Anda di halaman 1dari 16

Analisis.

Instrumentasi

Yan mailapa Lotong


03 33 049 / II B

I.

TUJUAN


II.

Untuk memisahkan partikel batu merah berdasarkan prinsip pengayakan. Untuk menentukan Aperture, Dimensi Partikel rata-rata, Fraksi Massa, Xi > Dpi dan Xi < Dpi. Untuk menentukan luas permukaan distribusi ukuran partikel.

PERINCIHAN KERJA

Persiapan Bahan Penghalusan grinding !tumbuk dan Ball Mill" Pengayakan

III. ALAT yang DIGUNAKAN

#ie$ing Ball Mill %imbangan #aringan

IV. BAHAN yang DIPAKAI

Batu merah A&uadest

%eknik 'imia P(liteknik )egeri Makassar *++,

Analisis. Instrumentasi

Yan mailapa Lotong


03 33 049 / II B

V.

DASAR TE RI Ada tiga -u.ud /at yaitu, /at padat, /at 0air dan gas. Diantara ketiga -u.ud /at tersebut, /at padat-lah yang penanganannya paling sulit. 1at padat yang di(lah bisa terdapat dalam berbagai bentuk p(t(ngan-p(t(ngan besar bersudut, lembaran 2 lembaran lebar yang k(ntinus !seimbang", ataupun berbagai serbuk halus. 1at padat itu ada yang keras dan abrasi3, kuat, kenyal, lunak dan rapuh, mendesu, plastik atau lengket. Bagaimanapun bentuk /at padat tersebut, harus diusahakan suatu 0ara untuk menanganinya dan bila mungkin karakteristik penangannya diperbaiki. #alah satu penanganan /at padat yang digunakan dalam industri kimia adalah sie$ing atau pengayakan merupakan suatu 0ara untuk mendapatkan partikel bahan padat yang berukuran seragam. Partikel-partikel padat dari hasil penggerusan menggunakan peralatan seperti 0rusher, ball mill dan lain-lain. Peralatan ini banyak diterapkan pada berbagai bidang seperti teknik sipil, metalurgi, pertambangan dan lain-lain. Untuk industri kimia, peralatan ini biasanya sebagai sarana yang digunakan pada unit pengeringan, kristalisasi, reaksi padat 0air pada rea0t(r, dust 0(lle0t(r dan lain-lain. Partikel /at padat se0ara indi$idu dikarakterisasikan dengan ukuran, bentuk, dan densitasnya. Partikel /at padat h(m(gen mempunyai densitas yang sama dengan bahan b(ngkahan. Partikel-partikel yang didapatkan dengan meme0ahkan /at padat 0ampuran , mempunyai berbagai densitas yang biasanya berbeda-beda. Untuk partikel yang bentuknya beraturan, miasalnya yang berbentuk b(la dan kubus ukuran dan bentuknya dapat dinyatakan dengan mudah. %etapi, partikel yang bentuknya tidak

%eknik 'imia P(liteknik )egeri Makassar *++,

Analisis. Instrumentasi

Yan mailapa Lotong


03 33 049 / II B beraturan, seperti butiran-butiran pasir dan serpihan mika, ukuran dan bentuknya tidak begitu .elas dan harusd dide3enisikan se0ara a0ak.

