Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN AKHIR PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

UJI EFEK TERATOGENIK EKSTRAK ETANOL DAN AIR TANAMAN MENIRAN (Phyllanthus niruri L.) TERHADAP MENCIT GALUR Balb/c

BIDANG KEGIATAN PKM Penelitian

Diusulkan oleh : INTAN ADIPUTRI FAHIMA GOROTOMOLE SRI IRIANI BATOROWATI (08023163, 2008) (08023127, 2008) (10023115, 2010)

UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN YOGYAKARTA 2012

LEMBAR IDENTITAS DAN PENGESAHAN LAPORAN AKHIR PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA 1. Judul Kegiatan : Uji Efek Teratogenik Ekstrak Etanol dan Air Tanaman Meniran (Phyllanthus niruri L.) Terhadap Mencit Galur Balb/c : PKM Penelitian : Kesehatan (Farmasi)

2. Bidang Kegiatan 3. Bidang Ilmu 4. Ketua Pelaksana Kegiatan a. Nama Lengkap b. NIM c. Jurusan d. Universitas e. Alamat Rumah dan No Tel./HP f. Alamat email 5. Anggota Pelaksana Kegiatan / Penulis 6. Dosen Pendamping a. Nama Lengkap dan Gelar b. NIP c. Alamat Rumah dan No Tel./HP

: Intan Adiputri : 08023163 : Farmasi : Universitas Ahmad Dahlan : Jalan Trikora No 65 Sorong Papua Barat (085254434455) : ade_kit_kat@yahoo.co.id : 2 orang

7. Biaya Kegiatan Total (DIKTI) 8. Jangka Waktu Pelaksanaan

: Prof. Dr. H. Sugiyanto, S. U., Apt. : 130779543 : Jalan Cereme A 40, Perumahan Sidoarum Blok II, Godean, Sleman Yogyakarta (0816687124) : Rp. 5.650.000 : 4 Bulan Yogyakarta, 4 Juni 2012

Menyetujui Ketua Program Studi

Ketua Pelaksana Kegiatan

(Wahyu Widyaningsih, M.Si., Apt.) NIP. 19720102 200501 2 001 Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan

(Intan Adiputri) NIM. 08023163 Dosen Pendamping

(Drs. Muchlas, M.T) NIP. 19620218 198702 1 001

(Prof. Dr. H. Sugiyanto, S. U., Apt.) NIP. 130779543

Halaman LEMBAR IDENTITAS DAN PENGESAHAN .......................................... ii ABSTRAK ................................................................................................. iv KATA PENGANTAR ................................................................................ v I. PENDAHULUAN ............................................................................... 1 1. Latar Belakang ................................................................................ 1 2. Rumusan Masalah ........................................................................... 1 3. Tujuan ............................................................................................. 2 4. Luaran yang Diharapkan .................................................................. 2 5. Kegunaan ........................................................................................ 2 II. TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................... 2 1. Meniran (Phyllanthus niruri L.) ....................................................... 2 2. Teratogenik ..................................................................................... 3 3. Imunostimulator .............................................................................. 4 III. METODE PENDEKATAN.................................................................. 4 IV. PELAKSANAAN PROGRAM ............................................................ 4 1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan ...................................................... 4 2. Tahap Pelaksanaan .......................................................................... 4 3. Instrumen Pelaksanaan .................................................................... 5 V. HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................ 5 VI. KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................ 8 1. Kesimpulan ..................................................................................... 8 2. Saran ............................................................................................... 8 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 8 LAMPIRAN ............................................................................................... 9

