Anda di halaman 1dari 16

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................ 1 DAFTAR ISI ............................................................................................... 2 BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... 3 A.LATAR BELAKANG ............................................................................ 3 B.TUJUAN ................................................................................................. 4 C.PEGERTIAN ........................................................................................... 4 BAB II TINJAUAN TEORI ....................................................................... 6 A.DOKUMENTASI PERAWATAN ......................................................... 6 B.MANAJEMAN RESIKO/KONFLIK ..................................................... 7 C.ASPEK LEGAL DALAM DOKUMENTASI KEPERAWATAN ......... 11 BAB III BENTUK DOKUMENTASI KEPERWATAN ........................... 15 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 17

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Peran perawat dalam kehidupan manusia adalah meberikan bantuan pada manusia mulai konsepsi , sejalan dengan siklus kehidupan manusia , pelayanan keperawatan adalah membantu individu dan atau masyarakat untuk sembuh dari penyakitnya dan mencapai derajat kesehatannya yang optimal. Bentuk pelayanan keperawatan tersebut adalah pelayanan komfrehensif menacakup bio psiko sosio spiritual . Dalam memberikan pelayanan keperawatan ,perawat dituntut memberikan pelayanan secara profesionalisme ( Lokakarya keperawatan Nasional 1983 ) . Perawat professional dalam menjalankan peran dan fungsinya harus mengacu pada standar profesi , standar profesi yang berlaku mencakup beberapa aspek diantaranya standar Ilmu keperawatan , standar akuntabilitas , standar pelaksanaan asuhan keperawatan. Pada aspek standar akuntabilitas maka perawat dihadapkan pada tanggung jawab dan tanggung gugat dengan demikian pendokumentasian praktik keperawatan menjadi unsur penting dalam semua pelaksanaan aspek standar professional keperawatan . Beberapa item standar akuntabilitas yang berhubungan dengan dokumentasi praktik keperawatan antara lain : Standar Akuntabilitas Profesional keperawatan ( DPP PPNI tahun 1999 ) 1. Berfungsi sejalan dengan legislasi dan standar praktek keperawatan yang sesuai dengan tingkat pendidikannya. 2. Menunjukan minat , empati , percaya , jujur dan hangat pada saat bertinteraksi dengan klien. 3. Bertindak sebagai perwakilan klien dengan membantu klien memahami informasi yang relevan . 4. Bertindak sebagai perwakilan klien dengan melindungi dan meningkatkan hak hak klien untuk : Memperoleh informasi yang absah. Menyepakati secara sadar akan asuhan keperawatan , pengobatan dan peran sertanya dalam kegiatan penelitian . Privasi dan dan kerahasiaan Pengobatan yang sesuai dengan manusia sebagai individu.

Berpartisipasi dalam membuat keputusan yang mempengaruhi asuhan keperawatan yang ditujukan padanya. 5. Bertanggung gugat terhadap tindakan yang dilakukan . 6. Menunjukan kemampuan dalam hal pengetahuan yang mutakhir pada saat menjalankan praktek. 7. Mencari bantuan dan bimbingan bila tidak dapat melaksanakan tugas tugas nya secara kompenten 8. Menghindari mempraktekkan hal hal diluar batas kemampuan 9. Bekerjasama sesama anggota profesi 10. Bekerjasama dengan anggota kesehatan lain. 11. Membuat pertimbangan dalam menjalankan rencana keperawatan yang bersifat multidisplin yang telah disusun. 12. Berbagi pengetahuan dan keahlian dengan orang lain 13. Melakukan tindakan pada kondisi dimana keamanan atau kesejahteraan klien tidak diperhatikan / terancam. 14. Melaporakan kejadian tentang praktek yang tidak benar atau kekeliruan dalam menjalankan pelayanan keperawatan oleh tenaga lain ( bukan perawat ) kepada yang berwenang. 15. Membantu mengembangkan kebijakan dan prosedur yang berkaitan dengan asuhan klien . 16. Membantu pengembangan keperawatn atau sistem pelayanan keperawatan . B. Tujuan :

