Anda di halaman 1dari 34

7

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Beban Linear
Beban linear adalah beban yang impedansinya selalu konstan sehingga arus
selalu berbanding lurus dengan tegangan setiap waktu [3]. Beban linear ini mematuhi
Hukum Ohm yang menyatakan bahwa arus berbanding lurus dengan tegangan.
Gelombang arus yang dihasilkan oleh beban linear akan sama dengan bentuk
gelombang tegangan. Apabila diberi tegangan sinusoidal, maka arus yang mengalir
ke beban linear juga merupakan sinusoidal sehingga tidak terjadi distorsi dan tidak
menimbulkan harmonisa. Beban ini berupa elemen pasif seperti resistor, komputer
dan kapasitor. Beberapa contoh beban linear adalah lampu pijar, pemanas, resistor,
dan lain-lain. Gambar 2.1 berikut adalah contoh bentuk gelombang arus dan tegangan
dengan beban linear [3].
Tegangan
Arus

Gambar 2.1 : Bentuk gelombang arus dan tegangan dengan beban linear
8

2.2 Beban Non Linear
Beban non linear adalah beban yang impedansinya tidak konstan dalam setiap
periode tegangan masukan. Dengan impedansinya yang tidak konstan, maka arus
yang dihasilkan tidaklah berbanding lurus dengan tegangan yang diberikan, sehingga
beban non linear tidaklah mematuhi Hukum Ohm yang menyatakan arus berbanding
lurus dengan tegangan [3].
Gelombang arus yang dihasilkan oleh beban nonlinear tidak sama dengan
bentuk gelombang tegangan sehingga terjadi cacat (distorsi). Dengan meluasnya
pemakaian beban non linear, gelombang sinusoidal ini dapat mengalami distorsi.
Gambar 2.2 berikut ini adalah beberapa contoh beban non linear untuk
keperluan rumah tangga maupun industri [4].
Beban Non Linier
Peralatan
dengan
Ferromagnetik
Peralatan yang
menggunakan
busur api listrik
Konverter
Elektronik
Transformator
Balast Magnetik
Motor Induksi, dll
Mesin Las
Electric Arc Furnace
Induction Furnace
Penyearah (Rectifier)
Charger
Balast elektronik

Gambar 2.2 : Jenis beban non linear
9

Gambar 2.3 berikut adalah contoh bentuk gelombang tegangan dan arus dengan
beban non linear.

Gambar 2.3 : Gelombang tegangan dan arus beban non linear

Kecendrungan penggunaan beban-beban elektronika dalam jumlah besar akan
menimbulkan masalah yang tidak terelakkan sebelumnya. Berbeda dengan beban-
beban listrik yang menarik arus sinusoidal (sebentuk dengan tegangan yang
mensuplainya), beban-beban elektronik menarik arus dengan bentuk non sinusoidal
walaupun disupalai oleh tegangan sinusoidal. Beban yang memiliki sifat ini disebut
sebagai beban non linear [5].


Beban non linear adalah peralatan yang menghasilkan gelombang-gelombang
arus yang berbentuk sinusoidal berfrekuensi tinggi yang disebut dengan arus
harmonisa. Arus harmonisa ini menimbulkan banyak implikasi pada peralatan sistem
tenaga listrik. Misal rugi-rugi jaringan akan meningkat, pemanasan yang tinggi pada
kapasitor, transformator, dan pada mesin-mesin listrik yang berputar serta kesalahan
pada pembacaan alat ukur RMS.

10

2.3 Harmonisa
Harmonisa adalah suatu gelombang sinusoidal tegangan atau arus yang
berfrekuensi tinggi dimana frekuensinya merupakan kelipatan diluar bilangan satu
terhadap frekuensi fundamental (frekuensi 50 Hz atau 60 Hz). Nilai frekuensi dari
gelombang harmonisa yang terbentuk merupakan hasil kali antara frekuensi
fundamental dengan bilangan harmonisanya (f, 2f, 3f, dst). Bentuk gelombang yang
terdistorsi merupakan penjumlahan dari gelombang fundamental dan gelombang
harmonisa (h
1
, h
2
, dan seterusnya) pada frekuensi kelipatannya. Makin banyak
gelombang harmonisa yang diikutsertakan pada gelombang fundamentalnya, maka
gelombang akan semakin mendekati gelombang persegi atau gelombang akan
berbentuk non sinusoidal. Jika frekuensi fundamental suatu sistem tenaga listrik
adalah f
0
(50 Hz atau 60 Hz) maka frekuensi harmonisa orde ke-n adalah : n. f
0
Harmonisa yang mendistorsi gelombang sinus fundamental dapat terdiri dari
beberapa komponen harmonisa, yaitu misalnya harmonisa ke-1, ke-2, ke-3, dan
seterusnya. Harmonisa ke-3 artinya harmonisa yang mempunyai frekuensi tiga kali
dari frekuensi fundamentalnya. Jadi, bila frekuensi fundamental 50 Hz, maka
harmonisa ke-3 mempunyai frekuensi 150 Hz atau dapat dituliskan dengan
persamaan [3]:
f
n
= n x f
0
.......................................................

