Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH KELOMPOK III ASUHAN KEPERAWATAN BRONKITIS

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN STIKes HANGTUAH PEKANBARU PEKANBARU 2013

PENYUSUN 1. MARLIWATI 2. ARMIRA GUSTINA 3. EFRIRA DAMAINA 4. WAHYUDI 5. M. REFKI : 12031027 : 12031007 : 12031011 : 12031049 : 12031033

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah Asuhan Keperawatan Bronkitis ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca. Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik. Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami miliki sangat kurang. Oleh kerena itu kami harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Pekanbaru 26 Desember 2013

Kelompok III

BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG Bronkitis adalah salah satu penyakit pada paru-paru yang peradangannya menyerang bronkus dengan prevalensi kesakitan di Indonesia cukup besar jumlahnya. Hal ini disebabkan karena peningkatan pertumbuhan industri yang mengakibatkan terjadinya polusi udara, juga meningkatnya angka perokok terutama di usia remaja dan produktif. Biasanya penyakit bronkitis ini mengalami batuk-batuk kering, nafas agak sesak lama-kelamaan batuk disertai juga adanya peningkatan suhu tubuh. Bronkitis adalah suatu penyakit yang ditandai adanya dilatasi ( ektasis ) bronkus lokal yang bersifat patologis dan berjalan kronik. Perubahan bronkus tersebut disebabkan oleh perubahan-perubahan dalam dinding bronkus berupa destruksi elemen-elemen elastis dan otot-otot polos bronkus. Bronkus yang terkena umumnya bronkus kecil (medium size ), sedangkan bronkus besar jarang terjadi. Bronkitis kronis dan emfisema paru sering terdapat bersama-sama pada seorang pasien, dalam keadaan lanjut penyakit ini sering menyebabkan obstruksi saluran nafas yang menetap yang dinamakan cronik obstructive pulmonary disease ( COPD ). Dinegara barat, kekerapan bronkitis diperkirakan sebanyak 1,3% diantara populasi. Di Inggris dan Amerika penyakit paru kronik merupakan salah satu penyebab kematian dan ketidak mampuan pasien untuk bekerja. Kekerapan setinggi itu ternyata mengalami penurunan yang berarti dengan pengobatan memakai antibiotik. Di Indonesia belum ada laporan tentang anka-angka yang pasti mengenai penyakit ini. Kenyataannya penyakit ini sering ditemukan di klinik-klinik dan diderita oleh laki-laki dan wanita. Penyakit ini dapat diderita mulai dari anak bahkan dapat merupakan kelainan congenital Penyakit dan gangguan saluran napas khususnya bronkitis kronik ini masih menjadi masalah terbesar di Indonesia pada saat ini. Angka kematian akibat penyakit saluran napas dan paru seperti infeksi saluran napas akut, tuberkulosis

asma khususnya bronkitis kronik masih menduduki peringkat tertinggi. Infeksi virus dan bakteri merupakan penyebab yang sering terjadi. B. TUJUAN a. Tujuan Umum Mengetahui Asuhan Keperawatan Bronkitis b. Tujuan Khusus a) Mengetahuia Definisi Bronkitis b) Mengetahui Patofisiologi Bronkitis c) Mengetahui Manifestasi Klinis Bronkitis d) Mengetahui Komplikasi Bronkitis e) Mengetahui Penatalaksanaan Bronkitis C. MANFAAT a. Mampu memberikan asuhan keperawatan pada penderita Bronkitis b. Menambah wawasan dan pengetahuan tentang Bronkitis c. Mengembangkan pola pikir dalam menerapkan teori dengan praktek di lapangan , khususnya tentang Bronkitis pasien dengan penyakit

BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Bronkhitis adalah suatu peradangan bronkhioli, bronkhus, dan trakhea oleh berbagai sebab. Bronkitis biasanya lebih sering disebabkan oleh virus seperti rhinovirus syncital virus (RSV), virus influenza, virus parainvluenza, dan coxsackie virus. Bronkitis akut juga dapat dijumpai pada anak yang sedang menderita morbili, pertusis, dan infeksi mycoplasma pneumonia. Penyebab bronkitis lainnya bisa juga oleh bakteri seperti staphylococcus,streptococcus, haemophylus influenza. Selain itu, bronkitis dapat juga disebabkan oleh seperti askariasis dan jamur. (A. Muttaqin : 2008:117)