Ka!a"t#!i$ti" Pa!ti"#l %at Pa&at


Pada pr(ses pengayakan, bahan dibagai men.adi bahan kasar yang tertinggal !hasil atas" dan bahan lebih halus yang l(l(s melalui ayakan !hasil ba-ah". Bahan yang tertinggal hanyalah partikel yang berukuran lebih besar daripada lubang ayakan, sedangkan bahan yang l(l(s berukuran lebih ke0il daripada lubang itu. Dalam praktek sering kali ter.adi penyimpangan dari keadaan ideal ini. Penyimpangan dapat dinyatakan dalam e3isiensi, yaitu perbandingan antara .umlah bahan yang l(l(s dalam kenyataannya dan .umlah bahan yang l(l(s se0ara te(ritik e3isiensi selalu lebih ke0il dari satu atau kurang dari 4++5. Fakt(r 2 3akt(r yang mempengaruhi e3isiensi adalah 6 Bentuk Butir Padatan yang berupa butir tidak beraturan lebih mudah l(l(s .ika dibandingkan dengan bahan-bahan berbentuk b(la, .arum atau sisik yang dapat menyumbat atau menutupi lubang ayakan. 7erakan dan 8aktu %inggal 7erakan dan -aktu tinggal bahan diatas ayakan harus dipilih agar setiap butiran paling sedikit satu kali berada pada sebuah lubang ayakan. 93isiensi pengayakan akan turun .ika bahan yang diayak membentuk lapisan yang terlalu tebal atau bergerak terlalu 0epat. #elain itu, gerakan yang terlalu kuat dapat menyebakan penge0ilan ukuran akibat pengikisan, terutama bahan yang lunak.

%eknik 'imia P(liteknik )egeri Makassar *++,

Analisis. Instrumentasi

Yan mailapa Lotong


03 33 049 / II B

'elembaban Umpan yang lembab atau lekat ikut menyebabkan penggumpalan bahan dan menutup lubang ayakan.

Muatan :istrik #etatik Bahan-bahan (rganik khusus yang halus mempunyai ke0enderungan untuk membentuk agl(merat karena adanya muatan listrik statik. 'arena itu alat 2 alat yang digunakan untuk mengayak bahan-bahan (rgani0 harus dibumikan.

:ubang Ayakan Pada dasarnya semakin halus bahan yang diayak, semakin a-al terdapatnya ke0enderungan penyumbat lubang ayakan. Partikel /at padat se0ara indi$idu dikarakteristikan dengan ukuran, bentuk

dan densitasnya. Partikel /at padat h(m(gen mempunyai densitas yang sama dengan bahan b(ngkahan. Untuk partikel yang bentuknya beraturan, misalnya b(la dan kubus, ukuran dan bentuknya dapat dinyatakan dengan mudah. %etapi partikel yang ukurannya tak beraturan !seperti butiran-butiran pasir dan serpih mika", istilah ;ukuran !;si/e<" dan ;bentuk<!;shape<" tidak begitu .elas dan harus dide3inisikan se0ara a0ak. Pada umumnya, <diameter< dapat ditentukan untuk setiap partikel yang ekidimensi(nal. Partikel yang tidak ekidimensi(nal, yaitu yang lebih pan.ang pada satu arah ketimbang pada arah yang lain, partikel itu dikarakterisasi dengan dimensi utama yang kedua terpan.ang. Ukuran partikel, menurut k(n$ensi, dinyatakan dalam berbagai satuan, bergantung pada .angkauan ukuran yang terlibat. Partikel2partikel kasar diukur

%eknik 'imia P(liteknik )egeri Makassar *++,

Analisis. Instrumentasi

Yan mailapa Lotong


03 33 049 / II B dalam in0i atau millimeter, partikel halus dengan ukuran halus dengan ukuran ayak dan partikel yang sangat halus dengan mi0r(meter dan nan(meter. Partikel yang ultrahalus kadang-kadang diberikan dengan luas permukaan persatuan massa, biasanya dalam meter persegi pergram. =n3(rmasi dari analisis ukuran partikel dida3tarkan untuk menun.ukkan massa atau .umlah 3raksi yang terdapat dalam setiap t(t(kan atau pertambahan ke0il !in0rement" ukuran sebagai 3ungsi ukuran partikel rata2rata di dalam t(t(kan itu. Analisis yang ditabulasikan dengan 0ara demikian dinamakan analisis de3erensial. >asilnya biasanya disa.ikan dalam bentuk hist(gram. ?ara kedua untuk menya.ikan in3(rmasi itu ialah dengan menggunakan analisis kumulati3 !0umulati$e analysis" yang didapatkan dengan men.umlahkan t(k(kan2t(k(kan itu se0ara berurutan mulai yang mengandung partikel ke0il, lalu memetakkan .umlah kumulati3 tersebut terhadap diameter maksimum dari partikel yang terdapat dalam t(k(kan itu. Dalam analysis kumulati3, data itu dapat dinyatakan dengan baik dalam bentuk kur$a k(ntinue.

