Anda di halaman 1dari 19

QUIS MATA KULIAH PERPAJAKAN SIFAT : TAKE HOME BATAS WAKTU PENGUMPULAN : JUMAT / 10 JANUARI 2014

Untuk mengerjakan tugas ini, ikuti langkah-langkah berikut ini : SOAL A 1. Sertakan fotocopy KTP anda 2. Review UU No. 28 Tahun 2009 tentang pajak dan retribusi daerah 3. Review Perda dan perbup tentang pajak dan retribusi daerah sesuai dengan kab/kota sebagaimana yang tertera dalam KTP anda 4. Analisis jenis pajak, retribusi serta tarifnya yang diatur dalam UU 28 Tahun 2009 dengan perda atau perbup nya (sajikan dalam bentuk tabel perbedaannya) 5. Berikan kesimpulan: apakah menurut anda a). Perda dan atau perbup kab/kota anda telah sesuai dengan aturan perpajakan yang lebih tinggi, b). Perda dan atau perbup kab/kota anda telah mengakomodir semua potensi pajak dan retribusi daerah di daerah anda serta berikan pula alasannya c). Perda dan atau perbup kab/kota anda dalam penetapan besarnya tarif bersifat pro kerakyatan. SOAL B 6. Sajikan data PAD tahun 2009 sd 2012 sesuai dengan kab/kota sebagaimana yang tertera dalam KTP anda 7. Hitung rasio kemandirian kab/kota anda tahun 2009 sd 2012 8. Berikan kesimpulan: apakah terjadi perubahan rasio kemandirian di daerah anda pasca pendaerahan BPHTB yang efektif dilaksanakan mulai tahun 2011 Catatan : pengumpulan tugas melampaui dari waktu yang telah ditetapkan (dengan alasan apapun), akan menggugurkan nilai tugas mata kuliah perpajakan semester ini!!!

Soal A Analisis Perbedaan Pajak Daerah

ANALISIS PERBEDAAN No 1 Jenis Pajak Pajak Hotel UU No. 28 Tahun 2009 Objek Pajak : Pelayanan yang disediakan oleh Hotel dengan pembayaran, termasuk jasa penunjang sebagai kelengkapan Hotel yang sifatnya memberikan kemudahan dan kenyamanan, termasuk fasilitas olahraga dan hiburan. Tidak Termasuk Objek Pajak : (Keterangan : Sama) Subjek Pajak : (Keterangan : Sama) Wajib Pajak : (Keterangan : Sama) Tarif Pajak : Tarif Pajak Hotel ditetapkan paling tinggi sebesar 10% (sepuluh persen). Perda Kota Surabaya

Objek Pajak : Pelayanan yang disediakan oleh Hotel dengan pembayaran termasuk jasa penunjang sebagai kelengkapan hotel yang sifatnya memberikan kemudahan dan kenyamanan, termasuk fasilitas olah raga dan hiburan. Termasuk dalam objek pajak hotel adalah hotel, motel, losmen, gubug pariwisata, wisma pariwisata, pesanggrahan, rumah kos dengan jumlah kamar lebih dari 10 (sepuluh) dengan nilai sewa kamar paling sedikit Rp. 750.000,00 (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah) per bulan per kamar, dan rumah penginapan.
Tidak Termasuk Objek Pajak : (Keterangan : sama dengan UU No 28 Tahun 2009) Subjek Pajak : (Keterangan : sama dengan UU No 28 Tahun 2009) Wajib Pajak : (Keterangan : sama dengan UU No 28 Tahun 2009)

2.

Pajak Restoran

Objek Pajak : (Keterangan : Sama) Tidak Termasuk Objek Pajak : Pelayanan yang disediakan

Tarif Pajak : Tarif pajak hotel ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen), dan rumah kos ditetapkan sebesar 5% (lima persen). Objek Pajak : (Keterangan : sama dengan UU No 28 Tahun 2009)
Tidak Termasuk Objek Pajak :

oleh Restoran yang nilai penjualannya tidak melebihi batas tertentu yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

Subjek Pajak Restoran : (Keterangan : Sama)


Wajib Pajak : (Keterangan : Sama) Tarif Pajak : Tarif Pajak Restoran ditetapkan paling tinggi sebesar 10% (sepuluh persen).

