Anda di halaman 1dari 21

LUKA BAKAR A.

DEFINISI DAN ETIOLOGI Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik, dan radiasi. Luka bakar merupakan suatu jenis trauma dengan morbiditas dan mortalitas tinggi yang memerlukan penatalaksanaan khusus sejak awal (fase syok) sampai fase lanjut. Luka bakar dapat disebabkan oleh paparan api, baik secara langsung maupun tidak langsung, misal akibat tersiram air panas yang banyak terjadi pada kecelakaan rumah tangga. Selain itu, pajanan suhu tinggi dari matahari, listrik maupun bahan kimia juga dapat menyebabkan luka bakar. Secara garis besar, penyebab terjadinya luka bakar dapat dibagi menjadi: 1. aparan api Flame: !kibat kontak langsung antara jaringan dengan api terbuka, dan menyebabkan cedera langsung ke jaringan tersebut. !pi dapat membakar pakaian terlebih dahulu baru mengenai tubuh. Serat alami memiliki kecenderungan untuk terbakar, sedangkan serat sintetik cenderung meleleh atau menyala dan menimbulkan cedera tambahan berupa cedera kontak. "enda panas (kontak): #erjadi akibat kontak langsung dengan benda panas. Luka bakar yang dihasilkan terbatas pada area tubuh yang mengalami kontak. $ontohnya antara lain adalah luka bakar akibat rokok dan alat%alat seperti solder besi atau peralatan masak. &. Scalds (air panas) #erjadi akibat kontak dengan air panas. Semakin kental cairan dan semakin lama waktu kontaknya, semakin besar kerusakan yang akan ditimbulkan. Luka yang disengaja atau akibat kecelakaan dapat dibedakan berdasarkan pola luka bakarnya. ada kasus kecelakaan, luka umumnya menunjukkan pola percikan, yang satu sama lain dipisahkan oleh kulit sehat. Sedangkan pada kasus yang disengaja, luka umumnya melibatkan keseluruhan ekstremitas dalam pola sirkumferensial dengan garis yang menandai permukaan cairan.

'. (ap panas #erutama ditemukan di daerah industri atau akibat kecelakaan radiator mobil. (ap panas menimbulkan cedera luas akibat kapasitas panas yang tinggi dari uap serta dispersi oleh uap bertekanan tinggi. !pabila terjadi inhalasi, uap panas dapat menyebabkan cedera hingga ke saluran napas distal di paru. ). *as panas +nhalasi menyebabkan cedera thermal pada saluran nafas bagian atas dan oklusi jalan nafas akibat edema. ,. !liran listrik $edera timbul akibat aliran listrik yang lewat menembus jaringan tubuh. (mumnya luka bakar mencapai kulit bagian dalam. Listrik yang menyebabkan percikan api dan membakar pakaian dapat menyebabkan luka bakar tambahan. -. .at kimia (asam atau basa) /. 0adiasi Sunburn sinar matahari, terapi radiasi. B. KLASIFIKASI LUKA BAKAR 1edalaman luka bakar ditentukan oleh tinggi suhu, lamanya pajanan suhu tinggi, adekuasi resusitasi, dan adanya infeksi pada luka. Selain api yang langsung menjilat tubuh, baju yang ikut terbakar juga memperdalam luka bakar. "ahan baju yang paling aman adalah yang terbuat dari bulu domba (wol). "ahan sintetis seperti nilon dan dakron, selain mudah terbakar juga mudah meleleh oleh suhu tinggi, lalu menjadi lengket sehingga memperberat kedalaman luka bakar. "erdasarkan kedalaman luka bakar dideskripsikan dalam derajat luka bakar, yaitu luka bakar derajat +, ++, atau +++: (21(+) a. 3erajat + (Superficial) ajanan hanya merusak epidermis sehingga masih menyisakan banyak jaringan untuk dapat melakukan regenerasi. Luka bakar derajat + biasanya sembuh dalam ,%/ hari dan dapat sembuh secara

&

sempurna. Luka biasanya tampak sebagai eritema dan timbul dengan keluhan nyeri dan atau hipersensiti4itas lokal. $ontoh luka bakar derajat + adalah sunburn.

b. 3erajat ++ ( artial thickness) Lesi melibatkan epidermis dan mencapai kedalaman dermis namun masih terdapat epitel 4ital yang bisa menjadi dasar regenerasi dan epitelisasi. 5aringan tersebut misalnya sel epitel basal, kelenjar sebasea, kelenjar keringat, dan pangkal rambut. 3engan adanya jaringan yang masih 6sehat7 tersebut, luka dapat sembuh dalam &%' minggu. *ambaran luka bakar berupa gelembung atau bula yang berisi cairan eksudat dari pembuluh darah karena perubahan permeabilitas dindingnya, disertai rasa nyeri. !pabila luka bakar derajat ++ yang dalam tidak ditangani dengan baik, dapat timbul edema dan penurunan aliran darah di jaringan, sehingga cedera berkembang menjadi full-thickness burn atau luka bakar derajat +++.

