Anda di halaman 1dari 24

DAFTAR ISI

BAB I................................................................................................................................ 2 A. ANATOMI ............................................................................................................ 2 B. STRIKTUR URETRA ........................................................................................... 6 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. DEFINISI .............................................................................................................. 6 EPIDEMIOLOGI .................................................................................................. 6 KLASIFIKASI ...................................................................................................... 6 ETIOLOGI ............................................................................................................ 7 PATOGENESIS .................................................................................................... 8 MANIFESTASI ..................................................................................................... 9 DIAGNOSIS .......................................................................................................... 9 PENGOBATAN .................................................................................................. 10 KOMPLIKASI .................................................................................................... 13 PROGNOSIS ................................................................................................... 13

BAB II ............................................................................................................................ 14 A. Pasien dan Metode Penelitian .............................................................................. 15 B. Hasil ..................................................................................................................... 19 C. Diskusi ................................................................................................................. 20 D. Kesimpulan .......................................................................................................... 22 BAB III ........................................................................................................................... 23 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 24

BAB I
TINJAUAN PUSTAKA A. ANATOMI Manusia memiliki organ saluran kemih yang berguna dalam pengeluaran urine keluar tubuh. Organ-organ tersebut mencakup dua ginjal, dua ureter, buli-buli, dua otot sfingter, dan uretra. Secara garis besar sistem tersebut terletak di rongga retroperitoneal dan terlindung oleh organ lain yang mengelilinginya.

Gambar 1. Saluran kemih Ginjal adalah organ yang jumlahnya sepasang, merupakan saluran kemih atas yang mempunyai fungsi utama dalam membentuk urine. Selain mengeluarkan zat toksik dan sisa hasil metabolisme tubuh dalam bentuk urine, ginjal juga memiliki fungsi dalam menghasilkan dan mengatur sekresi hormon, mengatur metabolisme ion kalsium dan vitamin D, dan mempertahankan keseimbangan cairan tubuh. Urine dari ginjal kemudian dialirkan ke buli-buli melalui sebuah tabung kecil bernama ureter. Pada dinding ureter terdapat otot polos yang dapat melakukan gerakan peristaltik untuk mendorong urine ke buli-buli. Jika terjadi sumbatan urin maka terjadi kontraksi otot

yang berlebih untuk mendorong sumbatan tersebut dari saluran ureter. Kontraksi berlebih tersebut dirasakan sebagai nyeri kolik, datangnya hilang timbul sesuai irama gerakan peristaltik ureter. Saat mencapai buli-buli, posisi ureter miring agar mencegah terjadinya aliran balik urine dari buli-buli ke ureter saat buli-buli berkontraksi .

Gambar 2. Vesika urinaria Buli-buli adalah organ berongga yang terdiri dari tiga otot lapis detrusor yang saling beranyaman. Kontraksi otot ini merupakan tahap utama dalam pengosongan urine dalam buli-buli dan kemudian mengeluarkannya melalui uretra dalam mekanisme miksi. Uretra merupakan saluran yang membawa urine keluar dari vesica urinaria menuju lingkungan luar. Terdapat beberapa perbedaan uretra pada pria dan wanita. Uretra pada pria memiliki panjang sekitar 20 cm dan juga berfungsi sebagai organ seksual (berhubungan dengan kelenjar prostat), sedangkan uretra pada wanita

panjangnya sekitar 3.5 cm. selain itu, pria memiliki dua otot sphincter yaitu m.sphincter interna (otot polos terusan dari m.detrusor dan bersifat involunter) dan m.sphincter externa (di uretra pars membranosa, bersifat volunter), sedangkan pada wanita hanya memiliki m.sphincter externa (distal inferior dari kandung kemih dan bersifat volunter).Uretra merupakan saluran akhir dalam pengeluaran urine keluar tubuh. Uretra pada pria memiliki fungsi ganda yaitu sebagai saluran urine dan saluran untuk semen dari organ reproduksi.

Gambar 3. Uretra laki-laki Secara anatomis uretra pria dibagi menjadi dua bagian yaitu uretra posterior dan uretra anterior. Uretra pria dibagi atas : 1. Uretra Posterior, dibagi menjadi: a. Pars prostatika : dengan panjang sekitar 2,5 cm, berjalan melalui kelenjar

prostate. b. Pars membranacea : dengan panjang sekitar 2 cm, berjalan melalui diafragma urogenital antara prostate dan penis 2. Uretra Anterior, dibagi menjadi: a. Pars bulbaris: terletak di proksimal, merupakan bagian uretra yang melewati bulbus penis. b. Pars pendulum /cavernosa/spongiosa: dengan panjang sekitar 15 cm, berjalan melalui penis (berfungsi juga sebagai transport semen). c. Pars glandis: bagian uretra di gland penis. Uretra ini sangat pendek dan epitelnya sangat berupa squamosa ( squamous compleks noncornificatum).

