Anda di halaman 1dari 36

Wrap-up

MENCRET BERKEPANJANGAN

Kelompok: B-15

KETUA SEKRETARIS ANGGOTA

: Ranty Rizky Puspadewi : Rania Merriane Devina : Nidaul Hasanah Novi Irdasari Prima Eriawan Putra Puspita Sari Reni Permana Sari Nur Rahmawati Titis Nur Indah Sari Vivi Vionita

(1102012226) (1102012224) (1102012192) (1102012199) (1102012212) (1102009226) (1102012237) (1102012261) (1102011282) (1102012303)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI 2012/2013

SKENARIO 4 MENCRET BERKEPANJANGAN Seorang laki-laki berusia 25 tahun, datang ke dokter dengan keluhan diare yang hilang timbul sejak 3 bulan yang lalu, disertai dengan demam, sariawan, tidak nafsu makan, dan berat badan menurun 10kg dalam waktu 3 bulan terakhir. Dari anamnesis didapatkan pasien sering melakukan hubungan seksual secara bebas. Pada pemeriksaan fisik pasien terlihat kaheksia, mukosa lidah kering dan terdapat bercak-bercak putih. Pemeriksaan laboratorium darah rutin LED 50mm/jam. Pemeriksaan feses terdapat sel ragi. Pada pemeriksaan screening antibodi HIV didapatkan hasil (+) kemudian dokter menganjurkan pemeriksaan konfirmasi HIV dan hitung jumlah limfosit T CD4 dan CD8. Dari data tersebut, dokter menyimpulkan bahwa penderita ini mengalami gangguan defisiensi imun akibat terinfeksi virus HIV. Dokter menganjurkan pasien untuk datang ke dokter lain dengan alasan yang tidak jelas.

SASARAN BELAJAR LI 1. Memahami dan Menjelaskan Defisiensi Imun 1.1 1.2 1.3 1.4 Etiologi Patofisiologi Contoh-Contoh Penyakit Pemeriksaan Lab untuk Menegakkan Diagnosis

LI 2. Memahami dan Menjelaskan Penyakit akibat Infeksi Virus HIV 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6 2.7 2.8 Menjelaskan HIV Patogenesis Manifestasi Klinik Pemeriksaan Fisik & Pemeriksaan Penunjang Diagnosis Tatalaksana Komplikasi Pencegahan

LI 3. Memahami dan Menjelaskan Etika Terkait: 3.1 3.2 Dilema Etik dalam Penanganan Kasus HIV/AIDS Pasal-pasal KODEKI yang Berhubungan dengan Penanganan HIV/AIDS

LI 4. Memahami dan Menjelaskan Pandangan Islam terhadap Penderita HIV/AIDS

LI 1. Memahami dan Menjelaskan Defisiensi Imun 1.1 Etiologi Imunodefisiensi Primer Imunodefisiensi primer dapat memengaruhi respon imun adaptif (spesifik) maupun nonspesifik. Defisiensi yang memengaruhi komponen dari imunitas adaptif meliputi sel B atau sel T, sementara defisiensi komponen imunitas humoral (non-spesifik) meliputi fagosit, komplemen, dan lain-lain. Imunodefisiensi Sekunder (AIDS) Berbeda dengan imunodefisiensi primer, imunodefisiensi sekunder merupakan gangguan imun yang didapat. Penyebab umum AIDS adalah agent-induced immunodeficiency, yaitu AIDS yang diakibatkan oleh pajanan bahan kimia/mikroorganisme. Bahan kimia yang dapat LI. 2.2. Mempelajari Etiologi Defisiensi Imun menyebabkan imunodefisiensi sekunder antara lain kortikosteroid, dan mikroorganisme Penyebab defisiensi imun sangatimunodefisiensi beragam dan penelitian berbasis genetik (biologis) yang dapat menyebabkan sekunder adalah infeksi HIV. berhasil mengidentifikasi lebih dari 100 jenis defisiensi imun primer dan pola menurunnya terkait pada X-linked recessive , resesif autosomal, atau dominan Tabel 1. Beberapa Etiologi Defisiensi Imun autosomal.
Penyebab Defsiensi Imun Defek Genetik

Defek gen-tunggal yang diekspresikan di banyak jaringan (misal ataksia-teleangiektasia, defsiensi deaminase adenosin) Defek gen tunggal khusus pada sistem imun ( misal defek tirosin kinase pada Xlinked agammaglobulinemia; abnormalitas rantai epsilon pada reseptor sel T) Kelainan multifaktorial dengan kerentanan genetik (misal common variable immunodeficiency) Obata tau Toksin Imunosupresan (kortikosteroid, siklosporin) Antikonvulsan (fenitoin) Penyakit Nutrisi dan Metabolik Malnutrisi (misal kwashiorkor) Protein losing enteropathy (misal limfangiektasia intestinal)Defisiensi vitamin (misal biotin, atau transkobalamin II) Defisiensi mineral (misal Seng pada Enteropati Akrodermatitis) Kelainan Kromosom Anomali DiGeorge (delesi 22q11)Defisiensi IgA selektif (trisomi 18) Infeksi Imunodefisiensi transien (pada campak dan varicella) Imunodefisiensi permanen (infeksi HIV, infeksi rubella kongenital) (Dikutip dengan modifikasi dari Stiehm dkk, 2005) LI. 2.3. Klasifikasi Defisiensi Imun 1. Defisiensi Imun Non-Spesifik a) Komplemen
4

1.2

Patofisiologi Defisiensi Imun Non-Spesifik a) Komplemen Dapat berakibat meningkatnya insiden infeksi dan penyakit autoimun (SLE), defisiensi ini secara genetik. Kongenital Menimbulkan infeksi berulang /penyakit kompleks imun (SLE dan glomerulonefritis). Fisiologik Ditemukan pada neonatus disebabkan kadar C3, C5, dan faktor B yang masih rendah. Didapat Disebabkan oleh depresi sintesis (sirosis hati dan malnutrisi protein/kalori) b) Interferon dan lisozim Interferon kongenital Menimbulkan infeksi mononukleosis fatal Interferon dan lisozim didapat Pada malnutrisi protein/kalori c) Sel NK Kongenital Pada penderita osteopetrosis (defek osteoklas dan monosit), kadar IgG, IgA, dan kekerapan autoantibodi meningkat. Didapat Akibat imunosupresi atau radiasi. d) Sistem fagosit Menyebabkan infeksi berulang, kerentanan terhadap infeksi piogenik berhubungan langsung dengan jumlah neutrofil yang menurun, resiko meningkat apabila jumlah fagosit turun < 500/mm3. Defek ini juga mengenai sel PMN. Kuantitatif Terjadi neutropenia/granulositopenia yang disebabkan oleh menurunnya produksi atau meningkatnya destruksi. Penurunan produksi diakibatkan pemberian depresan (kemoterapi pada kanker, leukimia) dan kondisi genetik (defek perkembangan sel hematopioetik). Peningkatan destruksi merupakan fenomena autoimun akibat pemberian obat tertentu (kuinidin, oksasilin). Kualitatif Mengenai fungsi fagosit seperti kemotaksis, fagositosis, dan membunuh mikroba intrasel. Chronic Granulomatous Disease (infeksi rekuren mikroba gram dan +) Defisiensi G6PD (menyebabkan anemia hemolitik) Defisiensi Mieloperoksidase (menganggu kemampuan membunuh benda asing) Chediak-Higashi Syndrome (abnormalitas lisosom sehingga tidak mampu melepas isinya, penderita meninggal pada usai anak) Job Syndrome (pilek berulang, abses staphylococcus, eksim kronis, dan otitis media. Kadar IgE serum sangat tinggi dan ditemukan eosinofilia). Lazy Leucocyte Syndrome (merupakan kerentanan infeksi mikroba berat. Jumlah neutrofil menurun, respon kemotaksis dan inflamasi terganggu) Adhesi Leukosit (defek adhesi endotel, kemotaksis dan fagositsosis buruk, efeks sitotoksik neutrofil, sel NK, sel T terganggu. Ditandai infeksi bakteri dan jamur rekuren dan gangguan penyembuhan luka)

Defisiensi Imun Spesifik a) Kongential/primer (sangat jarang terjadi) SelB Defisiensi sel B ditandai dengan penyakit rekuren (bakteri): 1. X-linked hypogamaglobulinemia 2. Hipogamaglobulinemia sementara 3. Common variable hypogammaglobulinemia 4. Disgamaglobulinemia SelT Defisensi sel T ditandai dengan infeksi virus, jamur, dan protozoa yang rekuren 1. Sindrom DiGeorge (aplasi timus kongenital) 2. Kandidiasis mukokutan kronik Kombinasi sel T dan sel B 1. Severe combined immunodeficiency disease 2. Sindrom nezelof 3. Sindrom wiskott-aldrich 4. Ataksia telangiektasi 5. Defisiensi adenosin deaminase b) Fisiologik Kehamilan Defisiensi imun seluler dapat diteemukan pada kehamilan.Hal ini karena pningkatan aktivitas sel Ts atau efek supresif faktor humoral yang dibentuk trofoblast. Wanita hamil memproduksi Ig yang meningkat atas pengaruh estrogen Usia tahun pertama Sistem imun pada anak usia satu tahun pertama sampai usia 5 tahun masih belum matang. Usia lanjut Golongan usia lanjut sering mendapat infeksi karena terjadi atrofi timus dengan fungsi yang menurun. c) Defisiensi imun didapat/sekunder Malnutrisi Infeksi Obat, trauma, tindakan, kateterisasi, dan bedah Obat sitotoksik, gentamisin, amikain, tobramisin dapat mengganggu kemotaksis neutrofil. Kloramfenikol, tetrasiklin dapat menekan antibodi sedangkan rifampisin dapat menekan baik imunitas humoral ataupun selular. Penyinaran Dosis tinggi menekan seluruh jaringan limfoid, dosis rendah menekan aktivitas sel Ts secara selektif Penyakit berat Penyakit yang menyerang jaringan limfoid seperti Hodgkin, mieloma multipel, leukemia dan limfosarkoma. Uremia dapat menekan sistem imun dan menimbulkan defisiensi imun.Gagal ginjal dan diabetes menimbulkan defek fagosit sekunder yang mekanismenya belum jelas. Imunoglobulin juga dapat menghilang melalui usus pada

diare Kehilangan Ig/leukosit Sindrom nefrotik penurunan IgG dan IgA, IgM norml.Diare (linfangiektasi intestinal, protein losing enteropaty) dan luka bakar akibat kehilangan protein. Stres Agammaglobulinmia dengan timoma Dengan timoma disertai dengan menghilangnya sel B total dari sirkulasi. Eosinopenia atau aplasia sel darah merah juga dapat menyertai d) 1.3 AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome)

Contoh-Contoh Penyakit Tabel 2. Beberapa Penyakit Imunodefisiensi akibat Kelainan Genetik

