. Di Indonesia berdasarkan data yang berasal dari rumah sakit, hepatitis A masih merupakan bagian terbesar dari kasus-kasus hepatitis akut yang dirawat yaitu berkisar dari 39,8% - 68,3%. Peningkatan prevalensi anti HAV yang berhubungan dengan umur mulai terjadi dan lebih nyatadi daerah dengan kondisi kesehatan di bawah standar. Lebih dari 75% anak dari berbagai benua Asia, Afrika, India, menunjukkan sudah memiliki anti bodi anti-HAV pada usia 5 tahun. Sebagian besar infeksi HAV didapatkan pada awal kehidupan, kebanyakan asimtomatik atau sekurangnya anikterik1. Tingkat prevalensi hepatitis B di Indonesia sangat bervariasi berkisar dari 2,5% di Banjarmasin sampai 25,61% di Kupang, sehingga termasuk pada kelompok negara dengan endemisitas sedang sampai tinggi. Di Negara Asia diperkirakan bahwa penyebaran perinatal dari ibu penginap hepatitis merupakan jawaban atas prenvalensi infeksi virus hepatitis B yang tinggi. Hampir semua bayi yang dilahirkan dari ibu dengan HBeAg positif akan terkena infeksi pada bulan kedua dan ketiga kehidupannya. Adanya HBeAg pada ibu sangat berperan penting untuk penularan.

Prevalensi anti-HCV pada donor darah di beberapa tempat di Indonesia menunjukkan angka diantara 0,5% - 3,37%. Sedangkan prevalensi anti HCV pada hepatitis virus akut menunjukkan bahwa hepatitis C (15,5% - 46,4%) menempati urutan kedua setelah hepatitis A akut (39,8% - 68,3%) sedangkan urutan ketiga ditempati oleh hepatitis B (6,4% - 25,9%). Untuk hepatits D, walaupun hepatitis ini erat hubungannya dengan hepatitis B, di Asia Tenggara dan Cina infeksi hepatitis D tidak biasa dijumpai pada daerah prevalensi HBsAg sangat tinggi1. Hepatitis E (HEV) di Indonesia pertama kali dilaporkan terjadi di Sintang Kalimantan Barat yang diduga terjadi akibat sanitasi yang kurang optimal seperti pencemaran sungai yang digunakan untuk aktivitas sehari-hari. Didapatkan HEV positif sebanyak 34,1%1,3.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Hepatitis virus akut adalah inflamasi hati akibat infeksi virus hepatitis yang berlangsung selama < 6 bulan2. Virus hepatitis A adalah suatu penyakit dengan distribusi global. Prevalensi infeksi yang ditandai dengan tingkat antibody anti-HAV telah diketahui secara universal dan erat hubungannya dengan standar sanitasi / kesehatan daerah yang bersangkutan. Meskipun virus hepatitis A ditularkan melalui air dan makanan yang tercemar, namun hampir sebagian besar infeksi VHA didapat melalui transmisi endemik3,6,7. Suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa infeksi virus VHA saat ini menjadi suatu masalah kesehatan masyarakat dibanyak Negara justu karena telah berhasilnya Negara-negara tersebut memperbaiki keadaan perekonomian dan standar kesehatan lingkungannya, sehingga infeksi VHA yang seharusnya didapat saat masa anak-anak ternyata tertunda sampai saat dewasa3. Infeksi virus hepatitis B biasanya terjadi melalui darah seperti infeksi perinatal atau pada awal masa kanak-kanak. VHB sendiri biasanya tidak sitopatik. Infeksi kronik VHB merupakan suatu proses dinamis dengan terjadi interaksi antara virus, hepatosit dan system imun manusia1,3,5,7. Infeksi virus hepatitis C (HCV) adalah suatu masalah kesehatan global. Sejak berhasil ditemukannya virus hepatitis C dengan teknik cloning molekuler ditahun 1989. Dahulu infeksi ini dikenal sebagai infeksi virus hepatitis non-A, non-B, namun saat ini telah diketahui bahwa infeksi yang hanya memiliki tanda-tanda subklinis ringan ini ternyata memiliki tingkat kronisitas dan progresifitas kearah sirosis yang tinggi3.

Pada tahun 1977, ditemukan antigen inti virus yang sebelumnya belum pernah diidentifikasi pada hepatosit pasien hepatitis kronik B. Antigen tersebut ternyata hanya dijumpai bila bersama dengan infeksi virus hepatitis B, tetapi sangat jarang bersama dengan HBsAg. Selanjutnya antigen tersebut disebut antigen delta. Seperti banyak antigen virus yang lain, antigen delta juga dapat memicu pemebentukan anti bodi anti-Delta3. Hepatitis E dikenal pada awalnya sebagai Hepatits non-A, non-B enterik, yang banyak ditemukan di India, Asia, Afrika dan Amerika Tengah. Infeksi virus hepatitis E utamanya disebabkan virus hepatitis E genotip 1 pada Negara-negara berkembang, sedangkan Negara-negara maju, disebabkan genotip 3 atau 43.