(2.1)
Dimana : n adalah bilangan bulat positif
f0 adalah frekuensi Fundamental
11

Gelombang harmonisa tersebut menumpang pada gelombang fundamental
sehingga berbentuk gelombang cacat yang merupakan jumlah antara gelombang
fundamental sesaat dengan gelombang harmonisa.
Gelombang tegangan fundamental mempunyai frekuensi f
0
, harmonisa ke-dua
mempunyai frekuensi 2f
0
, harmonisa ke-tiga mempunyai frekuensi 3f
0
dan harmonisa
ke-h mempunyai frekuensi hf
0
. Pada Gambar 2.4 di bawah ini dapat dilihat bentuk
gelombang tegangan fundamental dan harmonisa ke-3 [6].


Gambar 2.4 : Gelombang tegangan fundamental dan harmonisa ke-3

12

Jika gelombang tegangan fundamental dijumlahkan dengan harmonisa ke-3
akan diperoleh bentuk gelombang tegangan yang non sinusoidal, seperti ditunjukkan
pada Gambar 2.5 di bawah ini.


Gambar 2.5 : Gelombang tegangan fundamental, harmonisa ke-3, dan hasil
penjumlahannya

2.4 Distorsi Harmonisa
Pengertian distorsi secara umum adalah perubahan dalam bentuk gelombang
yang terjadi. Salah satu distorsi yang terjadi pada sistem tenaga listrik adalah distorsi
harmonisa. Distorsi harmonisa disebabkan oleh beban-beban nonlinear dalam sistem
tenaga listrik. Gelombang arus yang mengandung komponen harmonisa disebut arus
yang terdistorsi.
13

Dalam pengukuran harmonisa ada beberapa petunjuk penting yang harus
dipahami, yaitu Individual Harmonic Distortion (IHD) dan Total Harmonic
Distortion (THD).
Individual harmonic distortion (IHD) adalah perbandingan antara nilai rms dari
individual harmonisa terhadap nilai rms fundamentalnya [6]. IHD ini berlaku untuk
tegangan dan arus.

.........(2.2)
Misalnya, asumsikan bahwa nilai rms harmonisa ketiganya pada beban nonlinear
adalah 20 A, nilai harmonisa kelimanya adalah 10 A dan nilai fundamentalnya adalah
60 A, maka nilai distorsi arus individual pada harmonisa ketiga adalah:
% 3 , 33 333 , 0
60
20
3
= = = IHD

Dan nilai distorsi arus individual pada harmonisa kelima adalah
% 66 , 16 166 . 0
60
10
5
= = = IHD
Berdasarkan pengertian di atas, nilai IHD
1
adalah selalu 100%. Metode
perhitungan harmonisa ini dikenal sebagai distorsi harmonisa yang berdasarkan pada
nilai fundamentalnya. Perhitungan ini digunakan oleh Institute of Electrical and
Electronic Engineers (IEEE).
Total Harmonic Distortion (THD) adalah perbandingan antara nilai rms dari
seluruh komponen harmonisa terhadap nilai rms nilai fundamentalnya. Sebagai
14

contoh, jika arus non linear mempunyai komponen fundamental I
1
dan komponen
harmonisanya I
2
, I
3
, I
4
, I
5
, I
6
, I
7
, ....., maka nilai rms harmonisanya adalah:

..................... (2.3)
Dengan demikian Total Harmonic Distortion (THD) dapat dinyatakan seperti
persamaan (2.3) [6]:

.................................................. (2.4)
Atau besar THD dapat juga dinyatakan dengan persamaan (2.4) :

% 100 THD
1
2
2
x
n
n
n
X
X
=

=
=

........................................(2.5)
Dimana :
THD = Total Harmonic Distortion (%)
Xn = Nilai RMS dari arus atau tegangan harmonisa ke-n
X1 = Nilai RMS dari arus atau tegangan pada frekuensi dasar
(fundamental)
Indeks THD ini digunakan untuk mengukur besarnya penyimpangan dari
bentuk gelombang periodik yang mengandung harmonisa dari gelombang sinusiodal
murninya. Untuk gelombang sinusoidal sempurna nilai dari THD adalah bernilai 0%.
Harmonisa terdiri dari distorsi harmonisa arus (THD
I
) dan distorsi harmonisa
15

tegangan (THDv). Distorsi harmonisa arus terjadi akibat dari pemakaian beban yang
tidak linear (non linear) pada pengguna tenaga listrik. Sedangkan distorsi harmonisa
tegangan terjadi karena adanya harmonisa arus yang melewati impedansi di sisi
beban, seperti Gambar 2.6 berikut:
A
VA
Pembangkit
Vs
Impedansi Saluran (Z)
Beban Linier
Beban Non linier
I