B. Patofisiologi Virus dan bakteri biasa masuk melalui port dentre mulut dan hidung dopplet infection yang selanjutnya akan menimbulkan viremia/bakteremia dan gejala atau reaksi tubuh untuk melakukan perlawanan. (A. Muttaqin : 2008:117)

Allergen

Invasi kuman ke jalan napas Fenomena infeksi

Aktivasi IgE

Iritasi mukosa bronkus Peningkatan pelepasan histamin Edema mukosa sel goblet memproduksi mukus Peningkatan akumulasi sekret

Penyebaran bakteri atau virus ke seluruh tubuh Bakterimia/viremia

Batuk produktif Sesak napas Penurunan kemampuan batuk efektif

Peningkatan laju metabolisme umum, tingkat nutrisi tidak adekuat, tubuh makin kurus, ketergantungan aktivitas seharihari, kurangnya pemenuhan istirahat dan tidur, kecemasan, pemenuhan informasi

Ketidakefektifan bersihan jalan napas

Hipertermi Perubahan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan Gangguan pemenuhan ADL (activity daily living) Kecemasan Ketidaktahuan/pemenuhan informasi

C. BRONKITIS AKUT Bronkitis adalah penyakit pernapasan obstruktif yang sering dijumpai yang di sebabkan inflamasi pada bronkus. Penyakit ini biasanya berkaitan dengan infeksi virus atau bakteri atau inhalasi iritan seperti asap rokok dan zat-zat kimia yang ada di dalam polusi udara.penyakit ini memiliki karakteristik produksi mukus yang berlebihan. (E.J. Corwin : 2008)

Gambaran Klinis : 1. Batuk, biasanya produktif dengan mukus kental dan sputum purulen. 2. Dispnea. 3. Demam. 4. Suara serak. 5. Ronki (bunyi paru diskontinu yang halus atau kasar), terutama saat inspirasi. 6. Nyeri dada yang kadang timbul. Perangkat Diagnostik : 1. Pemeriksaan sinar X dada. Komplikasi : 1. Episode bronkitis akut yang berulang dapat mengakibatkan perubahan patologis menjadi bronkitis kronis. Penatalaksanaan : 1. Antibiotik untuk mengobati infeksi bakteri primer atau sekunder. 2. Peningkatan asupan cairan dan ekspektoran untuk mengencerkan sputum. 3. Istirahat untuk mengurangi kebutuhan oksigen.

D. BRONKITIS KRONIS Bronkitis kronis adalah gangguan paru obstruktif yang ditandai produksi mukus yang berlebihan di saluran napas bawah dan menyebabkan batuk kronis. Kondisi ini terjadi selama setidaknya 3 bulan berturut-turut dalam setahun untuk 2 tahun berturut-turut. (E.J. Corwin : 2008)

Mukus yang berlebihan terjadi akibat perubahan patologis (hipertrofi dan hiperplasia) sel-sel penghasilmukus di bronkus. Selain itu, silia yang melapisi bronkus mengalami kelumpuhan atau disfungsional serta metaplasia. Perubahan pada sel penghasil mukus dan sel silia inimengganggu sistem eskalator mukosiliaris dan menyebabkan akumulasi mukus kental dalam jumlah besar yang sulit di keluarkan dari saluran napas. Mukus berfungsi sebagai tempat perkembangan mikroorganisme penyebab infeksi dan menjadi sangat purulen. Proses inflamasi terjadi yang menyebabkan edema dan pembengkakan jaringan serta perubahan esitektur di paru.ventilasi, terutama ekshalasi/ekspirasi, terhambat. Hiperkapnia (peningkatan karbon dioksida) terjadi karena ekspirasi memanjang dansulit dilakukanakibat mukus yang kental dan adanya inflamasi.