'

3erajat ++ dibedakan menjadi dua, yaitu : 1. 3erajat dua dangkal : 8 1erusakan mengenai bagian superfisial dari dermis 8 !pendises kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea masih utuh. 8 enyembuhan terjadi secara spontan dalam waktu 19%1) hari & . 3erajat dua dalam : 8 1erusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis 8 !pendises kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea sebagian masih utuh. c. 3erajat +++ (full thickness) :engenai seluruh lapisan kulit, dari subkutis hingga mungkin organ atau jaringan yang lebih dalam. ada keadaan ini tidak tersisa jaringan epitel yang dapat menjadi dasar regenerasi sel spontan, sehingga untuk menumbuhkan kembali jaringan kulit harus dilakukan cangkok kulit. *ejala yang menyertai justru tanpa nyeri maupun bula, karena pada dasarnya seluruh jaringan kulit yang memiliki persarafan sudah tidak intak.

C. BERAT DAN LUAS LUKA BAKAR "erat luka bakar bergantung pada dalam, luas, dan letak luka. (sia dan kesehatan pasien sebelumnya akan sangat mempengaruhi prognosis. !danya trauma inhalasi juga akan mempengaruhi berat luka bakar. 5aringan lunak tubuh akan terbakar bila terpapar pada suhu di atas )-o$. Luasnya kerusakan akan ditentukan oleh suhu permukaan dan lamanya kontak. Luka bakar menyebabkan koagulasi jaringan lunak. Seiring dengan peningkatan suhu jaringan lunak, permeabilitas kapiler juga meningkat, terjadi kehilangan cairan, dan 4iskositas plasma meningkat dengan resultan pembentukan mikrotrombus. ;ilangnya cairan dapat menyebabkan hipo4olemi dan syok, tergantung banyaknya cairan yang hilang dan respon terhadap resusitasi. Luka bakar juga menyebabkan peningkatan laju metabolik dan energi metabolisme. Semakin luas permukaan tubuh yang terlibat, morbiditas dan mortalitasnya meningkat, dan penanganannya juga akan semakin kompleks. Luas luka bakar dinyatakan dalam persen terhadap luas seluruh tubuh. !da beberapa metode cepat untuk menentukan luas luka bakar, yaitu: <stimasi luas luka bakar menggunakan luas permukaan palmar pasien. Luas telapak tangan indi4idu mewakili 1= luas permukaan tubuh. Luas luka bakar hanya dihitung pada pasien dengan derajat luka ++ atau +++.

0umus > atau rule of nine untuk orang dewasa :

ada dewasa

digunakan ?rumus >@, yaitu luas kepala dan leher, dada, punggung, pinggang dan bokong, ekstremitas atas kanan, ekstremitas atas kiri, paha kanan, paha kiri, tungkai dan kaki kanan, serta tungkai dan kaki kiri masing%masing >=. Sisanya 1= adalah daerah genitalia. 0umus ini membantu menaksir luasnya permukaan tubuh yang terbakar pada orang dewasa.

ada anak dan bayi digunakan rumus lain karena luas relatif permukaan kepala anak jauh lebih besar dan luas relatif permukaan kaki lebih kecil. 1arena perbandingan luas permukaan bagian tubuh anak kecil berbeda, dikenal rumus 19 untuk bayi, dan rumus 19%1,%&9 untuk anak.

:etode Lund dan "rowder

:etode yang diperkenalkan untuk kompensasi besarnya porsi massa tubuh di kepala pada anak. :etode ini digunakan untuk estimasi besarnya luas permukaan pada anak. !pabila tidak tersedia tabel tersebut, perkiraan luas permukaan tubuh pada anak dapat menggunakan ?0umus >@ dan disesuaikan dengan usia: ada anak di bawah usia 1 tahun: kepala 1A= dan tiap tungkai 1)=. #orso dan lengan persentasenya sama dengan dewasa. (ntuk tiap pertambahan usia 1 tahun, tambahkan 9.,= untuk tiap tungkai dan turunkan persentasi kepala sebesar 1= hingga tercapai nilai dewasa. D. PEMBAGIAN LUKA BAKAR "erdasarkan beratBringan, menurut !"! (!merican "urn !ssociation ) luka bakar dibagi menjadi ' kategori yaitu : (21(+) a. Luka bakar beratBkritis (major burn) 1. 3erajat ++%+++ C&9= pada pasien berusia dibawah 19 tahun atau diatas usia ,9tahun &. 3erajat ++%+++ C&,= pada usia diantara 19%,9 tahun '. Luka bakar pada muka, telinga, tangan, kaki dan perineum ). !danya cedera pada jalan nafas tanpa memperhitungkan luas luka baka