Gambar 2.6 : Harmonisa arus mengalir melalui impedansi sistem


Persamaan untuk menentukan THD tegangan dan THD arus adalah [3] :
THD
V
=

................. (2.6)
THD
I
=

.............. (2.7)
Dimana;
V
n
; I
n
= komponen harmonisa
16

V
1
; I
1
= komponen fundamental
THD = Total Harmonic Distortion
n = orde harmonisa
Total Harmonic Distortion (THD) yang juga dikenal sebagai Harmonic
Distortion Factor adalah indeks untuk mengukur level distorsi harmonisa.

2.5 Standar Distorsi Harmonisa
Standar harmonisa yang digunakan pada penelitian ini adalah standar dari IEEE
519-1992. Ada dua kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi distorsi harmonisa
yaitu batas harmonisa untuk arus (THD
I
) dan batas harmonisa untuk tegangan
(THD
V
). Batas untuk harmonisa arus ditentukan oleh perbandingan

. I
SC
adalah
arus hubung singkat yang ada pada PCC (Point of Common Coupling = titik sambung
bersama), sedangkan I
L
adalah arus beban fundamental. Batas distorsi arus yang
diakibatkan harmonisa yang diijinkan oleh IEEE 519-1992 ditunjukkan pada Tabel
2.1 berikut ini.
Tabel 2.1 : Batas distorsi arus yang diakibatkan harmonisa menurut
IEEE 519-1992 [7]
I
SC
/I
L
n<11 11n<17 17n<23 23n<35 n35 THD
<20 4.0% 2.0% 1.5% 0.6% 0.3% 5.0%
20-50 7.0% 3.5% 2.5% 1.0% 0.5% 8.0%
50-100 10.0% 4.5% 4.0% 1.5% 0.7% 12.0%
100-1000 12.0% 5.5% 5.0% 2.0% 1.0% 15.0%
17

>1000 15.0% 7.0% 6.0% 2.5% 1.4% 20.0%
Untuk batas harmonisa tegangan ditentukan dari besarnya tegangan sistem
yang terpasang atau dipakai. Batas distorsi tegangan yang diakibatkan harmonisa
yang diijinkan oleh IEEE 519-1992 ditunjukkan pada Tabel 2.2 berikut ini.
Tabel 2.2 : Batas distorsi tegangan yang diakibatkan harmonisa menurut
IEEE 519-1992 [7]

Tegangan Bus Pada PCC Individual Harmonik THD
69 kV dan dibawah 3.0% 5.0%
69.001 kV-161 kV 1.5% 2.5%
Diatas 161 kV 1.0% 1.5%

2.6 Pengaruh Harmonisa Dalam Sistem Tenaga Listrik
Ada beberapa akibat yang ditimbulkan oleh adanya harmonisa dalam sistem
tenaga listrik, antara lain adalah:

1. Dengan adanya harmonisa akan meningkatkan nilai efektif (RMS) arus
listrik, sehingga rugi-rugi tembaga (I
2
R) juga semakin meningkat.

2. Dengan adanya harmonisa yang berfrekuensi lebih tinggi, akan
meningkatkan rugi-rugi inti (histeresis dan arus pusar) pada mesin-mesin
listrik (misalnya transformator).


3. Harmonisa akan meningkatkan nilai efektif tegangan sehingga akan
meningkatkan kerapatan medan magnet pada inti besi yang juga akan
meningkatkan rugi-rugi inti (transformator).
18



4. Dengan meningkatnya rugi-rugi pada poin pertama sampai dengan poin
ketiga di atas, suhu kerja peralatan juga semakin tinggi dan pada akhirnya
akan mengurangi umur peralatan. Selain itu, meningkatnya rugi-rugi akan
menurunkan efisiensi peralatan.

5. Tegangan efektif yang meningkat akibat adanya harmonisa ini juga akan
meningkatkan kuat medan listrik yang dipikul oleh isolasi peralatan.
6. Menimbulkan panas yang berlebih pada isolasi kapasitor.
7. Dengan adanya harmonisa, efek kulit (skin effect) akan meningkat pada
kabel sehingga menaikkan resistansi AC (Rac) yang dapat meningkatkan
rugi-rugi.
8. Alat proteksi tidak bekerja secara tepat. Sekring dapat bekerja pada arus di
bawah nominalnya, relai bisa bekerja pada selang waktu yang lebih cepat
ataupun lebih lambat dibanding dengan waktu yang diharapkan ketika
bekerja pada frekuensi fundamental. Oleh karena itu, dalam merencanakan
alat proteksi, faktor harmonisa harus juga diperhitungkan.
9. Menimbulkan kesalahan pengukuran pada alat ukur.
10. Menimbulkan interfrensi pada saluran komunikasi radio, telepon, PLC
(Power Line Carrier) melalui kopling induktif.
11. Memperburuk faktor daya.


