Anda di halaman 1dari 24

Referat GANGGUAN MENSTRUASI

Diajukan sebagai salah satu syarat Kepaniteraan Klinik Senior di Bagian Anestesi Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia

Referat GANGGUAN MENSTRUASI Diajukan sebagai salah satu syarat Kepaniteraan Klinik Senior di Bagian Anestesi Rumah Sakit

Oleh :

Rahmaniah, S.Ked Nim : 080610034

Pembimbing :

Dr. H. M. Nahrawi J. Hanafiah, Sp.OG

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER UNIVERSITAS MALIKUSSALEH RSUD CUT MEUTIA BAGIAN KEBIDANAN

2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas Rahmat dan Hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan referat dengan judul GANGGUAN MENSTRUASI. Penyusunan referat ini merupakan pemenuhan sebagai syarat untuk menyelesaikan tugas kepaniteraan klinik senior di bagian Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia.

Seiring rasa syukur atas terselesaikannya referat ini, dengan rasa hormat dan rendah hati penulis sampaikan terima kasih kepada:

  • 1. Pembimbing, Dr. H. M. Nahrawi J. Hanafiah, Sp.OG, atas arahan dan bimbingannya dalam penyusunan referat ini.

  • 2. Semua orang yang terlibat dalam penyusunan referat ini.

Sebagai manusia biasa yang tidak lepas dari kekurangan, penulis menyadari bahwa dalam penyusunan referat ini masih kurang sempurna. Oleh karena itu, segala saran dan kritik

yang membangun dalam penyempurnaan referat ini sangat diharapkan. Semoga referat ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Lhokseumawe, september 2013

(Penulis)

DAFTAR ISI

Halaman Judul ………………………………………………………….

i

Kata pengantar………………………………………………

.................. Daftar isi ……………………………………………………………….

ii

iii

BAB I

PENDAHULUAN

  • A. Latar Belakang ............................................................

  • B. Tujuan Penulisan ........................................................

1

2

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  • A. Definisi gangguan menstruasi ..........................................

3

  • B. Insidensi dan prevalensi ..............................................

  • C. Macam-macam gangguan menstruasi.............................

BAB III

KESIMPULAN ................................................................

3

4

20

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………

21

BAB I PENDAHULUAN

Menstruasi merupakan gejala fisiologis yang secara periodik dialami oleh setiap wanita usia reproduksi. Proses menstruasi dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya faktor hormonal, anatomi dan psikis. Apabila terjadi gangguan pada salah satu atau lebih faktor-faktor tersebut dapat mengakibatkan gangguan dalam siklus menstruasi.

Kelainan haid merupakan masalah fisik atau mental yang mempengaruhi siklus menstruasi, menyebabkan nyeri, perdarahan yang tidak biasa yang lebih banyak atau sedikit, terlambatnya menarche atau hilangnya siklus menstruasi tertentu. Gangguan menstruasi yang terjadi dapat berupa gangguan lama siklus menstruasi seperti polimenorrhea dan oligomenorrhea, volume darah yang dikeluarkan sewaktu menstruasi seperti hipermenorea, hipomenorrhea dan perdarahan bercak (spotting), beserta gejala-gejala yang menyertai menstruasi seperti dismenorrea dan Premenstrual syndrome itu sendiri yang mengganggu aktifitas sehari-hari.

Untuk negara Indonesia, rata-rata wanita mengalami menstruasi di usia 12-14 tahun. Insidensi amenorrhoea primer di negara Indonesia (dimana wanita gagal mencapai menstruasi pertama pada usia 16 tahun atau lebih atau tidak adanya tanda seksual sekunder sampai usia 14 tahun atau lebih) mencapai 2,5%. Sementara insidensi terjadinya amenorrhoea sekunder mencapai 1-5%. Amenorrhea mempengaruhi sekitar 5% sampai 7% wanita menstruasi setiap tahunnya (Popat). Prevalensinya tidak bervariasi pada perbedaan ras dan berkorespondensi dengan prevalensi penyakit kausatifnya. Dysmenorrhea primer, atau kramp menstruasi dan nyeri tanpa penyakit panggul, bisa mepengaruhi wanita menstruasi sebanyak 50% dan biasanya bermanifestasi dalam beberapa tahun pertama dari onset (Calis).

