Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Kesehatan jiwa merupakan suatu kondisi sehat emosional, psikologi dan sosial

yang terlihat dari hubungan interpersonal yang memuaskan, perilaku dan koping yang efektif, konsep diri yang positif, dan kestabilan emosi. Upaya kesehatan jiwa dapat dilakukan oleh perorangan, lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan pekerjaan, lingkungan masyarakat yang didukung sarana pelayanan kesehatan jiwa dan sarana lain seperti keluarga dan lingkungan sosial. Lingkungan tersebut selain menunjang upaya kesehatan jiwa juga merupakan stressor yang dapat mempengaruhi kondisi jiwa seseorang, pada tingkat tertentu dapat menyebabkan seseorang jatuh dalam kondisi gangguan jiwa (Videbeck, 2008). Gangguan jiwa mengalami peningkatan di era globalisasi ini. Kecenderungan ini tampak dari banyaknya pasien yang menjalani rawat inap maupun rawat jalan di rumah sakit jiwa. Di Rumah Sakit Grhasia dan Rumah Sakit Sardjito Yogyakarta, klien gangguan jiwa terus bertambah. Pada tahun 2003 jumlahnya mencapai 7.000 orang, sedang pada tahun 2004 naik menjadi 10.610 orang. Demikian juga di propinsi Sumatera Selatan, gangguan jiwa yang ditangani di Rumah Sakit Jiwa mengalami peningkatan. Pada tahun 2003 jumlah klien yang dirawat sebanyak 4.101, dan pada tahun 2004 meningkat menjadi 4.384 orang (Yosef, 2007).

Meningkatnya pasien dengan gangguan jiwa ini disebabkan banyak hal. Kondisi lingkungan sosial yang semakin keras diperkirakan menjadi salah satu penyebab meningkatnya jumlah masyarakat yang mengalami gangguan kejiwaan. Apalagi untuk individu yang rentan terhadap kondisi lingkungan dengan tingkat kemiskinan terlalu menekan (Maramis, 2005). Salah satu gangguan jiwa yang paling banyak diderita adalah gangguan dengan isolasi sosial. Gangguan isolasi sosial adalah gangguan hubungan interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang menimbulkan perilaku maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang dalam berhubungan. Isolasi sosial merupakan salah satu gejala psikosis yang dialami penderita gangguan jiwa skizofrenia. Skizofrenia merupakan suatu penyakit yang mempengaruhi otak yang dapat menyebabkan timbulnya perubahan kepribadian seperti menarik diri, tidak dapat membina hubungan sosial secara mendalam bahkan dapat menyebabkan terjadinya narkisisme yaitu harga diri yang rapuh (Copel, 2007). Gangguan isolasi sosial yang tidak mendapat perawatan lebih lanjut dapat menyebabkan klien makin sulit dalam mengembangkan hubungan dengan orang lain, sehingga klien menjadi regresi, mengalami penurunan dalam aktivitas, dan kurangnya perhatian terhadap penampilan dan kebersihan diri bahkan bisa berlanjut menjadi halusinasi yang dapat membahayakan diri sendiri, orang lain dan lingkungan (Stuart, 2007). Penatalaksanaan keperawatan klien dengan isolasi sosial selain dengan pengobatan psikofarmaka juga dengan pemberian terapi modalitas yang salah satunya adalah Terapi Aktifitas Kelompok (TAK). Terapi aktivitas kelompok merupakan salah

satu terapi modalitas yang dilakukan perawat pada sekelompok klien yang mempunyai masalah keperawatan yang sama. Aktifitas digunakan sebagai terapi, dan kelompok digunakan sebagai target asuhan (Fortinash & Worret, 2004). Terapi Aktivitas Kelompok sangat efektif mengubah perilaku karena di dalam kelompok terjadi interaksi satu dengan yang lain dan saling mempengaruhi. Dalam kelompok akan terbentuk satu sistem sosial yang saling berinteraksi dan menjadi tempat klien berlatih perilaku baru yang adaptif untuk memperbaiki perilaku lama yang maladaptif (Christopher, 2007). TAK dibagi sesuai dengan masalah keperawatan klien, salah satunya adalah TAK Sosialisasi. TAK Sosialisasi adalah upaya memfasilitasi kemampuan sosialisasi sejumlah klien dengan masalah hubungan sosial. Dengan TAK sosialisasi maka klien dapat meningkatkan hubungan sosial secara bertahap dari interpersonal (satu dan satu), kelompok dan masyarakat (Keliat, Panjaitan, Helena, 2006). Beberapa penelitian mengenai pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok terhadap klien dengan masalah keperawatan isolasi sosial seperti penelitian yang dilakukan oleh Andaryaniwati (2003) di rumah sakit jiwa Dr. Radjiman Wedioningrat Lawang,

