Anda di halaman 1dari 11

MIGREN Definisi Istilah migren berasal dari kata migraine yang berasal dari bahasa Prancis, sementara itu

dalam bahasa Yunani disebut hemicrania, sedang dalam bahasa Inggris kuno dikenal dengan megrin. Konsep klasik menyatakan bahwa migren merupakan gangguan fungsional otak dengan manifestasi nyeri kepala unilateral yang sifatnya mendenyut atau mendentum, yang terjadi secara mendadak disertai mual atau muntah. Konsep tersebut telah diperluas oleh The Research roup on !igraine and "eadache of

the #orl $ederation of %eurology. !igren merupakan gangguan yang bersifat familial dengan karakteristik serangan nyeri kepala yang berulang&ulang yang intensitas, frekuensi, dan lamanya sangat ber'ariasi. %yeri kepala biasanya bersifat unilateral, umumnya disertai anorksia, mual, dan muntah. (alam beberapa kasus, migren ini didahului atau bersamaan dengan gangguan neurologic dan gangguan perasaan hati.

Klasifikasi !enurut The International "eadache society )*+,,-, klasifikasi migren adalah sebagai berikut. *. !igren tanpa aura /. !igren dengan aura a. !igren dengan aura yang tipikal b. !igren dengan aura yang diperpanjang c. !igren hemiplegia familial d. !igren basilaris

e. !igren aura tanpa nyeri kepala f. !igren dengan awitan aura akut 0. !igren oftalmoplegik 1. !igren retinal 2. !igren yang berhubungan dengan gangguan intracranial 3. !igren dengan komplikasi a. 4tatus migren & tanpa kelebihan penggunaan obat & kelebihan penggunaan obat untuk migren b. Infark migren 5. angguan seperti migren yang tak terklasifikasikan

Patogenesis !igren merupakan reaksi neuro'ascular terhadap perubahan mendadak di dalam lingkungan eksternal atau internal. !asing&masing indi'idu mempunyai 6ambang migren7, dengan tingkat kerentanan yang bergantung pada keseimbangan antara eksitasi dan inhibisi pada berbagai tingkat sistem saraf. !ekanisme migren berwujud sebagai refle8 trigemino'askular yang tidak stabil dengan cacat segmental pada jalur kontrol nyeri. 9acat segmental ini mengakibatkan masukan aferen atau dorongan kortikobulbar yang berlebihan. "asil akhirnya adalah interaksi batang otak dan pembuluh darah cranial, dengan rangsang aferen pada pembuluh darah yang menimbulkan nyeri kepala dengan cirri berdenyut&denyut. 4ementara itu, proyeksi difus locus cereuleus ke korteks serebri dapat mengawali terjadinya oligemia kortikal dan mungkin pula terjadinya depresi yang meluas )spreading depression-. :kti'itas di dalam sistem ini dapat menjelaskan terjadinya aura pada migren yang dapat terjadi terpisah dari munculnya nyeri kepala.

(i lain pihak, nyeri kepala dapat berasal dari distensi 'ascular terutama apabila dinding pembuluh darah memperoleh sensitisasi oleh reaksi peri'askular. "al terakhir ini mungkin disebabkan oleh lepasnya peptide dari sistem trigemino'askular. Kemungkinan lain tentang patogenesis nyeri kepala didasarkan atas inflamasi neurogenik di dalam jaringan intracranial. Inflamasi ini melibatkan 'asodilatasi dan ekstra'asasi protein plasma.

Prevalensi Pre'alensi migren ber'ariasi berdasarkan umur dan jenis kelamin. !igren dapat terjadi mulai masa kanak&kanak sampai dewasa; biasanya jarang terjadi setelah umur 1< tahun. 4ekitar 32&52= penderita migren adalah wanita. #anita hamil tidak luput dari serangan migren. Pada umumnya serangan muncul pada kehamilan trimester *. Gambaran Klinik dan Kriteria Diagnosis *. !igren tanpa aura !igren ini tidak jelas penyebabnya )idiopatik-, bersifat kronis dengan manifestasi serangan nyeri kepala 1&5/ jam, sangat khas yaitu nyeri kepala unilateral, berdenyut&denyut, dengan intensitas sedang sampai berat disertai mual, fotofobia, atau fonofobia. %yeri kepala diperberat dengan akti'itas fisik. ejala&gejala tambahan meliputi nyeri kepala pada waktu menstruasi dan berhenti pada waktu hamil. /. !igren dengan aura Penyebabnya belum diketahui )idiopatik-, bersifat kronis dengan bentuk serangan dari gejala neurologic )aura- yang berasal dari korteks serebri dan batang otak, biasanya berlangsung selama 2&/< menit dan berlangsung tidak lebih dari 3< menit. %yeri kepala, mual dengan atau tanpa fotofobia biasanya langsung mengikuti gejala aura atau setelah inter'al bebas serangan tidak sampai * jam. $ase ini biasanya berlangsung 1&5/ jam atau sama sekali tidak ada.