1.4

Pemeriksaan untuk Menegakkan Diagnosis Pemeriksaan penunjang merupakan sarana yang sangat penting untuk mengetahui penyakit defisiensi imun. Karena banyaknya pemeriksaan yang harus dilakukan (sesuai dengan kelainan klinis dan mekanisme dasarnya) maka pada tahap pertama dapat dilakukan pemeriksaan penyaring dahulu, yaitu: 1. Pemeriksaan darah tepi 1. Hemoglobin 2. Leukosit total 3. Hitung jenis leukosit (persentasi) 4. Morfologi limfosit 5. Hitung trombosit 2. Pemeriksaan imunoglobulin kuantitatif (IgG, IgA, IgM, IgE) 3. Kadar antibodi terhadap imunisasi sebelumnya (fungsi IgG) 1. Titer antibodi Tetatus, Difteri 2. Titer antibodi H.influenzae 4. Penilaian komplemen (komplemen hemolisis total = CH50) 5. Evaluasi infeksi (Laju endap darah atau CRP, kultur dan pencitraan yang sesuai)

Pemeriksaan lanjutan pada penyakit defisiensi imun Defisiensi Sel B

Uji Tapis:

Kadar IgG, IgM dan IgA Titer isoaglutinin Respon antibodi pada vaksin (Tetanus, difteri, H.influenzae)

Uji lanjutan:

Enumerasi sel-B (CD19 atau CD20) Kadar subklas IgG Kadar IgE dan IgD Titer antibodi natural (Anti Streptolisin-O/ASTO, E.coli Respons antibodi terhadap vaksin tifoid dan pneumokokus Foto faring lateral untuk mencari kelenjar adenoid

Riset:

Fenotiping sel B lanjut Biopsi kelenjar Respons antibodi terhadap antigen khusus misal phage antigen Ig-survival in vivo Kadar Ig sekretoris Sintesis Ig in vitro Analisis aktivasi sel Analisis mutasi

Defisiensi sel T

Uji tapis:

Hitung limfosit total dan morfologinya Hitung sel T dan sub populasi sel T : hitung sel T total, Th dan Ts Uji kulit tipe lambat (CMI) : mumps, kandida, toksoid tetanus, tuberkulin Foto sinar X dada : ukuran timus

Uji lanjutan:

Enumerasi subset sel T (CD3, CD4, CD8) Respons proliferatif terhadap mitogen, antigen dan sel alogeneik HLA typing Analisis kromosom

Riset:

Advance flow cytometry Analisis sitokin dan sitokin reseptor Cytotoxic assay (sel NK dan CTL) Enzyme assay (adenosin deaminase, fosforilase nukleoside purin/PNP) Pencitraan timus dab fungsinya Analisis reseptor sel T Riset aktivasi sel T Riset apoptosis Biopsi Analisis mutasi Defisiensi fagosit

Uji tapis:

Hitung leukosit total dan hitung jenis Uji NBT (Nitro blue tetrazolium), kemiluminesensi : fungsi metabolik neutrofil Titer IgE

Uji lanjutan:

Reduksi dihidrorhodamin White cell turn over Morfologi spesial Kemotaksis dan mobilitas random Phagocytosis assay Bactericidal assays

Riset:

Adhesion molecule assays (CD11b/CD18, ligan selektin) Oxidative metabolism


9

Enzyme assays (mieloperoksidase, G6PD, NADPH) Analisis mutasi Defisensi komplemen

Uji tapis:

Titer C3 dan C4 Aktivitas CH50

Uji lanjutan:

Opsonin assays Component assays Activation assays (C3a, C4a, C4d, C5a)

Riset:

Aktivitas jalur alternatif Penilaian fungsi(faktor kemotaktik, immune adherence) LI 2. Memahami dan Menjelaskan Penyakit akibat Infeksi Virus HIV 2.1 Menjelaskan HIV Klasifikasi dan Morfologi HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah sejenis virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan dapat menimbulkan AIDS. HIV menyerang salah satu jenis dari sel-sel darah putih yang bertugas menangkal infeksi. Sel darah putih tersebut terutama limfosit yang memiliki CD4 sebagai sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel limfosit. Karena berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh manusia menunjukkan berkurangnya sel-sel darah putih atau limfosit yang seharusnya berperan dalam mengatasi infeksi yang masuk ke tubuh manusia. Pada orang dengan sistem kekebalan yang baik, nilai CD4 berkisar antara 1400-1500. Sedangkan pada orang dengan sistem kekebalan yang terganggu (misal pada orang yang terinfeksi HIV) nilai CD4 semakin lama akan semakin menurun (bahkan pada beberapa kasus bisa sampai nol). AIDS adalah singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome, yang berarti kumpulan gejala atau sindroma akibat menurunnya kekebalan tubuh yang disebabkan infeksi virus HIV. Tubuh manusia mempunyai kekebalan untuk melindungi diri dari serangan luar seperti kuman, virus, dan penyakit. AIDS melemahkan atau merusak sistem pertahanan tubuh ini, sehingga akhirnya berdatanganlah berbagai jenis penyakit lain.

10

Gambar 1. Struktur HIV Setiap virion mengekspresi 72 projeksi glikoprotein yang terdiri dari gp120 dan gp41. Gp120 yang terikat pada gP41 memperantai pengikatan virus ke reseptor CD4 sel host. Kapsul/envelop yang dimiliki virus tersebut berasal dari sel host yang mengandung membran protein, termasuk molekul-molekul MHC kelas I dan II. Penularan 1. Transmisi melalui kontak seksual Kontak seksual merupakan salah satu cara utama transmisi HIV di berbagai belahan dunia. Virus ini dapat ditemukan dalam cairan semen, cairan vagian, cairan serviks. Transmisi infeksi HIV melalui hubungan seksual lewat anus lebih mudah karena hanya terdapat membran mukosa rektum yang tipis dan mudah robek, anus sering terjadi lesi. 2. Transmisi melalui darah atau produk darah Transmisi dapat melalui hubungan seksual (terutama homseksual) dan dari suntikan darah yang terinfeksi atau produk darah (Asj, 2002). Diperkirakan bahwa 90 sampai 100% orang yang mendapat transfusi darah yang tercemar HIVakan mengalami infeksi. Suatu penelitian di Amerika Serikat melaporkan risiko infeksi HIV-1 melalui transfusi darah dari donor yang terinfeksi HIV berkisar antara 1 per 750.000 hingga 1 per 835.000 (Nasronudin, 2007). Pemeriksaan antibodi HIV pada donor darah sangat mengurangi transmisi melalui transfusi darah dan produk darah (contoh, konsentrasi faktor VIII yang digunakan untuk perawatan hemofolia) (Lange, 2001) 3. Transmisi secara vertikal Transmisi secara vertikal dapat terjadi dari ibu yang terinfeksi HIV kepada janinnya sewaktu hamil , persalinan, dan setelah melahirkan melalui pemberian Air Susu Ibu (ASI). Angka penularan selama kehamilan sekitar 5-10%, sewaktu persalinan 10-20%, dan saat pemberian ASI 10-20% (Nasronudin, 2007). Di mana alternatif yang layak tersedia, ibu-ibu positif HIV-1 tidak boleh menyusui bayinya karena ia dapat menambah penularan perinatal (Parks, 1996). Selama beberapa tahun terakhir, ditemukan bahwa penularan HIV perinatal dapat dikaitkan lebih akurat dengan pengukuran jumlah RNA-virus di dalam plasma. Penularan vertikal lebih sering terjadi pada kelahiran preterm, terutama yang berkaitan dengan ketuban pecah dini (Cunningham, 2004). 4. Potensi transmisi melalui cairan tubuh lain Walaupun air liur pernah ditemukan dalam air liur pada sebagian kecil orang yang terinfeksi,
11

tidak ada bukti yang menyakinkan bahwa air liur dapat menularkan infeksi HIV baik melalui ciuman biasa maupun paparan lain misalnya sewaktu bekerja bagi petugas kesehatan. Selain itu, air liur dibuktikan mengandung inhibitor terhadap aktivitas HIV. Demikian juga belum ada bukti bahwa cairan tubuh lain misalnya air mata, keringat dan urin dapat merupakan media transmisi HIV (Nasronudin, 2007). 5. Transmisi pada petugas kesehatan dan petugas laboratorium Berbagai penelitian multi institusi menyatakan bahwa risiko penularan HIV setelah kulit tertusuk jarum atau benda tajam lainnya yang tercemar oleh darah seseorang yang terinfeksi HIV adalah sekitar 0,3% sedangkan risiko penularan HIV ke membran mukosa atau kulit yang mengalami erosi adalah sekitara 0,09%. Di rumah sakit Dr. Sutomo dan rumah sakit swasta di Surabaya, terdapat 16 kasus kecelakaan kerja pada petugas kesehatan dalam 2 tahun terakhir. Pada evaluasi lebih lanjut tidak terbukti terpapar HIV (Nasronudin). 2.2 Patogenesis Awalnya terjadi perlekatan antara gp120 dan reseptor sel CD4, yang memicu perubahan konformasi pada gp120 sehingga memungkinkan pengikatan dengan koreseptor kemokin (biasanya CCR5 atau CXCR4). Setelah itu terjadi penyatuan pori yang dimediasi oleh gp41 (Mandal, 2008) Setelah berada di dalam sel CD4, salinan DNA ditranskripsi dari genom RNA oleh enzim reverse transcriptase (RT) yang dibawa oleh virus. Ini merupakan proses yang sangar berpotensi mengalami kesalahan. Selanjutnya DNA ini ditranspor ke dalam nukleus dan terintegrasi secara acak di dalam genom sel pejamu. Virus yang terintegrasi diketahui sebagai DNA provirus. Pada aktivasi sel pejamu, RNA ditranskripsi dari cetakan DNA ini dan selanjutnya di translasi menyebabkan produksi protein virus. Poliprotein prekursor dipecah oleh protease virus menjadi enzim (misalnya reverse transcriptase dan protease) dan protein struktural. Hasil pecahan ini kemudian digunakan untuk menghasilkan partikel virus infeksius yang keluar dari permukaan sel dan bersatu dengan membran sel pejamu. Virus infeksius baru (virion) selanjutnya dapat menginfeksi sel yang belum terinfeksi dan mengulang proses tersebut. Terdapat tiga grup (hampi semua infeksi adalah grup M) dan subtipe (grup B domina di Eropa) untuk HIV-1 (Mandal, 2008).

