Anda di halaman 1dari 26

Semua mikroorganisme termasuk bakteri, virus, jamur dan parasit dapat menyebabkan infeksi nosokomial.

Infeksi ini dapat disebabkan oleh mikroorganisme yang didapat dari orang lain (cross infection) atau disebabkan oleh flora normal dari pasien itu sendiri (endogenous infection). Kebanyakan infeksi yang terjadi di rumah sakit ini lebih disebabkan karena faktor eksternal, yaitu penyakit yang penyebarannya melalui makanan dan udara dan benda atau bahan-bahan yang tidak steril. Penyakit yang didapat dari rumah sakit saat ini kebanyakan disebabkan oleh mikroorganisme yang umumnya selalu ada pada manusia yang sebelumnya tidak atau jarang menyebabkan penyakit pada orang normal (Utama, 2006). Infeksi merupakan interaksi antara mikroorganisme dengan pejamu rentan yang menginvasi tubuh oleh patogen yang menyebabkan sakit. Cara penularan mikroorganisme dapat terjadi melalui darah, udara baik droplet maupun airbone, dan dengan kontak langsung. Di rumah sakit dan sarana kesehatan lainnya, infeksi dapat terjadi antar pasien, dari pasien ke petugas, dari petugas ke petugas dan petugas ke pasien. Infeksi yang terdapat dalam sarana kesehatan tersebut disebut Infeksi nosokomial (Potter dan Perry, 1997). Di beberapa bagian, terutama di Instalasi Gawat Darurat, terdapat banyak prosedur dan tindakan yang dilakukan baik untuk membantu diagnosa maupun memonitor perjalanan penyakit dan terapi yang dapat menyebabkan pasien cukup rentan terkena infeksi nosokomial. Pasien dengan umur tua, berbaring lama, atau beberapa tindakan seperti prosedur diagnostik invasif, infus yang lama dan kateter urin yang lama, atau pasien dengan penyakit tertentu yaitu penyakit yang memerlukan kemoterapi, dengan penyakit yang sangat parah, penyakit keganasan, diabetes, anemia, penyakit autoimun dan penggunaan imuno supresan atau steroid didapatkan bahwa resiko terkena infeksi lebih besar (Utama, 2006). Sumber penularan dan cara penularan terutama melalui tangan dan dari petugas kesehatan maupun personil kesehatan lainnya, jarum injeksi, kateter iv, kateter urin, kasa pembalut atau perban, dan cara yang keliru dalam menangani luka. Infeksi nosokomial ini pun tidak hanya mengenai pasien saja, tetapi juga dapat mengenai seluruh personil rumah sakit yang berhubungan langsung dengan pasien maupun penunggu dan para pengunjung pasien. Umumnya 50% penderita yang dirawat di rumah sakit memerlukan tindakan pemasangan infus sebagai sarana pemberian terapi melalui jalur intravena. Beberapa faktor dibawah ini berperan dalam meningkatkan komplikasi kanula intravena yaitu: jenis kateter, ukuran kateter, pemasangan melalui venaseksi, kateter yang terpasang lebih dari 72 jam, kateter yang dipasang pada tungkai bawah, tidak mengindahkan prinsip anti sepsis, cairan infus yang hipertonik dan darah transfusi karena merupakan media pertumbuhan mikroorganisme, peralatan tambahan pada tempat infus untuk pengaturan tetes obat, manipulasi terlalu sering pada kanula. Kolonisasi kuman pada ujung kateter merupakan awal infeksi tempat infus dan bakteremia (Garner, 1996).

Infeksi nosokomial merupakan problem klinis yang sangat penting pada saat sekarang ini, terbukti dari banyaknya laporan tentangkejadian infeksi nosokomial di rumah-rumah sakit, baik di luar maupun di dalam negeri, dengan konsekwensi meningkatnya angka kesakitan dan kematian(Utama, 2006). Setiap tahun diperkirakan 2 juta pasien mengalami infeksi saat dirawat di Rumah Sakit. Hal ini terjadi karena pasien yang dirawat di Rumah Sakit mempunyai daya tahan tubuh yang melemah sehingga resistensi terhadap mikroorganisme penyebab penyakit menjadi turun, adanya peningkatan paparan terhadap berbagai mikroorganisme dan dilakukannya prosedur invasif terhadap pasien di rumah sakit. Golongan yang paling rentan tehadap infeksi dari rumah sakit adalah mereka yang berumur lebih dari 64 tahun dan diikuti oleh bayi kurang dari satu tahun. Lokasi infeksi tersering adalah saluran kemih (30%), luka (20%), saluran pernafasan (20%) dan lokasi lain (30%) (Nursing Times,1984). Infeksi nosokomial banyak terjadi di seluruh dunia dengan kejadian terbanyak di negara miskin dan negara yang sedang berkembang karena penyakit-penyakit infeksi masih menjadi penyebab utama. Suatu penelitian yang yang dilakukan oleh WHO menunjukkan bahwa sekitar 8,7% dari 55 rumah sakit dari 14 negara yang berasal dari Eropa, Timur Tengah, Asia Tenggara dan Pasifik tetap menunjukkan adanya infeksi nosokomial dengan AsiaTenggara sebanyak 10,0%. Tahun 1977 dari seluruh rumah sakit di AS menunjukkan bahwa penderita yang dirawat 5%-10% menderita infeksi nosokomial (Hospital Ac-quired Infection). Di AS insiden infeksi nosokomial 5% dan CFR 1 %, di U.K 9,2%, di Malaysia prevalens 12,7%, di Taiwan insiden 13,8%, di Jakarta 41,1%, di Surabaya 73,3% dan di Yogyakarta 5,9%. Hari perawatan pasien yang menderita infeksi nosokomial tersebut bertambah 5-10 hari, demikian pula angka kematian pasien menjadi lebih tinggi yaitu sebesar 6% dibanding yang tidak terkena infeksi nosokomial hanya sebesar 3%. Tenaga medis Rumah Sakit mempunyai risiko terkena infeksi 2-3 kali lebih besar daripada medis yang berpraktik pribadi . Berikut adalah prosentasi infeksi nosokomial per jenis penyakit pada RS Indonesia tahun 2004 sebagai berikut : Phlebitis 2.168 (1,7%), ILO 190 (0,7%), Dekubitus 177 (0,4%), ISK 73 (0,4%), Pneumonia 92 (0,3%), Sepsis (0,2 7%) (Depkes, 2004). Di Rumah Sakit Umum Bethesda Serukam, Kecamatan Samalantan Kabupaten Bengkayang, terdapat 5 ruang perawatan yang terdiri dari : Instalasi Gawat Darurat, Ruang Kebidanan, Ruang Rawat Umum, Ruang Intencive Care Unit, dan Ruang Rawat Umum Atas, berdasarkan sensus harian dan sensus bulanan tahun 2010 pada masingmasing ruangan tersebut, diperoleh data bahwa yang paling banyak jumlah pasien yang dirawat setiap bulannya berkisar 70-90 orang pasien khususnya di ruang rawat umum bawah dan ruang rawat umum atas dan ruangkebidanan, sekitar 90% dari jumlah pasien yang dirawat tersebut memerlukan tindakan invasif berupa pemasangan infus untuk keperluan pemberian terapi medis maupun nutrisi parenteral. Kemudian didapatkan data

