Anda di halaman 1dari 12

Seri #9: Rahasia Karakter Bangsa Jepang yg mengagumkan Karakter 7: Bekerja sebagai pengabdian

Tidak terasa, kita telah mengenal 6 karakter bangsa Jepang sebelumnya yaitu: rasa syukur, cinta tanah air, kepatuhan, kejujuran, disiplin, sopan & hormat. Enam karakter ini saja sudah membuat kita terkagum-kagum dengan perilaku mereka. Untuk berikutnya, kita akan mengenal lebih lanjut sifat dan karakter kerja keras bangsa Jepang. Satu karakter ini yang mempercepat bangsa Jepang menjadi raksasa ekonomi dunia. Mari kita simak ulasannya.

Memang benar, bangsa Jepang adalah bangsa yang senang bekerja keras. Bagi orang Jepang bekerja adalah segalanya. Artinya mereka menganggap bekerja sudah seperti ibadah bagi hidup mereka. Etos kerja orang Jepang adalah hal yang paling menarik diamati. Tidak salah jika banyak negara di dunia memberikan julukan para pekerja Jepang sebagai seorang workholic. Meski Jepang bukanlah negeri dongeng yang sempurna, ada nilai-nilai etos kerja yang menarik untuk disimak dan diaplikasikan di tanah air tercinta.

Budaya Kerja Pelayanan Publik Kunjungan ke negeri Sakura kemarin, saya tidak melewatkan kota Kobe. Jam 8.00 pagi saya sudah di Stasiun Osaka menuju Kobe menggunakan kereta Hankyu Line. Hanya perlu waktu sekitar 45 menit sampai di stasiun Kobe. Pelabuhan Kobe atau dikenal Kober Harborland & Mozaic Garden, adalah tujuan pertama saya. Keluar dari stasiun masih sekitar jam sembilan pagi, saya berjalan menyusuri jalanan utama penuh dengan deretan shopping mall, kantor bank dan salah satunya Government Building (Gedung pemerintahan Kobe). Di dorong oleh rasa penasaran dan merasa masih pagi, saya ingin juga mampir melihat bagaimana suasana kantor pemerintahan di sini.

Anda pernah melihat sekelompok semut? Nah, begitulah kira-kira situasi di gedung perkantoran pemerintah tersebut. Para pegawai semua sigap bekerja sama seperti gerakan semut. Tidak ada pegawai yang diam termangu, apalagi membaca koran. Seluruh karyawan bergerak, dari saat bel mulai kerja hingga pulang larut malam. Saya tak habis pikir dan saya amati mereka yang sedang bekerja tersebut. Kadang kala saya curi pandang: jangan-jangan mereka sedang sibuk dengan pekerjaan yang tidak penting seperti kantor pemerintahan di Indonesia. Ingin saya mengetahui apa yang mereka kerjakan di komputer, sehingga mereka sanggup berjam-jam duduk, konsentrasi, dan menatap monitor yang bentuknya tidak berubah tersebut.

Tata ruang kantor khas Jepang: mulai pimpinan hingga staf teknis duduk pada satu ruangan yang samatanpa sekat; semua bisa melihat bahwa semuanya bekerja. Jika ada satu orang membaca koran, pasti akan ketahuan. Aksi yang bagi saya dramatis ini masih ditambah lagi dengan aksi gerak cepat atau larilari kecil dari pimpinan ataupun staf dalam melayani masyarakat. Ya, mereka berlari dalam arti yang sesungguhnya dan ekspresi pelayanan yang sama seriusnya.

Saya hampir tak percaya, bahwa gaji mereka - para pegawai tersebut - tidak bisa dikatakan berlebihan. Sesuai dengan standard upah di Jepang. Yang saya baca di internet, mereka memiliki kebanggaan berprofesi sebagai abdi negara; kebanggaan yang menutupi penghasilan yang tidak berbeda dengan profesi yang lain. Seorang rekan yang pernah studi di sini juga mengatakan, begitu anda masuk ke kantor pemerintahan di Jepang, maka semua urusan akan ada (dan harus ada) solusinya. Di lain tempat saya juga membaca prinsip "The biggest for the small" yang kurang lebih bermakna pelayanan dan perhatian yang maksimal untuk orang - orang yang kurang beruntung. Pameo iklan yg sempat terkenal di media kita "Kalau bisa dipersulit, mengapa harus dibuat mudah" kelihatannya tidak akan dijumpai di Jepang. Memang benar etos kerja orang Jepang tidak perlu diragukan lagi.