Gambar 4. Uretra wanita Uretra dilengkapi dengan dua otot sfingter yang berguna untuk menahan laju urine. Uretra interna yang terletak pada perbatasan buli-buli dan uretra, dipersarafi oleh sistem simpatik, sehingga jika buli-buli penuh sfingter ini akan terbuka. Sfingter uretra eksterna terletak pada perbatasan uretra posterior dengan uretra anterior, dipersarafi oleh sistem somatik yang dapat diperintah sesuai keinginan seseorang.

B. STRIKTUR URETRA
1. DEFINISI Striktur uretra merupakan penyempitan atau penyumbatan lumen uretra karena pembentukan jaringan fibrotik (parut) pada uretra dan/atau daerah peri uretra, yang pada tingkat lanjut dapat menyebabkan fibrosis pada korpus spongiosum. 2. EPIDEMIOLOGI Striktur uretra adalah penyempitan lumen uretra akibat adanya jaringan parut. Penyakit ini lebih banyak terjadi pada pria daripada wanita karena adanya perbedaan panjang uretra. Uretra pria dewasa berkisar antara 23-25 cm, sedangkan uretra wanita sekitar 3-5 cm. Karena itulah uretra pria lebih rentan terserang infeksi atau terkena trauma dibanding wanita. Beberapa faktor resiko lain yang diketahui berperan dalam insiden penyakit ini, diantaranya adalah pernah terpapar penyakit menular seksual, ras orang Afrika, berusia diatas 55 tahun, dan tinggal di daerah perkotaan. 3. KLASIFIKASI a. Derajat penyempitan, ada 3 tingkatan : b. c. d. Ringan : oklusi terjadi <1/3 diameter lumen uretra Sedang : oklusi terjadi 1/3 1/2 diameter lumen uretra Berat : oklusi terjadi >1/2 diameter lumen uretra dan teraba

spongiofibrosis

Jenis striktur berdasarkan tempatnya: a. Pars membranosa, biasanya disebabkan oleh trauma pelvis atau kesalahan saat kateterisasi b. Pars bulbosa, disebabkan karena cidera pada selangkangan dan pasca uretritis c. Pars bulbo membranosa, hal ini diakarenakan fiksasi kateter yang salah d. Meatus uretra, disebabkan pasca meatitis 4. ETIOLOGI Penyebab striktur uretra adalah: a. Kongenital Hal ini jarang terjadi. Misalnya: Meatus kecil pada meatus ektopik pada pasien hipospodia. Divertikula kongenital -> penyebab proses striktura uretra. b. Trauma Merupakan penyebab terbesar striktura (fraktur pelvis, trauma uretra anterior, tindakan sistoskopi, prostatektomi,katerisasi).

1. Trauma uretra anterior, misalnya karena straddle injury. Pada straddle injury, perineal terkena benda keras, misalnya plantangan sepeda sehingga menimbulkan trauma uretra pars bulbaris. 2. Fraktur/trauma pada pelvis dapat menyebabkan cedera pada uretra posterior. Jadi seperti kita ketahui, antara prostat dan os pubis dihubungkan oleh ligamentum puboprostaticum. Sehingga kalau ada trauma disini, ligamentum tertarik, uretra posterior bisa sobek. Jadi memang sebagian besar striktura uretra terjadi dibagian-bagian yang terfiksir seperti bulbus dan prostat. Di pars pendulan jarang terjadi cedera karena sifatnya yang mobile. 3. Kateterisasi juga bisa menyebabkan striktura uretra bila diameter kateter dan diameter lumen uretra tidak proporsional. c. Infeksi, seperti uretritis, baik spesifik maupun non spesifik (GO,TBC). Pada uretritis akut, setelah sembuh jaringan penggantinya sama dengan jaringan asal. Jadi kalau asalnya epitel squamous, jaringan penggantinya juga epitel squamous. Kalau pada uretritis kronik, setelah penyembuhan, jaringan penggantinya adalah jaringan fibrous. Akibatnya lumen uretra menjadi sempit, dan elastisitas ureter menghilang. d. Tumor
Tumor bisa menyebabkan striktura melalui dua cara, yaitu proses penyembuhan

tumor yang menyebabkan striktura uretra, ataupun tumornya itu sendiri yang
mengakibatkan sumbatan uretra.

5.

