Anda di halaman 1dari 52

1

OPTIMALISASI PATROLI PERAIRAN SAT POLAIR GUNA PELAYANAN POLMAS PERAIRAN PADA MASYARAKAT PESISIR DALAM RANGKA TERPELIHARANYA KAMTIBMAS WILAYAH PERAIRAN

BAB I PENDAHULUAN

1.

Latar Belakang

Wilayah Hukum Polres Fakfak dengan luas 14.320 KM2 terbentang dari Karas Pulau Tiga sampai Tomage yang terdiri 9 distrik yaitu Distrik Kokas dengan luas 1.786 KM2, Distrik Kramomongga luas 1.478 KM2, Distrik Fakfak Tengah luas 705 KM2, Distrik Bomberay luas1.910 KM2, Distrik Fakfak luas 820 KM2, Distrik Teluk Patipi luas 1.724 KM2, Distrik Fakfak Barat luas 1.685 KM2, Distrik Fakfak Timur 1.721 KM2 dan Distrik Karas luas 2.491 KM2. Kondisi Geografis nya bergunung-gunung, lereng, tebing rawa dan laut. serta sebelah utara berbatasan dengan Distrik Inawatan Kab Sorong Selatan, sebelah timur denganDistrik Babo Kab Bintuni, sebelah selatan Distrik Buruway Kab Kaimana dan sebelah barat berbatasan dengan Laut Seram dan Laut Banda. Dari luas kab Fakfak 14.320 KM2, sekitar 9.407 KM2 adalah wilayah perairan yang meliputi wilayah pesisir pantai dan laut. yang masyarakatnya sebagian besar mancari nafkah sebagai nelayan yaitu Distrik Kokas, Distrik Teluk Patipi, Distrik Fakfak Barat, Distrik Fakfak Timur dan Distrik Karas sedangkan Distrik Kramomongga, Distrik Fakfak Tengah, Distrik Bomberay dan Distrik Fakfak letaknya di dataran tinggi yang meliputi pegunungan yang masyarakatnya mencari nafkah dengan berkebun dan berladang. Jadi

dengan keadaan dan kondisi tersebut maka sebagian besar wilayah hukum Polres Fakfak terdiri daripada perairan dan pantai dimana kondisi masyarakatnya adalah masyarakat pantai atau masyarakat perairan yang hidup membaur, pendidikan cukup maju, mencari nafkah tani dan nelayan serta mayoritas beragama Islam dan Protestan.

Dengan situasi dan kondisi yang ada bahwa Wilayah Hukum Polres Fakfak yang sebagian besar meliputi wilayah perairan dan pantai maka terbentuklah suatu komunitas masyarakat tradisional yaitu adanya masyarakat pesisir pantai, dimana masyarakat pesisir pantai ini juga harus mendapat suatu keadaan terpeliharanya keamanan dan ketertiban, perlindungan, pengayoman dan pelayanan serta penegakkan hukum dari Polres Fakfak sebagai tugas pokoknya sebagaimana tercantum dalam Pasal 13 Undang-undang No.2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Masyarakat pesisir juga merupakan mitra kepolisian yang didasari kesadaran bersama dalam rangka menanggulangi

permasalahan yang dapat mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat guna menciptakan rasa aman, tertib dan tentram serta meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat pesisir yang mencakup rangkaian upaya pencegahan dengan melakukan identifikasi akar permasalahan, menganalisis, menetapkan prioritas tindakan, melakukan evaluasi dan evaluasi ulang atas efektifitas tindakan sebagaimana tujuan Polmas dalam Perkap No.7 tahun 2008.

Penerapan Polmas harus dilakukan dengan pendekatan yang proaktif mengutamakan pemecahan masalah kamtibmas dan masalah sosial masyarakat pesisir pantai. Dengan prinsip kemitraan maka interaksi hubungan yang dibangun antara Polres Fakfak dengan masyarakat pesisir pantai adalah sejajar atau setara sehingga setiap permasalahan yang muncul baik itu masalah kamtibmas maupun masalah sosial dapat dicegah dan dicarikan jalan keluarnya secara bersama-sama.

Satuan Polair Polres Fakfak yang bertugas melaksanakan fungsi Kepolisian Perairan yang meliputi patroli perairan, penegakkan hukum di perairan, pembinaan masyarakat pantai dan perairan lainnya serta SAR sebagaimana tercantum dalam Pasal 67 Perkap No.23 tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pada Tingkat Kepolisian Resort dan Kepolisian Sektor. Sat Polair yang mempunyai tugas dan wewenang meliputi wilayah pantai dan perairan yang begitu luas harus dapat menyentuh masyarakat pesisir yang tentunya untuk dapat mewujudkan hal tersebut harus didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai, anggaran yang cukup dan diawaki oleh personil-personil yang cakap dan professional.

Implementasi Reformasi Birokrasi Polri gelombang II merupakan penjabaran program berdasarkan hasil analisis dan evaluasi dari pelaksanaan program pada Reformasi Birokrasi Polri gelombang I, yang di integrasikan dengan acuan strategis Polri (Grand Strategi Polri 20052025, Renstra Polri 2010-2014 dan Program Revitalisasi Polri 2010-2013), serta acuan 9 (Sembilan) Program Mikro yang diarahkan dalam Reformasi Birokrasi Nasional seperti yang tertera pada Permen-PAN Nomor 20 tahun 2010. Salah satu program dari 9 (Sembilan) program tersebut adalah Program dan Kegiatan Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik Bidang Polisi Perairan (Polair) dimana pencapaian Program Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik Bidang Polair pada Reformasi Birokrasi Polri gelombang I sebagai berikut :

1.

Polmas Perairan dan Patroli Perairan selama 2010 dapat dilaksanakan walaupun masih terdapat kendala berupa kelengkapan patroli yang kurang memadai dibandingkan dengan luasnya perairan Wilayah Hukum Polda Papua.

2.

Polmas Perairan dan Sambang Nusa selama tahun 2010 belum sepenuhnya dapat dilaksanakan, disebabkan

terdapat kendala-kendala yang tidak mudah untuk diatasi sehingga hanya kampong-kampung tertentu yang berada di pesisir pantai dan perairan saja yang dapat diisi dengan petugas Polmas Perairan dengan mengemban tugas sambang di kampung-kampung tersebut.

Sedangkan Rencana Program Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik Bidang Polair pada Reformasi Birokrasi Polri Gelombang II, salah satunya adalah Kegiatan Standar Pelayanan Publik pada Polair Polda yang termasuk didalamnya adalah Pelayanan Polmas Perairan dan Sambang Nusa ke pulau terluar berpenghuni dimana kriteria keberhasilannya adalah dilihat dari outcomes (hasil) yaitu terselenggaranya pelayanan publik yang lebih cepat, lebih aman, lebih baik dan lebih terjangkau. Polres Fakfak sebagai pelaksana tugas dan wewenang Polri di wilayah Kabupaten Fakfak yang berada di bawah Kapolda Papua (Pasal 1 Perkap No.23 thn 2012) siap untuk melaksanakan Reformasi Birokrasi Polri gelombang II.

B.

Rumusan Masalah dan Persoalan

1.

Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penulisan ini adalah : Belum optimalnya patroli perairan Sat Polair guna pelayanan Polmas Perairan pada masyarakat pesisir demi terpeliharanya kamtibmas di wilayah perairan.

2.

Persoalan

Berdasarkan Rumusan masalah diatas, dapat diuraikan menjadi beberapa persoalan sebagai berikut : a. Kurangnya memadai. b. c. Kurangnya dukungan anggaran. Kurangnya kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki personil. dukungan sarana dan prasarana yang

C.

Ruang Lingkup

Ruang lingkup penulisan ini dibatasi pada upaya optimalisasi patroli perairan Sat Polair yang didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai, anggaran yang tersedia serta kemampuan dan

keterampilan personil guna pelayanan Polmas perairan pada masyarakat pesisir dalam rangka terpeliharanya kamtibmas di wilayah perairan.

D.

Maksud dan Tujuan Maksud dari penulisan naskah ini adalah sebagai persyaratan mengikuti seleksi Sespimmen Polri Dikreg ke-53 TA 2013. Adapun tujuannya adalah memberikan gambaran tentang tugas-tugas patroli perairan Sat Polair dalam fungsi pelayanan Polmas Perairan pada masyarakat pesisir pantai serta hambatan dan peluang yang dihadapi.

E.

Metode dan Pendekatan


1. Metode

Tulisan ini menggunakan metode deskriptif empirik analisis, yaitu dengan menggunakan metode pada kajian kepustakaan untuk

mencoba menggambarkan fakta-fakta dan melakukan kajian yang ada serta berdasarkan pengalaman selama bertugas di Polres Fakfak.
2. Pendekatan

Pendekatan yang digunakan dalam tulisan ini adalah dengan metode kualitatif, yaitu pendekatan yang dilakukan dengan mengkaji data-data yang ada, guna dilakukan pemecahan permasalahan dan dipandu dengan berbagai teori maupun konsep manajemen George R Terry, manajemen strategis, manajemen Stoner dan analisa SWOT

F.

SISTEMATIKA

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

BAB I BAB II

Pendahuluan Landasan Teori

BAB III Kondisi saat ini BAB IV Faktor-faktor yang mempengaruhi BAB V Kondisi yang diharapkan

BAB VI Optimalisasi BAB VII Penutup

G.