Mengapa orang Jepang suka Kerja Keras? Jam resmi masuk kantor di Jepang baik pegawai negeri atau swasta dimulai pukul 9.00 pagi, selesai pukul 17.00 sore. Namun anggapan di Jepang selama ini, jika ada seorang pegawai yang datang pukul 9 pagi dan pukul 18.00 sudah sampai rumah, maka bisa disebut hal itu seperti tidak niat kerja. Umumnya mereka baru beranjak dari kantor pada pukul 20.00. Itu pun tidak langsung ke rumah. Biasanya khususnya kaum pria bersosialisasi dulu dengan rekan-rekannya entah di restoran, karaoke atau tempat lainnya.

Di Jepang, orang yang pulang kerja lebih cepat selalu diberi berbagai stigma negatif, dianggap sebagai pekerja yang tidak penting, malas dan tidak produktif. Bagi orang Jepang pulang cepat adalah sesuatu yang memalukan di Jepang dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk kurang pengabdian pada perusahaan. Orang Jepang sudah terbiasa kerja extra dengan tanpa adanya uang lembur. Mereka terbiasa menghabiskan waktu di tempat kerja dengan mengorbankan waktu bagi keluarganya. Tak aneh kalau orang Jepang suka bekerja keras. Selain merupakan status dan prestise bagi

mereka. Bahkan istri-istri orang Jepang lebih bangga bila suami mereka gila kerja bukan kerja gila. Sebab hal itu juga menjadi pertanda suatu status sosial yang tinggi.

Berbeda dengan negara kita, masyarakat kita mengukur status sosial seseorang dilihat dari besarnya rumah, kekayaan, mobil yg dimiliki atau juga jabatan dalam pekerjaan. Orang Jepang lebih menghargai bentuk pengabdian dan pekerjaan yang dilakukan, bukan melihat kekayaan seseorang.

Bagi orang Jepang Bekerja adalah Kebutuhan, bukan Kewajiban Namun, walau mereka pulang malam, mereka tetap disiplin. Bahkan disiplin sangat tinggi karena meski pulang larut malam, keesokan harinya datang tepat waktu ke kantornya. Karena itu jika kita pergi ke Tokyo atau Osaka, deru kereta api sudah bersliweran di stasiun sejak pukul 06.00 pagi. Sekitar pukul 7.00 pagi sudah banyak kita temui pria wanita berseragam kantor berjalan cepat menuju kantor. Itu kesibukan yang saya lihat saat pagi di stasiun kota.

Orang Jepang bekerja ternyata tidak sekedar untuk memperoleh gaji, tapi dalam pekerjaan itu-lah terdapat kenikmatan hidup. Dr. Takeshi mengatakan seandainya seorang Jepang ditanya : "Jika ada kesempatan anda menjadi milyuner dan kemudian tidak perlu bekerja lagi tinggal menikmati saja, apakah anda akan berhenti bekerja ?", maka dipastikan orang Jepang tersebut akan menjawab, "Saya tidak akan berhenti, terus bekerja." Bagi orang Jepang kerja itu seperti bermain dengan kawan akrab.

Ini cerita dari sebuah blog mahasiswa Indonesia yang kuliah di Jepang. Dia menceritakan secuplik kisah yang bisa dijadikan ilustrasi tersebut. Ada seorang pekerja bernama Hiroshi Ebihara. Dia seharusnya sudah pensiun setahun yang lalu. Kini usianya sudah 63 tahun, tetapi lelaki tua itu tetap bekerja setiap hari. Bukan karena keharusan, tapi ia memang menginginkannya. "Saya ingin bekerja sampai umur 70 tahun, kata Ebihara optimists. Perusahaan mengizinkan saya bekerja hingga usia 70 tahun, jadi sekarang giliran saya menunjukkan ras terimakasih dan bekerja untuk perusahaan selama masih dizinkan". Pria yang bertanggung jawab atas lingkungan tempat Ebihara bekerja adalah Noburi Kamoda. Hebatnya ternyata umur pak Kamoda ini jauh lebih tua ketimbang Ebihara sendiri yakni : 76 tahun !

