Anda di halaman 1dari 6

FRAKTUR GIGI DEFINISI Fraktur dental atau patah gigi adalah hilangnya atau lepasnya fragmen dari suatu

gigi utuh yang biasanya disebabkan oleh trauma atau benturan. PATOFISIOLOGI Fraktur dental pada umumnya terjadi bersamaan dengan cidera mulut lainnya. Deteksi dan pengobatan dini dapat meningkatkan kelangsungan hidup dan fungsi dari gigi tersebut. Sekitar 82% gigi yang mengalami trauma adalah gigi-gigi maksiler. Fraktur gigi maksiler tersebut 64% adalah gigi incisivus sentral, 15% incisivus lateral, dan 3% caninus (Peng, 2007). Fraktur dental pada umumnya terjadi pada kelompok usia anak, remaja, dan dewasa muda dengan rasio laki-laki terhadap perempuan 2-3 : 1. Penyebab umum fraktur dental adalah benturan atau trauma terhadap gigi yang menyebabkan disrupsi atau kerusakan enamel, dentin, atau keduanya. Dari penelitian terhadap 1610 anak-anak, faktor predisposisi fraktur dental antara lain postnormal occlusion, overjet yang melebihi 4 mm, bibir atas yang pendek, bibir yang inkompeten, dan pernapasan melalui mulut (Peng, 2007). Literatur lain menyebutkan bahwa umur, aktivitas olahraga, riwayat medis, dan anatomi gigi juga merupakan fraktur predisposisi. Fraktur dental jarang ditemukan pada anak-anak di bawah 1 tahun. Apabila ada, dapat disebabkan oleh kekerasan terhadap anak. Pada usia 1-3 tahun ketika anak belajar berjalan dan berlari insidennya meningkat yang diakibatkan oleh aktivitas yang tinggi dan kurangnya koordinasi anggota tubuh menyebabkan anak sering jatuh. Pada anak usia sekolah, taman bermain dan cidera akibat bersepeda merupakan penyebab tersering. Selama masa remaja, cidera olahraga merupakan kasus yang umum. Pada usia dewasa, cidera olahraga, kecelakaan sepeda motor, kecelakaan industri dan pertanian, dan kekerasan dalam rumah tangga merupakan penyebab potensial (Schwartz, 1999). Olahraga yang melibatkan kontak fisik merupakan penyebab umum fraktur dental, seperti sepakbola dan bola basket. Olahraga tanpa kontak fisik seperti berkuda juga dapat menyebabkan fraktur dental (Schwartz, 1999). Frekuensi fraktur dental yang lebih tinggi ditemukan pada pasien dengan retardasi mental dan serebral palsi. Penyalahgunaan obat dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya fraktur dental (Schwartz, 1999). Gigi insisivus maksiler yang menonjol keluar atau ketidakmampuan menutup gigi pada keadaan istirahat dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya fraktur (Schwartz, 1999). Benturan atau trauma, baik berupa pukulan langsung terhadap gigi atau berupa pukulan tidak langsung terhadap mandibula, dapat menyebabkan pecahnya tonjolan-tonjolan gigi, terutama gigi-gigi posterior. Selain itu, tekanan oklusal yang berlebihan terutama terhadap tumpatan yang luas dan tonjol-tonjolnya tak terdukung oleh dentin dapat pula menyebabkan fraktur. Keparahan fraktur bisa hanya sekedar retak saja, pecahnya prosesus, sampai lepasnya gigi yang tidak bisa diselamatkan lagi. Trauma langsung kebanyakan mengenai gigi anterior, dan karena arah pukulan mengenai permukaan labial, garis retakannya menyebar ke belakang dan biasanya horizontal atau oblique. Pada fraktur yang lain, tekanan hampir selalu mengenai permukaan oklusal, sehingga frakturnya pada umumnya vertikal. Pukulan terhadap gigi anterior paling sering terjadi pada anak-anak dan apabila dibiarkan maka tubulus dentinnya akan terpapar pada flora normal mulut sehingga dapat menimbulkan infeksi dan inflamasi pulpa sehingga perlu dirawat. Di pihak lain, gigi posterior yang fraktur karena