Pengertian-pengertian

1.

Optimalisasi

Optimalisasi adalah memaksimalkan tugas, peran dan fungsi Kepolisian khususnya Kepolisian Perairan dalam menjaga keamanan diwilayah perairan dan laut. Wilayah Hukum Polres Fakfak yang mempunyai perairan atau pantai yang sangat luas

tentunya harus dapat memaksimalkan tugas dan peran serta fungsi patroli perairan Sat Polair sehingga dapat menjangkau masyarakat perairan yang ada.

2.

Patroli Perairan

Patroli perairan adalah suatu bentuk patroli yang dilakukan dengan menggunakan kapal besar maupun kapal kecil dimana ruang lingkup wilayahnya adalah daerah perairan atau pantai. Adapun tujuan dilakukannya patroli perairan adalah memberikan rasa aman dan nyaman kepada seluruh pengguna sarana perairan baik warga negara asing maupun warga Negara Indonesia, serta penertiban dan pelaksanaan penegakkan hukum diwilayah perairan dengan menindak tegas setiap pelaku tindak pidana dan memberikan kesadaran akan hukum dalam upaya mengurangi atau bahkan mencegah berkembangnya Police Hazard (PH) menjadi Ancaman Faktual (AF).

3.

Satuan Polisi Perairan

Satpolair merupakan unsur pelaksana tugas pokok yang berada di bawah Kapolres bertugas melaksanakan fungsi kepolisian perairan yang meliputi patroli perairan, penegakkan hukum di perairan, pembinaan masyarakat pantai dan perairan lainnya serta SAR.

Dalam

melaksanakan

tugasnya

Sat

Polair

menyelenggarakan fungsi : a. Melaksanakan patroli, pengawalan, penegakkan hukum di wilayah perairan dan pembinaan masyarakat pantai. b. Pemberian bantuan SAR laut/perairan.

c. d.

Pelaksanaan transportasi kepolisian di perairan. Pemeliharaan dan perbaikan fasilitas serta sarana kapal di lingkungan Polres.

4.

Polmas Perairan

Polmas Perairan adalah suatu pendekatan Polmas yang dilakukan bersama-sama Kepolisian Perairan dengan masyarakat pantai dalam hubungan yang sejajar atau mitra untuk mencegah dan sebagai pemecahan masalah (Problem Solving) terhadap permasalahan kamtibmas dan masalah sosial yang terjadi di daerah perairan atau pantai dengan mengidentifikasikan akar masalah, menganalisa dan memprioritaskan tindakan serta mengevaluasi tindakan yang telah diambil.

5.

Masyarakat Pesisir

Masyarakat Pesisir adalah suatu komunitas masyarakat lokal atau tradisional yang menetap atau tinggal di pesisir pantai sejak turun temurun dimana mata pencahariannya adalah nelayan pencari ikan. Wilayah Kab Fakfak yang sebagian besar terdiri dari perairan dibandingkan dengan daratan telah terbentuk suatu komunitas masyarakat pesisir yang hidup dan tinggal di sepanjang pantai. Masyarakat pantai kebanyakan menganut agama Islam sedangkan yang di pegunungan mereka menganut agama Kristen. Tetapi walau masyarakat Fakfak ada yang hidup dan tinggal dipantai dan pegunungan mereka menganut suatu filosofi dan adat budaya yang di kenal sebagai Satu Tungku Tiga Batu yang artinya adalah walaupun terpisah oleh letak geografis yang ada tetapi masyarakat Fakfak yang terdiri dari agama Islam,

Kristen

Protestan

dan

Kristen

Katolik

tetap

hidup

rukun

bersaudara satu sama lain.

6.

Keamanan dan Ketertiban Masyarakat Keamanan dan Ketertiban Masyarakat adalah suatu kondisi dinamis masyarakat sebagai salah satu prasyarat terselenggaranya proses pembangunan nasional dalam rangka tercapainya tujuan nasional yang ditandai oleh terjaminnya keamanan, ketertiban dan tegaknya hukum serta terbinanya ketenteraman yang mengandung kemampuan membina serta mengembangkan menangkal, potensi dan dan kekuatan masyarakat segala dalam bentuk

mencegah

menanggulangi

pelanggaran hukum dan bentuk-bentuk gangguan lainnya yang dapat meresahkan masyarakat

BAB II LANDASAN TEORI

10

A.

Konsep Analisa SWOT

Pengertian analisis SWOT oleh Albert Humphrey pada masa dasawarsa 1960-1970 adalah metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan

(weakness), peluang (opportunities) dan ancaman (threats) dalam suatu proyek atau spekulasi bisnis.

Empat faktor tersebut yang membentuk akronim SWOT. Analisis ini dapat ditetapkan dengan cara menganalisa dan memilah berbagai hal yang mempengaruhi keempat faktornya kemudian menerapkannya. Dimana pengaplikasiannya adalah bagaimana kekuatan (S) mampu mengambil keuntungan dari (O) yang ada, bagaimana mengatasi kelemahan (W) yang mencegah keuntungan dari peluang yang ada, selanjutnya bagaimana kekuatan (S) mampu menghadapi ancaman yang ada.

1.

Strengths (kekuatan) merupakan kondisi kekuatan yang terdapat dalam organisasi. Kekuatan yang dianalisis merupakan faktor yang terdapat dalam tubuh organisasi.

2.

Weakness (kelemahan) merupakan kondisi kelemahan yang terdapat dalam organisasi. Kelemahan yang dianalisis merupakan faktor yang terdapat dalam tubuh organisasi.

3.

Opportunities (peluang) merupakan kondisi peluang berkembang di masa datang yang terjadi. Kondisi yang terjadi merupakan peluang dari luar organisasi, misalnya kompetitor, kebijakan pemerintah, kondisi lingkungan sekitar.

4.

Threats (ancaman) merupakan kondisi yang mengancam dari luar. Ancaman ini dapat mengganggu organisasi.

11

Berdasarkan teori analisis SWOT diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Sat Polair dengan kekuatan yang ada mampu mengambil suatu keuntungan dari peluang yang ada untuk mengatasi kelemahankelemahan sehingga dapat menghadapi ancaman yang akan timbul.

B.

Teori Manajemen Stoner

Menurut sebagai :

Stoner

mengemukakan adalah

suatu

definisi

manajemen perencanaan,

Manajemen

suatu

proses

pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan, usaha-usaha para organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Pada dasarnya manajemen menentukan, merupakan kerjasama dengan dan orang-orang untuk

menginterprestasikan

mencapai

tujuan-tujuan

organisasi dengan melaksanakan fungsi-fungsi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating) dan pengawasan (controling).

Unsur-unsur manajemen terdiri dari : (a) Man, merupakan faktor manusia/SDM adalah yang paling menentukan dan untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia maka dibutuhkan adanya pembinaan melalui pendidikan dan pelatihan yang optimal; (b) Money, merupakan alat yang penting untuk mencapai tujuan karena segala sesuatu harus diperhitungkan secara rasional. Hal ini akan berhubungan dengan kecukupan anggaran yang harus disediakan untuk membiayai kegiatan organisasi; (c) Materials, merupakan fasilitas dan sarana prasarana yang dapat mendukung dalam pencapaian tujuan organisasi dan (d) Methods, merupakan unsur penting bagi organisasi bagaimana cara pencapaian tujuan (proses) dan hasil yang dicapai.

12

Berdasarkan Teori manajemen diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk mencapai tujuan-tujuan suatu organisasi dalam hal ini Sat Polair harus melalui suatu proses perencanaan yang matang,

pengorganisasian yang kuat, pelaksanaan yang tertib dan pengawasan yang melekat dengan didukung oleh unsur-unsur sumber daya

manusianya, anggaran yang rasional, sarana prasarana yang memadai dan metode atau cara yang tepat.

C.

Teori Manajemen George R Terry

George R Terry mendefinisikan manajemen dalam buku nya Principles Of Managemen yaitu Suatu proses yang membedakan atas perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan dan pengawasan dengan memanfaatkan baik ilmu maupun seni demi mencapai tujuan tertentu yang telah di tetapkan sebelumnya.

Dari definisi Terry itulah kita bisa melihat fungsi manajemen sebagai berikut : 1. Perencanaan (Planning) yaitu sebagai dasar pemikiran dari tujuan dan penyusunan langkah-langkah yang dipakai untuk mencapai tujuan. Merencanakan berarti mempersiapkan segala kebutuhan, memperhitungkan matang-matang apa saja yang menjadi kendala dan merumuskan bentuk pelaksanaan kegiatan yang bermaksud mencapai tujuan. 2. Pengorganisasian (Organization) yaitu sebagai cara untuk

mengumpulkan orang-orang dan menempatkan mereka menurut kemampuan dan keahliannya dalam pekerjaan yang sudah direncanakan. 3. Penggerakkan (Actuating) yaitu untuk menggerakkan organisasi agar berjalan sesuai dengan pembagian kerja masing-masing

13

serta menggerakkan seluruh sumber daya yang ada dalam organisasi agar pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan bisa berjalan sesuai dengan rencana dan bisa mencapai tujuan. 4. Pengawasan (Controlling) yaitu untuk mengawasi apakah gerakan dari organisasi ini sudah sesuai dengan rencana atau belum. Serta mengawasi penggunaan sumber daya dalam organisasi agar bisa terpakai secara efektif dan efisien tanpa ada yang melenceng dari rencana.