2.2. Epidemiologi Epidemiologi dan transmisi VHA mencakup beberapa faktor yaitu variasi musim dan geografis. Di daerah dengan 4 musim, infeksi VHA terjadi secara musiman yang puncaknya biasa terjadi pada musim semi dan awal musim dingin. Di daerah tropis puncak insiden yang pernah dilaporkan cenderung terjadi selama musim hujan dan pola epidemic siklik berulang setiap 5-10 tahun sekali. Faktor risiko spesifik yang diasosiasikan dengan hepatitis A di Amerika Serikat termasuk kontak erat dengan orang yang terinfeksi VHA (26%), homoseksual (15%), penggunaan obat terlarang (10%), wisatawan mancanegara (14%) dan kontak dengan anak yang dititipkan ditempat penitipan bayi (11%). Insiden tertinggi pada populasi orang sipil, anak sekolah, tetapi dibanyak Negara di Eropa Utara dan Amerika Utara ternyata sebagian kasus terjadi pada orang dewasa3,8. Di Negara-negara maju secara kontras diketahui bahwa insiden infeksi virus hepatitis A telah menurun dalam beberapa tahun terakhir ini dan telah beralih keusia yang lebih tua, hal ini disebabkan kondisi social ekonomi lebih baik, begitu pula higiene dan sanitasi3,5. Berdasarkan data yang berasal dari rumah sakit di Indonesia, hepatitis A masih merupakan bagian terbesar dari kasus-kasus hepatitis akut yang dirawat yaitu berkisar dari 39,8% - 68,3% kemudian disusul oleh hepatitis non-A non-B sekitar 15,5% - 46,6% dan hepatitis B 6,4% - 25,9%3,.

Tingkat prevalensi hepatitis B di Indonesia sangat bervariasi berkisar dari 2,5% di Banjarmasin sampai 25,61% di Kupang, sehingga termasuk pada kelompok negara dengan endemisitas sedang sampai tinggi. Di Negara Asia diperkirakan bahwa penyebaran perinatal dari ibu penginap hepatitis merupakan jawaban atas prenvalensi infeksi virus hepatitis B yang tinggi. Hampir semua bayi yang dilahirkan dari ibu dengan HBeAg positif akan terkena infeksi pada bulan kedua dan ketiga kehidupannya. Adanya HBeAg pada ibu sangat berperan penting untuk penularan1,3. Di Indonesia prevalensi infeksi virus hepatits C ditemukan sangat bervariasi. Hasil pemeriksasan pendahuluan anti-HCV pada donor darah diberbagai tempat menunjukkan bahwa prevalensinya diantara 3,1% - 4% sedangkan data donor darah di kota-kota besar menunjukkan prevalensi yang lebih kecil 0,5% - 3,37%3. Hepatitis delta terdapat diseluruh dunia. Prevalensi HVD pada saat ini jauh berkurang dibandingkan dengan HVB atau HVC. Diseluruh dunia diperkirakan kirakira 5% dari seluruh pasien pembawa HBsaAg dalam darahnya mengandung HVDAg. Daerah yang mempunyai prevalensi tertnggi yaitu Mediteranian, Timur Tengah, Asia Tenggara, Afrika Barat. Sebaliknya Asia timur, Taiwan, Cina dan India dilaporkan prevalensinya lebih rendah3. Hepatitis E sering menyebabkan hepatitis akut epidemic pada negara-negara berkembang dengan sanitasi yang buruk1,3,5,7. Penyakit ini paling sering di daerahdaerah tropis atau subropis yaitu Asia, Afrika dan Amerika Tengah. Penyakit ini merupakan penyakit yang sembuh tanpa pengobatan. Tidak ada manifestasi karier atau kronik. Case fatality rate (CFR) adalah 1-3% dan akan meningkat apabila diderita pada saat kehamilan khususnya pada trimester ketiga, yaitu 15% - 25%3. Pada RS. Angkatan Laut Mintoharjo dilaporkan bahwa dari 344 kasus hepatitis virus akut yang di rawat, hepatitis A, hepatitis B dan non-A non-B masingmasing 51,2%, 16,6 %, dan 32,3%3. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), prevalensi nasional hepatitis klinis sebesar 0,6 persen. Sebanyak 13 provinsi di Indonesia memiliki prevalensi di atas nasional. Kasus penderita hepatitis tertinggi di provinsi Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Rata-rata penderita

hepatitis antara umur 15 44 tahun untuk di pedesaan. Penyakit hati ini menduduki urutan pertama sebagai penyebab kematian4.

