Anda di halaman 1dari 15

LI.1. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN HIPERSENSITIVITAS LO.1.1.

DEFINISI
Alergi atau hipersensitivitas adalah kegagalan kekebalan tubuh di mana tubuh seseorang menjadi hipersensitif dalam bereaksi secara imunologi terhadap bahan-bahan yang umumnya nonimunogenik. Dengan kata lain, tubuh manusia bereaksi berlebihan terhadap lingkungan atau bahan-bahan yang oleh tubuh dianggap asing atau berbahaya.

LO.1.2. KLASIFIKASI Menurut waktu:


1 . Reaksi Cepat

Waktu terjadi: beberapa detik sampai 2 jam Terjadi ikatan silang antara alergen dan IgE pada permukaan sel mast yang menyebabkan pelepasan mediator vasoaktif. Manifestasi berupa: Anafilaksis sistemik/ local Contohnya: asma, pilek-bersin, urtikaria, eksim
2.

Reaksi Intermediet Waktu terjadi: beberapa jam sampai 24 jam Melibatkan pembentukan kompleks imun IgG & kerusakan jaringan melalui aktivasi komplemen atau sel NK / ADCC. Masifestasi berupa: Reaksi transfusi darah, eritroblastosis fetalis & anemia hemolitik autoimun. Reaksi Arthuslokal & reaksi sistemik seperti: serum sickness, vaskulitis nekrotis, glomerulo nefritis, arthritis rheumatoid & LER.

3.

Reaksi Lambat Waktu terjadi: sampai sekitar 48 jam. Sel T melepas sitokin dan mengaktifkan makrofag sehingga menimbulkan kerusakan jaringan. Contoh: Dermatitis kontak, reaksi M. tuberculosis & reaksi penolakan graft

Menurut mekanisme:
Berdasarkan Coombs & Gell (1963) Ada 4 tipe: 1.Tipe I: Anaphylactic hypersensitivity (Hipersensitivitas immidiate) 2.Tipe II: Antibody dependent cytotoxic hypersensitivity (Hipersensitivitas sitotoksik)

3.Tipe III: Immunne complex mediated hypersensitivity (Hipersensitivitas imun kompleks) 4.Tipe IV: Cell mediated hypersensitivity (Delayed Type Hipersensitivity)

LI.2. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN HIPERSENSITIVITAS TIPE I LO.2.1. MEKANISME

Mekanisme terjadinya reaksi hipersensitivitas tipe I mulanya antigen masuk ke tubuh dan merangsang sel B untuk membentuk IgE dengan bantuan sel Th. IgE diikat oleh sel mast atau basofil melalui reseptor Fc . Apabila tubuh terpajan ulang dengan antigen yang sama, maka antigen tersebut akan diikat oleh IgE yang sudah ada pada permukaan sel mast atau basofil. Akibat ikatan tersebut, sel mast atau basofil mengalami degranulasi dan melepas mediator (Karnen, 2006). Urutan kejadian reaksi tipe I adalah sebagai berikut: Fase sensitasi, yaitu waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan IgE sampai diikatnya oleh reseptor spesifik pada permukaan sel mast atau basofil. Fase aktivasi, yaitu waktu yang diperlukan antara pajanan ulang dengan antigen yang spesifik dan sel mast melepas isinya yang berisikan granul yang menimbulkan reaksi. Fase efektor, yaitu waktu terjadi respon yang kompleks sebagai efek mediator-mediator yang dilepas sel mast dengan aktivitas farmakologik. Manifestasi Klinis: - Reaksi local : Rhinitis alergi, Asma, Dermatitis atopi. Reaksi sistemik-anafilaksis: Bronkokonstriksi berat & hipotensi hingga kematian. Reaksi pseudoalergi/ anafilaktoid: Syok, Urtikaria: alergen-IgE pada sel mast dikulit, Bronkospasme, Anafilaksis, Pruritus.

Alergi

Pseudoalergi (anafilaktoid) Tidak perlu sensitasi Reaksi pada pajanan pertama Sering (>5%) Gejala tidak khas Tergantung dosis Tidak ada riwayat keluarga

Perlu sensitasi Reaksi setelah pajanan berulang Jarang (<5%) Gejala Klinis khas Dosis pemicu kecil Ada kemungkinan riwayat keluarga

LO.2.2. PREFORMED MEDIATOR


Mediator ini dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu mediator yang sudah ada dalam granula sel mast (preformed mediator) dan mediator yang terbentuk kemudian (newly formed mediator). Menurut asalnya mediator ini juga dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu mediator dari sel mast atau basofil (mediator primer), dan mediator dari sel lain akibat stimulasi oleh mediator primer (mediator sekunder).