menunjukkan persentasi pelaksanaan yang memuaskan yaitu mencapai tingkat keberhasilan 90% dimana mampu meningkatkan kemampuan pasien untuk

berinteraksi sosial. Andaryaniwati (2003) menunjukkan adanya pengaruh yang bermakna dari pelaksanaan Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi. Keberhasilan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah peran perawat di rumah sakit tersebut yang turut membantu pelaksanaan TAK Sosialisasi yang senantiasa dikembangkan di dalam kegiatan sehari-hari melalui proses keperawatan.

Berdasarkan wawancara dengan beberapa perawat ruangan di Rumah Sakit Khusus Daerah Dadi Prov. Sul-Sel dan berpedoman pada prosedur tetap TAK yang ada di ruang perawatan, pada dasarnya pelaksanaan TAK telah diterapkan sejak tahun 2004 dan memberi dampak pada kemampuan klien dalam bersosialisasi. Tapi tindakan ini tidak berkesinambungan karena berbagai alasan, salah satunya adalah rasio antara perawat dan pasien yang belum mencukupi. Studi pendahuluan yang dilakukan di RS. Khusus Daerah Dadi Makassar pada tanggal 15 agustus 2009, salah satu masalah keperawatan yang paling banyak ditemukan adalah isolasi sosial. Pada tahun 2007 terdapat 20% pasien dengan isolasi sosial dengan jumlah pasien 1824 orang dan pada tahun 2008 meningkat menjadi 25% dengan jumlah pasien meningkat menjadi 2105 orang (RS. Khusus Daerah Dadi Prov. Sul-Sel, 2009). Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui sejauh mana pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi terhadap kemampuan pasien berinteraksi sosial guna membantu klien dalam menangani

masalah kesehatan yang dihadapi melalui penerapan asuhan keperawatan dalam bentuk Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Sosialisasi.

B.

Rumusan Masalah. Berdasarkan uraian tersebut di atas maka dapatlah dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini adalah : Apakah ada pengaruh terapi aktivitas kelompok sosialisasi terhadap kemampuan pasien berinteraksi sosial ?

C. 1.

Tujuan. Tujuan umum Mengetahui pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi terhadap kemampuan pasien berinteraksi sosial.

2. a.

Tujuan khusus Mengidentifikasi kemampuan klien berinteraksi sosial sebelum dilakukan Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Sosialisasi.

b.

Mengidentifikasi kemampuan klien berinteraksi sosial setelah diberikan dilakukan Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Sosialisasi.

c.

Menganalisis pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Sosialisasi terhadap kemampuan pasien berinteraksi sosial.

D.

Manfaat Penelitian. Hasil penelitian ini diharapkan :

1.

Sebagai bahan informasi bagi keperawatan, khususnya keperawatan jiwa, terutama dalam mengaplikasikan Terapi Ativitas Kelompok Sosialisasi pada pasien dengan gangguan isolasi sosial.

2.

Menambah khasanah ilmu pengetahuan dan sebagai bahan bacaan keperawatan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya keperawatan jiwa.

3.