2.3. Etiologi dan Patogenesis Secara umum agen penyebab hepatitis virus dapat siklasifikasikan kedalam dua group yaitu hepatitis dengan transmisi secara enterik dan transmisi melalui darah1. Transmisi secara enterik terdiri atas virus hepatitis A (HAV) dan virus hepatitis E (HEV) Virus tanpa selubung Tahan terhadap cairan empedu Ditemukan di tinja Tidak dihubungkan dengan penyakit hati kronik Tidak terjadi viremia yang berkepanjangan atau kondisi karier intestinal1.

a). Virus Hepatits A (VHA) Virus hepatitis A merupakan partikel dengan dengan ukuran 27 nanometer tergolong virus hepatitis terkecil, termasuk golongan virus pikornavirus. Dengan mikroskop electron terlihat virus tidak memiliko mantel, hanya memiliki suatu nukleokapsid yang merupakan cirri khas dari antigen virus hepatitis A. Seuntai molekul RNA terdapat dalam kapsid, satu ujung dari RNA ini disebut viral protein genomic (VPg) yang fungsinya menyerang ribosom sitoplasma sel hati. Virus hepatitis A sangat stabil dan tidak rusak dengan perebusan singkat, tahan terhadap PH asam, stabil pada suhu udara dan PH rendah. Tahan terhadap PH asam dan asam empedu memungkinkan VHA melalui lambung dan dikeluarkan dari tubuh melalui saluran empedu. Masa inkubasi hepatitis A akut bervariasi antara 14 hari sampai 49 hari, dengan rata-rata 30 hari. Penularan hepatitis A terjadi secara fecal-oral yaitu melalui makanan dan minuman yang tercemar oleh virus hepatitis A. Sering ditemukan kerang sebagai pembawa virus1,3,5,7,9.

Gambar 1 : Virus Hepatitis A9 Patogenesis Pada prinsipnya, diferensiasi terjadi dalam dua bentuk : 1. Initial non-cytotoxic reaction dengan tingkat replikasi yang tinggi 2. Reaksi cypopathogenic dengan produksi virus yang rendah, tandatanda peradangan dan pengembangan imunitas. Nekrosis sel hati disebabkan oleh limfosit T (CD8+) spesifit terhadap virus, dengan sel T-induced cytolysis yang terjadi pada respon imun. Virus ini kemudian dinetralkan oleh antibodi. HAV mampu memicu hepatitis autoimun8.

b). Virus Hepatitis E Virus hepatitis E merupakan visur yang ditransmisikan melalui enterik yang banyak terjadi terutama di India, Asia, Afrika dan Amerika tengah, di area geografis tersebut HEV merupakan penyebab paling umum dari hepatitis akut3. Mempunyai epidemiologi yang hampir sama dengan HAV1,3. Virus hepatitis E berukuran 29-34 nm tanpa selubung, dengan 7600 nukleotida rantai tunggal terdiri dari short 5 untranslated region (5UTR) yang diikuti 3 bagian kerangka baca yang terbuka yang saling tumpang tindih yang disebut replicase gene (ORF1) / open reading frames, terbesar adalah ORF1 mengkode protein nonstruktural yang terlibat dalam replikasi virus. Gene sedang adalah ORF2 mengkode protein nukleikapsid, dan yang terkecil,

ORF 3 mengkode protein struktural yang fungsinya belum diketahui3. Pada manusia hanya terdiri atas satu serotipe, empat sampai lima genotipe utama8. dapat menyebar pada sel embrio diploid paru, replikasi hanya terjadi pada hepatosit. Masa inkubasi 15 60 hari (rata-rata 40 hari) virus dapat dideteksi di dalam tinja, empedu dan hati dan di eksresikan di dalam tinja selama masa inkubasi3. Respon imun untuk antigen virus terjadi sangat awal selama infeksi akut. Kedua IgM anti HEV dan IgG anti HEV dapat dideteksi, tetapi menurun secara mendadak setelah infeksi akut, dan mencapai level terendah dalam 9-12 bulan3,6,8.

Gambar 2 : Virus Hepatitis E3 Transmisi melalui darah terdiri atas virus hepatitis B (HBV), virus hepatitis D (HDV) dan virus hepatitis C (HCV). c). Virus Hepatitis B1,3,6 Virus hepatitis B adalah virus DNA hepatotropik, hepadnaviridae terdiri atas 6 genotip (A sampai H), terkait dengan derajat beratnya dan respon terhadap terapi. Terdiri dari 42 nm partikel sferis dengan inti nukleokapsid, densitas elektron, diameter 27 nm, selubung luar lipoprotein dengan ketebalan 7 nm. Inti HBV mengandung DNA partial (3,2 kb) dan : Protein polimerase DNA dengan aktivasi reserve transkriptase Antigen hepatitis B core (HbcAg) merupakan protein struktural

Anti hepatitis B e (HbeAg) merupakan protein non-struktural yang berkorelasi secara tidak sempurna dengan replikasi anti HBV1. Selubung lipoprotein HBV mengandung :
Antigen permukaan hepatitis B (HbsAg) dengan tiga selubung protein :

utama besar dan menengah


Lipid minor dan komponen karbohidrat HbsAg adalah bentuk partikel non infeksius dengan bentuk sferis 22 nm

atau tubular Satu serotipe utama dengan banyak subtipe berdasarkan keanekaragaman protein HbsAg. Virus HBV mutan merupakan konsekuensi proof reading yang terbatas dari reverse transkriptase atau munculnya resistensi, hal tersebut meliputi : HbeAg negatif mutasi precore/core Mutasi yang diinduksi oleh vaksin HBV Mutasi oleh karena lamivudin

Hati merupakan tempat utama replikasi disamping tempat lainnya1.