19

Pada Tabel 2.3 dapat dilihat dampak harmonisa pada berbagai peralatan
sistem tenaga listrik.
Tabel 2.3 : Dampak harmonisa pada berbagai peralatan sistem tenaga listrik [8]
Peralatan Dampak Harmonisa Hasil
Konduktor Peningkatan daya nyata yang
diserap oleh konduktor
Rugi-rugi jaringan
Meningkat
Kapasitor Penyusutan impedansi kapasitor
dengan meningkatnya frekuensi
Reaktansi induktif sama dengan
reaktansi kapasitif sehingga
terjadi resonansi
Pemanasan pada
kapasitor
Rugi-rugi dielektrik
meningkat
Menambah thermal
Stress
Transformator Harmonisa tegangan
menyebabkan tegangan
transformator meningkat
dan penekanan pada isolasi
Pemanasan pada
transformator
Mengurangi Umur
Operasi
Daya Mampu
Menurun
Arus netral meningkat
Relay Penambahan komponen torsi
Karakteristik waktu tunda relay
berubah
Kesalahan pembacaan
Kesalahan trip dari
Relay
Mesin Berputar Peningkatan rugi-rugi
Harmonisa tegangan
menghasilkan medan magnet
berputar pada kecepatan sesuai
frekuensi harmonisa
Pemanasan pada mesin
berputar
Menambah thermal
Stress
Mengurangi Umur
Operasi
Mengurangi effisiensi
Getaran mekanik dan
bising
Peningkatan rugi-rugi
inti dan tembaga pada
kumparan stator dan
rotor
20

Alat Ukur
Elektromekanik
Harmonisa menghasilkan
penambahan torsi pada piringan
yang dapat menyebabkan
operasi tidak sesuai karena
peralatan dikalibrasi pada
frekuensi dasarnya
Kesalahan pembacaan
Jaringan
Telekomunikasi
harmonisa arus dan tegangan
dapat menghasilkan kopling
induktif yang akan merusak
kinerja sistem komunikasi
Menimbulkan
interfrensi pada
saluran komunikasi
radio, telepon


2.7 Deret Fourier
Karakteristik harmonisa dapat direpresentasikan dengan deret Fourier. Bentuk
gelombang : f (t) = f (t + T) yang dapat dinyatakan oleh sebuah deret Fourier bila
memenuhi persyaratan :
Bila gelombang discontinue, hanya terdapat jumlah diskontinuitas yang
terbatas dalam periode T.
Gelombang memiliki nilai rata-rata yang terbatas dalam periode T.
Gelombang memiliki jumlah maksimum dan minimum yang terbatas dalam
periode T.
Bila syarat-syarat tersebut dipenuhi, deret Fourier dapat dinyatakan dalam
bentuk:

......... (2.8)


21

Deret Fourier dapat diaplikasikan untuk persamaan tegangan dan arus
harmonisa sebagai berikut [9].

.................................. (2.9)

............................... (2.10)


Bagian DC (V
0
dan I
0
) biasanya diabaikan untuk menyederhanakan
perhitungan, sedangkan V
n
dan I
n
adalah nilai RMS untuk harmonisa orde ke-n pada
masing-masing tegangan dan arus.

2.8 Nilai RMS (Root Mean Square)
Dalam matematika, harga RMS dikenal sebagai rataan kuadrat (quadratic
mean) adalah merupakan pengukuran besarnya kuantitas yang bervariasi. Hal ini
sangat berguna untuk suatu variabel memiliki harga positif dan negatif misalnya
sinusoidal. Harga RMS digunakan dalam berbagai bidang termasuk teknik listrik,
umumnya alat ukur pada teknik listrik dikalibrasi untuk membaca harga RMS [10].
Harga RMS dapat dihitung untuk serangkaian nilai nilai diskrit ataupun untuk
berbagai fungsi kontinu. Nama RMS ini berasal dari kenyataan bahwa parameter ini
adalah akar kuadrat dari rata-rata nilai kuadrat.




