Anda di halaman 1dari 9

MOTIVASI MEMBACA Motivasi membaca adalah dorongan motivasional untuk membaca sehingga timbulnya ketertarikan dalam dunia pendidikan

sperti sekolah. Motivasi mebaca biasanya dihubungkan dengan 4 teori, yaitu : self-determination theory, goal theory, social cognitive theory dan interest theory. Keempat teori tersebut dapat dipahami melalui pertanyaan seperti : A. Sumber motivasional apa yang dapat menguatkan prestasi membaca B. Faktor lingkungan, kejadian dan pengalaman di sekolah seperti apa yang dapat menguatkan motivasi membaca C. Sumber motivasional apa yang dapat melemahkan prestasi membaca D. Faktor lingkungan, kejadian dan pengalaman di sekolah seperti apa yang dapat melemahkan motivasi membaca E. Bagaimana mengenai profil siswa sebagai pembaca A. Sumber Motivasional yang dapat Menguatkan Prestasi Membaca 1. Intrinsic Motivation Motivasi intrinsic dalam motivasi membaca merupakan keinginan siswa untuk membaca tanpa adanya faktor dari luar. Reward tersebut adalah kepuasan dari aktivitas membaca itu sendiri, adanya emosi positif yang menyertai keterlibatan dalam membaca 2. Perceived Autonomy Konsep ini berasal dari self-determination theory. Motivasi otonomi meliputi pengalaman yang terkait dengan pilihan dan kesukaan. Perceived Autonomy dalam membaca dapat dilihat dari bagaimana seseorang memilih sebuah buku dan mengarahkan perilaku dirinya untuk membaca. 3. Self Efficacy Konsep ini dikenalkan dalam teori social kognitif yang merupakan keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk dapat belajar dan melaksanakan sesuatu dalam level tertentu. Pembaca yang memiliki sel efficacy yang tinggi yakin pada kemampuan mereka dalam menampilkan aktivitas membaca dan selalu berusaha untuk mencoba teksteks bacaan yang lebih menantang. Akan tetapi, siswa dengan self efficacy yang tinggi bisa saja tidak menampilkan kinerja yang baik dalam pengerjaan tugas jika kemampuan actual mereka tidak sesuai dengan persepsi dan keyakinan mereka. Self efficacy dalam membaca dapat diartikan sebagai persepsi siswa terkait kompetensi mereka dalam membaca meliputi kayakinan akan kemampuan dan keterampilan mereka dalam tugas membaca. dan selalu berusaha untuk mencoba teks-teks bacaan yang lebih menantang. Akan tetapi, siswa dengan self efficacy yang tinggi saja tidak ditampilkan kinerja yang baik dalam pengerjaan tugas

jika kemampuan actual mereka tidak sesuai dengan persepsi dan keyakinan mereka. Self Efficacy dalam membaca dapat diartikan sebagai persepsi siswa terkait kompetensi mereka dalam membaca meliputi keyakinan akan kemampuan dan keterampilan mereka dalama membaca.

4. Task Mastery Task Mastery goal secara konseptual dapat diartikan keinginan untuk ,meningkatkan kemampuan dalam menguasai suatu keterampilan dan memahami materi pemeblajaran. Hal utama dari goal theory adalah beahwa siswa yang memiliki mastery goal memandang kesuksesan sebagai bentukdari perbaikan diri kearah yang lebih baik. Siswa yang berorientasi pada mastery goal memiliki ketekunan dalam tugas membaca dikarenakan memilki keinginan tahuan untuk menguasai materi dan mendapatkan pemahaman dan penegtahuan yang lebih mendalam. Mereka juga mendapatkan kepuasaan terkait dengan tugas membaca tersebut.

5. Performance Goals Merupakan peratian siswa mengenai kemampuan dan performansi meraka pada orang lain. Menekankan pada perbandingan dengan teman sebaya, performansi kompetensi yang dimilki dengan orang lain.

6. Social Motivation Dapat diartikan sebagai rasa percaya bahwa perilaku dan sikap orang lain dipandang sebagai suatu penyangga yang dapat membuat orang-orang lebih percaya diri, lebih terdorong dan lebih kuat dalam menghadapi berbagai rintangan dan halangan. Kata yang sulit dan menantang. Bila dihubungkan dengan dukungan sosial, maka tujuan sosial dapat di artikan sebagai usaha siswa untuk membantu temannya dalam kesulitan baik di bidang akademik maupun personal.