Hakikat dan fungsi manajemen dari George R Terry adalah apa yang direncanakan itu akan tercapai. Maka itu fungsi perencanaan harus dilakukan sebaik mungkin agar dalam proses pelaksanaanya bisa berjalan dengan baik serta segala kekurangan bisa diatasi, sebelum kita melakukan perencanaan ada baiknya merumuskan tujan yang akan dicapai.

Berdasarkan teori manajemen diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi dalam hal ini Sat Polair harus dapat merumuskan tujuan yang akan dicapai kemudian di rencanakan sebaik mungkin sehingga akan dapat diketahui sejauhmana hasil yang diperoleh serta kendala-kendala yang di hadapi di lapangan.

D.

Teori Manajemen Strategi Pearch dan Robinson

Manajemen Strategis merupakan proses atau rangkaian kegiatan pengambilan keputusan yang bersifat mendasar dan menyeluruh disertai penetapan cara melaksanakannya yang di buat oleh pimpinan dan di implementasikan oleh seluruh jajaran di dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuan.

14

Menurut

Pearch

dan

Robinson

(1997)

dikatakan

bahwa

Manajemen Stratejik adalah kumpulan dan tindakan yang menghasilkan Perumusan (formulasi) dan Pelaksanaan (implementasi) rencana-rencana yang di rancang untuk mencapai sasaran-sasaran organisasi.

Menurut

Nawawi

pengertian

Manajemen

Strategis

adalah

perencanaan berskala besar (Perencanaan Strategi) yang berorientasi pada jangkauan masa depan yang jauh (Visi) dan ditetapkan sebagai keputusan pimpinan tertinggi (keputusan yang bersifat mendasar dan prinsipil) agar memungkinkan organisasi berinteraksi secara efektif (Misi) dalam usaha menghasilkan sesuatu (Perencanaan Operasional) yang berkualitas dengan diarahkan pada optimaslisasi pencapaian tujuan (Tujuan Strategis) dan berbagai sasaran (Tujuan Operasional) organisasi.

Berdasarkan beberapa teori diatas dapat di tarik kesimpulan bahwa untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi Polres Fakfak harus mempunyai orientasi yang jangkauannya jauh ke masa depan (Visi) dan ditetapkan sebagai keputusan yang bersifat mendasar dan prinsipil sehingga organisasi dapat berinteraksi secara efektif (Misi) khususnya dalam organisasi Satuan Polisi Perairan (Sat Polair) Polres Fakfak.

E.

Tugas dan Fungsi Sat Polair

Berdasarkan Pasal 67 Peraturan Kapolri Nomor : 23 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja pada tingkat Kepolisian Resort dan Kepolisian Sektor dinyatakan bahwa tugas pokok fungsi Sat Polair adalah melaksanakan fungsi Kepolisian Perairan yang meliputi patroli perairan, penegakkan hukum di perairan, pembinaan masyarakat pantai dan perairan lainnya dan SAR.

15

Adapun Sat Polair Menyelenggarakan fungsi sebagai berikut :

1.

Pelaksanaan patroli, pengawalan penegakkan hukum diwilayah perairan dan pembinaan masyarakat pantai di daerah hukum polres.

2. 3. 4.

Pemberian bantuan SAR di laut/perairan Pelaksanaan transportasi kepolisian di perairan. Pemeliharaan dan perbaikan fasilitas serta sarana kapal di lingkungan polres.

Berdasarkan tugas pokok dan fungsi Sat Polair diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa selain melaksanakan patroli perairan Sat Polair juga melaksanakan pembinaan masyarakat pantai dimana pembinaan ini dilakukan melalui pendekatan Polmas yaitu Polri dan masyarakat adalah mitra sehingga kedudukannya sejajar atau setara dan secara bersamasama dapat mencegah atau sbg pemecahan masalah (problem solving) bila didapati adanya suatu permasalahan kamtibmas atau masalah sosial.

F.

Tujuan, Strategi dan Metode Polmas

Berdasarkan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia No.7 tahun 2008 tentang Pedoman Dasar Strategi dan Implementasi Pemolisian Masyarakat dalam Penyelenggaraan Tugas Polri maka Tujuan Polmas adalah terwujudnya kemitraan polisi dan masyarakat yang didasari kesadaran bersama dalam rangka

menanggulangi permasalahan yang dapat mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat guna menciptakan rasa aman, tertib dan tentram serta meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.

16

Strategi Polmas adalah terwujudnya kemitraan Polri dengan warga masyarakat yang mampu mengidentifikasi akar permasalahan,

menganalisa, menetapkan prioritas tindakan, mengevaluasi efektivitas tindakan dalam rangka memelihara keamanan, ketertiban dan

ketentraman masyarakat serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Metode Polmas adalah melalui penyelenggaraan kemitraan antara Polri dengan warga masyarakat yang didasari prinsip kesetaraan guna membangun kepercayaan warga masyarakat terhadap Polri sehingga terwujud kebersamaan dalam rangka memahami masalah kamtibmas dan masalah sosial, menganalisis masalah, mengusulkan alternatif-alternatif solusi yang tepat dalam rangka menciptakan rasa aman, tentram dan ketertiban (tidak hanya berdasarkan pada hukum pidana dan

penangkapan), melakukan evaluasi serta evaluasi ulang terhadap efektifitas solusi yang dipilih.

Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa strategi Polmas yang harus di lakukan Sat Polair adalah bahwa bersama-sama dengan masyarakat pesisir dapat mengidentifikasikan permasalahan yang timbul lalu dianalisa penyebab dan jalan keluarnya kemudian ditentukan prioritas tindakan atau langkah-langkah seperti apa yang harus diambil kemudian dilakukan evaluasi hasil yang telah dicapai.

BAB III KONDISI SAAT INI

17

Dengan kondisi wilayah hukum Polres Fakfak yang sebagian besar terdiri dari perairan dan pantai maka terbentuklah suatu komunitas tradisional atau lokal yang tinggal dan menetap di pesisir pantai secara turun-temurun dengan mencari nafkah sebagai nelayan, masyarakat inilah yang dinamakan sebagai Masyarakat Pesisir. Sebagai masyarakat pesisir harus diberlakukan sama dalam hukum sebagaimana dengan masyarakat di pegunungan atau masyarakat perkotaan. Harus diperlakukan sama dalam hukum adalah mereka juga berhak untuk mendapatkan suatu rasa tentram yang diwujudkan dengan situasi dan kondisi kamtibmas yang aman dan kondusif selain itu mereka juga berhak menerima suatu perlindungan, pengayoman dan pelayanan sekaligus penegakkan hukum.

Polres Fakfak yang dalam struktur organisasi dan tata kerja nya terdapat Satuan Polair (Perkap No.23 tahun 2010) yang salah satu tugas pokok dan fungsinya adalah melaksanakan patroli perairan dan pembinaan terhadap masyarakat pantai, Oleh karena itu Sat Polair harus dapat menyentuh kepada masyarakat pesisir untuk dapat memberikan rasa aman, dan nyaman dalam suatu wujud melindungi, mengayomi dan melayani terhadap permasalahan yang timbul.

Pendekatan dan pembinaan terhadap masyarakat pesisir dilakukan dengan cara atau metode Polmas yaitu Polri dengan masyarakat harus bermitra dengan kedudukan yang sejajar dan setara bersama-sama

memahami masalah kamtibmas dan masalah sosial ada, menganalisis masalah dan mencari solusi yang tepat dalam rangka menciptakan rasa aman dan tentram sehingga sasaran strategi Polmas dapat tercapai yaitu meningkatnya kemampuan masyarakat untuk mengatasi setiap permasalahan yang ada dengan cara yang tidak melanggar hukum, meningkatnya kesadaran hukum masyarakat, meningkatnya partisipasi masyarakat dalam menciptakan kamtibmas di lingkungannya masing-masing dan menurunnya peristiwa yang dapat mengganggu keamanan, ketertiban dan ketentraman masyarakat pesisir.

/_menunjukan.

18

Untuk itu Sat Polair dituntut senantiasa dapat meningkatkan kemampuannya dalam melaksanakan patroli perairan dengan didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai, anggaran yang cukup, kemampuan dan ketrampilan personil. Namun kondisi yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa kemampuan Sat Polair dalam melaksanakan tugas dan fungsinya masih belum optimal sebagai akibat masih adanya keterbatasan dan kelemahan sebagaimana akan diuraikan sebagai berikut :

A.

Kurangnya dukungan sarana dan prasarana yang memadai

Wilayah Hukum Polres Fakfak dengan luas 14.320 KM2 yang terdiri dari daratan, pegunungan, perairan dan lautan. Untuk menjangkau wilayah perairan yang begitu luas Sat Polair harus menempuh dengan cara melakukan patroli perairan dimana pelaksanaannya dilakukan secara kontinyu dan berkesinambungan sehingga dapat menjangkau seluruh wilayah perairan Fakfak. Keberhasilan pelaksanaan tugas patroli perairan Sat Polair Polres Fakfak juga tentunya harus didukung oleh ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi perairan Fakfak maupun kebutuhan operasional.