PATOGENESIS Proses radang akibat trauma atau infeksi pada uretra akan menyebabkan

terbentuknya jaringan parut pada uretra. Jaringan parut ini berisi kolagen dan fibroblast, dan ketika mulai menyembuh jaringan ini akan berkontraksi ke seluruh ruang pada lumen dan menyebabkan pengecilan diameter uretra, sehingga menimbulkan hambatan aliran urine. Karena adanya hambatan, aliran urine mencari jalan keluar di tempat lain dan akhirnya mengumpul di rongga periuretra. Karena ekstravasasi urine, daerah tersebut akan rentan terjadi infeksi akan menimbulkan abses periuretra yang kemudian bisa membentuk fistula uretrokutan (timbul hubungan uretra dan kulit). Selain itu resiko

terbentuknya batu buli-buli juga meningkat, timbul gejala sulit ejakulasi dan gagal ginjal. Sesuai dengan derajat penyempitan lumennya, striktur uretra dibagi menjadi 3 tingkatan, yaitu: 1) Ringan : jika oklusi yang terjadi kurang dari sepertiga diameter lumen uretra 2) Sedang : jika terdapat oklusi setengah sampai sepertiga diameter lumen uretra 3) Berat : jika terdapat oklusi lebih besar dari setengah diameter lumen uretra Pada penyempitan derajat berat, kadang kala teraba jaringan keras di korpus spongiosum, yang dikenal dengan spongiofibrosis. 6. MANIFESTASI Gejala penyakit ini mirip seperti gejala penyebab retensi urine tipe obstruktif lainnya. Diawali dengan sulit kencing atau pasien harus mengejan untuk memulai kencing namun urine hanya keluar sedikit-sedikit. Gejala tersebut harus dibedakan dengan inkontinensia overflow, yaitu keluarnya urine secara menetes, tanpa disadari, atau tidak mampu ditahan pasien. Gejala-gejala lain yang harus ditanyakan ke pasien adalah adanya disuria, frekuensi kencing meningkat, hematuria, dan perasaan sangat ingin kencing yang terasa sakit. Jika curiga penyebabnya adalah infeksi, perlu ditanyakan adanya tanda-tanda radang seperti demam atau keluar nanah. Selain itu, bisa juga disertai pembengkakan/abses di daerah perineum dan skrotum, serta bila terjadi infeksi sistematik juga timbul panas badan, menggigil, dan kencing berwarna keruh. 7. DIAGNOSIS Adapun pemeriksaan fisis yang dilakukan untuk mengetahui adanya striktur

uretra adalah: a. Anamnesis yang lengkap (uretritis, trauma dengan kerusakan pada panggul, b) straddle injury, instrumentasi pada uretra, penggunaan kateter uretra, kelainan c) sejak lahir) d) Inspeksi: meatus eksternus sempit,pembengkakan serta fistula di daerah e) penis,skrotum,perineum,suprapubik. f) Palpasi: teraba jaringan parut sepanjang perjalanan uretra anterior; pada g) bagian ventral penis, muara fistula bila dipijit mengeluarkan getah/nanah

h) Rectal toucher (colok dubur) i) Pemeriksaan penunjang berguna untuk konfirmasi diagnosis dan menyingkirkan diagnosis banding. Uroflowmetri adalah alat untuk mengetahui pancaran urine secara obyektif. Derasnya pancaran diukur dengan membagi volume urine saat kencing dibagi dengan lama proses kencing. Kecepatan pancaran normal adalah 20 ml/detik. Jika kecepatan pancaran kurang dari 10 ml/detik menandakan adanya obstruksi. Namun pemeriksaan foto Retrograde Uretrogram dikombinasikan dengan Voiding

Cystouretrogram tetap dijadikan standar pemeriksaan untuk menegakan diagnosis. Radiografi ini dapat menentukan panjang dan lokasi dari striktur. Penggunaan ultrasonografi (USG) cukup berguna dalam mengevaluasi striktur pada pars bulbosa. Dengan alat ini kita juga bisa mengevaluasi panjang striktur dan derajat luas jaringan parut, contohnya spongiofibrosis. Ini membantu kita memilih jenis tindakan operasi yang akan dilakukan kepada pasien. Kita dapat mengetahui jumlah residual urine dan panjang striktur secara nyata, sehingga meningkatkan keakuratan saat operasi. Pemeriksaan yang lebih maju adalah dengan memakai uretroskopi dan sistoskopi, yaitu penggunaan kamera fiberoptik masuk ke dalam uretra sampai ke buli-buli. Dengan alat ini kita dapat melihat penyebab, letak, dan karakter striktur secara langsung. Pencitraan menggunakan magneting resonance imaging bagus dilakukan sebelum operasi karena dapat mengukur secara pasti panjang striktur, derajat fibrosis, dan pembesaran prostat. Namun alat ini belum tersedia secara luas dan biayanya sangat mahal sehingga jarang digunakan. Pemeriksaan laboratorium seperti urinalisis atau cek darah lengkap rutin dikerjakan untuk melihat perkembangan pasien dan menyingkirkan diagnosis lain. 8. PENGOBATAN Tujuan dari pengobatan striktur uretra adalah kesembuhan permanen, tidak hanya sembuh sementara. Pengobatan terhadap striktur uretra tergantung pada lokasi striktur, panjang/pendek striktur, dan kedaruratannya. Contohnya, jika pasien datang dengan retensi urine akut, secepatnya lakukan sistostomi suprapubik untuk mengeluarkan urine dari buli-buli. Sistostomi adalah tindakan operasi dengan membuat jalan antara buli-buli dan dinding perut anterior. Jika dijumpai abses periuretra, kita lakukan insisi untuk mengeluarkan nanah dan berikan antibiotika. Jika lokasi striktur di

