Anda di halaman 1dari 9

TUGAS INDIVIDU BLOK 19 UNIT PEMBELAJARAN 1

KUCING MUNTABER

ANABELLA PURNAMA FIRDAUSYIA 10/296818/KH/6476 KELOMPOK 8

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2013

KUCING MUNTABER

I.

LEARNING OBJECTIVE 1) Sebutkan dan jelaskan penyakit yang disebabkan parasit gastrointestinal pada hewan kesayangan, meliputi: a. Etiologi b. Pathogenesis c. Gejala klinis d. Diagnosa e. Terapi f. Pengobatan

II.

PEMBAHASAN 1) PARASIT GASROINTESTINAL A. PROTOZOA 1) Toxoplasma gondii a. Etiologi parasit intraseluler pada momocyte dan sel-sel endothelial pada berbagai organ tubuh. Toxoplasma berbentuk bulat atau oval yang ditemukan dalam jumlah besar pada organ-organ tubuh seperti pada jaringan hati, limpa, sumsum tulang, paru-paru, otak, ginjal, urat daging, jantung dan urat daging licin lainnya. Toxoplasma gondii terdapat dalam 3 bentuk yaitu bentuk trofozoit, kista, dan Ookista. Trofozoit berbentuk oval dengan ukuran 3 7 um, dapat menginvasi semua sel mamalia yang memiliki inti sel. Trofozoit ditemukan dalam jaringan selama masa akut dari infeksi. Bila infeksi menjadi kronis trofozoit dalam jaringan akan membelah secara lambat dan disebut bradizoit. Bentuk kedua adalah kista yang terdapat dalam jaringan dengan jumlah ribuan berukuran 10 100 um. Kista penting untuk transmisi dan paling banyak terdapat dalam otot rangka, otot jantung dan susunan syaraf pusat. Bentuk yang ke tiga adalah bentuk Ookista yang berukuran 10-12 um.

Ookista terbentuk di sel mukosa usus kucing dan dikeluarkan bersamaan dengan feces kucing. Dalam epitel usus kucing berlangsung siklus aseksual atau schizogoni dan siklus atau gametogeni dan sporogoni yang menghasilkan ookista dan dikeluarkan bersama feces kucing b. Pathogenesis Kucing yang mengandung toxoplasma gondii dalam sekali exkresi akan mengeluarkan jutaan ookista. Bila ookista ini tertelan oleh hospes perantara seperti manusia, sapi, kambing atau kucing maka pada berbagai jaringan hospes perantara akan dibentuk kelompokkelompok trofozoit yang membelah secara aktif. Pada hospes perantara tidak dibentuk stadium seksual tetapi dibentuk stadium istirahat yaitu kista. Bila kucing makan tikus yang mengandung kista maka terbentuk kembali stadium seksual di dalam usus halus kucing tersebut. Toxoplasmosis gondii yang tertelan melalui makanan akan menembus epitel usus dan difagositosis oleh makrofag atau masuk ke dalam limfosit akibatnya terjadi penyebaran limfogen. Toxoplasmosis gondii akan menyerang seluruh sel berinti, membelah diri dan menimbulkan lisis, sel tersebut destruksi akan berhenti bila tubuh telah membentuk antibodi. c. Gejala klinis Infeksi Toxoplasma gondii ditandai dengan gejala seperti demam, malaise, nyeri sendi, pembengkakan kelenjar getah bening (toxoplasmosis limfonodosa acuta). Gejala mirip dengan

mononukleosis infeksiosa. Infeksi yang mengenai susunan syaraf pusat menyebabkan encephalitis (toxoplasma ceebralis akuta). Parasit yang masuk ke dalam otot jantung menyebabkan peradangan. Lesi pada mata akan mengenai khorion dan retina menimbulkan irridosklitis dan khorioditis (toxoplasmosis ophithal mica akuta).