Namun kondisi yang ada saat ini menunjukkan bahwa kegiatan patroli perairan tersebut belum dapat secara optimal dilaksanakan. Hal tersebut dapat dilihat dari sarana dan prasarana yang kurang memadai dan pelaksanaan patroli yang belum intensif sebagai berikut :

1.

Masih kurang intensif nya kegiatan patroli perairan. Hal ini dapat dilihat dari pelaksanaan patroli yang dilaksanakan 1x/bulan sehingga belum menjangkau seluruh wilayah perairan.

19

2.

Mesin kapal yang dalam keadaan rusak. Saat ini Sat Polair Polres Fakfak mempunyai 2 unit alat apung Polsek/speedboat dengan perincian sebagai berikut :

a.

Rincian Data KP.039 KP.Tipe C2 N0.39 : Panjang 11 m, Lebar 3,10 m, Tinggi 2,75 m Material : Fiber

Tangki BBM (Premium) : 600 liter Tangki Air Balance Jumlah Muatan Engine Kecepatan : 400 liter : 8 personil : 150 HP 2 tak Yamaha 2 unit : max 25 knot

b.

Rincian Data KP.EGA 01 KP.Tipe C3 : Panjang 6 m, Lebar 1,50 m, Tinggi 1,75 m Material : Fiber

Tangki BBM (Premium) : 300 liter Tangki Air Balance Jumlah Muatan Engine Kecepatan :: 6 Personil : 40 HP Yamaha 2 unit : Max 17 knot

Kondisi mesin tempel 150 HP di kapal C2 sedang dalam keadaan rusak dan masih dalam perbaikan di Sorong kemudian silinder dan piston dalam keadaan rusak sehingga oli tidak naik ke mesin mengakibatkan mesin menjadi panas. Kedudukan bodi mesin pada kapal C3 sudah dalam keadaan lapuk sehingga apabila datang ombak bodi mesin bisa jatuh ke laut. Kondisi mesin yang dalam keadaan rusak berimplikasi pada pelaksanaan tugas patroli yang

20

tidak dapat berjalan dengan baik sehingga pelayanan pada masyarakat pesisir melalui pendekatan Polmas belum tercapai.

3.

Minimnya persediaan bahan bakar. Sat Polair setiap melakukan patroli perairan membutuhkan bahan bakar premium sebanyak 800 liter untuk jarak tempuh sejauh 12 mil (pp), sedangkan jatah premium yang diterima adalah 200 liter/triwulan (Tahun 2012). Hal ini mengakibatkan intensitas patroli perairan menjadi tidak efektif sehingga pelaksanaan nya tidak berjalan secara kontinyu dan berkesinambungan.

4.

Tidak mempunyai baju pelampung, kotak P3K dan tabung pemadam kebakaran sehingga dapat membahayakan anggota pada saat menjalankan tugas patroli. Baju pelampung merupakan syarat keselamatan bagi penumpang kapal agar tidak tenggelam sedangkan kotak P3K dipakai apabila ada anggota yang terluka serta tabung pemadam kebakaran untuk mencegah terjadinya kebakaran di kapal.

B.

Kurangnya dukungan anggaran

Kondisi yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa ketersediaan anggaran yang di alokasikan untuk mendukung kegiatan Sat Polair Polres Fakfak masih belum memadai. Berdasarkan data yang ada anggaran TA 2012 yang dialokasikan untuk mendukung pelaksanaan program dan kegiatan satuan Polair adalah masuk pada Mata Anggaran Belanja Biaya Pemeliharaan Peralatan dan Mesin

(KPPN.067-FAKFAK) dalam sub kegiatan PERAWATAN ALAT APUNG untuk Perahu Karet/Mesin Tempel (20-40 PK) 1 unit sebesar Rp 5.000.000,- (Lima Juta rupiah).

21

Hal ini dapat dilihat dari gambaran Kertas Kerja RKA-KL Rencana Kerja Satuan Kerja Tahun Anggaran 2012 sebagai berikut :
KERTAS KERJA RKA-KL RINCIAN BELANJA SATUAN KERJA TAHUN ANGGARAN 2012

KEMEN/LEMB UNIT ORG PROGRAM

: (060) : (01)

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

: (060.01.01) PROG DUK MANAJEMEN DAN LAKS TUGAS TEKNIS POLRES FAKFAK PAPUA BARAT KAB FAKFAK

SATUAN KERJA : (647707) PROPINSI LOKASI : (33) : (03)

KODE

PROGRAM/KEGIATAN

PERHITUNGAN TAHUN 2012

SD/CP

ALOKASI 2011

1. 523111

2. HARWAT GEDUNG DAN BANGUNAN

3.

4.

5.

6.

7.

523121

BELANJA BIAYA PEMELIHARAAN PERALATAN DAN MESIN (KPPN.067FAKFAK)


PERAWATAN ALAT APUNG Perahu karet/Mesin tempel (20-40 PK)

1 UNIT

5.000.000

5.000.000

Dukungan anggaran pada tahun 2013 juga tidak jauh berbeda dengan kondisi tahun 2012 yaitu berdasarkan data yang ada anggaran TA 2013 yang dialokasikan untuk mendukung pelaksanaan program dan kegiatan satuan Polair adalah masuk pada Mata Anggaran Belanja Biaya Pemeliharaan Peralatan dan Mesin (KPPN.067-FAKFAK) dalam

22

sub kegiatan PERAWATAN ALAT APUNG untuk Perahu Karet/Mesin Tempel (20-40 PK) 1 unit sebesar Rp 5.000.000,- (Lima Juta rupiah).

Hal ini dapat dilihat dari gambaran Kertas Kerja RKA-KL Rencana Kinerja Satuan Kerja Tahun Anggaran 2013 sebagai berikut :
KERTAS KERJA RKA-KL RINCIAN BELANJA SATUAN KERJA TAHUN ANGGARAN 2013

KEMEN/LEMB UNIT ORG PROGRAM

: (060) : (01)

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

: (060.01.01) PROG DUK MANAJEMEN DAN LAKS TUGAS TEKNIS POLRES FAKFAK PAPUA BARAT KAB FAKFAK

SATUAN KERJA : (647707) PROPINSI LOKASI : (33) : (03)

KODE

PROGRAM/KEGIATAN

PERHITUNGAN TAHUN 2013

SD/CP

ALOKASI 2011

1. AP 52

2. HARWAT GEDUNG DAN BANGUNAN

3.

4.

5.

6.

7.

AX 52

BELANJA BIAYA PEMELIHARAAN PERALATAN DAN MESIN (KPPN.067FAKFAK)


PERAWATAN ALAT APUNG Perahu karet/Mesin tempel (20-40 PK)

1 UNIT

5.000.000

5.000.000

C.

Sumber Daya Manusia

23

Unsur-unsur

manajemen

menurut

Stoner

bahwa

Man,

merupakan faktor manusia/SDM adalah yang paling menentukan dalam pelaksanaan tugas dan untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia maka dibutuhkan adanya pembinaan melalui pendidikan dan pelatihan yang optimal.

Adapun data personil Sat Polair Polres Fakfak yang ada saat ini adalah sbb :

NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

NAMA DANIEL METELMETY ROBERT SUPARI LA HANIFU IRMAN BAUW YUSUF FAIDIBAN YARIUS ASYEREM M. AQSA A M. SALIM

PANGKAT AKP AIPDA BRIPKA BRIGPOL BRIGPOL BRIGPOL BRIPTU BRIPTU BRIPTU BRIPTU BRIPTU BRIPTU BRIPTU

JABATAN KASAT POLAIR KAURMINTU KANIT GAKKUM KANIT PATROLI BA SATPOLAIR BA SATPOLAIR BA SATPOLAIR BA SATPOLAIR BA SATPOLAIR BA SATPOLAIR BA SATPOLAIR BA SATPOLAIR BA SATPOLAIR

DIKJUR DIKBANG SAR DAS BA INTEL DIKBANG SAR DASBA POL AIR -

ELVARI YUWONO 10. ARISMAN 11. NUZUL AMIRUDIN 12. VIJAY SIMBIAK 13. AGUSTINUS MEKEN

24

14. RINTO MAMI 15. IZAK PALEDUNG 16. MUSLIADI 17. DEVI RAHMAN 18. HAFANDI UMABAIHI 19. NURDIN 20. SANTOSO

BRIPTU BRIPTU BRIPTU BRIPTU BRIPTU BRIPTU BRIPDA

BA SATPOLAIR BA SATPOLAIR BA SATPOLAIR BA SATPOLAIR BA SATPOLAIR BA SATPOLAIR BA SATPOLAIR

DASBA POL AIR DASBA POLAIR DASBA POLAIR DASBA POLAIR DASBA POLAIR DASBA POLAIR

1.

Aspek Kualitas

Dilihat dari aspek kualitas, maka personil yang ada belum memiliki kompetensi/skill. Pengetahuan dan keterampilan mutlak harus dimiliki oleh seorang anggota Polri terutama anggota Sat Polair dalam mendukung setiap tugas-tugasnya baik mengenai masalah patroli pantai terutama dalam hal pemeliharaan, perawatan dan penggunaan kapal speedboat serta dalam hal kemitraan kepada masyarakat pantai melalui pendekatan Polmas.

a.