Gambar 2. Patogenesis HIV (Kindt, et. al., 2007)


12

2.3

Manifestasi Klinik Tanda-tanda gejala-gejala (symptom) secara klinis pada seseorang penderita AIDS adalah diidentifikasi sulit karena symptomasi yang ditujukan pada umumnya adalah bermula dari gejala-gejala umum yang lazim didapati pada berbagai penderita penyakit lain, namun secara umum dapat kiranya dikemukakan sebagai berikut : Rasa lelah dan lesu Berat badan menurun secara drastis Demam yang sering dan berkeringat diwaktu malam Mencret dan kurang nafsu makan Bercak-bercak putih di lidah dan di dalam mulut Pembengkakan leher dan lipatan paha Radang paru-paru Kanker kulit Manifestasi klinik utama dari penderita AIDS pada umumnya ada 2 hal antara lain tumor dan infeksi oportunistik : 1. Manifestasi tumor diantaranya: a. Sarkoma kaposi ; kanker pada semua bagian kulit dan organ tubuh. Frekuensi kejadiannya 36-50% biasanya terjadi pada kelompok homoseksual, dan jarang terjadi pada heteroseksual serta jarang menjadi sebab kematian primer. b. Limfoma ganas ; terjadi setelah sarkoma kaposi dan menyerang syaraf, dan bertahan kurang lebih 1 tahun. 2. Manifestasi Oportunistik diantaranya a. Manifestasi pada Paru-paru i. Pneumonia Pneumocystis (PCP) Pada umumnya 85% infeksi oportunistik pada AIDS merupakan infeksi paru-paru PCP dengan gejala sesak nafas, batuk kering, sakit bernafas dalam dan demam. ii. Cytomegalo Virus (CMV) Pada manusia virus ini 50% hidup sebagai komensial pada paru-paru tetapi dapat menyebabkan pneumocystis. CMV merupakan penyebab kematian pada 30% penderita AIDS. iii. Mycobacterium Avilum Menimbulkan pneumoni difus, timbul pada stadium akhir dan sulit disembuhkan. iv. Mycobacterium Tuberculosis Biasanya timbul lebih dini, penyakit cepat menjadi miliar dan cepat menyebar ke organ lain diluar paru. b. Manifestasi pada Gastroitestinal Tidak ada nafsu makan, diare khronis, berat badan turun lebih 10% per bulan. 3. Manifestasi Neurologis Sekitar 10% kasus AIDS nenunjukkan manifestasi Neurologis, yang biasanya timbul pada fase akhir penyakit. Kelainan syaraf yang

13

2.4

Pemeriksaan Fisik & Pemeriksaan Penunjang Diagnosis AIDS untuk kepentingan surveilans ditegakkan apabila terdapat infeksi oportunistik atau limfosit CD4+ kurang dari 200 sel/mm. a. Pemeriksaan serologi 1. Untuk mendeteksi adanya antibody terhadap HIV dan pemeriksaan untuk mendeteksi keberadaan virus HIV. 2. Deteksi adanya virus HIV dalam tubuh dapat dilakukan dengan isolasi dan biakan virus, deteksi antigen, dan deteksi materi genetic dalam darah pasien. b. Pemeriksaan terhadap antibody HIV - Sebagai penyaring biasanya digunakan teknik ELISA ( enzyme linked immunosorbent assay ), - Atau bias juga menggunakan aglutinasi atau dot blot immunobinding assay - Hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan tes terhadap antibody HIV, yaitu adanya masa jendela - Masa jendela adalah waktu sejak tubuh terinfeksi HIV sampai mulai timbulnya antibody yang dapat dideteksi dengan pemeriksaan. - Antibodi mulai terbentuk pada 4 8 minggu setelah infeksi - Jadi jika pada masa ini hasil tes HIV pada seseorang yang sebenarnya sudah terinfeksi HIV dapat memberikan hasil yang negative - Untuk itu jika kecurigaan akan adanya resiko cukup tinggi, perlu dilakukan pemeriksaan ulangan 3 bulan. Pan American Health Organization pada tahun 2008 mengeluarkan panduan pemeriksaan HIV menggunakan kombinasi antara uji cepat dengan ELISA. Panduan tersebut berisi tiga macam algoritme pemeriksaan HIV, dengan penggunaannya pada kondisi yang spesifik. Algoritme pertama yaitu dengan pemeriksaan HIV secara serial untuk diterapkan pada daerah dengan prevalens HIV < 5%. Algoritme kedua juga melakukan pemeriksaan HIV secara serial, hanya saja pemeriksaan ini untuk diterapkan di daerah dengan prevalens HIV > 5% atau terhadap sasaran pemeriksaan yang memiliki perilaku berisiko tinggi. Pemeriksaan serial yaitu memeriksakan sampel dengan satu reagen yang sangat sensitif, kemudian sampel yang reaktif pada pemeriksaan awal diperiksa kembali dengan reagen kedua yang sangat spesifik. Algoritme ketiga merupakan pemeriksaan HIV secara paralel, yaitu memeriksakan sampel dengan dua reagen yang berbeda secara bersamaan. Algoritme ketiga ini diusulkan untuk diterapkan pada keadaan semisal kunjungan pertama wanita hamil ke klinik layanan antenatal, yang membutuhkan keputusan cepat apakah akan melakukan intervensi untuk mencegah penularan HIV ke anaknya. Kondisi lain yang memungkinkan diterapkannya strategi pemeriksaan secara paralel yaitu pada keadaan gawat darurat, kecelakaan kerja, dan kekerasan seksual.

14

Strategi pemeriksaan HIV menurut WHO Tujuan Pemeriksaan Keamanan transfusi dan transplantasi Surveillance Prevalensi infeksi HIV Semua prevalensi Strategi pemeriksaan I

>10% 10%

I II

Diagnosis 30%

Bergejala infeksiHIV/AIDS

>30%

I II

Tanpa gejala 10%

>10%

II III

Pada keadaan yang memenuhi dilakukannya strategi I, hanya dilakukan satu kali pemeriksaan. Bila hasil pemeriksaan reaktif, maka dianggap sebagai kasus terinfeksi HIV dan bila hasil pemeriksaan nonreaktif dianggap tidak terinfeksi HIV. Reagensia yang dipakai untuk pemeriksaan pada strategi ini harus memiliki sensitivitas yang tinggi (>99%).12 Strategi II menggunakan dua kali pemeriksaan jika serum pada pemeriksaan pertama memberikan hasil reaktif. Jika pada pemeriksaan pertama hasilnya nonreaktif, maka dilaporkan hasilnya negatif. Pemeriksaan pertama menggunakan reagensia dengan sensitivitas tertinggi dan pada pemeriksaan kedua dipakai reagensia yang lebih spesifik serta berbeda jenis antigen atau tekniknya dari yang dipakai pada pemeriksaan pertama. Bila hasil pemeriksaan kedua juga reaktif, maka disimpulkan sebagai terinfeksi HIV. Namun jika hasil pemeriksaan yang kedua adalah nonreaktif, maka pemeriksaan harus diulang dengan kedua metode. Bila hasil tetap tidak sama, maka dilaporkan sebagai indeterminate Strategi III menggunakan tiga kali pemeriksaan. Bila hasil pemeriksaan pertama, kedua, dan ketiga reaktif, maka dapat disimpulkan bahwa pasien tersebut memang terinfeksi HIV. Bila hasil pemeriksaan tidak sama, misalnya hasil tes pertama reaktif, tes kedua reaktif, dan tes ketiga nonreaktif, atau tes pertama reaktif, sementara tes kedua dan ketiga nonreaktif, maka keadaan ini disebut sebagai equivokal atau indeterminate bila pasien yang diperiksa memiliki riwayat pemaparan terhadap HIV atau berisiko tinggi tertular HIV. Sedangkan bila hasil seperti yang disebut sebelumnya terjadi pada orang tanpa riwayat pemaparan terhadap HIV atau tidak berisiko tertular HIV, maka hasil pemeriksaan dilaporkan sebagai nonreaktif. Perlu

15

diperhatikan juga bahwa pada pemeriksaan ketiga dipakai reagensia yang berbeda asal antigen atau tekniknya, serta memiliki spesifisitas yang lebih tinggi. Model Skrining Menurut UNAIDS/WHO terdapat empat jenis model skrining HIV, antara lain : 1. Pemeriksaan dan konseling HIV (voluntary counselling and testing) Pemeriksaan HIV yang didorong oleh kemauan klien untuk mengetahui status HIV-nya ini masih dianggap penting bagi keberhasilan program pencegahan HIV. Konseling pra tes dapat dilakukan secara individu maupun berkelompok. UNAIDS/WHO mendukung penggunaan uji cepat sehingga hasilnya dapat diketahui segera dan dapat ditindaklanjuti langsung dengan konseling pasca tes baik untuk yang HIV positif maupun HIV negatif. 2. Pemeriksaan HIV diagnostik, diindikasikan pada pasien dengan tanda dan gejala yang sejalan dengan penyakit-penyakit yang terkait HIV atau AIDS, termasuk pemeriksaan terhadap tuberkulosis sebagai pemeriksaan rutin.28 Pada pemeriksaan ini, pasien sebaiknya diberikan informasi yang cukup sehingga pasien dapat memutuskan apakah setuju untuk dilakukan pemeriksaan HIV atau tidak. Untuk keadaan di mana pasien tidak dalam posisi memberikan persetujuan, seperti pasien psikiatrik atau pasien yang tidak sadar, pemeriksaan dapat dilakukan bila hasilnya bermanfaat bagi pasien. Jika ini terjadi, harus ada usaha untuk mengkomunikasikan hasil pemeriksaan kepada pasien dan memberitahukan hasil tersebut dengan konseling.29 3. Pemeriksaan HIV dengan inisiatif dari tenaga kesehatan (Provider-Initiated Testing and Counseling -PITC) dilakukan pada pasien yang: - Sedang menjalani pemeriksaan terhadap penyakit menular seksual (PMS) di klinik umum atau khusus infeksi menular seksual (IMS).28, 70 - Sedang hamil, untuk mengatur pemberian antiretroviral untuk mencegah transmisi dari ibu ke bayi.28 - Dijumpai di klinik umum atau puskesmas di daerah dengan prevalens HIV yang tinggi dan tersedia obat antiretroviral, namun tidak memiliki gejala.28 Dalam model ini, dibutuhkan mekanisme rujukan yang jelas untuk mendukung sistem perujukan ke pelayanan konseling pascates HIV bagi semua pasien yang diperiksa, yang menekankan pada pencegahan dan pemberian dukungan medis serta psikososial bagi pasien yang hasil tesnya positif HIV. Pada pemeriksaan jenis ini, juga dilakukan konseling sebelum pemeriksaan, hanya saja tidak penuh seperti pada pemeriksaan jenis VCT di atas. Informasi minimal yang harus diketahui pasien pada saat melakukan informed consent adalah: - Manfaat pemeriksaan tersebut secara klinis dan untuk pencegahan. - Hak untuk menolak. - Pelayanan tindak lanjut yang ditawarkan. - Bila hasilnya positif, diberikan pemahaman untuk mengantisipasi keharusan untuk menginformasikan kepada siapa saja yang berisiko yang mungkin tidak sadar bahwa mereka terpajan dengan HIV. Pada pemeriksaan yang sifatnya ditawarkan oleh tenaga medis, misalnya untuk tujuan diagnosis, atau untuk mengetahui status HIV-nya. Selain itu tenaga medis juga dapat menawarkan pemeriksaan HIV kepada wanita hamil untuk memberikan profilaksis antiretroviral untuk mencegah transmisi HIV dari ibu ke bayi. Konseling pada situasi ini harus

16

diperbanyak agar bisa sedikit memaksa ibu untuk mengikuti program PMTCM. Meski demikian, dalam semua kondisi tersebut, pasien tetap memiliki hak untuk menolak.