Gambar 3 : Virus Hepatitis B Masa inkubasi HBV 15 180 hari (rata-rata 60 90 hari). Viremia berlangsung selama beberapa minggu sampai bulan setelah infeksi akut. Sebanyak 1-

5% dewasa, 90% neonatus dan 50% bayi akan berkembang menjadi hepatitis kronis dan viremia yang persisten. Infeksi persisten dihubungakan dengan hepatitis kronik, sirosis dan kanker hati. HBV ditemukan di darah, semen, sekret servikovaginal, saliva, cairan tubuh lainnya1. Cara transmisi1,3,5,6,8,9: Melalui darah : penerima produk darah, IVDU, pasien hemodialisis, pekerja kesehatan, pekerja yang terpapar darah Transmisi seksual Penetrasi jaringan (perkutan) atau permukosa : tertusuk jarum, penggunaan ulang peralatan medis yang terkontaminsi, penggunaan bersama pisau cukur dan silet, tato, akupuntur, tindik, penggunaan sikat gigi bersama. Transmisi maternal neonatal, maternal infant Tak ada bukti penyebaran fekal oral1. Patofisiologi Protein kapsid yang berisi HBV DNA diangkut ke inti sel dengan bantuan nuklear, sinyal lokalisasi. Dan pengembangan partikel dane yang lengkap dimulai dan virus baru dieksresikan dari hepatosit oleh aparatus golgi. Sekitar 5x1013 virus diperoduksi per hari. Uptake virus dipengaruhi oleh endositosis dan DNA virus mencapai inti sel. Hepatocytolisis disebabkan oleh respon sel imun untuk virus coded atau virus induced antigens dari membran sel hati.

c) Virus hepatitis C Virus Hepatitis C mempunyai selubung glikoprotein dan merupakan virus RNA rantai tunggal yang dapat diproses secara langsung memproduksi proteinprotein virus (hal ini dikarenakan HCV merupakan virus dengan RNA rantai positif) dengan partikel sferis dan inti nukleokapsid 33 nm. Virus ini termasuk klasifikasi

10

flaviviridae, genus hepacivirus. Genom HCV terdiri atas 9400 nukleutida. HCV terlihat sebagai virus dengan amplop yang berdiameter 50-60 nm1,3,8,9. 1/3 bagian dari poliprotein terdiri atas protein struktural Protein selubung dapat menimbulkan antibodi netralisasi Regiovipervariabel terletak di E2 Sisa 2/3 dari poliprotein terdiri ats protein nonstruktural yang terlibat dalam replikasi HCV

Gambar 4 : Virus Hepatitis C Masa inkubasi HCV diperkirakan 15 160 hari (puncak pada sekitar 50 hari). Viremia yang berkepanjangan dan infeksi yang persisten umum dijumpai (55-855). Distribusi geografik luas. Infeksi yang menetap dihubungkan dengan hepatitis kronik, sirosis dan kanker hati1,3. Cara transmisi : Darah (predominan) : IVDU dan penetrasi jaringan, resepien produk darah Transmisi seksual : efisiensi rendah, frekuensi rendah Maternal neonatal : efisiensi rendah, frekuensi rendah Tak terdapat bukti transmisi fekal oral.1

11

Patofisiologi Sistem imun bertanggung jawab untuk terjadinya kerusakan sel hati Melibatkan respon CD8 dan CD4 sel T Produksi sitokin di hati dan sistemik

Efek sitopatik langsung dari virus. Pada pasien imunosupresif dengan replikasi tinggi, akan tetapi tidak ada bukti langsung1.

d) Virus hepatitis D Virus akut Hepatitis D merupakan virus RNA tidak lengkap, memerlukan bantuan dari HBV untuk ekspresinya, patogenitas tapi tidak untuk replikasi. Hanya dikenal satu serotipe dengan tiga genotip. Partikel sferis 35-27 nm, diselubungi oleh lapisan lipoprotein HBV (HbsAg) 19 nm struktur mirip inti. Mengandung suatu antigen nuclear phosphoprotein (HDV antigen) 1,3: Mengikat RNAterdiri dari 2 isomorf : yang lebih kecil mengandung 195 asam amino dan yang lebih besar mengandung 214 asam amino. Antigen HDV yang lebih kecil mengangkut RNA ke dalam inti, merupakan sel esensial untuk replikasi Antigen HDV yang lebih besar : menghambat replikasi HDV RNA dan berperan pada perakitan HDV RNA HDV merupakan rantai tunggal, covalenty close dan sirkular, mengandung kurang dari 1680 nukleotida, merupakan genom RNA terkecil diantara virus. Replikasi hanya di hepatosit1.

