Anda di halaman 1dari 5

PENDAHULUAN

Alopesia Androgenik (AGA : Androgenetic Alopecia), merupakan kelainan kerontokan rambut yang paling umum terdapat pada pria dan wanita. Dikarenakan frekuensi dan the often significant impairment of life perceived by the affected patients, competent advice, diagnosis dan pengobatan umumnya penting. Karena pedoman evidence-based pada kelainan rambut jarang ditemukan, maka sebuah grup konsensus di Eropa was constituted, untuk mengembangkan pedoman pada evaluasi diagnosis dan pengobatan AGA. Pedoman S1 untuk evaluasi diagnosis dari AGA pada pria, wanita dan remaja ini, mengulas definisi dari AGA dan mempresentasikan pendapat ahli berdasarkan rekomendasi untuk sex-dependent steps pada prosedur diagnostik. Pedoman evidence-based pada kelainan rambut sangat langka, tetapi terdapat satu pedoman S2 pada kasus alopesia areata oleh British Association of Dermatologist (BAD). Pedoman dari Eropa atau internasional telah dipublikasikan untuk mendiagnosis dan untuk pengobatan pada Alopesia Androgenik (AGA). Terdapat 3 tipe pedoman evidence-based yang berbeda (Tipe S1-S3). Sebuah pedoman S1 disusun oleh informal konsensus dari grup ahli. Pernyataan dari pedoman S2, disusun oleh proses konsensus formal. Pedoman S3 disusun oleh konsensus berdasarkan a systematic literature research with evaluation of evidence levels dan proses pengambilan keputusan secara sistematis. Sebuah grup konsensus yang didirikan di Eropa (The European Consensus Group / ECG) memiliki anggota-anggotanya terdiri dari negara, organisasi, tenaga ahli dan grup yang berbeda. Sebuah pencarian literature secara rinci mengenai diagnosis dan pengobatan untuk AGA telah dilakukan dengan menggunakan Medline, Embase, Cochrane, dan a hand search was performed. Berdasarkan literature yang tersedia, grup tersebut memutuskan untuk melakukan proses konsensus informal pada level S1 untuk diagnosis AGA dan proses pedoman S3 untuk terapi dari AGA (yang dipublikasikan secara terpisah). Sebuah sub-grup dari European Consensus Group tersebut terdiri atas 8 penulis dari artikel ini, memutuskan untuk bekerja menyusun pedoman S1 ini yang dibiayai oleh Verein Pro Haunt e. V. Berlin, dan oleh karena itu artikel ini berdiri sendiri dan tidak memiliki konflik komersial untuk pendapatan. Grup konsensus Eropa tersebut meninjau definisi AGA dan membuat konsensus untuk diagnosis AGA dealing with the following points : pendapat ahli berdasarkan rekomendasi untuk diagnosis AGA pada pasien wanita dan pria, begitu juga pada remaja. Tujuannya untuk mengembangkan bentuk evaluasi diagnostik dan rekomendasi untuk prosedur diagnostik untuk membantu praktek sehari-hari. The questionnaire untuk praktek sehari-hari dibuat sederhana dan direncanakan untuk divalidasi saat konsultasi oleh dokter spesialis kulit yang berpengalaman pada penanganan kelainan rambut.

DEFINISI ALOPESIA ANDROGENIK


AGA merupakan nonscarring progessive miniaturization of the hair follicle biasanya dengan pola distribusi berkarakteristik pada pria dan wanita yang memiliki faktor predisposisi secara genetik. Pada pria, AGA secara tipikal

menunjukan pola distribusi, yang paling umum adalah pola laki-laki, tetapi terkadang pola perempuan dapat terlihat. Pada wanita, AGA umumnya hadir dengan pengurangan densitas rambut secara merata pada area frontal dan central, tetapi area parietal dan occipital juga dapat terlibat. Umumnya AGA timbul dengan pola laki-laki pada wanita.

DIAGNOSIS BANDING DAN FAKTOR AGREGASI PADA ALOPESIA ANDROGENIK


Diagnosis dari AGA normalnya dibuat secara klinik, tetapi faktor yang berhubungan dengan agregasi dan penyakit lain yang mempengaruhi scalp dan pertumbuhan rambut perlu disertakan. Pengobatan tertentu secara selektif (contohnya Finasteride) sangat efektif untuk AGA, pada AGA juga sangat penting untuk menghilangkan kemungkinan kelainan kerontokan rambut lainnya yang menyerupai pola kerontokan rambut.

