Anda di halaman 1dari 10

TEORI KOGNITIVISME MAKALAH Disusun untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Strategi Belajar Mengajar yang Dibina oleh Drs.

Masjhudi, M.Pd. Oleh: Kelompok 2 Meisa "isrina +ara Prasetyan +omi ,arada S. O BB ! #$%%&'$'%%(%)* #$%%&'$'%')%%* #$%%&'$'%')%)*

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN BIOLOGI September, 2012

A Pe!"ert#$! K%"!#t#&#'me -stilah .Cognitive/ berasal dari kata cognition artinya adalah pengertian, mengerti. Pengertian yang luasnya cognition #kognisi* adalah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan. -sme berarti sebuah aliran, paham #Sagala, 2%$%*. Dalam pekembangan selanjutnya, kemudian istilah kogniti0isme ini menjadi populer sebagai salah satu 1ilayah psikologi manusia2satu konsep umum yang men3akup semua bentuk pengenalan yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan masalah pemahaman, memperhatikan, memberikan, menyangka, pertimbangan, pengolahan in ormasi, peme3ahan masalah, pertimbangan, membayangkan, memperkirakan, berpikir dan keyakinan. Termasuk keji1aan yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi #kehendak* dan a eksi #perasaan* yang bertalian dengan rasa. Menurut para ahli ji1a aliran kogniti0isme, tingkah laku seseorang itu senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi #Sagala, 2%$%*. B K$r$(ter#'t#( Te%r# K%"!#t#&#'me Teori belajar kogniti0isme lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri. Belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon, lebih dari itu belajar melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman. Perubahan persepsi dan pemahaman tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang bisa diamati #Mu lihin, 2%%4*. ) T%(%*+t%(%* Te%r# Be,$-$r K%"!#t#&#'me 1 Je$! P#$"et Dalam teorinya yang disebut Cognitive Developmental, Piaget memandang bah1a proses berpikir sebagai akti0itas gradual dan ungsi intelektual dari konkret menuju abstrak #Mu lihin, 2%%4*. Piaget adalah ahli psikolog de0elopmental karena penelitiannya mengenai tahap tahap perkembangan pribadi serta perubahan umur yang mempengaruhi kemampuan belajar indi0idu. Menurut Piaget, pertumbuhan kapasitas mental memberikan kemampuan5kemampuan mental yang 2

sebelumnya tidak ada. Pertumbuhan intelektual tidak bersi at kuantitati , melainkan kualitati . Dengan kata lain, daya berpikir atau kekuatan mental anak yang berbeda usia akan berbeda pula se3ara kualitati . Menurut Suhaidi 6ean Piaget mengklasi ikasikan perkembangan kogniti0isme anak menjadi empat tahap! $. Tahap sensory motor, yakni perkembangan ranah kogniti0isme yang terjadi pada usia %52 tahun, Tahap ini diidentikkan dengan kegiatan motorik dan persepsi yang masih sederhana. 2. Tahap pre operational, yakni perkembangan ranah kogniti0isme yang terjadi pada usia 25( tahun. Tahap ini diidentikkan dengan mulai digunakannya simbol atau bahasa tanda, dan telah dapat memperoleh pengetahuan berdasarkan pada kesan yang agak abstrak. &. Tahap concrete operational, yang terjadi pada usia (5$$ tahun. Tahap ini di3irikan dengan anak sudah mulai menggunakan aturan5aturan yang jelas dan logis. 7nak sudah tidak memusatkan diri pada karakteristik perseptual pasi . '. Tahap formal operational, yakni perkembangan ranah kogniti0isme yang terjadi pada usia $$5$8 tahun. 9iri pokok tahap yang terahir ini adalah anak sudah mampu berpikir abstrak dan logis dengan menggunakan pola pikir .kemungkinan/. Dalam pandangan Piaget, proses adaptasi seseorang dengan lingkungannya terjadi se3ara simultan melalui dua bentuk proses, asimilasi dan akomodasi. 7similasi terjadi jika pengetahuan baru yang diterima seseorang 3o3ok dengan struktur kogniti0isme yang telah dimiliki seseorang tersebut. Sebaliknya, akomodasi terjadi jika struktur kogniti0isme yang telah dimiliki seseorang harus direkonstruksi2di kode ulang disesuaikan dengan in ormasi yang baru diterima #Mu lihin, 2%%4*. Dalam teori perkembangan kogniti0isme ini Piaget juga menekankan pentingnya penyeimbangan #e:uilibrasi* agar seseorang dapat terus mengembangkan dan menambah pengetahuan sekaligus menjaga stabilitas mentalnya. ;:uilibrasi ini dapat dimaknai sebagai sebuah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi sehingga seseorang dapat menyatukan &