4. Skrining HIV wajib UNAIDS/WHO mendukung diberlakukannya skrining wajib bagi HIV dan penyakit yang dapat ditransmisikan lewat darah bagi semua darah yang ditujukan untuk transfusi atau pengolahan produk darah lainnya. Skrining wajib dibutuhkan sebelum dilakukannya prosedur-prosedur yang berkaitan dengan pemindahan cairan atau jaringan tubuh, seperti inseminasi buatan, graft kornea, dan transplantasi organ. 2.5 Diagnosis Pada dasarnya pendekatan diagnosis infeksi HIV dilakukan dengan cara yang sama dengan penyakit lain melalui manifestasi klinik dan pemeriksaan penunjang. Namun cara ini hanya dapat dilakukan bila penderita sudah mempunyai gejala atau simtomatik. Pada keadaan tidak bergejala atau asimtomatik perlu dilakukan pemeriksaan anti HIV. Pemeriksaan anti HIV dilakukan bila terdapat perilaku yang beresiko terutama hubungan seksual yang tidak aman atau pengguna narkoba melalui suntik. Diagnosis infeksi HIV harus dilakukan dengan hati-hati karena dapat menimbulkan dampak yang besar pada orang yang di diagnosis.1 Adapun seorang dewasa dianggap menderita AIDS bila menunjukkan tes HIV positif dengan strategi pemeriksaan yang sesuai, dan sekurang-kurangnya didapatkan 2 gejala mayor dan 1 gejala minor. Dan gejala ini bukan disebabkan oleh keadaan-keadaan lain yang tidak berkaitan dengan infeksi HIV. Gejala mayor dan gejala minor yang dimaksud adalah seperti tertera pada Tabel. Tabel 1. Definisi AIDS pada orang dewasa (> 12 tahun) Gejala Mayor Berat badan turun > 10% dalam 1 bulan Diare kronik, berlangsung > 1 bulan Demam berkepanjangan > 1 bulan Penurunanan kesadaran Gangguan Neurologi Dimensia / Ensefalopati HIV Gejala Minor Batuk menetap > 1 bulan Dermatitis generalisata yang gatal Herpes Zooster berulang Kandidosis orofaring Herpes Simpleks kronis progresif Limfadenopati generalisata Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita

1. 2. 3. 4.

Langkah-langkah diagnosis yang perlu dilakukan diantaranya: Lakukan anamnesis gejala infeksi oportunistik dan kanker yang terkait dengan AIDS. Telusuri perilaku berisiko yang memungkinkan penularan. Pemeriksaan fisik untuk menari tanda infeksi oportunistik dan kaner terkait. Perhatikan perubahan kelenjar, pemeriksaan mulut, kulit dan funduskopi. Pemeriksaan Penunjang, cari jumlah limfosit total, antibody HIV dan foto Rontgen

17

Hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan tes terhadap antibody HIV ini yaitu adanya masa jendela atau Window Period. Masa Jendela adalah waktu sejak tubuh terinfeksi HIV sampai mulai timbulnya antibody yang dapat dideteksi dengan pemeriksaan. Antibody mulai terbentuk pada 4-8 minggu setelah infeksi. Pada masa ini, hasil tes HIV pada seseorang yang sebenarnya sudah terinfeksi HIV, dapat memberikan hasil yang negatif. Untuk itu, jika ada kecurigaan akan adanya risiko terinfeksi cukup tinggi, perlu dilakukan pemeriksaan ulangan 3 bulan kemudian.3 Diagnosis AIDS untuk kepentingan surveilans ditegakkan apabila terdapat infeksi oportunistik (Tabel 2) atau limfosit CD4+ kurang dari 200 sel/mm3. Tabel 2. Infeksi Oportunistik yang sesuai dengan Kriteria Diagnosis AIDS (1997)
2, 3

Infeksi Cytomegalovirus (CMV) selain hati, limpa, atau kelenjar getah bening CMV Mata (dengan penurunan fungsi penglihatan) Ensefalopati HIV Herpes Simpleks, ulkus kronik (>1 bulan), bronkitis, pneumonitis atau esofagitis Histoplasmosis, diseminata atu ekstraparu Isosporiasis, dengan diare kronik (>1 bulan) Kandidiasis bronkus, trakea, atau paru Kandidiasis esofagus Kanker serviks invasif Koksidiodomikosis, diseminata atu ekstraparu Kriptokokosis, ekstraparu Kriptosporidosis, dengan diare kronik (>1 bulan) Leukoensefalopati multifokal progresif Limfoma, Burkitt Limfoma, imunoblastik Limfoma, primer pada otak Mikobakterium avium kompleks atau M. Kansasii, diseminata atau ekstraparu Mikobakterium tuberkulosis, paru atau ekstraparu Mikobakterium, spesies lain atau spesies yang tidak dapat diidentifikasi, diseminata atau ekstraparu Pneumonia Pneumoncystis carinii Pneumonia rekuren Sarkoma Kaposi Septikemia Salmonella rekuren Toksoplasmosis otak Wasting Syndrome

Frekuensi (%) 7 5 0,9 0,1 16 0,6 0,3 5 1,3 1 0,7 5 2 38 5 7 0,3 4 18

18

Kriteria klasifikasi HIV menurut sistem WHO seperti tertera pada tabel.

Tabel 3. Klasifikasi Infeksi Oportunistik HIV berdasarkan WHO STAGE 1 Gejala Utama Sakit yang tidak khas Limfadenopaty yang asimptomatik (tidak dapat dikategorikan sebagai AIDS) Penurunan Berat Badan < 10% Manifestasi Mukokutaneus Infeksi Saluran Pernafasan Atas (berulang) Penurunan Berat Badan > 10% Diare Kronik tanpa sebab yang jelas > 1 bulan Demam > 1 bulan Kandidiasis Oral TB Paru TB Ekstrapulmonal Toksoplasmosis Ensefalopati Kandidiasis bronkus, trakhea, paru Sarkoma Karposi

2.6

Tatalaksana Untuk memulai terapi antiretroviral perlu dilakukan pemeriksaan jumlah CD4 (bila tersedia) dan penentuan stadium klinis infeksi HIV-nya. Hal tersebut adalah untuk menentukan apakah penderita sudah memenuhi syarat terapi antiretroviral atau belum. Berikut ini adalah rekomendasi cara memulai terapi ARV pada ODHA dewasa. a. Tidak tersedia pemeriksaan CD4 Dalam hal tidak tersedia pemeriksaan CD4, maka penentuan mulai terapi ARV adalah didasarkan pada penilaian klinis. b. Tersedia Pemeriksaan CD4 Rekomendasi : 1. Mulai terapi ARV pada semua pasien dengan jumlah CD4 <350 sel/mm3 tanpa memandang stadium klinisnya. 2. Terapi ARV dianjurkan pada semua pasien dengan TB aktif, ibu hamil dan koinfeksi Hepatitis B tanpa memandang jumlah CD4.

19

Tabel 3. Rekomendasi Saat Memulai ARV pada ODHA

Anjuran Pemberian Obat ARV Lini Pertama Mulailah terapi antiretroviral dengan salah satu dari paduan di bawah ini:

Tabel 4. Paduan Lini Pertama yang direkomendasikan pada orang yang belum pernah diterapi ARV

20

2.7

Komplikasi Berbagai gejala AIDS umumnya tidak akan terjadi pada orang-orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik. Kebanyakan kondisi tersebut akibat infeksi oleh bakteri, virus, fungi dan parasit, yang biasanya dikendalikan oleh unsur-unsur sistem kekebalan tubuh yang dirusak HIV. Infeksi oportunistik umum didapati pada penderita AIDS.[7] HIV memengaruhi hampir semua organ tubuh. Penderita AIDS juga berisiko lebih besar menderita kanker seperti sarkoma Kaposi, kanker leher rahim, dan kanker sistem kekebalan yang disebut limfoma. Biasanya penderita AIDS memiliki gejala infeksi sistemik; seperti demam, berkeringat (terutama pada malam hari), pembengkakan kelenjar, kedinginan, merasa lemah, serta penurunan berat badan.Infeksi oportunistik tertentu yang diderita pasien AIDS, juga tergantung pada tingkat kekerapan terjadinya infeksi tersebut di wilayah geografis tempat hidup pasien. Penyakit paru-paru utama

Foto sinar-X pneumonia pada paru-paru, disebabkan oleh Pneumocystis jirovecii.

Pneumonia pneumocystis (PCP) jarang dijumpai pada orang sehat yang memiliki kekebalan tubuh yang baik, tetapi umumnya dijumpai pada orang yang terinfeksi HIV. Penyebab penyakit ini adalah fungi Pneumocystis jirovecii. Sebelum adanya diagnosis, perawatan, dan tindakan pencegahan rutin yang efektif di negara-negara Barat, penyakit ini umumnya segera menyebabkan kematian. Di negara-negara berkembang, penyakit ini masih

21

merupakan indikasi pertama AIDS pada orang-orang yang belum dites, walaupun umumnya indikasi tersebut tidak muncul kecuali jika jumlah CD4 kurang dari 200 per L. Tuberkulosis (TBC) merupakan infeksi unik di antara infeksi-infeksi lainnya yang terkait HIV, karena dapat ditularkan kepada orang yang sehat (imunokompeten) melalui rute pernapasan (respirasi). Ia dapat dengan mudah ditangani bila telah diidentifikasi, dapat muncul pada stadium awal HIV, serta dapat dicegah melalui terapi pengobatan. Namun demikian, resistensi TBC terhadap berbagai obat merupakan masalah potensial pada penyakit ini. Meskipun munculnya penyakit ini di negara-negara Barat telah berkurang karena digunakannya terapi dengan pengamatan langsung dan metode terbaru lainnya, namun tidaklah demikian yang terjadi di negara-negara berkembang tempat HIV paling banyak ditemukan. Pada stadium awal infeksi HIV (jumlah CD4 >300 sel per L), TBC muncul sebagai penyakit paru-paru. Pada stadium lanjut infeksi HIV, ia sering muncul sebagai penyakit sistemik yang menyerang bagian tubuh lainnya (tuberkulosis ekstrapulmoner). Gejala-gejalanya biasanya bersifat tidak spesifik (konstitusional) dan tidak terbatasi pada satu tempat.TBC yang menyertai infeksi HIV sering menyerang sumsum tulang, tulang, saluran kemih dan saluran pencernaan, hati, kelenjar getah bening (nodus limfa regional), dan sistem syaraf pusat.Dengan demikian, gejala yang muncul mungkin lebih berkaitan dengan tempat munculnya penyakit ekstrapulmoner. Penyakit saluran pencernaan utama