7. Value in Reading Value dapat dijelaskan dengan perluasan bahwa sebuah tugas dapat memiliki nilai positif bagi siswa di masa yang akan datang, bahkan ketika siswa tidak tertarik pada tugas tersebut. Valuing sangat berhubungan dengan self-determination theory yang diwakili kepercayaan

siswa mengenai pentingnya tugas sekolah dan membaca, seperti membaca buku untuk menyelesaikan tugas rumah (PR)

B. Pengalaman di Kelas yang dapat menguatkan Motivasi Membaca 1. Intrisic Motivation and Interest Minat atau ketertarika membaca tidak berbeda dari motivasi interinsik, kedua dihubungkan dengan perasaan positif, kenikmatan, dan diposisi perilaku untuk membaca. Minat atau ketertarikan sering dijelaskan pada tugas yang lebih spesifik dari pada motifasi interinsik. Guru yang dapat membuat siswa menemukan relevansi antara pengalaman mereka dengan cerita teks yang mereka baca dapat meningkakan minat mereka pada aktivitas membaca.

2. Perceived-Autonomy Cara utama yang dapat mengembangkan perceived autonomy adalah mengusahakan agar siswa memilih sendiri aktivitas membaca mereka. Hal ini meliputi pemilihan teks ( halaman atau buku apa yang akan dibaca ), pemilihan tugas ( bagaimana cara membaca ), atau pemiliha tampilan 9 bagaimana menunjukan pengetahuan yang didapat dai membaca ). Dukungan pada otonomi siswa akan meningkat dengan membiarkan siswa menge[resikan pendapatnya tentang teks dan memberi masukan pada srangkaian bacaan dan aktivitas interuksional. Guruyang mendukung keterlinatan siswanya dalam tugas membaca di sekolah dengan mengizinkan siswa untuk bekerja dengan caranya sendiri akan meningkatkan komitmen dan ketekunan siswa dalam melengkapi tugas membaca mereka, baik yang bersifat kompleks sekalipun

3. Self Efficacy Siswa yang memiliki self efficacy dalam membaca dapat meningkatkan secara sitematis dengan adanya model dari seorang ahli(misal;guru) yang memberikan umpan balik (feedback) tentang kemajuan dalam performansi tugas seperti membaca. Prosedur ini dalam di mulai dari: Siswa mengobservasi dari berusaha mengemulsi model yang menampilkan tugas dengan sempurna, lalu siswa membuat tujuan dan menerima umpan balik tentang tugas mereka. Berdasarkan informasi tersebut, siswa mengobservasi model baru dan membuat tujuan baru,

yang menghasilkan self regulation terhadap performansi tugas. Dalam kondisi ini, self efficacy akan meningkat. Hal yang perlu diingatkan adalah hanya dengan meningkatkan keterampilan tentu dapat meningkatkan keyakinan diri seseorang, karena kepercayaan diri siswa tidak dapat meningkatkan kecuali jika umpan balik yang mereka terima benar benar dijalankan

4. Task mastery Guru yang menggunakan mastery goal di dalam kelas akan mempengaruhi siswa untuk menggunakan mastery goal dalam tugas membaca mereka. Guru yang menggunakan kalimat yang terlalu mudah dan menuntut jawaban yang mudah untuk dijawab tidak akan memotivasi siswa untuk mwnguasai tugas, tetapi lebih meningkatkan performance goals. Guru yang menekankan pemahaman tentang isi teks akan membuat siswa memiliki orientasi pada pemahaman yang dalam akan isi bacaan dibandingkan bila guru menekankan pada motivasi ekstrinsik.

5. Performance Approach Goals Performance approach goals merupakan upaya pemberian insentif eksternal pada siswa seperti kelulusan, hadiah, atau rekognisi sebagai dukungan motivasional untuk membaca. Berdasarkan penelitian yang ada sumber motivasi eksternal ini hanya menghasilkan sedikit siswa yang berprestasi dengan konsisten.

6.Sosial Motivation Konsep ini berkaitan dengan perasaan saling terhubungan dan saling memiliki, berperilaku prososial, dan hubungan interpersonal dengan kelompok social. Siswa yang memilii hubungan yang positif dengan guru dan siswa lainnya akan mendapat penerimaan did lam kelas. Keadaan ini membuat siswa dapat berinteraksi dan merasa terlibat dalam aktivitas di kelas, seperti tugas membaca. Siswa yang sering membagi informai dalam buku dengan temannya cenderung lebih dapat mencapai prestasi yang tinggi. Dalam hal ini, guru dapat menggunakan pendekatan pengajaran dengan metode diskusi kelompok.