1. Histamin
Manifestasi klinis pada berbagai organ tubuh bervariasi. Pada hidung timbul rasa gatal, hipersekresi dan tersumbat. Histamin yang diberikan secara inhalasi dapat menimbulkan kontraksi otot polos bronkus yang menyebabkan bronkokonstriksi. Gejala kulit adalah reaksi gatal berupa wheal and

flare, dan pada saluran cerna adalah hipersekresi asam lambung, kejang usus, dan diare. Histamin mempunyai peran kecil pada asma, karena itu antihistamin hanya dapat mencegah sebagian gejala alergi pada mata, hidung dan kulit, tetapi tidak pada bronkus. Kadar histamin yang meninggi dalam plasma dapat menimbulkan gejala sistemik berat (anafilaksis). Histamin mempunyai peranan penting pada reaksi fase awal setelah kontak dengan alergen (terutama pada mata, hidung dan kulit). Pada reaksi fase lambat, histamin membantu timbulnya reaksi inflamasi dengan cara memudahkan migrasi imunoglobulin dan sel peradangan ke jaringan. Fungsi ini mungkin bermanfaat pada keadaan infeksi. Fungsi histamin dalam keadaan normal saat ini belum banyak diketahui kecuali fungsi pada sekresi lambung. Diduga histamin mempunyai peran dalam regulasi tonus mikrovaskular. Melalui reseptor H2 diperkirakan histamin juga mempunyai efek modulasi respons beberapa sel termasuk limfosit.

Setelah dibebaskan, histamin dengan cepat dipecah secara enzimatik serta berada dalam jumlah kecil dalam cairan jaringan dan plasma. Kadar normal dalam plasma adalah kurang dari 1 ng/L akan tetapi dapat meningkat sampai 1-2 ng/L setelah uji provokasi dengan allergen. 2. Faktor kemotaktik eosinofil-anafilaksis (ECF-A) Mediator ini mempunyai efek mengumpulkan dan menahan eosinofil di tempat reaksi radang yang diperan oleh IgE (alergi). ECF-A merupakan tetrapeptida yang sudah terbentuk dan tersedia dalam granulasi sel mast dan akan segera dibebaskan pada waktu degranulasi. 3. Faktor kemotaktik neutrofil (NCF) NCF (neutrophyl chemotactic factor) dapat ditemukan pada supernatan fragmen paru manusia
setelah provokasi dengan alergen tertentu. Keadaan ini terjadi dalam beberapa menit dalam sirkulasi penderita asma setelah provokasi inhalasi dengan alergen atau setelah timbulnya urtikaria fisik (dingin, panas atau sinar matahari). Mediator tersebut berperan pada reaksi hipersensitivitas tipe I fase lambat yang akan menyebabkan banyaknya neutrofil di tempat reaksi.

4. PAF ( Platelet Activating Factor ) PAF dihasilkan oleh sel mast,makrofag, eosinofil dan netrofil. PAF juga bersifat kemoatraktan terhadap sel penghasilnya yaitu eosinofil dan netrofil, serta meningkatkan degranulasi sel mast.Diberi nama PAF karena kemampuannya dalam mengaktifkan trombosit (membentuk mikrotrombus). Bila diinjeksikan ke kulit PAF menimbulkan wheal and flare response yang disertai dengan infiltrasi lekosit. Inhalasi PAF akan menimbulkan bronkokonstriksi akut, infiltrasi eosinofil dan mengakibatkan keadaan hiperaktivitas bronkus nonspesifik yang dapat berlangsung beberapa hari atau minggu. Pada pemberian intravena dapat menimbulkan spasme otot polos ileum, aktivasi netrofil, trombosit dan basofil, dapat juga terjadi hipotensi dan kolaps vaskular.

LI.3. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN HIPERSENSITIVITAS TIPE 2 LO.3.1. MEKANISME


Terjadinya reaksi hipersensitivitas tipe-2 ini sangat erat kaitannya dengan adanya suatu proses penanggulangan munculnya sel klon baru. adanya sel klon baru tersebut dapat ditemukan pada : 1. sel tumor 2. sel terinfeksi virus 3. sel yang terinduksi mutagen

Yang selanjutnya dikenal dengan sebutan sel target. Sel target ini adalah suatu sel karena adanya faktor lingkungan sel tersebut mengalami perubahan dna (kecacatan-dna ). oleh karena itu sel tersebut harus diperbaiki ( dna repair) atau dimusnahkan melalui mekanisme imunologik. karena sel yang mengalami kecacatan DNA bila tidak dimusnahkan oleh sistem imun tubuh, maka sel tersebut akan berkembang menjadi klon baru yang selanjutnya dapat menimbulkan suatu gangguan ( penyakit ). Hipersensitivitas ini terjadi karena dibentuk antibodi jenis IgG atau IgM terhadap antigen yang merupakan bagian sel pejamu. Antibodi tersebut dapat mengaktifkan sel yang memiliki reseptor Fc -R. Sel NK dapat berperan sebagai sel efektor dan menimbulkan kerusakan melalui ADCC. (Karnen, 2006). Karakteristik hipersensitivitas tipe II ialah pengrusakan sel dengan mengikat antibodi yang spesifik pada permukaan sel. Kerusakan sel yang terjadi utamanya bukan merupakan hasil pengikatan antibodi, ini tergantung pada bantuan limfosit lainnya atau makrofag atau pada sistem komplemen. Mekanisme kerusakan jaringan : - Fagositosis sel melalui proses apsonik adherence atau immune adherence - Proses sitolisis oleh C1q menempel pada kompleks imun lalu C3 menjadi aktif dan komplemen C5b-C9 yang melisis sel target - Proses sitolisis oleh sel efektor yang menjadi reseptor dengan bantuan komplemen