10

uretra pars bulbosa dimana terdapat korpus spongiosum yang lebih tebal daripada di uretra pars pedularis, maka angka kesuksesan prosedur uretrotomi akan lebih baik jika dikerjakan di daerah tersebut. Penanganan konvensional seperti uretrotomi atau dilatasi masih tetap dilakukan, walaupun pengobatan ini rentan menimbulkan kekambuhan. Hasil sebuah studi mengindikasikan 80% striktur yang ditangani dengan internal uretrostomi mengalami kekambuhan dalam 5 tahun berikutnya. Pemasangan stent adalah alternatif bagi pasien yang sering mengalami rekurensi striktur. Namun tidak menutup kemungkinan untuk terjadi komplikasi seperti hiperplasia jaringan uretra sehingga menimbulkan obstruksi sekunder. Tindakan khusus yang dilakukan terhadap striktur uretra adalah: 1.Businasi (dilatasi) dengan busi logam yang dilakukan secara hati-hati. Tindakan yang kasar tambah akan merusak uretra sehingga menimbulkan luka baru yang pada akhirnya menimbulkan striktur lagi yang lebih berat. Tindakan ini dapat menimbulkan salah jalan (false route). Ini merupakan cara yang paling lama dan paling sederhana dalam penanganan striktur uretra. Direkomendasikan pada pasien yang tingkat keparahan striktur masih rendah atau pasien yang kontra indikasi dengan pembedahan. Dilatasi dilakukan dengan menggunakan balon kateter atau busi logam dimasukan hati-hati ke dalam uretra untuk membuka daerah yang menyempit. Pendarahan selama proses dilatasi harus dihindari karena itu mengindikasikan terjadinya luka pada striktur yang akhirnya menimbulkan striktur baru yang lebih berat. Hal inilah yang membuat angka kesuksesan terapi menjadi rendah dan sering terjadi kekambuhan. 2.Uretrotomi interna, yaitu memotong jaringan sikatriks uretra dengan pisau Otis/Sachse. Otis dikerjakan bila belum terjadi striktur uretra total, sedangkan pada striktur yang lebih berat, pemotongan striktur dikerjakan secara visual dengan memakai pisau Sachse. Tujuan uretrotomi interna adalah membuat jaringan epitel uretra yang tumbuh kembali di tempat yang sbelumnya terdapat jaringan parut. Jika tejadi proses epitelisasi sebelum kontraksi luka menyempitkan lumen, uretrotomi interna dikatakan berhasil. Namun jika kontraksi luka lebih dulu terjadi dari epitelisasi jaringan, maka striktur akan muncul kembali. Angka kesuksesan jangka

11

pendek terapi ini cukup tinggi, namun dalam 5 tahun angka kekambuhannya mencapai 80%. Selain timbulnya striktur baru, komplikasi uretrotomi interna adalah pendarahan yang berkaitan dengan ereksi, sesaat setelah prosedur dikerjakan, sepsis, inkontinensia urine, dan disfungsi ereksi. 3. Uretrotomi eksterna, adalah tindakan operasi terbuka berupa pemotongan jaringan fibrosis, kemudian dilakukan anastomosis di antara jaringan uretra yang masih sehat. 4. Pemasangan Stent, Stent adalah benda kecil, elastis yang dimasukan pada daerah striktur. Stent biasanya dipasang setelah dilatasi atau uretrotomi interna. Ada dua jenis stent yang tersedia, stent sementara dan permanen. Stent permanen cocok untuk striktur uretra pars bulbosa dengan minimal spongiofibrosis. Biasanya digunakan oleh orang tua, yang tidak fit menjalani prosedur operasi. Namun stent permanen juga memiliki kontra indikasi terhadap pasien yang sebelumnya menjalani uretroplasti substitusi dan pasien straddle injury dengan spongiosis yang dalam. Angka rekurensi striktur bervariasi dari 40%-80% dalam satu tahun. Komplikasi sering terjadi adalah rasa tidak nyaman di daerah perineum, diikuti nyeri saat ereksi dan kekambuhan striktur. 5. Uretroplasti, Uretroplasti merupakan standar dalam penanganan striktur uretra, namun masih jarang dikerjakan karena tidak banyak ahli medis yang menguasai teknik bedah ini. Sebuah studi memperlihatkan bahwa uretroplasti dipertimbangkan sebagai teknik bedah dengan tingkat invasif minimal dan lebih efisien daripada uretrotomi. Uretroplasti adalah rekonstruksi uretra terbuka berupa pemotongan jaringan fibrosis. Ada dua jenis uretroplasti yaitu uretroplasti anastomosis dan substitusi. Uretroplasti anastomosis dilakukan dengan eksisi bagian striktur kemudian uretra diperbaiki dengan mencangkok jaringan atau flap dari jaringan sekitar. Teknik ini sangat tepat untuk striktur uretra pars bulbosa dengan panjang striktur 1-2 cm. Uretroplasti substitusi adalah mencangkok jaringan striktur yang dibedah dengan jaringan mukosa bibir, mukosa kelamin, atau preputium. Ini dilakukan dengan graft, yaitu pemindahan organ atau jaringan ke bagian tubuh lain, dimana sangat bergantung dari suplai darah pasien untuk dapat bertahan.