Perpolisian Masyarakat (Community Policing)

Salah satu tugas pokok dan fungsi Sat Polair selain melaksanakan patoli perairan adalah pembinaan terhadap masyarakat pantai atau pesisir. Pembinaan terhadap

masyarakat pesisir dilakukan dengan pola pendekatan Polmas, dimana Polri dan masyarakat pesisir bermitra sejajar dan setara

25

guna mencegah adanya suatu permasalahan kamtibmas dan masalah sosial serta dicarikan jalan pemecahannya (problem solving) dengan cara mengidentifikasi permasalahan,

menganalisa masalah, merumuskan tindakan dan mengevaluasi tindakan yang telah diambil.

Dengan melakukan pola pendekatan Polmas tersebut dituntut kemampuan personil untuk dapat menerapkan dan mengimplementasikannya dalam suatu bentuk tindakan nyata. Namun kondisi saat ini dilihat dari data personil yang ada menunjukkan bahwa personil belum ada yang mengikuti pendidikan pengembangan Polmas hal ini mengakibatkan masih belum menguasai dan belum terampil dalam menerapkan tindakannya sesuai dengan pola pendekatan Polmas sehingga belum terjalin suatu kemitraan antara Sat Polair dengan masyarakat pesisir.

b.

Pendidikan Pengembangan Pol Air

Dilihat dari data personil yang ada dari 20 personil baru 7 personil yang mempunyai kejuruan Pol Air. Sehingga banyak anggota belum memahami tugas pokoknya. Selain itu dapat dilihat bahwa belum ada anggota yang menguasi pemeliharaan dan perawatan mesin sehingga kondisi mesin dalam keadaan rusak. Mesin sebagai penggerak kapal harus dilakukan

pemeliharaan dan perawatan yang baik oleh anggota yang menguasai di bidangnya agar dapat dipakai apabila akan melakukan suatu tugas patroli perairan.

2.

Aspek Kuantitas

26

Ditinjau dari aspek kuantitas dapat dilihat dari data personil yang ada maka jumlah personil sebanyak 20 anggota dirasa kurang dibandingkan dengan jumlah perkampungan/desa pesisir yang terbentang di sepanjang pantai mulai dari Tomage sampai karas pulau tiga bila hal ini dilihat dari kebijakan pimpinan yang menargetkan bahwa satu desa satu personil sebagai petugas Polmas.

D.

Metode yang digunakan

1.

Kordinasi dan Kerjasama

Sebagaimana diketahui bahwa Polri dalam melaksanakan tugas pokoknya melibatkan beberapa instansi, tidak terkecuali Polres Fakfak dalam hal ini Sat Polair dalam pelaksanaan tugasnya melakukan patroli perairan selalu kordinasi dan kerjasama dengan instansi KPLP, Dinas Kelautan dan Perikanan Kab Fakfak dan Pos TNI AL. Tetapi sistem dan metode kerjasama dan kordinasi yang harusnya berjalan baik dirasa masih kurang terlaksana, sehingga kegiatan patroli bersama tidak berjalan maksimal. Hal ini dapat dilihat sebagai berikut :

a.

Masing-masing

institusi

masih

kurang

kordinasi

dalam

pelaksanaan patroli pantai bersama. Masing-masing bekerja sendiri-sendiri tanpa melakukan kordinasi satu dengan yang lainnya. b. c. Kurang memberikan atau bertukar informasi. Masih timbul ego sektoral dimana masing-masing institusi merasa paling berhak untuk melakukan patroli. d. Tidak pernah melakukan rapat kordinasi antar instansi.

27

2.

Sosialisasi

Sebagai syarat agar dapat membangkitkan dan mengembangkan kesadaran warga masyarakat pesisir untuk bermitra dengan Polisi, maka diperlukan adanya suatu sosialisasi. Sosialisasi sangat penting dilakukan dalam upaya membangun kepercayaan masyarakat terhadap Polisi yang menjadi prioritas dalam pendekatan tugas kepolisian karena timbulnya kepercayaan masyarakat terhadap Polisi merupakan kunci pokok keberhasilan Polmas.

Sosialisasi diberikan karena mendasari adanya pemahaman bahwa masyarakat bukan merupakan obyek pembinaan dari petugas yang berperan sebagai subjek penyelenggara keamanan melainkan masyarakat harus menjadi subjek dan mitra yang aktif dalam memelihara keamanan dan ketertiban lingkungannya.

Sosialisasi juga perlu dilakukan karena mendasari adanya pemahaman bahwa penyelenggaraan keamanan tidak akan berhasil bila hanya ditumpukan kepada keaktifan petugas Polisi semata, melainkan harus lebih ditumpukan kepada kemitraan petugas dengan masyarakat pesisir yang bersama-sama aktif mengatasi permasalahan

lingkungannya.

Oleh karena belum dilakukannya sosialisasi maka pendekatan kemitraan kepada masyarakat pesisir melalui pendekatan Polmas akan mengalami kendala mengakibatkan masyarakat belum bisa menerima akan kehadiran anggota polisi di tengah-tengah masyarakat.

3.

Pelaksanaan Patroli

28

Untuk dapat menjangkau wilayah perairan Kab Fakfak yang sangat luas di perlukan suatu kegiatan patroli perairan yang dilakukan secara kontinyu dan berkesinambungan. Patroli perairan ini minimal akan mencapai sasaran apabila telah menyentuh pada kampungkampung yang berada dipesisir pantai. Namun bila dilihat dari kondisi yang ada dimana pelaksanaan patroli hanya dilakukan sebanyak satu kali satu bulan, maka hal ini dianggap tidak efektif dan diperlukan suatu perencanaan yang matang agar pelaksanaan petroli dapat berjalan secara efektif dan tepat sasaran.

BAB IV FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

A.

Faktor Internal

29

1.

Kekuatan (Strength)

a.

Adanya keinginan yang kuat dari Kapolres Fakfak untuk meningkatkan kualitas anggota khususnya untuk mengikuti Pendidikan Kejuruan Sat Polair, Polmas, Pemeliharaan dan Perawatan Mesin serta Perkapalan. Hal ini dapat dilihat dari dikirimnya anggota untuk mengikuti kejuruan tersebut.

b.

Kebijakan pimpinan mengenai dukungan dalam pelaksanaan tugas patroli perairan yang salah satunya adalah untuk mewujudkan pembinaan masyarakat pesisir atau pantai yaitu dengan memberikan sarana dan prasarana yang memadai, anggaran yang cukup serta pendidikan dan pembinaan kepada anggota.

c.

Adanya program Pendidikan Kejuruan dari Mabes Polri untuk tahun 2013 yaitu Dikjur Bintara SAR, Dikjur Bintara Komlek Kapal, Dikjur Bintara Pemeliharaan dan Perawatan Kapal serta Dikjur Dasar Bintara Pol Air termasuk juga Polmas.

2.

Kelemahan (Weakness)

a.

Kurangnya kemampuan untuk berkoordinasi dan kerjasama dengan KPLP, Dinas Kelautan dan Perikanan Kab Fakfak dan Pos Angkatan Laut untuk melakukan patroli perairan bersama.

b.

Kurangnya pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki anggota dalam bidang Polmas, Pemeliharaan dan Perawatan Mesin serta Perkapalan.

30

c.

Kurangnya jumlah personil untuk memenuhi target satu kampung satu petugas Polmas.

d.

Sarana dan prasarana yang kurang memadai serta anggaran yang kurang mendukung.

e.

Tidak adanya dikjur Pemeliharaan dan Perawatan Mesin Kapal untuk tahun 2013.

B.

Faktor Eksternal

1.

Peluang (Opportunities)

a.

Adanya dukungan dan perhatian yang besar dari para tokoh lembaga adat dan Pemerintah Daerah.

b.

Adanya Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Fakfak, KPLP Pelabuhan Fakfak dan Pos Angkatan Laut yang dapat

mendukung dalam setiap pelaksanaan tugas dalam bentuk kerjasama patroli perairan gabungan dengan Sat Polair sehingga lebih efisien dan lebih efektif.

c.

Banyaknya masyarakat pesisir yang ada di kab fakfak yang dapat menjadi kekuatan dalam menciptakan situasi yang aman dan kondusif terutama sebagai basis deteksi dini dan peringatan dini terhadap setiap terjadinya pelanggaran dan tindak pidana yang terjadi di perairan.

2.

Ancaman/kendala (Threats).

31

a.

Masih adanya ego sektoral dimana masing-masing merasa yang paling berhak untuk melakukan patroli pantai sehingga sulit untuk dilakukan koordinasi dan kerjasama yang baik.

b.

Masih adanya sebagian masyarakat pesisir pantai yang belum memahami masalah Polmas dan Forum Kemitraan PolisiMasyarakat (FKPM), berakibat belum dapat menerima kehadiran anggota Polmas di tengah-tengah masyarakat.

BAB V KONDISI YANG DIHARAPKAN

A.

