Anda di halaman 1dari 8

TUGAS BIMBINGAN KONSELING KONSELING

OLEH : KELOMPOK 7 1. ATIK MARIFATUN N 2. NOVIA DWI NUR I S 3. RISALATUN K 4. YUNI RIDANING WAHYU : R1113006 : R1113052 : R1113068 : R1113092

PROGRAM STUDI D IV BIDAN PENDIDIK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2013

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Dalam hidupnya, setiap manusia tidak terlepas dari masalah yang harus dihadapi dan diselesaikan oleh dirinya sendiri. Masalah tersebut dapat bersifat kompleks dan beragam. Apabila masalahnya tidak dapat diatasi sendiri, maka manusia memerlukan bantuan orang lain untuk memecahkannya. Hal itupun dilakukan apabila ia sadar terhadap masalah yang dihadapinya. Terkadang masalah tidak disadari keberadaannya dan dianggap sebagai hal yang biasa. Setiap orang yang kesulitan untuk mengatasi masalahnya, memerlukan bantuan dari orang lain. Termasuk apabila seorang siswa/mahasiswa pada suati institusi pendidikan memiliki masalah, diperlukan adanya bantuan dan arahan yang diberikan untuk mengatasi masalahnya. Hal tersebut diwujudkan dengan adanya bimbingan dan konseling pada setiap institusi pendidikan. Konseling diartikan sebagai suatu pertolongan dari satu individu ke individu yang lain yang berfokus pada kebutuhan individu tersebut. Pengertian di atas merupakan salah satu dari sekian banyak definisi konseling. Banyaknya definisi mengenai konseling disebabkan karena para ahli mendefinisikan konseling dengan menekankan pada aspek yang berbeda dipandang dari peran dan proses konseling. Sebagai calon pendidik, mahasiswa kebidanan perlu mengetahui dan memahami mengenai konseling.

B. RUMUSAN MASALAH 1. Apakah pengertian dari konseling? 2. Apakah tujuan adanya konseling? 3. Apa sajakah asas yang ada dalam konseling?

C. TUJUAN 1. Untuk memahami pengertian dari konseling. 2. Untuk mengetahui dan memahami tujuan konseling. 3. Untuk mengetahui asas-asas yang ada dalam konseling.

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Konseling Konseling adalah serangkaian kontak atau hubungan bantuan langsung dengan individu yang bertujuan memberikan bantuan kepadanya dalam merubah sikap dan tingkah lakunya (Willis, 2011). Selanjutnya Mortensen dalam Jones (1987) memberikan pengertian konseling sebagai suatu proses hubungan seseorang dengan orang lain di mana yang seorang dibantu oleh yang lainnya untuk menemukan masalahnya. Selain kedua ahli tersebut ada Burks dan Stefflre dalam McLeod (2008) yang menjelaskan bahwa konseling didesain

untuk menolong klien dalam memahami dan menjelaskan pandangan mereka terhadap kehidupan, dan untuk mencapai tujuan penentuan diri (selfdetermination) mereka melalui pilihan yang telah diinformasikan dengan baik serta bermakna bagi mereka, dan melalui pemecahan masalah emosional atau karakter interpersonal. Dengan demikian jelaslah, bahwa konseling merupakan salah satu teknik pelayanan bimbingan secara keseluruhan, yaitu dengan cara memberikan bantuan secara individual (face to face relationship). Bimbingan tanpa konseling ibarat pendidikan tanpa pengajaran atau perawatan tanpa pengobatan. Kalaupun ada perbedaan di antara keduanya hanyalah terletak pada tingkatannya. B. Tujuan Konseling Konseling bertujuan membantu peserta didik mencapai tugas-tugas perkembangan secara optimal sebagai makhluk Tuhan, sosial, dan pribadi. Lebih lanjut tujuan konseling adalah membantu individu dalam mencapai: 1. Kebahagiaan hidup pribadi sebagai makhluk Tuhan 2. Kehidupan yang produktif dan efektif dalam masyarakat 3. Hidup bersama dengan individu-individu lain. 4. Harmoni antara cita-cita mereka dengan kemampuan yang dimilikinya Konseling bertujuan membantu peserta didik agar memiliki kompetensi mengembangkan potensi dirinya seoptimal mungkin atau mewujudkan nilai-nilai yang terkandung dalam tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasainya sebaik mungkin. Pengembangan potensi meliputi tiga tahapan, yaitu

pemahaman

dan

kesadaran

(awareness),

sikap

dan

penerimaan

(accommodation), dan keterampilan atau tindakan (action) melaksanakan tugastugas perkembangan. Secara khusus tujuan konseling di sekolah ialah agar peserta didik, dapat: 1. Mengembangkan seluruh potensinya seoptimal mungkin. 2. Mengatasi kesulitan dalam memahami dirinya sendiri. 3. Mengatasi kesulitan dalam memahami lingkungannya, yang meliputi

lingkungan sekolah, keluarga, pekerjaan, sosial-ekonomi, dan kebudayaan. 4. Mengatasi kesulitan dalam mengidentifikasi dan memecahkan masalahnya. 5. Mengatasi kesulitan dalam menyalurkan kemampuan, minat, dan bakatnya dalam bidang pendidikan dan pekerjaan. 6. Memperoleh bantuan secara tepat dari pihak-pihak di luar sekolah untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang tidak dapat dipecahkan di sekolah.