KRITERIA DIAGNOSIS MIGREN TANPA AURA :. 4ekurang&kurangnya *< kali serangan yang termasuk >&( >. 4erangan nyeri kepala berlangsung antara 1&5/ jam )tidak diobati atau pengobatan tidak cukup- dan diantara serangan tidak ada nyeri kepala 9. %yeri kepala yang terjadi sekurang&kurangnya dua dai karakteristik sebagai berikut. *. ?okasi unilateral /. 4ifatnya mendenyut 0. Intensitas sedang sampai berat 1. (iperberat oleh akti'itas fisik (. 4elama serangan sekurang&kurangnya ada satu dari yang tersebut di bawah ini. *. !ual atau dengan muntah /. $otofobia atau dengan fonofobia

KRITERIA DIAGNOSIS MIGREN DENGAN AURA :. 4ekurang&kurangnya / serangan seperti tersebut dalam > >. 4ekurang&kurangnya terdapat 0 dari 1 karakteristik tersebut di bawah ini. *. 4atu atau lebih gejala aura yang re'ersible yang menunjukkan disfungsi hemisfer dan@atau batang otak /. 4ekurang&kurangnya satu gejala aura berkembang lebih dari 1 menit, atau / atau lebih gejala aura terjadi bersama&sama 0. Tidak ada gejala aura yang berlangsung lebih dari 3< menit; bila lebih dari satu gejala aura terjadi, durasinya lebih lama 1. %yeri kepala mengikuti gejala aura dengan inter'al bebas nyeri kurang dari 3< menit, tetapi kadang&kadang dapat terjadi sebelum aura

9. 4ekurang&kurangnya terdapat satu dari yang tersebut di bawh ini. a. Riwayat, pemeriksaan fisik dan neurologic tidak menunjukkan adanya kelainan organic :ura apat berupa gangguan mata homonimus, gejala hemisensorik, hemiparesis, disfagia atau gabungan dari gangguan tersebut. 0. !igren hemiplegic familial !igren dengan aura termasuk hemiparesis dengan criteria klinik yang sama seperti di atas dan sekurang&kurangnya seorang keluarga terdekat mempunyai riwayat migren yang sama. 1. !igren >asilaris !igren dengan aura yang jelas berasal dari batang otak atau dari kedua lobi oksipitalis. 9riteria klinik sama dengan yang di atas, dengan tambahan dua atau lebih dari gejala aura seperti berikut. a. gangguan lapangan penglihatan temporal dan nasal bilateral b. disartria

c. 'ertigo d. tinnitus e. pengurangan pendengaran f. diplopia g. ataksia h. parestesia bilateral i. parestesia bilateral dan penurunan kesadaran 2. !igren aura tanpa nyeri kepala !igren jenis ini mempunyai gejala aura yang khas tetapi tanpa diikuti nyeri kepala. >iasanya terdapat pada indi'idu berumur lebih dari 1< tahun. 3. !igren dengan awitan aura akut !igren dengan aura yang berlangsung penuh kurang dari 2 menit. 9riteria diagnosis sama seperti criteria migren dengan aura, dimana gejala neurologic )aura- terjadi seketika lebih kurang 1 menit, nyeri kepala terjadi selama 1&5/ jam )bila tidak diobati atau dengan pengobatan tapi tidak berhasil-, selama nyeri berlangsung sekurangnya disertai mual atau muntah, fotofobia@fonofobia. Antuk menyingkirkan TI: dilakukan pemeriksaan angiografi dan pemeriksaan jantung serta darah. 5. !igren oftalmologik !igren jenis ini dicirikan oleh serangan yang berulang&ulang yang berhubungan dengan paresis satu atau lebih saraf otak ocular dan tidak didapatkan kelainan organic. 9riteria diagnosis terdiri dari sekurang&kurangnya / serangan disertai paresis saraf otak III, IB, dan BI serta tidak didapatkan kelainan cairan serebrospinal. ,. !igren Retinal