bahwa angka kejadian infeksi nosokomial akibat pemasangan infus rata-rata di setiap ruangan perawatan di Rumah Sakit Umum Bethesda Serukam, Kecamatan Samalantan Kabupaten Bengkayang sekitar 30-40%, artinya setiap bulannya dari +60 orang pasien yang dirawat dengan menggunakan infus terdapat 20-26 orang pasien yang mengalami infeksi pada infusnya. Data tersebut menunjukkan bahwa angka kejadian infeksi nosokomial akibat tindakan invasif pemasangan infus masih cukup tinggi pada rumah sakit tersebut.(Rumah Sakit Umum Bethesda Serukam SMF, 2010). Selama 10-20 tahun belakangan ini telah banyak perkembangan yang telah dibuat untuk mencari masalah utama terhadap meningkatnya angka kejadian infeksi nosokomial di banyak negara, dan dibeberapa negara, kondisinya justru sangat memprihatinkan. Keadaan ini justru memperlama waktu perawatan dan perubahan pengobatan dengan obat-obatan mahal, serta penggunaan jasa di luar rumah sakit. Karena itulah, dinegaranegara miskin dan berkembang, pencegahan infeksi nosokomial lebih diutamakan untuk dapat meningkatkan kualitas pelayanan pasien dirumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya (Utama, 2006). Upaya pencegahan infeksi melibatkan berbagai unsur, mulai dari peran pimpinan sebagai pengambil kebijakan sampai petugas kesehatan sendiri. Kemampuan untuk mencegah transmisi infeksi di rumah sakit, dan upaya pencegahan infeksi adalah tingkatan pertama dalam pemberian pelayanan yang bermutu. Untuk seorang petugas kesehatan, kemampuan mencegah infeksi memiliki keterkaitan yang tinggi dengan pekerjaan, karena mencakup setiap aspek penanganan pasien. Dimana peran petugas adalah sebagai pelaksana dalam upaya pencegahan infeksi. Namun setiap petugas kesehatan wajib memperhatikan kesehatan dirinya. Petugas kesehatan wajib melindungi dirinya misalnya dengan mengikuti seluruh prosedur universal precaution ketika bertugas. (Orel, 2001). Oleh karena itu pelaksanaan pencegahan infeksi nosokomial sangat penting bagi petugas rumah sakit khususnya infeksi yang disebabkan oleh prosedur invasif pemasangan infus, dan sarana kesehatan lainnya yang mana merupakan sarana umum yang sangat berbahaya, dalam artian rawan untuk terjadi infeksi. Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang pelaksanaan pencegahan infeksi nosokomial akibat tindakan invasif pemasangan infus oleh perawat pelaksana di Rumah Sakit Umum Bethesda Serukam, Kecamatan Samalantan Kabupaten Bengkayang. B. Lingkup Penelitian Pimpinan Rumah Sakit Umum Bethesda Serukam dan Akademi keperawatan Bethesda Serukam berharap dapat mengetahui pelaksanaan pencegahan infeksi nosokomial akibat tindakan invasive pemasangan infus oleh perawat pelaksan di Rumah Sakit Umum Bethesda Serukam. Maka dari itu yang menjadi lingkup penelitian ini adalah perawat pelaksana, tingkat pengetahuan perawat pelaksana tentang pencegahan

infeksi nosokomial, keterampilan perawat pelaksan tentang pencegahan infeksi nosokomial, serta sarana yang mendukung perawat pelaksan dalam mencegah infeksi nosokomial dalam peridebulan November sampai dengan Desember 2010.

C.

Rumusan Masalah Berdasarkan permasalahan di atas, maka rumusan masalah penelitian adalah: Pelaksanaan Pencegahan Infeksi Nosokomial Akibat Tindakan Invasif Pemasangan Infus Oleh Perawat Pelaksana di Rumah Sakit Umum Bethesda Serukam, Kecamatan Samalantan Kabupaten Bengkay

D.

Pertanyaan Penelitian 1. Bagaimanakah pengetahuan perawat pelaksana tentang pencegahan infeksi nosokomial akibat tindakan invasif pemasangan infus di Rumah Sakit Umum Bethesda Serukam, Kecamatan Samalantan Kabupaten Bengkayang? 2. Bagaimanakah Keterampilan perawat pelaksana dalam melakukan pencegahan terhadap infeksi nosokomial akibat tindakan invasif pemasangan infus di Rumah Sakit UmumBethesda Serukam, Kecamatan Samalantan Kabupaten Bengkayang? 3. Bagaimanakah ketersediaan alat dan sarana yang mendukung upaya pencegahan infeksi nosokomial akibat tindakan invasif pemasangan infus oleh perawat pelaksana di Rumah Sakit Umum Bethesda Serukam, Kecamatan Samalantan Kabupaten Bengkayang?

E.

Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum Untuk mengetahui pelaksanaan pencegahan infeksi nosokomial akibat tindakan invasif pemasangan infus oleh perawat pelaksana di Rumah Sakit Umum Bethesda Serukam, Kecamatan Samalantan Kabupaten Bengkayang. 2. Tujuan Khusus Tujuan khusus dalam penelitian ini meliputi : a. Mengetahui pengetahuan perawat pelaksana terhadap pencegahan infeksi nosokomial akibat tindakan invasif pemasangan infus di Rumah Sakit Umum Bethesda Serukam, Kecamatan Samalantan Kabupaten Bengkayang.

b.