,. Luka bakar akibat listrik b. Luka bakar sedang 1. Luka bakar dengan luas 1,%&,= pada dewasa, dengan luka bakar derajat +++D19= &. Luka bakar dengan luas 19%&9= pada anak usia D19 tahun atau dewasa C )9 tahun, dengan luka bakar derajat +++ D19= '. Luka bakar derajat +++ D19= pada anak maupun dewasa yang tidak mengenai muka, tangan, kaki dan perineum. c. Luka bakar ringan 1. Luka bakar dengan luas D1,= pada dewasa &. Luka bakar degan luas D19= pada anak dan usia lanjut '. Luka bakar dengan luas D&= pada segala usia yang tidak mengenai muka,tangan, kaki dan perineum E. PATOFISIOLOGI LUKA BAKAR !kibat pertama luka bakar adalah syok karena kaget dan kesakitan. embuluh kapiler yang terpajan suhu tinggi rusak dan permeabilitas meninggi. Sel darah yang ada di dalamnya ikut rusak sehingga dapat terjadi anemia. :eningkatnya permeabilitas menyebabkan edema dan menimbulkan bula yang mengandung banyak elektrolit. ;al itu menyebabkan berkurangnya 4olume cairan intra4askuler. 1erusakan kulit akibat luka bakar menyebabkan kehilangan cairan akibat penguapan yang berlebihan, masuknya cairan ke bula yang terbentuk pada luka bakar derajat ++, dan pengeluaran cairan dari keropeng luka bakar derajat +++. "ila luas luka bakar kurang dari &9=, biasanya mekanisme kompensasi tubuh masih bisa mengatasinya, tetapi bila lebih dari &9=, akan terjadi syok hipo4olemik dengan gejala yang khas, seperti gelisah, pucat, dingin, berkeringat, nadi kecil dan cepat, tekanan darah menurun dan produksi urin yang berkurang. embengkakan terjadi pelan%pelan, maksimal terjadi setelah delapan jam. ada kebakaran ruang tertutup atau bila luka terjadi di wajah, dapat terjadi kerusakan mukosa jalan napas karena gas, asap atau uap panas yang terisap. <dema laring yang ditimbulkannya dapat

menyebabkan hambatan jalan napas dengan gejala sesak napas, takipnea, stridor, suara serak dan dahak berwarna gelap akibat jelaga. 3apat juga terjadi keracunan gas $E atau gas beracun lainnya. $E akan mengikat hemoglobin dengan kuat sehingga hemoglobin tak mampu lagi mengikat oksigen. #anda keracunan ringan adalah lemas, bingung, pusing, mual dan muntah. ada keracunan yang berat terjadi koma. "ila lebih dari -9= hemoglobin terikat $E, penderita dapat meninggal. Setelah 1&%&) jam, permeabilitas kapiler mulai membaik dan terjadi mobilisasi serta penyerapan kembali cairan edema ke pembuluh darah. +ni ditandai dengan meningkatnya diuresis. Luka bakar sering tidak steril. 1ontaminasi pada kulit mati, yang merupakan medium yang baik untuk pertumbuhan kuman, akan adahal, mempermudah infeksi. +nfeksi ini sulit diatasi karena daerahnya tidak tercapai oleh pembuluh kapiler yang mengalami trombosis. pembuluh ini membawa sistem pertahanan tubuh atau antibiotik. 1uman penyebab infeksi pada luka bakar, selain berasal dari dari kulit penderita sendiri, juga dari kontaminasi kuman saluran napas atas dan kontaminasi kuman di lingkungan rumah sakit. +nfeksi nosokomial ini biasanya sangat berbahaya karena kumannya banyak yang sudah resisten terhadap berbagai antibiotik. ada awalnya, infeksi biasanya disebabkan oleh kokus *ram positif yang berasal dari kulit sendiri atau dari saluran napas, tetapi kemudian dapat terjadi in4asi kuman *ram negatif, Pseudomonas aeruginosa yang dapat menghasilkan eksotoksin protease dari toksin lain yang berbahaya, terkenal sangat agresif dalam in4asinya pada luka bakar. +nfeksi pseudomonas dapat dilihat dari warna hijau pada kasa penutup luka bakar. 1uman memproduksi enFim penghancur keropeng yang bersama dengan eksudasi oleh jaringan granulasi membentuk nanah. +nfeksi ringan dan nonin4asif ditandai dengan keropeng yang mudah terlepas dengan nanah yang banyak. +nfeksi yang in4asif ditandai dengan keropeng yang kering dengan perubahan jaringan di tepi keropeng yang mula%mula sehat menadi nekrotikG akibatnya, luka bakar yang mula%mula