FREKUENSI DAN PREVALENSI


PRIA AGA pada pria muncul pada seluruh populasi. Prevalensi tertinggi terapat pada Kaukasia, mencapai sekitar 80% pada pria yang berusia lebih dari 70 tahun. Pada populasi Asia, prevalensinya dilaporkan mencapai 60% pada pria yang berusia lebih dari 70 tahun. Terdapat informasi scant yang diberitakan mengenai frekuensi kebotakan pada pria Afrika. Sebuah penelitian dahulu menunjukan bahwa kebotakan pada pria Afrika lebih rendah 4 kali lipat dibandingkan dengan pria Kaukasia. Frekuensi dan tingkat keparahan AGA laki-laki meningkat dengan penambahan umur pada seluruh grup etnik. Tanda spesifik dari AGA berupa beberapa resesi dari garis rambut frontal dan temporal yang umumnya berkembang ketika masa remaja. Progresi yang mengarah kepada resesi frontal yang dalam dan atau kebotakan vertex juga dapat terjadi dalam waktu dekat setelah pubertas, walaupun pada kebanyakan pria onset muncul belakangan. Pada saat umur 70 tahun, sekitar 50-60% dari pria Kaukasia umumnya botak. WANITA Seperti pada pria, frekuensi populasi dan tingkat keparahan dari AGA meningkat dengan penambahan umur pada wanita. Dua penelitian pada wanita Kaukasia di Inggris dan Amerika menunjukan perbandingan prevalensi 3-6% pada wanita di bawah usia 30 tahun, meningkat menjadi 29-42% pada wanita berusia 70 tahun keatas. Frekuensi tersebut terdapat lebih rendah pada wanita Oriental dibandingkan pada keturunan Eropa. Tidak terdapat data mengenai frekuensi AGA pada wanita Afrika.

AETIOLOGY
PRIA AGA merupakan androgen-dependent trait, yang menjurus kepada progressive miniaturization of the hair follicle pada pria yang memiliki faktor predisposisi. Diduga efek androgen yang menguat pada folikel rambut yang mempunyai faktor predisposisi secara genetik dimediasikan oleh peningkatan densitas reseptor androgen dan atau peningkatan aktifitas dari 5-alpha-reductase tipe II. Hampir seluruh pria yang memiliki AGA mempunyai level sirkulasi androgen yang normal. Faktor predisposisi pada AGA secara predominan disebabkan faktor genetic. Penelitian yang dilakukan pada bayi kembar menunjukan perbandingan concordance yang kuat antara 80% dan 90% untuk kembar monozigot. Analisa dari keluarga secara signifikan menunjukan peningkatan resiko secara signifikan dari pengembangan AGA pada pria dengan ayah yang menderita AGA. Sebaliknya, resiko AGA secara signifikan menurun pada pria dengan ayah yang tidak mengalami kebotakan. Data ilmiah saat ini mendukung thesis bahwa AGA memiliki polygenic trait. Significant associations telah dilaporkan dengan variasi regional dari gen reseptor androgen, yang terdapat di kromosom-X, menggunakan candidate gene approach. Sekarang ini, dua independent genome-wide association study telah mengidentifikasi a susceptibility locus pada kromosom 20p11. WANITA Terdapat beberapa penelitian pada AGA pada wanita yang berdasarkan faktor genetik. Smith dan Wells melaporkan frekuensi pola kerontokan rambut pada perempuan dengan angka insidensi 54% pola kerontokan rambut pada first-degree male relative aged > 30 years and 21% in first-degree female relative > 30 years. Merupakan suatu kemungkinan onset dini maupun onset lama dari AGA pada wanita merupakan genetically distinct entities. Peran androgen di AGA pada wanita tidak terlalu menonjol seperti pada pria dan dapat terlibat oleh faktor lain. Untuk keperluan pedoman ini, digunakan istilah alopesia androgenic walaupun peranan androgen masih belum mendapatkan kepastian. ECG (European Consesus Group) sepakat untuk membedakan antara alopesia androgenik dan AGA, tetapi to define a subset of women with AGA and gangguan regulasi hormon yang berhubungan.

CLINICAL PICTURE
PRIA Pada kebanyakan pria, AGA meliputi area fronto temporal dan vertex, berupa pola Hamilton-Norwood scale (Fig. 1). Walaupun demikian, pada beberapa keadaan pria mengalami penipisan of the crown secara merata dengan retensi dari garis rambut frontal dengan pola yang menyerupai tipe Ludwig yang terdapat pada wanita.