Terjadi serangan berulag kali dalam bentuk skotoma monocular atau buta tidak lebih dari satu jam. (apat berhubungan dengan nyeri kepala atau tidak. tidak dijumpai. +. !igren yang berhubungan dengan gangguan intracranial !igren dan gangguan intracranial berhubungan dengan awitan secara temporal. :ura dan lokasi nyeri kepala berhubungan erat dengan jenis lesi intracranial. Keberhasilan pengobatan lesi intracranial akan diikuti oleh hilangnya serangan migren. angguan ocular dan 'ascular

KRITERIA DIAGNOSIS MIGREN RETINA

4ekurang&kurangnya terdiri dari / serangan sebagaimana tersebut di bawah ini. *. 4kotoma monocular yang bersifat re'ersible atau buta tiak lebih dari 3< menit, dan dibuktikan dengan pemeriksaan selama serangan atau penderita menggambarkan gangguan lapangan penglihatan monocular selama serangan tersebut /. %yeri kepala yang mengikuti gangguan 'isual dengan inter'al bebas nyeri tidak lebih dari 3< menit, tetapi kadang&kadang lebih dari 3< menit. %yeri kepala bias tidak muncul apabila penderita mempunyai jenis migren lain atau menpunyai / atau lebih keluarga terdekat yang mengalami migren 0. Pemeriksaan oftalmologik normal di luar serangan. :danya emboli dapat disingkirkan dengan pemeriksaan angiografi, 9T scan, pemeriksaan jantung dan darah

KRITERIA DIAGNOSIS MIGREN DENGAN AURA :. 4ekurang&kurangnya terjadi satu jenis migren >. angguan intracranial dibuktika dengan pemeriksaan klinik dan neuro&imaging 9. Terdapat satu atau keduanya dari. *. :witan migren sesuai dengan awitan gangguan intracranial /. ?okasi aura dan nyeri sesuai dengan lokasi gangguan intracranial (. bila pengobatan gangguan intracranial berhasil maka migren akan hilang dengan sendirinya

Kom!likasi Migren *. 4tatus !igren 4erangan migren dengan nyeri kepala lebih dari 5/ jam walaupun telah diobati sebagaimana mestinya. Telah diupayakan member obat yang berlebihan namun demikian nyeri kepala tidak kunjung berhenti. 9ontoh pemberian obat yang berlebihan misalnya minum ergotamine setiap hari atau lebih dari 0< mg@bulan, aspirin lebih dari 12 g, morfin lebih dari /8@bulan, dan telah menggunakan lebih dari 0<< mg diaCepam atau sejenisnya setiap bulannya. /. Infark !igren Penderita termasuk dalam criteria migren dengan aura. 4erangan yang terjadi sama tetapi deficit neurologik tetap ada setelah 0 minggu dan pemeriksaan 9T 4can menunjukkan hipodensitas yang nyata pada waktu itu. 4ementara itu penyebab lain terjadinya infark dapat disingkirkan dengan pemeriksaan angiografi, pemeriksaan jantung dan darah