Meningkatnya dukungan sarana dan prasarana

32

Ketersediaan dukungan sarana dan prasarana yang memadai dan pelaksanaan patroli yang dapat berjalan secara terencana dan efektif sedikit banyak akan mempengaruhi keberhasilan tugas

operasional Satuan Polair Polres Fakfak. Sehubungan dengan hal tersebut maka peningkatan dukungan sarana dan prasarana yang diharapkan dapat mendukung tugas Pol Air dapat dilihat dari adanya indikator-indikator sebagai berikut :

1.

Meningkatnya kegiatan patroli perairan. Pelaksanaan patroli yang dilakukan satu kali satu bulan dianggap kurang efektif, maka diharapkan pelaksanaan patroli perairan dilaksanakan selama tiga kali satu bulan yang tentunya hal ini lebih efektif karena dapat menyentuh sasaran di masyarakat kampung pesisir pantai.

2.

Tersedianya mesin kapal yang dalam keadaan baik. Kondisi mesin kapal yang saat ini dalam keadaan rusak diharapkan dapat diganti dengan mesin yang baru, tentunya dalam hal ini dilihat dari skala prioritas sesuai dengan kebutuhan anggaran yang ada.

3.

Tersedianya bahan bakar yang cukup. Sat Polair setiap melakukan patroli perairan membutuhkan bahan bakar premium sebanyak 800 liter untuk jarak tempuh sejauh 12 mil (pp), sedangkan jatah premium yang diterima adalah 200 liter/triwulan. Dengan meningkatnya intensitas pelaksanaan patroli maka diharapkan kebutuhan stok atau ketersediaan bahan bakar juga di tambah. Pelaksanaan patroli yang dilakukan sebanyak tiga kali satu bulan maka dibutuhkan bahan bakar premium sebanyak 800 liter x 3 kali patroli adalah 2400 liter untuk jarak tempuh 36 mil (pp).

33

4.

Tersedianya baju pelampung, kotak P3K serta tabung pemadam kebakaran.

B.

Meningkatnya dukungan anggaran

Mengingat pentingnya dukungan anggaran dalam mendukung pelaksanaan tugas operasional Sat Polair, maka anggaran yang ada saat ini harus ditingkatkan. Berdasarkan data yang ada anggaran untuk mendukung pelaksanaan program dan kegiatan Sat Polair masuk pada Mata Anggaran Belanja Biaya Pemeliharaan dan Mesin dalam sub kegiatan Perawatan Alat Apung untuk Perahu Karet/Mesin Tempel (2040 PK) 1 unit sebesar Rp 5.000,000,- (Lima Juta Rupiah).

Melihat

kenyataan

yang

ada,

maka

diharapkan

adanya

peningkatan dalam hal dukungan anggaran. Untuk Sat Polair selain Mata Anggaran Belanja Biaya Pemeliharaan dan Mesin diharapkan ada Mata Anggaran Belanja Barang Operasional Lainnya.

Adapun peningkatan anggaran yang diharapkan dapat masuk pada Mata Anggaran Belanja Barang Operasional Lainnya adalah sebagai berikut :

1.

Kegiatan Binluh (Pembinaan dan Penyuluhan) selama satu tahun yaitu : 6 org x Rp 25.000,- x 3 patroli x 12 bulan sebesar Rp 5.400.000,- (Lima Juta Empat Ratus Ribu Rupiah).

2.

Menyelenggarakan patroli laut (uang saku) selama satu tahun yaitu : 6 org x Rp 18.000,- x 7 hari x 3 patroli x 12 bulan sebesar Rp 27.216.000,- (Dua Puluh Tujuh Juta Dua Ratus Enam Belas Ribu Rupiah).

34

3.

Dukungan Operasional Patroli untuk bahan bakar premium selama satu tahun yaitu : Rp 4.500,- x 800 liter x 3 patroli x 12 bulan sebesar Rp 129.600.000,- (Seratus Dua Puluh Sembilan Juta Enam Ratus Ribu Rupiah).

C.

Sumber Daya Manusia

Kondisi Sumber Daya Manusia yang bertugas di jajaran Polres Fakfak khususnya Sat Polair dalam mendukung setiap pelaksanaan tugasnya haruslah memadai baik dari aspek kualitas maupun kuantitas, dengan gambaran sebagi berikut :

1.

Kualitas

a.

Perpolisian Masyarakat

Salah satu faktor penentu keberhasilan pelaksanaan pembinaan terhadap masyarakat pesisir dengan menggunakan pola pendekatan Polmas adalah terciptanya hubungan yang sejajar atau setara antara Sat Polair dengan masyarakat pesisir guna mencegah timbulnya suatu permasalahan kamtibmas dan sosial didaerah pesisir serta sebagai pemecahan masalah (problem solving).

Sehubungan dengan hal tersebut, maka di harapkan agar personil Sat Polair Polres Fakfak memiliki kemampuan dan keterampilan yang memadai mengenai Perpolisian Masyarakat (Polmas),

sebagaimana yang tergambar dari adanya indikator-indikator sebagai berikut :

35

1.

Memiliki

keterampilan

berkomunikasi

(kemampuan

berbicara, mendengarkan, bertanya, mengamati, memberi dan menerima umpan balik dan meringkas).

2.

Memiliki

keterampilan

memecahkan masalah tingkat

masalah

dan

keterampilan masalah

memahami dengan

(mengidentifikasi kejahatan tinggi,

didaerah

mengidentifikasi hambatan dan penyebab masalah dan mengembangkan respon dan solusi yang efektif).

3.

Memiliki keterampilan dan kepribadian untuk menangani konflik dan perbedaan persepsi.

4.

Memiliki

keterampilan

Kepemimpinan

(keterampilan

memperkirakan resiko dan tanggung jawab, keterampilan menentukan tujuan dan keterampilan manajemen waktu)

5.

Memiliki keterampilan membangun tim dan mengelola dinamika dan motivasi kelompok (keterampilan dalam pertemuan, keterampilan identifikasi kepemimpinan,

keterampilan identifikasi sumber daya dan keterampilan membangun kepercayaan).

6.

Memliki pengetahuan memahami dan menghormati hak asasi manusia.

7.

Memiliki keterampilan mediasi dan negosiasi.

8.

Memiliki pengetahuan untuk memahami keanekaragaman, kemajemukan dan prinsip non diskriminasi.

36

9.

Memiliki pengetahuan untuk memahami hak-hak kelompok rentan dan cara menangani/memperlakukan mereka.

b.

Pendidikan Pengembangan Pol Air

Dalam pencapaian dan keberhasilan mewujudkan situasi dan kondisi yang kondusif akan dapat ditingkatkan dengan dukungan sumber daya manusia yang benar-benar mumpuni dan handal dalam hal pemeliharaan dan perawatan sarana prasarana yang berupa kapal/ speedboad yang sudah dimiliki agar dapat memperpanjang usia pakai kapal/speed tersebut selain itu juga dibutuhkan sumber saya manusia yang benar-benar handal dan mumpuni dalam hal perkapalan atau pelayaran yang dapat melayarkan sebuah kapal atau benda bergerak lainnya dari suatu tempat ke tempat lainnya dengan aman dan ekonomis/ efisien.

Sehubungan dengan hal tersebut, maka di harapkan agar personil Sat Polair Polres Fakfak dapat memiliki kemampuan dan keterampilan yang mumpuni dan handal dalam bidang pemeliharaan dan perawatan kapal/mesin serta bidang perkapalan atau pelayaran, sebagaimana yang tergambar dari adanya indikator-indikator sebagai berikut :

1.

Mengetahui perawatan speedboad.

dan dan

memahami pemeliharaan

serta mesin

terampil serta

dalam kapal/

2.

Mengerti dan menguasai mesin kapal/speedboad dan terampil melaksanakan perawatan.

37

3.

Mampu dan memahami dalam melaksanakan prosedur pemeliharaan mesin kapal/speedboad.

4.

Mampu mengatasi kerusakan-kerusakan mesin kapal/ speedboad.

5.

Mampu menguasai keadaan daerah pelayaran atau keadaan sekitar kapalnya.

6.

Mengetahui posisi kapal atau benda bergerak tersebut setiap saat.

7.

Mengetahui sifat olah gerak kapal tersebut dengan baik.

8.

Mengetahui dan memahami buku-buku dan bahan-bahan penting yang diterbitkan dan disiarkan untuk membantu seorang navigator untuk melayarkan kapalnya dengan sebaik-baiknya seperti peta laut, buku kepanduan bahari, peta-peta khusus seperti peta candu, peta cuaca, peta arus dan peta angin serta rute-rute yang dianjurkan untuk dilewati oleh kapal-kapal pada musim-musim tertentu.

9.

Mengetahui dan memahami alat-alat navigasi sebagai pendukung dalam pelayaran seperti Perum untuk

mengukur kedalaman air,

Topdal untuk mengetahui

kecepatan kapal, Barometer untuk mengetahui tekanan udara, Thermometer untuk mengukur suhu, Membaring untuk menentukan arahnya suatu benda dari kapal dengan pedoman dan pesawat baring dan GPS (Global Positioning Sistem) untuk menentukan jejak pelayaran dalam bentuk

38

peta dengan skala yang dapat dipilih menurut skala yang tersedia dalam program.

2.

Kuantitas

Ditinjau

dari

aspek

kuantitas

diharapkan

terjadi

peningkatan yaitu :

a.

Personil yang pernah mengikuti pendidikan dan kejuruan semakin meningkat setiap tahunnya.

b.