Anali$i$ Aya"
Ayak standar digunakan untuk mengukur besarnya partikel !dan distribusinya" dalam .angkauan ukuran antara @ sampai +,++4A in !BC sampai @D Em". Ayak-ayak u.i itu terbuat dari anyaman ka-at, sedang rapat anyaman !mesh" dan ukuran ka-atnya dibakukan dengan teliti. Bukaan ayakan itu berbentuk bu.ursangkar. #etiap ayak itu diindenti3ikasi menurut mesh !rapat ayak " perin0i. Bukaan sebenarnya tentulah lebih ke0il dari angka meshnya, karena tebal ka-at tertentu harus .uga diperhitungkan .uga.

%eknik 'imia P(liteknik )egeri Makassar *++,

Analisis. Instrumentasi

Yan mailapa Lotong


03 33 049 / II B

L'a$ P#!m'"aan Di$t!i('$i Diam#t#! U"'!an Pa!ti"#l


Diandaikakan suatu bulk !timbunan Partikel men.adi Padatan" terdiri atas sekumpulan partikel dengan bentuk b(la, karena bentuk b(k memiliki luas permukaan yang lebih ke0il untuk setiap satuan massa, pada perhitungan akan menghasilkan luas permukaan spesi3ik yang minimal. Fika partikel menyimpang dari bentuk b(la, maka setidak-tidaknya akan selalu didapatkan luas permukaan sudut-sudut yang lebih besar dibandingkan dengan partikel 2partikel bentuk b(la. Massa n buat partikel pada suatu si/e inter$al ke i !ukuran partikel antara !dp * 2 dpi" dengan massa .enis partikel, p dan diameter rata-rata, dpi adalah 6 Massa =nter$al !GP" GPi H n . p . I C d@ pi :uas permukaan seluruh b(la pada si/e inter$al adalah 6 J ABi H n . K . dpi* :uas permukaan t(tal dari seluruh si/e inter$al didapatkan dengan 0ara men.umlahkan semua luas permukaan setiap si/e inter$al yang dihitung berdasarkan rumus diatas tetapi karena nilai dpi, pada setiap saat inter$al tidak diketahui. Maka luas permukaan hanya merupakan suatu nilai pendekatan yang kasar. 'esalahan yang ada dapat dikurangi, .ika lebar si/e inter$al dipilih sangat ke0il. Fika dihubungkan dengan si/e analisis maka artinya harus digunakan ayakan dalam .umlah yang sangat banyak. 'esalahan ini akan benar-benar hilang, .ika se0ara te(ritis digunakan lebar si/e inter$al yangh berbeda se0ara in3initesimal !tdk terhingga". =tu berarti GP pada si/e inter$al akan menyusut
C . d OP . dp

men.adi, dGP

sedangkan luas permukaannya men.adi, d AB sebesar 6


d AB =

P#!alatan P#m#)a* &an P#ng*al'$

%eknik 'imia P(liteknik )egeri Makassar *++,

Analisis. Instrumentasi

Yan mailapa Lotong


03 33 049 / II B Untuk meme0ah dan menghaluskan partikel-partikel padat diperlukan peralatan penghan0ur /at padat yang memiliki berbagai .enis tergantung dari hasil yang diinginkan. Adapun .enis-.enis utama mesin peme0ah dan penghalus /at padat terserbut 6