Pelayanan yang disediakan oleh restoran yang nilai penjualannya tidak melebihi Rp.15.000.000,00 (lima belas juta rupiah) setiap bulan. Subjek Pajak Restoran : (Keterangan : sama dengan UU No 28 Tahun 2009) Wajib Pajak : (Keterangan : sama dengan UU No 28 Tahun 2009)
Tarif Pajak : Tarif Pajak Restoran ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen). Objek Pajak : (Keterangan : sama dengan UU No 28 Tahun 2009) Subjek Pajak : (Keterangan : sama dengan UU No 28 Tahun 2009) Wajib Pajak : (Keterangan : sama dengan UU No 28 Tahun 2009). Tarif Pajak :

3.

Pajak Hiburan

Objek Pajak : (Keterangan : Sama) Subjek Pajak : (Keterangan : Sama) Wajib Pajak : (Keterangan : Sama) Tarif Pajak : Tarif Pajak Hiburan ditetapkan paling tinggi sebesar 35% (tiga puluh lima persen). a) Khusus untuk Hiburan berupa pagelaran busana, kontes kecantikan, diskotik, karaoke, klab malam, permainan ketangkasan, panti pijat, dan mandi uap/spa, tarif Pajak Hiburan dapat ditetapkan paling tinggi sebesar 75% (tujuh puluh lima persen). b) Khusus Hiburan kesenian rakyat/tradisional dikenakan tarif Pajak Hiburan ditetapkan paling tinggi sebesar 10% (sepuluh persen). c) Tarif Pajak Hiburan ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

a) tontonan film ditetapkan sebesar 10% (sepuluh) persen; b) pagelaran kesenian, musik, tari dan/atau busana ditetapkan sebesar 20% (dua puluh persen); c) pagelaran kesenian, musik dan/atau tari yang bersifat tradisional yang perlu dilindungi dan dilestarikan karena mengandung nilai-nilai tradisi yang luhur dan kesenian yang bersifat kreatif yang bersumber dari kesenian tradisional ditetapkan sebesar 5% (lima persen); d) kontes kecantikan dan sejenisnya ditetapkan sebesar 35% (tiga puluh lima persen); e) kontes binaraga dan sejenisnya ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen); f) pameran seni budaya, seni ukir, barang seni, tumbuhan, satwa dan hasil produksi barang

dan/atau jasa lainnya ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen); g) pameran busana, komputer, elektronik, otomotif, dan property ditetapkan sebesar 20% (dua puluh persen); h) diskotik, karaoke dewasa, kelab malam dan sejenisnya ditetapkan sebesar 50% (lima puluh persen); i) sirkus, akrobat, sulap dan sejenisnya ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen); j) permainan billyard, golf dan bowling ditetapkan sebesar 35% (tiga puluh lima persen); k) pacuan kuda dan kendaraan bermotor ditetapkan sebesar 20% (dua puluh persen); l) panti pijat, refleksi dan mandi uap/spa, ditetapkan sebesar 50% (lima puluh persen); m) pusat kebugaran (fitness center) ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen); n) pertandingan olahraga ditetapkan sebesar 15% (lima belas persen); o) karaoke keluarga ditetapkan sebesar 35 % (tiga puluh lima persen); p) permainan ketangkasan ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen).
4. Pajak Reklame Objek Pajak : (Keterangan : Sama) Tidak Termasuk Objek Pajak : 1. nama pengenal usaha atau profesi yang dipasang melekat pada bangunan tempat usaha atau profesi diselenggarakan sesuai dengan ketentuan yang mengatur nama pengenal usaha atau profesi tersebut; 2. penyelenggaraan Reklame lainnya yang ditetapkan Objek Pajak : (Keterangan : sama dengan UU No 28 Tahun 2009) Tidak Termasuk Objek Pajak :