Secara umum tujuan pembahasan aspek legal etik dan manajemen resiko dalam dokumentasi keperawatan adalah untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan dalam pemberian pelayanan yang konfrehensif dan optimal pada individu , keluarga dan masyarakat. Tujuan khusus : 1. Meningkatkan pelayanan keperawatan melalui analisis pendokumentasian pelayanan keperawatan . 2. Memberikan perlindungan malpraktik pada masyarakat. 3. Memberikan perlindungan hukum pada perawat 4. Memudahkan kerjasama antar profesi dalam bidang kesehatan . C. Pengertian Untuk mempermudah dan kesamaan persefsi dalam penulisan makalah ini kelompok menyajikan beberapa istilah yang prinsip antara lain : 1. Aspek legal Etik adalah cara pandang dalam mengkaji , menganalisa , menempatkan sikap dan tindak keperawatan dipandang dari sisi etika serta landasan aturan norma hukum yang berlaku.

2. Dokumentasi keperawatan adalah merupakan catatan otentik atau semua warkat asli yang dapat dibuktikan atau dijadikan bukti dalam persoalan hukum dalam bidang keperawatan. 3. Praktik keperawatan adalah seluruh tindakan keperawatan secara profesional yang memerlukan pengetahuan khusus ( biologi , fisika, perilaku , psikologi , sosiologi dan ilmu keprewatan ) dalam melaksanakan pengkajian , menegakkan diagnosa , melakukan intervensi dan evaluasi dalam rangka upaya mempertahankan dan meningkatkan kesehatan individu dan masyarakat serta pengelolaan masyalah kesehatan . 4. Legal dalam bidang keperawatan adalah kerangka aturan atau norma yang secara etik dan hukum dalam bentuk fisik atau moral yang berlaku secara wajar dalam memberikan perlindungan pada perawat dan klien . 5. Manajemen Resiko adalah upaya pengololaan manajerial resiko asuhan keperawatan yang meliputi perencanaan , pengorganisasian , pelaksanaan dan evaluasi . 6. Resiko asuhan keperawatan adalah bentuk ancaman dan atau dampak dalam pemberian asuhan keperawatan yang muncul akibat dari pemberian asuhan keperawatan itu sendiri serta unsur lain ( luar ) yang mengintervensinya.

B A B II TINJAUAN TEORI A. Dokumentasi Keperawatan Merupakan bukti catatan , pelaporan dan arsif yang dimiliki perawat dan institusi keperawatan berguna untuk kepentingan klien , perawat , tim kesehatan lain dalam tindakan kolaborasi serta instiusi keperawatan , dengan dasar komunikasi yang akurat dan lengkap yang tertulis dan dapat dipertanggung jawabkan serta tanggung gugat . Dokumentasi keperawatan dalam implementasinya melekat pada prasyarat legal perawat dan tindakan dalam asuhan kepewatan . Dalam asuhan keperawatan dokumentasi itu sendiri merupakan keterampilan mencakup proses komunikasi , proses keperawatan dan standar dokumentasi dalam memberikan asuhan keperawatan . Keterampilan dalam dokumentasi keperawatan mencakup 1. Keterampilan dokumentasi dalam pengkajian keperwatan . 2. Keterampilan mengindentifikasi masalah dan kebutuhan untuk perawatan. 3. Keterampilan dokumentasi rencana keperawatan . 4. Keterampilan dokumentasi dalan tindakan keperawatan. 5. Keterampilan dokumentasi dalam evaluasi keperawatan . 6. Keterampialan dalam mengkomunikasikan hasil dokumentasi. Dokumentasi keperawatan dilaksanakan agar tidak terjadi pemutar balikan fakta , untuk mencegah kehilangan informasi serta memberikan informasi sesama perawat maupun tenaga kesehatan lain , untuk itu perlu ada standar pendokumensian yang harus dilaksanakan . Standar dokumentasi adalah bentuk catatan , isian format ,serta bentuk lain yang ditetapkan berdasarkan ilmu atau standar Operational Presedur ( SOP ). Standar dokumentasi dilihat dari sudut pandang perawat ; Memberikan panduan dalam pertanggung jawaban Meningkatkan kepuasan Memberikan kriteria hasil , memberikan kerangka kerja . Standar dokumentasi dilihat dari sudut pandang klien ; Dapat memberitahukan klien tentang ide asuhan keperawatan mengenai Tanggung jawab kualitas asuhan keperawatan Meningkatkan kepuasan klien Merefleksikan hak klien Memberikan batasan pada klien tentang sesuatu model pelayanan asuhan keperawatan , penetapan kebutuhan pelayanan keperawatan dan keuntungan bagi klien. Dokumentasi akan efektif apabila dilaksanakan apabila dilaksanakan dengan kaidah kaidah sebagai berikut : 1. Catat waktu dan tempat pendokumentasian 2. Prilaku yang mendukung dokumentasi efektif