LO.3.2. MANIFESTASI
Reaksi transfusi, sel darah merah dari seorang donor yang tidak sesuai dirusak setelah diikat oleh antibodi resipien yang diarahkan untuk melawan antigen darah donor. Reaksi dapat cepat atau lambat. Reaksi cepat biasanya disebabkan oleh inkompatibilitas golongan darah ABO yang dipacu oleh IgM. Antibodi golongan ini menimbulkan aglutinasi, aktivasi komplemen, dan hemolisis intravaskular. Dalam beberapa jam hemoglobin bebas dapat ditemukan dalam plasma dan di saring melalui ginjal (hemoglobinuria). Beberapa hemoglobin diubah menjadi bilirubin yang pada

kadar tinggi dapat bersifat toksik. Gejala khasnya dapat berupa demam, menggigil, nausea, demam, nyeri pinggang dan hemoglubinuria. Hemolytic Diseases of the Newborn (HDN) akibat ketidaksesuaian faktor Rhesus ( Rhesus Incompatibility) dimana anti-D IgG yang berasal dari ibu menembus plasenta masuk ke dalam sirkulasi darah janin dan melapisi permukaan eritrosit janin kemudian mencetuskan reaksi hipersensitivitas tipe II. HDN terjadi apabila seorang ibu Rh- mempunyai janin Rh+. Sensitisasi pada ibu umumnya terjadi pada saat persalinan pertama, karena itu HDN umumnya tidak timbul pada bayi pertama. Baru pada kehamilan berikutnya limfosit ibu akan membentuk anti-D IgG yang dapat menembus plasenta dan mengadakan interaksi dengan faktor Rh pada permukaan eritrosit janin (eritroblastosis fetalis). Anemia hemolitik autoimun, agranulositosis, atau trombositopenia yang disebabkan oleh antibodi yang dihasilkan oleh seorang individu yang menghasilkan antibodi terhadap sel darah merahnya sendiri. Reaksi obat, antibodi diarahkan untuk melawan obat tertentu (atau metabolitnya) yang secara nonspesifik diabsorpsi pada permukaan sel (contohnya adalah hemolisis yang dapat terjadi setelah pemberian penisilin).

LI.4. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN HIPERSENSITIVITAS TIPE 3 LO.4.1. MEKANISME

Disebut juga reaksi kompleks imun. Terjadi bila kompleks antigen-antibodi ditemukan dalam sirkulasi atau dinding pembuluh darah atau jaringan dan mengaktifkan komplemen. Antibodi yang berperan biasanya jenis IgM atau IgG. Kompleks imun akan mengaktifkan sejumlah komponen sistem

imun. Komplemen yang diaktifkan melepas anafilaktosis yang memacu sel mast dan basofil melepas histamin. Mediator lainnya dan MCF mengerahkan polimorf yang melepas enzim proteolitik dan protein polikationik. Komplemen juga menimbulkan agregasi trombosit yang membentuk mikrotombi dan melepas amin vasoaktif, selain itu komplemen mengaktifkan makrofag yang melepas IL-1 dan produk lainnya. Bahan vasoaktif yang dibentuk sel mast dan trombosit menimbulkan vasodilatasi, peningkatan permeabilitas vaskular, dan inflamasi. Neutrofil ditarik dan mengeliminasi kompleks. Bila neutrofil terkepung di jaringan akan sulit untuk memakan kompleks dan akan melepas granulnya. Kejadian ini menimbulkan banyak kerusakan jaringan. Makrofag yang dikerahkan ke tempat tersebut melepas berbagai mediator, antara lain enzim-enzim yang dapat merusak jaringan sekitarnya. Antigen-Ab membentuk kompleks imun lalu dibuang ke RES, namun ada yang bertahan & ada yang mengendap. 1. Mengendap di Pembuluh Darah IgM, IgG3 / IgA diendapkan di membran basal vascular & membran basal ginjal yang menyebabkan inflamasi local & luas. Menimbulkan: Agregasi trombosit, Aktivasi makrofag dan sel mast, Perubahan permeabilitas vascular, Produksi & pelepasan mediator inflamasi& bahan kemotaktik serta influks neutrofil akibat kerusakan jaringan setempat. 2. Mengendap di Jaringan Ukuran kompleks imun yang kecil & permeabilitas vascular yang meninggi karena histamine yang dilepaskan sel mast.

