Anda di halaman 1dari 8

PEMERIKSAAN PENYAKIT PULPA DAN PERIAPEKS

1. Riwayat Kesehatan Umum Memeriksa secara tuntas kesehatan umum pasien yang baru dan menelaah ulang serta memperbaharui data riwayat kesehatan umum pasien yang lama merupakan langkah pertama penegakan diagnosis.

1.1 Data Demografis Data demografi mengidentifikasikan karakter pasien.

1.2 Riwayat Medis Suatu riwayat medis yang lengkap dan teliti tidak hanya membantu penegakan diagnosis, tetapi juga menyediakan informasi mengenai kerentanan dan reaksi pasien terhadap infeksi, hal-hal mengenai perdarahan, obat-obat yang telah diberikan, dan status emosionalnya. Karena riwayat medis tidak dimaksudkan sebagai pemeriksaan klinis lengkap, pertanyaan medis yang luas tidak diperlukan. Cukup formulir pemeriksaan singkat yang berisi penyakit serius yang sedang dan pernah diderita, dan cedera serta pembedahan yang pernah dialami.

2. Pemeriksaan Subjektif 2.1 Penyakit yang sedang diderita Sebagian besar pasien yang menderita endodonsia biasanya tidak menunjukkan gejala atau hanya mengalami gejala ringan. Banyak juga pasien yang menunjukkan tingkatan nyeri yang jelas dan merasa tertekan dan pasien demikian memerlukan pemeriksaan subjektif yang sistematis dan hati-hati disertai pertanyaan tajam dan terarah. Penampilan dan sikap professional serta atmosfir perawatan yang mendukung merupakan factor utama terjalinnya hubungan dokter-pasien yang baik. Dalam suasana yang ramah dan bersahabat pasien akan bisa mengungkapkan masalahnya dengan terbuka.

2.2 Aspek nyata dari nyeri Nyeri yang intensitasnya tinggi biasanya bersifat intermiten, sedangkan yang intensitasnya rendah sering bersifat terus menerus dan berlarut-larut. Nyeri paroksismal

merupakan nyeri yang sekaligus dan hebat, bisa berupa nyeri seperti ditusuk-tusuk, nyeri menyengat, rasa terbakar, dan berdenyut-denyut. Aspek nyeri merupakan petunjuk kuat bagi adanya penyakit pulpa dan atau periradikuler sehingga bisa memberi petunjuk pulpa bagi perawatannya yang sesuai. Aspek-aspek ini adalah:

a. Intensitas nyeri Makin kuat nyerinya, makin besar kemungkinan adanya penyakit yang ireversibel. Nyeri intens adalah nyeri yang baru terjadi, tak dapat diredakan oleh analgesic, dan menyebabkan pasien mencari pertolongan. Nyeri yang sudah berlangsung lama biasanya tidak intens. Nyeri intens dapat timbul dari pulpitis ireversibel atau periodontitis atau abses apikalis simtomatik (akut). b. Nyeri Spontan Nyeri yang spontan timbul tanpa adanya stimulus dan tanpa sebab. Jika nyeri spontan digabung dengan nyeri intens biasanya mengindikasikan adanya penyakit pulpa atau periradikuler yang parah. c. Nyeri Terus-Menerus Nyeri yang terus menerus intensitasnya bisa meningkat walaupun stimulus telah hilang. Nyeri terus menerus akibat stimulus termal biasanya menandakan adanya pulpitis ireversibel dan nyeri terus menerus setelah aplikasi tekanan pada gigi mengindikasikan penyakit radikuler.

2.3 Diagnosis sementara Dokter gigi sering dapat menentukan adanya perubahan patologis dalam pulpa dan periapeks dengan memperluas pemeriksaan yakni tidak hanya memeriksa sakit yang diderita sekarang melainkan ditambah dengan melontarkan pertanyaan subjektif mengenai masalah yang dialami pasien. Pertanyaan dan interpretasi respons pasien dapat memberi petunjuk penting dalam penegakan diagnosis sementara dari pernyakit pulpa dan periradikuler.

3. Pemeriksaan Objektif 3.1 Pemeriksaan ekstraoral

Indicator status fisik pasien berdasarkan penampilan umum, tonus kulit, asimetri wajah, persendian rahang, pembengkakan, perubahan warna, kemerahan, jaringan parut ekstraoral atau saluran sinus, dan kepekaan atau membesarnya nodus limfe servikal atau fasial. Pemeriksaan ini membantu mengidentifikasikan sumber keluhan pasien serta adanya dan luasnya rekasi inflamasi di rongga mulut.

3.2 Pemeriksaan intraoral a. Jaringan lunak Yang diperiksa meliputi oral mukosa, pipi, lidah, palatum, dan otot-otot serta semua keabnormalan yang ditemukan. Pemeriksaan jaringan lunak biasanya dilaksanakan secara visual atau dengan palpasi. Periksa juga mukosa alveolus dan gingival cekat (attached gingival) untuk melihat apakah daerah tersebut mengalami perubahan warna, terinflamasi, mengalami ulserasi, atau mempunyai saluran sinus. Suatu parulis stoma saluran sinus biasanya menandakan adanya pulpa nekrosis atau periodontitis apikalis supuratif atau kadang-kadang abses periodontium b. Gigi geligi Pemeriksaan gigi geligi dilakukan untuk mengetahui adanya perubahan warna, fraktur, abrasi, erosi, karies, restorasi yang luas, atau abnormalitas lain. Mahkota yang berubah warna sering merupakan tanda adanya penyakit pulpa atau akibat perawatan saluran akar yang telah dilakukan sebelumnya.