Penurunanventilasi menyebabkan rasio ventilasi : perfusi, yang mengakibatkan vasokontriksi hipoksik paru dan hipertensi paru. Walaupunalveolus normal, pasokontriksi hipoksik dan buruknya ventilasi menyebabkan penurunan pertukaran oksigen dan hipoksia. Resiko utama berkembangnya bronkitis kronik adalah asap rokok. Komponen asap rokok menstimulus perubahan pada sel-sel penghasil mukus bronkus dan silia. Komponen-komponen tersebut juga menstimulasi inflamasi kronis, yang merupakan ciri khas bronkitis kronis. (E.J. Corwin : 2008)

Gambaran Klinis : 1. Batuk yang sangat produktif, purulen dan mudah memburuk dengan inhalasi iritan, udara dingin atau infeksi. 2. Produksi mukus dalam jumlah sangat banyak. 3. Sesak napas dan dispnia. Perangkat Diagnostik : 1. Pemeriksaan fungsi paru memperlihatkan penurunan FEV1 dan kapasitas vital. 2. Analisis gas darah memperlihatkan penurunan oksigen arteri dan peningkatan karbon dioksida arteri. 3. Pemeriksaan sinar X toraks dapat membuktikan adanya bronkitis kronis dan fibrosis jaringan paru.

Komplikasi : 1. Hipertensi paru dapat terjadi akibat vasokontriksi hipoksik paru yang kronis, yang akhirnya menyebabkan kor pulmonalise. 2. Dapat terjadi jari tabuh di segmen ujung jari,mengindikasikan stres hipoksik yang kronis. 3. Polisitemia (peningkatan konsentrasi sel darah merah) terjadsi akibat hipoksia kronis dan stimulasi sekresi eritro[oietin, disertai sianosis, yang memberi warna kebiruan pada kulit. 4. Kanker paru. Penatalaksanaan : 1. Penyuluhan kesehatan agar pasien menghindari pajanan iritan lebih lanjut, terutama asap rokok. 2. Terapi antibiotik profilaktik, terutama pada musim dingin, untuk mengurangi insiden infeksi saluran napas bawah, karena setiap infeksi akan semakin meningkatkan pembentukan mukus dan pembengkakan. 3. Karena banyak pasien yang mengalami spasme saluran napas akibat bronkitis kronis yang mirip dengan spasme pada asma kronis, individu sering diberikan bronkodilator. 4. Obat anti-inflamasi menurunkan produksi mukus dan mengurangi sumbatan. 5. Ekspektoran dan peningkatan asupan cairan untuk mengencerkan mukus. 6. Mungkin diperlukan terapi oksigen. 7. Vaksinasi terhadap pneumonia pneumokokus sangat di anjurkan. 8. E. ASUHAN KEPERAWATAN BRONKITIS A. Pengkajian Keperawaan a. Anamnesis Keluhan utama klien dengan bronchitis meliputi batuk kering dan produktif dengan sputum purulen, demam dengan suhu tubuh dapat mencapai >40oc, dan sesak napas. b. Riwayat penyakit saat ini

Riwayat penyakit saat ini pada klien dengan bronchitis bervariasi tingkat keparahan dan lamanya. Bermula dari gejala batuk-batuk saja, hingga penyakit akut dengan manifestasi klinis yang berat. Sebagai tanda-tanda terjadinya toksemia klien denagan bronchitis sering mengeluh malaise, demam, badan terasa lemah, banyak keringat, takikardia, dan takipnea. Sebagai tanda terjadinya iritasi, keluhan yang didapatkan terdiri atas batuk, ekspektorasi/peningkatan produksi secret, dan rasa sakit dibawah sternum. Penting ditanya oleh perawat tentang obat-obat yang telah atau biasa diminum oleh klien untuk mengurangi keluhan nya dan mengkaji kembali apakah obat-obat tersebut masih relevan untuk dipakai kembali. c. Riwayat penyakit dahulu Pada pengkajian riwayat kesehatan terdahulu sering kali klien mengeluh pernah mengalami infeksi saluran pernapasan bagian atas dan adanya riwayat alergi pada pernapasan atas. Perawat harus memperhatikan dan mencatatnya baikbaik. d. Pengkajian Psiko-sosio-spiritual Pada pengkajian psikologis klien dengan bronkhitis didapatkan klien sering mengalami kecemasan sesuai dengan keluhan yang di alami nya dimana adanya keluhan batuk, sesak napas, dan demam merupakan stresor penting yang menyebabkan klien cemas. Perawat perlu memberikan dukungan moral dan memfasilitasi pemenuhan informasi mengenai prognosis penyakit dari klien. Kaji pengetahuan klien dan keluarga tentang pengobatan yang di berikan (nama, cara kerja, frekuensi, efek samping, dan tanda-tanda terjadinya kelebihan dosis). Pengobatan nonfarmakologi (nonmedical intervensions) seperti olahraga secara teratur serta mencegah kontak dengan alergen atau iritan (jika diketahui penyebab alergi), sistem pendukung (support system), kemauan, dan tingkat pengetahuan keluarga. e. Pemeriksaan Fisik Keadaan umum dan tanda-tanda vital Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital pada klien dengan bronkhitis biasanya didapatkan adanya peningkatan suhu tubuh lebih dari 400C, frekuensi napas meningkat dari frekuensi normal, nadi biasanya menigkat seirama dengan