12

6. Prosedur rekonstruksi multiple adalah suatu tindakan bedah dengan membuat saluran uretra di perineum. Indikasi prosedur ini adalah ketidakmampuan mencapai panjang uretra, bisa karena fibrosis hasil operasi sebelumnya atau teknik substitusi tidak bisa dikerjakan. Ketika terjadi infeksi dan proses radang aktif sehingga teknik graft tidak bisa dikerjakan, prosedur ini bisa menjadi pilihan operasi. Rekonstruksi multiple memang memerlukan anestesi yang lebih banyak dan menambah lama rawat inap pasien, namun berguna bila pasien kontra indikasi terhadap teknik lain. 9. KOMPLIKASI Pada striktur urethra terjd penyempitan lumen, hingga terjadi dilatasi bagian proksimalnya. Otot vesica urinaria akan berkontraksi melawan aliran refluks, bila proses ini berlangsung lama otot tersebut tidak mampu lagi mengosongkan isinya. Proses selanjutnya akan mengakibatkan hidroureter, hidronefrosis dan gagal ginjal. 10. PROGNOSIS Striktur uretra kerap kali kambuh, sehingga pasien harus sering menjalani pemeriksaan yang teratur oleh dokter. Penyakit ini dikatakan sembuh jika setelah dilakukan observasi selama 1 tahun tidak menunjukkan tanda-tanda kekambuhan. Setiap pasien kontrol berkala dilakukan pemeriksaan pancaran urine yang langsung dilihat oleh dokter atau dengan pemeriksaan uroflowmetri. Untuk mencegah terjadinya

kekambuhan, sering kali pasien harus menjalani beberapa tindakan, antara lain dilatasi berkala dengan busi dan kateterisasi bersih mandiri berkala (KBMB) atau CIC (clean intermitten catheterization), yaitu pasien dianjurkan melakukan kateterisasi secara periodik pada waktu tertentu dengan kateter yang bersih (tidak perlu steril).

13

BAB II
JURNAL ETIOLOGI STRIKTUR URETRA PADA LAKI-LAKI - EVALUASI DI SATU PUSAT & LITERATUR REVIEW (Etiology of male urethral stricturesEvaluation of temporal changes at a single center, and review of the literature ) Penyakit striktur uretra tetap menjadi penyebab morbiditas tersering di kalangan laki-laki. Sebuah survei terbaru di Amerika Serikat menunjukkan bahwa penyakit striktur uretra terjadi pada 0,6% laki-laki dan umumnya lebih sering terjadi pada usia tua dan pasien kulit hitam. Hal ini terkait dengan hasil pengelolaan pelayanan kesehatan dan morbiditas dalam hal infeksi saluran kemih dan inkontinensia. Penyebab striktur uretra dapat dikategorikan sebagai berikut: (1) Infeksi atau inflamasi: uretritis karena menular seksual infeksi, lichen sclerosis (balanitis xerotica obliterans), tuberkulosis (2) Trauma a. Internal (iatrogenik): kateterisasi uretra, cystoscopy, reseksi transurethral, prostatektomi, brachytherapy, hipospadia repair. b. Eksternal: cedera perineum atau straddle, fraktur pelvis, luka tembak dan tusuk, fraktur penis. (3) Bawaan atau idiopatik (tidak diketahui). Penelitian terbaru dari Eropa dan Amerika Serikat telah menyatakan bahwa etiologi penyakit striktur uretra telah berubah selama dua dekade terakhir, dengan penurunan angka uretritis dan peningkatan iatrogenic dan idiopatik sebagai penyebab striktur uretra. Penurunan insiden striktur uretra post-inflamasi telah dianggap akibat peningkatan kesadaran publik, adanya kampanye pencegahan dan penggunaan antibiotik secara luas untuk pengobatan uretritis menular seksual. Bagaimanapun, dunia telah menganggap bahwa uretritis tetap merupakan penyebab penting dari striktur uretra. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor etiologi dan fitur sosio-demografi penyakit striktur uretra masa kini kohort pada laki-laki dan