d. Diagnosa Gold standard diagnosis untuk toxoplasmosis sampai sekarang adalah pengukuran titer antibodi. Ditemukannya Ig M merupakan petanda infeksi akut yang baru saja terjadi dan merupakan bentuk infeksi aktif. Ig G merupakan petanda infeksi telah berlangsung lama atau khronis. Diagnosis toxoplasmosis dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan serologis dan menemukan parasit dalam jaringan tubuh penderita. e. Terapi Pengobatan toksoplasmosis dapat menggunakan preparat

sulfonamide dan pyrymethamine. Sulfonamide yang paling banyak dianjurkan adalah sulfadiazine dengan dosis 120 mg/kg bb, diberikan selama 2-3 minggu. Kombinasi sulfadiazine dengan pyrymethamine dengan dosis sulfadiazine 60mg/kg dan

pyrymethamine 0,5mg/kg bb diberikan 3-4 kali sehari selama 2-3 minggu. Namun kombinasi tersebut dapat mendepres sumsum tulang belakan, sehingga perlu ditambahkan vit B dan asam folat. Pencegahan Kucing diberi makan matang, dan dicegah berburu tikus agar tidak terinfeksi T. gondii Untuk mencegah terjadinya infeksi dengan ookista yang berada di dalam tanah, dapat diusahakan mematikan ookista dengan bahan kimia seperti formalin, amonia dan iodin dalam bentuk larutan serta air panas 70 oC yang disiramkan pada tinja kucing.

B. NEMATODA 1) Ancylostoma sp a. Etiologi Cacing Ancylostoma sp. Juga dikenal dengan cacing tambang. Cacing dewasa berukuran relatif kecil, berbentuk silinder, kaku, berwarna putih kelabu atau kemerahan tergantung banyaknya darah yang ada didalam saluran pencernaannya. Ujung anterior cacing

melengkung kearah dorsal dan celah mulut mengarah ke antero dorsal. Capsul buccalisnya dalam dengan 1-3 pasang gigi pada tepinya dan lancet segitiga Trianguler atau gigi dorsal yang berada didalamnya. b. Pathogenesis Penetrasi larva per kutan Gambaran radang kulit sebagai akibat penetrasi larva cacing A duodenale melalui kulit pada manusia, yang dikenal sebagai creeping eruption oleh larva migrans, gambaran patologinya pada anjing dan kucing tidak sejelas pada manusia. Dilaporkan bahwa radang kulit pada anjing terdapat di rongga antar jari-jari, kaki dan kadang-kadang pada kulit perut. Larva migrans Apabila jumlah larva yang bermigrasi melalui paru-paru cukup banyak dapat terjadi iritasi jaringan paru-paru termasuk saluran nafas hingga terjadi batuk yang sifatnya ringan sampai dengan sedang. Dalam pemeriksaan pascamati, maupun pemeriksaan histopatologi sering ditemukan larva cacing dalam jumlah besar. Infeksi cacing dalam usus halus Oleh adanya cacing dalam mukosa usus halus beberapa perubahan patologi dan faali dapat terjadi. meliputi anemia, radang usus ringan sampai berat, hipoproteinemia, terjadinya gangguan penyerapan makanan dan terjadinya penekanan terhadap respon imunitas dari anjing. c. Gejala klinis Gigitan cacing, yang sekaligus melekat pada mukosa, segera memicu terjadi perdarahan yang tidak segera membeku karena toksin yang dihasilkan oleh cacing. Cacing dewasa biasa berpindah-pindah tempat gigitannya hingga terjadilah luka-luka yang mengucurkan darah segar. Tiap ekor cacing dewasa A caninum dapat menyebabkan kehilangan darah 0,05-0,2 ml/hari, A braziliense 0,001 ml, dan Ustenocephala 0,0003 ml. darah yang

mengucur ke dalam lumen akan keluar bersama tinja dan karena adanya darah tersebut tinja menjadi berwarna hitam. Pengeluaran tinja bercampur darah tersebut biasa disebut melena. Cacing A tubaeforme termasuk dalam kategori pengisap darah sedang yang akibat akhirnya berupa anemia berat. Anemia yang timbul pada awalnya bersifat normositik normokromik, yang kemudian oleh hilangnya zat besi anemianya akan berubah menjadi hipokromik mikrositik. d. Diagnosa Dilihat dari gejala klinis dansaat pemeriksaan feses ditemukan telur Ancylostoma e. Terapi 1. Pengobatan dengan Canex atau Telmin biasanya dilakukan pada umur 6-12 minggu, diulang setiap 2-4 bulan. 2. Anjing betina dewasa diobati 2 kali, dengan antara 2 minggu, pada saat bunting dan menyusui masing-masing dilakukan satu kali. 3. Pyrantel pamoat, citrat emboat, 5-12 mg/kg 4. Dihlorphos, 27-33mg/kg(dewasa)11mg/kg (anak) 5. Mebendazole, 22mg/kg selama 5 hari 6. Disophenol, 10mg/kg sub kutan 7. Fenbendasol, 5mg/kg selama 3 hari