7. Value in Reading Value in reading berhubungan dengan prestasi membaca dan keterlibatan siswa dalam tugas membaca. Konsep ini dekat kaitannya dengan self determination theory, yaitu identifited motivation. Pembaca dengan identified motivation percaya bahwa menjadi pembaca yang baik sangat penting buat saya. Motivasi ini dihubungkan dengan penyelesaian pekerjaan rumah, yang erat kaitannya dengan membaca dan ikut terlibat dalam proses pendidikan melalui kehadiran di kelas dan mengikuti aktivitas di sekolah

C. Sumber Motivasi yang dapat melemahkan prestasi membaca Menurutnya motivasi dapat dihubungkan dengan perasaan negative dalam membaca ( seperti tidak nyaman atau tidak suka melakukan aktivitas membaca ) dan perilaku negative terhadap membaca (seperti jarang membaca, prokrstinasi, dan menyulitkan diri sendiri) siswa yang mengatakan saya menikmati aktivitas membaca buku mengindikasikan level motivasi intrinsic yang tinggi, sedangkan pernyataan siswa saya membaca buku setiap hari mengindikasikan ondikator perilaku dari motivasi intrinsic. Suatu penelitian menemukan bahwa siswa menghindari tugas atau aktivitas membaca di sekolah di sebabkan oleh: isi teks tidak menarik teman teman mereka jarang membaca materi sekolah tugas tugas tidak relevan dengan mereka teman sebaya memandang mereka bukan sebagai pembaca yabg pintar Brophy (2004) mengatakan bahwa terhadap sumber tekait penghindaran tugas membaca, yaitu: kurang minat dan adanya ketersaingan (merasa enggan, mengelak, dan memilii sikap bermusuhan)

1.Task Avoidance Siswa menghindari tugas dan enggan menyelesaikan tugas. Meece dan holt (1993) dalam paenguasaan guru)

menagatakan bahwa siswa ayang menhindari tugas (rendah

memiliku prestasi yang renda dan keterliabatanya dalam aktivatas membaca ahanya bersiafat dangkal (acendurung mengkopi/mencotek ahasil kerja temanya)

2.Perceived Lack Of Control

Konsep ini terkait dengan heternomy (sumber control eksternal) sebagail alawan dari Autonomy (sumber control internal).Siswa sayanng merasa dikontrol dari lauara ayakin bahwa dia tak dapat menagarahkan dan mengatur a aaktivitasnya, tidak dapat memili teks yang relevan dengan tujuan dan minatnya . Siswa-siswi ini tidak ikut terliba dalam tugas membaca dan cenderung menganggu jalannya aktivitasi dalam kelas , yang di tandai dengan level partisipasi ayang rendah ,tidak memperhatkan , dan tidak tekun

3.Perceived Task Difficully Ketika siswa peracaya abahwa membaca ituu sulit , maka mereka cenderung memiliki sikap negative adan memiliki persaan enggan untuk membaca sehingga menghindari tugas membaca

4.Meaningless of Texts Ketika siswa menemukan bahwa isi bacaan tidak relevan denagan pengeratahuan, kebutuhan , dan minat mereka, maka mereka memandang tugas membaca membaca menjadi tidak bermakana. Ahal ini akan membuat siswa cenderung untuk mengerjakan tugas sedikit mungkin dasn menghindari aatuagas tersebut. Bagi siswa ini menjawab soal dan mengerjakan tugas tiada member manfaat apa apa untuk mereka 5. Performance aAvoidance Penghiandari Performansi berhugungsaan negative dengan penguasaan siswaa akan tugas (maskey task goal)seperti pada tugas membaca. Pada masa transisi dari sekolah dasar ke sekolah menengah Performance goal siswa akan meningkat dan mastery goal siswa akan menurun.

6. Sosiali solation Siswa yang tidak dapat membanggun bkepercayaan dalam hubungan dengan significant partner(teman yang berpengaruh) cenderung memandang diri memiliki sikap bermusuhan secara social. Siswa yang tidak memiliki rasa salng memiliki dan tidak adanya saling keterhubungan dalam lingkungan kelas ,baik dari guruatau teman sebaya , saka keterlibatan siswa tersebut dalam aktivitas kelas pun akan berkurang , termasuk tugas membaca.