WANITA Pola kerontokan rambut pada wanita memiliki 3 macam pola : 1. Diffuse thinning of the crown region with preservation of the frontal hairline. Terdapat 2 scale yang mendeskripsikan pola ini; 3-point Ludwig scale yang umumnya digunakan (Fig. 2), dan 5-point Sinclair scale (Fig. 3). 2. Thinning and widening of the central part of the scalp with breach of frontal hairline (Olsen scale: Christmas tree pattern, Fig. 4) 3. Penipisan yang berhubungan dengan resesi bitemporal (Tipe Hamilton-Wood, Fig. 1). Walaupun demikian, terdapat juga keterlibatan dari scalp parietal dan occipital dengan alopesia diffusa.

LANGKAH PROSEDUR DIAGNOSTIK


ECG mengembangkan formulir evaluasi diagnostik (Tabel 1) untuk AGA, meliputi sejarah, evaluasi klinik, teknik diagnosis dan dokumentasi secara klinik. Formulir ini secara mudah dapat diimplementasikan pada praktek klinik rutin seharihari. Informasi tersebut telah diringkas pada alogaritma klinik (Fig. 6). SEJARAH Umum Dokter harus mencatat dan merekam umur, kelamin, umur saat pertama kali kerontokan rambut dan cara terjadinya (kronik atau intermiten) pada sejarah pribadi maupun keluarga. Pasien dengan AGA umumnya mengeluh tentang kerontokan rambut yang lama dan progresifitasnya terjadi secara lambat. Kerontokan rambut tersebut dapat dideskripsikan secara kronik, tetapi pasien terkadang melaporkan peningkatan aktifitas pada saat musim semi dan musim dingin. Pasien tersebut harus ditanyakan mengenai peningkatan shedding or thinning or both. Untuk penipisan, pasien umumnya mendeskripsikan accentuation dari regional frontal, parietal atau vertex, tetapi terdapat kemungkinan keluhan penipisan secara difus. Tanda umum dari AGA adalah gatal dan trichodynia. Sejarah keluarga pada AGA umumnya positif, tetapi sejarah keluarga yang negatif tidak termasuk pada diagnosis. Sejarah positif pada keluarga dengan kelainan rambut yang lain, seperti alopesia areata atau hirsutism dapat mempengaruhi prosedur diagnostik selanjutnya. Merupakan hal yang sangat penting untuk memperhatikan bila terdapat kelainan rambut concomitant yang keberadaannya tidak dobati, karena dapat mempengaruhi efisiensi dari pengobatan yang digunakan pada AGA (contohnya defisiensi besi pada kerontokan rambut difus pada wanita). Sejarah yang rinci mengenai penyakit sistemik dan penyakit yang didiagnosa baru-baru ini dalam kurun waktu 1 tahun pasca tanda pertama kerontokan rambut harus mengarah kepada kecurigaan bahwa kerontokan rambut tersebut disebabkan oleh penyebab lain atau faktor agregasi, seperti diffuse effluvium sebagai hasil dari infeksi yang parah, defisiensi besi, atau disfungsi tiroid. Alergi tidak penting untuk mendiagnosa suatu AGA, tetapi harus dicatat berhubungan dengan perihal terapi

(contohnya dermatitis kontak akibat propylene glycol pada solutsio minoxidil). Grup konsensus menyetujui untuk bertanya mengenai kebiasaan makan, seperti chronic deficient diet or rapid significant weight loss dapat mencetuskan diffuse effluvium. Mengenai sejarah konsumsi obat, terdapat berbagai jenis obat yang dapat menyebabkan kerontokan rambut. Tanyakan secara spesifik mengenai agen kemoterapeutic (hampir seluruhnya menyebabkan kerontokan rambut) dan tanyakan penggunaan obat hormonal dengan pro androgenic atau dengan aksi anti-tiroid, dan apakah terdapat kemungkinan kerontokan hanya kebetulan terjadi. Umumnya pada pria, konsumsi steroid anabolic atau suplemen androgen harus digali. Selanjutnya prosedur gaya hidup seperti hairstyles (traction) dan faktor lingkungan seperti merokok dan paparan radiasi ultraviolet harus digali pada sejarah pasien. Su dan Chen melaporkan a dose-dependent association antara smoking status dan perkembangan pasien pria dengan AGA pada tingkat sedang dan tinggi. Peranan paparan radiasi ultraviolet sebagai faktor agregasi harus diperhitungkan terutama di Negara Mediterania.