Anda di halaman 1dari 7

ACARA II PENGENALAN ALAT

A. Tujuan 1. Mengenal alat-alat 2. Mengetahui cara pengukuran kualitas fisik-kimia perairan

B. Dasar Teori Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ekologi perairan

mempunyai kespesifikan masing-masing. Penggunaan alat dengan benar selalu diharapkan demi terpeliharanya alat dengan baik sehingga biaya hanya ada pada penggantian batterai saja dan pada akhirnya mampu mengurangi biaya operasionalnya. Faktor fisik-kimia air dari suatu ekosistem perairan sangat berpengaruh terhadap kehidupan biotanya. Faktor-faktor yang berpengaruh antara lain kandungan oksigen (oksigen terlarut). Oksigen terlarut (DO = Dissolved Oxygen) diukur secara titrametrically dengan metode Winkler atau secara elektronik, menggunakan salah satu dari beberapa tipe elektroda oksigen dan eksperimen selama satu kali 24 jam atau kurang dari itu (Gaarder dan Gran, 1927). Kandungan oksigen dalam air mempengaruhi proses fotosintesis Secara umum diketahui bahwa proses fotosintesis pada kebanyakan tumbuhan dapat meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi CO 2 , akan tetapi belum banyak diketahui jika penurunan konsentrasi oksigen dalam eksperimen dapat juga meningkatkan laju fotosintesis. Bjorkman (1966) melaporkan bahwa beberapa tumbuhan mengalami peningkatan laju fotosintesis sebesar 50 % saat konsentrasi oksigen disekitarnya menurun 5 % . Dengan mengetahui kondisi fisik-kimia air, maka dengan hal tersebut dapat diketahui sedini mungkin gangguan terhadap ekosistem perairan, karena data mengenai faktor fisik-kimia perairan dapat digunakn sebagai tolok ukur atau kontrol dalam melakukan pengelolaan kawasan ekosistem perairan.

C. Cara Kerja 1. Pengukuran Oksigen Terlarut Untuk mengukur kadar oksigen terlarut di dalam air digunakan Oxymeter. Oxymeter merupakan produksi Hanna Instrument dengan spesifikasi batteray 9 volt. Pengukuran dilakukan dengan cara menyediakan air 500 ml, kemudian ujung sensoris Oxymeter dicelupkan pada air, tombol on ditekan, maka aka terbaca jumlah oksigen terlarut dalam air tersebut dengan satuan part per million (ppm). Pada setiap lokasi dilakukan pengukuran ulangan sebanyak 10 kali. Setelah alat selesai digunakan, tekan tombol off. Jika selama sekitar 2 bulan alat ini tidak terpakai, maka untuk pemakaian berikutnya harus ada penggantian batteray. 2. Pengukuran suhu perairan Suhu perairan berkaitan erat dengan faktor lingkungan lain, misalnya kandungan oksigen terlarut, aktivitas bakteri pengurai dan lain-lain. Pengukuran suhu perairan menggunakan Termometer Stik yang ujungnya berlubang untuk mengaitkan tali. Termometer stik dicelupkan sebatas cairan merah yang ada dalam stik kaca (tanda air raksa) dan termometer tidak dipegang tangan melainkan digantung dengan tali. Suhu akan terlihat pada skala termometer setelah dibiarkan konstan selama 5 menit tercelup air. Satuannya adalah
0

Celcius.

3. Pengukuran derajat keasaman (pH) di perairan Sama halnya suhu perairan, pH sangat berkaitan erat dengan aktivitas dekomposer. pH yang terlalu tinggi sangat menghambat aktivitas biota periran, sehingga menyebabkan terhambatnya aktivitas lainnya dalam ekosistem. Pengukuran pH dilakukan dengan menggunakan pH stik atau pH meter digital produksi Hanna Instrument. Menggunakan pH stik sebenarnya sangat mudah, yaitu mencelupkan pH stik ke dalam perairan selama 3 menit kemudian mencocokkan warnanya dengan warna pH standart yang berada pada kotak pH. Namun demikian menggunakan pH stik sangat tidak efisien, terutama dalam hal biaya jauh lebih mahal dibandingkan dengan pH meter. pH meter dicelupkan pada batas yang telah ditentukan, kemudian tombol atas ditekan ke depan, maka angka digit akan nampak pada layar pH.