Mengetahui keterampilan perawat pelaksana terhadap pencegahan infeksi nosokomial akibat tindakan invasif pemasangan infus di Rumah Sakit Umum Bethesda Serukam, Kecamatan Samalantan Kabupaten Bengkayang. c. Mengetahui ketersediaan alat dan sarana pendukung terhadap pencegahan infeksi nosokomial akibat tindakan invasif pemasangan infus di Rumah Sakit UmumBethesda Serukam, Kecamatan Samalantan Kabupaten Bengkayang.

F.

Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan bermanfaat terutama bagi: 1. Penulis Selain menambah wawasan, penulis juga dapat menerapkan metodologi penelitian dan ilmu terapan lain selama perkuliahan di Akademi Keperawatan Bethesda Serukam yang difokuskan mengenai pelaksanaan pencegahan infeksi nosokomial akibat tindakan invasif pemasangan infus oleh perawat pelaksana di di Rumah Sakit Umum Bethesda Serukam, Kecamatan Samalantan Kabupaten Bengkayang. 2. Institusi pendidikan Sebagai referensi atau bahan pengembangan penelitian selanjutnya sehingga dapat meningkatkan kualitas dan ketepatan penelitian dimasa yang akan datang. 3. Institusi Rumah Sakit Umum Bethesda Serukam Dapat digunakan sebagai bahan masukan dalam meningkatkan mutu layanan kesehatan khususnya tentang pencegahan infeksi nosokomial akibat tindakan invasif pemasangan infus. 4. Sampel yang diteliti Meningkatkan kemampuan perawat pelaksana diRumah Sakit Umum Bethesda Serukam, Kecamatan Samalantan Kabupaten Bengkayang dalam melakukan berbagai tindakan untuk mencegah infeksi nosokomial akibat pemasangan infus.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Infeksi Nosokomial a. Pengertian Nosokomial berasal dari kata Yunani nosocomium, yang berarti rumah sakit. Maka, kata nosokomial artinya "yang berasal dari rumah sakit" kata infeksi cukup jelas artinya, yaitu terkena hama penyakit (Purwandari,2005). Infeksi nosokomial adalah infeksi yang berasal dari rumah sakit yang timbul pada pasien yang sudah dirawat minimal selama 72 jam dan tidak ada gejala infeksi terebut pada saat pasien masuk rumah sakit (Roper, 1987). Menurut Central Disease of Control (CDC), infeksi didapatkan di rumah sakit apabila (Iwansain, 2007) : 1) Pada waktu penderita masuk rumah sakit, tidak ditemukan gejala klinis dari infeksi tersebut. 2) Pada waktu penderita dirawat di rumah sakit, tidak sedang dalam masa inkubasi dari infeksi tersebut. 3) Tanda klinis infeksi tersebut timbul sekurang-kurangnya sesudah 3 x 24 jam sejak masuk rumah sakit. 4) Infeksi tersebut bukan merupakan sisa (kelanjutan) dari infeksi sebelumnya. 5) Apabila pada saat mulai dirawat di rumah sakit sudah ada tanda-tanda infeksi dan terbukti infeksi tersebut diperoleh penderita ketika dirawat di rumah sakit yang sama pada waktu yang lalu serta belum pernah dilaporkan sebagai infeksi nosokomial. b. Penyebab infeksi nosokomial (Purwandari, 2007) 1) Aliran darah: a) Kontaminasi cairan intravena saat penggantian b) Memasukkan obat tambahan dalam cairan intravena c) Perawatan area insersi yg kurang tepat d) Jarum kateter yg terkontaminasi e) Tehnik mencuci tangan tidak tepat 2) Traktus urinarius: a) Pemasangan kateter urine b) Sistem drainase terbuka c) Kateter dan selang tidak tersambung d) Obstruksi pada drainase urine e) Tehnik mencuci tangan tidak tepat 3) Traktus respiratorius:

a) Peralatan terapi pernafasan yang terkontaminasi b) Tidak tepat penggunaan tehnik aseptif saat suction c) Pembuangan sekresi mukosa yg kurang tepat d) Tehnik mencuci tangan tidak tepat 4) Luka bedah/traumatik: a) Persiapan kulit yg tidak tepat sblm pembedahan b) Tehnik mencuci tangan tidak tepat c) Tidak memperhatikan tehnik aseptif selama perawatan luka d) Menggunakan larutan antiseptik yang terkontaminasi c. Faktor penyebab perkembangan infeksi nosokomial 1) Agen infeksi Penyakit yang didapat dari rumah sakit saat ini kebanyakan disebabkan oleh mikroorganisme yang umumnya selalu ada pada manusia yang sebelumnya tidak atau jarang menyebabkan penyakit pada orang normal. a) Bakteri Bakteri dapat ditemukan sebagai flora normal dalam tubuh manusia yang sehat. Keberadaan bakteri disini sangat penting dalam melindungi tubuh dari datangnya bakteri patogen. Tetapi pada beberapa kasus dapat menyebabkan infeksi jika manusia tersebut mempunyai toleransi yang rendah terhadap mikroorganisme. Contohnya Escherichia colipaling banyak dijumpai sebagai penyebab infeksi saluran kemih. Bakteri patogen lebih berbahaya dan menyebabkan infeksi baik secara sporadik maupun endemik. Contohnya: Anaerobik Grampositif (Clostridium yang dapat menyebabkan gangren). Bakteri grampositif (Staphylococcusaureus yang menjadi parasit di kulit dan hidung dapat menyebabkan gangguan pada paru, pulang, jantung dan infeksi pembuluh darah serta seringkali telah resisten terhadap antibiotika). Bakteri gram negatif (Enterobacteriacae contohnya (Escherichia coli, Proteus, Klebsiella, Enterobacter), danPseudomonas yang sering sekali ditemukan di air dan penampungan air yang menyebabkan infeksi di saluran pencernaan dan pasien yang dirawat). Bakteri gram negatif ini bertanggung jawab sekitar setengah dari semua infeksi di rumah sakit. Serratia marcescens (dapat menyebabkan infeksi serius pada luka bekas jahitan, paru, dan peritoneum). b) Virus Banyak kemungkinan infeksi nosokomial disebabkan oleh berbagai macam virus, termasuk virus hepatitis B dan C dengan media penularan dari transfusi, dialisis, suntikan dan endoskopi. Respiratory syncytial virus