Esofagitis adalah peradangan pada kerongkongan (esofagus), yaitu jalur makanan dari mulut ke lambung. Pada individu yang terinfeksi HIV, penyakit ini terjadi karena infeksi jamur (jamur kandidiasis) atau virus (herpes simpleks-1 atau virus sitomegalo). Ia pun dapat disebabkan oleh mikobakteria, meskipun kasusnya langka. Diare kronis yang tidak dapat dijelaskan pada infeksi HIV dapat terjadi karena berbagai penyebab; antara lain infeksi bakteri dan parasit yang umum (seperti Salmonella, Shigella, Listeria, Kampilobakter, dan Escherichia coli), serta infeksi oportunistik yang tidak umum dan virus (seperti kriptosporidiosis, mikrosporidiosis, Mycobacterium avium complex, dan virus sitomegalo (CMV) yang merupakan penyebab kolitis). Pada beberapa kasus, diare terjadi sebagai efek samping dari obat-obatan yang digunakan untuk menangani HIV, atau efek samping dari infeksi utama (primer) dari HIV itu sendiri. Selain itu, diare dapat juga merupakan efek samping dari antibiotik yang digunakan untuk menangani bakteri diare (misalnya pada Clostridium difficile). Pada stadium akhir infeksi HIV, diare diperkirakan merupakan petunjuk terjadinya perubahan cara saluran pencernaan menyerap nutrisi, serta mungkin merupakan komponen penting dalam sistem pembuangan yang berhubungan dengan HIV. Penyakit syaraf dan kejiwaan utama

Infeksi HIV dapat menimbulkan beragam kelainan tingkah laku karena gangguan pada syaraf (neuropsychiatric sequelae), yang disebabkan oleh infeksi organisma atas sistem syaraf yang telah menjadi rentan, atau sebagai akibat langsung dari penyakit itu sendiri. Toksoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit bersel-satu, yang disebut Toxoplasma gondii. Parasit ini biasanya menginfeksi otak dan menyebabkan radang otak akut (toksoplasma ensefalitis), namun ia juga dapat menginfeksi dan menyebabkan penyakit pada mata dan paru-paru.Meningitis kriptokokal adalah infeksi meninges (membran yang menutupi otak dan sumsum tulang belakang) oleh jamur Cryptococcus neoformans. Hal ini dapat menyebabkan demam, sakit kepala, lelah, mual, dan muntah. Pasien juga mungkin mengalami sawan dan kebingungan, yang jika tidak ditangani dapat mematikan.

22

Leukoensefalopati multifokal progresif adalah penyakit demielinasi, yaitu penyakit yang menghancurkan selubung syaraf (mielin) yang menutupi serabut sel syaraf (akson), sehingga merusak penghantaran impuls syaraf. Ia disebabkan oleh virus JC, yang 70% populasinya terdapat di tubuh manusia dalam kondisi laten, dan menyebabkan penyakit hanya ketika sistem kekebalan sangat lemah, sebagaimana yang terjadi pada pasien AIDS. Penyakit ini berkembang cepat (progresif) dan menyebar (multilokal), sehingga biasanya menyebabkan kematian dalam waktu sebulan setelah diagnosis. Kompleks demensia AIDS adalah penyakit penurunan kemampuan mental (demensia) yang terjadi karena menurunnya metabolisme sel otak (ensefalopati metabolik) yang disebabkan oleh infeksi HIV; dan didorong pula oleh terjadinya pengaktifan imun oleh makrofag dan mikroglia pada otak yang mengalami infeksi HIV, sehingga mengeluarkan neurotoksin.Kerusakan syaraf yang spesifik, tampak dalam bentuk ketidaknormalan kognitif, perilaku, dan motorik, yang muncul bertahun-tahun setelah infeksi HIV terjadi. Hal ini berhubungan dengan keadaan rendahnya jumlah sel T CD4+ dan tingginya muatan virus pada plasma darah. Angka kemunculannya (prevalensi) di negara-negara Barat adalah sekitar 10-20%,[18] namun di India hanya terjadi pada 1-2% pengidap infeksi HIV.Perbedaan ini mungkin terjadi karena adanya perbedaan subtipe HIV di India. Kanker dan tumor ganas (malignan)

Pasien dengan infeksi HIV pada dasarnya memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap terjadinya beberapa kanker. Hal ini karena infeksi oleh virus DNA penyebab mutasi genetik; yaitu terutama virus Epstein-Barr (EBV), virus herpes Sarkoma Kaposi (KSHV), dan virus papiloma manusia (HPV). Sarkoma Kaposi adalah tumor yang paling umum menyerang pasien yang terinfeksi HIV. Kemunculan tumor ini pada sejumlah pemuda homoseksual tahun 1981 adalah salah satu pertanda pertama wabah AIDS. Penyakit ini disebabkan oleh virus dari subfamili gammaherpesvirinae, yaitu virus herpes manusia-8 yang juga disebut virus herpes Sarkoma Kaposi (KSHV). Penyakit ini sering muncul di kulit dalam bentuk bintik keungu-unguan, tetapi dapat menyerang organ lain, terutama mulut, saluran pencernaan, dan paru-paru. Kanker getah bening tingkat tinggi (limfoma sel B) adalah kanker yang menyerang sel darah putih dan terkumpul dalam kelenjar getah bening, misalnya seperti limfoma Burkitt (Burkitts lymphoma) atau sejenisnya (Burkitts-like lymphoma), diffuse large B-cell lymphoma (DLBCL), dan limfoma sistem syaraf pusat primer, lebih sering muncul pada pasien yang terinfeksi HIV. Kanker ini seringkali merupakan perkiraan kondisi (prognosis) yang buruk. Pada beberapa kasus, limfoma adalah tanda utama AIDS. Limfoma ini sebagian besar disebabkan oleh virus Epstein-Barr atau virus herpes Sarkoma Kaposi. Kanker leher rahim pada wanita yang terkena HIV dianggap tanda utama AIDS. Kanker ini disebabkan oleh virus papiloma manusia.

23

Pasien yang terinfeksi HIV juga dapat terkena tumor lainnya, seperti limfoma Hodgkin, kanker usus besar bawah (rectum), dan kanker anus. Namun demikian, banyak tumor-tumor yang umum seperti kanker payudara dan kanker usus besar (colon), yang tidak meningkat kejadiannya pada pasien terinfeksi HIV. Di tempat-tempat dilakukannya terapi antiretrovirus yang sangat aktif (HAART) dalam menangani AIDS, kemunculan berbagai kanker yang berhubungan dengan AIDS menurun, namun pada saat yang sama kanker kemudian menjadi penyebab kematian yang paling umum pada pasien yang terinfeksi HIV Infeksi oportunistik lainnya Pasien AIDS biasanya menderita infeksi oportunistik dengan gejala tidak spesifik, terutama demam ringan dan kehilangan berat badan. Infeksi oportunistik ini termasuk infeksi Mycobacterium avium-intracellulare dan virus sitomegalo. Virus sitomegalo dapat menyebabkan gangguan radang pada usus besar (kolitis) seperti yang dijelaskan di atas, dan gangguan radang pada retina mata (retinitis sitomegalovirus), yang dapat menyebabkan kebutaan. Infeksi yang disebabkan oleh jamur Penicillium marneffei, atau disebut Penisiliosis, kini adalah infeksi oportunistik ketiga yang paling umum (setelah tuberkulosis dan kriptokokosis) pada orang yang positif HIV di daerah endemik Asia Tenggara

2.8

Pencegahan Program pencegahan penyebaran HIV dipusatkan terutama pada pendidikan masyarakat mengenai cara penularan HIV dengan tujuan merubah kebiasaan orang-orang yang beresiko tinggi untuk tertular. Cara-cara pencegahan ini adalah: 1. 2. 3. 4. Untuk orang sehat Abstinens (tidak melakukan hubungan seksual) Seks aman (terlindung) Untuk penderita HIV positif Abstinens Seks aman Tidak mendonorkan darah atau organ Mencegah kehamilan Memberitahu mitra seksualnya sebelum dan sesudah diketahui terinfeksi Untuk penyalahgunaan obat-obatan Menghentikan penggunaan suntikan bekas atau bersama-sama Mengikuti program rehabilitasi Untuk profesional kesehatan Menggunakan sarung tangan lateks pada setiap kontak dengan cairan tubuh Menggunakan jarum sekali pakai

LI 3. Memahami dan Menjelaskan Etika Terkait: 3.1 Dilema Etik dalam Penanganan Kasus HIV/AIDS Dilema Etik dalam Penanganan Kasus HIV/AIDS
24