LO.4.2. MANIFESTASI
Reaksi Arthus (bentuk lokal) Serum kuda disuntikkan ke dalam kelinci intradermal berulang kali dengan reaksi yang makin hebat ditempat suntikan. 2-4 jam setelah suntikan: eritema ringan & edema, menghilang esok harinya Suntikanberikutnya: edema lebih besar Suntikan ke 5-6 : pendarahan & nekrosis yang sulit sembuh Dapat terjadi di: dinding bronkus / alveoli vaskulitis Menimbulkan reaksi asma lambat (7-8 jam setelah inhalasi antigen) Penyakit Serum Injeksi serum asing antigen dibersihkan dari sirkulasi produksi Ab antigen-Ab: kompleks imun beredar/ diendapkan. Beberapa hari-2 minggu: demam, urtikaria, artralgia,limfadenopati, splenomegali Gejala meningkat: antigen dibuang melalui system imun Gejala mereda: antigen telah habis Digolongkan dalam reaksi segera, karena: gejalanya muncul dengan cepat setelah terbentuknya kompleks imun.

LI.5. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN HIPERSENSITIVITAS TIPE 4 LO.5.1. MEKANISME


Terjadi setelah 12 jam. Hipersensitivitas tipe ini dibagi dalam Delayed Type Hypersensitivity yang terjadi melalui sel CD4 dan T Cell Mediated Cytolysis yang terjadi melalui sel CD8. Delayed Type Hipersensitivity (DTH)

Pada DTH, sel CD4 Th1 mengaktifkan makrofag yang berperan sebagai sel efektor. CD4 Th1 melepas sitokin yang mengaktifkan makrofag dan menginduksi inflamasi. Pada DTH, kerusakan jaringan disebabkan oleh produk makrofag yang diaktifkan seperti enzim hidrolitik, oksigen reaktif intermediat, oksida nitrat, dan sitokin proinflamasi. DTH dapat juga terjadi sebagai respon terhadap bahan yang tidak berbahaya dalam lingkungan seperti nikel yang menimbulkan dermatitis kontak. Pada keadaan yang paling menguntungkan DTH berakhir dengan hancurnya mikroorganisme oleh enzim lisosom dan produk makrofag lainnya seperti peroksid radikal dan superoksid. DTH dapat merupakan reaksi fisiologik terhadap patogen yang sulit disingkirkan misalnya M. Tuberkulosis. T Cell Mediated Cytolysis

Dalam T Cell Mediated Cytolysis, kerusakan terjadi melalui sel CD8 yang langsung membunuh sel sasaran. Penyakit yang ditimbulkan hipersensitivitas selular cenderung terbatas kepada beberapa organ saja dan biasanya tidak sistemik.
Fase pada respon tipe IV

1. Fase Sensitasi 1-2 minggu setelah kontak primer dengan antigen. Th diaktifkan oleh APC melalui MHC II. Berbagai APC ( sel langerhans dan makrofag) menangkap antigen yang membawanya ke kelenjar limfoid regional untuk dipresentasikan sel T. Sel T yang di aktifkan umumnya sel CD4+ terutama Th, tetapi pada beberapa hal sel CD8+ dapat pula di aktifkan . Pajanan dengan antigen menginduksi sel efektor. 2. Fase Efektor Sel Th1 melepas berbagai sitokin yang mengerahkan dan mengaktifkan makrofag dan sel inflamasi non spesifik lain. Makrofag merupakan efektor utama respon DTH. Sitokin yang di lepas sel Th1 menginduksi monosit menempel ke endotel vaskular dan bermigrasi dari sirkulasi darah ke jaringan sekitar.

LO.5.2. MANIFESTASI
Manifestasi klinis reaksi alergi tipe IV dapat berupa reaksi paru akut seperti demam, sesak, batuk, infiltrat paru, dan efusi pleura. Obat yang tersering menyebabkan reaksi ini yaitu nitrofurantoin, Nefritis interstisial, ensefalomielitis, dan hepatitis juga dapat merupakan manifestasi reaksi alergi obat. Namun demikian dermatitis merupakan manifestasi yang paling sering. Kadang-kadang gejala baru timbul bertahun-tahun setelah sensitisasi.