Dysmenorrhea sekunder, nyeri menstruasi disebabkan oleh penyakit atau patologi yang mendasarinya, ditemukan pada 5% sampai 7% wanita menstruasi(Popat) dan paling sering rekuren pada wanita usia 30 dan 45 tahun(Cails). Sepuluh sampai dua puluh persen dari seluruh wanita yang menstruasi mengalami menorrhagia; kebanyakan adalah usia lebih dari 30 tahun (Shaw).

TUJUAN

Tujuan penulisan referat ini yaitu sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan tugas kepaniteraan klinik senior di bagian Kebidanan Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Gangguan Menstruasi

Gangguan menstruasi adalah masalah fisik atau mental yang mempengaruhi siklus menstruasi, menyebabkan nyeri, perdarahan yang tidak biasa yang lebih banyak atau sedikit, terlambatnya menarche atau hilangnya siklus menstruasi tertentu.

Insidensi dan Prevalensi

Amenorrhea sekunder mempengaruhi sekitar 5% sampai 7% wanita menstruasi setiap tahunnya (Popat). Prevalensinya tidak bervariasi pada perbedaan ras dan berkorespondensi dengan prevalensi penyakit kausatifnya. Dysmenorrhea primer, atau kramp menstruasi dan nyeri tanpa penyakit panggul, bisa mepengaruhi wanita menstruasi sebanyak 50% dan biasanya bermanifestasi dalam beberapa tahun pertama dari onset (Calis). Dysmenorrhea sekunder, nyeri menstruasi disebabkan oleh penyakit atau patologi yang mendasarinya, ditemukan pada 5% sampai 7% wanita menstruasi(Popat) dan paling sering rekuren pada wanita usia 30 dan 45 tahun(Cails). Sepuluh sampai dua puluh persen dari seluruh wanita yang menstruasi mengalami menorrhagia; kebanyakan adalah usia lebih dari 30 tahun (Shaw).

Macam-Macam Gangguan Menstruasi

Gangguan menstruasi dan siklusnya khusus dalam masa reproduksi dapat digolongkan dalam:

  • 1. Kelainan dalam banyaknya darah dan lamanya perdarahan pada menstruasi:

    • a. Hipermenorea

    • b. Hipomenorea

  • c. Perdarahan bercak (spotting)

  • 2. Kelainan siklus:

    • a. Polimenorea

    • b. Oligomenorea

    • c. Amenorea

  • 3. Gangguan perdarahan di lainnya:

    • a. Metroragia

    • b. menorrhagia

  • 4. Gangguan lain dalam hubungan dengan haid

    • a. Premenstrual tension (ketegangan prahaid)

    • b. Mastodinia

    • c. Mittelschmerz (rasa nyeri pada ovulasi)

    • d. Dismenorea

  • Hipermenorea

    Ialah perdarahan haid yang lebih banyak dari normal, atau lebih lama dari normal (lebih dari 8 hari). Sebab kelainan ini terletak pada kondisi dalam uterus, misalnya adanya mioma uteri dengan permukaan endometrium lebih luas dari biasa dan dengan kontraktiltas yang terganggu, polip endometrium, gangguan pelepasan endometrium pada waktu haid (irregular endometrial shedding), dan sebagainya.

    Penanganan pada hipermenorrhea

    Bila dijumpai kelainan organik, maka pengobatan ditujukan kepada kelainan organik tersebut. Penyebab yang bukan kelainan organik diberikan progesteron seperti MPA 10 mg/hari, atau didrogesteron 10mg/hari, atau juga noretisteron asetat 5mg/hari, yang diberikan

    dari hari ke-16 sampai ke-25 siklus haid. Dapat juga di berikan tablet kombinasi estrogen- progesteron dari hari ke-16 sampai hari ke-25 siklus haid.