tekanan oklusal yang besar biasanya karena mempunyai tumpatan yang luas. Pada gigi semacam ini, hanya sedikit tubulus dentin yang terbuka yang langsung berhubungan dengan pulpa karena telah terjadinya reaksi terhadap karies dan prosedur penambalannya berupa kalsifikasi tubulus dan penempatan dentin reaksioner di rongga pulpa. Dengan demikian jaringan pulpanya jarang sekali ikut terkena. Trauma terhadap gigi pada umumnya bukan merupakan keadaan yang mengancam nyawa, tetapi cidera maksilofasial lain yang berhubungan dengan trauma dental dapat mengganggu jalan napas. Fraktur biasanya terjadi pada gigi permanen, sedangkan gigi susu biasanya hanya mengalami perubahan letak. Morbiditas yang berhubungan dengan fraktur dental bisa seperti gagalnya pergantian gigi, perubahan warna gigi, abses, hilangnya ruang pada arkus dental, ankylosis, lepasnya gigi secara abnormal, dan resorpsi akar merupakan keadaan yang signifikan. Trauma dental sering berhubungan dengan laserasi intraoral. Ketika ada gigi yang pecah atau hilang dan pada saat yang bersamaan terdapat laserasi intraoral, maka harus diperhatikan bahwa bagian gigi yang hilang dapat tertanam di dalam robekan luka tersebut (Roberts, 2003; Peng, 2007). ASPEK KLINIS Klasifikasi fraktur dental dan anamnesa Ada banyak cara untuk mengklasifikasikan fraktur dental. Klasifikasi Ellis merupakan salah satu yang sering digunakan dalam literatur kegawatdaruratan, tetapi banyak dokter gigi dan ahli bedah maksilofasial yang tidak menggunakan sistem ini. Metode klasifikasi yang paling mudah dimengerti adalah berdasarkan deskripsi cidera (Roberts, 2003). Fraktur mahkota gigi dapat dibedakan menjadi kategori sederhana dan rumit. Fraktur mahkota sederhana melibatkan bagian enamel dan dentin. Yang termasuk fraktur mahkota sederhana adalah fraktur Ellis kelas I dan II. Fraktur Ellis kelas I Fraktur yang tergolong Ellis kelas I hanya melibatkan lapisan enamel gigi. Pada inspeksi tampak sebagai kepingan kecil dengan tepi yang tidak beraturan (kasar). Keluhan yang biasanya muncul adalah rasa tidak nyaman akibat tepi fraktur yang kasar tersebut. Pasien pada umumnya tidak mengeluhkan sensitivitas terhadap temperatur atau udara. Fraktur ini pada umumnya tidak menyebabkan gangguan terhadap rongga pulpa. Berikut klasifikasi fraktur ellis yang didasarkan kerusakan pada gigi: 1. Fraktur Ellis Klas I : Tidak ada fraktur atau fraktur mengenai email dengan atau tanpa memakai perubahab tempat, menunjukkan luka kecil chipping dengan kasar. 2. Fraktur Ellis Klas II : Fraktur mengenai dentin dan belum mengenai pulpa dengan atau tanpa memakai perubahan tempat. pasien mungkin mengeluh rasa sakit untuk menyentuh dan kepekaan terhadap udara. Sebuah paparan kuning pucat proses dentinal, yang berkomunikasi langsung dengan pulp, dapat terjadi. Pasien lebih muda dari 12 tahun memiliki gigi belum menghasilkan dentin apalagi mencakup ruang antara pulp dan email. Kesempatan infeksi dan kerusakan pada pulp di kelompok usia ini jauh lebih besar karena ukuran pulp lebih besar dan lebih pendek jarak dentin infeksi harus melintasi. 3. Fraktur Ellis Klas III : Fraktur mahkota dengan pulpa terbuka dengan atau tanpa perubahan

tempat. ; pasien mengeluh sakit dengan manipulasi, udara, dan suhu. tanda merah muda atau kemerahan di sekitar dentin sekitarnya atau darah di tengah-tengah gigi dari pulp terkena mungkin hadir. 4. Fraktur Ellis Klas IV : Gigi mengalami trauma sehingga gigi menjadi non vital dengan atau tanpa hilangnya struktur mahkota 5. Fraktur Ellis Klas V : Hilangnya gigi sebagai akibat trauma 6. Fraktur Ellis Klas VI : Fraktur akar dengan atau tanpa hilangnya struktur mahkota 7. Fraktur Ellis Klas VII : Perpindahan gigi atau tanpa fraktur mahkota atau akar gigi 8. Fraktur Ellis Klas VIII : Fraktur mahkota sampai akar 9. Fraktur Ellis Klas IX : Fraktur pada gigi desidui