Tercapainya ratio yang ideal antara jumlah anggota dengan jumlah desa pesisir sehingga dapat dicapai target satu desa satu anggota Polmas.

D.

Metode

1.

Kordinasi dan Kerjasama

Kordinasi dan kerjasama dalam implementasi pelaksanaan tugas adalah sangat penting, terutama dalam pelaksanaan patroli bersama dengan KPLP, Dinas Kelautan dan Perikanan Kab Fakfak serta dengan Pos Angkatan Laut. Diharapkan kordinasi dan kerjasama tersebut dapat berjalan secara sinergis dan berkesinambungan yang diwujudkan melalui :

a.

Terjalinnya kordinasi dan kerjasama yang diwujudkan melalui rapat-rapat kordinasi yang secara rutin dilakukan sebulan sekali.

b.

Selalu bertukar dan memberikan informasi.

39

c.

Adanya

komitmen

dari

masing-masing

pimpinan

bahwa

pelaksanaan patroli perairan adalah merupakan tugas dan tanggung jawab bersama sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing.

d.

Adanya wadah sarana komunikasi yang dapat dijadikan sebagai tempat dalam hal berdiskusi dan bertukar fikiran dalam bentuk coffe morning.

2.

Sosialisasi

Masyarakat pesisir yang sejak turun temurun hidup disepanjang pantai yang mata pencahariannya adalah nelayan tentunya belum mengetahui dan mengenal istilah Polmas atau Forum Komunikasi PolisiMasyarakat (FKPM). Masih ada suatu paradigma-paradigma yang

melekat dimasyarakat bahwa masalah keamanan adalah menjadi tugas polisi semata dan masyarakat semata-mata hanyalah sebagai obyek dalam penyelenggaraan tugas kepolisian.

Hal ini perlu dilakukan sosialisasi karena paradigma seperti ini harus di rubah dimana masyarakat tidak lagi semata-mata sebagai obyek dalam penyelenggaraan tugas kepolisian melainkan sebagai subyek yang menentukan dalam menciptakan lingkungan yang aman dan tertib dengan berusaha menemukan, mengidentifikasi, menganalisis dan mencarai jalan keluar terhadap pemecahan masalah-masalah

gangguan keamanan dan ketertiban yang timbul di lingkungan setempat.

Oleh karena itu sosialisasi dalam hal ini adalah sangat penting sekali sehingga dapat menimbulkan kepercayaan masyarakat kepada

40

Polisi untuk menjadi mitra yang sejajar yang difasilitasi dalam suatu forum kemitraan yaitu Forum Kemitraan Polisi-masyarakat (FKPM) dimana anggota Polmas perairan juga berperan penting disini.

Dengan

telah

dilakukannya

sosialisasi

maka

diharapkan

pendekatan kemitraan kepada masyarakat pesisir melalui pendekatan Polmas akan tidak akan mengalami kendala sehingga masyarakat bisa menerima kehadiran anggota polisi di tengah-tengah masyarakat.

4.

Pelaksanaan Patroli

Untuk dapat menjangkau wilayah perairan Kab Fakfak yang sangat luas di perlukan suatu kegiatan patroli perairan yang dilakukan secara kontinyu dan berkesinambungan. Patroli perairan yang

dilaksanakan satu kali satu bulan dirasakurang efektif dan tidak menyentuh pada sasaran masyarakat pesisir. Oleh karena itu agar patroli dapat dilaksanakan secara efektif dan tepat sasaran diharapkan agar pelaksanaan patroli di rencanakan sebaik mungkin dan

dilaksanakan sebanyak tiga kali satu bulan.

BAB VI OPTIMALISASI

A.

Visi dan Misi

41

1.

Visi

Visi adalah cara pandang jauh ke depan berupa keinginan, angan-angan, mimpi, harapan yang harus dibawa agar dapat eksis, antisipatif dan inovatif. Visi adalah suatu gambaran menantang tentang keadaan masa depan. Adapun rumusan visi berdasarkan

permasalahan dan persoalan yang menjadi pokok bahasan ini adalah : Terwujudnya Personil Polair Polres Fakfak yang profesional dan akuntabel dalam mengimplementasikan pendekatan Polmas pada masyarakat pesisir dalam suatu kemitraan yang sejajar untuk mencegah dan memecahkan masalah (Problem Solving) demi terwujudnya Kamtibmas. . 2. Misi

Pengertian misi adalah penetapan tujuan organisasi dan sasaran yang ingin dicapai. Sejalan dengan hal tersebut, Sat Polair Polres Fakfak telah membuat pernyataan misi sebagai berikut :

a.

Meningkatkan efektifitas kinerja Kepolisian perairan sebagaimana tercantum dalam UU No.2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Perkap No.23 tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja pada tingkat Kepolisian Resort dan Kepolisian Sektor dengan tetap menjunjung tinggi HAM (Hak Asasi Manusia).

b.

Sebagai pelayan publik menjamin ketertiban, memberikan rasa aman dalam rangka peningkatan taraf hidup masyarakat pesisir.

42

c.

Bermitra dengan masyarakat melalui pendekatan Polmas secara kreatif dalam melakukan pengendalian dan pemecahan masalah terhadap masalah sosial maupun masalah kamtibmas di pesisir.

d.

Membangun sinergi dengan Pemerintah Daerah Fakfak dan aparat hukum lainnya dalam mewujudkan dan memelihara keamanan serta ketertiban masyarakat.

e.

Meningkatkan sumber daya manusia melalui pengetahuan dan keterampilan

B.

Tujuan

Adapun tujuan yang akan dicapai demi terwujudnya penerapan Polmas Perairan adalah sebagai berikut :

1.

Terwujudnya kepercayaan masyarakat pesisir yang bermitra dengan Polres Fakfak dalam pencegahan dan pemecahan masalah (Problem Solving) yang terjadi baik masalah sosial maupun masalah kamtibmas.

2.

Terwujudnya kerjasama polisi dan masyarakat lokal (komunitas) untuk menanggulangi kejahatan dan ketidaktertiban sosial dalam rangka menciptakan ketentraman umum dalam kehidupan masyaraka setempat.

3.

Terbinanya hubungan kerjasama dengan masyarakat pesisir, Pemerintah Daerah Fakfak serta instansi terkait.

4.

Terciptanya situasi kamtibmas yang kondusif.

43

5.

Terpenuhinya Sumber Daya Manusia yang memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam bidang Polmas.

6.

Terbangunnya sistem deteksi dini dan peringatan dini terhadap gangguan kamtibmas yang timbul di perairan.

C.

Sasaran

Untuk memungkinkan terbangunnya kerjasama yang menjadi tujuan Penerapan Polmas pada masyarakat pesisir maka sasaran yang harus di capai adalah :

1.

Membangun Polri yang dapat di percaya oleh warga setempat dan membangun komunitas yang siap bekerjasama dengan Polri dalam meniadakan gangguan terhadap keamanan dan ketertiban serta menciptakan ketentraman warga lokal.

2.

Komunitas yang siap bekerjasama adalah kesatuan kehidupan bersama masyarakat pesisir yang berlatar belakang sebagai nelayan dan hidup di pantai sejak turun temurun, memahami dan menyadari bahwa kepentingan menciptakan situasi keamanan dan ketertiban merupakan tanggung jawab bersama antar warga dan antara warga dengan Polisi.

3.

Terwujudnya pendekatan Polmas dimana Polisi bermitra sejajar dengan masyarakat pesisir dalam pencegahan dan pemecahan masalah baik masalah sosial maupun masalah kamtibmas.

D.

Kebijakan

44

Untuk mendukung pencapaian visi, misi, tujuan dan sasaran di atas maka perlu diperlukan berbagai kebijakan sebagai langkah sebelum menuju kepada tahap implementasi strategi. Dengan

memperhatikan kondisi awal di Sat Polair dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi baik internal maupun eksternal serta berharap dengan kondisi yang ada diharapkan dapat melakukan pelayanan terhadap masyarakat pesisir melalui pendekatan Polmas, maka kebijakan yang ditetapkan adalah :

1.

Pemeliharaan dan perawatan mesin. Mesin dan Kapal adalah salah satu sarana dan pra sarana yang sangat penting dan tidak dapat dipisahkan dalam menunjang kinerja Sat Polair dalam melaksanakan tugas pokoknya yaitu patroli perairan. Mesin dan kapal harus dapat di pelihara dan dirawat dengan baik oleh anggota yang paham dan menguasai di bidangnya.

2.

Pendidikan dan Keterampilan. Pendidikan dan Keterampilan menjadi faktor yang sangat penting bagi anggota dalam melaksanakan dan memahami tugas yang diembannya. Oleh karena itu diwajibkan agar anggota mengikuti pendidikan kejuruan dan pendidikan pengembangan di bidang Pol Air lebih khusus lagi Pendidikan Kejuruan di Bidang Harwat Mesin dan Pendidikan Kejuruan di Bidang Perkapalan. Selain pendidikan kejuruan tersebut, di wajibkan juga kepada anggota agar dapat mengikuti pendidikan kejuruan Polmas, agar dapat melakukan pendekatan kepada masyarakat, terampil dalam komunikasi serta terampil dalam mediasi dan negosiasi.

3.