    Hipormenorea

    Hipomenorrhea adalah suatu keadan dimana jumlah darah haid sangat sedikit (<30cc), kadang-kadang hanya berupa spotting. Dapat disebabkan oleh stenosis pada himen, servik atau uterus. Pasien dengan obat kontrasepsi kadang memberikan keluhan ini. Sebab-sebabnya dapat terletak pada konstitusi penderita, pada uterus (misalnya sesudah miomektomi), pada gangguan endokrin, dan lain-lain. Adanya hipermenorea tidak mengganggu fertilitas.

    Penanganan pada hipomenorrhea

    Bila siklus menstruasi berovulasi tidak perlu dilakukan pengobatan apapun. Bila ternyata tetap ingin diberikan pengobatan, maka dapat diberikan kombinasi estrogen- progesteron yang dimulai hari ke-16 sampai hari ke-25 siklus menstruasi.

    Polimenorrhea

    Haid yang terlalu sering, dimana siklusnya < 21 hari.

    Bila siklus pendek namun teratur ada kemungkinan stadium proliferasi pendek atau stadium sekresi pendek atau kedua stadium memendek. Yang paling sering dijumpai adalah pemendekan stadium proliferasi. Bila siklus lebih pendek dari 21 hari kemungkinan melibatkan stadium sekresi juga dan hal ini menyebabkan infertilitas.

    Siklus yang tadinya normal menjadi pendek biasanya disebabkan pemendekan stadium sekresi karena korpus luteum lekas mati. Hal ini sering terjadi pada disfungsi ovarium saat klimakterium, pubertas atau penyakit kronik seperti TBC.

    Oligomenorrhea

    Haid yang terlalu jarang, dimana siklus >31 hari. Oligomenorrhea biasanya berhubungan dengan anovulasi atau dapat juga disebabkan kelainan endokrin seperti kehamilan, gangguan hipofise-hipotalamus, dan menopouse atau sebab sistemik seperti kehilangan berat badan berlebih. Oligomenorrhea sering terdapat pada wanita astenis. Dapat juga terjadi pada wanita dengan sindrom ovarium polikistik dimana pada keadaan ini dihasilkan androgen yang lebih tinggi dari kadara pada wanita normal. Oligomenorrhea dapat juga terjadi pada stress fisik dan emosional, penyakit kronis, tumor yang mensekresikan estrogen dan nutrisi buruk. Oligomenorrhe dapat juga disebabkan ketidakseimbangan hormonal seperti pada awal pubertas. Oligomenorrhea yang menetap dapat terjadi akibat perpanjangan stadium folikular, perpanjangan stadium luteal, ataupun perpanjang kedua stadium tersebut. Bila siklus tiba-tiba memanjang maka dapat disebabkan oleh pengaruh psikis atau pengaruh penyakit.

    Penanganan Oligomenorrhea

    Penanganan oligomenorrhea tergantung dengan penyebab. Pada oligomenorrhea dengan anovulatoir serta pada remaja dan wanita yang mendekati menopouse tidak memerlukan terapi. Perbaikan status gizi pada penderita dengan gangguan nutrisi dapat memperbaiki keadaan oligomenorrhea. Oligomenorrhea sering diobati dengan pil KB untuk memperbaiki ketidakseimbangan hormonal. Pasien dengan sindrom ovarium polikistik juga sering diterapi

    dengan hormonal. Bila gejala terjadi akibat adanya tumor, operasi mungkin diperlukan.

    Amenorrhea

    Setiap pasien yang memenuhi kriteria berikut sebaiknya di evaluasi memeliki masalah medis amenorrhea

    Tidak ada periode menstruasi pada usia 14 dan tidak ada perkembangan dari organ seksual sekunder. Tidak ada siklus menstruasi pada usia 16 meskipun terdapat pertumbuhan dan perkembangan organ seksual sekunder. Pada wanita yang telah menstruasi, ketidakadaan menstruasi setidaknya selama 3 periode mentruasi yang sebelumnya atau 6 bulan amenorrhea.