UJI EFEK TERATOGENIK EKSTRAK ETANOL DAN AIR TANAMAN MENIRAN (Phyllanthus niruri L.) TERHADAP MENCIT GALUR Balb/c Intan Adiputri, Fahima Gorotomole, Sri Iriani Batorowati Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan ABSTRAK Meniran (Phyllanthus niruri L.) adalah salah satu tumbuhan yang sangat potensial sebagai penghasil obat. Meniran biasa digunakan sebagai imunostimulator, hepatoprotektor, antikarsinogen, diuretik, antidiare, antioksidan, menurunkan kadar LDL (Low Density Lypoprotein), antidemam, antiradang, astringent, dan antidiabetes. Penggunaan yang luas dalam masyarakat karena multikhasiat dan mudah diperoleh ini menimbulkan kekhawatiran apakah meniran cukup aman jika dikonsumsi oleh ibu hamil. Penelitian terdahulu menyebutkan bahwa Meniran ( Phyllanthus niruri L.) termasuk dalam kategori Slightly Toxic (toksik ringan) pada mencit Balb/c jantan berdasarkan kriteria Gleason M. N . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya efek toksik pada janin (efek teratogen) dari ekstrak etanol dan air tanaman meniran terhadap mencit galur Balb/c. Metode dalam penelitian ini meliputi penyiapan bahan uji, perlakuan ke hewan uji, serta pembedahan dan pengamatan janin. Empat puluh lima ekor mencit kawin dibagi secara acak menjadi sembilan kelompok, masing-masing terdiri dari 5 ekor. Kelompok perlakuan diberikan ekstrak etanol dan infusa meniran dengan dosis masing-masing 26 mg, 52 mg, dan 104 mg tiap 20 g berat badan dan sisanya sebagai kelompok kontrol. Bahan uji diberikan secara oral satu kali sehari mulai hari ke-0 sampai hari ke-14 kebuntingan. Hewan dikorbankan pada hari ke-18 kebuntingan, kemudian dilakukan pengamatan biometrika janin. Selanjutnya janin yang hidup difiksasi dalam etanol 70% dan direndam dalam larutan Alizarin red untuk dilakukan pengamatan tulang kerangka janin secara makroskopis. Data yang diperoleh dianalisis statistik dengan uji normalitas dan homogenitas Kolmogrov Smirnov, kemudian dilanjutkan dengan Kruskal Wallis dan Mann Whitney pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan dari keseluruhan hasil uji terhadap janin mencit, ekstrak etanol dan air tanaman meniran (Phyllanthus niruri L.) mempengaruhi bobot plasenta, bobot badan, dan panjang janin mencit galur balb/c.

Kata kunci : Phyllanthus niruri L, ekstrak etanol, infusa, teratogen

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga Laporan Akhir Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian (PKM-P) ini dapat kami selesaikan. Terimakasih juga kami sampaikan kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam penelitian dan penyusunan laporan akhir ini. Penelitian kami berjudul UJI EFEK TERATOGENIK EKSTRAK ETANOL DAN AIR TANAMAN MENIRAN (Phyllanthus niruri L.) TERHADAP MENCIT GALUR Balb/c diharapkan dapat bermanfaat untuk menambah informasi mengenai tingkat keamanan ekstrak etanol dan air tanaman meniran jika dikonsumsi oleh ibu hamil. Kami menyadari bahwa,baik dalam penelitian maupun penyusunan laporan akhir ini masih belum sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari berbagai pihak agar dapat menyempurnakannya. Semoga penelitian yang kami lakukan dapat bermanfaat.

Yogyakarta, Juni 2012

Penyusun

I.