Dapat digunakan untuk mengembangkan penelitian lebih lanjut dalam lingkup yang sama.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. 1. Tinjauan Umum Isolasi Sosial. Pengertian. Menurut Carpenito (2007) bahwa isolasi sosial adalah keadaan ketika individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu membuat kontak. Hal yang sama juga dinyatakan oleh Doenges, Townsend dan Moorhouse (2007) isolasi sosial adalah kondisi ketika individu atau kelompok mengalami, atau merasakan kebutuhan, atau keinginan untuk lebih terlibat dalam aktivitas bersama orang lain, tetapi tidak mampu mewujudkannya. Berdasarkan kesimpulan di atas, maka isolasi sosial adalah keadaan ketika individu atau kelompok mengalami ketidakmampuan untuk mengadakan hubungan dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya secara wajar, sehingga menimbulkan kecemasan pada diri sendiri dengan cara menarik diri secara fisik maupun psikis. 2. Rentang respon Isolasi sosial Isolasi sosial merupakan salah satu respon maladaptif individu yang berada dalam rentang respon neurobiologi. Respon maladaptif adalah respon individu dalam menyelesaikan masalah yang menyimpang dari norma-norma sosial budaya dan lingkungan (Stuart, 2007).

1.

Respon adaptif adalah respon yang diterima oleh norma sosial dan kultural dimana individu tersebut menjelaskan masalah dalam batas normal. Adapun respon adaptif tersebut:

a.

Solitude Respon yang dibutuhkan untuk menentukan apa yang telah dilakukan di lingkungan sosialnya dan merupakan suatu cara untuk mengawasi diri dan menentukan langkah berikutnya.

b.

Otonomi Suatu kemampuan individu untuk menentukan dan menyampaikan ide- ide pikiran.

c.

Kebersamaan Suatu keadaan dalam hubungan interpersonal dimana individu tersebut mampu untuk memberi dan menerima.

d.

Saling ketergantungan Saling ketergantungan antara individu dengan orang lain dalam hubungan

interpersonal. 2. Respon Maladaptif adalah respon yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah yang menyimpang dari norma-norma sosial dan kebudayaan suatu tempat. Karakteristik dari perilaku maladaptif tersebut adalah: a. Menarik diri Gangguan yang terjadi apabila seseorang memutuskan untuk tidak berhubungan dengan orang lain untuk mencari ketenangan sementara waktu. b. Manipulasi Menganggap orang lain sebagai obyek dan berorientasi pada diri sendiri. c. Ketergantungan Individu gagal mengembangkan rasa percaya diri dan kemampuan yang dimiliki. d. Impulsif

Ketidakmampuan merencanakan sesuatu, tidak mampu belajar dari pengalaman, mempunyai penilaian yang buruk dan cenderung memaksakan kehendak. e. Narkisisme Harga diri yang rapuh, memiliki sikap egosentris, pencemburu dan marah jika orang lain tidak mendukung. 3. Penyebab Berbagai faktor bisa menimbulkan respon sosial yang maladaptif yang disebabkan oleh kombinasi dari berbagai faktor (Suliswati, Payapo, Maruhawa et.al, 2005) sebagai berikut: a. 1) Faktor predisposisi Faktor perkembangan Dalam pencapaian tugas perkembangan dapat mempengaruhi respon sosial maladaptif pada setiap individu (Copel, 2007). 2) Faktor biologis Faktor genetik dapat berperan dalam respon sosial maladaptif, keterlibatan

neurotransmitter dalam perkembangan gangguan ini (Corwin, 2001). 3) Faktor sosiokultural Norma yang tidak mendukung pendekatan terhadap orang lain, atau tidak menghargai anggota masyarakat yang kurang produktif, seperti lanjut usia, orang cacat, dan penderita penyakit kronis dapat menyebabkan terjadinya isolasi sosial (Stuart & lararia, 2001). 4) Faktor dalam keluarga