22

2.8.1 Defenisi
Nilai RMS dari seperangkat nilai (fungsi kontinu) akar kuadrat dan aritmatika
mean (rata-rata) dari kuadrat nilai asli (atau kuadrat dari fungsi yang mendefenisikan
bentuk gelombang kontinu).
Apabila ada beberapa nilai sebanyak n {x
1
, x
2
, x
3
.., x
n
} nilai RMS nya adalah:

........... (2.11)
Persamaan/rumus yang sesuai untuk fungsi kontinu f(t) pada interval T
1
t T
2

adalah:

......... (2.12)

dan harga RMS yang mencakup seluruh jangkauan waktu adalah:

......... (2.13)

Harga RMS seluruh janngkauan waktu sama dengan harga RMS dari suatu
fungsi kontinu ataupun suatu sinyal dapat dihitung dengan pendekatan berupa
mengambil nilai RMS dari serangkaian sample dengan jarak yang sama. Tabel 2.4
menunjukkan nilai RMS pada berbagai fungsi umum.



23

Tabel 2.4 : Nilai RMS pada berbagai fungsi umum [11].

Bentuk Gelombang Persamaan Gelombang Nilai RMS
Sinus


Persegi




Sinus yang
dimodifikasi

>
< <
< <
<
=
75 , 0 ) 1 )% ((
75 , 0 ) 1 )% (( 5 , 0 0
5 , 0 ) 1 )% (( 25 , 0
5 , 0 1 )% (( 0
f t a
f t
f t a
f t
y


Gigi Gergaji


Keterangan :
t = waktu
f = frekuensi
a = amplitude (nilai puncak)
c%d adalah remainder after floored division


2.8.2 Nilai RMS Pada Suatu Bentuk Gelombang Tegangan Dan Arus Sinusoidal
Nilai RMS dalam satu periode bentuk gelombang sinusoidal murni dengan
periode T didefenisikan:
v(t) = V
m
sin t .............................................................(2.14)

Nilai RMS tegangan, (V
RMS
):

.............................................(2.15)


24

Dengan memasukkan persamaan (2.14) ke dalam persamaan (2.15), maka nilai
RMS tegangan

...... ( 2.1

Dengan cara yang sama diperoleh nilai RMS untuk arus
i(t) = I
m
sin t... ( 2.1

Nilai RMS arus


Sehingga didapat

.... ( 2.1

Dimana, V
m
dan I
m
harga maksimum dari gelombang sinusoidal.



2.8.3 Nilai RMS pada Suatu Bentuk Tegangan Dan Arus Harmonisa
Nilai RMS dalam satu periode bentuk gelombang v(t) dengan periode T,
didefenisikan sebagai:

.... ( 2.1


25

Nilai RMS dapat juga diekspresikan dalam bentuk komponen Fourier dengan
memasukkan persamaan (2.9) ke persamaan (2.19), maka nilai RMS tegangan [9]:

=
+ =
1
2
2
0 RMS
2
) (
n
n
V
V V
............(2.20)
Dengan cara yang sama, diperoleh nilai RMS untuk arus:

=
+ =
1
2
2
0 RMS
2
) (
n
n
I
I I
............(2.21)

Dengan demikian, keberadaan harmonisa pada bentuk gelombang selalu
meningkatkan nilai RMS nya sehingga meningkatkan kerugian dalam (I
2
RMS
R) [10].

2.8.4 Daya Listrik Rata-rata
Para insinyur sering perlu untuk mengetahui daya (P) yang didisipasikan oleh
tahanan listrik (R). Perhitungan ini mudah dilakukan apabila arus yang mengalir
adalah konstan (I) melalui tahanan (R), maka daya didefenisikan hanya sebagai
P = I
2
. R..... (2.22

Namun, jika arus adalah fungsi waktu yang tidak konstan {i(t)}, persamaan/
rumus ini harus diperluas untuk menunjukkan kenyataan bahwa arus dan juga daya
sesaat adalah bervariasi dari waktu ke waktu. Jika fungsi tersebut adalah periodik
(seperti listrik AC rumah tangga), daya disipasi rata-rata dari waktu ke waktu
dihitung secara sederhana dengan menghitung daya sesaat pada setiap waktu dari
26

bentuk gelombang atau dengan kata lain, menghitung rata-rata kuadrat arus ini
(karena R adalah konstan setiap waktu), yaitu:

, tanda dikurung kurawal menyatakan


sebuah fungsi
Atau

, R nilainya konstan
Nilai rata-rata dari kuadrat sebuah fungsi adalah nilai RMS
Jadi,
{I (t)} = I
RMS


Sehingga,
P
avg
= (I
RMS
)
2
. R ................ (2.23)
I
RMS
adalah konstan pada harga daya rata-rata yang sama.
Langkah diatas dapat juga diterapkan untuk semua gelombang periodik seperti
gelombang sinusoidal atau gigi gergaji yang memungkinkan kita untuk menghitung
daya rata-rata dikirim ke beban tertentu.