penigkatan suhu tubuh dan frekuensi pernapasan, serta biasa nya tidak ada masalah dengan tekanan darah. a) B1 (Breathing) 1. Inspeksi klien biasa nya mengalami penigkatan usaha dan frekuensi pernapasan, biasanya menggunakan otot bantu pernapasan. Pada kasus bronkhitis kronis, sering didapatkan bentuk dada barrel/tong. Gerakan pernapasan masih simetris. Hasil pengkajian lainnya menunjukan klien juga mengalami batuk yang produktif dengan sputum purulen bewarna kuning kehijauan sampai hitam kecoklatan karena bercampur darah. 2. Palpasi Taktil premitus biasanya normal 3. Perkusi Hasil pengkajian perkusi menunjukan adanya bunyi resonan pada seluruh lapang paru. 4. Auskultasi Jika abses terisi penuh dengan cairan pus akibat drainase yang buruk, maka suara napas melemah. Jika bronkhus paten dan drainase nya baik ditambah adanya konsolidasi disekitar abses, maka akan terdengar suara napas bronkhial dan ronkhi basah.

b) B2 (Blood) Sering didapatkan adanya kelemahan fisik secara umum. Denyut nadi takikardi. Tekanan darah biasanya normal. Bunyi jantung tambahan biasanya tidak didapatkan. Batas jantung tidak mengalami pergeseran.

c) B3 (Brain) Tingkat kesadaran klien biasanya compos mentis apabila tidak ada komplikasi penyakit yang serius.

d) B4 (Bladder)

Pengukuran volume output urine berhubungan erat dengan intake cairan. Oleh karena itu, perawat perlu memonitor adanya oliguria yang merupakan salah satu tanda awal dari syok.

e) B5 (Bowel) Klien biasanya sering mengalami mual dan muntah, penurunan nafsu makan, dan penurunan berat badan.

f) B6 (Bone) Kelemahan dan kelelahan fisik, secara umum sering menyebabkan klien memerlukan bantuan orang lain untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari.

f. Pemeriksaan Diagnostik a) Pemeriksaan Radiologis Pemerkasaan foto thoraks posterior-anterior dilakukan untuk menilai derajat progresivitas penyakit yang berpengaruh menjadi penyakit paru obstruktif menahun.

b) Pemerikasaan laboratorium Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukan adanya perubahan pada penigkatan eosinofil (berdasarkan pada hasil hitung jenis darah). Sputum diperiksa secara makroskopis untuk diagnosis banding dengan tuerkulosis paru. (A. Muttaqin : 2008:117)

B. Diagnosa Keperawatan NO 1 DIAGNOSA Ketidakefektifan bersihan jalan napas yang berhubungan dengan sekresi mukus yang kental, kelemahan, upaya batuk buruk, dan edema trakhea/faringeal 2 Hipertermi berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme sekunder

dari bakteremia/viremia 3 Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penigkatan metabolisme tubuh dan penurunan nafsu makan sekunder terhadap demam 4 Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan dan kelemahan fisik umum.