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Alam Indonesia kaya akan beraneka ragam tumbuhan yang merupakan salah satu sumber senyawa kimia alam hayati yang dikenal dengan istilah Natura Product Chemistry. Meniran (Phyllanthus niruri L.) adalah salah satu tumbuhan yang sangat potensial sebagai penghasil obat. Bagi sebagian besar masyarakat pedesaan, tumbuhan meniran sudah cukup dikenal sebagai salah satu tumbuhan liar yang berkhasiat mengobati. Dalam penggunaannya, meniran biasanya direbus dengan air. Sedangkan untuk menjamin ekstrak meniran tetap stabil dalam sediaannya, maka digunakan pelarut organik misalnya etanol, kloroform, atau etil asetat. Meniran mengandung senyawa golongan lignan, terpen, flavonoid, lipid, benzenoid, alkaloid, steroid, alkana, vitamin C, tanin dan saponin (Chodidjah, 2003). Meniran biasa digunakan sebagai imunostimulator, hepatoprotektor, antikarsinogen, diuretik, antidiare, antioksidan, menurunkan kadar LDL (Low Density Lypoprotein), antidemam, antiradang, astringent, dan antidiabet (Kardinan, 2004). Penggunaan yang luas dalam masyarakat karena multikhasiat dan mudah diperoleh ini menimbulkan kekhawatiran apakah meniran cukup aman jika dikonsumsi oleh ibu hamil. Pada penelitian yang telah dilakukan sebelumnya diketahui bahwa meniran termasuk dalam kategori Slightly Toxic (toksik ringan) pada mencit Balb/c jantan berdasarkan kriteria Gleason M. N ( Halim, 2010). Namun, belum ada penelitian lebih lanjut mengenai efek teratogenik dari ekstrak maupun infusa meniran. Uji teratogenesis termasuk dalam salah satu uji toksisitas khusus. Uji ini dirancang untuk menentukan efek teratogen suatu senyawa. Berbagai pengamatan yang digunakan untuk mengetahui efek teratogenik suatu senyawa antara lain jumlah implantasi, selisih antara implantasi total dengan jumlah korpora lutea, jumlah janin resorpsi dan jumlah janin yang hidup, bobot badan dan panjang janin, kelainan struktur, fungsi, dan biokemis pada janin, serta pemeriksaan histopatologik plasenta (Soemardji, 2004). Imunostimulator merupakan salah satu khasiat meniran yang sering digunakan untuk meningkatkan sistem imun. Kandungan dalam meniran yang memberikan efek imunostimulator diantaranya adalah flavonoid, tanin, dan vitamin C. Senyawa tersebut memiliki kelarutan yang cukup baik dalam air. Pemberian meniran mampu meningkatkan aktivitas dan fungsi beberapa komponen imunitas non spesifik maupun imunitas spesifik, sehingga untuk melihat kemungkinan penggunaan meniran sebagai imunostimulataor pada ibu hamil, maka perlu dibuktikan terlebih dahulu bahwa ekstrak etanol dan air tanaman meniran benar-benar aman bagi janin maupun induk mencit. 2. Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah ekstrak etanol dan air tanaman meniran dapat menyebabkan efek teratogen pada janin mencit galur Balb/c?

3. Tujuan Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya efek toksik pada janin (efek teratogen) dari ekstrak etanol dan air tanaman meniran terhadap mencit galur Balb/c. 4. Luaran yang Diharapkan Luaran yang diharapkan dari program ini adalah jurnal dan artikel kesehatan sebagai sumber informasi bagi masyarakat umum dan landasan ilmiah untuk kalangan akademis mengenai tingkat keamanan ekstrak etanol dan air tanaman meniran bagi ibu hamil. 5. Kegunaan Penelitian ini berguna untuk memberikan informasi pendahuluan yang bersifat ilmiah mengenai tingkat keamanan ekstrak etanol dan air tanaman meniran sebagai imunostimulator jika dikonsumsi oleh ibu hamil. II. TINJAUAN PUSTAKA 1. Meniran (Phyllanthus niruri L.) Klasifikasi Phyllanthus niruri L. Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledoneae Ordo : Euphorbiales Suku : Euphorbiaceae Genus : Phyllanthus Spesies : Phyllanthus niruri L. Deskripsi : Phyllanthus niruri L. merupakan tumbuhan jenis herba, bau khas, rasa pahit, batang bentuk bulat, daun kecil bentuk bundar telur sampai bundar memanjang, panjang helai daun 5-10 mm, lebar 2,5-5 mm, bunga dan buah terdapat pada ketiak daun atau terlepas, buah bentuk bulat berwarna hijau kekuningan sampai kuning kecoklatan (Anonim, 2008). Kandungan kimia dari Phyllanthus niruri L. : Lignan : Phyllanthine, hypophyllantine, phyltetralin, lintetralin,, niranthin,nirtetralin, nirurin, niruside, nirphyline. Terpen : Cymene, limonene, lupeol, lupeol acetate. Flavonoids : Quercetin, quercitrin, isoquercitrin, astragalin, rutine, physetinglucoside. Lipids : Ricinoleic acid, dotriancontanoic acid, linoleic acid, linolenic acid. Benzenoids : Methelsalicilate. Alkaloid : Norsecurinine, 4-metoxinorsecurinine, entnorsecurininsa, nirurine. Steroid : Beta sitosterol. Alcanes : Triacontanal, triacontanol. Lain-lain : Vitamin C, tanin, saponin. Begitu banyak kandungan zat dalam Phyllanthus niruri L. sehingga dapat digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit. Komponen kimia yang