Perusahaan sebagai bagian dari keluarga

Bangsa Jepang tidak menganggap tempat kerja hanya sekadar tempat mencari makan, tetapi juga menganggapnya sebagai bagian dari keluarga dan kehidupannya. Kesetiaan mereka pada perusahaan melebihi kesetiaannya pada keluarga sendiri. Mereka selalu berusaha memberikan kinerja terbaik pada perusahaan, pabrik, atau tempat mereka bekerja. Budaya kerja seperti itu tidak lahir dan terwujud dengan begitu saja. Budaya itu dipupuk dan dilatih selama berabad-abad, sehingga akhirnya mengakar dalam pemikiran dan jiwa mereka.

Semangat Mengabdi pada Perusahaan Hal unik lainnya dari sistem kerja masyarakat Jepang adalah totalitas pengabdian mereka pada organisasi/perusahaan tempat mereka bekerja. Bagi mereka kerja yang dilaksanakan secara efektif dan efisien hingga cepat diselesaikan adalah lebih penting daripada menuntut tambahan uang lelah. Orang Jepang sanggup berkorban dengan bekerja lembur tanpa mengharap bayaran. Mereka bahkan rela bekerja tanpa digaji karena menganggap bahwa pekerjaan adalah sebuah kewajiban. Mereka merasa lebih dihargai jika diberikan tugas pekerjaan yang berat dan menantang. Bagi mereka, jika hasil produksi meningkat dan perusahaan mendapat keuntungan besar, secara otomatis mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal. Dalam pikiran dan jiwa mereka, hanya ada keinginan untuk melakukan pekerjaan sebaik mungkin dan mencurahkan seluruh komitmen pada pekerjaan.

Berhasil dalam kerja serasa membuat diri mereka punya arti turut menyumbangkan kebaikan untuk kaisar dan Negara. Bekerja bagi mereka lebih dari sekedar mencari uang, atau untuk kehidupan keluarga. Bagi mereka bekerja adalah bentuk pengabdian kepada Negara & Kaisar. Spirit ini adalah warisan dari para Samurai, dengan semangat bushido nya yang total dalam melayani tuannya. Jadi, tidak heran jika pekerja Jepang mampu bekerja dalam waktu yang panjang tanpa mengenal lelah, bosan, dan putus asa. Juga mampu mencurahkan perhatian, jiwa, dan komitmen pada pekerjaan yang dilakukannya. Karakter dan budaya kerja keras merupakan faktor penting keberhasilan bangsa Jepang dalam bidang ekonomi, industri, dan perdagangan.

Hubungan atasan bawahan yang harmonis Di Jepang, setiap pekerja mengetahui tugas dan perannya di tempat kerja. Mereka tidak bekerja sebagai individu, tetapi dalam satu pasukan, sehingga tidak ada jurang yang tercipta di antara mereka. Mereka tidak bersaing, tetapi bekerja sama untuk menyelesaikan suatu tugas. Di Jepang, semua pekerja tidak memandang pangkat dan berada pada kedudukan yang sama.

Jabatan tinggi atau rendah tidak penting dalam etika dan pengelolaan kerja bangsa Jepang. Di tempat kerja, meja pegawai dan atasan diletakkan dalam suatu ruang terbuka tanpa pemisah. Tidak ada dinding pemisah seperti kebanyakan ruang kantor di Indonesia. Pengelola tidak dipisahkan dari bawahan mereka. Tidak ada ruangan khusus untuk golongan pengelola. Tempat duduk dan meja di susun dan diletakkan berdekatan dengan pengelola bagiannya agar memudahkan bawahannya menghubungi mereka. Dengan demikian, mereka dapat berinteraksi, berkomunikasi, dan bertukar pendapat kapan saja.

Susunan ruangan kantor seperti itu bukan agar atasan mengawasi bawahannya. Melainkan lebih berfungsi sebagai tempat dan saluran untuk berbincang dan bertukar pandangan. Walau begitu, duduk dalam keadaan rapat tidak digunakan untuk membicarakan hal yang tidak berguna. Mereka hanya berbicara dan bercanda setelah jam kerja.

Cara yang digunakan bangsa Jepang adalah salah satu cara membentuk dan menjalin hubungan erat antar pekerja. Semua pekerja mempunyai tugas dan tanggung jawab penting, sehingga mereka tidak merasa asing. Selain itu, antar sesama, mereka memiliki ikatan emosi yang kuat. Begitu juga dengan rasa sentimen dan keterikatan mendalam terhadap perusahaan, pabrik, dan tempat kerja mereka. Karakter dan budaya kerja keras merupakan faktor penting keberhasilan bangsa Jepang dalam bidang ekonomi, industri dan perdagangan.