NO 1

DIAGNOSA Ketidakefektifan bersihan yang jalan

TUJUAN

INTERVENSI

IMPLEMENTASI Airway Management 1. Membuka jalan napas

Dalam waktu 1x24 Airway Management napas jam bersihan jalan kembali 1. Buka jalan napas menggunakan teknik chin lift atau teknik jaw thrust yang sesuai 2. Posisi kan pasien untuk

berhubungan nafas

menggunakan teknik chin lift atau teknik jaw thrust yang sesuai 2. Memposisi untuk ventilasi 3. Memasang jalan nafas oral atau nasopharingeal yang sesuai 4. Melakukan yang sesuai 5. mengeluarkan dengan sekret terapi dada kan pasien

dengan sekresi mukus efektif yang kental, kelemahan, upaya batuk buruk, dan edema trakhea/faringeal

memaksimalkan ventilasi 3. Pasang jalan nafas oral atau nasopharingeal yang sesuai 4. Lakukan terapi dada yang sesuai 5. keluarkan sekret dengan

memaksimalkan

menganjurkan batuk atau suction 6. anjurkan melakukan nafas dalam dan batuk 7. Ajarkan cara batuk efektif 8. Bantu dengan spirometer

menganjurkan

insentifyang sesuai 9. Auskultasi suara nafas mencatat adanya ventilasi atau tidak dan adanya suara adventif 10. Lakukan penyedotan sesuai 11. Atur bronkodilator sebagaimana mestinya 12. Ajarkan pasien bagaimana yang endotrakeal nasotrakeal atau yang

batuk atau suction 6. Menganjurkan melakukan nafas dalam dan batuk 7. Mengajarkan cara batuk efektif 8. Membantu spirometer sesuai 9. Auskultasi suara nafas dengan insentifyang

mencatat adanya ventilasi atau tidak dan adanya suara adventif 10. Melakukan atau endotrakeal penyedotan

menggunakan

inhaler

diresepkan secara tepat 13. Berikan perawatan aerosol yang sesuai 14. Berikan humidified air atau

nasotrakeal yang sesuai 11. Mengatur bronkodilator

oksigen yang sesuai 15. Atur asupan cairan untuk

sebagaimana mestinya 12. Mengajarkan bagaimana pasien menggunakan

mengoptimalkan cairan

keseimbangan

16. Atur posisi untuk mengurangi dyspnea 17. Monitor pernapasan dan oksigen

inhaler

yang

diresepkan

secara tepat 13. Memberikan perawatan

aerosol yang sesuai 14. Memberikan humidified air atau oksigen yang sesuai 15. Mengatur asupan cairan untuk mengoptimalkan

keseimbangan cairan 16. Mengatur posisi untuk

mengurangi dyspnea 17. Memonitor pernapasan dan oksigen

Hipertermi berhubungan dengan peningkatan metabolisme sekunder dari

Dalam

waktu

1. Kaji TTV 2. Monitor suhu tubuh secara periodik 3. Berikan perawatan mulut tiap 4 jam 4. Pertahankan ruangan 5. Rujuk kepada ahli diet untuk membantu memilih makanan yang memenuhi kebutuhan gizi selama demam 6. Dukung klien untuk makanan kesegaran

1. Mengkaji TTV 2. Memonitor periodik 3. Memberikan perawatan mulut tiap 4 jam 4. Mempertahankan kesegaran ruangan 5. Merujuk kepada ahli diet untuk membantu memilih makanan yang memenuhi kebutuhan gizi selama demam 6. Mendukung mengkonsumsi klien makanan untuk tinggi suhu tubuh secara