Dengan mengambil akar kuadrat dari kedua persamaan terakhir diatas dan dikalikan
satu sama lain akan menghasilkan persamaan (2.24):
P
avg
= V
RMS
. I
RMS
............ (2.24)

Tegangan yang teretera pada alat listrik, misalnya 120 V atau 230 V (Eropa)
hampir selalu dicantumkan dalam nilai-nilai RMS [11].

27

2.9 Metode Pengukuran Arus
2.9.1 Alat Ukur Pembacaan Rata-rata Dikalibrasi ke RMS
Nilai RMS dari suatu arus bolak-balik didefenisikan sebagai nilai yang sepadan
dengan arus searah yang mana akan dapat memproduksi sejumlah panas yang sama
terhadap suatu beban resistif yang ditetapkan. Jumlah panas yang diproduksi dalam
tahanan oleh arus bolak-balik adalah sepadan dengan kuadrat rata-rata arus yang
meliputi satu siklus penuh gelombang.

Dengan alasan inilah harga efektif disebut Root Mean Square (RMS). Ini
merupakan akar pangkat dua dari rata-rata harga sesaat. Dengan mengkuadratkan
besarnya harga sesaat kemudian merata-ratakannya dan mengambil akar dari harga
rata-rata ini, dapat ditentukan harga efektifnya setiap gelombang bolak-balik seperti
gelombang sinusoidal, seperti ditunjukkan pada Gambar 2.7 berikut:
90 0 180
1
2
270 360
- 1
- 2
Nilai Puncak = 1.414
Nilai True RMS = Rata-rata
Pengukuran RMS = 1.0
Form Factor = 1.11

Gambar 2.7 : Gelombang tegangan sinusoidal murni

28

Untuk gelombang tegangan sinusoidal murni, nilai RMS nya adalah

= 0,707
kali nilai maksimum atau nilai maksimum adalah nilai RMS atau 1,414 kali nilai
RMS. Nilai rata-rata adalah

= 0,636 kali nilai maksimum atau 0,9 kali nilai


RMS. Jadi, untuk gelombang sinusoidal murni berlaku faktor sebagai berikut:
Peak Factor (faktor maksimum / puncak) =

= 1,414
Form Factor (faktor bentuk) =

-
= 1,111
Harga maksimum atau puncak (peak value) dari suatu gelombang sinusoidal
adalah harga simpangan maksimum yang dihitung dari harga nol gelombang tersebut.
Harga rata-rata dari suatu fungsi tersebut untuk selang waktu satu periode, jadi
apabila y adalah suatu fungsi t, maka harga rata-ratanya adalah:
Y
rata-rata
= Y
avg
=

........... (2.25)
Dimana : Y
rata-rata
= Harga rata-rata dan y(t) untuk satu gelombang penuh
T = Periode

Untuk gelombang sinusoidal murni, harga rata-rata untuk satu periode T adalah
nol, maka untuk itu harga rata-ratanya diambil hanya untuk setengah periode T. Bila
dilakukan pengukuran pada suatu gelombang berbentuk sinusoidal murni,
pengukuran ini masih dapat dikatakan betul walaupun memakai alat ukur sederhana
dari nilai rata-rata (0,636 x nilai puncak) dan dikalikan dengan faktor bentuk 1,111
(sehingga nilainya menjadi 0,707 kali nilai puncak) dan ini dikatakan sebagai nilai
RMS.
29


Metode pengukuran dengan metode seperti ini dipergunakan hampir pada
semua jenis alat ukur analog (dimana nilai rata-ratanya bervariasi dengan energi
enersia dan redaman dari kumparan gerak) dan pada semua alat ukur tua dan hampir
semua jenis digital multimeter. Teknologi jenis ini disebut sebagai pengukuran
dengan pembacaan rata-rata dikalibrasi ke nilai RMS.

Kelemahan teknologi pengukuran ini adalah hanya bekerja dengan baik pada
bentuk gelombang sinusoidal murni. Pada gelombang berbentuk sinusoidal seperti
Gambar 2.8 teknologi jenis ini akan mengalami kesalahan yang signifikan.
Bila arus dalam bentuk gelombang seperti pada Gambar 2.8 diukur dengan
ampermeter yang menggunakan metode dengan pembacaan rata-rata dikalibrasi ke
nilai RMS, maka nilai RMS akan terbaca 0,61 ampere, berbeda dengan nilai
sebenarnya 1 amper, hal ini berarti pembacaan mengalami kesalahan hampir 40 %
lebih rendah [1].

