Anda di halaman 1dari 6

GANGGUAN ANSIETAS PERPISAHAN DEFINISI Ansietas perpisahan adalah fenomena perkembangan manusia yang universal dan terjadi pada

bayi berusia kurang dari 1 tahun dan menandai kesadaran anak akan perpisahan dari ibunya atau perawat utamanya. EPIDEMIOLOGI Prevalensi gangguan ansietas perpisahan diperkirakan sekitar 4 % pada anak-anak dan remaja muda. Gangguan ansietas perpisahan lebih lazim ditemukan pada anak kecil dibandingkan dengan remaja dan dilaporkan terdapat merata pada anak laki-laki dan perempuan. Onsetnya dapat terjadi selama bertahun-tahun pra-sekolah, tetapi onsetnya paling lazim pada anak usia 7 hingga 8 tahun. ETIOLOGI FAKTOR BIOPSIKOSOSIAL Anak kecil yang imatur dan bergantung pada figure ibu, terutama rentan terhadap ansietas yang berlebihan akibat perpisahan. Hubungan antara ciri temperamental dan predisposisi untuk mengalami gejala ansietas telah diteliti. Kecenderungan temperamental berupa sangat pemalu atau menarik diri pada lingkungan yang tidak dikenal tampak merupakan pola respon yang menetap dan anak kecil dengan kecendrungan ini memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami gangguan ansietas selama beberapa tahun berikutnya.

FAKTOR PEMBELAJARAN Ansietas fobik dapat ditularkan dari orang tua ke anaknya melalui pemberian model secara langsung. Sejumlah orang tua tampak mengajari anaknya untuk menjadi cemas dengan terlalu melindungi mereka dari dugaan bahaya atau dengan membesar-besarkan bahaya. Sebaliknya, orang tua yang marah pada anak saat adanya kekhawatiran fobik terhadap hewan dapat menimbulkan kekhawatiran fobik pada anak melalui intensitas kemarahan yang diekspresikan.

FAKTOR GENETIK Kumpulan inhibisi perilaku temperamental, rasa malu yang berlebihan, kecendrungan untuk menarik diri dari lingkungan yang tidak akrab, dan ansietas perpisahan semuanya cendrung memiliki peran serta genetic.

DIAGNOSIS DAN GAMBARAN KLINIS Gangguan ansietas perpisahan adalah gangguan ansietas yang paling lazim pada masa anak. Untuk memenuhi kriteria diagnostik, menurut revisi teks edisi keempat Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV-TR) gangguan harus ditandai oleh tiga dari gejala berikut ini selama sedikitnya 4 minggu; kekhawatiran yang persisten dan berlebihan bahwa peristiwa yang tidak diinginkan dapat menyebabkan perpisahan dari figur kelekatan utana; keengganan persisten atau penolakan untuk pergi ke sekolah atau tempat lain karena takut berpisah; ketakutan persisten dan berlebihan atau keengganan untuk sendiri atau tanpa figur kelekatan utama di rumah atau tanpa orang dewasa yang signifikan di lingkungan lain; keengganan persisten atau penolakan untuk tidur tanpa berada didekat figur kelekatan utama atau tidur jauh dari rumah; mimpi buruk berulang mengenai tema perpisahan; keluhan gejala fisik berulang, termasuk sakit kepala dan sakit perut, ketika perpisahan dari figur kelekatan utama diantisipasi; serta penderitaan yang berlebihan dan berulang ketika perpisahan dari rumah atau figur kelekatan utama diantisipasi atau dilibatkan. Menurut DSM-IV-TR, gangguan juga harus menimbulkan penderitaan atau hendaya fungsi yang signifikan. Gambaran terkait mencakup rasa takut kegelapan dan bayangan, kekhawatiran-kekhawatiran yang aneh. Gejala muncul ketika akan terjasi perpisahan dari figur orang tua yang penting. Jika terancam perpisahan, banyak anak dengan gangguan ini tidak mengalami kesulitan interpersonal. Mereka sering mengalami gejala gastrointerstinal seperti mual, muntah, sakit perut, dan mengalami nyeri di berbagai bagian tubuh, sakit tenggorok, dan gejala mirip flu. Pada anak yang lebih tua, gejala kardiovaskular dan pernapasan berupa palpitasi, pusing dan pingsan, serta rasa tercekik dilaporkan. Gangguan ansietas yang paling lazim terjadi bersamaan dengan gangguan ansietas perpisahan adalah fobia spesifik, yang terdapat pada kira-kira sepertiga dari semua kasus rujukan gangguan ansietas perpisahan.