Catat kejadian setelah terjadi Lakukan pencatatan pada data rutin dan repetitif Catat jumlah waktu yang dipergunakan dalam perkiraan penggunaan waktu Jangan mengulang catatan Diskusikan dengan staf lain untuk pengaturan jadwal Atur dan kembangkan waktu untuk pencatatan 3. Atur bentuk dokumentasi mencakup Simplisit ( sederhana ) Conservatism ( akurat ) Precision ( ketepatan ) Irrefutability ( jelas dan objktif ) Dokumentasi digunakan sebagai Alat komunikasi Mekanisme tanggung - jawab dan tanggung gugat . Metode pengupulan dan pengolahan data Sarana pelayanan keperawatan induvidual Sarana evaluasi Sarana peningkatan kerjasam antatim kesehatan Sarana pendidikan lanjutan Untuk audit pelayanan keperawatan Ruang lingkup Dokumentasi keperawatan dalam asuhan keperawatan adalah 1. Format riwayat keperawatan 2. Data biografi klien dan kelurga 3. Riwayat sebelum sakit 4. Riwayat Penyakit sekarang 5. Riwayat kesehatan keluarga ( susunan keluarga berhubungan dengan keturunan ). 6. Riwayat kesehatan lingkungan 7. Keadaan psikososial 8. Kebiasaan hidup sehari hari 9. Kriteria hasil asuhan keperawatan ( Pengkajian , Diagnosa , Intervensi dan Evaluasi keperawatan ).

B. Manajemen Resiko / konflik Manajemen sesuatu yang sering kita dengan sehari hari , secara umum manajemen diartikan sebagai pengaturan , dalam pelaksanaan kesehariannya manajemen diartikan sebagai pengelolaan yang mencakup kegiatan perencanaan , anggaran , oganisasi , pelaksanaan, controling dan evaluasi . Manajemen yang diistilahkan secara populer dikenal dengan 5 M Man ( manusia ) , Money ( dana ) , Material ( sarana ) , macine methode ( cara / prosedur ) , dan marketing ( penjualan , pelanggan / klien ) .