3.3 Tes klinis a. Kaca mulut dan sonde Kaca mulut dan sonde dipakai untuk memeriksa karies yang luas atau karies sekunder, terbukanya pulpa, fraktur mahkota, restorasi yang rusak, dan kebocoran daerah korona gigi yang telat dirawat saluran akarnya. b. Gigi kontrol Gigi control mempunyai 3 fungsi yaitu 1) pasien belajar apa yang diharapkan dari stimulus, 2) dokter gigi dapat mengobservasi sifat respons pasien sampai tingkat stimulus tertentu, dan 3) dokter gigi dapat menentukan bahwa stimulus mampu menimbulkan respons.

3.4 Tes periapeks a. Perkusi Perkusi dapat menentukan ada tidaknya penyakit radikuler. Respons positif yang jelas menandakan adanya inflamasi periodontium. Cara melakukan perkusi adalah dengan mengetukkan ujung kaca mulut yang dipegang paralel atau tegak lurus terhadap mahkota pada permukaan insisal atau oklusal mahkota. Jika nyeri subjektifnya parah, hindarkan pengetukan gigi tetapi tekan gigi perlahan dengan ujung jari telunjuk. Untuk memperoleh perbandingan, lakukan tes perkusi pada gigi control. Cara tes lain yang juga baik adalah dengan meminta pasien menggigit obyek keras misalnya gulungan kapas pada gigi yang dicurigai ataupun gigi control. Tes ini dapat memberitahu adanya nyeri ketika mengunyah.

b. Palpasi Palpasi dilakukan dengan menekan mukosa di atas apeks dengan ringan. Penekanan dilakukan dengan ujung jari dan memakai paling sedikit 1 gigi pembanding. periradikuler. Respons positif pada palpasi menandakan adanya inflamasi

3.5 Tes vitalitas pulpa a. Stimulasi dentin langsung Tes ini merupakan tes yang paling akurat dan tes kevitana pulpa yang paling baik. Dentin yang terbuka digores dengan sonde walaupun ketiadaan respons tidak seindikatif keberadaan respons. Karies disonde sampai dalam sehingga mencapai dentin yang tidak karies, dan jika timbul sensasi tajam dan tiba-tiba berarti pulpanya berisi jaringan vital b. Tes dingin Ada 3 metode yang umumnya digunakan yaitu memakai es biasa, karbondioksida (es kering), dan refrigerant. Es karbondioksida memerlukan cara

khusus, sedangkan refrigerant yang disimpan dalam kaleng pemakaiannya dengan disemprotkan ke kapas kemudian dioleskan ke gigi. Jika respons cukup intens dan berkepanjangan, pulpa biasanya telah pulpitis ireversibel. Jika tidak ada respons maka pulpa sudah nekrosis. Aplikasi dingin ini lebih efektif pada gigi anterior.

c. Tes panas Pengetesan panas bisa dengan menggunakan gutta percha yang dipanaskan pada api spiritus dan diaplikasikan ke permukaan fasial. teknik yang paling baik, paling aman, dan paling mudah adalah dengan memutarkan caret profi kering pada permukaan gigi untuk mendapat panas gesekan atau mengaplikasikan air panas. Seperti halnya dengan tes dingin, respons nyeri tajam dan sebentar menandakan pulpa vital. Respons yang hebat dan tidak cepat hilang terhadap panas artinya pulpitis ireversibel..

d. Tes secara elektrik Stimulus biasanya diaplikasikan pada permukaan fasial untuk menentukan adatidaknya saraf sensoris dan vital-tidaknya pulpa. Usap permukaan gigi dengan kapas, keringkan dengan semprotan udara, tempelkan sedikit pasta gigi atau media konduktor lain pada elektroda. Kemudian buat sirkuit listrik dengan memasang jepitan pada bibir pasien atau meminta pasien memegang pegangan logam. Elektroda dipasang pada permukaan fasial atau lingual dan tingkat aliran arusnya secara bertahap dinaikkan sampai melewati ambang persepsi pasien. Sensasi yang dirasakan adalah kesemutan, menyengat, full atau panas. Adanya respons menandakan pulpa vital dan ketiadaan respons menandakan pulpa nekrosis.

e. Menentukan aliran darah Instrument yang mendeteksi sirkulasi pulpa merupakan bagian dari teknologi yang sedang berkembang yang dapat menciptakan pendekatan baru untuk menentukan vitalitas gigi, dimana jika tidak memakai alat seperti ini tidak menimbulkan respons. Contohnya adalah gigi yang baru terkena trauma yang aliran darahnya masih utuh tetapi saraf sensorisnya sudah tidak utuh lagi, sehingga tidak responsif lagi terhadap stimulus.

f. Tes Kavitas Lakukan preparasi dengan bur yang kecil dan tajam tanpa memakai anestesi. Jika pulpanya vital, permukaan restorasi atau permukaan email dapat dipenetrasi oleh bur tajam kecil tanpa terlalu menganggu. Nyeri mendadak akan timbul jika bur telah mencapai dentin. Sebaliknya, jika nyeri atau rasa tidak enak tidak terjadi, pulpa kemungkinan besar sudah nekrosis. Pengetesan ini sudah dapat dianggap sebagai preparasi akses dan prosedurnya dapat diteruskan sampai selesai.