pengalaman luar dengan struktur dalamya. Proses perkembangan intelek seseorang berjalan dari dise:uilibrium menuju e:uilibrium melalui asimilasi dan akomodasi. 2 Jer%me Br.!er Bruner teorinya adalah Discovery Learning, yaitu dalam teorinya menekankan bah1a proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreati jika guru memberikan kesempatan kepada sis1a untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan, atau pemahaman melalui 3ontoh53ontoh yang ia jumpai dalam kehidupan. Bruner meyakini bah1a pembelajaran tersebut bisa mun3ul dalam tiga 3ara atau bentuk, yaitu! enactive, iconic dan symbolic #Sanjaya, 2%%)*. Pembelajaran enakti mengandung sebuah kesamaan dengan adalah ke3erdasan indera1i dalam teori Piaget. Pengetahuan enakti

mempelajari sesuatu dengan memanipulasi objek < melakukan pengatahuan tersebut daripada hanya memahaminya. 7nak5anak didik sangat mungkin paham bagaimana 3ara melakukan lompat tali #=melakukan> ke3akapan tersebut*, namun tidak terlalu paham bagaimana menggambarkan akti itas tersebut dalam kata5kata, bahkan ketika mereka harus menggambarkan dalam pikiran. Pembelajaran ikonik merupakan pembelajaran yang melalui gambaran? dalam bentuk ini, anak5anak mempresentasikan pengetahuan melalui sebuah gambar dalam benak mereka. 7nak5anak sangat mungkin mampu men3iptakan gambaran tentang pohon mangga dikebun dalam benak mereka, meskipun mereka masih kesulitan untuk menjelaskan dalam kata5kata. Pembelajaran simbolik, ini merupakan pembelajaran yang dilakukan melalui representasi pengalaman abstrak #seperti bahasa* yang sama sekali tidak memiliki kesamaan isik dengan pengalaman tersebut. Sebagaimana namanya, membutuhkan pengetahuan yang abstrak, dan karena simbolik pembelajaran yang satu ini serupa dengan operasional ormal dalam proses berpikir dalam teori Piaget .

'

6ika dikorelasikan dengan aplikasi pembelajaran, Discovery Learning5 nya Bruner dapar dikemukakan sebagai berikut! $. Belajar merupakan ke3enderungan dalam diri manusia, yaitu Self c!rio!sity #keingintahuan* untuk mengadakan petualangan pengalaman. 2. Belajar penemuan terjadi karena si at mental manusia mengubah struktur yang ada. Si at mental tersebut selalu mengalir untuk mengisi berbagai kemungkinan pengenalan. &. Kualitas belajar penemuan di1arnai modus imperati kesiapan dan kemampuan se3ara enakti , ekonik, dan simbolik. '. Penerapan belajar penemuan hanya merupakan garis besar tujuan instruksional sebagai arah in ormati . 8. Kreati itas meta orik dan creative conditioning yang bebas dan bertanggung ja1ab memungkinkan kemajuan. / A.'.be, Teori "ela#ar "erma$na% Psikologi pendidikan yang diterapkan oleh 7usubel adalah bekerja untuk men3ari hukum belajar yang bermakna, berikut ini konsep belajar bermakna Da0id 7usubel. Pengertian belajar bermakna menurut 7usubel ada dua jenis belajar ! $. Belajar bermakna #meaningf!l learning* 2. Belajar mengha al #rote learning* Belajar bermakna adalah suatu proses belajar di mana in ormasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dipunyai seseorang yang sedang belajar. Sedangkan belajar mengha al adalah sis1a berusaha menerima dan menguasai bahan yang diberikan oleh guru atau yang diba3a tanpa makna #Sanjaya, 2%%)*. Sebagai ahli psikologi pendidikan 7usubel menaruh perhatian besar pada sis1a di sekolah, dengan memperhatikan2memberikan tekanan5tekanan pada unsur kebermaknaan dalam belajar melalui bahasa #meaningf!l verbal learning*. Kebermaknaan diartikan sebagai kombinasi dari in ormasi 0erbal, konsep, kaidah dan prinsip, bila ditinjau bersama5sama. Oleh karena itu belajar dengan prestasi ha alan saja tidak dianggap sebagai belajar bermakna. Maka, menurut 7usubel supaya proses belajar 8