Resiko secara harfiah mengandung arti bahaya ,seperti telah dijelaskan pada Bab I bahwa resiko mengandung pengertian sesuatu ancaman atau dampak negatif dari sesuatu atau dalam kata lain sesuatu ketidak setujuan antara dua orang atau keadaan dan mengancam kepentingan dari kedua orang / keadaan tersebut . Konflik secara harfiah mengandung arti pertentangan / perselisihan , namun pengertian / defenisi dari konflik adalah : Marquis & Huston 1998 Sebagai masalah internal dan eksternal yang terjadi akibat perbedaan pendapat , nilai nilai atau keyakinan antara dua orang atau lebih . Littlefield 1995 Sebagai suatu kejadian atau proses terjadi dari sesuatu ketidak setujuan dari dari dua orang / organisasi dimana seseorang tersebut menerima sesuatu yang mengancam kepentingannya. Sebagai suatu proses , konflik dimanifestasikan sebagai suatu rangkaian tindakan yang dilakukan oleh dua orang atau kelompok dimana setiap orang atau kelompok berusaha menghalangi atau mencegah kepuasan dari seseorang . Dari pengertian diatas berarti ada kesamaan antara Resiko dan konflik , dalam pembahasan ini kelompok akan membahas masalah konflik dalam keperawatan Dalam manajerial keperawatan konflik sering terjadi pada setiap tatanan asuhan keperawatan oleh karenanya konfilk dapat diasumsikan pada dua hal dasar yaitu 1) . Konflik adalah sesuatu hal yang tidak dapat dihindari dalam suatu organisasi , 2). Apabila konflik dapat di kelola dengan baik , konflik dapat menghasilkan sutu kualitas produksi , penyelesaian yang kreatif dan berdampak terhadap peningkatan dan pengembangan . Penanganan konflik secara kontruksi dengan penekanan win win solution merupakan keterampilan kritis dalam sutu manajemen . Pada awal abad 20 , konflik diinterprestasikan sebagai suatu kelemahan / keburukan dan sesuatu yang harus dihindari . keharmonisan suatu organisasi sangat diharapkan namun konflik tetap selalu ada walaupun dihindari . Teori interaksi pada tahun 1970 konflik mulai diterima dan dikemukakan sebagai suatu hal yang penting dan secara aktif mengajak organisasi dalam pertumbuhan produksi , dan kemudian oleh ( Erwin , 1992 ) mengemukanan manajemen konflik yang konstuktif akan mengakibatkan stress , dapat meningkatkan produktifitas dan kreatifitas , dan menghasilkan lingkungan yang kondusif untuk didiskusikan sebagai fenomena utama , komunikasi yang terbuka melalui express feeling , tukar fikiran dan tanggungjawab yang menguntungkan dalam penyelesaian perbedaan pendapat . Katagori konflik Konflik dapat dikatagorikan menjadi 3 jenis : 1. Konflik Intrapersonal ; Konflik yang terjadi dari dalam , baik secara individu kelompok / organisasi merupakan masalah internal . Hal ini sering

dimanifestasikan sebagai akibat dari kompetisi peran , dalam keperawatan pertentangan tersebut menyangkut loyalitas terhadap profesi , loyalitas terhadap pekerjaan , dan loyalitas terhadap klien . 2. Konflik Interpersonal ; Konflik yang terjadi karena adanya perbedaan nilai , tujuan , dan keyakinan antara dua orang atau lebih , konflik ini terjadi karena adanya interaksi konstan antara sesorang dengan orang lain , dalam asuhan keperawatan konplik ini terjadi antar person dalam profesi dan dimanifestasikan pada hal terjadi ketidak harmonisan antar person dalam hubungan pribadi , hubungan kerja , perbedaan pendapat , pengaru sistem yang berlaku. 3. Konflik antar kelompok ; Konflik ini terjadi antar oraganisasi , departemen , profesi dimana sumber konfliknya adalah kekuasaan , otoritas ( kwalitas jasa pelayanan ) keterbatasan prasarana . Morquis & Huston 1998 , mengkatagorikan konflik dalam bentuk konflik vertikal dan horisontal , konflik vertikal dihubungkan dengan konflik yang terjadi antara atasan dan bawahan , sedangkan konflik horisontal adalah konflik yang terjadi antar staf .

Proses konflik Proses konflik tingkat keparahan dapat dibagi dalam beberapa tahap : 1. Konflik laten Tahapan konflik yang terjadi secara terus menerus dalam sustu organisasi , misalnya karena kekurangan staf dan perubahan yang cepat akan membawa suatu organisasi pada suatu kondisi ketidak stabilan , dan kwalitas produksi . 2. Felt konflik ( konflik yang dirasakan / konflik affective ) Konflik ini terjadi karena adanya suatu yang dirasakan sebagai ancaman , ketakutan , dan tidak percaya . 3. Konflik yang nampak / dimunculkan . Setiap orang secara tidak sadar belajar menggunakan kompetisi , kekuatan dan agresivitas dalam penyelesaian konflik yang dimunculkan untuk kepentingan organisasi. 4. Resolusi konflik Adalah suatu penyelesaian masalah dengan cara memuaskan semua orang atau win win solustion . 5. Konflik aftermath konflik yang terjadi akibat tidak terselesaikannya konflik yang pertama , konflik ini akan menjadi masalah besar dalam suatu organisasi apabila tidak segera diatasi.