Komunikasi

dalam

keluarga

dapat

mengantar

seseorang

dalam

gangguan

berhubungan, bila keluarga hanya menginformasikan hal-hal yang negatif akan mendorong anak mengembangkan harga diri rendah. b. 1) Faktor presipitasi Stres sosiokultural Stres dapat ditimbulkan oleh karena menurunnya stabilitas unit keluarga dan berpisah dari orang yang berarti, misalnya karena dirawat di rumah sakit (Tambayong, 2000). 2) Stressor psikologis Ansietas berat yang berkepanjangan terjadi bersamaan dengan keterbatasan kemampuan untuk mengatasinya (Dalami, Suliswati, Rochimah et.al, 2009). 4. Tanda dan gejala Observasi yang dilakukan pada klien dengan isolasi sosial akan ditemukan data obyektif yaitu kurang spontan terhadap masalah yang ada, apatis (acuh terhadap lingkungan), ekspresi wajah kurang berseri (ekspresi bersedih), efek tumpul, menghindar dari orang lain, tidak ada kontak mata atau kontak mata kurang, klien lebih sering menunduk, berdiam diri dalam kamar, bahkan tidak mampu merawat dan memperhatikan kebersihan diri (Dalami, Suliswati, Rochimah et.al, 2009). Selain itu beberapa tanda dan gejala lain yaitu komunikasi verbal menurun bahkan sama sekali tidak ada, klien tidak bercakap-cakap dengan klien lain atau perawat (mengisolasi diri sendiri/menyendiri), menolak hubungan dengan orang lain dengan memutuskan percakapan atau pergi bila diajak bercakap-cakap, pasien tampak memisahkan diri dari orang lain misalnya, pada saat makan, terjadi gangguan pada pemasukan makanan dan minuman sehingga terjadi retensi urine dan feces, Pasien

mengalami gangguan aktifitas atau aktifitas menurun dan pasien tampak kurang energik sehingga pasien mengalami gangguan harga diri (Dalami, Suliswati, Rochimah et.al, 2009). 5. Strategi Pelaksanaan Komunikasi Pasien dengan Isolasi Sosial Menurut Damaiyanti (2005), membagi menjadi 5 bagian: 1. Strategi pelaksanaan komunikasi pasien dengan isolasi sosial pertama. Membina hubungan saling percaya, membantu pasien mengenal keuntungan berhubungan dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain, pasien berkenalan. 2. Strategi pelaksanaan komunikasi pasien dengan isolasi sosial kedua. Mengajarkan Pasien berinteraksi secara bertahap ( berkenalan dengan orang pertama seorang perawat ). 3. Strategi pelaksanaan komunikasi pasien dengan isolasi sosial ketiga. Melatih Pasien berinteraksi secara bertahap ( berkenalan dengan orang kedua seorang pasien ). 4. Strategi pelaksanaan komunikasi keluarga pasien dengan isolasi sosial keempat. Memberikan penyuluhan kepada keluarga tentang masalah isolasi sosial, penyebab isolasi sosial dan cara merawat pasien dengan isolasi sosial. 5. Strategi pelaksanaan komunikasi keluarga pasien dengan isolasi kelima. Melatih keluarga mempraktikkan cara merawat pasien dengan masalah isolasi sosial langsung dihadapan pasien.

B. 1.

Tinjauan Umum Terapi Aktivitas Kelompok Pengertian Terapi aktivitas kelompok adalah salah satu terapi modalitas yang dilakukan perawat kepada sekelompok klien yang mempunyai masalah keperawatan yang sama (Keliat & Akemat, 2005).

2. a.

Tujuan dan Fungsi Kelompok Tujuan kelompok Mencegah masalah kesehatan, mendidik dan mengembangkan potensi anggota kelompok, meningkatkan kualitas kelompok, antara anggota kelompok saling membantu dalam menyelesaikan masalah.

b.

Fungsi kelompok Sebagai tempat berbagi pengalaman dan saling membantu satu sama lain, untuk menemukan cara menyelesaikan masalah. Kelompok merupakan laboratorium tempat mencoba dan menemukan hubungan interpersonal dengan baik, serta

mengembangkan perilaku yang adaptif (Yosef, 2007). 3. Komponen kelompok Menurut Stuart & Laraia tahun 2001, kelompok terdiri dari delapan aspek, sebagai berikut: a. Struktur kelompok Struktur kelompok menjelaskan batasan, komunikasi, proses pengambilan keputusan dan hubungan otoritas dalam kelompok.Struktur kelompok menjaga stabilitas dan membantu pengaturan pola perilaku dan interaksi.