1. nama pengenal usaha atau profesi yang dipasang melekat pada bangunan tempat usaha atau profesi diselenggarakan sesuai dengan ketentuan yang mengatur nama pengenal usaha atau

dengan Peraturan Daerah. Subjek Pajak : (Keterangan : Sama) Wajib Pajak : (Keterangan : Sama) Dasar Pengenaan Pajak untuk Cara perhitungan Nilai Sewa Reklame ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Tarif Pajak : (1) Tarif Pajak Reklame ditetapkan paling tinggi sebesar 25% (dua puluh lima persen). (2) Tarif Pajak Reklame ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

profesi tersebut, dengan ketentuan luas tidak melebihi 2 m (dua meter persegi) dan diselenggarakan di atas tanah/bangunan yang bersangkutan; 2. reklame yang memuat lembaga yang bergerak di bidang pendidikan, kesehatan dan sosial dengan ketentuan luas bidang reklame tidak melebihi 4 m (empat meter persegi) dan diselenggarakan di atas tanah/bangunan yang bersangkutan; 3. reklame yang diselenggarakan pada saat Pemilihan Umum dan Pemilihan Kepala Daerah. Subjek Pajak : (Keterangan : sama dengan UU No 28 Tahun 2009) Wajib Pajak : (Keterangan : sama dengan UU No 28 Tahun 2009)
Dasar Pengenaan Pajak untuk

Nilai Sewa Reklame dihitung dengan cara menjumlahkan Nilai jual Objek Pajak Reklame dan Nilai Strategis Penyelenggaraan Reklame. Untuk materi reklame rokok, besarnya Nilai Sewa Reklame ditambah 25% (dua puluh lima persen). Setiap penambahan ketinggian reklame sampai dengan 15 m (lima belas meter) pertama, besarnya Nilai Sewa Reklame ditambah 20% (dua puluh persen). Apabila suatu objek pajak reklame dapat digolongkan lebih dari satu jenis reklame, maka nilai pajaknya ditetapkan menurut jenis reklame yang nilai sewanya paling tinggi. Apabila suatu objek pajak reklame dapat digolongkan lebih dari satu kelas jalan, maka nilai pajaknya ditetapkan menurut kelas jalan yang nilai sewanya paling tinggi.

Tarif Pajak : Tarif pajak Reklame ditetapkan sebesar 25% (dua puluh lima persen).

5.

Pajak Penerangan Jalan

Objek Pajak : (Keterangan : Sama) Tidak Termasuk Objek Pajak untuk penggunaan tenaga listrik yang dihasilkan sendiri dengan kapasitas tertentu yang tidak memerlukan izin dari instansi teknis terkait; Subjek Pajak : (Keterangan : Sama) Wajib Pajak : (Keterangan : Sama) Tarif Pajak : 1) Tarif Pajak Penerangan Jalan ditetapkan paling tinggi sebesar 10% (sepuluh persen). 2) Penggunaan tenaga listrik dari sumber lain oleh industri, pertambangan minyak bumi dan gas alam, tarif Pajak Penerangan Jalan ditetapkan paling tinggi sebesar 3% (tiga persen).

Objek Pajak : (Keterangan : sama dengan UU No 28 Tahun 2009) Tidak Termasuk Objek Pajak untuk penggunaan tenaga listrik yang dihasilkan sendiri yang tidak memerlukan izin dari instansi teknis, dengan kapasitas terpasang dibawah 35 KVA.

Subjek Pajak : (Keterangan : sama dengan UU No 28 Tahun 2009) Wajib Pajak : (Keterangan : sama dengan UU No 28 Tahun 2009)
Tarif Pajak :

Penggunaan tenaga listrik yang berasal dari sumber lain : 1. golongan industri, pertambangan minyak bumi dan gas alam sebesar 3 % (tiga persen); 2. selain golongan industri, pertambangan minyak bumi dan gas alam : a) golongan rumah tangga sebesar 8 % (delapan persen); b) golongan selain rumah tangga sebesar 5 % (lima persen). Penggunaan tenaga listrik yang dihasilkan sendiri sebesar 1,5% (satu koma lima persen). Tidak Ada

6.

Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan

Tarif Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan ditetapkan paling tinggi sebesar 25% (dua puluh

lima persen).
7. Pajak Parkir Objek Pajak : (Keterangan : Sama) Tidak Termasuk Objek Pajak : (Keterangan : Sama) Subjek Pajak : (Keterangan : Sama) Wajib Pajak : (Keterangan : Sama) Dasar Pengenaan Pajak : Dasar pengenaan Pajak Parkir adalah jumlah pembayaran atau yang seharusnya dibayar kepada penyelenggara tempat Parkir. Dasar pengenaan Pajak Parkir dapat ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Jumlah yang seharusnya dibayar termasuk potongan harga Parkir dan Parkir cuma-cuma yang diberikan kepada penerima jasa Parkir. Tarif Pajak : (1) Tarif Pajak Parkir ditetapkan paling tinggi sebesar 30% (tiga puluh persen). (2) Tarif Pajak Parkir ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Objek Pajak : (Keterangan : sama dengan UU No 28 Tahun 2009) Tidak Termasuk Objek Pajak : (Keterangan : sama dengan UU No 28 Tahun 2009)