Dermatitis kontak Adalah penyakit CD4+ yang dapat terjadi akibat kontak melalui sel Th 1 dengan bahan tidak berbahaya, merupakan contoh reaksi DTH. Kontak dengan bahan seperti formaldehid dan nikel.
1. 2. Hipersensitivitas tuberkulin

Adalah bentuk alergi bacterial spesifik terhadap produk filtrat biakan M. tuberculosis yang bila di suntikkan ke kulit akan menimbulkan reaksi lambat tipe 4. Yang berperan dalam sel ini adalah sel limfosit CD4+ T. 3. Reaksi jones mote

Adalah reaksi hipersensitivitas tipe 4 terhadap antigen protein yang berhubungan dengan infiltrasi basofil mencolok di kulit, di bawah dermis. Reaksi ini lemah dan Nampak beberapa hari setelah pajanan dengan protein dalam jumlah kecil, serta tidak terjadi nekrosis dan reaksi dapat diinduksi dengan suntikan antigen larut seperti ovalbumin. 4. Penyakit Dalam T cell mediated cytolysis, kerusakan terjadi melalui sel yang langsung membunuh sel sasaran. Penyakit yang ditimbulkan hipersensitivitas selular cenderung terbatas kepada beberapa organ saja dan biasanya tidak sistemik. Sel yang spesifik untuk antigen atau sel autologus dapat membunuh sel dengan langsung.

LI.6. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN ANTI HISTAMIN & KORTIKOSTEROID LO.6.1. DEFINISI
Antihistamin adalah zat-zat yang dapat mengurangi atau menghalangi efek histamin terhadap tubuh dengan jalan memblok reseptor histamin (penghambatan saingan). Histamin adalah suatu alkaloid yang disimpan di dalam sel mast, dan menimbulkan berbagai proses faalan dan patologik. Histamin pada manusia adalah mediator penting untuk reaksi-reaksi alergi yang segera dan reaksi inflamasi, mempunyai peranan penting pada sekresi asam lambung, dan berfungsi sebagai neurotransmitter dan modulator. Kortikosteroid adalah suatu kelompok hormon steroid yang dihasilkan di bagiankorteks kelenjar adrenal sebagai tanggapan atas hormon adrenokortikotropik (ACTH)yang dilepaskan oleh kelenjar hipofisis, atau atas angiotensin II.

LO.6.2. FARMAKOKINETIK & FARMAKODINAMIK Farmakokinetik Anti-histamin


Setelah pemberian oral atau parenteral, antihistamin H 1 diabsorpsi secara baik. Pemberian antihistamin H1 secara oral efeknya timbul 15-30 menit dan maksimal setelah 1-2 jam, mencapai konsentrasi puncak plasma rata-rata dalam 2 jam. Ikatan dengan protein plasma berkisar antara 78-99%. Kadar tertinggi terdapat pada paru-paru sedangkan pada limpa, ginjal, otak, otot, dan kulit kadarnya lebih rendah. Sebagian besar antihistamin H1 dimetabolisme melalui hepatic microsomal mixed-function oxygenase system, tetapi dapat juga melalui paru-paru dan ginjal. Konsentrasi plasma yang relatif rendah setelah pemberian dosis tunggal menunjukkan kemungkinan terjadi efek lintas pertama oleh hati. Antihistamin H1 dieksresi melalui urin setelah 24 jam, terutama dalam bentuk metabolitnya. Waktu paruh antihistamin H1 sangat bervariasi. Klorfeniramin memiliki waktu paruh cukup panjang sekitar 24 jam, sedang akrivastin hanya 2 jam. Waktu paruh metabolit aktif juga sangat berbeda jauh dengan obat induknya, seperti astemizole 1,1 hari sementara metabolit aktifnya, Ndesmethylastemizole, memiliki waktu paruh 9,5 hari. Hal inilah yang mungkin menjelaskan kenapa efek antihistamin H1 rata-rata masih eksis meski kadarnya dalam darah sudah tidak terdeteksi lagi. Waktu paruh beberapa antihistamin H1 menjadi lebih pendek pada anak dan jadi lebih panjang pada orang tua, pasien disfungsi hati, dan pasien yang menerima ketokonazol, eritromisin, atau penghambat microsomal oxygenase lainnya. yakni: 1. Glukokortikoid (contohnya kortisol) yang berperan mengendalikan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein, juga bersifat anti inflamasi dengan cara menghambat pelepasan fosfolipid, serta dapat pula menurunkan kinerja eosinofil. 2. Mineralokortikoid (contohnya aldosteron), yang berfungsi mengatur kadar elektrolit dan air, dengan cara penahanan garam di ginjal. Kortisol dan analog sintetiknya pada pemberian oral diabsorpsi cukup baik. Untuk mencapai kadar tinggi dengan cepat dalam cairan tubuh, ester kortisol dan derivate sintetiknya diberikan secara IV. Untuk mendapatkan efek yang lama kortisol dan ester diberikan secara IM. Perubhan struktur kimia sangat mempengaruhi kecepatan absorpsi, mula kerja dan lama kerja karena juga mempengaruhi afinitas terhadap reseptor, dan ikatan protein. Glukokortikoid dapat diabsorpsi melalui kulit, sakus konjungtiva dan ruang synovial. Penggunaan jangka panjang atau pada daerah kulit yang luas dapat menyebabkan efek sistemik, antara lain supresi korteks adrenal. Pada kejadian normal, 90% kortisol terikat pada dua jenis protein plasma yaitu globulin pengikat kortikosteroid dan albumin. Afinitas globulin tinggi tetapi kapasitas ikatnya rendah, sebaliknya afinitas albumin rendah tetapi kapasitas ikatnya relatif tinggi. Karena itu pada kadar rendah atau normal, sebagian