Penyelesaian konflik Langkah langkah penyelesaian konflik menurut Vestal ( 1994 ) adalah a. Pengkajian 1. Analisa situasi Identifikasi jenis konflik untuk menentukan waktu yang diperlukan , setelah memvalidasi data / fakta dengan analisa yang mendalam , kemudian tentukan siapa yang terlibat dan peran masing masing. 2. Analisa dan mematikan isu yang berkembang . Menentukan masalah prioritas yang memerlukan penyelesaian pertama , hindari penyelesaian semua masalah dalam satu waktu . 3. Menyusun tujuan spesipik yang akan dicapai. b. Indentifikasi 4. Mengelola perasaan Hindari respon emosional , marah , setiap orang mempunyai respon yang berbeda terhadap kata kata , ekpresi dan tindakan . c. Intervensi 5. Masukkan pada konflik yang diyakini dapat diselesaikan dengan baik , identifikasi hasil yang fositif yang akan terjadi. 6. Menyeleksi metode , penyelesaian konflik memerlukan strategi yang berbeda, dan seleksi metode yang paling sesuai. Strategi penyelesaian konflik Selain langkah lanhkah penyelesaian dalam penyelesaian konflik , tidak kalah pentingnya strategi penyelesaian konplik antara lain : a. Kompromi atau negosiasi Suatu strategi penyelesaian konflik dimana semua yang terlibat menyadari dan sepakat tentang keinginan bersama ( lose lose situation ) dimana pihak yang konflik mengalah dan menyepakati hal yang telah dibuat. Didalam manajemen keperawatan strategi ini sering digunakan oleh midle top manajer keperawatan. b. Kompetisi Penyelesaian ini menghasilkan adal kelompok yang menang dan ada yang kalah ( lose win ) , akibat negatif dari strategi ini adalah kemarahan , putus asa , keinginan untuk perbaiakan dimasa akan datang . c. Akomodasi Istilah yang sering digunakan adalah cooperative , pada strategi ini manajer berusaha untuk mengakomodasi semua permasalahan memberikan kesempatan pada semua pihak yang konflik , sering kali strategi ini tidak menyelesaikan masalah utama dan sering digunakan dalam kasus politik dimana kekuasaan dengan berbagai konsekuensinya. d. Smoothing Penyelesaian masalah dengan mengurangi komponen emosional dalam konflik , dimana individu yang terlibat dalam konflik

berupaya untuk mencapai kebersamaan dengan penuh kesadaran dan introspeksi. Sering terjadi pada konflik ringan. e. Menghindar Pada strategi ini semua yang terlibat dalam konflik memilih untuk menghindar dan tidak perlu menyelesaikan masalah , biayanya dipilih bila ketidak sepakatan akan membahayakan kedua pihak , biaya penyelesaian masalah lebih besar , masalah perlu orang ketiga untuk penyelesaiannya , atau masalah sudah terpecahkan sendirinya. f. Kolaborasi Pada kolaborasi kedua unsur yang telibat menentukan tujuan bersama dan bekerjasama dalam mencapai satu tujuan , istilah strategi ini win win solotion . Kedua pihak masing masing meyakini tercapainya satu tujuan yang telah ditetapkan dan biasanya strategi ini bisa berjalan karena kompetisi insentif sebagai bagian dari situasi tersebut . Kelompok yang terlibat tidak mempunyai kemampuan dalam menyelesaikan masalah dan tidak adanya kepercayaan kedua kelompok ( bowditch & Buono 1994 ). C. Aturan Legal Dalam Dokumentasi Keperawatan Dalam melaksanakan pendokumentasian keperawatan selain harus sesuai dengan standar dokumentasi keperwatan tentunya diperlukan aturan atau norma yang mengatur untuk pertanggung jawaban dan tanggung gugat . Aturan atau norma yang mengatur tentang aspek legal dalam pendokumentasian keperawatan adalah sebagai berikut ;