Subjek Pajak : (Keterangan : sama dengan UU No 28 Tahun 2009) Wajib Pajak : (Keterangan : sama dengan UU No 28 Tahun 2009)
Dasar Pengenaan Pajak :

Dasar Pengenaan Pajak Parkir adalah jumlah pembayaran atau yang seharusnya dibayar kepada penyelenggara tempat Parkir. Pembayaran Parkir adalah jenis pembayaran untuk parkir tetap, progresif, vallet dan parkir khusus termasuk penyediaan penitipan kendaraan bermotor. Dalam hal penyelenggara tempat parkir tidak memungut sewa parkir kepada penerima jasa parkir, maka dasar pengenaan pajak parkir dihitung dengan memperhatikan luas area parkir, jumlah rata-rata kendaraan yang diparkir setiap hari, jumlah hari operasional tempat penyelenggaraan parkir dalam 1 (satu) bulan dan jenis tarif sewa parkir tetap. Besarnya tarif sewa parkir tetap diatur sebagai berikut : a) Kendaraan truck dengan gandengan, trailer atau kendaraan lain yang sejenis, sebesar Rp. 7.500,00 (tujuh ribu lima ratus rupiah); b) Kendaraan truck, bus dan alat besar / berat atau kendaraan lain yang sejenis, sebesar Rp. 5.000,00 (lima ribu rupiah); c) Kendaraan Truck mini dan kendaraan lain yang

sejenis, sebesar Rp. 4.000,00 (empat ribu rupiah); d) Kendaraan mobil sedan, pick up atau kendaraan lain yang sejenis, sebesar Rp. 3.000,00 (tiga ribu rupiah); e) Kendaraan sepeda motor, sebesar Rp. 1.000,00 (seribu rupiah); f) Kendaraan sepeda, sebesar Rp. 500,00 (lima ratus rupiah).
Tarif Pajak :

a. penyelenggara tempat parkir yang memungut sewa parkir kepada penerima jasa parkir dengan menggunakan tarif sewa parkir tetap dan parkir khusus dikenakan pajak parkir sebesar 20% (dua puluh persen) dari pembayaran; b. penyelenggara tempat parkir yang memungut sewa parkir kepada penerima jasa parkir dengan menggunakan tarif sewa Parkir progresif dikenakan pajak parkir sebesar 25% (dua puluh lima persen) dari pembayaran; c. penyelenggara tempat parkir yang memungut sewa parkir kepada penerima jasa parkir dengan menggunakan tarif sewa Parkir Vallet atau parkir yang memberikan pelayanan sejenis dikenakan pajak parkir sebesar 30% (tiga puluh persen) dari pembayaran; d. penyelenggara tempat parkir yang tidak memungut sewa parkir dikenakan pajak parkir sebesar 20% (dua puluh persen) dari jumlah pembayaran yang seharusnya dibayar kepada penyelenggara tempat Parkir.

8.

Pajak Air Tanah

Objek Pajak : (Keterangan : Sama) Tidak Termasuk Objek Pajak : (Keterangan : Sama) Subjek Pajak : (Keterangan : Sama) Wajib Pajak : (Keterangan : Sama) Dasar Pengenaan Pajak : (Keterangan : Sama) Tarif Pajak : Tarif Pajak Air Tanah ditetapkan paling tinggi sebesar 20% (dua puluh persen).

Objek Pajak : (Keterangan : sama dengan UU No 28 Tahun 2009) Tidak Termasuk Objek Pajak : (Keterangan : sama dengan UU No 28 Tahun 2009)

Subjek Pajak : (Keterangan : sama dengan UU No 28 Tahun 2009) Wajib Pajak : (Keterangan : sama dengan UU No 28 Tahun 2009)
Dasar Pengenaan Pajak : (Keterangan : sama dengan UU No 28 Tahun 2009) Tarif Pajak : Tarif Pajak Air Tanah ditetapkan sebesar 20% (dua puluh persen). Objek Pajak : (Keterangan : sama dengan UU No 28 Tahun 2009) Tidak Termasuk Objek Pajak : (Keterangan : Tidak Ada Penjelasan Dalam Perda Kota Surabaya)

9.