    Amenorrhea di bagi menjadi menjadi dua:

    • 1. Amenorreha Primer yaitu keadaan di mana siklus menstruasi tidak pernah dimulai. Hal ini dapat disebabkan adanya kelainan kongenital seperti tidak terbentuknya uterus sejak lahir, atau kegagalan ovarium memproduksi ovum. Terlambatnya pertumbuhan pada masa pubertas juga bisa menyebabkan amenorrhoea primer.

    Etiologi amenorrhea primer:

    • 1. Hypergonadotropic hypogonadism

    • 2. Eugonadism androgen insensitivity syndrome; congenital adrenal hyperplasia; polycystic ovarian syndrome.

    • 3. FSH rendah.

    Gambar 2.13. Defek anatomi pada amenorrhea 2. Amenorrhea Sekunder amenorrhea sekunder adalah wanita usia reproduksi yang

    Gambar 2.13. Defek anatomi pada amenorrhea

    • 2. Amenorrhea Sekunder amenorrhea sekunder adalah wanita usia reproduksi yang pernah mengalami haid, namun haidnya berhenti untuk sedikitnya 3 bulan berturut-turut. Klasifikasi Amenorrhea sekunder berdasarkan kompartemen

      • 1. Kompartemen I : Gangguan pada traktus atau uterus

      • 2. Kompartemen II Gangguan pada Ovarium

      • 3. Kompartemen III Gangguan pada sistem pituitari anterior

      • 4. Kompartmen IV Gangguan pada sistem saraf pusat

    Tabel 2.1 Klasifikasi Amenorrhea Sekunder Penangan Pada Amennorrhea sekunder 1. Amenorrhea hipotalamik  Penyebab organik ditangani

    Tabel 2.1 Klasifikasi Amenorrhea Sekunder

    Penangan Pada Amennorrhea sekunder

    • 1. Amenorrhea hipotalamik Penyebab organik ditangani sesuai dengan penyebab organik tersebut.

    Penyebab fungsional. Konsultasi, atau konseling.

    Psikoterapi, ataupun penggunaan obat-obat psikofarmaka hanya pada keadaan yang berat saja, seperti pada anoreksia nervosa dan bolemia. Penting diketahui, bahwa obat-obat psikofarmaka dapat meningkatkan prolaktin. Agar merasa tetap sebegai seorang wanita, dapat di berikan estrogen dan progesteron siklik. Kekurangan Gn-RH. Diberikan Gn-RH pulsatif (bila mungkin), atau pemberian FSH-LH dari luar.

    • 2. Amenorrhea hipofisis Substitusi hormon yang kurang (FSH:LH), atau pemberian steroid seks secara siklik

    • 3. Amenorrhea Uteriner Stimulasi steroid seks. Apabila gagal perlu dipertimbangkan adanya aplasia uteri, asherman syndrome.

    • 4. Amenorrhea Ovarium Untuk menekan sekresi FSH dan dapat diberikan estrogen dan perprogesteron, atau estrogen saja secara siklik. Selain itu untuk menekan sekresi FSH dan LH yang berlebihan dapat juga diberikan Gn-RH analog selama 6 bulan. Pada menopause prekok maupun sindroma ovarium resisten gonadotropin, steroid seks diberikan sampai terjadi haid. Kemungkinan menjadi hamil sangat kecil.

    Tabel 2.2 Pemeriksaan Pada Amenorhea Metrorrhagia Adalah perdarahan tidak teratur, kadang tejadi di pertengahan siklus haid.

    Tabel 2.2 Pemeriksaan Pada Amenorhea

    Metrorrhagia

    Adalah perdarahan tidak teratur, kadang tejadi di pertengahan siklus haid.

    Etiologi:

    • 1. Organik karsinoma korpus uteri, mioma submukosum, polip, dan karsinoma serviks

    • 2. Endokrin Seperti pada usia perimenarche dan menoupause

    Penanganan Metrorrhagia

    1.