1. Kode Etik Keperawatan Kode etik keperawatan mejadi kerangka dasar bagi profesi perawat untuk bersikap , bertindak , mengembangkan fungsi dan peranya , tanggung jawab kepada individu , keluarga dan masyarakat , tanggung jawab terhadap tugas , tanggung jawab terhadap profesi serta tanggung jawab kepada bangsa dan tanah air . pasal pasal Kode etik keperwatan yang berhubungan dengan dokumentasi keperawatan secara implisit diatur pada : Pasal 1 . Perawat dalam melaksanakan pengabdiannya senantiasa berpedoman pada tanggung jawab yang bersumber dari adanya kebutuhan akan perawatan , Individu , keluarga dan masyarakat. Pasal 5. Perawat senantiasa memelihara mutu pelayanan keperawatan nyang tinggi disertai kejujuran profesional dalam menerapkan pengetahuan

10

serta keterampilan keperawatan sesuai dengan kebutuhan individu , keluarga dan masyarakat. Pasal 6. Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui sehubungan dengan tugas yang dipercayakan kepadanya kecuali jika diperlukan oleh yang berwenang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pasal 10. Perawat senantiasa memelihara hubungan baik antar sesama perawat dan tenaga kesehatan lainnya, baik dalam memelihara keserasian suasana lingkungan kerja maupun dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan secara menyeluruh. 2. Undang Undang Kesehatan . Dalam UU No.23 tahun 1992 diatur secara garis besar tanggung jawab tenaga kesehatan ( termasuk perawat ) yang berhubungan pendokumentasian tenaga kesehatan . Secara implisit sebenarnya diatur pada semua pasal pasal yang ada namun lebih jelas diatur pada : Pasal 11 ayat 2. Penyelenggaraan upaya kesehatan sebagaimana dimaksud dalam ayat ( 1 ) didukung oleh sumber daya kesehatan . Pasal 32 ayat 2. Penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan dilakukan dengan pengobatan dan atau perawatan . Pasal 32 ayat 3. Pengobatan dan atau perawatan dapat dilakukan berdasarkan ilmu edokteran dan ilmu keperwatan dan atau cara lain yang dapat dipertanggung jawabkan . Pasal 32 ayat 4. Pelaksanaan pengobatan dan atau perawatan berdasarkan ilmu kedokteran dan ilmu keperawatan hanya dapat dilakukan tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu . Pasal 49 . Suber daya kesehatan merupakan semua perangkat keras dan perangkat lunak yang diperlukan sebagai pendukung penyelenggaraan upaya kesehatan meliputi a. tenaga kesehatan ; b. sarana kesehatan ; c. perbekalan kesehatan ; d. pembiayaan kesehatan ; e. pengelolaan kesehatan ; f. penelitian dan pengembangan kesehatan. Pasal 53 ayat 1. Tenaga kesehatan berhak memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya.