terkandung dalam Phyllanthus niruri L. diantaranya adalah kandungan lignan (filantin dan hipofilantin) yang berfungsi sebagai hepatoprotektor, flavonoid (rutin dan kuersetin) sebagai imunostimulator, antikarsinogen, dan diuretik, kandungan tanin sebagai antidiare, imunostimulator, hepatoprotektor, vitamin C yang berfungsi sebagai antioksidan, imunostimulator, dan menurunkan kadar LDL (Low Density Lypoprotein), kalium sebagai diuretik, alkaloid sebagai antidemam, antiradang, antidiare, dan antidiabetes. 2. Teratogenik Teratologi adalah studi tentang penyebab, mekanisme, dan manifestasi dari perkembangan yang menyimpang terhadap sifat struktural dan fungsional pada janin sedangkan suatu zat yang secara nyata mempengaruhi perkembangan janin, menimbulkan efek yang berubah-ubah mulai dari letalitas sampai kelainan bentuk (malformasi) dan keterhambatan pertumbuhan pada janin disebut teratogen (Loomis, 1978). Periode yang paling kritis tampaknya pada awal kehamilan, selama trisemester pertama atau 13 minggu pertama. Adapun periode kritis perkembangan janin pada manusia tercantum dalam tabel berikut. Tabel 1. Periode Kritis Perkembangan Janin Pada Manusia
Periode Waktu 3-5 minggu 3 -5 minggu 3 -7 minggu 3 -7 minggu 3 -8 minggu 5 -8 minggu 8 - 8 minggu 6 - 9 minggu 20-36 minggu Perkembangan Janin yang Terkena Sistem saraf pusat Jantung Anggota gerak atas dan bawah Mata Telinga Gigi Langit-langit Genital eksternal Otak

Penyebab umum sebuah anomal kongenital dikelompokkan ke dalam tiga kategori utama yaitu: genetik (aberasi kromososm, pewarisan mendel), lingkungan (infeksi maternal/plasental, keadaan penyakit ibu, obat-obatan, zat kimia, iradiasi) dan multifaktor yang merupakan gabungan dari faktor gen dan lingkungan (Mitchel, 2006). Beberapa contoh zat yang diketahui sebagai teratogenik pada manusia atau hewan antara lain talidomid, tiourasil, klorpropamida, kortison, etinil testosterone, nitrogen mustard, uretan, kolkisin, vitamin A berlebihan, asam nikotinat berlebihan, biru tripan, biru evans, aktinomisin D, fenilmerkuri asetat, plumbum, dan talium. Selain zat kimia, ada beberapa faktor lain yang dapat menyebabkan perkembangan abnormal pada janin seperti kekurangan diet, infeksi virus, hipertermi, ketidakseimbangan hormonal, dan kondisi stress ( Loomis, 1978). Beberapa sumber lain menyebutkan bahwa rokok, nikotin, alkohol dan paparan sinar X juga turut menyebabkan efek teratogen pada janin.