14

membandingkannya dengan penelitian serupa yang dilakukan di lembaga yang sama pada 15 tahun sebelumnya. A. Pasien dan Metode Penelitian Pasien laki-laki yang menghadiri Klinik Striktur di rumah sakit tersier tingkat pusat rujukan, dari April 2007 sampai Maret 2008 yang diwawancarai dengan menggunakan kuesioner terstruktur pada demografi, sosial ekonomidan aspek klinis sejarah medis subyek. Sebuah pencarian literatur elektronik yang komprehensif dilakukan dengan menggunakan kunci kata uretra dan striktur. Didapatkan total 4500 abstrak, 250 artikel dipelajari secara rinci, dan data mengenai etiologi dan epidemiologi striktur uretra diperoleh dari 32 makalah termasuk total 6122 pasien. Table 1. Perbandingan angka morbiditas berdasarkan fitur social -demografi dan klinis di saat ini dan sebelumnya pada laki-laki yang dievaluasi pada institusi yang sama (* p <0, 05).

15

Table 2. Perbandingan etiologi stricture uretra terhadap kelompok ras yang berbeda dalam studi ini dan sebelumnya.

Table 3. Interval waktu antara kejadian etiologi dan diagnosis striktur uretra.

16

Table 4. Hasil penemuan etiologi striktur uretra berdasarkan social- demografi dan klinis pada studi saat ini (* p <0, 05).

17

Table 5. Etiologi striktur uretra yang dilaporkan dalam literatur selama tiga dekade terakhir.

Semua data dimasukkan dalam database menggunakan Excel. Analisis statistic dilakukan dengan menggunakan software GraphPad Instat . Perbandingan mean dialakukan dengan menggunakan analisis varian (ANOVA) untuk data parametric dan Fishers exact test untuk table analisis.

18

B. Hasil Total dari 125 pria yang terbukti striktur uretra dievaluasi dalam periode April 2007 hingga Maret 2008. Periode rata-rata antara diagnosis pertama striktur uretra dan follow up terakhir adalah 36, 9 bulan (median: 14,4, range: 0,5-444 bulan). Presentasi gejala- gejalanya yaitu pancaran lemah (54% dari subyek), disuria (26%), frekuensi (15%), nokturia (13%), menetes post miksi/ dribbling (14%), inkontinensia (9%), hesitancy (9%), urgensi (8%) dan hematuria (6%). Komplikasi yang terjadi yaitu retensi urin (di 36,8% kasus), infeksi saluran kemih (14%), abses para-uretra (4%), fistula urethrocutaneous (4%), necrotizing fasciitis (2,8%), batu kandung kemih (2,8%) dan epididymo-orchitis (2,4%). Terdapat riwayat tuberkulosis pada 17,6% dari subyek dan yang sudah pernah khitan pada 31% dari subyek. Serum urea meningkat (> 6, 5 mmol / L) 14, 4% dari kelompok studi, serum kreatinin meningkat (> 120 mol / L) 11,2% dan serum PSA> 4 ng / ml pada 8,8%. Serologi sifilis yang telah diperoleh dari 118 subyek dan didapatkan 6,8% positif, tes HIV dilakukan pada 121 kasus dan 7,4% positif. Perbandingan kohort sebelumnya pada pria dievaluasi pada tahun 1991 yang ditunjukkan pada Tabel 1. Jumlah rata-rata (mean) pasangan seks lebih besar, tetapi perbedaannya secara statistik tidak signifikan. Terdapat perubahan yang signifikan pada tingkat pendidikan, dengan proporsi yang lebih besar pada laki-laki usia 6 tahun atau lebih sekolah. Ada peningkatan pada penggunaan obat ilegal - dagga (ganja atau mariyuana) di 81% subyek dan mandrax (methaqualone) di 19% dari subyek

menggunakan narkoba. Etiologi striktur menunjukkan angka penurunan dari uretritis dan trauma eksternal, dan peningkatan trauma iatrogenik pada saat ini dibandingkan dengan kohort /penelitian sebelumnya (Tabel 1). Trauma uretra interna (iatrogenik) pada 46 pasien terjadi akibat kateterisasi atau reseksi transurethral dari prostat atau tumor kandung kemih. Trauma eksternal pada 21 subyek disebabkan oleh perineum injury (straddle) injury cedera pada 10 pasien, fraktur pelvis pada 8, luka tembak 1, hipospadia repair sebelumnya 1 dan radioterapi 1. Perbandingan etiologi striktur uretra dalam kelompok ras yang berbeda menunjukkan

19

penurunan angka uretritis dan peningkatan angka pada trauma iatrogenik pada kelompok ras campuran dan putih, dengan pergeseran etiologi dari trauma eksternal terhadap trauma iatrogenik dan idiopatik pada kelompok hitam (Tabel 2). Interval waktu antara kejadian etiologi dan diagnosis pertama striktur dibandingkan antara studi saat ini dan sebelumnya pada (Tabel 3). Etiologi striktur uretra berdasarkan sosial-demografi dan klinis dalam penelitian ini ditunjukkan pada (Tabel 4). Sebuah analisis etiologi striktur uretra dilaporkan dalam 32 studi diterbitkan pada tahun 1979-2009 dan termasuk 6122 pasien yang ditunjukkan pada (Tabel 5).