    Sesuai dengan diagnosis dan komplikasi

    2.

    Sesuai hasil PA

    Perdarahan Bukan Haid

    Perdarahan bukan haid adalah perdarahan yang terjadi dalam masa antara 2 periode

    haid.

    Etiologi:

    1.

    Organik

     
     

    a.

    Serviks uteri : polipus servisis uteri, erosio porsionis uteri, ulkus pada porsio uteri, karsinoma servisis uteri.

    b.

    Korpus uteri : polip endometrium, abortus imminens, abortus insipiens, abortus inkompletus, mola hidatidosa, koriokarsinoma, subinvolusio uteri, karsinoma korporis uteri, sarkoma uteri, mioma uteri.

    c.

    Tuba falopii : seperti kehamilan ektopik terganggu, radang tuba, tumor tuba.

    d.

    Ovarium : radang ovarium, tumor ovarium.

    2.

    Fungsional

     

    a.

    Ovulatoar

    b.

    Anovulatoar

    Dismenorea

    Adalah nyeri pada perut bagian bawah sebelum dan sesudah haid dapat bersifat kolik

    terus.

    Dismenorea dibagi atas:

    • 1. Dismenorea primer

    • 2. Dismenorea sekunder

    Dismenorea primer

    Adalah nyeri haid yang dijumpai tanpa kelainan pada alat-alat genital yang nyata. Dismenorea primer terjadi beberapa waktu setelah menarche biasanya setelah 12 bulan atau lebih, oleh karena siklus-siklus haid pada bulan-bulan pertama setelah menarche umumnya berjenis anovulatoar yang tidak disertai dengan rasa nyeri.

    Wanita dengan dismenorea primer mempunyai produksi prostaglandins endomterial lebih tinggi dibandingkan wanita yang asimptomatik. Sebagian besar dari pelepasan prostaglandin selama menstruasi terjadi pada 48 jam pertama, yang mana bertepatan dengan intensitas terbesar dari gejala. 5 Selama kontraksi aliran darah endometrium berkurang dan merupakan korelasi yang baik dengan aliran darah yang minimal dan nyeri kolik yang maksimal. Kadar prostaglandin dan leukotrien meningkat pada meningkat pada darah menstruasi dan jaringan uterus wanita dengan dismenorrhea sebanding dengan kadar sistemik vasopressin.

    Prostaglandin F 2i (PGF 2i ) merupakan agen yang bertanggung jawab pada dismenorea. Prostaglandin selalu menstimulasi kontraksi uterus, dimana prostaglandin E menghambat kontraksi pada uterus yang tidak hamil. Otot uterus pada baik yang wanita normal dan dismenorea sensitif terhadap PGF 2i , tetapi jumlah PGF 2i yang diproduksi adalah faktor utama yang membedakan.

    Penanganan pada dismenorrea primer

    Pemberian Analgetik: NSAIDs diberikan 1-2 hari menjelang haid dan diteruskan sampai hari kedua atau ketiga siklus haid. Terapi hormonal juga telah banyak digunakan. Tujuannya untuk menghasilkan siklus haid yang anovulatorik, sehingga nyeri haid dapat dikurangi. Biasanya diberikan Progesteron (Didrogesteron 10mg, 2 kali 1, Medroksiprogesteron asetat 5mg/hari) diberikan mulai dari hari ke-5 sampai ke-25 siklus haid.

    Dismenorea Sekunder

    Adalah nyeri haid yang terjadi kemudian, biasanya terdapat kelainan dari alat kandungan.

    Etiologi : Adenomyosis, myomas, infection, cervical stenosis.

    Penanganan pada dismenorrhea sekunder

    Bila ada kelainan organik ditangani secara kausal. Pada kasus-kasus yang menolak tindakan operatif, maka untuk sementara dapat dicoba pengobatan medikamentosa seperti pada dismenorrea primer. Pemberian analog GnRH selama 6 bulan sangat efektif menghilangkan nyeri haid yang disebabkan endometriosis.