Isolasi merupakan rasa ketidak percayaan yang meliputi ketidak perhatian, ketidakpedulian ,dan kurangnya keinginan untuk bekerja sama dengan orang lain dalam menghadapi kesulitan.keditak percayaan diri yang negative dan mempengaruhi pertasi yang negative pula. 7. Dis Identiy Siswa yang berada pada masa pembentukan identitas ,terutama saat remaja dapat menurunkan motivasi membaca mereka dan memiliki sikap yang berlawanan dengan tugas membaca di sekolah . pada beberapa kasus , siswa yang memiliki popularitas dan hubungan social yang luas mempunyai konflik dengan motivasi membaca. Seswa jauh dari literature sekolah akan menolak dengan adanya tugas membaca

D. Pengalaman dikelas yang melemahkan mitivasi 1. Teacher Over Control Guru yang menggontrol atau mengatur secara berlebihan meliputi diminasi guru dalam pengaturan, kaku dalam penggunaan jadwal , tidak sensitive terhadap minat siswa,dan menolak permintaan atau kebutuhan siswa untuk mengekspresikan pendapat. Teacher over control dihubungkna dengan pengaruh negative pada siswa yang merasa dikontrol atau,dipaksa sehingga terjadi penghindaran tugas membaca.

2. Difficulty of texs and reading taskas Menurunnya motivasi membaca siswa berkaitan dengan mudahatau terlalu sulitkah isi buku itu untuk di baca dahn di pahami .isi buku yang terlalu sulit untuk siswa mengarahkan mereka untuk tidak suka membaca, tidak memiliki buku favorit, jarang membaca, dan menghindari buku sebisa mungkin.

3. Content Irrelevance Siswa yang menemukan teks yang tidak relevan dengan kebutuhan , minat , dan tujuan mereka, maka siswa tersebut akan menghindari tugas membaca. Persepsi siswa terhadap konten bacaan dapat berasal dari guru yang menjelaskan mengapa materi ini perlu untuk Dipelajari di sekolah atau penjelasan guru tentang hubungan antara teori yang dipelajari

Di sekolah dengan yang terjadi di kehidupan nyata .

4. Social Isolation Guru yang menggunakan pendekatan mengajar yang terkait dengan textbook seperti Menekankan untuk bekerja sendiri , menghindari diskusi kelompok , membatasi berbagai Pendapat , tidak mengikutsertakan siswa dalam manajemen kelas , dan siswa merasa tidak Terhubung secara social maka siswa tersebut akan menghindari tugas membaca . E.Profil Membaca Bedasarkan sumber-sumber motivasional yang telah dijelaskan , maka didapatlah empat Profil siswa , yaitu : 1. Avid reader , yaitu siswa yang gemar membaca yang memiliki Motivasi membaca dengan level tinggi . Dan memiliki penghindaran aktivitas Membaca dengan level rendah Siswa tipe ini biasanya memiliki prestasi membaca yang tinggi . 2. Ambivalent reader (pembaca ambivalen), yaitu siswa yang kadang-kadang memiliki motivasi membaca dengan level tinggi dan kadang-kadang penghindaran aktivitas membaca dengan level tinggi. Siswa tipe ini biasanya memiliki keyakinan bahwa dirinya mampu tetapi tidak memiliki minat dengan motivasi intrinsic yang rendah . 3. Apathetic reader (pembaca apatis) , yaitu siswa yang memiliki Motivasi membaca dengan level sedang dan mimiliki penghindaran aktivitas membaca dengan level sedang juga . Prestasi siswa pada tipe ini berada di tengah-tengah antara avid dan averse reader . 4. Averse reader, yaitu siswa yang enggan untuk membaca dengan level rendah dan memiliki penghindaran aktivitas membaca dengan level tinggi .siswa dengan tipe ini memi miliki prestasi rendah . Dalam menjelaskan motivasi membaca menentukan profil siswa sangat penting untuk melihat level prestasi . usia ,dan konteks siswa tersebut contohnya: Siswa yg mengalami masa transisi dari sekolah dasar ke sekolah menengah akan lebih besar kemungkinannya untuk menyadi pembaca ambivalen, di suatu sisi mereka menolak dan menghindari tugas membaca dan menyelesaikan tugas sekolah tetapi disisi lain merekan rajin membaca majalah majalah remaja.

Valuing dalam membaca, pada siswa sekolah tingkat atas dihubungkan dengan task mastery goal yaitu pemahaman tentang isi teks, memiliki self afficacy, yang menampilkan keyakinan akan kemampuan untuk sukses dlm membaca . sedangkan siswa sekolah dasar valuing ,dlm membaca lebih ditekankan pada pentingnya membaca sebagi suatu keterampilan dan

dihubungkan dengan motivasi , yaitu keterlibatan dan keigintahuan siswa dalam membaca