C. Diskusi
Perbedaan pada etiologi penyakit striktur uretra yang dilaporkan ditentukan oleh bias seleksi seperti usia (pediatric dibandingkan orang dewasa), wilayah geografis (negara maju dibandingkan negara berkembang) dan pengobatan (internal urethrotomy atau dilatasi dibandingkan urethroplasty). Studi yang dilaporkan dalam 30 tahun terakhir menunjukkan cukup keseluruhan variasi dalam distribusi frekuensi faktor etiologi (Tabel 5). Membandingkan dekade terakhir dengan sebelumnya dua dekade, beberapa perbedaan utama yang jelas. Di negara-negara dunia pertama, telah terjadi penurunan tajam angka uretritis dan peningkatan etiologi idiopatik, sedangkan trauma intern (iatrogenik) tetap menjadi penyebab paling umum, dengan sedikit peningkatan angka trauma eksternal. Di negaranegara dunia ketiga, uretritis secara signifikan lebih umum/ sering dibandingkan di negara dunia pertama, dan tetap menjadi etiologi yang paling umum selama dekade terakhir, meskipun penurunan hanya sedikit. Trauma eksternal adalah sekitar dua kali lebih sering terjadi pada dunia ketiga dibandingkan dengan negara-negara dunia pertama, dan ada peningkatan selama dekade terakhir. Trauma iatrogenik juga meningkat selama dekade terakhir di negara-negara dunia ketiga, tetapi tetap setengah umum/ sering seperti di negara-negara dunia pertama. Etiologi idiopatik meningkat di negara-negara dunia pertama selama dekade terakhir dan tetap dua kali lebih umum/ sering pada negara- negara pertama dibandingkan dengan negara-negara dunia ketiga. (Table 5).

20

Penelitian ini menunjukkan penurunan angka uretritis dan trauma eksternal, serti peningkatan trauma iatrogenik di saat ini dibandingkan dengan studi kohort sebelumnya. Penurunan prevalensi uretritis kemungkinan dikarenakan peningkatan kesadaran publik yang lebih baik dan adanya kampanye- kampanye tentang pencegahan dan pengobatan antibiotik yang efektif pada penyakit infeksi menular seksual. Meningkatnya frekuensi trauma iatrogenik terkait peningkatan penggunaan kateterisasi dan prosedur urologis transurethral, dan peningkatan prevalensi trauma eksternal mungkin dikarenakan meningkatnya kepadatan lalu lintas jalan dan tingkat kekerasan yang lebih tinggi. Menariknya, dalam penelitian ini prevalensi positif tes serologi untuk sifilis dan HIV tidak signifikan lebih sering terjadi pada kelompok dengan uretritis sebelumnya. Dalam sebuah laporan dari Nigeria, 62 dari 88 pasien dengan striktur uretra dan riwayat uretritis sebelumnya, telah setuju untuk diskrining HIV, dan hanya 8 (13%) adalah positif HIV. Waktu yang diperlukan untuk pengembangan fitur klinis dari striktur sedikit tidak pasti, namun studi sebelumnya telah menyarankan periode 10-18 tahun. Dalam studi saat ini, interval waktu adalah waktu terpanjang dalam kelompok dengan uretritis (13, 1 tahun) dan terpendek pada kelompok dengan trauma eksternal (6, 4 tahun) (Tabel 3). Angka-angka sangat berbeda dari yang dilaporkan pada tahun 1991 studi kohort. Ini masih bersifat spekulatif apakah hal ini disebabkan perbedaan nyata dalam faktor etiologi atau mekanisme, atau terkait dengan kemungkinan tidak dapat diandalkannya ingatan pasien berkaitan dengan etiologi, ditambah dengan diagnosis striktur sebelumnya dalam kohort yang lebih baru. Penelitian sebelumnya telah menyarankan bahwa inflamasi striktur biasanya melibatkan uretra bulbar dan sebagian besar multiple, sedangkan traumatis striktur umumnya melibatkan uretra membranous dan tunggal, dan iatrogenik akibat kateterisasi melibatkan uretra penis/ penile uretra dan sering multifokal atau panurethral. Namun, penelitian lain telah menunjukkan bahwa inflamasi striktur yang paling sering melibatkan uretra penis, sedangkan striktur iatrogenik adalah dominan dalam uretra bulbar. Hal ini telah menunjukkan bahwa striktur idiopatik lebih sering terjadi pada

21

uretra bulbar dan pada pria yang lebih muda. Idiopatik striktur mungkin bawaan, tapi kemungkinan lain penyebabnya antara lain trauma di masa kecil yang belum diakui, atau iskemia pada pria yang lebih tua. Dalam penelitian ini, kelompok dengan uretritis dan trauma eksternal adalah kelompok yang lebih muda dibandingkan dengan trauma iatrogenik atau etiologi idiopatik (Tabel 4). Uretritis dikaitkan dengan jumlah pasangan seks yang lebih besar, tingkat pendidikan yang lebih rendah, riwayat penjara sebelumnya, dan penggunaan narkoba. Bulbar striktur lebih sering dikaitkan dengan uretritis, striktur penis/ penile striktur dikaitkan dengan etiologi idiopatik, dan striktur membran yang terkait dengan trauma eksternal (Tabel 4).