Gambar 5 : Virus Hepatitis D


12

Masa inkubasi HDV diperkirakan 4-7 minggu, insiden berkurang dengan adanya peningkatan pemakaian vaksin, bisa terjadi viremia singkat (infeksi akut) atau memanjang (infeksi kronik). Cara penularan melalui darah, transmisi seksual, penyebaran maternal-neonatal1,3. Infeksi HDV hanya terjadi pada individu dengan resiko infeksi HBV (koinfeksi atau superinfeksi) Homoseksual atau biseksual Resipien donor darah Pasangan seksual

2.4. Gejala Klinis Hepatitis A merupakan penyakit yang terutama menyerang anak dan dewasa muda. Pada fase akut hepatitis A umumnya 90% asimtomatik dan hanya sekitar 1% yang timbul ikhterik. Pada anak manifestasinya sering kali asimtomatik dan anikhterik. Gejala dan perjalanan klinis hepatitis virus akut secara umum dapat dibedakan dalam 4 stadium1,3,5,6,7,8: a. Masa tunas Lamanya viremia pada hepatitis A 2 4 minggu b. Fase Pra-ikterik Keluhan tidak spesifik dapat berlangsung 2 7 hari Tabel 1. Gejala Kuning Urine berwarna gelap Lelah / lemas Hilang nafsu makan Nyeri dan rasa tidak enak di perut Tinja berwarna pucat Mual dan muntah % 40 80 68 94 52 91 42 90 37 68 52 58 32 73

13

Demam kadang-kadang menggigil Sakit kepala Nyeri pada sendi (arthalgia) Pegal pegal pada otot (myalgia) Diare Rasa tidak enak di tenggorokan

28 73 26 73 11 40 15 52 16 25 0 20

c. Fase ikterik Fase ini awalnya disadari oleh penderita, biasanya setelah demam turun penderita menyadari bahwa urinnya menjadi berwarna kuning pekat seperti air teh, orang lain yang melihat sclera mata dan kulitnya berwarna kekuningkuningan. Pada fase ini kuningnya akan meningkat, menetap dan kemudian menurun secara perlahan-lahan, ini dapat berlangsung sekitar 10-14 hari. Pada stadium ini gejalah klinis sudah mulai berkurang dan pasien merasa lebih baik. d. Fase penyembuhan Fase penyembuhan dimulai dengan menghilangkan sisa gelaja tersebut di atas, ikterus sudah mulai menghilang, penderita merasa segar kembali walau mungkin masih terasa cepat capai. Umumnya penyembuhan sempurna secara kllinis dan biokimia memerlukan waktu sekitar 6 bulan. 2.5. Penegakan Diagnosis1,2,3,,5,6. a. Anamnesa : - Gejala prodormal - Riwayat kontak erat dengan orang yang terinfeksi - Penggunaan obat terlarang - Riwayat pergi ke daerah dengan endemisitas rendah ke tinggi - Pekerja kesehatan

b.Pemeriksaan fisik: Inspeksi


14

warna kuning terlihat paling mudah pada sclera, kulit, selaput lendir langit-langit mulut pada kasus yang berat spesifik (foetor hepaticum) Palpasi Perabaan hati membengkak, 2-3 jari di bawah arkus costae dengan konsistensi lunak, tepi tajan dan sedikit nyeri tekan limpa kadang-kadang menbesar, teraba lunak Perkusi perkusi abdomen pada kuadran kanan atas menimbulkan rasa nyeri c. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan serologi : Transmisi infeksi secara enterik 1. HAV IgM anti HAV dapat dideteksi selama fase akut dan 3-6 bulan setelahnya. Anti HAV yang positif tanpa IgM anti HAV mengindikasikan infeksi lampau1. (fulminant) didapatkan mulut yang berbau

Gambar 6 : respon imun HAV

15

2. HEV

Belum tersedia pemeriksaan serologi komersial yang telah disetujui FDA IgM dan IgG anti HEV baru dapat dideteksi oleh pemeriksaan untuk riset IgM anti HEV dapat bertahan selama 6 minggu setelah puncak dari penyakit IgG anti HEV dapat tetap terdeteksi selama 20 bulan.

Gambar 7 : respon imun HEV Transmisi melalui darah 1,3,6 3. HBV Diagnosis serologis telah tersedia dengan mendeteksi keberadaan dari IgM antibodi terhadap antigen core hepatitis (IgM anti HBc dan HbsAg) Keduanya ada saat gejala muncul HbsAg mendahului IgM anti HBc HbsAg merupakan petanda yang pertama kali diperiksa secara rutin

16

HbsAg dapat menghilang biasanya dalam beberapa minggu sampai bulan setelah kemunculannya, sebelum hilangnya IgM anti Hbc.