Pada tahun 1990, World Health Organization (WHO) mengelompokkan berbagai infeksi dan kondisi AIDS dengan memperkenalkan sistem tahapan untuk pasien yang terinfeksi HIV. Stadium IV adalah stadium akhir dimana penderita HIV/ aids tidak dapat tertolong lagi nyawanya. Dan pada saat ini adalah puncaknya penderita HIV/AIDS mendapatkan stigma dan diskriminasi dari masyarakat. Seorang dokter memegang peranan penting dalam hal ini. Santunan dokter terhadap penderita HIV/AIDS merupakan penyemangat hidup bagi mereka. Dukungan tersebut bisa pula diperoleh penderita HIV/AIDS dari pihak lain dan lingkungan, seperti keluarga dan masyarakat. Namun , seorang dokter lebih paham akan menyikapi penderita HIV/AIDS agar tidak tertekan oleh stigma dan diskriminasi yang mereka peroleh dari masyarakat dan lingkungan yang tidak mengerti dan memahami akan keadaan penderita HIV/AIDS. Banyak metode yang dapat dilakukan oleh seorang dokter untuk menyikapi penderita HIV/AIDS yang sudah tidak dapat tertolong lagi nyawanya. Dari uraian diatas dr. Asrul Sani mengatakan, sampai saat ini biasanya AIDS berakhir dengan kematian Karena penyakit HIV/AIDS ini belum ditemukan obat medisnya, sehingga seseorang yang menderita HIV/AIDS tidak bisa di obati, namun hanya bisa di beri dukungan, saran, dan pengobatan alternatif umtuk mengindari penularan dan memberi semangat hidup kepada meraka. Sehingga mereka dapat melakukan aktifitasnya sebagaimana sebelumnya. Fenomena tersebut akan semakin menghilangkan potensi dan kesempatan yang dimiliki oleh Pengidap HIV/AIDS. Berbagai potensi (strength) yang dimiliki dalam proses pendidikan, pekerjaan dan kegiatan lain akan berangsur menurun. Selain itu berbagai kesempatan (opportunity) yang berupa dukungan keluarga, kesempatan pengembangan terkalahkan oleh adanya diskriminasi dan stigma tersebut. Seorang dokter mempunyai tanggung jawab besar dalam menghadapi pasien penderita HIV/AIDS. Dengan demikian dokter harus mampu menyikapi pasien penderita HIV/AIDS yang tidak dapat tertolong lagi dengan caranya sebagai dokter. Selain cara diatas, seorang dokter dapat menyikapi penderita HIV/AIDS dengan metode Appreciative Inquiry, merupakan suatu metode untuk memaksimalkan kekuatan (strength dan Opportunity) yang dimiliki oleh Pengidap HIV/AIDS. Metode ini lebih memfokuskan terhadap kekuatan dan terlepas dari berbagai kelemahan. Kelemahan yang dihadapi oleh Pengidap HIV/AIDS berupa diskriminasi, stigma, perasaan rendah diri dan sebagainya. Fenomena yang terjadi adalah sebagian besar seseorang khususnya Pengidap HIV/AIDS hanya berfokus pada kelemahan tersebut. Namun Appreciative Inquiry lebih menganjurkan agar setiap Pengidap HIV/AIDS lebih memfokuskan perhatian pada kekuatan yang dimiliki dan memaksimalkannya. Dengan demikian, hal ini akan membangun citra positif secara pribadi dan bermanfaat bagi lingkungan. Metode ini diharapkan mampu menjadikan Pengidap HIV/AIDS untuk menjalani hidup sebagaimana manusia seutuhnya. Tidak terlalu memikirkan penyakit yang dideritanya, karena seorang dokter selalu berusaha untuk mengarahkannya pada kekuatan dan kepribadian yang dimilkinya, sehingga penderita HIV/AIDS akan lebih percaya diri dan dapat beraktifitas sebagaimana sebelumnya. Selain itu dalam Buku PMI Pelatihan Remaja Sebaya tentang Kesehatan dan Kesejahteraan Remaja tertulis, seorang dokter harus bersikap biasa ( tanpa membedakan) seperti sikap terhadap orang sehat atau penderita penyakit lain. Seorang dokter harus dapat menghindari sikap membedakan, apalagi memusuhi, karena akan menyebabkan penderita tertekan. Karena penderita HIV/AIDS membutuhkan dukungan agar mereka memiliki kepercayaan diri dan mampu berbuat banyak bagi masyarakat, yaitu dengan membangkitkan kepercayaan mereka dan dokter dapat memberilah dukungan serta kasih sayang. Dokter harus mampu memberilah

25

pemahaman terhadap permasalahan yang mereka hadapi dan cara mengatasinya. Menasehati, agar jangan merasa tertekan secara berlebihan karena semua orang pasti diberi cobaan. Menurut dr.Lita, cara merawat penderita HIV dan AIDS itu pertama kita coba untuk membayangkan diri kita sendiri sebagai pengidap penyakit tersebut. Dengan mengetahui mana aktifitas yang berisiko menularkan HIV dan AIDS dan mana yang tidak, dapat memperlakukan penderita secara wajar,serta tetap harus memperhatikan prosedur P3K ketika melakukan perawatan kepada penderita. Berdasarkan cara cara dokter menyikapi Penderit HIV/AIDS diatas, seorang dokter tidak lupa pula akan etika, hukum dan hak asasi yang dimilki oleh penderita HIV/AIDS. Hak asasi dan hak kesehatan adalah yang utama diterapkan oleh seorang dokter terhadap pasien penderita HIV/AIDS. Walaupun kenyataannya penderita HIV/AIDS tidak ada obatnya dan tidak dapat tertolong nyawanya, atau biasanya berahir dengan kematian. Namun, kadua hak tersebut harus tetap diberikan oleh sorang dokter kepada pasien penderita HIV/AIDSnya. Menurut Herkutanto, ini dapat diterapkan melalui pelayanan kesehatan, baik pelayanan kesehatan individual maupun pelayanan kesehatan masyarakat. Namun, keduanya tidak dapat dilakukan secara bersamaan atau harus dibedakan, karena dapat saja menimbulkan konflik antara pemberi pelayanan kesehatan ( dokter ) dengan penerima pelayanan kesehatan (pasien penderita HIV/AIDS). Dari uraian pelayanan kesehatan diatas, dapat dilakukan dalam empat bentuk pelayanan kesehatan, yaitu dengan preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif. Namun,untuk perawatan penderita HIV/AIDS yang tidak dapat tertolong nyawanya seorang dokter cukup melakukannya dengan kegiatan preventif dan kuratif. Karena kegiatan preventif ini bertujuan untuk pencegahan penularan dan penyebaran HIV/AIDS dari penderita HIV/AIDS tersebut kepada masyarakat. Selain itu juga dilakukan interverensi oleh dokter kepada masyarakat untuk menghapus pandangan negatif terhadap pengidap HIV/AIDS. Terhadap penderita HIV/AIDS seorang dokter memberikannya edukasi agar tidak melakukan penularan kepada orang lain dan konseling agar merasa lebih berarti dalam kehidupanya. Sedangkan kegiatan kuratif disini bukanlah penyembuhan dalam arti kata sebenarnya, karena HIV/AIDS termasuk yang incureble. Namun, tindakan perawatan ini dilakukan di sarana kesehatan lebih bersifat care daripada curenya. Dikarenakan penyakit HIV/AIDS belum ada obatnya, maka seorang dokter dapat pula menerapkan suatu metode penanganan infeksi HIV/AIDS pada penderita HIV/AIDS, yaitu dengan Terapi Antiretrovirus yang sangat aktif. Terapi ini telah sangat bermanfaat bagi orangorang yang terinfeksi HIV sejak tahun 1996 yaitu setelah ditemukannya HAART (highly active antiretroviral therapy ) yang menggunakan protease inhibitor. Karena penyakit HIV lebih cepat perkembangannya pada anak-anak daripada pada orang dewasa, maka seorang dokter akan mempertimbangkan kuantitas beban virus, kecepatan serta kesiapan mental pasien, saat memilih waktu memulai perawatan awal. Tetapi terapi ini juga menimbulkan efek samping seperti penolakan insulin, peningkatan risiko sistem kardiovaskular, dan kelainan bawaan pada bayi yang dilahirkan. Terapi Antiretrovirus ini terbukti efektif menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat HIV/AIDS. Obat ini bekerja menghambat replikasi / perbanyakan virus HIV. Walaupun demikian obat ini tidak mampu membunuh HIV secara total dan berpotensi menimbulkan efek samping yang

26

berat dan pemakaiannya harus setiap hari seumur hidup. Jika kepatuhan penderita kurang maka dapat menyebabkan resistensi obat. Oleh karena terapi antiretrovirus dapat menimbulkan efek samping, maka sorang dokter dapat menyarankan kepada penderita HIV/AIDS untuk melakukan olahraga. Olahraga membantu banyak orang yang hidup dengan HIV/AIDS (Odha) untuk merasa lebih sehat dan mungkin memperkuat sistem kekebalan tubuh. Olahraga tidak dapat mengendalikan atau melawan penyakit HIV, tetapi dapat membantu kita merasa lebih sehat dan melawan berbagai dampak dari HIV dan efek samping obat-obatan yang dipakai oleh Odha tersebut. Olahraga dapat meningkatkan energi, melawan kelelahan dan depresi, meningkatkan daya tahan dan kesehatan kardiovaskular, membantu mengurangi stres dan mendorong kekuatan otot. Jadi seorang dokter harus mampu memberikan saran, dukungan, dan lain sebaginya agar seorang pasien penderita HIV AIDS mempunyai semangat hidup dan kepercayaan diri kembali. 3.2 Pasal-pasal KODEKI yang Berhubungan dengan Penanganan HIV/AIDS Menurut Permenkes RI No. 269 tentang rekam medis pasal 10 , hal yang harus diperhatikan bagi profesional MIK dalam pengelolaan informasi pasien adalah : 1. Informasi tentang identitas, diagnosis, riwayat penyakit, riwayat pemeriksaan dan riwayat pengobatan pasien harus dijaga kerahasiaannya oleh dokter, dokter gigi, tenaga kesehatan tertentu, petugas pengelola dan pimpina sarana pelayanan kesehatan 2. Informasi tentang identitas, diagnosis, riwayat penyakit, riwayat pemeriksaan dan riwayat pengobatan dapat dibuka dalam hal : 3. Untuk kepentingan kesehatan pasien; 1. Memenuhi permintaan aparatur penegak hukum dalam rangka penegakan hukum perintah pengadilan 2. Permintaan dan / atau persetujuan pasien sendiri; 3. Permintaan institusi atau lembaga berdasarkan ketentuan perundang-undangan dan; 4. Untuk kepentingan penelitian, pendidikan, dan audit medis, sepanjang tidak menyebutkan identitas pasien.

Pengelolaan informasi pasien HIV AIDS di tempat kerja juga diatur Menurut Kepmenaker No. KEP. 68/MEN/IV/2004 tentang pencegahan dan penanggulangan HIV AIDS : Pasal 6 Informasi yang diperoleh dari kegiatan konseling, tes HIV, pengobatan, perawatan dan kegiatan lainnya harus dijaga kerahasiaannya seperti yang berlaku bagi data rekam medis. Dalam kaitannya aspek hukum kerahasiaan pasien HIV AIDS , kode etik administrator perekam medis dan informasi kesehtan ( PORMIKI, 2006) adalah : 1. Selalu menyimpan dan menjaga data rekam medis serta informasi yang terkandung di dalamnya sesuai dengan ketentuan prosedur manajemen, ketetapan pimpinan institusi dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
27