Fraktur gigi nekrosis pulpa- abses periapikal


Klasifikasi Fraktur menurut Ellis I. Fraktur pada email dengan/ tanpa perubahan tempat II. Fraktur sudah mencapai dentin (sedikit) tapi pulpa belum terbuka, baik dengan/ tanpa perubahan tempat III. Fraktur sudah melibatkan banyak dentin dengan pulpa yang terbuka baik dengan/ tanpa perubahan tempat IV. Gigi sudah menjadi non-vital baik kehilangan/ tidak jaringan gigi V. Gigi lepas karena trauma VI. Fraktur akar dengan/ tanpa kehilangan struktur mahkota VII. Perpindahan gigi tanpa fraktur mahkota/ gigi VIII. Fraktur mahkota komplit (sampai akar) dan gigi berpindah tempat IX. Fraktur pada gigi decidui Klasifikasi untuk gigi anterior I. Fraktur email II. Fraktur dentin tanpa terbuka pulpa III. Fraktur mahkota dengan terbukanya pulpa IV. Fraktur akar

V. Luksasi gigi VI. Intrusi gigi

Klasifikasi fraktur yang berhubungan dengan subgingival I. Dari fraktur tidakmeluas sampai dengan di bawah tinggi gingival cekat II. Garis fraktur meluas di bawah tinggi gingiva cekat sampai dengan krista alveolar III. Garis fraktur meluas di bawah tinggi krista alveolar IV. Garis fraktur terdapat di dalam 1/3 koronal akar tetapi di bawah tinggi krista alveolar

klasifikasi Nekrosis - Koagulasi pengentalan : ada bagian jaringan yang larut, mengendap dan berubah jadi bahan yang padat - Liquefaksi pencairan : enzim proteolitik mengubah jaringan pulpa jadi bahan lunak dan cair. Hasil akhirnya berupa H2S (gas gangrene), amoniak, bahan brsifat lemak, air, CO2. Ciri-ciri dan gejala klinis gigi nekrosis - Hampir sama dengan pulpitis irreversibel - Perubahan radiografik tampak radiolusen pada lamina dura, penebalan jaringan periodontal. Lamina dura juga dapat hilang. radiolusen area di- Di apex timbul lesi sekitar apex - Penyebaran rasa sakit sampai ke TMJ - Rasa sakit spontan - Pasti ada fistula - Terjadi diskolorasi (perubahan warna) dan luksasi A. Patogenesis fraktur menjadi nekrosis Adanya trauma- terjadi obstruksi pembuluh darah - pembuluh darah rusak- dilatasi pembuluh darah kapiler- degenerasi kapiler- edema pulpa- menurunnya sirkulasi kolateral-ischemia infark-menurunnya respon pulpa.

Dengan adanya trauma- fraktur incisal - sudah sampai dentin- tubulus plak dan Mikroorganisme(MO) masuk hingga ke dalam tubulus dentindentin terbuka karena respon pertahanan pulpa yang menurun sehingga tidak kuat melawan plak dan MO sampai dalam - infeksi -nekrosis gigi nekrosis dapat berubah warna karena adanya gangguan sirkulasi pembuluh darah sedangkan pembuluh darah tersbut berfungsi sebagai suatu saluran untuk distribusi nutrisi, zat-zat lain, darah,dsb. Kalo sirkulasi terhenti maka lama-kelamaan apa yang ada di dalam pembuluh darah akan terakumulasi, bercampur dan pembuluh darah akan nampak lebih gelap. terjadinya pembengkakan pada gusi karena adanya intervensi bakteri. Intervensi bakteri masuk semakin dalam, dan di dalam bakteri mengeluarkan eksudat2nya...akumulasi dari jaringan nekrosis dan eksudat bakteri PLUS reaksi imun tubuh inilah yang menyebabkan bengkak. Faktor resiko dari fraktur - Anak-anak usia 8- 12 tahun - Laki-laki lebih besar resikonya dibandingkan perempuan - Orang dengan pekerjaan yang beresiko trauma yang tinggi ( petinju) Dampak fraktur : nekrosis, menurunnya estetika, abses, terganggunya fungsi mastikasi, psikologis Macam perawatan : a. Perawatan pada fraktur tanpa terbukanya pulpa - Penghilangan rasa yang tidak enak - Pemeliharaan pulpa vital - Restorasi (dengan RK, Reattachment of Coronal Segment) - Dikontrol secara reguler b. Perawatan pada fraktur dengan terbukanya pulpa - Pada gigi yang matur : pulp capping, pulpotomi (coronal pulpotomi dan deep pulpotomi) - Pada gigi immature : pulp capping dan pulpotomi

Indikasi : - Pulpa terbuka dengan lesi periapikal - Nekrosis dengan lesi periapikal - Pulpitis irreversibel tanpa lesi periapikal Kontra indikasi : - Gigi berakar banyak - Sakit pada gigi yang nekrosis