1x24 jam suhu tubuh kembali laju kebatas normal

bakteremia/viremia

mengkonsumsi

kalori tinggi protein

tinggi kalori tinggi protein 3 Gangguan Dalam waktu Nutrition management jam 1. Tanyakan apakah pasien Nutrition management 1. Menanyakan apakah pasien

pemenuhan nutrisi 5x24 kurang kebutuhan berhubungan dengan penigkatan

dari teperpenuhinya tubuh intake nutrisi

memiliki alergi makanan 2. Pastikan makanan yang

memiliki alergi makanan 2. Memastikan makanan yang disukai pasien 3. Kolaborasi dengan ahli gizi tentang

secara adekuat

disukai pasien 3. Kolaborasi dengan ahli gizi

metabolisme tubuh dan nafsu penurunan makan

tentang jumlah kalori dan tipe nutrisi yang di butuhkan 4. Anjurkan intake kalori yang sesuai untuk tipe tubuh dan gaya hidup 5. Anjurkan meningkatkan

jumlah kalori dan tipe nutrisi yang di butuhkan 4. Menganjurkan intake kalori yang sesuai untuk tipe tubuh dan gaya hidup 5. Menganjurkan meningkatkan

sekunder terhadap demam

makanan tinggi zat besi yang sesuai 6. Anjurkan meningkatkan

makanan tinggi zat besi yang sesuai 6. Menganjurkan meningkatkan

protein, zat besi dan vitamin C yang sesuai 7. Menawarkan snacks/makanan minuman,buah

protein, zat besi dan vitamin C yang sesuai 7. Tawarkan snacks/makanan

ringan(misal

ringan(misminuman,buah segar/jus buah yang sesuai) 8. Berikan makanan lunak yang kental yang sesuai 9. Sediakan pengganti gula yang sesuai 10. Pastikan bahwa melakukan

segar/jus buah yang sesuai) 8. Memberikan makanan lunak yang kental yang sesuai 9. Menyediakan pengganti gula yang sesuai 10. Memaastikan bahwa melakukan diet tinggi serat untuk mencegah

diet

tinggi

serat

untuk

konstipasi 11. Menawarkan bumbu dan rempah sebagai alternatif pengganti garam 12. Memberikan pasien makanan yang tinggi protein, tinggi kalori dan makanan dikonsumsi 13. Menyediakan pilihan makanan 14. Mengatur diet sesuai gaya hidup pasien 15. Mengajarkan pasien bagaimana bergizi yang mudah

mencegah konstipasi 11. Tawarkan bumbu dan rempah sebagai alternatif pengganti garam 12. Berikan pasien makanan yang tinggi protein, tinggi kalori dan makanan bergizi yang mudah dikonsumsi 13. Sediakan pilihan makanan 14. Atur diet sesuai gaya hidup pasien 15. Ajarkan pasien bagaimana menjaga makana harian 16. Timbang pasien 17. Sediakan sesuai informasi tentang yang

menjaga makana harian 16. Menimbang pasien 17. Menyediakan informasi yang sesuai tentang kebutuhan nutrisi dan

bagaimana cara menjaga nya 18. Menganjurkan pengolahan makanan yang aman dan teknik penyimpanan yang baik

kebutuhan

nutrisi dan bagaimana cara menjaga nya

18. Anjurkan makanan teknik baik yang

pengolahan aman dan yang

19. Menentukan

kemampuan

pasien

untuk memenuhi kebutuhan nutrisi

penyimpanan

19. Tentukan kemampuan pasien untuk memenuhi kebutuhan nutrisi 4 Intoleransi aktivitas berhubungan dengan dan Dalam waktu3x24 jam 1. Kolaborasi dengan Ahli terapi untuk menentukan program kegiatan 2. Sarankan komitmen meningkatkan pasien untuk untuk frekuensi 1. Kolaborasi dengan Ahli terapi untuk menentukan program kegiatan 2. Menyarankan komitmen pasien untuk untuk

kelelahan terpenuhinya kelemahan kebutuhan aktivitas sehari-hari

meningkatkan

frekuensi dalam berbagai kegiatan 3. Membantu untuk mengeksplorasi

fisik umum.