(RSV), rotavirus, dan enteroviruses yang ditularkan dari kontak tangan ke mulut atau melalui rute faecal-oral. Hepatitis dan HIV ditularkan melalui pemakaian jarum suntik, dan transfusi darah.Rute penularan untuk virus sama seperti mikroorganisme lainnya. Infeksi gastrointestinal, infeksi traktus respiratorius, penyakit kulit dan dari darah. Virus lain yang sering menyebabkan infeksi nosokomial adalah cytomegalovirus, Ebola, influenza virus, herpes simplex virus, danvaricella-zoster virus, juga dapat ditularkan. c) Parasit dan jamur Beberapa parasit seperti Giardia lambliadapat menular dengan mudah ke orang dewasa maupun anak-anak. Banyak jamur dan parasit dapat timbul selama pemberian obat antibiotika bakteri dan obat immunosupresan, contohnya infeksi dari Candida albicans, Aspergillus spp, Cryptococcus neoformans, Cryptosporidium. 2) Respon dan toleransi tubuh pasien Faktor terpenting yang mempengaruhi tingkat toleransi dan respon tubuh pasien dalam hal ini adalah: a) Umur b) Status imunitas penderita c) Penyakit yang diderita d) Obesitas dan malnutrisi e) Orang yang menggunakan obat-obatan immunosupresan dan steroid f) Intervensi yang dilakukan pada tubuh untuk melakukan diagnosa dan terapi Resistensi antibiotika Banyak mikroorganisme yang kini menjadi lebih resisten.. Resistensi dari bakteri di transmisikan antar pasien dan faktor resistensinya di pindahkan antara bakteri. Penggunaan antibiotika yang terus-menerus ini justru meningkatkan multipikasi dan penyebaran strain yang resistan. Penyebab utamanya karena: a) Penggunaan antibiotika yang tidak sesuai dan tidak terkontrol b) Dosis antibiotika yang tidak optimal c) Terapi dan pengobatan menggunakan antibiotika yang terlalu singkat d) Kesalahan diagnosa Banyaknya pasien yang mendapat obat antibiotika dan perubahan dari gen yang resisten terhadap antibiotika, mengakibatkan timbulnya multiresistensi kuman terhadap obat-obatan tersebut. Penggunaan

3)

antibiotika secara besar-besaran untuk terapi dan profilaksis adalah faktor utama terjadinya resistensi (Utama, 2006). Untuk ikut serta mencegah timbulnya resistensi bakteri dan fungi terhadap antibiotik, gunakanlah antibiotik secara bertanggung jawab, yaitu hanya terhadap bakteri dan fungi yang rentan, dan dalam jumlah yang memadai serta di bawah pengawasan dokter (Purwandari, 2005).

4)

Faktor alat Pemakaian infus lama yang tidak diganti-ganti menyebabkan komplikasi kanulasi intravena ini dapat berupa gangguan mekanis, fisis dan kimiawi. Beberapa faktor dibawah ini berperan dalam meningkatkan komplikasi kanula intravena yaitu: jenis kateter, ukuran kateter, pemasangan melalui venaseksi, kateter yang terpasang lebih dari 72 jam, kateter yang dipasang pada tungkai bawah, tidak mengindahkan prinsip anti sepsis, cairan infus yang hipertonik dan darah transfusi karena merupakan media pertumbuhan mikroorganisme, peralatan tambahan pada tempat infus untuk pengaturan tetes obat, manipulasi terlalu sering pada kanula. Kolonisasi kuman pada ujung kateter merupakan awal infeksi tempat infus dan bakteremia.

d. Macam penyakit yang disebabkan oleh infeksi nosokomial (Utama, 2006) 1) Infeksi pembuluh darah Infeksi ini sangat berkaitan erat dengan penggunaan infus, kateter jantung dan suntikan. Virus yang dapat menular dari cara ini adalah virus hepatitis B, virus hepatitis C, dan HIV. Infeksi ini dibagi menjadi dua kategori utama: a) Infeksi pembuluh darah primer, muncul tanpa adanya tanda infeksi sebelumnya, dan berbeda dengan organisme yang ditemukan dibagian tubuhnya yang lain. b) Infeksi sekunder, muncul sebagai akibat dari infeksi dari organisme yang sama dari sisi tubuh yang lain. 2) Infeksi saluran kemih Infeksi ini merupakan kejadian tersering, sekitar 40% dari infeksi nosokomial, 80% infeksinya dihubungkan dengan penggunaan kateter urin. Organisme yang biasa menginfeksi biasanyaEucherechia Coli, Klebsiella, Proteus, Pseudomonas, atau Enterococcus. Infeksi yang terjadi lebih awal disebabkan karena mikroorganisme endogen, sedangkan infeksi yang terjadi setelah beberapa waktu yang lama biasanya karena mikroorganisme eksogen.

3)

4)

5)

6)

7)

Pneumonia nosokomial Pneumonia nosokomial dapat muncul, terutama pasien yang menggunakan ventilator, tindakan trakeostomi, intubasi, pemasangan Nasogastriktube, dan terapi inhalasi. Kuman penyebab infeksi ini tersering berasal dari gram negatif seperti Klebsiella, dan Pseudomonas. Organisme ini sering berada di mulut, hidung, kerongkongan, dan perut. Keberadaan organisme ini dapat menyebabkan infeksi karena adanya aspirasi oleh organisme ke traktus respiratorius bagian bawah. Dari kelompok virus dapat disebabkan olehcytomegalovirus, influenza virus, adeno virus, para influenza virus, enterovirus dan corona virus. Bakteremi nosokomial Infeksi ini hanya mewakili sekitar 5 % dari total infeksi nosokomial, tetapi dengan resiko kematian yang sangat tinggi, terutama disebabkan oleh bakteri yang resistan antibiotika sepertiStaphylococcus dan Candida. Infeksi dapat muncul di tempat masuknya alat-alat seperti jarum suntik, kateter urin dan infus. Faktor utama penyebab infeksi ini adalah panjangnya kateter, suhu tubuh saat melakukan prosedur invasif, dan perawatan dari pemasangan kateter atau infus. Tuberkulosis Penyebab utama adalah adanya strain bakteri yang multi-drugs resisten. Kontrol terpenting untuk penyakit ini adalah identifikasi yang baik, isolasi, dan pengobatan serta tekanan negatif dalam ruangan. Diare dan gastroenteritis Mikroorganisme tersering berasal dari E.coli, Salmonella, Vibrio Cholerae dan Clostridium. Selain itu, dari golongan virus lebih banyak disebabkan oleh golongan enterovirus, adenovirus, rotavirus, dan hepatitis A. Bedakan antara diare dan gastroenteritis. Faktor resiko dari gastroenteritis nosokomial dapat dibagi menjadi faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik: Abnormalitas dari pertahanan mukosa, (seperti achlorhydria) lemahnya motilitas intestinal, dan perubahan pada flora normal. Faktor ekstrinsik: Pemasangan nasogastric tube dan mengkonsumsi obat-obatan saluran cerna. Dipteri, tetanus dan pertusis a) Corynebacterium diptheriae, gram negatif pleomorfik, memproduksi endotoksin yang menyebabkan timbulnya penyakit, penularan terutama melalui sistem pernafasan. b) Bordetella Pertusis, yang menyebabkan batuk rejan. Siklus tiap 3-5 tahun dan infeksi muncul sebanyak 50 dalam 100% individu yang tidak imun.