2. Selalu menjunjung tinggi doktrin kerahasiaan dan hak atas informasi pasien yang terkait dengan identittas individu atau social. 3. Administrator informasi kesehtan wajib mencegah terjadinya tindakan yang menyimpang dari kode etik profesi. Perbuatan / tindakan yang bertentangan dengan kode etik adalah menyebarluaskan informasi yang terkandung dalam laporan rekam medis HIV AIDS yang dapat merusak citra profesi rekam administrator informasi kesehatan. Disisi lain rumah sakit sebagai institusi tempat dilaksanakannya pelayanan medis, memiliki Kode Etik Rumah Sakit ( Kodersi ) dalam kaitannya manajemen informasi kesehatan : Pasal 4 : Rumah sakit harus memelihara semua catatan / arsip, baik medik maupun non medik secara baik. Pasal 9 : Rumah sakit harus mengindahkan hak-hak asasi pasien Pasal 10: Rumah sakit harus memberikan penjelasan apa yang diderita pasien dan tindakan apa yang hendak dilakukan. Pasal 11: Rumah sakit harus meminta persetujuan pasien ( informed consent ) sebelum melakukan tindakan medik. Selain itu, kerahasiaan rekam medis diatur di dalam UU Praktik Kedokteran No. 29 Tahun 2004 pasal 47 ayat (2) sebagaimana disebutkan di atas. UU tersebut memang hanya menyebut dokter, dokter gigi dan pimpinan sarana yang wajib menyimpannya sebagai rahasia, namun PP No 10 tahun 1966 tentang wajib simpan rahasia kedokteran tetap mewajibkan seluruh tenaga kesehatan dan mereka yang sedang dalam pendidikan di sarana kesehatan untuk menjaga rahasia kedokteran. PP No 10 tahun 1966 Pasal 3 Yang diwajibkan menyimpan rahasia kedokteran adalah 1. Tenaga kesehatan menurut pasal 2 UU tentang tenaga kesehatan 2. Mahasiswa kedokteran , murid yang bertugas dalam lapangan pemeriksaan, pengobatan dan atau perawatan dan orang lain yang ditetapkan oleh menteri kesehatan pada waktu atau selama melakukan pekerjaannya dalam lapangan kedokteran. Dokter wajib menyimpan rahasia medis pasien. Hal ini berdasarkan KODEKI maupun kode etik petugas kesehatan Pasal 13 : Dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuninya tentang seorang penderita bahkan juga setelah meninggal dunia. Pelanggaran mengenai ketentuan wajib simpan rahasia kedokteran dapat dipidana dengan pasal 322 KUHP :

28

Barang siapa dengan sengaja membuka rahasia yang wajib disimpannya karena jabatan atau pencariaannya, baik yang sekarang maupun yang dahulu, diancam dengan pidana penjara paling lama 9 bulan atau denda paling banyak enam ratus rupiah. Tujuan dari rahasia kedokteran dalam kasus HIV AIDS, selain untuk kepentingan jabatan adalah untuk menghindarkan pasien dari hal-hal yang merugikan karena terbongkarnya status kesehatan. Menurut Declaration on the Rights of the Patients yang dikeluarkan oleh WMA memuat hak pasien terhadap kerahasiaan sbb: 1. Semua informasi yang teridentifikasi mengenai status kesehatan pasien, kondisi medis, diagnosis, prognosis, dan tindakan medis serta semua informasi lain yang sifatnya pribadi, harus dijaga kerahasiaannya, bahkan setelah kematian. Perkecualian untuk kerabat pasien mungkin mempunyai hak untuk mendapatkan informasi yang dapat memberitahukan mengenai resiko kesehatan mereka. 2. Informasi rahasia hanya boleh dibeberkan jika pasien memberikan ijin secara eksplisit atau memang bisa dapat diberikan secara hukum kepada penyedia layanan kesehatan lain hanya sebatas apa yang harus diketahui kecuali pasien telah mengijinkan secara eksplisit. 3. Semua data pasien harus dilindungi. Perlindungan terhadap data harus sesuai selama penyimpanan. Substansi manusia dimana data dapat diturunkan juga harus dilindungi. Dalam kasus dimana pasien tidak kompeten dalam membuat keputusan medis, orang lain harus diberi informasi mengenai pasien tersebut agar dapat mewakili pasien tersebut dalam membuat keputusan. Dokter secara rutin menginformasikan kepada anggota keluarga pasien yang sudah meninggal tentang penyebab kematian. Pembeberan terhadap kerahasiaan ini dibenarkan namun harus tetap dijaga seminimal mungkin, dan bagi siapa yang mendapatkan informasi rahasia tersebut harus dipastikan sadar untuk tidak mengatakannya lebih jauh lagi dari pada yang diperlukan untuk kebaikan pasien. Jika mungkin pasien harus diberitahu bahwa telah terjadi pembeberan. Alasan lain yang dapat diterima terhadap pembeberan kerahasiaan adalah untuk memenuhi tuntutan hukum. Jika dokter dibujuk untuk memenuhi tuntutan hukum untuk membuka informasi medis dokter harus melihat secara hati-hati dan kritis terhadap dengan pasien perlunya semua permintaan hukum untuk pembeberan kerahasiaan dan dari pasien. Contohnya bagi memastikan bahwa hal tersebut benar sebelum melakukannya. terlebih dahulu meminta ijin pasien sebelum yang berwenang dipanggil. Hal ini akan lebih baik jika memang akan ada intervensi lebih jauh. Terhadap kerahasiaan yang diminta oleh hukum, dokter mempunyai tugas etik untuk membagi informasi dengan orang yang mungkin berada dalam bahaya karena pasien tersebut. Dua keadaan dimana hal ini dapat terjadi adalah saat pasien mengatakan kepada psikiater bahwa dia berniat menyakiti orang lain dan saat dokter yakin bahwa pasien yang dihadapinya HIV Positif namun tetap meneruskan hubungan seks yang tidak aman dengan pasangannya atau dengan orang lain. Tuntutan terhadap pembeberan kerahasiaan yang tidak diminta oleh hukum namun harus tetap

29

dilakukan adalah saat dimana akan ada bahaya yang diyakini mengancam, serius dan tidak terbalikkan, tidak terhindarkan, kecuali dengan membeberkan informasi yang sebenarnya tidak boleh dibeberkan. Dalam kasus pasien HIV positif pembeberan informai kepada pasangan atau partner seksnya saat itu bukanlah sesuatu yang tidak etis, dan bahkan dibenarkan jika pasien tidak bersedia menginformasikannya kepada orang (orang-orang) tersebut bahwa dia (mereka) dalam resiko. Pembenaran dari pembeberan informasi haruslah berdasar: partner beresiko terinfeksi HIV namun tidak mengetahui kemungkinan terinfeksi; pasien menolak memberi tahu pasangan seksnya; pasien menolak bantuan dokter untuk melakukannya; dan dokter telah mengatakan kepada pasien untuk memberitahu pasangannya. Dokter harus mengungkapkan status penderita HIV pada anak, orangtua, pengasuh atau pasien itu sendiri. Perlu dilakukan konseling untuk mengatasi efek psikologis dan efek medis dari penyakit, termasuk didalamnya diskusi antara pasien dan konselor.Pasien harus melaporkan dan mengungkapkan mengenai penyakitnya baik kepada keluarga, teman, dan lainnya. Dalam kaitannya dengan pengungkapan informasi HIV AIDS terdapat 3 masalah etik, yaitu ; 1. Pelanggaran prinsip kebutuhan untuk mengetahui ( need-to-know principle ). 2. Penyalahgunaan surat persetujuan atau otorisasi yang tidak tertentu ( blanket authorization). 3. Pelanggaran privasi yang terjadi sebagai akibat dari prosedur pengungkapan sekunder ( secondary release ). Rekam medis bersifat rahasia. Pelepasan informasi pasien menular maupun HIV AIDS dapat diberikan dengan tetap memperhatikan tujuan maupun kegunaan dari pelepasan informasi tersebut. Hal ini sesuai dengan UU Praktik Kedokteran No. 29 Tahun 2004 memberikan peluang pengungkapan informasi kesehatan secara terbatas, yaitu dalam pasal 48 ayat (2): 1. 2. 3. 4. untuk kepentingan kesehatan pasien untuk memenuhi permintaan aparatur penegak hukum dalam rangka penegakan hukum permintaan pasien sendiri berdasarkan ketentuan undang-undang

Alasan lain yang diperbolehkan untuk membuka rahasia kedokteran adalah ( Dewi, 2008 Hal 257 ): 1. Keadaan memaksa

Hal ini diatur di dalam pasal 48 KUHP : Siapapun tak terpidana jika melakukan tindakan karena didorong oleh keadaan terpaksa.Keadaan ini dapat pula disebut overmatch yang oleh Prof. Moeliono terdapat dua pengertian ; Absolute Overmatch Seseorang dikatakan di dalam keadaan terpaksa apabila ia dihadapkan kepada kekerasan untuk tekanan jasmani atau rohani sedemikian, hingga ia kehilangan kehendak untuk melakukan suatu hal lain daripada satu-satunya tindak pidana yang merupakan pelanggaran hukum. Nisbi Overmatch
30

Keadaan memaksa timbul karena adanya tekanan rohani sehingga yang bersangkutan berbuat suatu hal yang pasti tidak akan diperbuatnya, jika keadaan terpaksa atau darurat tersebut tidak ada. 1. Perintah Jabatan Pasal 170 KUHP memberikan batasan terkait dengan perintah jabatan sebagai berikut : 1. Mereka yang karena pekerjaannya, harkat martabat atau jabatannya diwajibkan menyimpan rahasia, dapat dibebaskan dari kewajiban untuk memberi keterangan sebagai saksi, yaitu tentang hal yang dipercayakan kepada mereka. 2. Hakim menentukan sah atau tidaknya alasan untuk permintaan tersebut, maka pengadilan negeri yang memutuskan apakah alasan yang dikemukakan saksi atau saksi ahli untuk tidak berbicara iti, layak dan dapat diterima atau tidak, 3. Ketentuan Undang-Undang Pengecualian terhadap wajib simpan rahasia kedokteran juga berlak pada kondisi kondisi darurat seperti wabah dan bencana alam, kaitannya dalam masalah ini adalah wabah penyakit HIV AIDS. Seorang dokter maupun petugas kesehatan tidak boleh membiarkan bencana terjadi tanpa penanganan yang semestinya hal ini diatur dalam UU No 6 Tahun 1962 tentang wabah. Undang-undang ini mewajibkan dokter dan petugs kesehatan lainnya untuk segera melaporkan kondisi-kondisi luar biasa karena wabah penyakit dan penyebarannya, sehingga segera bisa ditanggulangi. Hal lain yang merupakan pengecualian wajib simpan rahasia kedokteran adalah ; 1. 2. 3. 4. Jika ada persetujuan dari pasien untuk dibuka informasi tersebut Jika dilakukan komunikasi dokter lain atau perawatlain dari pasien tersebut Jika informasi tersebut tidak tergolong ke dalam informasi yang sifatnta rahasia Tujuan dari komunukasi adlah pengobatan.

Sementara itu dokter dan petugas medis diperkenankan mebuka rahasia pasiennya secara terbatas kepada pihak tertentu asal memenuhi 3 syarat ( Dewi, 2008 Hal 264 ): 1. Syarat keterbatasan para pihak yang relevan saja. Misalnya kepada suami / Istri, pengadilan, pihak yang mungkin akan ketularan atau terpapar penyakit tersebut. 2. Syarat keterbatasan informasi, yakni hanya dibuka sejauh yang diperlukan saja. 3. Syarat keterbatasan persyaratan, yakni hanya dibuka informasi jika ada persyaratanpersyaratan tertentu saja seperti misalnya : 1. Ada resiko penularan penyakit 2. Secara medis informasi tersebut layak dibuka ( Fuady dalam Dewi, 2008 :264 ) Sedangkan pasal 12 Permenkes 749a menyatakan bahwa: pemaparan isi rekam medis hanya boleh dilakukan oleh dokter yang merawat pasien dengan ijin tertulis pasien. Pimpinan sarana pelayanan kesehatan dapat memaparkan isi rekam medis tanpa seijin pasien berdasarkan peraturan perundang-undangan.