Gambar 2.8 : Bentuk gelombang arus yang terdistorsi oleh adanya harmonisa karena
beban non linear (komputer) [1].
30

2.9.2 Alat Ukur True RMS
True RMS meter bekerja dengan cara mengambil kuadrat nilai instantaneous
arus masukan, rata-rata waktu dan menampilkan akar kuadrat dari nilai rata-rata. Alat
ukur dengan metode ini dapat digunakan dengan hasil sempurna dalam semua bentuk
gelombang yang menjadi keterbatasan alat ini dan perlu diperhitungkan adalah
frekuensi respon dan crest factor atau faktor puncak. True RMS Meter sebenarnya
sudah ada sejak lebih dari 30 tahun yang lalu, tetapi alat ukur jenis ini hanya
digunakan pada hal-hal yang bersifat khusus dan lagipula merupakan peralatan ukur
yang mahal.
Dengan telah berkembangnya peralatan elektronik, dewasa ini telah dapat
dihasilkan peralatan ukur true RMS yang mempunyai kemampuan dan dapat dibuat
dalam bentuk multimeter, hanya saja harganya masih cukup mahal dibanding dengan
alat ukur RMS.
Tabel 2.5 dibawah ini memperlihatkan perbedaan pembacaan alat ukur RMS
dengan alat ukur True RMS. Dari tabel terlihat bahwa untuk gelombang sinusoidal
murni alat ukur RMS dan alat ukur True RMS memberikan hasil pembacaan yang
sama, sedangkan untuk gelombang yang tidak sinusoidal hasil pembacaan untuk alat
ukur True RMS dengan alat ukur RMS tidak sama, alat ukur True RMS memberikan
hasil pengukuran yang benar.


31

Tabel 2.5 Perbandingan pembacaan alat ukur RMS dengan alat ukur
True RMS [1]

Type
alat
ukur
Respon
terhadap
sinyal sinus
Respon
terhadap sinyal
persegi
Respon terhadap
penyearah dioda
1 fasa
Respon terhadap
penyearah dioda
3 fasa






RMS Benar Terbaca 10%
lebih tinggi
Terbaca 40%
lebih rendah
Terbaca 5-30%
lebih rendah
True
RMS
Benar Benar Benar Benar

2.9.3 Kesalahan Pemakaian Alat Ukur
Kesalahan dalam mengukur nilai arus yang mengalir pada instalasi listrik,
misalnya bangunan komersial dan industri menyebabkan timbulnya permasalahan
dalam perencanaan sistem kelistrikan.
Pengukuran yang tidak benar ini sering terjadi pada instalasi modern karena
adanya arus harmonisa akibat beban non linear, sehingga bentuk gelombang arus
yang terdistorsi sudah menjadi non sinusoidal, sedangkan alat ukur yang umumnya
yang digunakan adalah peralatan ukur untuk bentuk gelombang sinusoidal (yang
disebut juga alat ukur RMS), sehingga arus sebenarnya (True RMS) yang mengalir
dalam rangkaian tidak diukur dengan benar, dengan kata lain diukur dengan
pengukuran yang salah dimana nilai arus yang diukur lebih rendah dari nilai arus
yang mengalir sebenarnya (arus yang mengalir sebenarnya jauh lebih tinggi).
Harmonisa arus mengakibatkan nilai RMS lebih tinggi dari yang diukur oleh meter
32

rata-rata yang mengukur gelombang sinusoidal saja, sehingga kabel menjadi lebih
panas dari yang diharapkan, hasilnya adalah degradasi isolasi, kegagalan premature
dan resiko kebakaran.
Begitu juga dengan busbar, kesalahan mengukur nilai RMS akan
menyebabkan suhu berjalan lebih tinggi, sehingga suhu kerja busbar lebih tinggi dari
yang direncanakan.
Sekering dan unsur termal pemutus arus yang karakteristiknya terkait dengan
pembuangan panas, akan beroperasi lebih cepat sehingga menyebabkan hilangnya
data dalam komputer, gangguan pada proses komputer, dan lain-lain.
Untuk menghindari hal-hal tersebut diatas maka arus yang mengalir dalam
instalasi listrik harus diukur dengan benar.
True RMS instrument adalah alat ukur yang akan memberikan hasil
pengukuran yang benar. Dengan perkataan lain, pengukuran RMS sangat penting
dalam instalasi dimana terdapat sejumlah besar beban non linear (PC, electronic
balasts, Compact Fluorescent Lamps, dan lain-lain) pengukuran dengan meter
membaca rata-rata (RMS instrument) akan memberikan hasil di bawah nilai
pengukuran yang sebenarnya, sehingga sering terjadi pemutusan rangkaian dengan
resiko kegagalan.
Dengan membandingkan hasil pengukuran arus diukur true RMS instrument
dengan RMS instrument bisa membantu para perencana / operator / pekerja dalam
merencanakan suatu sistem kelistrikan yang benar untuk beban yang sekarang
33

umumnya bersifat non linear (true RMS instrument harganya masih mahal, umumnya
omputer-industri, laboratorium-laboratorium hanya mempunyai RMS instrument.