c)

Clostridium tetani, gram positif anaerobik yang menyebabkan trismus dan kejang otot.

e. Pencegahan terjadinya infeksi nosokomial (Utama, 2006) 1) Dekontaminasi tangan Transmisi penyakit melalui tangan dapat diminimalisasi dengan menjaga hiegene dari tangan. Tetapi pada kenyataannya, hal ini sulit dilakukan dengan benar, karena banyaknya alasan seperti kurangnya peralatan, alergi produk pencuci tangan, sedikitnya pengetahuan mengenai pentingnya hal ini, dan waktu mencuci tangan yang lama. Selain itu, penggunaan sarung tangan sangat dianjurkan bila akan melakukan tindakan atau pemeriksaan pada pasien dengan penyakit-penyakit infeksi. Hal yang perlu diingat adalah: Memakai sarung tangan ketika akan mengambil atau menyentuh darah, cairan tubuh, atau keringat, tinja, urin, membran mukosa dan bahan yang kita anggap telah terkontaminasi, dan segera mencuci tangan setelah melepas sarung tangan. 2) Instrumen yang sering digunakan rumah sakit Sarung tangan, sebaiknya digunakan terutama ketika menyentuh darah, cairan tubuh, feses maupun urine. Sarung tangan harus selalu diganti untuk tiap pasiennya. Setelah membalut luka atau terkena benda yang kotor, sarung tangan harus segera diganti. Baju khusus juga harus dipakai untuk melindungi kulit dan pakaian selama kita melakukan suatu tindakan untuk mencegah percikan darah, cairan tubuh, urin dan feses. 3) Mencegah penularan dari lingkungan rumah sakit Pengaturan udara yang baik sukar dilakukan di banyak fasilitas kesehatan. Usahakan adanya pemakaian penyaring udara, terutama bagi penderita dengan status imun yang rendah atau bagi penderita yang dapat menyebarkan penyakit melalui udara. Kamar dengan pengaturan udara yang baik akan lebih banyak menurunkan resiko terjadinya penularantuberkulosis. Selain itu, rumah sakit harus membangun suatu fasilitas penyaring air dan menjaga kebersihan pemrosesan serta filternya untuk mencegahan terjadinya pertumbuhan bakteri. Sterilisasi air pada rumah sakit dengan prasarana yang terbatas dapat menggunakan panas matahari. Toilet rumah sakit juga harus dijaga, terutama pada unit perawatan pasien diare untuk mencegah terjadinya infeksi antar pasien. Permukaan toilet harus selalu bersih dan diberi disinfektan. Disinfektan akan membunuh kuman dan mencegah penularan antar pasien. 4) Perbaiki ketahanan tubuh Di dalam tubuh manusia, selain ada bakteri yang patogen oportunis, ada pula bakteri yang secara mutualistik yang ikut membantu dalam proses fisiologis tubuh, dan membantu ketahanan tubuh melawan invasi jasad renik

patogen serta menjaga keseimbangan di antara populasi jasad renik komensal pada umumnya, misalnya seperti apa yang terjadi di dalam saluran cerna manusia. Pengetahuan tentang mekanisme ketahanan tubuh orang sehat yang dapat mengendalikan jasad renik oportunis perlu diidentifikasi secara tuntas, sehingga dapat dipakai dalam mempertahankan ketahanan tubuh tersebut pada penderita penyakit berat. Dengan demikian bahaya infeksi dengan bakteri oportunis pada penderita penyakit berat dapat diatasi tanpa harus menggunakan antibiotika. 5) Ruangan isolasi Penyebaran dari infeksi nosokomial juga dapat dicegah dengan membuat suatu pemisahan pasien. Ruang isolasi sangat diperlukan terutama untuk penyakit yang penularannya melalui udara, contohnya tuberkulosis, dan SARS, yang mengakibatkan kontaminasi berat. Penularan yang melibatkan virus, contohnya DHF dan HIV. Ruang isolasi ini harus selalu tertutup dengan ventilasi udara selalu menuju keluar. Sebaiknya satu pasien berada dalam satu ruang isolasi, tetapi bila sedang terjadi kejadian luar biasa dan penderita melebihi kapasitas, beberapa pasien dalam satu ruangan tidaklah apa-apa selama mereka menderita penyakit yang sama. 6) Asepsis Asepsis berarti tidak adanya patogen penyebab penyakit. Tehnik aseptik adalah usaha yang dilakukan untuk mempertahankan klien sedapat mungkin bebas dari mikroorganisme. Asepsis terdiri dari asepsis medis dan asepsis bedah. Asepsis medis dimaksudkan untuk mencegah penyebaran mikroorganisme. Contoh tindakan: mencuci tangan, mengganti linen, menggunakan cangkir untuk obat. Obyek dinyatakan terkontaminasi jika mengandung/diduga mengandung patogen. Asepsis bedah, disebut juga tehnik steril, merupakan prosedur untuk membunuh mikroorganisme. Sterilisasi membunuh semua mikroorganisme dan spora, tehnik ini digunakan untuk tindakan invasif. Obyek terkontaminasi jika tersentuh oleh benda tidak steril. Prinsip-prinsip asepsis bedah adalah sebagai berikut: a) Segala alat yang digunakan harus steril b) Alat yang steril akan tidak steril jika tersentuh c) Alat yang steril harus ada pada area steril d) Alat yang steril akan tidak steril jika terpapar udara dalam waktu lama e) Alat yang steril dapat terkontaminasi oleh alat yang tidak steril f) Kulit tidak dapat disterilkan.