>

derajat ++ menjadi derajat +++. +nfeksi kuman menimbulkan 4askulitis pada pembuluh kapiler di jaringan yang terbakar dan menimbulkan trombosis sehingga jaringan yang didarahinya nanti. "ila luka bakar dibiopsi dan eksudatnya dibiak, biasanya ditemukan kuman dan terlihat in4asi kuman tersebut ke jaringan sekelilingnya. Luka bakar demikian disebut luka bakar septik. "ila penyebabnya kuman *ram positif, seperti stafilokokus atau basil *ram negatif lainnya, dapat terjadi penyebaran kuman lewat darah (bakteremia) yang dapat menimbulkan fokus infeksi di usus. Syok sepsis dan kematian dapat terjadi karena toksin kuman yang menyebar di darah. "ila penderita dapat mengatasi infeksi, luka bakar derajat ++ dapat sembuh dengan meninggalkan cacat berupa parut. enyembuhan ini dimulai dari sisa elemen epitel yang masih 4ital, misalnya sel kelenjar sebasea, sel basal, sel kelenjar keringat, atau sel pangkal rambut. Luka bakar derajat ++ yang dalam mungkin meninggalkan parut hipertrofik yang nyeri, gatal, kaku dan secara estetik jelek. Luka bakar derajat +++ yang dibiarkan sembuh sendiri akan mengalami kontraktur. "ila terjadi di persendian, fungsi sendi dapat berkurang atau hilang. ada luka bakar berat dapat ditemukan ileus paralitik. ada fase akut, peristalsis usus menurun atau berhenti karena syok, sedangkan pada fase mobilisasi, peristalsis dapat menurun karena kekurangan ion kalium. Stres atau badan faali yang terjadi pada penderita luka bakar berat dapat menyebabkan terjadinya tukak di mukosa lambung atau duodenum dengan gejala yang sama dengan gejala tukak peptik. 1elainan ini dikenal sebagai tukak Curling. 2ase permulaan luka bakar merupakan fase katabolisme sehingga keseimbangan protein menjadi negatif. rotein tubuh banyak hilang karena eksudasi, metabolisme tinggi dan infeksi. enguapan berlebihan dari kulit yang rusak juga memerluka kalori tambahan. #enaga yang diperlukan tubuh pada fase ini terutama didapat dari pembakaran protein dari otot skelet. Eleh karena itu, penderita menjadi sangat kurus, otot mengecil, dan berat badan menurun. 3engan demikian, korban luka bakar menderita penyakit berat yang

19

disebut penyakit luka bakar. "ila luka bakar menyebabkan cacat, terutama bila luka mengenai wajah sehingga rusak berat, penderita mungkin mengalami beban kejiwaan berat. 5adi prognosis luka bakar ditentukan oleh luasnya luka bakar. F. FASE PADA LUKA BAKAR 3alam perjalanan penyakit, dapat dibedakan menjadi tiga fase pada luka bakar, yaitu: %2ase awal, fase akut, fase syok ada fase ini, masalah utama berkisar pada gangguan yang terjadi pada saluran nafas yaitu gangguan mekanisme bernafas, hal ini dikarenakan adanya eskar melingkar di dada atau trauma multipel di rongga toraksG dan gangguan sirkulasi seperti keseimbangan cairan elektrolit, syok hipo4olemia. 2ase setelah syok berakhir, fase sub akut

:asalah utama pada fase ini adalah Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS dan !ulti-system "rgan #ysfunction Syndrome (!"#S dan sepsis. ;al ini merupakan dampak dan atau perkembangan masalah yang timbul pada fase pertama dan masalah yang bermula dari kerusakan jaringan (luka dan sepsis luka) 2ase lanjut

2ase ini berlangsung setelah penutupan luka sampai terjadinya maturasi jaringan. :asalah yang dihadapi adalah penyulit dari luka bakar seperti parut hipertrofik, kontraktur dan deformitas lain yang terjadi akibat kerapuhan jaringan atau struktur tertentu akibat proses inflamasi yang hebat dan berlangsung lama embagian Fona kerusakan jaringan: .ona koagulasi, Fona nekrosis

:erupakan daerah yang langsung mengalami kerusakan (koagulasi protein) akibat pengaruh cedera termis, hampir dapat dipastikan jaringan ini mengalami nekrosis beberapa saat setelah kontak. Eleh karena itulah disebut juga sebagai Fona nekrosis.