4. Pengukuran salinitas perairan salinitas perairan diukur dengan menggunakan Salinity Test Digital. Keunggulan alat ini adalah kecepatan pengukuran dengan biaya murah. Alat ini juga merupakan produk Hanna Instrument. Cara pengukuran adalah dengan mencelupkan ujung alat ini ke dalam air sebatas tanda yang tertera pada alat, kemudian tombol bagian atas ditekan ke depan, maka angka salinitas akan muncul pada display alat tersebut. 5. Pengukuran kebeningan air dengan secchi disk kebeningan suatu contoh air dapat diukur dengan cakram secchi. Cakram ini terbagi dalam 4 bagian, berdiameter 20 cm. dua bagian berwarna putih dan dua lagi hitam. Dengan cakram ini diperoleh informasi mengenai zat kedalaman cahaya yang dipantulkan. Untuk pembacaan dengan cakram secchi, diturunkan alat ini sampai permukaan air di tempat yang teduh, sampai mulai menghilang. Ukur kedalaman sejak titik ini. Alat ini dinaikkan sampai mulai tampak lagi. Ukur kedalaman sejak titik ini. Cari rata-rata dari kedua hasil pengukuran itu. Percobaan ini diulangi sampai 3 kali. Kemudian diambil rata-rata dari ketiga pengukuran itu. Kondisi permukaan dan warna air perlu dicatat. 6. Pengukuran kecepatan aliran dengan Current meter Penelitian mengenai populasi tidaklah lengkap jika tidak menentukan faktor kecepatan aliran. Kecepatan aliran dapat mempengaruhi konsentrasi DO, konsentrasi CO2, dan suhu. Untuk menentukan tempat pengukuran kecepatan aliran air, hindari lokasi yang merupakan peutaran arus, arus bawah dan lokasi bertemunya anak sungai dengan sungai utama. Dengan mempertimbangkan pematang sungai, sebaikya diukur pada beberapa titik, bisa dengan interval jarak 1-2 meter dari lebar sungai, interval kedalaman sungai, disesuaikan dengan ukuran sungai. Pada aliran yang cepat, titik pengukuran adalah pada pusat atau bagian tengah sungai dan pada kedalaman 20 % dari permukaan air. Jika hanya dengan pertimbangan kedalaman, titik pada 60 % kedalaman dari permukaan air umumnya menunjukkan kecepatan rata-rata dari aliran sungai tersebut. Waktu untuk mengukur kecepatan aliran antara 20-40 detik.

Pada saat praktikum, terlebih dahulu mengukur kedalam sungai. Kemudian atur jumlah putaran pada alat dan siapkan stopwatch untuk mengukur waktu dan counter untuk menghitung banyaknya putaran. Kecepatan aliran diukur pada satu titik yaitu pada bagian tengah sungai, dan alat Currant meter dimasukkan sampai kedalaman 60 % dari permukaan air. Data jumlah putaran setiap detik (N) dimasukkan ke dalam rumus dibawah untuk mengetahui kecepatan aliran pada lokasi tersebut. V = 0,161 N + 0,006 V = kecepatan aliran per detik N = jumlah putaran per detik

D. Hasil Pengamatan 1. Salintest Keterangan : 1. Display 2. On-off 3. Sensor 4. Kalibrasi 5. Tempat batteray 6. Penutup

2. Termometer stik keterangan : 1. Termometer 2. Tali gantungan

3. Oxymeter keterangan : 1. Display 2. Tombol on-off 3. Tombol menu 4. Pegangan 5. Batas celup 6. Sensor

4. Secchi disk Keterangan : 1. Cakram 2. Pegangan

5. pH stik Keterangan : 1. Warna standar 2. pH stik 3. Tempat pH stik 6. Current Meter Keterangan : 1. Pemberat/torpedo 2. Baling-baling I 3. Baling-baling II 4. Pengukur bunyi 5. Sensor bunyi 6. Penyangga 7. Pengait 8. Kabel untuk ke display 9. Kabel

E. Pembahasan Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ekologi perairan

mempunyai kespesifikan masing-masing. Alat yang digunakan saat ini sudah lebih mudah digunakan, selain untuk keefisienan waktu dan biaya operasional juga lebih murah. Misalnya untuk pengukuran DO, dahulu masih menggunakan metode titrasi dari Micro-Winkler. Cara ini tidak efisien dalam penggunaan waktu dan lebih mahal biayanya. Suhu perairan berkaitan erat dengan faktor lingkungan lain, misalnya kandungan oksigen terlarut, aktivitas bakteri pengurai dan lain-lain. Dalam pengukuran pengukur tidak boleh memegang bagian termometer (kaca) tetapi harus pada bagian tali, agar suhu tidak terpengaruh suhu tangan pengukur. Pengukuran pH dilakukan dengan menggunakan pH stik atau pH meter digital. Dalam praktikum ini dilakukan dengan pH stik. pH stik lebih

mudah tetapi mahal dalam operasional, karena setiap pengukuran pH stik akan dibuang sekali pakai. Alat yang digunakan untuk pengukuran salinitas dalam praktikum ini sudah efisien. Dalam praktikum ini, alat yang digunakan untuk pengukuran aliran kurang efisien karena alat terlalu berat sehingga tidak mudah jika dibawa ke lapangan. Penggunaan alat yang kurang efisien dapat mempengaruhi kevalidan dalam mengumpulkan data di lapangan.

F. Kesimpulan 1. Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ekologi perairan ini antara lain : Oxymeter Salintest Secchi disk pH stik Termometer stik Current meter

2. Alat-alat tersebut digunakan untuk pengukuran : Oxymeter Salintest Secchi disk pH stik Termometer stik Current meter : kandungan oksigen terlarut : salinitas perairan : kebeningan perairan : derajat keasaman perairan : suhu perairan : kecepatan aliran perairan

G. Daftar Pustaka Bjorkman, J. 1966. The Effect of Oxygen Concentration on Photosynthesis in Higher Plants. Physiol. Plantarum. Gaarder, T., and Gran, H. H. 1927. Investigations of The Production of Plankton in the Oslo Fjord. Rapp. et Proc,-Verb., Cons. Int. Explor. Poedjirahajoe, E., dan Mahayani, Ni Putu D. 2005. Petunjuk Praktikum Ekologi Perairan (KTK 312). Lab. Ekologi Hutan Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan FKT UGM. Yogyakarta.

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI PERAIRAN

ACARA II PENGENALAN ALAT

Disusun oleh : Kinasih Citra Arumi / 05332 Kel. I Co. ass. Elly S.

LABORATORIUM EKOLOGI HUTAN JURUSAN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN UGM YOGYAKARTA 2005