KRITERIA DIAGNOSTIK DSM-IV-TR UNTUK GANGGUAN ANSIETAS PERPISAHAN A. Ansietas berlebihan dan tidak sesuai perkembangan akan perpisahan dari rumah atau dari orang-orang tempat individu melekat, yang dilihat dari tiga (atau lebih) hal berikut ini : (1) Terdapat penderitaan berlebihan dan berulang ketika terpisah dari rumah atau figur kelekatan utama atau diantisipasi (2) Kekhawatiran persisten dan berlebihan mengenai kehilangan, atau mengenai kemungkinan bahaya yang akan menimpa, figur kelekatan utama (3) Kekhawatiran persisten dan berlebihan bahwa suati peristiwa yang tidak diinginkan akan menyebabkan perpisahan dari figur kelekatan utamanya ( misalnya diculik, atau tersesat) (4) Keengganan persisten atau penolakan untuk pergi ke sekolah atau tempat lain karena takut akan perpisahan (5) Rasa takut yang persisten dan berlebihan atau keengganan untuk sendiri atau tanpa figur kelekatan utamanya di rumah atau tanpa orang dewasa yang signifikan di lingkungan lain (6) Keengganan persisten atau penolakan untuk tidur tanpa berada di dekat figur kelekatan utama atau tidur jauh dari rumah (7) Mimpi buruk berulang yang meliputi tema perpisahan (8) Keluhan gejala fisik berulang (seperti sakit kepala, sakit perut, mual, atau muntah) ketika perpisahan dengan figur kelekatan utana terjadi atau diantisipasi.

B.Lama gangguan ini sedikitnya 4 minggu C. Onsetnya sebelum usia 18 tahun

D. Gangguan ini menyebabkan penderitaan yang secara klinis bermakna atau hendaya di dalam fungsi sosial, akademik ( pekerjaan), atau aren fungsi penting lainnya. E. Gangguan ini tidak hanya terjadi selama perjalanan gangguan perkembangan pervasif, skizofrenia, atau gangguan psikotik lain, dan pada remaja serta orang dewasa, sebaiknya tidak disebabkan oleh gangguan panik dengan agorafobia. Dari American Psychiatric Association Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder. 4th ed. Text rev. Washington, DC: American Psychiatric Association; Copyright 2000.

DIAGNOSIS BANDING Beberapa derajat ansietas perpisahan merupakan fenomena normal, dan penilaian klinis harus digunakan di dalam membedakan ansietas normal itu dengan gangguan ansietas perpisahan. Pada gangguan ansietas menyeluruh, ansietas tidak hanya berfokus pada perpisahan. Pada gangguan perkembangan pervasif dan skizofrenia, ansietas akan perpisahan dapat terjadi tetapi dipandang sebagai sesuatu yang disebabkan oleh keadaan ini bukannya sebagai gangguan perpisahan. Pada gangguan depresif yang terdapat pada anak-anak, diagnosis gangguan ansietas perpisahan juga harus ditegakkan ketika kriteria untuk kedua gangguan ini terpenuhi: dua diagnosis sering ada bersamaan. Gangguan panik dengan agorafobia jarang ditemukan sebelum usia 18 tahun; rasa takutnya adalah takut menjadi lemah karena serangan panik bukannya karena perpisahan dari figur orang tua. Meskipun demikian, pada beberapa kasus, orang dewasa banyak gejala gangguan ansietas perpisahan dapat muncul. Pada gangguan tingkah laku, bolos lazim ditemukan, tetapi anak berada jauh dari rumah dan tidak memiliki ansietas mengenai perpisahan. Penolakan sekolah adalah gejala yang sering ditemukan pada gangguan ansietas perpisahan tetapi tidak patognomonik. Anak dengan diagnosis lain, seperti fobia, juga menunjukkan bukti adanya penolakan sekolah; pada gangguan ini, onset usia dapat lambat dan penolakan sekolah dapat lebih berat dibandingkan dengan gangguan ansietas perpisahan.