HbeAg dan HBV DNA : HBV DNA di serum merupakan petanda yang pertama muncul, akan tetapi tidak rutin diperiksa HbeAg biasanya terdeteksi setelah kemunculan HbsAg Kedua petanda tersebut menghilang dalam beberapa minggu atau bulan pada infeksi yang sembuh sendiri selanjutnya akan muncul anti HBs dan anti Hbe menetap Tidak diperlukan lagi untuk diagnosis rutin

IgG anti HBc Menggantikan IgM anti HBc pada infeksi yang sembuh Membedakan infeksi lampau atau infeksi yang berlanjut Tidak muncul pada pemberian vaksin HBV

Antibodu terhadap HbsAg (Anti Hbs) Antibodi terakhir yang muncul Merupakan antibodi penetral Secara umum mengindikasikan kesembuhan dan kekebalan terhadap reinfeksi Dimunculkan dengan vaksinasi HBV1.

17

Gambar 8 : respon imun HBV akut 4. HDV Pasien HbsAg positif dengan : Anti HDV dan HDV RNA sirkulasi IgM anti HDV dapat muncul sementara

koinfeksi HBV/HDV HbsAg positif IgM anti Hbc positif Anti Hdv dan atau HDV RNA

Superinfeksi HDV HbsAg positif IgG anti HBc positif

18

Anti HDV akan menurun sampai tak terdeteksi dengan adanya perbaikan infeksi1.

Gambar 9 : (f) HBV/HDV coinfection, (g) HBV/HDV superinfection9

5. HCV Diagnosis serologi1,3,6 Deteksi anti HCV Anti HCV dapat dideteksi pada 60% pasien selama masa akut dari penyakit, 35% sisanya akan terdeteksi pada beberapa minggu atau bulan kemudian Anti HCV tidak mungkin pada <5% paisen yang terinfeksi (pada pasien HIV, anti HCV tidak muncul dalam presentase yang lebih besar) Pemeriksaan IgM anti HCV dalam pengembangan belum disetujui FDA) Secara umum anti HCV akan tetap terdeteksi untuk periode yang panjang, baik pada pasien yang mengalami kesembuhan spontan maupun yang berlanjut menjadi kronik HCV RNA Merupakan petanda yang paling awal muncul pada infeksi akut hepatitis C

19

Muncul setelah beberapa minggu terinfeksi Pemeriksaan yang mahal, untuk mendiagnosis penyakit tidak rutin dilakukan, kecuali pada keadaan dimana disurigai adanya infeksi pada pasien dengan anti HVC negatif

Diemukan pada infeksi kronis HCV.1

Gambar 10 : (a) acute hepatitis C (b) Cronic hepatitis 8,9

Tabel 2. Interpretasi serologi Hepatitis virus 8,9

20

2.6. Penatalaksanaan1,3,6 Pada dasarnya penatalaksanaan infeksi virus hepatitis A dan E sama dengan hepatitis lainnya yaitu bersifat suportif: 1. Tirah baring, terutama pada fase awal dari penyakitnya dan dalam keadaan penderita merasa lemah. 2. Diet, makanan tinggi protein dan karbohidrat, rendah lemak untuk pasien dengan anoreksia dan nausea. 3. Simtomatik, pemberian obat-obatan terutama untuk mengurangi keluhan; misalnya tablet antipiretik parasetamol untuk demam, sakit kepala, nyeri otot. 4. Perawatan rumah sakit pada pasien dengan sakit berat, muntah yang terus menerus sehingga memerlukan cairan parenteral dan pengawasan terhadap kemungkinan timbul jenis hepatitis fulminan. 5. Terapi pada Hepatistis B yaitu - Interferon (IFN-) , pada pasien HBeAg+dengan SGPT yang lebih besar dari BANN. Pemberian interferon 4,5 mu atau 5 mu seminggu 3 x selama 4-6 bulan dapat efektif. Pengobatan interferon biasanya berhubungan dengan efek samping seperti flu like symtoms, neutropenia, trombositopenia, yang biasanya masih dapat ditoleransi. - Lamividine, efektif untuk supresi HBV DNA, normalisasi SGPT, dan perbaikan secara histology baik pada HBeAg positif dan HBeAg negative / HBV DNA positif. Pada pasien dengan HBeAg (+) yang diterapi selama satu tahun dengan lamivudine (100 mg per hari). - Adefovir dipivoxil, efektifitas dapat dipakai pada pasien baru hepatitis B denga replikasi virus yang aktif, pada pasien yang gagal dengan lamivudine. Dosis yang dianjurkan untuk penggunaana adefovir adalah 10 mg per hari. Efek samping pengguaan adenovir jika digunakan dosis tinggi (30 mg / hari) adalah gagal ginjal. - Entecavir, adalah nukleosida analog yang mempunyai efek kuat anti virus hepatitis B. Entecavir dapat digunakan untuk terapi hepatitis kronik B peningkatan pada orang dewasa dengan replikasi virus aktif. Dosis yang dianjurkan adalah 0,5

21

mg / hari untuk pesien hepatitis kronik B. Untuk pasien dengan lamivudine resisten ditinggikan menjadi 1 mg/hari. - Telbivudine, aktivitas anti virus telbivudine spesifik untuk virus hepatitis B. Selama 28 hari dengan dosis oral 10 mg/kg/hari, terjadi penurunan DNA virus sebesar 8 log10 hingga tidak terdeteksi (<300 copies/mL by PCR). Tabel 3. Oral Agen for treatment of Hepatitis B3,8,9