3. Imunostimulator Imunostimulator adalah bahan-bahan yang mampu memacu peningkatan respon imun spesifik maupun non spesifik. Peningkatan dapat secara intrinsik, yaitu timbul dari dalam hospes atau ekstrinsik dan akibat sekunder dari pengaruh eksogen. Imunostimulator dibagi menjadi dua kelompok : (1) Bahan yang mampu memacu respon imun humoral maupun spesifik terhadap bermacam varietas antigen (2) Bahan yang mempunyai kelas molekul khusus yang mampu memacu respon tertentu terhadap antigen tertentu pula. Penggunaan imunostimulator tidak akan menimbulkan fungsi sistem imun yang berlebihan karena bila fungsi sistem imun telah kembali normal maka imunostimulator tidak lagi bekerja meningkatkan kekebalan tubuh (Tyastuti, 2006). Bahan yang dapat menstimulasi sistem imun disebut biological response modifiers (BRM), dibagi menjadi dua kelompok yaitu bahan biologis dan sintetik. Adapun yang termasuk bahan biologis diantaranya adalah sitokin (interferon), hormon timus, antibodi monoklonal, limfokin, transfer factor (ekstrak leukosit), bahan dari bakteri, bahan dari jamur dan Phyllanthus niruri L., sedangkan bahan sintetik antara lain adalah senyawa muramil dipeptida (MDP), lemavisol, dan isoprinosin (Wiedosari, 2007). III. METODE PENDEKATAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas beberapa tahapan yaitu (1) Penyiapan bahan uji, (2) Perlakuan ke hewan uji, (3) Pembedahan dan pengamatan janin. IV. PELAKSANAAN PROGRAM 1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Waktu pelaksanaan penelitian dimulai pada bulan Februari hingga bulan Mei 2012. Pada bulan Februari dilaksanakan pengurusan ijin dan persiapan alat dan bahan yang dibutuhkan. Selanjutnya pada bulan Maret mulai dilakukan penyiapan bahan uji meliputi pembuatan ekstrak etanol dan infusa meniran, suspensi CMC Na 0,5%, suspensi misoprostol serta perlakuan ke hewan uji. Pada bulan April masih melanjutkan perlakuan ke hewan uji serta pembedahan dan pengamatan janin. Pada bulan Mei melanjutkan pengamatan janin dan melakukan analisis data biometrika dan pertulangan janin. Bulan Juni penyusunan laporan dan persiapan publikasi jurnal. Penelitian dilaksanakan di laboratorium fakultas farmasi Universitas Ahmad Dahlan untuk penyiapan bahan uji dan pengamatan tulang kerangka janin. Sedangkan untuk perlakuan ke hewan uji, pembedahan, dan pengamatan jumlah janin yang hidup, mati, resorp, bobot badan dan panjang janin, serta bobot plasenta (data biometrika) dilaksanakan di LPPT UGM Unit IV. 2. Tahapan Pelaksanaan a. Penyiapan Bahan Uji Serbuk herba meniran yang diperoleh dari Merapi Farma, ditimbang sebanyak 250 g dimasukkan ke dalam gelas beker dan dimaserasi dengan etanol 96% sebanyak 1 liter kemudian diaduk, didiamkan selama 24 jam selanjutnya disaring. Maserat yang diperoleh diuapkan dalam lemari asam dengan penangas air sampai terbentuk ekstrak kental. Kemudian ekstrak kental