Pajak Sarang Burung Walet

Objek Pajak : (Keterangan : Sama) Tidak Termasuk Objek Pajak : a. pengambilan Sarang Burung Walet yang telahdikenakan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP); b. kegiatan pengambilan dan/atau pengusahaan Sarang Burung Walet lainnya yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Subjek Pajak : (Keterangan : Sama) Wajib Pajak : (Keterangan : Sama) Dasar Pengenaan Pajak : (Keterangan : Sama) Tarif Pajak : Tarif Pajak Sarang Burung Walet ditetapkan paling tinggi sebesar 10% (sepuluh persen).

Subjek Pajak : (Keterangan : sama dengan UU No 28 Tahun 2009) Wajib Pajak : (Keterangan : sama dengan UU No 28 Tahun 2009)
Dasar Pengenaan Pajak : (Keterangan : sama dengan UU No 28 Tahun 2009) Tarif Pajak : Tarif Pajak Sarang Burung Walet ditetapkan sebesar 10 % (sepuluh persen).

10.

Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan

a. Besarnya Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak ditetapkan paling rendah sebesar Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) untuk

a. Besarnya Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak ditetapkan sebesar Rp.15.000.000,00 (lima belas juta rupiah) untuk setiap Wajib

Perkantoran

setiap Wajib Pajak. b. Tarif Pajak : Tarif Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan ditetapkan paling tinggi sebesar 0,3% (nol koma tiga persen).

Pajak. b. Tarif Pajak : Tarif Pajak Bumi dan Bangunan ditetapkan sebagai berikut : - untuk NJOP sampai dengan Rp.1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah) ditetapkan sebesar 0,1 % (nol koma satu persen) per tahun - untuk NJOP diatas Rp.1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah) ditetapkan sebesar 0,2 % (nol koma dua persen) per tahun Dalam hal pemanfaatan bumi dan/atau bangunan dapat menimbulkan gangguan terhadap lingkungan, maka dikenakan tambahan tarif sebesar 50 % (lima puluh persen) dari tarif Pajak Bumi dan Bangunan sehingga menjadi sebagai berikut : - untuk NJOP sampai dengan Rp.1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah) ditetapkan sebesar 0,15 % (nol koma lima belas persen) per tahun untuk NJOP diatas Rp.1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah) - ditetapkan sebesar 0,3 % (nol koma tiga persen) per tahun Dalam hal pemanfaatan bumi dan/atau bangunan ramah lingkungan dan/atau merupakan bangunan atau lingkungan cagar budaya, maka dapat diberikan

11.

Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan

pengurangan sebesar 50 % (lima puluh persen) dari tarif Pajak Bumi dan Bangunan, sehingga menjadi sebagai berikut : - untuk NJOP sampai dengan Rp.1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah) ditetapkan sebesar 0,05 % (nol koma nol lima persen) per tahun untuk NJOP diatas Rp.1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah) - ditetapkan sebesar 0,1 % (nol koma satu persen) per tahun a. Besarnya Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak a. Besarnya Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak ditetapkan sebesar Rp. Kena Pajak ditetapkan paling rendah sebesar 75.000.000,00 (tujuh puluh lima juta rupiah) Rp60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah) untuk setiap Wajib Pajak. untuk setiap Wajib Pajak. b. Dalam hal perolehan hak karena waris atau b. Dalam hal perolehan hak karena waris atau hibah wasiat yang diterima orang pribadi hibah wasiat yang diterima orang pribadi yang yang masih dalam hubungan keluarga masih dalam hubungan keluarga sedarah dalam sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat garis keturunan lurus satu derajat ke atas atau ke atas atau satu derajat ke bawah dengan satu derajat ke bawah dengan pemberi hibah pemberi hibah wasiat, termasuk suami/istri, wasiat, termasuk suami/istri, Nilai Perolehan Nilai Perolehan Objek Pajak Objek Pajak Tidak Kena Pajak ditetapkan Tidak Kena Pajak sebesar Rp. 400.000.000,00 (empat ratus juta rupiah). paling rendah sebesar Rp300.000.000,00 (tiga c. Tarif Bea Perolehan Hak atas Tanah ratus juta rupiah). dan Bangunan ditetapkan sebesar 5% (lima c. Tarif Bea Perolehan Hak atas Tanah dan persen). Bangunan ditetapkan paling tinggi sebesar 5% (lima persen).

