Anda di halaman 1dari 3

BAB I BISNIS PARIWISATA

1.1

Pengertian Pariwisata Wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati objek dan daya tarik wisata. (UU No.9 tahun 1990 pasal 1). Sehingga lingkup pengertian wisata adalah: 1) Kegiatan perjalanan 2) Dilakukan secara sukarela 3) Bersifat sementara 4) Perjalanan itu seluruhnya atau sebagian bertujuan untuk menikmati objek dan daya tarik wisata Kata Pariwisata berasal dari bahasa Jawa Kuna, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia: - Kata pari berarti semua, segala, sekitar, keliling. - Kata wisata berarti bepergian bersama-sama untuk memperluas pengetahuan, bersenang-senang dan sebagainya. Pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata, termasuk pengusahaan objek dan daya tarik wisata serta usaha-usaha yang terkait di bidang tersebut (UU No.9 tahun 1990 pasal 1). Sehingga lingkup pariwisata meliputi: 1) Semua kegiatan yang berhubungan dengan perjalanan wisata 2) Pengusahaan objek dan daya tarik wisata, seperti kawasan wisata, taman rekreasi, kawasan peninggalan sejarah (candi, makam), museum, waduk, pagelaran seni budaya, tata kehidupan masyarakat dan yang bersifat alamiah, seperti keindahan alam, gunung berapi, danau, pantai dan lain-lain. 3) Pengusahaan jasa dan sarana pariwisata seperti biro perjalanan wisata, pramuwisata, pameran, angkutan wisata, akomodasi dan lain-lain. Jenis-Jenis Pariwisata Menurut Spillane (1989) terdapat beberapa jenis pariwisata: a) Pleasure tourism (pariwisata menikmati perjalanan) Jenis pariwisata ini dilakukan oleh orang yang meninggalkan tempat tinggalnya untuk berlibur, mencari udara segar yang baru mengendorkan ketegangan syarafnya, menikmati keindahan alam, menikmati hikayat suatu daerah, menikmati hiburan, dan sebagainya. b) Recreation tourism (pariwisata rekreasi) Jenis pariwisata ini dilakukan oleh orang yang menghendaki pemanfaatan hari hari libur untuk istirahat, memulihkan kembali kesegaran jasmani dan rohani yang akan menyegarkan keletihan dan kelelahan. c) Cultural tourism (pariwisata budaya) Jenis pariwisata ini ditandai oleh adanya rangkaian motivasi seperti keinginan untuk belajar dipusat-pusat pengajaran dan riset, mempelajari adat istiadat, cara hidup masyarakat suatu Negara, mengunjungi peninggalan bersejarah,

1.2

mengunjungi peninggalan masa kini, pusat-pusat kesenian dan keagamaan, mengikuti festival seni music, film, teater, tari dan sebagainya. d) Sport tourism (pariwisata olahraga) e) Business shoping tourism (pariwisata dagang besar-belanja) Dalam jenis pariwisata ini, unsur yang ditekankan adalah kesempatan yang digunakan oleh pelaku perjalanan wisata menggunakan waktu-waktu bebasnya untuk menjadikan dirinya sebagai wisatawan dengan mengunjungi dan menikmati objek wisata dan berbelanja. f) Convention tourism (pariwisata konvensi) Jenis pariwisata ini mengalami perkembangan yang luar biasa dan menjadi penting dalam sumbangan terhadap devisa negara. 1.3 Usaha Pariwisata Lastara (1997) juga mengemukakan bahwa usaha sarana pariwisata meliputi kegiatan pembangunan, pengelolaan dan penyediaan fasilitas, serta pelayanan yang diperlukan dalam penyelenggaraan pariwisata, seperti jenis usaha berikut: 1) Penyediaan akomodasi 2) Penyediaan makan dan minum 3) Penyediaan angkutan wisata 4) Penyediaan sarana wisata tirta 5) Pawasan pariwisata Motivasi Melakukan Perjalanan H. Peter Gray (1970) seperti dikutip oleh Prof. Dr. I Nyoman Erawan, mengemukakan beberapa alas an seseorang melakukan perjalanan untuk bersenang-senang sebagai berikut: 1) Faktor haus akan sinar, dimaksudkan sebagai sifat-sifat yang mendasar pada tabiat manusia, yang menyebabkan seseorang ingin pergi meninggalkan sesuatu yang sudah biasa dilihat dan dirasakan, untuk melihat suatu daerah atau kebudayaan baru yang berbeda. Jadi ini adalah fungsi dari karakter manusia. 2) Faktor yang menimbulkan jenis perjalanan yang khusus, yang tergantung pada adanya hal-hal yang menyenangkan yang berbeda dan lebih baik untuk tujuan tertentu dibandingkan dengan yang ada ditempat sendiri. Pemasaran Pariwisata Tujuan utama pemasaran pariwisata adalah tidak hanya menyangkut jumlah maksimal wisatawan yang berkunjung dan tinggal lebih lama tetapi lebih diutamakan quality tourism yang dengan promosi selektif dapat mencapai wisatawan dengan belanja yang sangat besar dan terjadi repeat quaest. Pemasaran daerah tujuan pariwisata memerlukan kerjasama dengan pihak-pihak terkait seperti: pemerintah (menparpostel), perusahaan jasa penerbangan dalam dan luar negeri, jasa transportasi darat, biro wisata, travel, restoran dan hotel. Aspek Ekonomis Pariwisata Berkembangnya industry pariwisata disuatu Negara/daerah akan menarik sector lain untuk berkembang karena produknya atau jasanya diperlukan untuk menunjang industry

1.4

1.5

1.6

pariwisata, seperti sector pertanian, peternakan, dan perkebunan. Penelitian yang dilakukan Chau di Hawaii (Spillance, 1989) menunjukkan bahwa setiap kenaikan kunjungan wisatawan sebanyak 25.000 orang mengakibatkan terciptanya kesempatan kerja langsung sejumlah 390 orang dan tidak langsung sejumlah 243 orang. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh International Union of Office Travel Organization menyimpulkan bahwa kesempatan kerja yang terbuka diseluruh dunia bidang hotel dan restoran diperkirakan mencapai 750.000 orang pertahunnya (Spillance,1989). 1.7 Dampak Pembangunan Pariwisata Dampak-dampak yang tidak diinginkan karena berkembangnya kepariwisataan di suatu daerah, dapat menyangkut segi ekonomi, social budaya, politik maupun lingkungan, seperti: 1. Harga-harga barang atau jasa pelayanan menjadi naik, karena banyaknya pengunjung. 2. Penduduk, khususnya remaja suka mengikuti pola hidup para wisatawan yang tidak sesuai dengan budaya dan kepribadian bangsa kita sendiri. 3. Banyaknya pemanfaatan wisatawan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk melakukan hal-hal yang tidak pantas seperti pemerasan, perjudian, pencurian, pengedaran barang-barang terlarang dan lain-lain. 4. Terjadinya pengrusakan lingkungan, baik karena pembangunan prasarana dan sarana pariwisata, maupun karena ulah pengunjung atau tangan-tangan jahil.