Kortikosteroid

Kortikosteroid dibagi menjadi 2 kelompok berdasarkan atas aktivitas biologis yang menonjol darinya,

besar kortikosteroid terikat globulin. Bila kadar kortikosteroid meningkat jumlah hormone yang terikat albumin dan bebas juga meningkat , sedangkan yang terikat globulin sedikit mengalami perubahan. Kortikosteroid berkompetisi sesamanya untuk berikatan denga globulin pengikat kortikosteroi; kortisol mempunyai afinitas tinggi sedangkan metabolit yang terkonyugasi dengan asam glukuronad dan aldosteron afinitasnya rendah. Kehamilan atau penggunaan estrogen dapat meningkatkan kadar globulin pengikat kortikosteroid, kortisol plasma total dan kortisol bebas sampai beberapa kali. Telah diketahui bahwa hal ini tidak terlalu bermakna terhadap fungsi tubuh. Biotransformasi steroid terjadi didalam dan diluar hati. Metabolitnya merupakan senyawa inaktif atau berpotensi rendah. Semua kortikosteroid yang aktif memiliki ikatan rangkap pada atom C 4,5 dan gugus keton pada atom C3. Reduksi ikatan rangkap C4,5 terjadi di dalam hati dan jaringa ekstrahepatik serta menghasilkan senyawa inaktif. Perubahan gugus keton menjadi gugus hidroksil hanya terjadi di hati. Sebagian besar hasil reduksi gugus keton pada atom C3 melalui gugus hidroksinya secara enzimatik bergabung denga asam sulfat atau asam glukuronad membentuk ester yang mudah larut dan kemudian diekskresi. Reaksi ini terutama terjadi di hepar dan sebagian kecil di ginjal. Oksidasi gugus 11- hidroksil yang reversible terjadi secara cepat di hepar dan secar lambat di jaringan ekstrahepetik. Untuk aktifitas biologiknya kortikosteroid dengan gugus keton pada atom C 11 harus direduksi menjadi senyawa 11-hidroksil; sedangkan reduksi gugus keton pada atom C20 hanya memberikan senyawa dengan aktifitas biologic yang lemah. Kortikosteroid dengan gugus hidroksil pada atom C17 akan dioksidasi menjadi 17-ketosteroid yang tidak mempunyai aktifitas kortikosteroid tetapi bersifat androgenik. Adanya sekresi 17-ketosteroid dalam urin dapat dipakai sebagai ukuran aktifitas hormone kortikosteroid dalam tubuh.

Farmakodinamik

Anti-histamin
Anti histamin reseptor H1 (AH-1) berikatan dengan reseptor sehingga menyebabkan reseptor tersebut tidak aktif. Efek yang ditimbulkan berupa pengurangan permeabilitas gatal dan mengurangi sensasi yang ditimbulkan oleh pruritus. Kerja secara umum ini dimiliki oleh anti histamin generasi pertama maupun kedua. Tetapi pada generasi kedua, anti histamin ini memiliki kerja yang sedikit istimewa dimana dapat menghambat pengeluaran histamin dari kompleks granula. Obat generasi kedua ini menghambat transportasi kalsium baik difusi ke dalam sel maupun transportasi ion kalsium intra seluler. Perbedaan lain adalah efek anti histamin generasi pertama dapat masuk ke sistem saraf pusat. Efek yang ditimbulkan adalah efek sedasi. Hal ini dikarenakan menurunkan tingkat kewaspadaan. Penggunaan generasi pertama ini menjadi bantuan untuk memudahkan tidur dan tidak cocok untuk anak-anak. Oleh karena itu dibuatlah generasi kedua untuk menekan efek sedasi yang diakibatkan oleh generasi pertama.

Kortikosteroid
Pada waktu memasuki jaringan, glukokortikoid berdifusi atau ditranspor menembus sel membran dan terikat pada kompleks reseptor sitoplasmik glukokortikoid heat-shock protein kompleks. Heat shock protein dilepaskan dan kemudian kompleks hormon reseptor ditranspor ke dalam inti, dimana akan berinteraksi dengan respon unsur respon glukokortikoid pada berbagai gen dan protein pengatur yang lain dan merangsang atau menghambat ekspresinya. Pada keadaan tanpa adanya hormon, protein reseptor dihambat dari ikatannya dengan DNA; jadi hormon ini tidak menghambat kerja reseptor pada DNA. Perbedaan kerja glukokortikoid pada berbagai jaringan dianggap dipengaruhi oleh protein spesifik jaringan lain yang juga harus terikat pada gen untuk menimbulkan ekspresi unsur respons glukokortikoid utama. Selain itu, glukokortikoid mempunyai beberapa efek penghambatan umpan balik yang terjadi terlalu cepat untuk dijelaskan oleh ekspresi gen. Efek ini mungkin diperantarai oleh mekanisme nontranskripsi.