Penambahan kekuatan personil Polri harus secara bertahap memperhitungkan pemenuhan kebutuhan tenaga petugas

45

Polmas sehingga tiap desa/kampung di pesisir pantai diharapkan dapat terisi dengan sekurang-kurangnya seorang petugas

Polmas.

E.

Strategi

Dalam pelaksanaan tugasnya agar dapat berjalan sesuai dengan yang harapkan, maka diperlukan suatu strategi yang tepat dan efektif yaitu :

1.

Menyelenggarakan program-program pendidikan dan pelatihan Polmas, Pemeliharaan dan Perawatan Mesin serta Perkapalan secara bertahap sesuai dengan kualifikasi yang di butuhkan.

2.

Meningkatkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan.

3.

Menyediakan

dukungan

anggaran

yang

memadai

dalam

pelaksanaan tugas.

4.

Mengadakan kerjasama dengan Pemerintah Daerah Fakfak dan instansi terkait lainnya.

5.

Membangun dan membina kemitraan dengan tokoh-tokoh sosial termasuk pengusaha, media massa dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Membantuk Forum Kemitraan Polisi Masyarakat sebagai wadah kerjasama antara Polisi dengan masyarakat khususnya

6.

masyarakat pesisir.

7.

Meningkatkan Sumber Daya Manusia yang professional.

46

F.

Action Plan

Sebagai langkah riil atau tindakan nyata dari perwujudan kebijakan dan strategi yang telah diambil adalah dengan menentukan langkah-langkah rencana aksi sebagai berikut :

1.

Tahap Persiapan :

a.

Penyiapan Sumber Daya Manusia melalui pendidikan dan pelatihan.

b.

Pengembangan kerjasama dengan Pemerintah Daerah Fakfak dan instansi terkait.

c.

Pendekatan dengan tokoh masyarakat dan pihak-pihak terkait guna membangun persepsi dan komitmen agar masyarakat memahami dan menginginkan diterapkannya Polmas di masyarakat pesisir.

d.

Rencana pembentukan Forum Komunikasi Masyarakat Perairan/Kepulauan serta rencana Pembentukan Forum Kemitraan Polisi Masyarakat (FKPM) oleh masyarakat setempat yang di fasilitasi oleh Polres Fakfak dalam hal ini Sat Polair.

e.

Merencanakan pelaksanaan patroli dengan baik

2.

Tahap Operasional :

47

a.

Melakukan patroli perairan dengan tujuan memberikan rasa aman dan nyaman kepada seluruh pengguna sarana perairan baik WNA maupun WNI serta penertiban dan pelaksanaan penegakkan hukum di wilayah perairan.

b.

Pelayanan Polmas perairan dan sambang nusa ke pulau terluar berpenghuni.

c.

Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembentukan Forum Komunikasi Masyarakat Perairan/kepulauan serta Forum Komunikasi Polisi Masyarakat (FKPM).

d.

Penetapan

dan

penegakkan

peraturan

lokal

yang

mengacu pada nilai-nilai tradisi/adat setempat.

3.

Tahap Evaluasi

a.

Mengevaluasi apakah pelaksanaan patroli perairan telah dapat memberikan rasa aman dan nyaman kepada seluruh pengguna sarana perairan.

b.

Mengevaluasi apakah telah terlaksana pelayanan Polmas perairan sampai kepada pulau luar berpenghuni.

c.

Mengevaluasi apakah partisipasi masyarakat meningkat dalam pembentukan Forum Komunikasi Polisi

Masyarakat.

d.

Mengevaluasi apakah pelaksanaan patroli telah berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

48

4.

Indikator Keberhasilan.

a.

Adanya antusias dan meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pembentukan Forum Komunikasi Masyarakat Perairan/kepulauan serta Forum Komunikasi Polisi Masyarakat (FKPM).

b.

Kemampuan

Forum

Komunikasi

Masyarakat

Perairan/kepulauan dan Forum Komunikasi Polisi Masyarakat dalam mengidentifikasikan akar masalah dan menemukan jalan keluarnya (Problem Solving).

c.

Patroli perairan yang dapat dilaksanakan secara kontinyu dan berkesinambingan.

d.

Meningkatnya Sumber Daya Manusia sesuai dengan kualifikasinya masing-masing.

e.

Tidak adanya laporan tentang pelanggaran maupun tindak pidana yang terjadi di perairan.

BAB VII PENUTUP

A.

Kesimpulan

1.

Sumber Daya Manusia

49

Kemampuan dan keterampilan personil Sat Polair Polres Fakfak dalam melaksanakan pembinaan terhadap masyarakat pantai atau pesisir dengan menggunakan pola pendekatan Polmas masih belum memadai sehingga belum terjalin suatu hubungan yang sejajar dan setara antara Polri dan masyarakat pesisir dan diharapkan ada upayaupaya yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan dan

keterampilan personil dengan melakukan pendidikan kejuruan Polmas.

Selain Kemampuan dan keterampilan dibidang pembinaan dan penerapan Polmas, personil Sat Polair Polres Fakfak juga dituntut mampu dan handal dalam hal pemeliharaan dan perawatan sarana prasarana berupa kapal/speedboad yang sudah dimiliki agar dapat memperpanjang usia pakai kapal/speedboad dan mampu untuk melayarkan sebuah kapal dari suatu tempat ke tempat lain dengan aman dan ekonomis dibantu dengan alat pendukung yang ada di dalam kapal. Untuk mengantisipasi hal tersebut maka di harapkan ada upayaupaya untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan personil dengan mengikuti pendidikan kejuruan pemeliharaan dan perawatan mesin, perkapalan dan dasar Pol Air.

2.

Sarana dan Prasarana

Dukungan sarana dan prasarana pada saat ini masih belum memadai berakibat berdampak pada kurang optimalnya patroli perairan sehingga belum dapat menjangkau seluruh masyarakat pesisir. Untuk itu maka diharapkan ada upaya-upaya yang dilakukan seperti melakukan upaya penambahan atau pengadaan sarana dan prasarana

50

yang belum ada melalui pengajuan kepada pimpinan, melakukan perbaikan terhadap sarana dan prasarana yang rusak, melakukan upaya pemberdayaan sarana dan prasarana yang sudah ada seoptimal mungkin, melakukan pemeliharaan dan perawatan terhadap sarana dan prasarana yang sudah ada secara periodik atau berkala dan meningkatkan penyelenggaraan pengawasan dan pemeriksaan

terhadap sarana dan prasarana yang sudah ada untuk mengetahui layak atau tidaknya sarana tersebut dipakai.

3.

Dukungan Anggaran

Mengingat pentingnya dukungan anggaran untuk mendukung pelaksanaan tugas operasional Sat Polair, maka anggaran yang ada harus ditingkatkan. Berdasarkan data yang ada anggaran yang dipakai masuk pada Mata Anggaran Belanja Biaya Pemeliharaan dan Mesin untuk Perawatan Alat Apung Perahu Karet/Mesin Tempel sebesar Rp 5.000.000,- (Lima Juta Rupiah). Untuk mendukung kegiatan tersebut maka upaya-upaya yang dilakukan dalam meningkatkan dukungan anggaran adalah dengan memasukkan anggaran dalam Mata Anggaran Belanja Barang Operasional Lainnya yang masuk didalamnya sub kegiatan Pembinaan dan Penyuluhan (Binluh), Penyelenggaraan Patroli Laut (uang saku) dan Operasional Patroli (bahan bakar premium).

B.

Rekomendasi

1.

Memberikan saran dan masukan ke Polda bahwa dalam rangka penyusunan RKA-KL dan DIPA Pagu Indikatif Polda Papua Ta 2014 diperlukan bahan masukan secara bottom up dari satkersatker khusus nya Polres Fakfak, agar dokumen RKA-KL dan DIPA Pagu Indikatif Polda Papua Ta 2014 yang disusun dapat

51

mengakomodir kebutuhan satker sesuai skala prioritas sekaligus mendukung tercapainya sasaran strategis Polda Papua Ta 2014.

2.

Memberikan saran dan masukan ke Lemdikpol Polri melalui Kapolda Papua bahwa dalam rangka untuk meningkatkan sumber daya manusia agar dapat menyelenggarakan Pendidikan

Kejuruan Navigasi dan Olah Gerak Kapal untuk tahun 2014.

3.

Memberikan saran dan masukan kepada Bag Dalpers Polda Papua untuk memberikan kesempatan bagi anggota Sat Polair Polres Fakfak mengikuti pelatihan Pol Air di SPN Jayapura.

DAFTAR PUSTAKA 1. Perkap No.23 tahun 2010 tentang susunan organisasi dan tata kerja pada tingkat Kepolisian Resor dan Kepolisian Sektor. Perkap No.7 tahun 2008 tentang pedoman dasar strategi dan implementasi Pemolisian masyarakatdalam penyelenggaraan tugas Polri

2.

52

3.

Skep Kapolri No. Pol.:SKEP/433/VII/2006 tanggal 1 juli 2008 tentang panduan pembentukan dan operasionalisasi Perpolisian masyarakat (Polmas). Rencana kinerja satuan kerja tahun anggaran 2012 Lapsat Polres Fakfak tahun 2012. Winardi 1986,asas-asas manajemen Jakarta. www.detik.com

4. 5. 6. 7.