Anda di halaman 1dari 3

Glomerulonefritis Kronik Patofisiologi Glomerulonefritis kronik awitannya mungkin seperti glomerulonefritis akut atau tampak sebagai tipe reaksi

antigen-antibodi yang lebih ringan, kadang-kadang sangat ringan sehingga terabaikan. Setelah kejadian berulangnya infeksi ini, ukuran ginjal sedikit berkurang sekitar seperlima dari ukuran normal, dan terdiri dari jaringan fibrosa yang luas. Korteks mengecil menjadi lapisan yang tebalnya 1 sampai 2 mm atau kurang. Berkas jaringan parut merusak sisa korteks, menyebabkan permukaan ginjal kasar dan ireguler. Sejumlah glomeruli dan tubulusnya berubah menjadi jaringan parut, dan cabang-cabang arteri renal menebal. Akhirnya terjadi kerusakan glomerulus yang parah, menghasilkan penyakit ginjal tahap akhir (ESRD). Manifestasi Klinis Gejala glomerulonefritis kronik ini bervariasi. Banyak pasien dengan penyakit yang telah parah memperlihatkan kondisi tanpa gejala sama sekali untuk beberapa tahun. Kondisi mereka secara insidental dijumpai ketika terjadi hipertensi atau peningkatan kadar BUN dan kreatinin serum. Diagnosis dapat ditegakkan ketika perubahan vaskuler atau perdarahan retina ditemukan selama pemeriksaan mata. Indikasi pertama penyakit dapat berupa perdarahan hidung, stroke, atau kejang yang terjadi secara mendadak. Beberapa pasien hanya memberitahukan bahwa tungkai mereka sedikit bengkak di malam hari. Mioritas pasien juga mengalami gejala umum seperti kehilangan berat dan kekuatan badan, peningkatan iritabilitas, dan peningkatan brkemih di malam hari (nokturia). Sakit kepala, pusing, dan gangguan pencernaan umumnya terjadi. Seiring dengan berkembangnya glomerulonefritis kronik, tanda dan gejala insufisiensi renal dan gagal ginjal kronik dapat terjadi. Pasien tampak sangat kurus, pigmen kulit tampak kuning keabu-abuan dan terjadi edema perifer dan periorbital. Tekanan darah mungkin normal atau naik dengan tajam. Temuan pada retina mencakup hemoragi, adanya eksudat, arteriol menyempit dan berliku-liku, serta papailedema. Membran mukosa pucat karena anemia. Pangkal vena mengalami distensi akibat cairan yang berlebihan. Kardiomegali, irama galop, dan tanda gagal jantung kongesti lainnya dapat terjadi, serta bunyi krekel dapat didengar di paru. Neuropati perifer disertai hilangnya refleks tendon dan perubahan neurosensori muncul setelah penyakit terjadi. Pasien mengalami konfusi dan memperlihatkan rentang perhatian yang menyempit. Temuan lain mencakup perikarditis disertai friksi perikardial dan pulsus paradoksus (perbedaan tekanan darah lebih dari 10mm Hg selama inspirasi dan ekspirasi). Evaluasi Diagnostik Sejumlah nilai laboratorium abnormal muncul. Urinalisis menunjukkan gravitasi spesifik mendekati 1.010, berbagai proteinuria, dan endapan urinarius (butir-butir protein

yang disekresi oleh tubulus ginjal yang rusak). Ketika gagal ginjal terjadi dan filtrasi glomerulus menurun dibawah 50 ml/menit, perubahan berikut dapat dijumpai: Hiperkalemia akibat penurunan ekskresi, masukan dari makanan dan medikasi, asidosis, dan katabolisme. Asidosis metabolik akibat sekresi asam oleh ginjal dan ketidakmampuan untuk regenerasi bikarbonat. Anemia akibat penurunan eritropoesis (produksi sel darah merah) Hipoalbuminemia disertai edema akibat kehilangan protein melalui membran glomerulus yang rusak Serum fosfor meningkat akibat penurunan ekskresi renal Serum kalsium meningkat (kalsium terikat pada fosfor untuk mengkompensasi peningkatan kadar serum fosfor) Hipermagnesemia akibat penurunan ekskresi dan ingesti antasid yang mengandung magnesium Kerusakan hantaran saraf akibat abnormalitas elektrolit dan uremia Pemeriksaan sinar-x pada dada menunjukkan pembesaran jantung dan edema pulmoner. Elektrokardiogram mungkin normal namun dapat juga menunjukkan adanya hipertensi disertai hipertropi ventrikel kiri dan gangguan elektrolit, seperti hiperkalemia, dan puncak gelombang T yang tinggi. PENATALAKSANAAN Gejala yang timbul pada pasien glomerulonefritis kronik akan menjadi pedoman penanganan rawat jalan. Jika terdapat hipertensi, tekanan darah diturunkan dengan natrium dan pembatasan cairan. Protein dengan nilai biologis yang tinggi (produk susu, telur, daging) diberikan untuk mendukung status nutrisi yang baik pada pasie. Kalori yang adekuat juga penting untuk menyediakan protein bagi pertumbuhan dan perbaikan jaringan. Infeksi traktus urinarius harus ditangani dengan tepat untuk mencegah kerusakan renal lebih lanjut. Jika edema berat terjadi, pasien harus tirah baring. Kepala tempat tidur dinaikkan untuk kenyamanan dan diuresis. Berat badan harian dipantau, dan diuretik digunakan untuk mengurangi kelebihan cairan. Masukan natrium dan cairan disesuaikan dengan kemampuan ginjal pasien untuk mengekskresikan air dan natrium. Dimulainya dialisis dipertimbangkan diawal terapi untuk menjaga agar kondisi fisik pasien tetap opimal, mencegah ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, dan mengurangi risiko komplikasi gagal ginjal. Rangkaian penanganan dialisis sebelum pasien menunjukkan komplikasi signifikan adalah lambat. INTervensi keperawatan Jika pasien dirawat di rumah sakit atau layak untuk mendapat kunjungan rumah, perawat akan mengobservasi perubahan status cairan dan elektrolit pasien dan tanda-tanda kemunduran fungsi renal. Perubahan status cairan dan elektrolit dan status neurologi serta jantung dilaporkan dengan segera ke dokter. Perawat dapat memberikan dukungan emosi selama perjalanan penyakit dan penanganan dengan memberi kesempatan pada pasien dan

keluarga untuk mengungkapakan kekhawatiran mereka dan menjawab pertanyaan mereka serta mendiskusikan beberapa pilihan. Pendidikan pasien dan pertimbangan perawatan di rumah Perawat berperan penting dalam memberikan pengajaran pada pasien dan keluarga tentang rencana penanganan yang diharuskan serta risiko yang akan terjadi jika tidak dipatuhi. Instruksi kepada pasien mencakup penjelasan dan penjadwalan evaluasi tindak lanjut terhadap tekanan darah, protein urinalisis, kadar BUN, dan kreatinin serum untuk menentukan perkembangan aktivitas penyakit, serta urinalisis protein dan lempeng protein untuk mengkaji fungsi renal. Rujukan ke perawat komunitas dan perawat kunjungan rumah diberikan untuk memberikan kesempatan dilakukannya pengkajian yang cermat terhadap perkembangan pasien dan untuk melanjutkan pengajaran mengenai masalah yang harus dilaporkan pada tenaga kesehatan misalnya perburukan tanda gagal ginjal seperti mual, muntah, hilangnya haluaran urin; diet yang dianjurkan dan modifikasi cairan. Serta pengajaran medikasi (tujuan, efek samping, efek samping yang diharapkan, dosis, jadwal pemberian).