PERJALANAN GANGGUAN DAN DIAGNOSIS Perjalanan gangguan dan prognosis gangguan ansietas perpisahan beragam dan terkait dengan onset usia, lama gejala dan timbulnya ansietas dan gangguan depresif bersamaan. Anak kecil yang mengalami gangguan ini tetapi dapat mempertahankan kehadirannya di sekolah umumnya memiliki prognosis yang lebih baik dibandingkan dengan remaja yang mengalami gangguan ini dan menolak hadir di sekolah untuk waktu yang lama. Sebagian besar anak yg pulih juga melakukan hal ini dalam tahun pertama. Onset usia yang dini dan usia yang lebih tua saat diagnosis adalah faktor yang memperkirakan terjadinya pemulihan yang lebih lambat. Meskipun demikian, hampir sepertiga dari kelompok yang dipelajari mengalami gangguan psikiatrik lain dalam periode pemantauan lanjutan, dan 50 persen dari anak ini mengalami gangguan ansietas lain. Laporan-laporan menunjukan tumpang tindih yang signifikan antara gangguan ansietas perpisahan dengan gangguan depresif. Pada kasus yang rumit ini prognosisnya terbatas.

TERAPI Non Medikamentosa

Rencana terapi multimodal termasuk terapi kognitif-perilaku, edukasi keluarga dan intervensi psikososial keluarga dianjurkan dalam penatalaksanaan awal gangguan ansietas perpisahan. Intervensi farmakologik dianjurkan ketika strategi tambahan diperlukan untuk mengendalikan gejala. Terapi kognitif-perilaku saat ini direkomendasikan secara luas sebagai terapi lini pertama untuk berbagai gangguan ansietas pada anak, termasuk gangguan ansietas perpisahan. Strategi kognitif spesifik dan latihan relaksasi juga merupakan komponen terapi untuk memberikan mereka mekanisme yang dapat mereka gabungkan untuk mengendalikan ansietasnya. Intervensi keluarga dapat menjadi kritis di dalam penatalaksanaan gangguan ansietas perpisahan, terutama pada anak yang menolak untuk hadir di sekolah, sehingga pendorongan anak untuk hadir di sekolah dipertahankan sambil juga memberikan dukungan yang sesuai. Medika mentosa

Farmakoterapi dengan selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) terlihat efektif di dalam terapi gangguan ansietas pada anak. Paroxetine (Paxil) tidak boleh digunakan untuk anak.

Antagonis reseptor beta-adregenik, seperti propanolol (Inderal) dan buspirone ( Buspar), telah digunakan secara klinis pada anak dengan gangguan ansietas, tetapi tidak ada data-data baru ini yang menyokong efektifitasnya. Diphenhydramine (Benadryl) dapat digunakan dalam jangka pendek untuk mengendalikan gangguan tidur pada anak dengan gangguan ansietas. Alprazolam (Xanax), suatu benzodiapin, juga dapat membantu di dalam mengendalikan gejala ansietas pada gangguan ansietas perpisahan. Clonazepam ( Klonopin) dapat berguna di dalam mengendalikan gejala panik dan ansietas lainnya. Penolakan sekolah yang terkait dengan gangguan ansietas perpisahan bisa dipandang sebagai gawat-darurat psikiatrik. Rencana terapi yang komprehensif meliputi anak-anak, orang tua, dan sebaya serta sekolah. Anak harus didorong untuk hadir di sekolah, tetapi jika kembali ke jadwal sekolah sehari penuh terlalu berlebihan, sebuah program harus disusun untuk anak agar meningkatkan waktunya di sekolah secara progresif. Kontak bertahap dengan objek ansietas adalah suatu bentuk modifikasi perilaku yang dapat diterapkan untuk setiap jenis ansietas perpisahan. Pada beberapa kasus berat penolakan untuk sekolah, perawatan di rumah sakit jika diperlukan. Modalitas kognitif-perilaku dapat digunakan di dalam psikoterapi, termasak pajanan pada perpisahan yang ditakuti dan strategi kognitif seperti mengjadapi pernyataan diri yang ditujukan untuk meningkatkan rasa otonomi dan penguasaan.