LO.6.3. EFEK SAMPING Anti-histamin


Pada dosis terapi, semua antihistamin menimbulkan efek samping walaupun jarang bersifat serius dan kadangkadang hilang bila pengobatan diteruskan. Terdapat variasi yang besar dalam toleransi obat antar individu, kadangkadang efek samping ini sangat mengganggu sehingga terapi perlu dihentikan. Efek Samping Antihistamin H1 Generasi Pertama : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Alergi : fotosensitivitas, shock anafilaksis, ruam, dan dermatitis. Kardiovaskular : hipotensi postural, palpitasi, refleks takikardia, trombosis vena pada sisi injeksi (IV prometazin) Sistem Saraf Pusat : drowsiness, sedasi, pusing, gangguan koordinasi, fatigue, bingung, reaksi extrapiramidal bisa saja terjadi pada dosis tinggi Gastrointestinal : epigastric distress, anoreksi, rasa pahit (nasal spray) Genitourinari : urinary frequency, dysuria, urinary retention Respiratori : dada sesak, wheezing, mulut kering, epitaksis dan nasal burning (nasal spray)

Antihistamin Generasi kedua dan ketiga : 1. 2. 3. 4. Alergi : fotosensitivitas, shock anafilaksis, ruam, dan dermatitis. SSP : mengantuk/ drowsiness, sakit kepala, fatigue, sedasi Respiratori : mulut kering Gastrointestinal : nausea, vomiting, abdominal distress (cetirizine, fexofenadine)

Efek samping SSP sebanding dengan placebo pada uji klinis, kecuali cetirizine yang tampak lebih sedatif ketimbang placebo dan mungkin sama dengan generasi pertama. Efek samping pada respiratori dan gastrointestinal lebih jarang dibanding generasi pertama.

Beberapa efek samping lain dari antihistamin : 1. Efek sedasi

Dari hasil penelitian oleh perocek, dibandingkan difenhidramin 250 mg dengan loratadine dosis tunggal 20 mg. Hasilnya memperlihatkan efek sedasi difenhidramin lebih besar dibanding loratadine. Jadi loratadine tidak mempengaruhi kemampuan mengendarai, tingkat kewaspadaan siang hari dan produktifitas kerja. Juga loratadin menghilangkan gejala rhinitis alergi musiman secara efektif dan absorbsi oralnya sangat cepat serta memiliki masa kerja yang panjang, sehingga cukup diberikan sekali dalam sehari. 2. Gangguan psikomotor

Yaitu gangguan dalam pekerjaan yang melibatkan fungsi psikomotor, merupakan masalah yang menjadi perhatian dalam terapi yang menggunakan antihistamin. Efek samping terlihat saat pasien melakukan kegiatan dengan resiko fisik seperti mengendarai mobil, berenang, gulat, atau melakukan pekerjaan tangan. Gangguan fungsi psikomotor adalah efek yang berbeda dari terjadinya sedasi (rasa mengantuk). 3. Gangguan kognitif

Adalah gangguan terhadap kemampuan belajar, konsentrasi atau ketrampilan di tempat bekerja. Dari hasil penelitian memperlihatkan antihistamin generasi pertama terutama difenhidramin menyebabkan gangguan kemampuan belajar, konsentrasi, atau ketrampilan di tempat kerja. Sedangkan loratadin meniadakan efek negative dari rhinitis alergi terhadap kemampuan belajar. 4. Efek kardiotoksisitas

Antihistamin selama ini dianggap sebagai obat yang aman, tetapi sejak akhir tahun 80-an mulai muncul beberapa jenis antihistamin yang digunakan dengan dosis yang berlebihan. Sehingga dapat menyebabkan pasien yang menggunakan mengalami gangguan pada jantung (kardiotoksisitas). Untuk pasien yang aktif bekerja harus berhati-hati dalam menggunakan antihistamin, karena beberapa antihistamin memiliki efek samping sedasi (mengantuk), gangguan psikomotor dan gangguan kognitif. Akibatnya bila digunakan oleh orang yang melakukan pekerjaan dengan tingkat kewaspadaan tinggi sangat berbahaya.

Kortikosteroid
Sampai saat ini ratusan produk kortikosteroid tersedia di pasaran. Layaknya obat lainnya, kortikosteroid juga beresiko menimbulkan efek samping yang tidak diharapkan, bahkan beberapa efek sampingnya dapat menimbulkan masalah kesehatan yang cukup serius. Berikut efek samping kortikosteroid, yaitu: 1. Efek samping jangka pendek Peningkatan tekanan cairan di mata (glaukoma) Retensi cairan, menyebabkan pembengkakan di tungkai. Peningkatan tekanan darah Peningkatan deposit lemak di perut, wajah dan leher bagian belakang.