11

.ona statis

:erupakan daerah yang langsung berada di luarBdi sekitar Fona koagulasi. 3i daerah ini terjadi kerusakan endotel pembuluh darah disertai kerusakan trombosit dan leukosit, sehingga terjadi gangguam perfusi (no flow phenomena), diikuti perubahan permeabilitas kapilar dan respon inflamasi lokal. roses ini berlangsung selama 1&%&) jam pasca cedera dan mungkin berakhir dengan nekrosis jaringan. .ona hiperemi

:erupakan daerah di luar Fona statis, ikut mengalami reaksi berupa 4asodilatasi tanpa banyak melibatkan reaksi selular. #ergantung keadaan umum dan terapi yang diberikan, Fona ketiga dapat mengalami penyembuhan spontan, atau berubah menjadi Fona kedua bahkan Fona pertama. G. INDIKASI RAWAT INAP PASIEN LUKA BAKAR :enurut $merican %urn $ssociation, seorang pasien diindikasikan untuk dirawat inap bila: Luka bakar derajat +++ C ,= Luka bakar derajat ++ C 19= Luka bakar derajat ++ atau +++ yang melibatkan area kritis (wajah, tangan, kaki, genitalia, perineum, kulit di atas sendi utama) risiko signifikan untuk masalah kosmetik dan kecacatan fungsi Luka bakar sirkumferensial di thoraks atau ekstremitas Luka bakar signifikan akibat bahan kimia, listrik, petir, adanya trauma mayor lainnya, atau adanya kondisi medik signifikan yang telah ada sebelumnya !danya trauma inhalasi

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG emeriksaan penunjang yang dilakukan: 1. emeriksaan darah rutin dan kimia darah &. (rinalisis

1&

'. emeriksaan keseimbangan elektrolit ). !nalisis gas darah ,. 0adiologi H jika ada indikasi !03S -. emeriksaan lain yang dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis S+0S dan :E3S I. PENATALAKSANAAN LUKA BAKAR asien luka bakar harus die4aluasi secara sistematik. rioritas utama adalah mempertahankan jalan nafas tetap paten, 4entilasi yang efektif dan mendukung sirkulasi sistemik. +ntubasi endotrakea dilakukan pada pasien yang menderita luka bakar berat atau kecurigaan adanya jejas inhalasi atau luka bakar di jalan nafas atas. +ntubasi dapat tidak dilakukan bila telah terjadi edema luka bakar atau pemberian cairan resusitasi yang terlampau banyak. ada pasien luka bakar, intubasi orotrakea dan nasotrakea lebih dipilih daripada trakeostomi. asien dengan luka bakar saja biasanya hipertensi. !danya hipotensi awal yang tidak dapat dijelaskan atau adanya tanda%tanda hipo4olemia sistemik pada pasien luka bakar menimbulkan kecurigaan adanya jejas ?tersembunyi@. Eleh karena itu, setelah mempertahankan !"$, prioritas berikutnya adalah mendiagnosis dan menata laksana jejas lain (trauma tumpul atau tajam) yang mengancam nyawa. 0iwayat terjadinya luka bermanfaat untuk mencari trauma terkait dan kemungkinan adanya jejas inhalasi. +nformasi riwayat penyakit dahulu, penggunaan obat, dan alergi juga penting dalam e4aluasi awal. akaian pasien dibuka semua, semua permukaan tubuh dinilai. emeriksaan radiologik pada tulang belakang ser4ikal, pel4is, dan torak dapat membantu menge4aluasi adanya kemungkinan trauma tumpul. Setelah mengeksklusi jejas signifikan lainnya, luka bakar die4aluasi. #erlepas dari luasnya area jejas, dua hal yang harus dilakukan sebelum dilakukan transfer pasien adalah mempertahankan 4entilasi adekuat, dan jika diindikasikan, melepas dari eskar yang mengkonstriksi. #atalaksana resusitasi luka bakar

1'

a.