disuspensikan dalam CMC Na 0,5%. Selanjutnya adalah pembuatan sediaan infusa. Serbuk herba meniran ditimbang sesuai dosis masing-masing, yaitu sebanyak 26 mg, 52 mg, dan 104 mg. Selanjutnya tambahkan aquades sesuai volume infusa yang diinginkan, kemudian serbuk direbus menggunakan panci infusa pada suhu 90 C selama 15 menit. Hasil rebusan disaring dalam kondisi panas menggunakan kain flanel. Selanjutnya suspensi CMC Na 0,5% dibuat dengan melarutkan 0,5 gram CMC Na dalam 100 ml aquades hangat. Suspensi misoprostol dibuat dengan menggerus 10 tablet misoprostol kemudian dilarutkan dalam CMC Na 0,5% sesuai volume yang diinginkan. b. Perlakuan ke hewan uji Mencit galur balb/c yang digunakan adalah mencit betina yang siap kawin dan belum pernah bunting. Mencit betina dimasukkan dalam 1 kandang dengan mencit jantan pada sore hari untuk kemudian diamati plak di vagina pada esok harinya. Adanya plak di vagina menunjukkan bahwa mencit betina telah kawin. Mencit kawin yang digunakan sebanyak 45 ekor yang dibagi dalam 9 kelompok, tiap kelompok terdiri dari 5 mencit. Kontrol negatif terdiri dari 2 kelompok, masing-masing diberi CMC Na 0,5 % dan aquadest. Kontrol positif diberi misoprostol 10 mg/kg BB/hari. Kelompok perlakuan terdiri dari 6 kelompok, masing-masing diberi ekstrak etanol meniran dalam suspensi CMC Na 0,5 % dan infusa meniran dengan dosis 26 mg/20 g BB, 52 mg/20 g BB, dan 104 mg/20 g BB mencit. Pemberian bahan uji dilakukan setiap hari dimulai pada hari ke 0 sampai hari ke 14 kebuntingan dan diberi secara oral. Setelah itu mencit dibiarkan dan dibedah pada hari ke 18. c. Pembedahan dan Pengamatan Janin Pembedahan dilakukan pada umur kebuntingan 18 hari, dan dilakukan pengamatan meliputi jumlah janin yang hidup, resorp, mati, bobot badan janin, panjang janin, bobot plasenta. Selanjutnya janin yang hidup direndam dalam etanol 70% dan diwarnai dengan Alizarin merah S 0,5% untuk pengamatan tulang kerangka janin secara makroskopik. Pengamatan dilakukan dengan membandingkan antara kelompok kontrol positif dan negatif dengan kelompok perlakuan. 3. Instrumen Pelaksanaan Instrumen penelitian selain para peneliti diantaranya adalah lemari asam, alat bedah, panci infusa, timbangan analitik, dan lup. V. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya efek toksik pada janin (efek teratogen) dari ekstrak etanol dan air tanaman meniran terhadap mencit galur Balb/c. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah serbuk herba meniran yang diperoleh dari Merapi Farma Yogyakarta. Selanjunya serbuk dibuat dalam sediaan ekstrak etanol dan infusa. Hal ini karena pada penggunaan meniran sebagai obat dimasyarakat, umumnya meniran direbus dengan air atau dalam farmasi dikenal dengan istilah sediaan infusa sedangkan dibuat dalam sediaan ekstrak etanol untuk menjamin ekstrak meniran tetap stabil dalam sediaannya selama penyimpanan. Dosis yang digunakan berdasarkan pengalaman empiris dimana masyarakat biasanya menggunakan 20 gram herba meniran yang direbus dengan 2 gelas air (400 ml) selama 15 menit. Maka dosis yang digunakan dalam

penelitian ini adalah 26 mg, 52 mg, dan 104 mg/20gBB mencit. Dosis tersebut merupakan hasil konversi dosis yang digunakan oleh manusia ke mencit mengikuti tabel konversi perhitungan dosis antar jenis hewan menurut cara Laurence & Bacharach. Dalam penelitian ini, dari 45 mencit kawin yang diperoleh, hanya 30 mencit yang bunting. Hal ini karena mencit-mencit tersebut memiliki daur estrus yang kurang teratur sehingga mencit mengalami kehamilan semu yang ditandai dengan ditemukannya sumbat vagina pada waktu pengawinannya namun tidak terjadi kebuntingan. Dari 30 mencit tersebut, tidak ada satupun mencit kawin dari kelompok misoprostol (kontrol positif) yang mengalami kebuntingan sehingga kelompok positif tidak digunakan dalam penelitian ini. Pada hari kebuntingan ke-18 dilakukan pembedahan dan pengamatan biometrika janin yang meliputi jumlah janin yang hidup, yang resorp, yang mati, bobot plasenta serta bobot dan panjang janin. Pengamatan dilakukan dengan membandingkan antara kelompok kontrol negatif (CMC Na dan Aquades) dengan kelompok perlakuan. Tabel 2. Rerata jumlah janin hidup, mati, dan resorbsi dari induk mencit pada masing-masing perlakuan Kelompok Jumlah induk (ekor) 3 3 4 4 3 4 4 5 Rerata Jumlah (ekor) Janin hidup Janin resorbsi Janin mati 5,67 4,163 a 10,33 1,527 a 7 2,828 a 7,5 3,416 a 80a 8,5 2,646 a 8 1,826 a 82a 0,33 0,577 a 0,33 0,577 a 0,5 1 a 0,75 1,5 a 0,33 0,577 a 00 a 0,25 0,5 a 0,8 1,095 a 00 a 0 0a 00 a 00 a 0 0 a 0,50,577 a 00 a 00 a