sis1a menghasilkan sesuatu yang bermakna, tidak harus sis1a menemukan sendiri semuanya. Malah, ada bahaya bah1a sis1a yang kurang mahir dalam hal ini akan banyak menebak dan men3oba53oba saja, tanpa menemukan sesuatu yang sungguh berarti baginya. Seandainya sis1a sudah seorang ahli dalam mengadakan penelitian demi untuk menemukan kebenaran baru, bahaya itu tidak ada? tetapi jika sis1a tersebut belum ahli, maka bahaya itu ada. -a juga berpendapat bah1a pemerolehan in ormasi merupakan tujuan pembelajaran yang penting dan dalam hal5hal tertentu dapat mengarahkan guru untuk menyampaikan in ormasi kepada sis1a. Dalam hal ini guru bertanggung ja1ab untuk mengorganisasikan dan mempresentasikan apa yang perlu dipelajari oleh sis1a, sedangkan peran sis1a di sini adalah menguasai yang disampaikan gurunya. Belajar dikatakan menjadi bermakna #meaningf!l learning* yang dikemukakan oleh 7usubel adalah bila in ormasi yang akan dipelajari peserta didik disusun sesuai dengan struktur kogniti0isme yang dimiliki peserta didik itu sehingga peserta didik itu mampu mengaitkan in ormasi barunya dengan struktur kogniti0isme yang dimilikinya. Belajar seharusnya merupakan apa yang disebut asimilasi bermakna, materi yang dipelajari di asimilasikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dipunyai sebelumnya. @ntuk itu diperlukan dua persyaratan ! a. Materi yang se3ara potensial bermakna dan dipilih oleh guru dan harus sesuai dengan tingkat perkembangan dan pengetahuan masa lalu peserta didik. b. Diberikan dalam situasi belajar yang bermakna, aktor moti0asional memegang peranan penting dalam hal ini, sebab peserta didik tidak akan mengasimilasikan materi baru tersebut apabila mereka tidak mempunyai keinginan dan pengetahuan bagaimana melakukannya. Sehingga hal ini perlu diatur oleh guru, agar materi tidak dipelajari se3ara ha alan. Berdasarkan uraian di atas maka, belajar bermakna menurut 7usubel adalah suatu proses belajar di mana peserta didik dapat menghubungkan in ormasi baru dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya dan agar )

pembelajaran bermakna, diperlukan 2 hal yakni pilihan materi yang bermakna sesuai tingkat pemahaman dan pengetahuan yang dimiliki sis1a dan situasi belajar yang bermakna yang dipengaruhi oleh moti0asi. Dengan demikian kun3i keberhasilan belajar terletak pada kebermaknaan bahan ajar yang diterima atau yang dipelajari oleh sis1a. 7usubel tidak setuju dengan pendapat bah1a kegiatan belajar penemuan #discovery learning* lebih bermakna daripada kegiatan belajar penerimaan #reception learning*. Sehingga dengan 3eramahpun, asalkan in ormasinya bermakna bagi peserta didik, apalagi penyajiannya sistematis, akan dihasilkan belajar yang baik. 0 Le& V1"%t'(1 Semula pengaruh teori Pa0lo0, Aygotsky berbalik menentangnya karena ia berpendapat bah1a stimulus dan respon saja tidak 3ukup untuk menjelaskan tentang realitas akti0itas manusia. 7kti0itas yang di lakukan manusia membutuhkan mediator ekstra melalui alat atau bahasa. -a juga berpendapat bah1a ada perbedaan antara konsep dan bahasa ketika seseorang masih belia, tetapi sejalan dengan perjalanan 1aktu, keduanya akan menyatu. Bahasa mengekspresikan konsep, dan konsep di gunakan dalam bahasa. Menurut Aygotski, orang de1asa yang sensiti akan peduli terhadap kesiapan anak untuk tantangan baru, sehingga mereka dapat menyusun kegiatan yang 3o3ok untuk menegmbangkan ketrampilan baru. Orang de1asa berperan sebagai mentor dan guru,mengarahkan anak ke dalam &one of pri'imal development istilah dari Aygotsky yang berarti suatu Bona perkembangan di mana anak tidak mampu melakukan suatu kegiatan belajar tanpa bantuan namun dapat melakukannya se3ara baik di ba1ah bimbingan orang de1asa. Ketika anak5anak berpartisipasi dalam kegiatan sehari5hari seperti ini dengan orang tua, guru, dan orang lain mereka akan se3ara bertahap mempelajari praktek budaya, nilai5nilai, ketrampilan #Mu lihin, 2%%4*.

D P$!2$!"$!