#atalaksana resusitasi jalan nafas: % +ntubasi #indakan intubasi dikerjakan sebelum edema mukosa menimbulkan manifestasi obstruksi. #ujuan intubasi mempertahankan jalan nafas dan sebagai fasilitas pemelliharaan jalan nafas. 1rikotiroidotomi "ertujuan sama dengan intubasi hanya saja dianggap terlalu agresif dan menimbulkan morbiditas lebih besar dibanding intubasi. 1rikotiroidotomi memperkecil dead space, memperbesar tidal 4olume, lebih mudah mengerjakan bilasan bronkoal4eolar dan pasien dapat berbicara jika dibanding dengan intubasi. emberian oksigen 199= "ertujuan untuk menyediakan kebutuhan oksigen jika terdapat patologi jalan nafas yang menghalangi suplai oksigen. ;ati%hati dalam pemberian oksigen dosis besar karena dapat menimbulkan stress oksidatif, sehingga akan terbentuk radikal bebas yang bersifat 4asodilator dan modulator sepsis. erawatan jalan nafas a. b. enghisapan sekret (secara berkala) emberian terapi inhalasi "ertujuan mengupayakan suasana udara yang lebih baik didalam lumen jalan nafas dan mencairkan sekret kental sehingga mudah dikeluarkan. #erapi inhalasi umumnya menggunakan cairan dasar natrium klorida 9,>= ditambah dengan bronkodilator bila perlu. Selain itu bisa ditambahkan Fat%Fat dengan khasiat tertentu seperti atropin sulfat (menurunkan produksi sekret), natrium bikarbonat (mengatasi asidosis seluler) dan steroid (masih kontro4ersial) c. "ilasan bronkoal4eolar d. erawatan rehabilitatif untuk respirasi pada dinding torak yang bertujuan untuk memperbaiki kompliansi paru 1) e. <skarotomi

b.

#atalaksana resusitasi cairan 0esusitasi cairan diberikan dengan tujuan preser4asi perfusi yang adekuat dan seimbang di seluruh pembuluh darah 4askular regional, sehingga iskemia jaringan tidak terjadi pada setiap organ sistemik. Selain itu cairan diberikan agar dapat meminimalisasi dan eliminasi cairan bebas yang tidak diperlukan, optimalisasi status 4olume dan komposisi intra4askular untuk menjamin sur4i4alBmaksimal dari seluruh sel, serta meminimalisasi respons inflamasi dan hipermetabolik dengan menggunakan kelebihan dan keuntungan dari berbagai macam cairan seperti kristaloid, hipertonik, koloid, dan sebagainya pada waktu yang tepat. 3engan adanya resusitasi cairan yang tepat, kita dapat mengupayakan stabilisasi pasien secepat mungkin kembali ke kondisi fisiologik dalam persiapan menghadapi inter4ensi bedah seawal mungkin. 0esusitasi cairan dilakukan dengan memberikan cairan pengganti. !da beberapa cara untuk menghitung kebutuhan cairan ini: 1. $ara <4ans Luas luka bakar (=) I "" (kg) menjadi mL Ja$l per &) jam Luas luka bakar (=) I "" (kg) menjadi mL plasma per &) jam &.999 cc glukosa ,= per &) jam Separuh dari jumlah 1K&K' diberikan dalam A jam pertama. Sisanya diberikan dalam 1- jam berikutnya. diberikan setengah jumlah cairan hari kedua. &. $ara "aIter Luas luka bakar (=) I "" (kg) I ) mL Separuh dari jumlah cairan diberikan dalam A jam pertama. Sisanya diberikan dalam 1- jam berikutnya. diberikan setengah jumlah cairan hari kedua. ada hari kedua diberikan setengah jumlah cairan hari pertama. ada hari ketiga ada hari kedua diberikan setengah jumlah cairan hari pertama. ada hari ketiga

1,

c.

0esusitasi nutrisi ada pasien luka bakar, pemberian nutrisi secara enteral sebaiknya dilakukan sejak dini dan pasien tidak perlu dipuasakan. "ila pasien tidak sadar, maka pemberian nutrisi dapat melalui naso-gastric tube (J*#). Jutrisi yang diberikan sebaiknya mengandung 19%1,= protein, ,9%-9= karbohidrat dan &,%'9= lemak. emberian nutrisi sejak awal ini dapat meningkatkan fungsi kekebalan tubuh dan mencegah terjadinya atrofi 4ili usus. 3engan demikian diharapkan pemberian nutrisi sejak awal dapat membantu mencegah terjadinya S+0S dan :E3S.