Aquades Infusa 26 mg Infusa 52 mg Infusa 104 mg CMC Na Ekstrak 26 mg Ekstrak 52 mg Ekstrak 104 mg

Tabel 3. Rerata bobot plasenta, bobot janin dan panjang janin dari induk mencit pada masing-masing perlakuan Dosis Jumlah Rerata Jumlah (ekor) (mg/20gBB/hari) induk Bobot plasenta Bobot janin Panjang Janin (ekor) (g) (g) (g) Aquades 3 0,13 0,056 a 1,07 0,225 a 3,65 0,189 a Infusa 26 mg 3 0,15 0,038 a 1,27 0,189 b 3,81 0,163 b Infusa 52 mg 4 0,18 0,045 b 1,48 0,136 b 3,76 0,235 a Infusa 104 mg 4 0,18 0,039 b 1,32 0,198 b 3,82 0,275 b CMC Na 3 0,15 0,051 a 1,43 0,087 a 3,84 0,212 a Ekstrak 26 mg 4 0,17 0,039 a 1,46 0,099 a 3,79 0,163 a Ekstrak 52 mg 4 0,18 0,033 b 1,42 0,103 a 3,86 0,132 a Ekstrak 104 mg 5 0,16 0,048 a 1,36 0,128 b 3,87 0,225 a Keterangan : Huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang bermakna (p 0,05)

Dari hasil diatas, dapat dilihat dari rerata jumlah janin yang hidup, yang resorp dan yang mati tidak ada perbedaan yang bermakna antara kelompok kontrol negatif dengan kelompok perlakuan. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol dan infusa meniran pada dosis 26 mg, 52 mg, dan 104 mg/20 g BB tidak mempengaruhi jumlah janin yang hidup, yang resorp, dan jumlah janin yang mati. Selanjutnya rerata bobot plasenta berbeda bermakna antara kelompok infusa meniran dosis 52 mg, 104 mg, dan kelompok ekstrak etanol meniran dosis 52 mg dengan kelompok kontrol negatif. Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan bobot plasenta pada kelompok infusa meniran dosis 52 mg, 104 mg, dan kelompok ekstrak etanol meniran dosis 52 mg dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif. Rerata bobot janin berbeda bermakna antara kelompok kontrol negatif dengan kelompok infusa meniran dosis 26 mg, 52 mg, 104 mg dan kelompok ekstrak etanol dosis 104 mg. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan rerata bobot janin pada kelompok infusa meniran dosis 26 mg, 52 mg, dan 104 mg dan penurunan bobot janin pada kelompok ekstrak etanol meniran dosis 104 mg. Rerata panjang janin juga berbeda bermakna antara kelompok kontrol negatif dengan kelompok infusa meniran dosis 26 mg dan 104 mg yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan panjang janin. Namun hal ini belum dapat memastikan potensi teratogen dari meniran karena adanya kerentanan antar individu dari induk yang sama atau juga karena perbedaan dalam sifat farmakokinetik atau metabolisme. Setelah dilakukan pengamatan biometrika, janin yang hidup selanjutnya direndam dalam alkohol 70% dan diwarnai dengan Alizarin merah S 0,5% untuk pengamatan tulang kerangka janin secara makroskopik. Pengamatan tulang dilakukan terhadap jumlah komponen tulang kerangka yang terdiri dari tulang bagian dada (sternum), tulang belakang (serviks, toraks, lumbal, sakral), tulang rusuk (iga), kaki bagian depan (karpal), dan kaki bagian belakang (tarsal). Pengamatan ini dilakukan oleh 3 orang secara bergantian, hal ini untuk mengurangi subjektifitas dalam pengamatan. Pada penelitian ini, serviks tidak diamati karena pada bagian leher janin tampak buram, tidak transparan sehingga menyebabkan kesulitan dalam perhitungan jumlah tulangnya. Hasil yang diperoleh seperti yang tertera dalam tabel 4, tampak bahwa tidak adanya kelainan pada jumlah komponen tulang kerangka janin. Tabel 4. Kelainan komponen tulang kerangka janin dari induk mencit pada masing-masing perlakuan Komponen Tulang Kerangka Janin Jumlah janin yang Kelompok perlakuan diamati Torak Lumbal Sakral Iga Sternum Karpal Tarsal (ekor) (13) (13) (6) (3) (3) (13) (6)