F.

TUGAS PERAWAT DALAM PENGENDALIAN INFEKSI NOSOKOMIAL (DEPKES R I, 2003)

Perawat kesehatan wajib menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya dan orang lain serta bertanggung jawab sebagai pelaksana kebijakan yang ditetapkan pimpinan. Perawat juga bertanggung jawab dalam menggunakan sarana yang disediakan dengan baik dan benar serta memelihara sarana agar selalu siap pakai dan dapat dipakai selama mungkin. Secara rinci kewajiban dan tanggung jawab tersebut meliputi : 1) Bertanggung jawab melaksanakan dan menjaga keselamatan kerja dilingkungannya, wajib mematuhi instruksi yang diberikan dalam rangka kesehatan dan keselamatan kerja, dan membantu mempertahankan lingkungan bersih dan aman. 2) Mengetahui kebijakan dan menerapkan prosedur kerja, pencegahan infeksi, dan mematuhinya dalam pekerjaan sehari-hari. 3) Perawat yang menderita penyakit yang dapat meningkatkan resiko penularan infeksi baik dari dirinya kepada pasien atau sebaliknya sebaiknya tidak merawat pasien secara langsung. 2. Infus Intravena a. Pengertian (Elearning, 2007) Terapi intravena adalah tindakan yang dilakukan dengan cara memasukkan cairan, elektrolit, obat intravena dan nutrisi parenteral ke dalam tubuh melalui intravena. Tindakan ini sering merupakan tindakan life saving seperti pada kehilangan cairan yang banyak, dehidrasi dan syok, karena itu keberhasilan terapi dan cara pemberian yang aman diperlukan pengetahuan dasar tentang keseimbangan cairan dan elektrolit serta asam basa. Tindakan ini merupakan metode efektif dan efisien dalam memberikan suplai cairan ke dalam kompartemen intravaskuler. Infus cairan intravena (intravenous fluids infusion) adalah pemberian sejumlah cairan ke dalam tubuh, melalui sebuah jarum, ke dalam pembuluh vena (pembuluh balik) untuk menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat makanan dari tubuh. Penggunaan terapi cairan intravena (intravenous fluid therapy) membutuhkan peresepan yang tepat dan pengawasan (monitoring) ketat. Terapi intravena dilakukan berdasarkan order dokter dan perawat bertanggung jawab dalam pemeliharaan terapi yang dilakukan. Pemilihan pemasangan terapi intravena didasarkan pada beberapa faktor, yaitu tujuan dan lamanya terapi, diagnosa pasien, usia, riwayat kesehatan dan kondisi vena pasien. Apabila pemberian terapi intravena dibutuhkan dan diprogramkan oleh dokter, maka

perawat harus mengidentifikasi larutan yang benar, peralatan dan prosedur yang dibutuhkan serta mengatur dan mempertahankan sistem. b. Indikasi Pemasangan Infus Intravena (Elearning, 2007) Secara umum, keadaan-keadaan yang dapat memerlukan pemberian cairan infus adalah: 1) Perdarahan dalam jumlah banyak (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah) 2) Trauma abdomen (perut) berat (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah) 3) Fraktur (patah tulang), khususnya di pelvis (panggul) dan femur (paha) (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah) 4) Serangan panas (heat stroke) (kehilangan cairan tubuh pada dehidrasi) 5) Diare dan demam (mengakibatkan dehidrasi) 6) Luka bakar luas (kehilangan banyak cairan tubuh) 7) Semua trauma kepala, dada, dan tulang punggung (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah) 8) Pemberian nutrisi parenteral (langsung masuk ke dalam darah) dalam jumlah terbatas. 9) Pemberian kantong darah dan produk darah. 10) Pemberian obat yang terus-menerus (kontinyu), misalnya : seseorang dengan penyakit berat, obat hanya tersedia dalam sediaan intravena, pasien dengan gangguan menelan (sumbatan/obstruksi) atau muntah, adanya resiko aspirasi, dan lain sebagainya. c. Tujuan Pemasangan Infus Intravena (Elearning, 2007) 1) Mempertahankan atau mengganti cairan tubuh yang mengandung air, elektrolit, vitamin, protein, lemak dan kalori yang tidak dapat dipertahankan melalui oral. 2) Mengoreksi dan mencegah gangguan cairan dan elektrolit 3) Memperbaiki keseimbangan asam basa 4) Memberikan tranfusi darah 5) Menyediakan medium untuk pemberian obat intravena 6) Membantu pemberian nutrisi parenteral d. Macam-Macam Infus (Elearning, 2007) 1) Continous Infusion (Infus berlanjut) mengunakan alat control Infus ini bisa diberikan secara tradisional melalui cairan yang digantung, dengan atau tanpa pengatur kecepatan aliran. Infus melalui intravena, intra arteri dan intra techal (spinal) dapat dilengkapi dengan menggunakan pompa khusus yang ditanam maupun eksternal. Keuntungan:

Mampu untuk menginfus cairan dalam jumlah besar dan kecil dengan akurat b) Adanya alarm menandakan adanya masalah seperti adanya udara di selang Infus atau adanya penyumbatan c) Mengurangi waktu perawat untuk memastikan kecepatan aliran Infus Kerugian: a) Memerlukan selang khusus b) Biaya lebih mahal c) Pompa Infus akan dilanjutkan untuk menginfus kecuali ada infiltrasi 2) Intermittent Infusion (Infus sementara) Infus ini dapat diberikan melalui heparin lock, piggybag untuk Infus yang kontinyu, atau untuk terapi jangka panjang melalui perangkat Infus . Keuntungan : a) Inkompabilitas dihindari b) Dosis obat yang lebih besar dapat diberikan dengan konsentrasi permililiter yang lebih rendah daripada yang dipraktikkan dengan metode dorongan IV. Kerugian : a) Kecepatan pemberian tidak dikontrol dengan teliti kecuali Infus dipantau secara elektronik b) Volume yang ditambahkan 50-100 ml cairan IV dapat menyebabkan kelebihan cairan pada beberapa pasien e. JenisJenis Cairan Infus 1) Cairan hipotonik: osmolaritasnya (tingkat Kepekatan) lebih rendah dibandingkan serum (konsentrasi ion Na+ lebih rendah dibandingkan serum), sehingga larut dalam serum, dan menurunkan osmolaritas serum. Maka cairan ditarik dari dalam pembuluh darah keluar ke jaringan sekitarnya (prinsip cairan berpindah dari osmolaritas rendah ke osmolaritas tinggi), sampai akhirnya mengisi sel-sel yang dituju. Digunakan pada keadaan sel mengalami dehidrasi, misalnya pada pasien cuci darah (dialisis) dalam terapi diuretik, juga pada pasien hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dengan ketoasidosis diabetik. Komplikasi yang membahayakan adalah perpindahan tiba-tiba cairan dari dalam pembuluh darah ke sel, menyebabkan kolaps kardiovaskular dan peningkatan tekanan intrakranial (dalam otak) pada beberapa orang. Contohnya adalah NaCl 45% dan Dekstrosa 2,5%. 2) Cairan Isotonik: osmolaritas (tingkat kepekatan) cairannya mendekati serum (bagian cair dari komponen darah), sehingga terus berada di dalam pembuluh darah. Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan cairan tubuh, sehingga tekanan darah terus menurun). Memiliki risiko

a)

terjadinya overload (kelebihan cairan), khususnya pada penyakit gagal jantung kongestif dan hipertensi. Contohnya adalah cairan Ringer-Laktat(RL), dan normal saline/larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%). 3) Cairan hipertonik: osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum, sehingga menarik cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah. Mampu menstabilkan tekanan darah, meningkatkan produksi urin, dan mengurangi edema (bengkak). Penggunaannya kontradiktif dengan cairan hipotonik. Misalnya Dextrose 5%, NaCl 45% hipertonik, Dextrose 5%+Ringer-Lactate, Dextrose 5%+NaCl 0,9%, produk darah (darah), dan albumin. Pembagian cairan lain adalah berdasarkan kelompoknya: 1) Kristaloid: bersifat isotonik, maka efektif dalam mengisi sejumlah volume cairan (volume expanders) ke dalam pembuluh darah dalam waktu yang singkat, dan berguna pada pasien yang memerlukan cairan segera. Misalnya Ringer-Laktat dan garam fisiologis. 2) Koloid: ukuran molekulnya (biasanya protein) cukup besar sehingga tidak akan keluar dari membran kapiler, dan tetap berada dalam pembuluh darah, maka sifatnya hipertonik, dan dapat menarik cairan dari luar pembuluh darah. Contohnya adalah albumin dan steroid. Pembagian cairan/larutan berdasarkan tujuan penggunaannya: 1) Nutrient solution Berisi karbohidrat ( dekstrose, glukosa, levulosa) dan air. Air untuk menyuplai kebutuhan air, sedangkan karbohidrat untuk kebutuhan kalori dan energi. Larutan ini diindikasikan untuk pencegahan dehidrasi dan ketosis. Contoh : D5W, Dekstrose 5 % dalam 0,45 % sodium chloride 2) Electrolyte solution Berisi elekrolit, kation dan anion. Larutan ini sering digunakan untuk larutan hidrasi, mencegah dehidrasi dan koreksi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. Contoh : Normal Saline (NS), Larutan ringer (sodium, Cl, potassium dan kalsium) 3) Alkalizing solution Untuk menetralkan asidosis metabolik Contoh : Ringer Laktat /RL 4) Acidifying solution Untuk menetralkan alkalosis metabolik Contoh : Dekstrose 5 % dalam NaCl 0,45 %, NaCl 0,9 % 5) Blood volume expanders

Digunakan untuk meningkatkan volume darah karena kehilangan darah/plasma dalam jumlah besar. (misal: hemoragi, luka baker berat). Contoh : Dekstran, Plasma, Human Serum Albumin f. Komplikasi Pemasangan Infus (Elearning, 2007) 1) Komplikasi lokal a) Flebitis Inflamasi vena yang disebabkan oleh iritasi kimia maupun mekanik. Kondisi ini dikarakteristikkan dengan adanya daerah yang memerah dan hangat di sekitar daerah insersi/penusukan atau sepanjang vena, nyeri atau rasa lunak pada area insersi atau sepanjang vena, dan pembengkakan. Insiden flebitis meningkat sesuai dengan lamanya pemasangan jalur intravena, komposisi cairan atau obat yang diinfuskan (terutama pH dan tonisitasnya, ukuran dan tempat kanula dimasukkan, pemasangan jalur IV yang tidak sesuai, dan masuknya mikroorganisme saat penusukan). b) Infiltrasi Infiltrasi terjadi ketika cairan IV memasuki ruang subkutan di sekeliling tempat pungsi vena. Infiltrasi ditunjukkan dengan adanya pembengkakan (akibat peningkatan cairan di jaringan), palor (disebabkan oleh sirkulasi yang menurun) di sekitar area insersi, ketidaknyamanan dan penurunan kecepatan aliran secara nyata. Infiltrasi mudah dikenali jika tempat penusukan lebih besar daripada tempat yang sama di ekstremitas yang berlawanan. Suatu cara yang lebih dipercaya untuk memastikan infiltrasi adalah dengan memasang torniket di atas atau di daerah proksimal dari tempat pemasangan infus dan mengencangkan torniket tersebut secukupnya untuk menghentikan aliran vena. Jika infus tetap menetes meskipun ada obstruksi vena, berarti terjadi infiltrasi. c) Iritasi vena Kondisi ini ditandai dengan nyeri selama diinfus, kemerahan pada kulit di atas area insersi. Iritasi vena bisa terjadi karena cairan dengan pH tinggi, pH rendah atau osmolaritas yang tinggi (misal: phenytoin, vancomycin, eritromycin, dan nafcillin). d) Hematoma Hematoma terjadi sebagai akibat kebocoran darah ke jaringan di sekitar area insersi. Hal ini disebabkan oleh pecahnya dinding vena yang berlawanan selama penusukan vena, jarum keluar vena, dan tekanan yang tidak sesuai yang diberikan ke tempat penusukan setelah jarum atau kateter dilepaskan. Tanda dan gejala hematoma yaitu ekimosis, pembengkakan