Kebutuhan Nutr ! Pen"er ta Lu#a Ba#ar :inuman diberikan pada penderita luka bakar : Segera setelah peristaltis menjadi normal Sebanyak &, mLBkg""Bhari Sampai dieresis sekurang%kurangnya mencapai '9 mLBjam :akanan diberikan diberikan oral pada penderita luka bakar : Segera setelah dapat minum tanpa kesulitan Sedapat mungkin &,99 kaloriBhari Sedapat mungkin mengandung 199%1,9 gr proteinBhari Sebagai tambahan diberikan setiap hari : Litamin !, ", dan 3 Litamin $ ,99 mg 2e sulfat ,99 mg :ukoprotektor enderita yang sudah mulai stabil keadaannya memerlukn fisioterapi untuk memperlancar peredaran darah dan mencegah kekakuan sendi. 1alau perlu, sendi diistirahatkan dalam posisi fungsional dengan bidai. d. erawatan luka bakar

1-

(mumnya untuk menghilangkan rasa nyeri dari luka bakar digunakan morfin dalam dosis kecil secara intra4ena (dosis dewasa awal : 9,1%9,& mgBkg dan ?maintenance@ ,%&9 mgB/9 kg setiap ) jam, sedangkan dosis anak%anak 9,9,%9,& mgBkg setiap ) jam). #etapi ada juga yang menyatakan pemberian methadone (,%19 mg dosis dewasa) setiap A jam merupakan terapi penghilang nyeri kronik yang bagus untuk semua pasien luka bakar dewasa. 5ika pasien masih merasakan nyeri walau dengan pemberian morfin atau methadone, dapat juga diberikan benFodiaFepine sebagai tambahan. e. #erapi pembedahan pada luka bakar 1. <ksisi dini <ksisi dini adalah tindakan pembuangan jaringan nekrosis dan debris (debridement) yang dilakukan dalam waktu kurang dari / hari (biasanya hari ke ,%/) pasca cedera termis. 3asar dari tindakan ini adalah: :engupayakan proses penyembuhan berlangsung lebih cepat. 3engan dibuangnya jaringan nekrosis, debris dan eskar, proses inflamasi tidak akan berlangsung lebih lama dan segera dilanjutkan proses fibroplasia. ada daerah sekitar luka bakar umumnya terjadi edema, hal ini akan menghambat aliran darah dari arteri yang dapat mengakibatkan terjadinya iskemi pada jaringan tersebut ataupun menghambat proses penyembuhan dari luka tersebut. 3engan semakin lama waktu terlepasnya eskar, semakin lama juga waktu yang diperlukan untuk penyembuhan. :emutus rantai proses inflamasi yang dapat berlanjut menjadi komplikasi H komplikasi luka bakar (seperti S+0S). ;al ini didasarkan atas jaringan nekrosis yang melepaskan 6burn to&ic7 (lipid protein comple&) yang menginduksi dilepasnya mediator% mediator inflamasi. Semakin lama penundaan tindakan eksisi, semakin banyaknya proses angiogenesis yang terjadi dan 4asodilatasi di sekitar luka. ;al ini mengakibatkan banyaknya darah keluar saat

1/

dilakukan tindakan operasi. Selain itu, penundaan eksisi akan meningkatkan resiko kolonisasi mikro H organisme patogen yang akan menghambat pemulihan graft dan juga eskar yang melembut membuat tindakan eksisi semakin sulit. #indakan ini disertai anestesi baik lokal maupun general dan pemberian cairan melalui infus. #indakan ini digunakan untuk mengatasi kasus luka bakar derajat ++ dalam dan derajat +++. #indakan ini diikuti tindakan hemostasis dan juga 6skin grafting7 (dianjurkan 6split thickness skin grafting7). #indakan ini juga tidak akan mengurangi mortalitas pada pasien luka bakar yang luas. 1riteria penatalaksanaan eksisi dini ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu: 1. 1asus luka bakar dalam yang diperkirakan mengalami penyembuhan lebih dari ' minggu. &. 1ondisi fisik yang memungkinkan untuk menjalani operasi besar. '. #idak ada masalah dengan proses pembekuan darah. ). #ersedia donor yang cukup untuk menutupi permukaan terbuka yang timbul. <ksisi dini diutamakan dilakukan pada daerah luka sekitar batang tubuh posterior. <ksisi dini terdiri dari eksisi tangensial dan eksisi fasial. 1. <ksisi tangensial Suatu teknik yang mengeksisi jaringan yang terluka lapis demi lapis sampai dijumpai permukaan yang mengeluarkan darah (endpoint). !dapun alat%alat yang digunakan dapat bermacam% macam, yaitu pisau *oulian atau ;umbly yang digunakan pada luka bakar dengan luas permukaan luka yang kecil, sedangkan pisau Matson maupun mesin yang dapat memotong jaringan kulit perlapis (dermatom) digunakan untuk luka bakar yang luas. ermukaan kulit yang dilakukan tindakan ini tidak boleh melebihi &,= dari seluruh luas permukaan tubuh. (ntuk