    The Premenstrual Syndrome

    Merupakan keluhan-keluhan yang biasanya mulai satu minggu sampai beberapa hari sebelum datangnya haid, dan menghilang sesudah haid datang, walaupun kadang-kadang berlangsung terus sanpai haid berhenti. Keluhan-keluhan terdiri atas gangguan emosional berupa iritabilitas, gelisah, insomnia, nyeri kepala, perut kembung, mual, pembesaran dan rasa nyeri pada mamma dan sebagainya; sedang pada kasus-kasus yang berat terdapat

    depresi, rasa ketakutan, gangguan konsentrasi, dan peningkatan gejala-gejala fisik tersebut di atas.

    Faktor yang memegang peranan sebagai etiologi premenstrual tension ialah:

    ketidakseimbangan antara estrogen dan progesteron dengan akibat retensi cairan dan natrium, penambahan berat badan, dan kadang-kadang edema.

    Ada paduan utama untuk mendiagnosis PreMenstrual Syndrome. Yang pertama dari

    American Psychiatric Association (APA) dan yang kedua dari National Institute of

    Mental

    Health (NIHM).

    Kriteria untuk diagnosis menurut APA sebagai berikut:

    • A. Gejala-gejala yang yang berhubungan dengan siklus menstruasi secara temporal, mulai dari permulaan selama minggu terakhir fase luteal dan berkurang setelah onset mestruasi.

    • B. Diagnosis membutuhkan setidaknya lima dari salah satu gejala di bawah, dan salah satu nya harus salah satu dari empat gejala yang pertama:

      • 1. Depresi, perasaan putus asa

      • 2. Kecemasan atau ketegangan

      • 3. Afeksi yang labil, contoh: perasaan tiba-tiba sedih, menangis, marah, atau mudah tersinggung.

      • 4. Marah atau perasaan tersinggun yang menetap, atau meningkatnya konflik interpersonal.

      • 5. Penurunan ketertarikan terhadapa aktifitas sehari-hari

      • 6. Mudah lelah

      • 7. Sulit berkonsentrasi

      • 8. Gangguan nafsu makan, makan berlebih atau nafsu makan tinggi

    • 9. Hypersmonia atau insmonia

    10. Perasaan “overprotected” atau tidak terkendali 11. Gejala fisik, seperti payudara kencang, sakit kepala, edema, nyeri sendi, penambahan berat badan. C. Gejala-gejala mempengaruhi pekerjaan atau aktivitas sehari-hari atau hubungan sosial. D. Gejala-gejala tersebut bukan merupakan sebuah eksarsebasi gangguan psikiatrik yang

    lain.

    Pedoman diagnosis dari National Institute of Mental Health (NIHM) menyebutkan bahwa diagnosis PMS membutuhkan dokumentasi dari setidaknya peningkatan 30% keparahan gejala dalam 5 hari pada waktu menstruasi dibandingkan dengan 5 hari setelah menstruasi. Dengan menggunakan kriteria APA dan NIHM, di dapatkan sekitar 5% dari wanita usia reproduktif bisa di diagnosa mengalami PMS.

    Penanganan PMS

    • 1. Medikamentosa

      • - Prostaglandin sintetase inhibitor

      • - Pil KB : medroxyprogesterone acetate 10-30mg/hari

      • - GnRH agonis dikombinasi dengan estrogen-progesteron :Nafareline, goserelide

      • - Selective Serotonin Reuptake Iinhibitors: Fluoxetine, Setraline, Paraxetine

      • - Plasebo

      • - Spironolactone

  • 2. Operatif Oovorektomi

  • Mittelschmerz dan Perdarahan Ovulasi

    Mittelschmerz atau nyeri antara haid terjadi kira-kira sekitar pertengahan siklus haid, pada saat ovulasi. Rasa nyeri yang tejadi mungkin ringan, tetapi mungkin juga berat. Lamanya mungkin hanya beberapa jam, tetapi pada beberapa kasus sampai 2 3 hari.