Struktur dari kelompok diatur dengan adanya pimpinan dan anggota, arah komunikasi dipandu oleh pimpinan, sedangkan keputusan diambil secara bersama. b. Besar Kelompok Jumlah anggota kelompok yang nyaman adalah kelompok kecil yang berkisar antara 5 12 orang. c. Lamanya Sesi Waktu optimal untuk satu sesi adalah 20 40 menit, bagi fungsi kelompok yang rendah dan 60 120 menit bagi fungsi kelompok yang tinggi. (Stuart & Laraia, 2001). Dimulai dengan pemanasan berupa orientasi, kemudian tahap kerja, dan finishing berupa terminasi. Banyaknya sesi bergantung pada tujuan kelompok, dapat satu kali / dua kali per minggu, atau dapat direncanakan sesuai kebutuhan. d. Komunikasi Salah satu tugas pimpinan kelompok yang terpenting adalah mengobservasi dan menganalisis pola komunikasi dalam kelompok. Pemimpin menggunakan umpan balik untuk memberi kesadaran pada anggota kelompok, terhadap dinamika yang terjadi serta mengkaji hambatan dalam kelompok, konflik interpersonal, tingkat kompetitif, dan seberapa jauh anggota kelompok mengerti dan melaksanakan kegiatan. e. Peran Kelompok Pemimpin mengobservasi peran yang terjadi dalam kelompok. Ada tiga peran dan fungsi kelompok dalam kerja kelompok, yakni peran serta dalam proses kelompok dan fungsi kelompok, fokus pada penyelesaian tugas serta distraksi pada kelompok.

f.

Kekuatan Kelompok Kemampuan anggota dalam mempengaruhi berjalannya kegiatan kelompok, diperlukan kajian siapa yang paling banyak mendengar, siapa yang membuat keputusan dalam kelompok.

g.

Norma Kelompok Norma kelompok berguna untuk mengetahui pengaruhnya terhadap komunikasi dan interaksi dalam kelompok.

h.

Kekohesifan Kekohesifan dapat diukur melalui seberapa sering antar anggota memberi pujian dan mengungkapkan kekaguman satu sama lain.

4.

Perkembangan Kelompok Kelompok sama dengan individu, mempunyai kapasitas untuk tumbuh dan

berkembang. Pemimpin akan mengembangkan kelompok melalui empat fase yakni yaitu pra-kelompok, awal kelompok, kerja kelompok, dan terminasi kelompok (Keliat, 2003). a. Fase pra-kelompok Hal penting yang harus diperhatikan ketika memulai kelompok adalah tujuan dari kelompok. Ketercapaian tujuan sangat dipengaruhi oleh perilaku pimpinan dan pelaksanaan kegiatan kelompok untuk mencapai tujuan itu. Karena itu perlu dibuat proposal atau panduan pelaksanaan kegiatan kelompok yang mencakup: tujuan umum dan khusus, pemimpin kelompok, kerangka teoritis yang akan digunakan untuk mencapai tujuan, daftar kriteria anggota kelompok, uraian proses seleksi anggota kelompok, struktur kelompok, tempat, waktu sesi, jumlah anggota,

jumlah sesi, perilaku anggota yang diharapkan , perilaku pemimpin yang diharapkan, proses evaluasi, alat serta dana yang dibutuhkan. b. 1) Fase awal kelompok Tahap orientasi Tahap ini pemimpin lebih aktif memberikan pengarahan, mengorientasilkan anggota pada tugas utama dan melakukan kontrak yang terdiri dari tujuan, kerahasiaan, waktu pertemuan, struktur, kejujuran dan aturan komunikasi. 2) Tahap konflik Tahap ini kadang sebagian ingin pemimpin memutuskan dan ada anggota yang ingin berperan sebagai pemimpin. Kadangkala dalam tahap ini sering terjadi permusuhan. 3) Tahap kohesif Setelah tahap konflik, anggota merasakan ikatan yang kuat satu sama lain. Mereka merasa lebih bebas membuka diri dan belajar bahwa perbedaan tidak perlu ditakutkan. c. Fase kerja kelompok. Pada fase ini kelompok sudah menjadi tim. Kelompok menjadi stabil dan realistis. Pada fase ini akan tampak kekuatan terapeutik seperti : memberi informasi, instalasi harapan, kesamaan, altruisme, koreksi pengalaman, pengembangan teknik interaksi sosial, faktor eksistensi, katarsis dan kekohesifan diri bertambah, serta percaya diri secara kemandirian. d. Fase terminasi Terminasi dapat sementara (temporal) atau akhir. Terminasi dapat juga anggota kelompok atau pemimpin kelompok keluar dari kelompok. Pada akhir sesi, perlu dicatat atau didokumentasikan proses yang terjadi berupa notulen.