C. Asas-Asas Konseling Penyelanggaraan layanan dan kegiatan konseling selain dimuati oleh fungsi dan didasarkan pada prinsip-prinsip bimbingan, juga dituntut untuk memenuhi sejumlah asas bimbingan. Pemenuhan atas asas-asas itu akan memperlancar pelaksanaan dan lebih menjamin keberhasilan layanan/kegiatan, sedangkan pengingkarannya akan dapat menghambat atau bahkan

menggagalkan pelaksanaan serta mengurangi atau mengaburkan hasil layanan kegiatan dengan membayar SPP penuh itu sendiri. Asas-asas itu sendiri ialah : 1. Asas kerahasiaan yaitu asas konseling yang menuntut dirahasiakannya sejumlah data dan keterangan peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan yaitu data atau keterangannya yang tidak boleh dan tidak layak diketahui orang lain. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memiliki dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga

kerahasiaannya benar-benar tejamin. 2. Asas kesukarelaan yaitu asas konseling yang mengkehendaki adanya kesukarelaaan peserta didik mengikuti kegiatan yang diperuntukkan baginya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan.

3. Asas keterbukaan yaitu asas konseling yang menghendaki agar peserta didik yang menjadi sasaran layanan/kegiatan bersikap terbuka dan tidak berpurapura, baik di dalam keterangan tentang dirinya sendiri maupun berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Dalam hal ini Guru Pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan peserta didik. Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri peserta didik yang menjadi sasaran kegiatan. Agar peserta didik dapat terbuka, Guru Pembimbing harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura. 4. Asas kegiatan, yatiu asas konseling yang menghendaki agar peserta didik berpatrisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan kegiatan bimbingan. Dalam hal ini Guru Pembimbing perlu mendorong peserta didik untuk aktif dalam setiap kegiatan konseling yang diperuntukkan baginya. 5. Asas kemandirian, yaitu konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling, yaitu peserta didik sebagai sasaran layanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi individu-individu yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri sebagaimana telah diutarakan terdahulu. Guru Pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap layanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian peserta didik. 6. Asas kekinian, yaitu asas konseling yang menghendaki agar obyek sasaran layanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan peserta didik dalam kondisinya sekarang. Layanan yang berkenaan dengan masa depan atau kondisi masa lampaupun dilihat dampak dan atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan apa yang dapat diperbuat sekarang. 7. Asas kedinamisan, yaitu asas konseling yang menghendaki agar isi layanan terhadap klien yang sama kehendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu. 8. Asas keterpaduan, yaitu asas konseling yang menghendaki agar berbagai layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh Guru Pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis dan terpadukan. Untuk ini kerjasama antara Guru Pembimbing dan pihak-pihak

yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan. Koordinasi segenap layanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. 9. Asas kenormatifan, yaitu asas konseling yang menghendaki agar konseling didasarkan pada nilai dan norma yang ada, yaitu norma agama, hukum, peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan dan kebiasaan yang berlaku. Bukanlah kegiatan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya tidak berdasarkan norma. Kegiatan konseling harus dapat meningkatkan kemampuan peserta didik memahami, menghayati dan mengamalkan norma-norma tersebut. 10. Asas keahlian, yaitu asas konseling yang menghendaki agar kegiatan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah professional. Dalam hal ini, pelaksana layanan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Keprofesionalan harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis layanan, kegiatan konseling maupun dalam

penegakkan kode etik bimbingan dan konseling. 11. Asas alih tangan, yaitu asas konseling yang menghendaki agar pihak yang tidak mampu menyelenggarakan layanan konseling secara tepat dan tuntas mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. Guru Pembimbing dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua, guru atau ahli lain dan demikian pula Guru Pembimbing dapat mengalihtangankan kasus pada Guru Mata Pelajaran dan ahli-ahli lain. 12. Asas tut wuri handayani, yaitu asas konseling yang menghendaki agar pelayanan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana yang mengayomi, mengembangkan keteladanan, memberikan rangsangan dan dorongan serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik untuk maju. Asas-asas tersebut saling terkait satu sama lain, segenap asas itu perlu diselenggarakan secara terpadu dan tepat waktu, yang satu tidak perlu dikedepankan atau dikemudiankan dari yang lain. Begitu pentingnya asas-asas tersebut sehingga dapat dikatakan bahwa asas-asas itu merupakan jiwa dan nafas dari seluruh kehidupan pelayanan bimbingan dan konseling. Apabila asasasas itu tidak dijalankan dengan baik penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling akan tersendat-sendat atau bahkan berhenti sama sekali.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan 1. Konseling merupakan salah satu teknik pelayanan bimbingan secara keseluruhan, yaitu dengan cara memberikan bantuan secara individual (face to face relationship). 2. Konseling didesain untuk menolong klien dalam memahami dan

menjelaskan pandangan mereka terhadap kehidupan, dan untuk mencapai tujuan penentuan diri (self-determination) mereka melalui pilihan yang telah diinformasikan dengan baik serta bermakna bagi mereka, dan melalui pemecahan masalah emosional atau karakter interpersonal. 3. Konseling secara umum bertujuan membantu peserta didik agar memiliki kompetensi mengembangkan potensi dirinya seoptimal mungkin atau mewujudkan nilai-nilai yang terkandung dalam tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasainya. 4. Asas konseling antara lain kerahasiaan, kesukarelaan, keterbukaan, kegiatan, kemandirian, kekinian, kedinamisan, keterpaduan, kenormatifan, keahlian, alih tangan, dan tut wuri handayani.

DAFTAR PUSTAKA

McLeod, John. 2008. Pengantar Konseling, Teori dan Kasus. Jakarta: Kencana. Willis, Sofyan S. 2011. Konseling Individual Teori dan Praktik. Bandung: Alfabeta. pp: 36 www.scribd.com/doc/51505790?width=320 . Bimbingan dan Konseling di

Sekolah. Diakses tanggal 26 September 2013 pukul 19.35 WIB.