Mesin Peme0ah Mesin peme0ah atau penghan0ur adalah mesin berke0epatan lambat yang digunakan untuk membuat pe0ahan kasar /at padat dalam .umlah besar. Fenis.enis yang utama adalah 6 Mesin peme0ah rahang Mesin peme0ah girat(ri Mesin peme0ah r(ll li0in Mesin peme0ah r(ll bergigi Mesin peme0ah rahang, mesin peme0ah girat(ri dan mesin peme0ah r(ll l(0in beker.a dengan k(mpresi dan mampu meme0ahkan bahan yang sangat keras. Mesin peme0ah r(ll bergigi mer(bek bahan disamping mengempa, alat ini dapat menangani umpan-umpan yang lunak seperti batubara, tulang dan serpih lunak. Mesin 7iling =stilah penggiling atau mesin giling memberikan berbagai .enis mesin peme0ahpenghalus dengan tugas menengah. >asil dari mesin peme0ah biasanya dimasukkan ke dalam mesin giling, dimana umpan itu digiling sampai men.adi serbuk. Fenis utama mesin giling antara lain 6 Mesin tumbuk palu dan impakt(r Mesin k(mpresi-r(ll

%eknik 'imia P(liteknik )egeri Makassar *++,

Analisis. Instrumentasi

Yan mailapa Lotong


03 33 049 / II B Mesin giling atrisi Mesin giling guling

VI. PR SEDUR PENGERJAAN

Penentuan berat batu merah pada tiap-tiap pan ayakan Menumbuk batu merah dengan menggunakan batu atau martil hingga setengah halus dan diperkirakan akan terdistribusi se0ara baik pada setiap pan ayakan.

Memasukkan hasil gerusan batu merah kedalam Ball mill selama kurang lebih *+ menit. Menimbang hasil gerusan dari Ball mill sebanyak A++ gr. Membersihkan masing-masing pan ayakan menggunakan udara tekan. Menimbang masing-masing pan dalam keadaan bersih beratnya. Menyusun masing-masing pan dari atas keba-ah dimana pan bagian atas adalah pan yang memiliki ukuran terbesar, hingga bagian paling halus ada dibagian ba-ah. Bagian ba-ah dari susunan pan adalah merupakan pani0 penampung yang bukan ayakan. dan men0atat

Memasukkan gerusan batu merah yang telah ditimbang pada pan bagian paling atas, lalu menutup se0ara hati-hati. Meletakkan susunan pan pada alat $ibrat(r.

%eknik 'imia P(liteknik )egeri Makassar *++,

Analisis. Instrumentasi

Yan mailapa Lotong


03 33 049 / II B

Menggetarkan alat $ibrat(r dengan ke0epatan tertentu selama kurang lebih *+ menit. #etelah pengayakan selesai, menimbang masing-masing pan ayakan yang berisi gerusan batu merah, hingga diketahui batu merah pada tiap2tiap pan.

VII. DATA PENGA+ATAN No. 4. *. @. ,. A. C. B. D. Ap#!t'!# , mm *,++ 4,,+ 4,++ +,C@+ +,@LA +,*++ +,44* + B. Aya"an , g! @,B,44 @4,,L, *LA,*A *AC,,D *@+,4* *44,,+ *+4,+B 4DB,4D B. Aya"an . Samp#l T'm('" @LB,,A @AC,,+ @,4,B* @+C,*A *D+,,, *,,,D+ *,B,@L @CB,+, B. Aya"an . Samp#l Ball +ill @CA,LL @*C,D, @+L,*B *DA,+B *DL,,C *CA,LD **A,@A ,B@,BB

VIII.

PERHITUNGAN

Mencari nilai Xi
Xi H Xi H !Berat #ampel - Berat Ayakan" Massa %(tal !@LB,,A - @,B,44" H A+,@, ,LB,L,