1A

memperkecil perdarahan dapat dilakukan hemostasis, yaitu dengan tourni'uet sebelum dilakukan eksisi atau pemberian larutan epinephrine 1:199.999 pada daerah yang dieksisi. Setelah dilakukan hal%hal tersebut, baru dilakukan 6skin graft7. 1euntungan dari teknik ini adalah didapatnya fungsi optimal dari kulit dan keuntungan dari segi kosmetik. 1erugian dari teknik adalah perdarahan dengan jumlah yang banyak dan endpoint bedah yang sulit ditentukan. &. <ksisi fasial #eknik yang mengeksisi jaringan yang terluka sampai lapisan fascia. #eknik ini digunakan pada kasus luka bakar dengan ketebalan penuh (full thickness) yang sangat luas atau luka bakar yang sangat dalam. !lat yang digunakan pada teknik ini adalah pisau scalpel, mesin pemotong 6electrocautery7. !dapun keuntungan dan kerugian dari teknik ini adalah: 1euntungan : lebih mudah dikerjakan, cepat, perdarahan tidak banyak, endpoint yang lebih mudah ditentukan 1erugian : kerugian bidang kosmetik, peningkatan resiko cedera pada saraf%saraf superfisial dan tendon sekitar, edema pada bagian distal dari eksisi J. PROGNOSIS rognosis dan penanganan luka bakar terutama tergantung pada dalam dan luasnya permukaan luka bakar, dan penanganan sejak awal hingga penyembuhan. Selain itu faktor letak daerah yang terbakar, usia dan keadaan kesehatan penderita juga turut menentukan kecepatan penyembuhan. enyulit juga mempengaruhi progonosis pasien. enyulit yang timbul pada luka bakar antara lain gagal ginjal akut, edema paru, S+0S, infeksi dan sepsis, serta parut hipertrofik dan kontraktur.

1>

DAFTAR PUSTAKA 1. "urns 5, /1%-. &. Molf S, ;erndon 3. "urns. +n: #ownsend $:, "eauchamp 03, <4ers ":, :attoI 1L,editors. Sabiston #eItbook of Surgery. &99). p. ,->%>&. '. ;eimbach 3:. "urns. +n: "runicardi 2$, !ndersen 31, "illiar #L, 3unn 3L, ;unter 5*, ollock 0<. SchwartF@s principles of surgery, Ath ed. :c*raw% ;illG &99/. ). ;ettiaratchy S, apini 0. !"$ of burnsG initial management of major burn: ++assesment and resuscitation. ":5 &99)G'&>:191%'. ,. ;ettiaratchy S, 3Fiewulski &99)G'&A:1)&/H>. -. :oenadjat N. 0esusitasi: dasar%dasar manajemen luka bakar fase akut. 5akarta: 1omite medik asosiasi luka bakar +ndonesiaG &99,. hal.,%&9, ,)%-9. /. !nsermino :, ;emsley $. !"$ of burnsG intensi4e care management and control of infection. ":5 &99)G'&>:&&9H'. A. :anaging the !"$@s in the burn patient. 3iunduh dari www.burnsurgery.org >. ;ettiaratchy S, apini 0. !"$ of burnsG initial management of major burn: +o4er4iew. ":5 &99)G'&A:1,,,H/. 19. :oenadjat N. etunjuk praktis penatalaksanaan luka bakar. 5akarta: 1omite medik asosiasi luka bakar +ndonesiaG &99,. hal.)%&9G '9%)1. 11."arret 5 . !"$ of burnsG burns reconstruction. ":5 &99)G'&>:&/)H-. 1&. 0eksoprodjo S. 1umpulan 1uliah +lmu "edah. 1>>,. 5akarta: "inarupa !ksara. 1'. :oenadjat N. Luka "akar engetahuan 1linis raktis. &99'. edisi ke%& (dengan perbaikan). 5akarta: "alai enerbit 21(+ 1). eacock < <, $ohen + 1. lastic Surgery Lol +. (S!: M" Saunders $ompany. . athophysiology and types of burns. ":5 hiladelphia: SaundersG hillips L. "urns. +n: :c$arthy 5, *aliano 0, "outros S,editors.

$urrent #herapy in lastic Surgery. hiladelphia: Saunders <lse4ier. &99-. p.

&9

1,. $hin *!, :ast "!. ;ypertrophic Scars and 1eloids. +n: :c$arthy 5*, *aliano 03, "outros S*. $urrent #herapy in lastic Surgery. &99-. 1st edition. (S!: M" Saunders. 1-. Spector 5!, Le4ine 5 . $utaneous 3efects: 2laps, *rafts, and <Ipension. +n: :c$arthy 5*, *aliano 03, "outros S*. $urrent #herapy in lastic Surgery. &99-. 1st edition. (S!: M" Saunders. 1/. 2raiberg !, 1han ", #se 0, :c1ay 3. lastic surgery. :$$O< &999 re4iew notes and lecture series.

&1