Kualitas Pekerja di Jepang Mengagumkan Pada saat para pekerja di negara-negara industri Eropa Barat dan AS mengalami penurunan produktivitas, para pekerja Jepang menunjukkan prestasi yang cukup mengagumkan. Dari sebuah survey di Jepang, setiap sembilan hari, seorang pekerja di Jepang menghasilkan sebuah mobil senilai seratus seribu Poundsterling. Padahal, pekerja di perusahaan Leyland Motors, Inggris, memerlukan waktu empat puluh tujuh hari untuk menghasilkan sebuah mobil bernilai sama. Kecekatan, keahlian, dan kecepatan pekerja Jepang jelas melebihi pekerja di negara mana pun.

Seorang pekerja Jepang rata-rata dapat melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan lima sampai enam orang. Di Indonesia misalnya, untuk memperbaiki jalan raya yang rusak, mungkin diperlukan lima belas orang. Mulai dari pihak yang menerima pengaduan, yang mengawasi, yang

mengangkat peralatan, pemandu, hingga yang bertanggung jawab mengolah ter (aspal), dan yang menutupi jalan yang rusak. Di Jepang, pekerjaan itu dapat di kerjakan oleh tiga orang saja. Oleh karena itu, pekerja Jepang digaji tinggi karena mereka dapat menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan lebih dari satu orang.

Jadi, jika ada negara yang ingin seperti Jepang, mereka juga perlu memiliki pekerja yang mampu mengerjakan berbagai pekerjaan dalam waktu yang sama. Pekerja di Jepang tidak hanya mampu bekerja dengan baik, tetapi mau bekerja lembur tanpa bayaran lebih. Bagi mereka, yang terpenting adalah pekerjaan tersebut dapat selesai secepatnya. Mereka tidak terlalu memikirkan imbalan karena imbalan tersebut dapat diperoleh dengan menunjukkan prestasi yang memberi semangat dan ketika perusahaan memperoleh keuntungan.

Pekerja Jepang layak menerima gaji tinggi karena kualitas kerja mereka. Di samping itu, sikap dan cara kerja mereka juga sepantasnya mendapatkan gaji tinggi. Pekerja di Indonesia perlu mencontoh sikap kerja bangsa Jepang jika ingin menjadi negara maju.

Disiplin kerja yang tinggi Untuk melancarkan urusan pekerjaannya, orang Jepang memegang teguh prinsip tepat waktu dengan tertib dan disiplin, khususnya dalam sektor perindustrian dan perdagangan. Kedua elemen itu menjadi dasar kemakmuran ekonomi yang dicapai Jepang sampai saat ini. Ukuran nilai dan status orang Jepang didasarkan pada disiplin kerja dan jumlah waktu yang dihabiskannya di tempat kerja.

Jenjang Karir di Jepang Dr. Anto Satryo Nugroho, seorang peneliti BPPT asal Solo yang alumni Nagoya Institute, bercerita dalam blognya tentang pengalaman rekannya yang sama-sama doktor. Sang rekan harus memulai dari bawah saat melamar di Japan Railway (JR), perusahaan kereta api di Jepang. Rekannya yang bergelar doktor itu tidak langsung menjadi peneliti di JR, namun harus mengikuti berbagai pelatihan berkaitan dengan perkeretaapian. Pelatihan ini benar-benar mulai dari kursus mengemudikan shinkansen (kereta cepat) yang bisa melaju hingga 300 km per jam, hingga memiliki menkyo (surat ijin) mengemudikan kereta api. Setelah mahir, sang rekan itu masih harus mengikuti pelatihan kebersihan kereta. Jadi, mulai dari cara menyapu, mengelap dan mengepel kereta api harus dilakoni. Selesai pelatihan kebersihan, sang doktor itu harus mempelajari ketrampilan sebagai montir, memperbaiki berbagai kerusakan yang mungkin

terjadi pada sebuah kereta api. Jadi sebagai doktor material, ia pun harus bersimbah oli, debu dan aneka peralatan mekanik. Namun apa hasilnya dari semua proses pelatihan tadi? Setelah beberapa tahun, sang rekan begitu mengerti bagaimana kereta api itu dijalankan sedetail-detailnya. Sehingga memudahkan dia bekerja menjalankan profesinya sebagai peneliti di sana.