(iagnosis >anding %yeri kepala migren tanpa aura sering kali sulit dibedakan dengan nyeri kepala tegang )tension headache-, nyeri kepala klaster )cluster headache-, dan gangguan peredaran darah sepintas )Transient ischemics attacks"aktor Pen#et$s Serangan >anyak penderita mengeluh bahwa migrennya kumat setelah ada beberapa factor yang mendahului dan merangsang terjainya serangan migren. $actor ini sering disebut sebagai factor pencetus. Dfekti'itas factor pencetus sangat dipengaruhi oleh kecepatan perubahan lingkungan eksternal dan internal penderita. 9ontoh factor pencetus antara lain. trauma, stress psikogenik, gangguan tidur, kelelahan, iklim, beberapa jenis makanan, yang mengandung tiramin atau monosodium glutamate, minuman yang mengandung alcohol, cokelat, bau yang merangsang, menstrauasi, pil kontrasepsi, dan perubahan barometric. *. Terapi medikamentosa Tujuan terapi ini adalah untuk membantu oenyesuaian psikologik E fisiologik penderita, mencegah berlanjutnya dilatasi arteri ekstrakranial tanpa mengurangi aliran darah ke otak, serta menghambat aksi mediator humoral misalnya serotonin dan histamin, dan mencegah 'asokonstriksi arteri intracranial untuk memperbaiki aliran darah otak, yang kesemuanya sangat berperan dalam proses terjadinya sindrom migraine. Terapi medikamentosa dapat dilaksanakan pada tahap akut dan dapat pula dilaksnakana sebagai pencegahan terjadinya serangan nyeri. *.a. terapi tahap akut Tujuan pengobatan adalah untuk mengatasi rasa nyeri akibat terjadinya dilatasi arteri di kulit kepala yang terjadi pada saat serangan migraine. Drgotamine menghambat pengembalian kembali norepinefrin bebas, noreponefrin ini sangtat erat hubungannya dngan reseptor adrenerghik alhfa yang bertanggung jawab untuk melakukan 'asokonstriksi. Dfekti'itas ergotamine pada pembuluh darah perifer dan terutama pada otot polos akan memperpanjang waktu ko<nstriksi arteri di kulit kepala.

Fbat ini dapat mengurangi amplitude pulsasi arteri kulit kepala sehingga menghilangkan rasa nyeri. Drgotamine tidak member efek 'asokonstrikisi pada arteri serebral maupun retinal. Drgotamine tartrat dapat diberikan peroral, sublingual, parenteral atau melalui rectum. (osis yang dianjurkan adalah *&/mg pada sat serangan migren kemudian dilanjutkan / mg dalam * jam, tetapi tidak lebih dari 3 mg pada satu kali serangan. Pemberian suntikan pada waktu serangan dosisnya antara <,/2&<,2< mg. sementara itu, efek samping yang terjadi perlu dipantau, antara lain. sakit di otot, parestesia, angina pectoris dan tromboplebitis. Perlu diperhatikan pula adanya toleransi dan dependensi pemakaian ergotamine ini. 4ebagai bahan profilaksi ergotamine sangat tidak di anjurkan. (ehidro&ergotamin, suatu dferi'at ergot, juga mempunyai efek 'asokonstriksi tetapi tidak sekuat ergotamine tartrat. Dfek sampingnya jauh lebih sedikit dibandingkan ergotamine tartrat. >iasanya diberikan peroral. Fbat&obat yang memberikan efek nonspesifik pada serangan nyeri akut dapat diberikan misalnya analgesic, sedati'e E obat&obat anti cemas. Kombinbasi obat tersebut dapat dibetrikan terutama setelah tahap akut mereda. (apat pula diberikan bersama dengan ergotamine pada tahap akut misalnya cafergot. *.b. terapi profilaksis (itujukan untuk mencegah terjadinya serangan akut. Dfek placebo dapat menurunkan frekuensi serangan migren lebih dari 1<=. 4ementara itu, metilsergid maleat suatu obat yang berefek antiserotonin, dapat menurunkan frekuansi serangan migren akut. 4iproheptadin hidroklorida yang merupakan antagonis serotonin dan hbistamin, dapat dipakai untuk profilaksis migren tetapi mempunyai efek samping mengantuk, merangsang nafsu makan, dan menambah berat badan. Propanolol slaah satu obat penghambat adrenergic beta, tujuannya dapat menurunkan frekuensi serangan migren. "ambtan oleh propanolol ditujukan pada reseptor beta&/ pada dinding pembuluh darah. 4ehingga propanolol dapat mencegah dilatasi 'askuler sebagai akibat dari berbagai senyawa humoral yang bekerja pada

reseptor tersebut. Dfek sampingnya adalah hipotensi dan insomnia. Fbat ini tidak boleh diberikan pada penderita bronkospasmus. /. Terapi tanpa obat Yoga dan terapi relaksasi bertujuan untuk mengatasi serangan migren akut. Apaya lainnya adalah meditasi dan hipnotis, tetapi sayangnya terapi tersebut secara metodelogik kurang bias dipegang hasilnya mengingat kemungkinan munculnya bias. 4elain itu upaya tersebut cukup sulit untuk dilakukan setiap orang. 4ebaiknya terapi profilaksis dengan psikoterapi sejak awal sudah dapat dilakukan bersama dengan terapi medikamentosa.

Anda mungkin juga menyukai