6. Terapi untuk hepatitis C akut, data tentang efikasi terpi antivirus untuk hepatitis C akut masih sangat terbatas, namun pemberian terapi ditujukan untuk mencegah terjadinya persistensi infeksi virus , yang telah diketahui dapat memicu terjadinya inflamasi hati yang kronik. Terapi IFN (a dan b) dengan dosis yang lebih tinggi (6 sampai 10 juta unit) selama 6 bulan dapat memicu normalisasi SGPT dan hilangnya (clearance) HCV RNA pada sekitar 50% pasien. 7. Terapi untuk hepatitis D yaitu interferol dosis 9 juta 3 kali seminggu atau 5 juta setiap hari selama 12 bulan dapat menurunkan ALT serum dan menekan RNA HVD pada 40%-70% pasien. Pemberian immunoglobulin anti HBs jangka panjang tampaknya lebih dipercaya memberikan hasil yang baik. 2.7. Pencegahan3 a) Hepatitis A

22

1. Pola hidup yang baik dan bersih Kesehatan perorangan, lingkungan dan sanitasi yang baik, pemakaian air bersih, pembuatan sumur yang memenuhu standar, mencegah kontaminasi makanan dan minuman dan masa penularan dari seorang penderita, terutama 2 minggu sebelum timbul kuning dan satu minggu sesudahnya. 2. Imunisasi Imunisasi pasif terbagi atas: Pencegahan segera setelah kontak yaitu untuk keluarga yang terdekat dan tinggal serumah dan pencegahan sebelum kontak yaitu terhadap mereka yang akan berpergian ke daerah endemis. Pemberin dengan mempergunakan HSIg (Human Normal Serum

Imunoglobulin), dosis yang dianjurkan adalah 0,02 mL / kg, diberikan dalam kurun waktu tidak lebih dari satu minggu setelah kontak. Imunisasi aktif: Vaktis hepatitis A yang tersedia saat ini adalah vaksin hidup yang telah dilemahkan (live attenuated). Di Indonesia telah dipasarkan sejak tahun 1993 dengan merek dagang HAVRIX, tiap kemasan satu flacon berisi standar dosis satu ml (720 Elisa Unit) dengan pemakaian pada orang dewasa 1 facon dan pada anak kurang dari 10 tahun cukup setenga dosis. Jadwal yang dianjurkan adalah sebanyak 3 kali pemberian yaitu 0, 1, 6 bulan.

a) Hepatitis B Secara garis besar, upaya pencegahan dibagi dua yaitu upaya yang bersifat umum dan upaya yang lebih spesifik (imunisasi VHB) Pencegahan umum berupa:

1. Uji tapis donor darah dengan uji diagnosis yang sensitive. 2. Sterilisasi instrumen secara adekuat-akurat. Alat dialysis digunakan secara individual. Untuk pasien dengan VHB disediakan mesin tersendiri. Jarum disposable dibuang ke tempat khusus yang tidak tembus jarum. 3. Tenaga medis senantiasa mempergunakan sarung tangan.

23

4. Perilaku seksual yang aman. 5. Penyuluhan agar para penyalah guna obat tidak memakai jarum secara bergantian. 6. Mencegah kontak mikrolesi, menghindar dari pemakaian alat yang dapat menularkan HVB (sikat gigi, sisir), berhati-hati dalam menangani luka terbuka. 7. Skrining ibu hamil pada awal dan pada trimester ke-3 kehamilan, terutama ibu yang beresiko terinfeksi HVB. Ibu hamil dengan HVB (+) ditangani terpadu. Segera setelah lahir bayi di imunisasi aktif dan pasif terhadap HVB. 8. Skrining populasi risiko tinggi tertular HVB (lahir di daerah hiperendemis, homoseksual, heteroseksual, pasangan seks bergantiganti, tenaga medis, pasien dialysis, keluarga dari pasien HVB kronis, kontak seksual dengan pasien HVB). Imunisasi

Imunisasi dapat berupa aktif dan pasif. Untuk imunisasi pasif digunakan hepatitis B immune globulin (HBIg) yang dibuat dari plasma manusia yang mengandung anti HBs titer tinggi (>100.000 IU / ml). Dapat memberikan proteksi secara cepat untuk jangka waktu yang terbatas (3-6 bulan). Pada orang dewasa, HBIg diberikan dalam waktu 48 jam setelah terpapar VHB. Imunisasi aktif diberikan terutama pada bayi baru lahirdalam waktu 12 jam pertama. Vaksinasi juga diberikan pada: Semua bayi dan anak, remaja, yang belum pernah imunisasi (catch up immunization). Individu beresiko terpapar VHB berdasarkan profesi kerja yang bersangkutan. orang dewasa beresiko tertular VHB. Tenaga medis dan staf.