2. Efek samping jangka panjang. Katarak Penurunan kalsium tulang yang menyebabkan osteoporosis dan tulang rapuh sehingga mudah patah. Menurunkan produksi hormon oleh kelenjar adrenal Menstruasi tidak teratur Mudah terinfeksi Penyembuhan luka yang lama

LI.7.Mampu menjelaskan batasan hukum Islam untuk menentukan alternatif terbaik dari dua pilihan sulit
Kitab al-Mustashfa, Imam al-Ghazali mengemukakan penjelasan tentang al-maslahah yaitu: Pada dasarnya al-maslahah adalah suatu gambaran untuk mengambil manfaat atau menghindarkan kemudaratan, tapi bukan itu yang kami maksudkan, sebab meraih manfaat dan menghindarkan kemudaratan tersebut bukanlah tujuan kemasalahatan manusia dalam mencapai maksudnya. Yang kami maksud dengan maslahah adalah memelihara tujuan syara. Ungkapan al-Ghazali ini memberikan isyarat bahwa ada dua bentuk kemaslahatan, yaitu Kemasalahatan menurut manusia, dan Kemaslahatan menurut syariat. Dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah dikisahkan bahwa seorang Anshar terluka di perang Uhud. Rasulullah pun memanggil dua orang dokter yang ada di kota Madinah, lalu bersabda, Obatilah dia.Dalam riwayat lain ada seorang sahabat bertanya,Wahai Rasulullah, apakah ada kebaikan dalam ilmu kedokteran? Rasullah menjawab, Ya,. Begitu pula yang diriwayatkan dari Hilal bin Yasaf bahwa seorang lelaki menderita sakit di zaman Rasulullah. Mengetahui hal itu, beliau bersabda, Panggilkan dokter. Lalu Hilal bertanya, Wahai Rasulullah, apakah dokter bisa melakukan sesuatu untuknya? Ya, jawab beliau. (HR Ahmad dalam Musnad: V/371 dan Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf: V/21). Berdasarkan pemaparan di atas, tampak jelas bagaimana Rasulullah menganjurkan kita untuk berobat dan berusaha menggunakan ilmu kedokteran yang diciptakan Allah untuk kita. Kita juga ditekankan agar tidak menyerah pada penyakit karena Rasulullah bersabda, Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. (HR Muslim (34) dan Ahmad: II/380) Allah melarang minuman keras dan judi karena mudharat (bahayanya) lebih besar dari pada manfaatnya, sebagaimana dikatakan dalam QS : Al-Baqorah :219 2:219. Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya. 1. Firman Allah taala : ( : 157) Dan dia menghalalkan yang baik bagi mereka serta mengharamankan bagi mereka segala sesuatu yang buruk ( al araf : 157 ) Rokok termasuk hal yang buruk dan membahayakan diri sendiri , dan orang lain serta tak sedap baunya. 2. ( : 195 )

Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri kedalam kebinasaan ( al baqoroh : 195) Rokok mengakibatkan penyakit yang bisa membinasakan seperti kanker, penyakir paru-paru dan lain sebagainya. 3. ( : 29 ) Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah terhadap kalian Maha menyayangi ( an nisa : 29 ) Rokok bisa membunuh penghisapnya secara perlahan-lahan 4. ( : 19 ) Dosa keduanya ( minuman keras dan judi ) lebih besar dari pada manfaatnya. (QS Al-Baqoroh : 219 ) Rokok bahayanya lebih besar dari pada manfaatnya baik bagi dirinya sendiri ataupun orang lain. 5. ( : 26 ) Janganlah menghambur-hamburkan ( hartamu ) dengan boros, sesungguhnya pemborosan itu adalah saudaranya syaithon. (QS Al-Isra : 26 ) Membeli rokok adalah merupakan pemborosan dan pemborosan termasuk perbuatannya syaithon. 6. Rasulullah Shallallahualaihi wasallam bersabda : tidak boleh membahayakan diri sendiri ataupun orang lain Merokok membahayakan si perokok, menganggu orang lain dan membuang-buang harta.

http://www.univmed.org/wp-content/uploads/2011/02/Vol.18_no.3_5.pdf Baratawidjaja, Karnen G. 2012. Imunologi Dasar Edisi Ke Sepuluh. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Wahab, A Samik. Julia, Madarina. 2010. Sistem Imun, Imunisasi, & Penyakit Imun. Jakarta: Widya Medika. http://marizal-co-ass.blogspot.com/2010/04/reaksi-hipersensitivitas-pada-imunologi.html
http://thifalblog.wordpress.com/2011/02/11/agama-ini-dibangun-untuk-kebaikan-dan-maslahat-dalampenetapan-syariatnya-dan-untuk-menolak-kerusakan/