31

Oleh karena pasien adalah pemilik isi rekam medis, maka sarana kesehatan dapat menyerahkan dengan lebih tidak ragu-ragu, yaitu dapat dalam bentuk fotokopi rekam medis ataupun dalam bentuk surat keterangan yang memuat resume perjalanan penyakit dan perawatannya selama di sarana kesehatan tersebut. Rekam medis asli hanya dapat dibawa keluar sarana kesehatan atas perintah pengadilan. Sedangkan kepada pihak ketiga, setelah memperoleh persetujuan pasien, informasi yang disampaikan harus memenuhi prinsip need to know, yaitu minimal tapi mencukupi, relevan dan akurat. Di bidang keamanan rekam medis, Permenkes No 749a/MENKES/ PER/XII/1989 menyatakan dalam pasal 13, bahwa pimpinan sarana kesehatan bertanggungjawab atas (a) hilangnya, rusaknya, atau pemalsuan rekam medis, (b) penggunaan oleh orang / Badan yang tidak berhak. Menurut dr. Tonang Sebenarnyalah secara yuridis tidak berhak membuka/mengetahui medicalrecord. itu hak pasien dan/atau keluarga terdekatnya yang memiliki kuasa. Rekam medis bisa dibuka / diketahui bila : 1. 2. Pasien/keluarga memberikan kuasa kepada saya secara tertulis Saya adalah bagian dari Tim dokter yang merawat pasien tersebut, atau mendapatkan kuasa dari dokter / RS yang merawatnya untuk suatu tujuan tertentu yang rasional dan layak dipertanggung jawabkan (termasuk untuk urusan pendidikan, penelitian dan kepentingan managerial RS). Karena perintah pengadilan, saya ditugasi menjadi saksi ahli Dengan semakin banyaknya pengidap AIDS yang hidup dalam jangka waktu yang lebih lama, semakin banyak pula ditemukan kasus-kasus di pengadilan yang berkaitan dengan AIDS.

3.

Kepercayaan merupakan standar legal dan etis dari kerahasiaan dimana profesi kesehatan harus menjaganya. Tanpa pemahaman bahwa pembeberan tersebut akan selalu dijaga kerahasiaannya, pasien mungkin akan menahan informasi pribadi yang dapat mempersulit dokter dalam usahanya memberikan intervensi efektif atau dalam mencapai tujuan kesehatan publiktertentu. Ada banyak kesulitan yang timbul didalam menjaga kerahasiaan informasi pasien yang sensitif HIV AIDS terutama pada masyarakat Timur yang memiliki kecenderungan untuk berbagi informasi. Namun dengan sosialiasi dan penanganan yang baik petugas kesehatan dan medis diharapkan dapat memberikan pengertian terutama pada mereka yang tingkat pendidikannya rendah.

LI 4. Memahami dan Menjelaskan Pandangan Islam terhadap Penderita HIV/AIDS

MASALAH-MASALAH YANG BERKAITAN DENGAN PENDERITA HIV/AIDS: I. Sikap Islam terhadap HIV/AIDS HIV/AIDS adalah penyakit menular yang sangat berbahaya dimana ia telah mengancam eksistensi manusia di dunia dan dapat menimpa siapa saja tanpa memandang jenis umur dan profesi. Karenanya, HIV/AIDS dinilai sebagai al-dharat al-amm (bahaya global).

32

II. Eutanasia Eutanasia tidak dibenarkan atas penderita AIDS, baik eutanasia pasif maupun aktif. Sebagai dalildalilnya adalah 1. Hidup dan mati adalah ditangan Tuhan. Firman Allah SWT :

" (Allah ) yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya" (Al-Mulk :2) 2. Islam melarang bunuh diri dan membunuh orang lain kecuali dengan hak Firman Allah :

"Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar" (Al-Ann'am : 151). 3. Islam memerintahkan untuk berobat dan melarang putus asa. Sabda Rasulullah SAW : "Hai hamba-hamba Allah ! berobatlah ! sesungguhnya Allah SWT tidak menciptakan penyakit, kecuali diciptakannya pula obat penyembuhnya, kecuali lanjut usia" 4. Islam memerintahkan untuk sabar dan tawakkal menghadapi musibah. Firman Allah SWT:

"Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)". (Luqman:17) 5. Islam memerintahkan banyak istighfar dan berdo'a Firman Allah SWT

"Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri (seperti zina, riba) mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah ? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahuinya". ( Ali Imran:135).

33

6. Memakai dalil maslahat untuk membenarkan eutanasia tidak tepat, karena diantara syarat penggunaan maslahat itu sebagai dalil Syar'I tidak boleh bertentangan dengan nash. 7. Penggunaan qiyas yakni mengqiyaskan penderita HIV/AIDS dengan wanita hamil yang kandungannya membahayakan jiwa calon ibu karena sama daruratnya, adalah tidak tepat, karena bagi penderita HIV/AIDS belum memenuhi keadaan darurat untuk tindakan eutanasia . III. Menularkan HIV/AIDS Menularkan HIV/AIDS hukumnya haram. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah SAW "Tidak boleh membahayakan diri sendiri, dan tidak boleh membahayakan orang lain"

IV. Perkawinan penderita HIV/AIDS 1. Perkawinan antara seorang yang menderita HIV/AIDS dengan rang yang tidak menderita HIV/AIDS : a. Apabila HIV/AIDS itu dianggap sebagai penyakit yang tidak dapat disembuhkan (maradh daim), maka hukum., Tersebut dalam Kifayah Al-Akhyar III halaman 38 Sbb :"Keadaan kedua yaitu lakilaki yang mempunyai biaya perkawinan, namun ia tidak perlu nikah, baik kerena tidak mampunya melakukan hubungan seksual sebab kemaluannya putus atau impoten maupun karena sakit kronis dan lain sebagainya. Laki - laki seperti ini juga makruh menikah". b. Apabila HIV/AIDS itu selain dianggap sebagai penyakit yang sulit disembuhkan (maradh daim), juga diyakini membahayakan orang lain (tayaqqun al-idhrar), maka haram. Tersebut dalam Al-Fiqh al-Islamy wa Adilatuhu, VII halaman 83: "Apabila laki-laki yang akan kawin yakin bahwa perkawinannya akan menzalimi dan menimpakan kemudharatan atas perempuan yang akan dikawininya, maka hukum perkawinannya itu adalah haram". Sabda Rasulullah "Adapun laki-laki yang tidak mempunyai kemampuan pada segi biaya pernikahan dan kewajiban-kewajibannya, hendaklah puasa, karena puasa dapat memutus keinginannya kepada menikah". 2. Perkawinan antara dua orang (laki-laki dan wanita) yang sama-sama menderita HIV/AIDS hukumnya boleh. V. Fasah Perkawinan Karena HIV/AIDS

34

Penyakit HIV/AIDS dapat dijadikan alasan untuk menuntuk perceraian, apabila salah satu dari suami-isteri menderita penyakit : 1. Tersebut dalam al-majmu' XVI halaman 265-266 : " Apabila suami mendapatkan isternya gila atau menderita penyakit kusta (lepra) atau baros atau rutqa' (kemaluannya tertutup) atau qarna' (pada kemaluannya terdapat daging) sehingga mencegah persetubuhan, maka ia (pihak suami) mempunyai hak memilih fasakh". 2. Undang-undang No. 1 tahun 1974, pasal 39 bagian penjelasan 3. PP No. 9 tahun 1975 pasal 19 4. Kompilasi Hukum Islam.

VI.

Melanjutkan Perkawinan Bagi Pasangan Suami - Isteri Penderita HIV/AIDS

Apabila pasangan suami-isteri atau salah satunya menderita HIV/AIDS, maka mereka boleh bersepakat untuk meneruskan perkawinan mereka dalilnya adalah Hadis Nabi SAW : Sebagai dasar adalah sebagai berikut : "Orang - orang islam terikat denga perjanjian mereka, kecuali perjanjian yang menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal".

VII.

Memakai Alat Pencegah Penularan HIV/AIDS Dalam Hubngan Seksual

Suami atau isteri yang menderita HIV/AIDS dalam melakukan hubungan seksual wajib menggunakan alat, obat atau metode yang dapat mencegah penularan HIV/AIDS. Sabda Rasulullah SAW : "Tidak boleh membahayakan diri sendiri, dan tidak boleh membahayakan orang lain". Disamping itu suami atau isteri yang menderita HIV/AIDS seyogyanya berusaha untuk tidak memperoleh keturunan. VIII. Pengguguran Janin Bagi Ibu yang Menderita HIV/AIDS Apabila seorang Ibu menderita HIV/AIDS hamil maka ia tidak boleh menggurkan kandungannya. Dalilnya ialah firman Allah SWT :

"Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan" (Al Israa' 31). IX. Wanita Penderita HIV/AIDS yang Hamil karena Berzina

35

Wanita penderita HIV/AIDS yang hamil karena berzina perlu dirawat dengan baik dalam rangka menyadarkan dirinya untuk bertobat.

"Dan sungguh kami telah memuliakan anak cucu adam". (Al Israa' :70) X. Pengurusan Jenzah Penderita HIV/AIDS

Penderita HIV/AIDS yang meninggal dunia wajib diurus sebagaimana layaknya jenazah (dimandikan, dikafani, disholati dan dikuburkan). Cara memandikannya hendaknya mengikuti petunjuk Departemen Kesehatan tentang pengurusan jenazah tidak dapat dimandikan seperti termaktub dalam petunjuk Departemen Kesehatan, mayat tersebut tetap dimandikan sedapat mungkin dengan cara menyemprotkan air.

DAFTAR PUSTAKA
Baratawidjaja, K.G., 2011. Imunologi Dasar. Jakarta: FK UI. Anastasya, G., 2008. Karakteristik Penderita HIV/AIDS di Pusat Pelayanan Khusus (Pusyansus)Klinik Voluntary Counceling and Testing (VCT) RSUP Haji Adam Malik Medan Tahun 2006-2007. Medan: USU Digital Library. Available from http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/16364 Corwin, Elizabeth J. 2000. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC. Phair, John P. dan Ellen G. Chadwick. 1994. Dasar Biologis Dan Klinis Penyakit Infeksi ed.IV. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. http://www.depkes.go.id/. Fakta Tentang HIV dan AIDS ------, HIV/AIDS. Available from : http://www.fpnotebook.com/HIV51.htm. Accessed March 18th, 2006 http://www.aidsindonesia.or.id/dasar-hiv-aids/pencegahan http://www.heart-intl.net/HEART/102504/TuntunanSyari%27at.htm http://hivaidsclinic.wordpress.com/2012/11/30/diagnosis-dan-pemeriksaan-laboratorium-hiv-aids/

36