D. Kesimpulan
Dibandingkan dengan studi sebelumnya yang dievaluasi pada tahun 1991, saat kohort studi menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam tingkat pendidikan, namun terjadi peningkatan penggunaan obat-obatan ilegal dan jumlah pasangan seks. Etiologi striktur menunjukkan penurunan angka uretritis dan trauma eksternal, dan peningkatan trauma iatrogenik dalam saat ini dibandingkan untuk kelompok sebelumnya. Dalam penelitian ini, kelompok dengan uretritis dan trauma eksternal yang pada usia lebih muda dibandingkan dengan etiologi trauma iatrogenic atau idiopatik. Uretritis dikaitkan dengan jumlah pasangan seks yang lebih besar, tingkat pendidikan yang lebih rendah, riwayat penjara sebelumnya, dan penggunaan narkoba. Striktur bulbar lebih sering dikaitkan dengan uretritis, striktur penis yang terkait dengan etiologi idiopatik, dan striktur membran dikaitkan dengan trauma eksternal.

22

BAB III
PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN Striktur uretra merupakan penyempitan atau penyumbatan lumen uretra karena pembentukan jaringan fibrotik (parut) pada uretra dan/atau daerah peri uretra, yang pada tingkat lanjut dapat menyebabkan fibrosis pada korpus spongiosum. Penyakit striktur uretra tetap menjadi penyebab morbiditas tersering di kalangan laki-laki. Sebuah survei terbaru di Amerika Serikat menunjukkan bahwa penyakit striktur uretra terjadi pada 0,6% laki-laki dan umumnya lebih sering terjadi pada usia tua dan pasien kulit hitam. Hal ini terkait dengan hasil pengelolaan pelayanan kesehatan dan morbiditas dalam hal infeksi saluran kemih dan inkontinensia. Tujuan dari penelitian ini untuk mengevaluasi perubahan etiologi dari striktur uretra dan fitur socio- demographi yang dibandingkan dengan studi kohort pada penelitian sebelumnya. Subyek pada penelitian ini dari total pasien 125 laki- laki untuk membuktikan striktur uretra pada institusi yang sama sejak tahun1991. Metode penelitian dengan analisis statistic dengan menggunakan ANOVA dan Fishers test didapatkan (p< 0,05 = analisis signifikan secara statistik). Dibandingkan dengan tahun 1991 kohort, studi kohort saat ini memiliki proporsi signifikan lebih besar dengan > 6 tahun pendidikan (77, 5% vs 45,8%), mean jumlah pasangan seks (7,3 vs 4,6) dan penggunaan narkoba ilegal (20,8% vs 10%). Striktur etiologi menunjukkan penurunan uretritis (25, 6% vs 45%) dan trauma eksternal (16,8% Vs 28,3%) dan peningkatan intern (iatrogenik) trauma (36,8% vs 10%). Kelompokkelompok dengan uretritis dan trauma eksternal secara signifikan lebih muda (usia ratarata 46,1 dan 36,3 tahun) dibandingkan dengan trauma iatrogenic atau idiopatik etiologi (55,5 dan 53,8 tahun, masing-masing). Uretritis etiologi dikaitkan dengan lebih besar jumlah pasangan seks, tingkat pendidikan yang lebih rendah, penjara sebelumnya, dan penggunaan narkoba ilegal.

23

DAFTAR PUSTAKA
1. Purnomo BB. 2007. Dasar-dasar Urologi, Edisi Kedua. Jakarta:CV Sagung Seto 2. dr. Besyt daryanto. 2010. Pedoman Diagnosis & Terapi, Bedah Urologi. Malang: Universitas brawijaya 3. Agung Wistara, dkk. 2010. Diagnosis dan Penanganan Striktur Uretra. Bali: Universitas Udayana 4. Price. 2000. Anatomi Ginjal dan Saluran Kemih.Jakarta:EGC 5. Santucci RA, JoyceGF,Wise M. Male urethral stricture disease. Journal of Urology 2007; 177(5):166774. 6. Lumen N, Hoebeke P,Willemsen P, De Troyer B, Pieters R, Oosterlinck W. Etiology of urethral stricture disease in the 21st century. Journal of Urology 2009;182(3):9837.

24