Anda di halaman 1dari 1

Masyarakat Jadi Korban

JAKARTA, KOMPAS 11 Februari 2014 Kekhawatiran sejumlah pihak bahwa penerapan


Undang-Undang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan bakal menyasar masyarakat sekitar hutan mulai tampak. Jika terus dilakukan, sekitar 30.000 desa di sekitar hutan bisa konflik. Di Bengkulu, empat warga adat Semendeng Bandingagung ditahan, kata Mina Susana Setra, Direktur Kelembagaan, Infokom, dan Penggalangan Sumber Daya Mandiri Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), pekan lalu, di Jakarta. Organisasi, seperti AMAN, HuMA, Walhi, Komnas HAM, dan Dewan Kehutanan, menentang penyusunan akhir UU itu. UU P3H dinilai lemah dari sisi proses penyusunan yang eksklusif hingga kelemahan substansi. Menurut Mina, masyarakat adat itu mendiami tanah ulayatnya sendiri sejak zaman penjajahan Belanda. Namun, kini digusur dengan alasan merambah Taman Nasional Bukit Barisan. Dalam penahanan sejak 23 Desember 2013, aparat menggunakan UU P3H, yaitu melakukan kegiatan perkebunan tanpa izin Kementerian Kehutanan di dalam kawasan hutan konservasi, katanya. Sony Pratono, pejabat Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, mengatakan, UU P3H mulai digunakan sejak diundangkan pada 6 Agustus 2013. Masyarakat yang ditangkap itu karena menebang pohon untuk dijual kepada pengumpul. Kalau untuk kebutuhan sendiri, seperti bangun rumah, paling 20 meter kubik, masih kami toleransi, katanya. Ia mengatakan, UU P3H tak hanya menyasar korporasi, tetapi juga perseorangan. Untuk proses hukum bagi korporasi, saat ini sedang diproses perusahaan di Sulawesi Tenggara. Pelaku kami tuntut berlapis, termasuk salah satunya UU P3H, kata Sony. AMAN memperkirakan, konflik disertai kekerasan berupa perampasan tanah, wilayah, dan sumber daya alam di wilayah adat akan meningkat tahun ini. Untuk itu, AMAN mendesak pemerintah serius menerapkan dan menindaklanjuti putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/2012 bahwa hutan adat bukan lagi hutan negara.(ICH)