Kesimpulan : 1. Perda Kota Surabaya telah sesuai dengan aturan perpajakan yang lebih tinggi yaitu UU No 28 tahun 2009. Pajak daerah dan Retribusi daerah sesuai dengan isi dalam UU No 28 tahun 2009 dan telah disesuaikan sesuai dengan potensi yang ada dalam Kota Surabaya. 2. Perda Kota Surabaya telah mengakomodir potensi yang ada dalam Kota Surabaya misalnya, Kota Surabaya memiliki potensi pajak hiburan, karena Surabaya merupakan kota besar sehingga banyak sekali hiburan yang ada di Kota Surabaya.

Soal B Data Pendapatan Kota Surabaya Tahun 2009 2012 (dalam jutaan rupiah) Tahun 2009 809.796 1.448.260 0 387.873 16.218 2010 908.648 1.445.514 0 441.429 203.857 2011 1.886.514 963.420 600.000 509.508 386.951 2012 2.279.614 1.433.068 0 594.448 309.819

No. 1 2 3 4 5

Jenis Pendapatan Pendapatan Asli Daerah Dana Perimbangan Hibah Bagi Hasil Pajak dari Propinsi Dana Penyesuaian & Otonomi Khusus Bantuan Keuangan dari Propinsi Bagi Hasil Lainnya Propinsi Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah Jumlah Pendapatan

6 7 8

10.300 2.935 0 2.675.380

22.073 2.521 20.082 3.044.125

10.364 1.552 125 3.759.034

16.777 559 17 4.634.302

Rasio Kemandirian 1. Tahun 2009 Rasio Kemandirian = Pendapatan Asli Daerah Bantuan Pemerintah Pusat atau Propinsi dan Pinjaman

809.796
=

1.865.584

= 0,4341

2. Tahun 2010 Pendapatan Asli Daerah Bantuan Pemerintah Pusat atau Propinsi dan Pinjaman 908.648 = 2.135.477 = 0,4255 3. Tahun 2011 Pendapatan Asli Daerah Rasio Kemandirian = Bantuan Pemerintah Pusat atau Propinsi dan Pinjaman 1.886.514 = 1.872.520 = 1,0074

Rasio Kemandirian =

4. Tahun 2012 Pendapatan Asli Daerah Bantuan Pemerintah Pusat atau Propinsi dan Pinjaman

Rasio Kemandirian =

2.279.614 = 2.354.688 = 0,9681

Kesimpulan :

Berdasarkan data di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa PAD dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2012 selalu mengalami peningkatan. Peningkatan yang signifikan terjadi pada tahun 2011 dari 908.648 ke 1.886.514 (dalam jutaan rupiah) dikarenakan adanya penambahan pemungutan pajak daerah baru yaitu PBB-P2(Pajak Bumi Bangunan Pedesaan Perkotaan) dan BPHTB (Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan) yang sebelumnya keduanya merupakan dana bagi hasil antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Begitu juga dengan rasio Kemandirian , tahun 2009 rasio kemandiriannya sebesar 0,4341. Pada tahun 2010 raio kemandiriannya menurun menjadi 0,4255. Peningkatan yang signifikan terjadi pada tahun 2011 yaitu menjadi sebesar 1,0074, tetapi kembal mengalami penurunan pada tahun 2012 menjadi 0,9681.

Analisis Perbedaan Retribusi Daerah

Jenis Retribusi

PERDA Kota Surabaya RETRIBUSI JASA UMUM

UU No. 28 Tahun 2009

Retribusi pelayanan kesehatan

Terdapat jenis layanan kesehatan yang lebih rinci yang tercantum pada pasal 6 PERDA No. 5 Tahun 2010

Objek Retribusi Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 ayat (1) huruf a adalah pelayanan kesehatan di puskesmas, puskesmas keliling, puskesmas pembantu, balai pengobatan, rumah sakit umum daerah, dan tempat pelayanan kesehatan lainnya yang sejenis yang dimiliki dan/atau dikelola oleh Pemerintah Daerah, kecuali pelayanan pendaftaran.