5.

Jenis Terapi Aktivitas Kelompok. Terapi aktivitas kelompok dibagi empat, yaitu terapi aktivitas kelompok stimulasi kognitif/persepsi, terapi aktivitas kelompok stimulasi sensori, terapi aktivitas kelompok stimulasi realitas, dan terapi aktivitas kelompok sosialisasi.

C. 1.

Tinjauan tentang Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi (TAKS) Pengertian Terapi aktivitas kelompok sosialisasi (TAKS) adalah suatu bentuk terapi yang meliputi sekelompok orang yang memfokuskan pada kesadaran diri dan mengenal diri sendiri dalam memperbaiki hubungan interpersonal dan merubah tingkah laku (Keliat & Akemat, 2005).

2.

Tujuan Umum Tujuan umum pada TAKS adalah klien dapat meningkatkan hubungan sosial dalam kelompok secara bertahap.

3.

Tujuan Khusus Tujuan khusus pada TAKS adalah :

a. b. c. d. e. f.

Klien mampu memperkenalkan diri Klien mampu berkenalan dengan anggota kelompok Klien mampu bercakap-cakap dengan anggota kelompok Klien mampu membicarakan topik pembicaraan tertentu dengan orang lain Klien mampu menyampaikan dan membicarakan masalah pribadi pada orang lain Klien mampu bekerjasama dalam permainan sosialisasi kelompok

g.

Klien mampu menyampaikan pendapat tentang manfaat kegiatan TAKS yang telah dilakukan.

4.

Aktivitas dan indikasi Aktivitas TAKS yang dilakukan tujuh sesi yang melatih kemampuan sosialisasi klien. Klien yang mempunyai indikasi TAKS adalah klien dengan gangguan hubungan sosial yaitu klien menarik diri yang telah mulai melakukan interaksi interpersonal dan yang mengalami kerusakan komunikasi verbal yang telah berespon sesuai dengan stimulus.

5.

Tujuan TAK Sosialisasi Sesi 1: TAKS Tujuan: Klien mampu memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama lengkap, nama panggilan, asal dan hobi. Sesi 2: TAKS Tujuan: Klien mampu berkenalan dengan anggota kelompok:

a. b.

Memperkenalkan diri sendiri: nama lengkap, nama panggilan, asal, dan hobi Menanyakan diri anggota kelompok lain: nama lengkap, nama panggilan, asal, dan hobi. Sesi 3: TAKS Tujuan: Klien mampu bercakap-cakap dengan anggota kelompok:

a. b.

Menanyakan kehidupan pribadi kepada satu anggota kelompok. Menjawab pertanyaan tentang kehidupan pribadi.

Sesi 4: TAKS Tujuan: Klien mampu menyampaikan topik pembicaraan tertentu dengan anggota kelompok: a. b. c. Menyampaikan topik yang ingin dibicarakan Memilih topik yang ingin dibicarakan Memberi pendapat tentang topik yang dipilih Sesi 5: TAKS Tujuan: Klien mampu menyampaikan dan membicarakan masalah pribadi dengan orang lain: a. b. c. Menyampaikan masalah pribadi Memilih satu masalah untuk dibicarakan Memberi pendapat tentang masalah pribadi yang dipilih Sesi 6: TAKS Tujuan: Klien mampu bekerja sama dalam permainan sosialisasi kelompok: a. b. Bertanya dan meminta sesuai dengan kebutuhan pada orang lain Menjawab dan memberi pada orang lain sesuai dengan permintaan. Sesi 7: TAKS Tujuan: Klien mampu menyampaikan pendapat tentang manfaat kegiatan kelompok yang telah dilakukan.