C. CESTODA 1) Dypilidium caninum a. Etiologi Dipylidium caninum berpredileksi di dalam usus halus anjing dan kucing, serta kadang kadang pada manusia terutama anak-anak. Cacing ini bisa mencapai lebih dari 50 cm. Pada skolek terdapat rostelum retraktil memiliki 3 4 baris kait berbentuk roset. Proglotid bunting memiliki tanda yang menciri (karakteristik) berbentuk seperti biji mentimun. Setiap proglotid terdapat dua

pasang organ genital dan lubang kelamin dengan jelas terlihat pada setiap sisi lateral. Ovarium dengan glandula vetelina membentuk masa pada salah satu sisi menyerupai gerombolan buah anggur. Proglotid bunting akan terlepas keluar melalui anus, bergerak berputar-putar dengan bebas atau melekat pada rambut disekitar anus. Telur tersimpan di dalam kantong telur (kapsula). b. Pathogenesis Segmen cacing yang matang akan melepaskan diri dari induknya dan keluar melalui kotoran. Dalam segmen ini terdapat telur cacing. Telur dalam segmen dapat bertahan selama beberapa bulan di daerah yang kering. Segmen yang kering berbentuk seperti

butiran beras. Segmen/telur cacing jatuh ke lantai atau alas tempat tidur kucing. Telur pinjal (kutu kucing) yang juga menetas di tempat yang sama akan menghasilkan larva, larva tersebut akan memakan telur cacing. Dalam tubuh pinjal, telur cacing berkembang menjadi cysticercoid. Cysticercoid akan berpindah ke tubuh kucing bila pinjal menggigit dan menghisap darah kucing. Dalam tubuh kucing, cysticercoid akan berkembang menjadi cacing pita dewasa dan kembali menghasilkan telur. c. Gejala klinis Cacing dapat saja menyebabkan mencret, kadang-kadang disertai bercak darah. Pada kasus yang parah dapat menyebabkan kurang gizi, kurus, infeksi usus, dan gangguan pencernaan seperti usus tersumbat. Oleh karena itu pencegahan dengan pemberian obat cacing rutin adalah cara terbaik menghindari serangan cacing. d. Diagnosa Diagnosis Dipylidium caninum dengan ditemukan segmen disekitar perineum. Jika segmen masih baru bisa diamati bentuknya yang seperti biji mentimun dan 2 alat genital ditepinya dengan kaca pembesar. Jika segmen sudah kering dan mengkerut dengan cara memecahkan segmen kemudian dilihat dibawah mikroskop

e. Terapi Pengobatan dengan atabrine, febantel, pyrantel pamoat,

praziquantel dan kuinakrin. Pengobatan suportif untuk diare dengan pemberian kaotin suspensi, hematopan B12 untuk pembentukan darah dan menambah nafsu makan, diphenhydramine HCl untuk anti radang.

D. TREMATODA 1) Alaria canis a. Etiologi Predileksi di duodenum anjing. Panjang sekitar 6 mm. Di tiap ujung anteriornya terdapat seperti telinga kecil. Telur berwarna coklat-keemasan dan berisi struktur granular. Cercarianya memiliki ekor dengan bifurcatio. b. Pathogenesis Mirasidium serkaria termakan siput Helisoma masuk H.I 2 yaitu kodok mesoserkaria termakan anjing anjing terinfeksi c. Gejala klinis Tidak terlalu berbahaya, namun apabila terlalu banyak

menyebabkan duodenitis d. Diagnosa Dengan pemeriksaan feses, ditemukan telur besar coklat-keemasan beroperkulum e. Terapi Bithionol atau yomesan

III. DAFTAR PUSTAKA Boreham R E Boreham PFL. (1990). Dipylidium CaninumLife Cycle, Epizootiology and Control. Comp cont educt pract vet 12, 667-675 Cahaya Indra. 2003. Epidemiologi Toxoplasma Gondii. Bagian Kesehatan Lingkungan. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Sumatera Utara. Levine. Norman D. 1994. Parasitologi Veteriner. Gadjah Mada University Press : Yogyakrta. Subroto. 2004. Ilmu Penyakit Ternak II. Gadjah Mada university press. Yogyakarta Yulia Yellita. 2004. Mekanisme Interaksi Toxoplasma Gondii dengan sel Hospes. IPB