%eknik 'imia P(liteknik )egeri Makassar *++,

Analisis. Instrumentasi

Yan mailapa Lotong


03 33 049 / II B

Tabel Hasil Perhitungan


)(. 4. *. @. ,. A. C. B. D. )ilai Dpi * 4,B 4,* +,D* +,A4 +,@+ +,4AC +,+AC )ilai Xi %umbuk Ball Mill +,4+4+L +,+@BDL B D +,+D@*C +,+*@DD @ B +,+L@@* +,+*D4, , * +,+LLLA +,+AB@D * L +,4+4+A +,44L44 C , +,+CB+B +,4+LAA C L +,+L@+* +,+,DB@ @ B +,@C4*+ +,ABA*B D , )ilai Xi 'umulati3 > Dpi %umbuk Ball Mill +,4+4+LB +,4D,@C+ +,*BBCD, +,@BBC@C +,,BDCL* +,A,ABCL +,C@DBL* 4 +,+@BDLD +,+C4BDA +,+DLL*B +,4,B@4C +,*CC,@ +,@BALDL +,,*,B*C 4 )ilai Xi 'umulati3 > Dpi %umbuk Ball Mill +,DLDL+@ +,D4AC,+ +,B**@4C +,C**@C, +,A*4@+D +,,A,*@4 +,@C4*+D + +,LC*4+* +,L@D*4A +,L4++B@ +,DA*CD, +,B@@AB +,C*,+44 +,ABA*B, +

I/. PE+BAHASAN HASIL PERC BAAN

Pada hasil praktikum data yang diper(leh menn.ukan bah-a pengayakan dengan mnggunakan tumbuk biasa hasilnya lebih sedikit hasil yang tertampung di pan penampungan. >al ini disebabkan karena pada tumbuk biasa ukuran partikel bahan !bata merah " tidak seragam dan umumnya kasar ,maka pengayakan semakin 0epat, dimana partikel yang ukuranya sesuai dengan diameter lubang ayakan akan 0epat turun ke pan berikutnya .

8aktu pengayakan kami menggunakan -aktu yang sama pada perlakuan tumbuk biasa dengan menggunakan ball mill yaitu 4A menit, sedangkan pada

%eknik 'imia P(liteknik )egeri Makassar *++,

Analisis. Instrumentasi

Yan mailapa Lotong


03 33 049 / II B pengerusan menggunakan ball mill di gunakan -aktu selama A menit dengan r(tasi sebanyak ,,+ kali sehingga6 ,,+ rotari = DD rpm A menit

>asil yang di per(leh dari pan 2 pan pengayakan mempunyai massa yang lebih banyak .ika dibanding dengan pengeruasan dengan 0ara tumbuk biasa yakni selisihnya sebanyak +,*,gram, hal ini dipengaruhi dari pr(ses itu sendiri dimana didalam ball mill bata tersebut digerus didalam tabung tertutup yang se0ara l(gikanya bah-a massa yang digerus akan tetap sama dengan massa yang telah digerus, hal ini berbeda pada tumbuk biasa dimana dengan 0ara ini memungkinkan adanya bata yang tumbuh atau yang men.adi debu saat dilakukan penumbukan biasa..

Massa a-al bahan material !bata merah " sebanyak A4+ gram, namun pada t(tal massa yang tertahan pada tumbuk biasa hanya ,LB,L, gram hal ini disebabkan karena beberapa gram masih tersisa di tiap pan 2 pan dan ada .uga yang men.adi debu !padatan halus yang tersuspensi ke udara " sehingga masssa bahan yang hilang, demikian .uga pada sistem ball mill, sebagian tersisa pada ball mill dan pan2pan pengayakan.

Untuk hist(gram dari tumbuk 6

%eknik 'imia P(liteknik )egeri Makassar *++,

Analisis. Instrumentasi

Yan mailapa Lotong


03 33 049 / II B

'ur$a Dimensi Partikel dengan Fraksi Massa +,, +,@A +,@ +,*A +,* +,4A +,4 +,+A + + +,@ +,C +,L 4,* 4,A 4,D *,4

Fraksi Massa

Dimensi Partikel Fika kita memperhatikan gra3ik dari hasil ;%umbuk< diatas maka kita dapat melihat bah-a massa yang paling banyak tertahan berada pada pan yang mele-ati mesh +,44* yaitu sebanyak +,@C4*+D, .ika kita memperhatikan kembali pada mesh * mm terdapat bata sebanyak +,4+4+LB, yang se0ara tidak langsung dapat kita nilai bah-a ternyata pr(ses tumbuk ini masih banyak menyisahkan butiran-butiran yang agak besar.