Produk Jepang diakui Dunia Sebelum perang, barang produksi Jepang dianggap tidak berkualitas dengan mutu amat rendah. Begitu juga setelah perang, barang berlabel Made in Japan tidak laku di pasaran dan sering dilecehkan jika dibandingkan dengan produksi dan Barat. Pada awal era 1950-an, radio, perekam pita, dan peralatan hi-fi dari Jepang tidak dapat menyaingi produksi AS dan menembus pasar dunia. Namun, bangsa Jepang tidak putus asa. Para peneliti dan pekerja Jepang terus berusaha memperbaiki produk mereka. Mereka terus melakukan berbagai penelitian untuk meningkatkan mutu produksinya, sehingga produk mereka diakui sebagai yang terbaik di dunia. Hal serupa juga terlihat dan barang barang produksi seperti jam tangan, motor, barang elektrik, kapal, tekstil, dan sebagainya. Namun itu berlaku untuk era 1950-1970an saja. Pada era 1980an barang-barang Jepang makin berkualitas, era 1990an orang mencari barang-barang produk Jepang. Maka sekarang jika anda perlu ke Jepang, mau membeli laptop, kamera, ponsel, jam tangan, justru produk Jepang tidak mudah didapat. Kebanyakan produk yang ada adalah merek Jepang, namun dibuat di Cina, Vietnam, Malaysia, Thailand dan Indonesia. Oleh karena perusahaan Jepang lebih memilih membangun industri diluar negeri karena pertimbangan pangsa pasar, bahan baku, tenaga kerja yang lebih murah di luar negeri. Menurut data, di Indonesia saja ada sekitar 1000 perusahaan Jepang yang mendirikan pabrik di negara kita. Dengan memiliki para pekerja yang punya etos kerja sebagus itu, Jepang tentunya memiliki modal yang luar biasa dalam membangun kemajuan negeri. Di bidang pariwisata misalnya, siapa yang tidak senang mengunjungi negara yang manusianya penuh penghormatan, kesantunan dan kesungguhan dalam melayani? Di bidang industri, siapa yang tidak percaya pada kualitas produk yang digarap oleh para pekerja yang andal, tekun dan teliti? Yang tidak bekerja sambil ngobrol sendiri atau bekerja alakadarnya, asal bekerja.

Tradisi cara hidup Jepang yang hormat, santun dan kesungguhan tetap membuahkan etos kerja yang unggul. Bisakah kita jadi seperti mereka, menghormati apapun profesi kita dengan menghadirkan kinerja unggul untuk selalu mampu menghormati dan melayani orang lain dengan prima? Kalau kesadaran bekerja adalah untuk melaksanakan sebuah ibadahNya yaitu berkarya dan berbuat banyak bagi kepentingan manusia lain, tentunya dengan senang hati kita layak menjawab: bisaa.. Karena sesungguhnya kita memang bisa..

Banyak Negara ingin Meniru Jepang Banyak negara di Asia yang menjadikan keberhasilan Jepang sebagai sumber inspirasi mereka. Akan tetapi, tidak satu pun yang mampu mencontoh dan mengulang secara utuh keberhasilan Jepang. Mencontoh keberhasilan Jepang tanpa menerapkannya melalui tindakan tentu saja tidak memberikan hasil apa-apa. Bangsa Jepang cepat dan tanggap bertindak, Sehingga mereka cepat bangkit dari kehancuran. Mereka tidak menunggu peluang datang, tetapi mencari dan menciptakan sendiri peluang tersebut. Sekali mendapatkan peluang, mereka tidak melepaskannya.

Salah satunya yang meniru bangsa Jepang adalah Korea Selatan. Seperti halnya Jepang, Korea Selatan juga mengalami kehancuran ekonomi yang dahsyat akibat perang saudara dengan Korea Utara. Ketika saudara kandungnya itu masih berhadapan dengan kemiskinan, perekonomian Korea Selatan telah berkembang dengan pesat, sehingga muncul sebagai penguasa baru dalam perekonomian Asia. Namun, kemajuan ekonominya masih belum dapat mengalahkan Jepang.

