Anda di halaman 1dari 2

Pada percobaan, sebanyak 5 gram biskuit ditumbuk.

Stetlah itu dilarutkan dalam 125ml HCl 2N dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer 500ml. HCl ditambahkan sebagai katalis reaksi agar dapat berlangsung lebih cepat. Setelah sampel siap, erlenmeyer berisi sample tersebut dihubungkan ke pendingin balik untuk mengubah fasa gas menjadi fasa cair. Serta dipanaskan dengan kompor listirk selama 1 jam, yang dihitung saat air mulai mendidih. Sebelum alat dirangkai, tiap sambungan alat diberi Vaseline. Tujuan pemberian Vaseline adalah untuk memudahkan pelepasan atau perangkaian alat. Tujuan dilakukannya pemanasan adalah untuk mempercepat reaksi.

Penetralan Hasil Hidrolisis


Setelah dihidrolisis selama 1 jam, hasil hidrolisis ini didinginkan terlebih dahulu. Larutan yang terdapat pada erlenmeyer tersebut disaring dengan kertas saring. Tujuan penyaringan adalah agar dapat diambil endapannya (residu). Kemudian larutan tersebut diencerkan hingga 500ml dalam labu ukur. Setelah diencerkan, maka sampel diambil 25ml dengan menggunakan pipet volume. 25ml larutan ini dimasukkan ke dalam labu ukur 100ml. Setelah itu ditambah kan indikator phenolpthalein atau pp. Tujuan penamahan indikator phenolphtalein adalah untuk memberikan perubahan warna untuk menentukan titik akhir titrasi. Pada rentang pH 0-8,2, pp akan menunjukkan warna bening dan pada pH 8,2-12 akan menunjukkan warna pink. Kemudian larutan dinetralkan dengan NaOH 2M. Fungsi dari penetralan adalah untuk menetralkan asam. Setelah dilakukan penetralan, sampel menjadi berwarna pink. Perubahan warna ini menunjukkan bahwa telah terjadi hidrolisis. Warna pink menunjukkan reaksi berlangsung dalam suasana basa. Jadi tahapan perubahan warnanya sejak dari penyaringan, berwarna kuning cokelat cerah. Kemudian saat ditambahkan indikator pp, sample nerwarna cokelat. Saat dilakukan penetralan dengan NaOH, sample berawrna pink. Selanjutnya dilakukan pengenceran hingga 100ml dengan labu ukur, sampel berawrna pink kekuningan. Hasil akhir dari percobaan ini, sampel berwarna kuning kecokelatan.

Analisis Kadar Pati


Peneraan Larutan Fehling Larutan Fehling A dan Fehling B harus dikalibrasi terlebih dahulu. Karakteristik Larutan Fehling : Fehling A = berwarna biru muda. Komposisi : CuSO4, pentahidrat 7% dan air 93% Fehlng B = berwana bening. Komposisi : NaOH 15%, K-Na tartarat 20%, dan air 65%

Peneraan dilakukan dengan mentitrasi larutan campuran 5 ml Fehling A dan 5 ml Fehling B. Pengambilan fehling dilakukan dengan menggunakan pipet volume. Fehling A dan B yang telah dicampurkan dalam erlenmeyer, dipanaskan pada kompor listrik. Pada labu erlenmeyer tersebut dimasukkan magnetic stirrer, yang bertujuan membantu proses pengadukan larutan agar homogen ketika dititrasiuntuk mempercepat reaksi oksidasi antara fehling dan aldehid. Setelah campuran fehling mendidih, larutan tersebut dititrasi dengan gula murni. Saat dititrasi, warna menjadi biru keruh dan terdapat endapan merah bata, titrasi dihentikan lalu ditambahkan 3 tetes metilen blue. Indikator metilen blue ini berfungsi untuk menguji apakah larutan sudah benar-benar netral atau belum. Lalu titrasi dilanjutkan sampai warna biru hilang dan terdapat endapan merah bata. Titrasi blanko bertujuan untuk mengetahui massa glukosa bahan yang akan dianalisis. Proses Metode Biasa 5ml Fehling A dan 5ml Fehling B dicampurkan dalam erlenmeyer, kemudian dipanaskan pada kompor listrik, serta dimasukkan magnetic stirrer pada erlenmeyer tersebut. Titrasi dilakukan saat campuran sudah mendidih dan saat warna biru tua mulai hilang, metilen blue ditambakan sebanyak 3 tetes. Titras idihentikan saat warna biru hilang dan terdapat endapan merah bata. Terbentuknya endapan merah bata karena ehling memiliki ion Cu 2+ yang kemudian direduksi dan menjadi ion Cu+ yang dalam keadaan basa akan membentuk endapan Cu2O. Reaksinya : R=O + 2CuO + OH- R-OOH + Cu2O + H2O Cu2O akan mengendap menjadi endapan merah-bata kecokelatan.