3.6 Pemeriksaan Periodontium a. Penyondean Pemeriksaan dengan sonde periodontium (probing) dapat menunjukkan tingkat perlekatan jaringan ikat. Sonde dapat berpenetrasi ke dalam lesi inflamasi periapeks yang meluas ke servikal. Kedalaman yang bisa disonde di sepanjang permukaan dan furkasi harus diukur dan dicatat untuk digunakan sebagai pembanding di kemudian hari. b. Tes mobilitas Tes mobilitas menunjukkan keadaan ligament periodontium dan prognosis bagi setiap macam perawatan. Mobilitas ditentukan dengan menempatkan jari telunjuk pada aspek lingual dan mengaplikasikan tekanan dengan pegangan kaca mulut pada permukaan fasialnya. Gerakan lebih dari 2-3 mm atau depresi menandakan harapan keberhasilan perawatan salurannya sangat sedikit jika penyebab utama mobilitas adalah penyakit periodontium dan bukan patosis periradikuler.

4. Pemeriksaan Radiografis Sebagian besar perubahan patologis dalam pulpa tidak kasat mata sehingga lesi periradikuler tidak akan menghasilkan perubahan radiografis pada tahap yang masih dini. Radiograf hanyalah gambaran dua dimensi sehingga untuk memperoleh interpretasi suatu gambaran tiga dimensi, sebaiknya diambil gambar untuk suatu struktur yang sama dari berbagai sudut.

4.1 Lesi periapeks

Lesi periradikuler yang disebabkan oleh pulpa biasanya mempunyai 4 karakter yaitu 1) hilangnya lamina dura di daerah apeks, 2) radiolusensi tetap terlihat di apeks bagaimana pun sudut pengambilannya, 3) radiolusensi menyerupai hanging drop, dan 4) biasanya pulpanya jelas telah nekrosis. Perubahan bisa juga berupa radiopak. Condensing osteitis adalah reaksi yang jelas terhadap inflamasi pulpa atau periradikuler dan mengakibatkan peningkatan tulang medulla. Pola medulanya berupa pola sirkumferensial menyebar dengan batas yang tidak jelas.

4.2 Lesi pulpa Pulpa yang terinflamasi dan menunjukkan aktivitas dentinoklas akan terlihat sebagai suatu pembesaran ruang pulpa yang abnormal dan merupakan tanda patologis suatu resorpsi interna. Terlihatnya kalsifikasi difus yang luas dalam kamar pulpa dapat berarti ada iritasi derajat rendah yang sudah berjalan lama. Pembentukan dentin yang secara radiografis menyumbat saluran akar tidak berarti suatu keadaan patologis.

5. Tes Khusus Jika terdapat keadaan tertentu yang mencegah ditegakkannya diagnosis definitive, dapat dilakukan tes tambahan seperti:

5.1 Pembuangan karies Pada beberapa keadaan, yang perlu dilakukan untuk menentukan diagnosis pulpa yang tepat adalah menentukan kedalamaan penetrasi karies. Keadaan yang sering dijumpai secara klinis adalahnya adanya karies dalam yang terlihat secara radiografis, tidak ada riwayat penyakit atau gejala signifikan, dan pulpa yang memberikan respons terhadap tes klinis. Tes pembuktian terakhir adalah pembuangan karies untuk melihat keadaan pulpanya. Penetrasi karies ke dalam pulpa yang bergejala menandakan pulpitis ireversibel dan memerlukan perawatan saluran akar. Karies yang belum berpenetrasi menandakan pulpitis reversible dan gigi direstorasi secara nirtrauma.

5.2 Anestesi selektif Tes ini bermanfaat pada gigi yang sedang nyeri dan pasien tidak dapat menentukan gigi mana yang sakit. Pada mandibula dilakukan anestesi blok untuk

mengetahui regio gigi yang nyeri. Pada maksila dilakukan anestesi pada masing-masing gigi dalam arah anterior ke posterior sesuai distribusi saraf sensorisnya.

5.3 Transiluminasi Tes ini membantu mengidentifikasi fraktur mahkota longitudinal karena suatu fraktur tidak akan mentransiluminasikan cahaya. Transiluminasi menghasilkan bayangan gelap dan terang yang kontras di daerah fraktur

SUMBER : Torabinejad, Mahmoud dan Walton, Richard E. 2008. Prinsip dan Praktik Ilmu Endodonsia. Edisi 3. Jakarta : EGC