Te%r#

K%"!#t#&#'me

ter*$2$p

Be,$-$r

Me!"$-$r

2$!

Pembe,$-$r$! Teori kogniti0isme adalah teori yang umumnya dikaitkan dengan proses belajar. Kognisi adalah kemampuan psikis atau mental manusia yang berupa mengamati, melihat, menyangka, memperhatikan, menduga dan menilai. Dengan kata lain, kognisi menunjuk pada konsep tentang pengenalan. Teori kogniti0isme menyatakan bah1a proses belajar terjadi karena ada 0ariabel penghalang pada aspek5aspek kognisi seseorang. Teori belajar kogniti0isme lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri. Belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon, lebih dari itu belajar melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman. Perubahan persepsi dan pemahaman tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang bisa diamati. Dari beberapa teori belajar kogniti0isme diatas #khusunya tiga di penjelasan a1al* dapat pemakalah ambil sebuah sintesis bah1a masing masing teori memiliki kelebihan dan kelemahan jika diterapkan dalam dunia pendidikan juga pembelajaran. 6ika keseluruhan teori diatas memiliki kesamaan yang sama5sama dalam ranah psikologi kogniti0isme, maka disisi lain juga memiliki perbedaan jika diaplikasikan dalam proses pendidikan. Sebagai misal, Teori bermakna 7usubel dan Discovery Learning5nya Bruner memiliki sisi pembeda. Dari sudut pandang Teori belajar Bermakna 7usubel memandang bah1a justru ada bahaya jika sis1a yang kurang mahir dalam suatu hal mendapat penanganan dengan teori belajar dis3o0eri, karena sis1a 3enderung diberi kebebasan untuk mengkonstruksi sendiri pemahaman tentang segala sesuatu. Oleh karenanya menurut teori belajar bermakna, guru tetap ber ungsi sentral sebatas membantu mengkoordinasikan pengalaman5 pengalaman yang hendak diterima oleh sis1a namun tetap dengan koridor pembelajaran yang bermakna. Dari poin diatas dapat pemakalah ambil garis tengah bah1a beberapa teori belajar kogniti0isme diatas, meskipun sama5sama mengedepankan proses berpikir, tidak serta merta dapat diaplikasikan pada konteks pembelajaran C

se3ara menyeluruh. Terlebih untuk menyesuaikan teori belajar kogniti0isme ini dengan kompleksitas proses dan sistem pembelajaran sekarang maka harus benar5benar diperhatikan antara karakter masing5masing teori dan kemudian disesuakan dengan tingkatan pendidikan maupun karakteristik peserta didiknya. E Imp,#($'# Te%r# K%"!#t#&#'me 2$,$m Pembe,$-$r$! 7plikasi teori belajar kogniti0isme dalam pembelajaran, guru harus memahami bah1a sis1a bukan sebagai orang de1asa yang mudah dalam proses berpikirnya, anak usia pra sekolah dan a1al sekolah dasar belajar menggunakan benda5benda konkret, keakti an sis1a sangat dipentingkan, guru menyusun materi dengan menggunakan pola atau logika tertentu dari sederhana kekompleks, guru men3iptakan pembelajaran yang bermakna, memperhatian perbedaan indi0idual sis1a untuk men3apai keberhasilan sis1a. Dari penjelasan diatas jelas bah1a implikasinya dalam pembelajaran adalah seorang pendidik, guru ataupun apa namanya mereka harus dapat memahami bagaimana 3ara belajar sis1a yang baik, sebab mereka para sis1a tidak akan dapat memahami bahasa bila mereka tidak mampu men3erna dari apa yang mereka dengar ataupun mereka tangkap., Dari ketiga ma3am teori diatas jelas masing5masing mempunyai implikasi yang berbeda, namun se3ara umum teori kogniti0isme lebih mengarah pada bagaimana memahami struktur kogniti0isme sis1a, dan ini tidaklah mudah, Dengan memahami struktur kogniti0isme sis1a, maka dengan tepat pelajaran bahasa disesuaikan sejauh mana kemampuan sis1anya.

D7,T7+ P@ST7K7 Sagala, Syai ul. 2%$%. (onsep dan )a$na *embela#aran. Bandung! 7l abeta Mu lihin, DiBbul. 2%%4. 7plikasi Dan -mplikasi Teori Beha0iorisme Dalam Pembelajaran. 6urnal -lmiah Pendidikan. Sanjaya, Eina. 2%%). Strategi *embela#aran "erorientasi Standar *roses *endidi$an. Bandung! San Fra ika

$%