Retribusi pelayanan persampahan/kebersihan

Terdapat rincian objek retribusi pelayanan persampahan pada seperti :

Hanya menjelaskan secara garis besar mengenai pelayanan persampahan yang diselenggarakan oleh pemerintah yang tercantum pada pasal 112 ayat 1

pelayanan persampahan/kebersihan di Panti/Yayasan; pelayanan persampahan/kebersihan di Sarana Pendidikan; selebihnya ditetapkan oleh

peraturan daerah kota surabaya pada pasal 3 ayat 2 UU No. 10 Tahun 2013 secara lebih rinci dan jelas.

Retribusi penggantian biaya

Terdapat salah satu objek

cetak kartu tanda penduduk dan akta catatan sipil

retribusi yaitu :

kartu identitas kerja kartu penduduk sementara

yang diatur pada pasal 113 Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat Dijelakan mengenai yang tidak termasuk objek retribusi seperti : Tidak dijelakan mengenai yang tidak termasuk objek retibusi pelayanan pemakaman dan pengabuan mayat

pelayanan pengabuan mayat secara massal sebagai akibat terjadinya bencana


selebihnya diatur pada pasal 3 ayat 2 UU No. 7 tahun 12

Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor

Dijelaskan pada pasal 9 UU No. 1 Tahun 2011 yang ditetapkan sesuai dengan jumlah berta yang diperbolehkan sesuai dengan ketetapan. -

Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran

Besarnya tarif retribusi dibedakan menurut jenis pelayanannya yaitu :

Pemeriksaan dan Pengujian

berupa Hydrant,springkler,dan alarm otomatis Pemeriksaan dan Pengujian

Alat Pemadam Api Ringan (APAR) berupa busa dan gas


Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta Besarnya tarif retribusi dibedakan menurut jenis Peta yaitu :

1. peta rencana guna lahan untuk 1 persil/kavling 2. Peta Rencana Guna Lahan untuk lebih dari 1 kavling/kompleks/kawasan
Retribusi Pelayanan Pada UU No. 6 Tahun 2012 objeknya Dijelaskan secara umum -

Tera/Tera Ulang Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi

lebih dijelaskan secara rinci. Struktur dan besarnya tarif, ditetapkan sebesar 2 % (dua persen) per tahun dari nilai jual obyek pajak yang digunakan sebagai dasar penghitungan Pajak Bumi dan Bangunan menara telekomunikasi. RETRIBUSI JASA USAHA -

Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah

Terdapat jenis-jenis pemakaian daerah diantaranya :

Hanya menjelaskan secara garis besar.

Pemakaian tanah Pemakaian rumah

Sebagaimana diatur pada UU No. 13 tahun 2010 pasal 13


Retribusi Terminal Objek retribusi pada perda kota surabaya dijelaskan secara spesifik diatur pada UU No.12 Tahun 2010 pasal 3 Dijelaskan secara umum

Retribusi Tempat Khusus Parkir

Tarif retribusi dibagi atas 2 yaitu :

Untuk satu kali parkir di Pelataran/lingkungan/gedung/ta man Untuk satu kali parkir di tempat wisata
-

Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga

Objek Pajak : Terdapat rincian pada objek retribusi, dimana disebutkan tempat rekreasi yang ada di daerah Kota Surabaya. Struktur dan besarnya tarif : Ditetapkan berdasarkan tempat wisata yang ada di kota surabaya RETRIBUSI PERIZINAN TERTENTU

Objek Pajak : Hanya disebutkan secara umum

Retribusi Izin Mendirikan Bangunan

Struktur dan besarnya tarif retribusi ditetapkan berdasarkan jenis retribusi

seperti halnya Bangunan gedung, prasarana bangunan gedung/bangunan bukan gedung. Retribusi Izin Gangguan Tidak Termasuk Objek Retribusi : Terdapat pengecualian atau tidak termasuk objek retribusi izin ganguan pada pasal 3 ayat 2 seperti: kegiatan yang berlokasi dalam kawasan industri, berada dalam bangunan, dan lain-lain yang secara jelas terdapat pada perda ini. Struktur dan besarnya tarif : Terdapat pada pasal 10 ayat 1 berdasarkan luas tempat usaha terdapat tarif tersendiri. Retribusi Izin Trayek Terdapat pengenaan tarif retribusi izin angkutan dalam trayek dan tidak dalam trayek pada pasal -