11

Pasal 53 ayat 2. Tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya berkewajiban untuk mematuhi standar profesi dan menghormati hak pasien. Pasal 54 ayat 1 Terhadap tenaga kesehatan yang melakukan kesalahan atau kelalaian dalam melaksanakan profesinyadapat dikenakan tindakan disiplin. Pasal 55 ayat 1. Setiap orang berhak atas ganti rugi akibat kesalahan atau kelalaian yang dilakukan tenaga kesehatan . Dalam pasal pasal yang disebutkan diatas , tidak ada yang mengatur secara jelas tentang pemdokumentasian , namun pelaskanaan pasal pasal tersebut dan termasuk pasal pasal tentang ketentuan pidana serta sanksi dalam UU No.23 tahun 1992 memerlukan perangkat dokumentasi sebagai perangkat lunak . 3. Kepustusan Menteri Kesehatan : KepMenkes No. 1239 / Meskes/ SK / XI/2001 Hal hal yang prinsip mengatur tentang aspeg legal etik praktek keperawatan dan dokumentasi keperawatan diatur dalam keputusan Menteri Kesehatan No. 1239 / Menkes / Sk /XI/2001, pada pasal pasal : Pasal 15 Perawat dalam melaksanakan praktik keperawatan berwenang untuk a. Melaksankan asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian , penetapan diagnosa keperawatan , perencanaan , melaksanakan tindakan keperaatan dan evaluasi keperawatan ; b. Tindakan keperawatan sebagai mana yang dimaksud pada butir a) meliputi Intervensi keperawatan , observasi keperawatan , pendidikan dan konseling ; c. Dalam melaksanakan asuhan keperawatan sebagai mana yang dimaksud pada hurup a) dan b) harus sesuai dengan standar asuhan keperawatan yang ditetapkan oleh organisasi profesi ; d. Pelayanan tindakan medik hanya dapat dilakukan berdasarkan permintaan tertulis dari dokter. Pasal 16 Dalam melaksanakan kewenangan sebagai mana dimaksud pada pasal 15 perawat berkewajiban untuk : a. Menghormati hak pasien ; b. Merujuk kasus yang tidak dapat ditangani ; c. Menyimpan rahasia sesuai dengan perundang undangan yang berlaku ; d. Memberikan informasi ; e. Meminta persetujuan tindakan yang akan dilakukan ; f. Melakukan catatan keperawatan dengan baik. Pasal 23 1. Perawat dalam melaksanakan praktik perorangan sekurang kurangnya memenuhi persyaratan :

12

a. memiliki tempat praktik yang memenuhi syarat kesehatan b. memiliki perlengkapan untuk tindakan asuhan keperawatan maupun kunjungan rumah c. memiliki perlengkapan administrasi yang meliputi buku catatan kunjungan ,formulir catatan tindakan asuhan keperawatan serta formulir rujukan . 2. Persyaratan perlengkapan sebagai mana yang dimaksud pada ayat 1) , sesuai dengan standar perlengkapan asuhan keperawatan yang ditetapkan organisasi profesi. Aturan aturan yang disebutkan diatas dalam hal dokumentasi keperawatan ada yang dengan jelas menyebutkan dan merupakan bagian dari tindakan yang dilakukan dan ada yang secara implisit , namun begitu pentingnyad dokumentasi tersebut tidak lah kegiatan secara sempurna tanpa pendokumentasian .

13

B A B III BENTUK DOKUMENTASI KEPERAWATAN Pada pembahasan bentuk dan jenis dokumentasi keperawatan kelompok akan menyajikan dan mengelompokkan dokumentasi berdasarkan bentuk dan karakter dokumentasi itu sendiri . Adapun bentuk dokumentasi keperawatan akan dikelompokkan dalam tiga : 1. Dokumentasi Pra asuhan keperawatan. 2. Dokumentasi asuhan keperawatan . 3. Dokumentasi penunjang asuhan keperawatan . Dibawah ini kelompok akan membahas satu persatu dari bentuk dokumentasi keparawatan . 1. Dokumentasi Pra asuha keperawatan . Dokumentasi yang dimiliki oleh perawat yang digunakan sebagai prasyarat untuk melakukan praktek keperawatan , dokumentasi ini berbentuk warkat resmi yang mengikuti kompetensi perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan , ada bebera jenis dokumentasi ini adalah a. Ijazah keperawatan sebagai sertifikasi dari seorang perawat. b. Surat izin / SK keperawatan sebagai pengakuan legal bagi seorang perawat dalam melakukan praktek keperawatan . c. Piagam / surat keterangan lain yang digunakan bagi seorang perawat sehubungan dengan kompetensi untuk melaksanakan asuhan keperawatan tertentu. 2. Dokumentasi asuhan keperawatan Dokumentasi asuhan keperawatan merupakan dokumentasi yang melekat dengan asuhan keperawatan yang dilaksanakan seorang perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada individu , keluarga dan masyarakat . Jenis dokumentasi asuhan keperatan sebagai berikut : a. Dokumentasi Pengkajian keperawatan berisi tentang : Pengkajian data biografi klien Pengkajian masalah keperawatan klien Pengkajian riwayat penyakit / keluhan utama Pengkajian hasil pemeriksaan fisik klien Pengkajian riwayat penyakit yang lalu Pengkajian riwayat kesehatan keluarga Pengkajian riwayat psikososial klien Pengkajian kebiasaan sehari hari ( pola makan , eliminasi , pola tidur , kebiasaan rokok , minuman alkohol dll ) b. Dokumentasi Analisa Data / Diagnosa Keperawatan berisi tentang Analisa data keperawatan Diagnosa keperawatan Prioritas maslah keperatan