Oleh karena itu, kalau kita hendak menjadikan Jepang sebagai cermin, akan kelihatan bahwa Jepang berkembang menjadi negara industri pada masa sesudah Perang Dunia II (ketika dia dikalahkan oleh Amerika dan sekutunya), adalah berkat kerja keras mereka sebagai bangsa yang mempunyai etos kerja yang tinggi. Mereka ingin membangun bangsa dan negaranya dari reruntuhan Perang Dunia, maka mereka bekerja dengan penuh kesungguhan sambil benar-benar mengencangkan ikat pinggang. Setelah mereka mencapai kemajuan sehingga menjadi pemimpin ekonomi dunia, semua negara tertuju pada negara Jepang.

Gaya Berpikir orang Indonesia Bagaimana jika kita bandingkan dengan etos kerja orang Indonesia. Kecenderungan orang Indonesia (walaupun tidak semua) kerja yang santai tapi dapat hasil (gaji) banyak. Kalau bisa ditunda besok, kenapa harus dikerjakan sekarang. Dan masih banyak lagi etos kerja bangsa kita yang masih rendah. Pertanyaannya bagaimana memperbaiki etos kerja dan semangat membangun bangsa kita? Kelihatannya masih perlu usaha dan waktu yang panjang.

Salam etos, Markus Tan > Penulis buku best seller "18 Plus Rahasia Sukses Anthony Robbin

1.Kerja Keras Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan "agak memalukan" di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk "yang tidak dibutuhkan" oleh perusahaan.

2. Malu Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena "mengundurkan diri" bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.

3.Hidup Hemat Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00.

4Loyalitas Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan.

5.Inovasi Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk. Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah.

6.Pantang Menyerah Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia .

Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki , disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo . Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen) .

Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan). Kapan-kapan saya akan kupas lebih jauh tentang ini.

7.Budaya Baca Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institute penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan. 8.Kerjasama Kelompok Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa "1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok" . Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan "rin-gi" adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam "rin-gi". 9.Mandiri Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Irsyad, anak saya yang paling gede sempat merasakan masuk TK (Yochien) di Jepang. Dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Teman-temen seangkatan saya dulu di Saitama University mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka "meminjam" uang ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya. 10.Jaga Tradisi & Menghormati Orang Tua Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini. Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf

duluan.Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata "tidak" untuk apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepang karena "hai" belum tentu "ya" bagi orang Jepang Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang. Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian. Pertanian Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia. gimana menurut agan?sama indo jauh banget yaa? Be the BEST of whatever you are Today I went to a ramen house at Muara Karang, a famous one, forgot the name, I think Ikousha ? Anyway, have been wanting for so long too eat there, because we heard the taste is quite good. But when we arrive there, the place was so crowded, and still so many people were waiting outside. When I approach the waiter, she advise I will have to wait for a long time. So finally, we end up eating at the noodle stall next door, Bakmi Amen. Somehow then, I was thinking about the waiter, and how such a person could perform her job better. She can have 2 choices : 1. Standing there, with sad face, feel sorry about herself, complaining about her job, and do only the minimum task. Or even after sometime , I think , she will find it difficult even to only perform the minimum. 2. Or, she can feels happy. Try to do more than what she has to do. Since it is very easy, she can do each of her task well, and she can do more, quantity and quality. She can show happy face, happy smile. Engage the guests in conversation. Or maybe do some cleaning, tidy up. Anything, but standing and feel not satisfy about her job. Above scenario makes me thinking about myself. How i've been acting same as the first scenario all this time. Keep complaining about my job, finding it more and more difficult each day to fulfill even the minimum requirement. While actually, I can choose to live the 2nd scenario. I can come to the office with happy face, smiling, greets other associates, say some nice things to them (everybody need to hear good things said to them, rite ?) Then I can do my minimum job as good as I can. And then findWhat more can I do today ? Or what things can I do better today ? By then, people will notice and appreciate what I do. They will acknowledge my work. (doesn't mean I am expecting any appreciation currently, really ). So, let's do it starting Monday then. Oh No, starting tomorrow I should say. Why need to wait another 3 days . Budi Indah, bedroom, 11 May 2012, 10:45 pm If you can't be a pine on the top of the hill Be a scrub in the valley - but be the best little scrub by the side of the hill; Be a bush if you can't be a tree. If you can't be a bush be a bit of the grass, And some highway some happier make; If you can't be a musk then just be a bass- But the liveliest bass in the lake! We can't all be captainsn we've got to be crew, There's something for all of us here. There's big work to do and there's lesser to do, And the task we must do is the near. If you can't be a highway then just be a trail, If you can't be the sun be a star; It isn't by size that you win or you fail- Be the Best of whatever you are ! -Douglas Malloch-