#edangkan pada hist(gram untuk ball mill diper(leh bah-a banyaknya bata yang tertampung pada pan seberat +,ABA*B, gr, lalu pada mesh * mm yang tertampung sebanyak +,ABA*B, gr dan .ika kita melihat pada hist(gram ini terlihat bah-a bata hasil gerusan paling banyak tinggal selain pada pan yaitu pada mesh +,A4 mm sebanyak +,44L44, gr, hal ini disebabkan karena pada ball mill ini penggerusan ter.adi hampir merata dan membuktikan bah-a pada -aktu yang

%eknik 'imia P(liteknik )egeri Makassar *++,

Analisis. Instrumentasi

Yan mailapa Lotong


03 33 049 / II B bersamaan ball mill mempunyai hasil yang lebih baik .ika kita membandingkannya dengan 0ara tumbuk biasa, hal ini dapat dilihat pada hist(rgam berikut 6 >ist(gram Aperture dengan Fraksi Massa +,C +,A Fraksi Massa +,, +,@ +,* +,4 + + +,@ +,C +,L 4,* 4,A 4,D *,4

Aperture !mm "

'ur$a hubungan antara Dpi dengan Fraksi massa adalah sama dengan hist(gram diatas untuk masing-masing sampel, dimana untuk nilai Dpi itu sendiri hanyalah hasil rata-rata dari setiap Aperture itu sendiri, hal ini terlihat dengan .elas dimana bentuk gra3iknya mempunyai ketinggian pada 3raksi massa dan m(del kur$a yang sama dengan hist(gramnya.

#edangkan untuk kur$anya itu sendiri dapat kita lihat pada gra3ik diba-ah ini 6

%eknik 'imia P(liteknik )egeri Makassar *++,

Analisis. Instrumentasi

Yan mailapa Lotong


03 33 049 / II B

'ur$a Dimensi Partikel dengan Fraksi Massa

+,, Fraksi Massa +,@ +,* +,4 + + +,* +,, +,C +,D 4 4,* 4,, 4,C 4,D * *,*

Dimensi Partikel

%eknik 'imia P(liteknik )egeri Makassar *++,

Analisis. Instrumentasi

Yan mailapa Lotong


03 33 049 / II B

'ur$a Dimensi Partikel dengan Fraksi Massa +,B +,C Fraksi Massa +,A +,, +,@ +,* +,4 + + +,* +,, +,C +,D 4 4,* 4,, 4,C 4,D * *,*

Dimensi Partikel

4,* 4 Xi 'umulati3. +,D +,C +,, +,* +


+,A

Dari hasil hubungan kur$a antara Xi kumulati3 dengan Apertur >ubungan Antara Aperture dengan Xi 'umulati3

+,@@+ +,@ +,C

+,L 4,* Aperture

4,A

4,D

*,4

Xi 'umulati3 > DPi Xi 'umulati3 < DPi

%eknik 'imia P(liteknik )egeri Makassar *++,

Analisis. Instrumentasi

Yan mailapa Lotong


03 33 049 / II B

>ubungan Antara Aperture dengan Xi 'umulati3 4,* 4 Xi 'umulati3. +,D +,C


+,A

+,, +,* +
+,LDL

/.

+ +,@ +,C KESI+PULAN

dengan

+,L 4,* 4,A 4,D *,4 Aperturekita akan memper(leh bahan padat Dengan sistam pengayakan sie$ing Xi 'umulati3 > DPi ukuran partikel beragam . Xi 'umulati3 < DPi 'eakuratan hasil yang lebih baik diper(leh dari ball mill, .ika kita

bandingkan keakuratannya dengan tumbuk /I. DA0TAR PUSTAKA

Buku Panduan Praktikum Analisis Instrumentasi, P(liteknik )egeri U.ung Pandang %ahun *++, dari File P9D? Bandung.

%eknik 'imia P(liteknik )egeri Makassar *++,