CMC Na

22

Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal

Aquadest

16

Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal

Ekstrak Etanol 26 mg

35

Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal

Ekstrak Etanol 52 mg

34

Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal

Ekstrak Etanol 104 mg

38

Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal

Infusa 26 mg

31

Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal

Infusa 52 mg

28

Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal

Infusa 104 mg

30

Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal

VI. KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan Dari uji efek teratogenik ekstrak etanol dan air tanaman meniran (Phyllanthus niruri L.) pada mencit galur balb/c dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol dan air tanaman meniran (Phyllanthus niruri L.) mempengaruhi bobot plasenta, bobot badan dan panjang janin dari mencit galur balb/c. 2. Saran Perlu dilakukan pengamatan lebih lanjut pada organ bagian dalam janin serta parameter keteratogenikan lainnya. VII. DAFTAR PUSTAKA Anonim, 2008, Farmakope Herbal Indonesia Edisi I, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. Hal 97. Arifin, H., Delvita, V., Almahdy, A., 2007, Pengaruh Pemberian Vitamin C Terhadap Fetus Pada Mencit Diabetes, Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi Vol.12, No.1, Maret : 32-40. Chodidjah, 2003, Pengaruh Pemberian Ekstrak Phyllanthus niruri L pada Sel Mononuklear Terhadap Viabilitas Sel Adenokarsinoma Mamma Mencit CH3 Penelitian In Vitro, Tesis, Universitas Diponegoro, Semarang. Halim, Z., 2010, Penentuan Ketoksikan Akut Phyllanthus niruri, Artikel Ilmiah, Universitas Diponegoro, Semarang. Kardinan, A., 2004, Meniran Penambah Daya Tahan Tubuh Alami, Agromedia Pustaka, Yogyakarta. Loomis, T.A., 1978, Essentials of Toxicology, Lea and Febiger, Philadelphia, 242244. Mitchel, Kumar, Abbas and Fausto, 2006, Buku Saku Dasar Patologi Penyakit Robbins dan Cotran, Edisi 7, Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Soemardji, A. dkk., 2004, Efek Teratogenik Ekstrak Etanol Kulit Batang Pule (Alstonia scholaris R.Br) pada Tikus Wistar, Jurnal Matematika dan Sains, 9 (2): 223 227. Tyastuti, E.M., 2006, Efek Imunostimulator Propolis Terhadap Proliferasi Limfosit T dan Viabilitas Sel Tumor Mammae Mencit Secara In Vitro, Skripsi, Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Wiedosari, E., 2007, Peranana Imunostimulator Alami (Aloe vera) Dalam Sistem Imunitas Seluler Dan Humoral, Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor. VIII. LAMPIRAN

Meniran

Ekstrak Infusa Etanol

Mencit Pembedahan bunting mencit

Janin hidup

Janin resorp

Janin mati

bobot Plasenta

bobot janin

panjang janin

tulang kerangka

Rincian Biaya No 1 2 3 4 5 6 Spesifikasi Meniran (Phyllanthus niruri L.) Bahan-bahan habis pakai Lab dan determinasi Transportasi Copy, print, jilid, buku. Alat-alat pelengkap TOTAL Jumlah harga sesuai kebutuhan Rp. 173.000 Rp. 2.268.100 Rp. 2.710.100 Rp. 94.500 Rp. 76.800 Rp. 282.800 Rp. 5.649.300

Anda mungkin juga menyukai