    Diagnosis dibuat berdasarkan saat terjadinya peristiwa dan bahwa nyerinya tidak mengejang, tidak menjalar, dan tidak disertai mual atau muntah.

    Menorrhagia

    Menorrhagia adalah pengeluaran darah haid yang terlalu banyak dan biasanya disertai dengan pada siklus yang teratur.

    Etiologi :

    • 1. Uterus

      • a. Fibroid

      • b. Polip endometrium

      • c. Endometriosis

      • d. Pelvic inflammatory disease

  • 2. Sistemik

    • a. Gangguan koagulasi

    • b. Penyakit Von Willebrand’s

    • c. Idiopathic thrombocytopaenia purpura

    • d. Defisiensi faktor V, VII, X dan IX

    • e. Hypothyroidism

  • 3.

    Iatrogenik

    • a. Kontrasepsi Progesteron Only

    • b. IUD

    • c. Antikoagulan

    Penanganan pada Menorrhagia

    • 1. Terapi non-hormonal

      • a. NSAID Asam mefenamat, asam meklofenat, naproxen, ibuprofen, diclofenac.

      • b. Anti-fibrinolitik Asam tranexamid, asam Epsilon-amino caproic

      • c. Etamsylate Fungsi : mereduksi kerapuhan kapiler

  • 2. Terapi Hormonal

    • a. Progesterone Norehisterone, medroxyprogesterone acetate, dygrogesterone

    • b. Intrauterine progesterone Levonorgestrel

    • c. Kombinasi Estrogen/progesterone Kontrasepsi oral, terapi hormone pengganti

    • d. Lain-lain Danazol, gestrinone, analog GnRH

  • 3. Pembedahan

    • a. Transabdominal Histerectomy (TAH)

    • b. Transvaginal Histerectomy (VH)

    • c. Laparoscopi (LAVH)

    • 2. Ablasi Endometrial

      • a. Generasi pertama Trans Cervical Resection of the Endometrium (TCRE) Endometrial Laser Resection (ELA) Roller Ball Endometrial Ablation (REA)

      • b. Generasi kedua Thermal Balloons (Thermachoice, Cavatherm) Microwave Endometrial Abaltion (MEA) Circulating Hot Saline (Hydro therm Ablator) Cryotherapy

    BAB III KESIMPULAN

    Menstruasi merupakan bagian dari proses regular yang mempersiapkan tubuh wanita setiap bulannya untuk kehamilan. Daur ini melibatkan beberapa tahap yang dikendalikan oleh interaksi hormon yang dikeluarkan oleh hipotalamus, hipofise dan ovarium. Fungsi reproduksi wanita dibagi menjadi dua tahapan utama: pertama, persiapan tubuh wanita untuk menerima pembuahan, dan kedua, masa kehamilan itu sendiri.

    Kelainan haid merupakan masalah fisik atau mental yang mempengaruhi siklus menstruasi, menyebabkan nyeri, perdarahan yang tidak biasa yang lebih banyak atau sedikit, terlambatnya menarche atau hilangnya siklus menstruasi tertentu. Gangguan menstruasi yang terjadi dapat berupa gangguan lama siklus menstruasi seperti polimenorrhea dan oligomenorrhea, volume darah yang dikeluarkan sewaktu menstruasi seperti hipermenorea, hipomenorrhea dan perdarahan bercak (spotting), beserta gejala-gejala yang menyertai menstruasi seperti dismenorrea dan Premenstrual syndrome itu sendiri yang mengganggu aktifitas sehari-hari.

    DAFTAR PUSTAKA

    • 1. Varney, Hellen. 2006. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta: EGC

    • 2. Sastrawinata, Sulaiman. 1980. Ginekologi. Bandung: ELSTAR OFFSET

    • 3. Manuaba, Ida Bagus Gde. 1998. Ilmu Kebidanan,Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta:EGC

    • 4. Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadhi T. Ilmu Kandungan. Edisi kedua. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka. 2008.