14

c. Dokumentasi Rencana tindakan keperawatan Dokumentasi rencana tindakan keperawatan adalah keputusan yang diambil setelah mendapat masukan dari Diagnosa keperawatan , dokumentasi dibuat memenuhi kriteria SMART ( Spesipik , Mesuarable , Arcipheble , realiti dan time ) d. Dokumentasi Tindakan keperawatan Dokumentasi tindakan keperawatan adalah pencatan tentang tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan , tindakan keperwatan terdiri dari Tindakan keperawatan mandiri , tindakan perawatan kolaborasi dan tindakan perawatan pendelegasian. e. Dokumentasi Evaluasi keperawatan Dokumentasi memuat tantang evaluasi tindakan yang sudah dilaksanakan yang terdiri dari evaluasi sementara ( formatif ) dan evaluasi akhir ( sumatif ) . Evaluasi memuat respon yang muncul dari tindakan yang diambil , Respon pada evaluasi formatif adalah respon klien setelah dilakukan tindakan , sedangkan respon pada evaluasi sumatif berupa hasil keseluruhan dari beberapa respon yang ada , lebih di kenal dokumentasinya dengan istilah SOAP ( respon Subjek , respon Objek , Analisa intervensi masalah , Perencanaan ulang setelah evaluasi ). 3. Dokumentasi penunjang asuhan keperawatan Dokumentasi penunjang adalah wewenang perawat berupa dokumentasi bantu dalam melakukan asuhan keperawatan , dokumentasi penunjang sifatnya relatif dalam sesuatu hal dokumentasi ini tidak terlalu prinsif namun dalam hal lain dokumentasi ini merupakan sangat prinsif . bentuk dari dokumentasi penunjang antara lain : Informed consent : pesetujuan klien / keluarga dalam melaksanakan tingakan keperawatan atas dirinya Surat pendelegasian wewenang tindakan keperawatan kolaborasi . Standar operating prosedur ( SOP ) dalam penangan kasus kasus tertentu dan atau dalam hal gawat darurat. Catatan - catatan / formulir observasi keperawatan . Bukti bukti lain dalam pembagian tugas dan lain lain . Dari beberapa dokumentasi yang dibahas diatas adalah merupakan bentuk dokumentasi dari aspek legal etis dapat diakui , dari sudut pandang etika keperawatan dan aturan aturan yang berlaku.

15

Daftar Pustaka
1. Perawatan Profesional , La Ode Jumadi Gafar , S kp. EGC Jakarta Cetakan I tahun 1999 2. UU RI No.23 tahun 1992 tentan Kesehatan 3. Keputusan Menteri Kesehatan : KepMenkes No. 1239 / Meskes/ SK / XI/2001 4. Kode Etik Keperawatan ( Loka karya PPNI tahun 1983 ) . 5. Standar Praktek Keperawatan , Perawat Profesional ( Perawat Teregister ) DPP Pusat PPNI 1999. 6. Manajemen keperawatan , aplikasi dalam praktik keperawatan profesional, Jilid 5 . Nursalam , M.Nurs ( Honous )

16