dalam berbagai kegiatan 3. Bantu untuk mengeksplorasi kegiatan pribadi dari aktivitas biasa (misalnya kerja) dan kegiatan rekreasi favorit 4. Bantu pasien untuk

kegiatan pribadi dari aktivitas biasa (misalnya kerja) dan kegiatan

rekreasi favorit 4. Membantu pasien untuk

menjadwalkan waktu khusus untuk kegiatan pengalihan ke dalam

menjadwalkan waktu khusus untuk kegiatan pengalihan ke dalam rutinitas sehari-hari 5. ajarkan pasien / keluarga

rutinitas sehari-hari 5. Mengajarkan pasien / keluarga

tentang peran fisik, acivitas sosial spiritual, dan kognitif 6. Memfasilitasi kegiatan pengganti

tentang peran fisik, acivitas sosial spiritual, dan kognitif 6. Fasilitasi kegiatan pengganti ketika pasien memiliki waktu

ketika pasien memiliki keterbatasan energi waktu atau gerakan 7. Membantu dengan kegiatan fisik secara teratur (misalnya ambulasi, perpindahan, berputar, dan personal care) 8. Memberikan aktivitas motorik untuk meredakan ketegangan otot 9. Menyediakan permainan kelompok non kompetitif, terstruktur, dan aktif 10. Membantu pasien untuk

keterbatasan atau gerakan

energi

7. Bantu dengan kegiatan fisik secara ambulasi, teratur (misalnya perpindahan,

berputar, dan personal care) 8. Berikan aktivitas motorik

untuk meredakan ketegangan otot 9. Sediakan kelompok non permainan kompetitif,

mengembangkan motivasi diri 11. Memonitor emosi, fisik, sosial, dan respon spiritual untuk aktivitas

terstruktur, dan aktif 10. Bantu pasien untuk

12. Membantu pasien / keluarga untuk memantau kemajuan sendiri

mengembangkan motivasi diri 11. Monitor emosi, fisik, sosial, dan respon spiritual untuk aktivitas 12. bantu pasien / keluarga untuk memantau kemajuan sendiri terhadap pencapaian tujuan

terhadap pencapaian tujuan

NO 1

EVALUASI 1. Jalan nafas paten dengan bunyi napas bersih dan jelas dapat dipertahankan 2. Menunjukan perilaku untuk memperbaiki bersihan jalan napas. (mis. Batuk efektif dan mengeluarkan sekret)

2 3

TTV dalam batas normal 1. Menunjukan peningkatan nafsu makan 2. Menunjukan peningkatan berat badan menuju tujuan yang tepat

1. Menunjukan peningkatan yang dapat diukur dalam toleransi aktivitas 2. Berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan , memenuhi kebutuhan perawatan diri sendiri 3. Mencapai peningkatan toleransi aktivitas yang dapat diukur dibuktikan oleh menurunya kelemahan dan tanda vital DBN selama aktivitas

BAB III PENUTUP


A. KESIMPULAN Bronkhitis merupakan suatu peradangan bronkhioli, bronkhus, dan trakhea oleh berbagai sebab. Bronkitis biasanya lebih sering disebabkan oleh virus seperti rhinovirus syncital virus (RSV), virus influenza, virus parainvluenza, dan coxsackie virus. Selain itu, bronkitis dapat juga disebabkan oleh seperti askariasis dan jamur. Bronkitis terbagi menjadi bronkitis akut dan bronkitis kronis. Penyakit ini biasanya berkaitan dengan infeksi virus atau bakteri atau inhalasi iritan seperti asap rokok dan zat-zat kimia yang ada di dalam polusi udara, penyakit ini memiliki karakteristik produksi mukus yang berlebihan.

B. SARAN Dengan adanya makalah ini kami berharap para penderita penyakit

Bronkitis dapat memahami lebih lanjut tentang penyakit Bronkitis tersebut. Dan kami berharap makalah ini dapat menambah pengetahuan para pembaca mengenai Bronkitis. Kami selaku penulis pula mengharapkan kritik dan saran bagi para pembaca untuk kebaikan makalah kami.

DAFTAR PUSTAKA
Medication Publishing. (2013). Asuhan Keperawatan Berdasarakan Diagnosa Medis NANDA NIC NOC Edisi Revisi Jilid 2. Muttaqin, Arif. (2008). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta : Salemba Medika Doenges, Marilynn E., dkk. 1993. Rencana Asuhan Keperawatan. Penerbit Buku Kedokteran Corwin, E. J. (2008). Patofisiologi. Jakarta : EGC

Anda mungkin juga menyukai