24

Pasien hemodialisa (imunisasi diberikan sebelum terapi dialysis dimulai).

Pasien yang membutuhkan transfuse darah / produk darah sevara rutin.

Penyalagunaan obat. Homoseksual dan biseksual, pekerja seks komersial,

heteroseksual dengan pasangan berganti-ganti. Kontak serumah dan kontak seksual dengan pengidap VHB. Individu yang bepergian ke area endemis VHB. Calon ttansplantasi hati (imunisasi diberikan pra trasplantasi). Untuk mencapai tinggat serokonversi yang tinggi dan

konsentrasi anti-HBs protektif (10 Miu / mL), imunisasi diberikan 3 kali dengan jadwal 0,1,6 bulan.

b) Hepatitis C Tidak ada vaksin yang dapat melawan infeksi HCV. Penelitian untuk menemukan vaksin hepatitis C telah dilakukan, namun dikarenakan oleh tingginya tingkat mutasi dari HCV maka sangatlah sulit untuk mengembangkan vaksin yang efektif untuk HCV. Usaha-usaha berikut harus dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi: Melakukan skrining dan pemeriksaan terhadap darah dan organ donor. Menginaktivasi virus dari plasma dan produk-produk plasma. Senantiasa mengimplementasikan tindakan-tindakan untuk

mengontrol infeksi dalam pekerjaan kesehatan, termasuk prosedur srerilisasi yang benar terhadap alat-alat medis dan dentis. Meromosikan perubahan tingkah laku pada masyarakat umum dan pekerja kesehatan untuk mengurangi penggunaan berlebihan obat-obat suntik dan penggunaan cara penyuntikan yang aman,

25

serta konseling untuk menurunkan risiko pada IDU dan praktek seksual. c) Hepatitis D Pencegahan terhadap HVD hanya efektif terhadap mereka yang masih mungkin dicegah dari infeksi HVB. Artinya yang dapat dicegah hanya koinfeksi HVD dan HVB sedangkan untuk mencegah superinfeksi hingga saat ini belum ditemukan cara yang efektif. 2.8. Prognosis3 Hepatitis akut dapat sembuh sempurna pada 90% kasus sedangkan pada hepatitis kronis prognosis untuk hilangnya virus amat sukar. Meskipun demikian replikasi virus dapat dikontrpl dengan pengobatan anti virus sehingga kemungkinan untuk menjadi sirosis dan kanker hati dapat dikurangi.

26

BAB III KESIMPULAN

Hepatitis virus akut adalah inflamasi hati akibat infeksi virus hepatitis yang berlangsung selama < 6 bulan. Hepatitis akut merupakan infeksi sistemik yang mempengaruhi terutama hati. Hampir semua kasus disebabkan oleh virus ini yaitu HAV, HBV dan HCV. Secara umum agen penyebab hepatitis virus dapat siklasifikasikan kedalam dua kelompok yaitu hepatitis dengan transmisi secara enterik dan transmisi melalui darah, transmisi secara enterik terdiri atas virus hepatitis A (HAV) dan virus hepatitis E (HEV), transmisi melalui darah terdiri atas virus hepatitis B (HBV), virus hepatitis D (HVD), dan virus hepatitis C (HCV). Diagnosis dapat ditegakkan dari anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang berupa serologi. Virus hepatitis akut bersifat self limited dan tidak ada antivirus spesifik untuk virus ini, pengobatan hanya bersifat simptomatis, perbaiki diet dan keadaan umum.

27

DAFTAR PUSTAKA

1. Sanityoso, Andri. Hepatitis Virus Akut dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Ed IV Jilid I. Jakarta : pusat penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2006 2. Hepatitis Virus Akut dalam buku Standar Profesi Ilmu Penyakit Dalam. 2002. Lembaga Penerbit Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang 3. Sulaiman, Ali., Nurul, Akbar., Lesmana, L.A., Noer, Sjaifoellah. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Hati. Jakarta: Jayabadi. Edisi 1. 4. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). 2007. Artikel Kesehatan dan informasi Kedokteran. (http://www.ilmukesehatan.com/79/penderitahepatitis-di-indonesia.html). 5. Sibuea, Herdin,. Panggabean, Marulam,M., Gultom, S.P. 2009. Ilmu Penyakit Dalam. Lembaga Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia Kerja sama dengan Rumah Sakit DGI Tjikini. Jakarta: Rineke Cipta. 6. Davey, Patrick. 2007. At a Glance Medicine. Jakarta: Erlangga. 7. Widoyono. 2008. Penyakit Tropis Epidemiologi, Penularan, Pencegahan & Pemberantasan. Jakarta: Erlangga. 8. Acute Viral Hepatitis dalam Hepatology Principles and practice. Kuntz, Erwin dan Hans-Dieter Kuntz. Germany : Springer Medizin Verlag Heidelberg. 2006. 9. Acute Viral Hepatitis dalam buku Horrisons Principles Of Internal Medicine 17th Edition. L.Kasper MD, Dennis dkk United States of America: Mc Graw Hill. 2008.

28