2.9.4 Beberapa Bentuk Gelombang Tegangan Dan Arus Beban Non Linear
Lampu Hemat Energi

Gambar 2.9 (a) : Gelombang tegangan dan arus beban lampu hemat energi








Gambar 2.9 (b) : Spektrum distorsi harmonisa arus pada lampu hemat energi

34

Dari Gambar 2.9.(a) dan (b) terlihat bahwa pada lampu hemat energi gelombang
tegangan dalam bentuk sinus, sedangkan gelombang arus merupakan gelombang
yang terdistorsi arus harmonisa.
Komputer

Gambar 2.10 (a) : Gelombang tegangan dan arus beban komputer












Gambar 2.10 (b) : Spektrum distorsi harmonisa arus pada komputer

35

Dari Gambar 2.10 (b) di atas dapat diketahui bahwa beban komputer
menghasilkan harmonisa arus dengan THD yang besar.

AC (Air Conditioner)


Gambar 2.11 (a) : Gelombang tegangan dan arus beban Air Conditioner (AC)










Gambar 2.11 (b) : Spektrum Distorsi Harmonisa Arus pada Air Conditioner
36

Televisi

Gambar 2.12 (a) : Gelombang tegangan dan arus beban televisi














Gambar 2.12 (b) : Spektrum distorsi harmonisa arus pada televisi






37

Lampu pijar

Gambar 2.13 (a) : Gelombang tegangan dan arus beban lampu pijar


















Gambar 2.13 (b) : Spektrum distorsi harmonisa arus pada lampu pijar


Dari Gambar 2.13 (a) terlihat bahwa pada lampu pijar gelombang tegangan dan
gelombang arus sefasa dalam bentuk gelombang sinus sehingga pembacaan alat ukur
True RMS sama nilainya dengan pembacaan alat ukur RMS. Ini dapat kita lihat juga
38

pada Gambar 2.13 (b) bahwa tidak adanya arus harmonisa pada orde kedua, ketiga
dan seterusnya dan THD arus kecil sekali yaitu 2%.

2.10 Prinsip Kerja kWh Meter Induksi Satu Fasa
Sistem kWh meter adalah alat penghitung pemakaian energi listrik. Alat ini
bekerja menggunakan metode induksi medan magnet dimana medan magnet tersebut
menggerakkan cakram yang terbuat dari alumunium. Pada cakram alumunium itu
terdapat poros yang mana poros tersebut akan menggerakkan counter digit sebagai
tampilan jumlah kWh nya. kWh meter memiliki dua kumparan yaitu kumparan
tegangan dengan koil yang diameternya tipis dengan kumparan lebih banyak dari
pada kumparan arus dan kumparan arus dengan koil yang diameternya tebal dengan
kumparan lebih sedikit. Pada kWh meter juga terdapat magnet permanen yang
tugasnya menetralkan piringan alumunium dari induksi medan magnet, medan
magnet memutar piringan alumunium. Arus listrik yang melalui kumparan arus
mengalir sesuai dengan perubahan arus terhadap waktu. Hal ini menimbulkan adanya
medan di permukaan kawat tembaga pada koil kumparan arus. Kumparan tegangan
membantu mengarahkan medan magnet agar menerpa permukaan alumunium
sehingga terjadi suatu gesekan antara piringan alumunium dengan medan magnet
disekelilingnya. Dengan demikian maka piringan tersebut mulai berputar dan
kecepatan putarnya dipengaruhi oleh besar kecilnya arus listrik yang melalui
kumparan arus. Koneksi kWh meter dimana ada empat buah terminal yang terdiri
39

dari dua buah terminal masukan dari jala jala listrik PLN dan dua terminal lainnya
merupakan terminal keluaran yang akan menyuplai tenaga listrik ke rumah. Dua
terminal masukan di hubungkan ke kumparan tegangan secara paralel dan antara
terminal masukan dan keluaran di hubungkan ke kumparan arus secara seri, seperti
ditunjukkan pada Gambar 2.14 berikut [12].

Gambar 2.14 Prinsip suatu meter penunjuk energi listrik arus bolak-balik
( jenis induksi) [12].
Keterangan :
Cp = Inti besi kumparan tegangan
Cc = Inti besi kumparan arus
Wp = Kumparan tegangan
40

Wc = Kumparan arus
D = Kepingan roda Aluminium
J = Roda-roda pencatat ( register )
M = Magnet permanen sebagai pengerem keping aluminium, saat beban kosong
S = Kumparan penyesuai beda fase arus dan tegangan