segera pada tempat penusukan, dan kebocoran darah pada tempat penusukan. e) Tromboflebitis Tromboflebitis menggambarkan adanya bekuan ditambah peradangan dalam vena. Karakteristik tromboflebitis adalah adanya nyeri yang terlokalisasi, kemerahan, rasa hangat, dan pembengkakan di sekitar area insersi atau sepanjang vena, imobilisasi ekstremitas karena adanya rasa tidak nyaman dan pembengkakan, kecepatan aliran yang tersendat, demam, malaise, dan leukositosis. f) Trombosis Trombosis ditandai dengan nyeri, kemerahan, bengkak pada vena, dan aliran Infus berhenti. Trombosis disebabkan oleh injuri sel endotel dinding vena, pelekatan platelet g) Occlusion Occlusion ditandai dengan tidak adanya penambahan aliran ketika botol dinaikkan, aliran balik darah di selang infus, dan tidak nyaman pada area pemasangan/insersi. Occlusion disebabkan oleh gangguan aliran IV, aliran balik darah ketika pasien berjalan, dan selang diklem terlalu lama. h) Spasme vena Kondisi ini ditandai dengan nyeri sepanjang vena, kulit pucat di sekitar vena, aliran berhenti meskipun klem sudah dibuka maksimal. Spasme vena bisa disebabkan oleh pemberian darah atau cairan yang dingin, iritasi vena oleh obat atau cairan yang mudah mengiritasi vena dan aliran yang terlalu i) Reaksi vasovagal Kondisi ini digambarkan dengan klien tiba-tiba terjadi kollaps pada vena, dingin, berkeringat, pingsan, pusing, mual dan penurunan tekanan darah.. Reaksi vasovagal bisa disebabkan oleh nyeri atau kecemasan j) Kerusakan syaraf, tendon dan ligament Kondisi ini ditandai oleh nyeri ekstrem, kebas/mati rasa, dan kontraksi otot. Efek lambat yang bisa muncul adalah paralysis, mati rasa dan deformitas. Kondisi ini disebabkan oleh tehnik pemasangan yang tidak tepat sehingga menimbulkan injuri di sekitar syaraf, tendon dan ligament. 2) Komplikasi sistemik a) Septikemia/bakteremia Adanya susbtansi pirogenik baik dalam larutan infus atau alat pemberian dapat mencetuskan reaksi demam dan septikemia. Perawat dapat melihat kenaikan suhu tubuh secara mendadak segera setelah infus dimulai, sakit punggung, sakit kepala, peningkatan nadi dan frekuensi

pernafasan, mual dan muntah, diare, demam dan menggigil, malaise umum, dan jika parah bisa terjadi kollaps vaskuler. Penyebab septikemi adalah kontaminasi pada produk IV, kelalaian tehnik aseptik. Septikemi terutama terjadi pada klien yang mengalami penurunan imun. b) Reaksi alergi Kondisi ini ditandai dengan gatal, hidung dan mata berair, bronkospasme, wheezing, urtikaria, edema pada area insersi, reaksi anafilaktik (kemerahan, cemas, dingin, gatal, palpitasi, paresthesia, wheezing, kejang dan kardiak arrest). Kondisi ini bisa disebabkan oleh allergen, misal karena medikasi. c) Overload sirkulasi Membebani sistem sirkulasi dengan cairan intravena yang berlebihan akan menyebabkan peningkatan tekanan darah dan tekanan vena sentral, dipsnea berat, dan sianosis. Tanda dan gejala tambahan termasuk batuk dan kelopak mata yang membengkak. Penyebab yang mungkin termasuk adalah infus larutan IV yang terlalu cepat atau penyakit hati, jantung dan ginjal. Hal ini juga mungkin bisa terjadi pada pasien dengan gangguan jantung yang disebut dengan kelebihan beban sirkulasi. d) Embolisme udara Emboli udara paling sering berkaitan dengan kanulasi vena-vena sentral. Manifestasi klinis emboli udara adalah dipsnea dan sianosis, hipotensi, nadi yang lemah dan cepat, hilangnya kesadaran, nyeri dada, bahu, dan punggung bawah. g. Peran Perawat Dalam Terapi Intravena (Wordpress, 2006) 1) Memastikan tidak ada kesalahan maupun kontaminasi cairan infus maupun kemasannya. 2) Memastikan cairan infus diberikan secara benar (pasien, jenis cairan, dosis, cara pemberian dan waktu pemberian). 3) Memeriksa dan memelihara jalur intravena tetap paten. 4) Mengobservasi tempat penusukan (insersi) dan melaporkan abnormalitas. 5) Mengatur kecepatan tetesan sesuai dengan instruksi. 6) Monitor kondisi pasien dan melaporkan setiap perubahan.

3. Tehnik Pemasangan dan Perawatan Infus a. Pemasangan Infus (Elearning, 2007) 1) Pemilihan Area Insersi Banyak tempat bisa digunakan untuk terapi intravena, tetapi kemudahan akses dan potensi bahaya berbeda di antara tempat-tempat ini. Tempat insersi/pungsi vena yang umum digunakan adalah tangan dan lengan.

Namun vena-vena superfisial di kaki dapat digunakan jika klien dalam kondisi tidak memungkinkan dipasang di daerah tangan. Apabila memungkinkan, semua klien sebaiknya menggunakan ekstremitas yang tidak dominan. Panduan singkat pemilihan vena : gunakan vena distal lengan untuk pilihan pertama, jika memungkinkan pilih lengan non dominant, pilih venavena di atas area fleksi, gunakan vena kaki jika vena lengan tidak dapat diakses, pilih vena yang mudah diraba, vena yang besar dan yang memungkinkan aliran cairan adequate, pastikan bahwa lokasi yang dipilih tidak akan mengganggu aktivitas sehari-hari pasien, pilih lokasi yang tidak mempengaruhi pembedahan atau prosedur-prosedur yang direncanakan. 2) Persiapan Pasien a) Jelaskan pada pasien tentang prosedur yang akan dilakukan (meliputi proses pungsi vena, informasi tentang lamanya infus dan pembatasan aktivitas). b) Jika pasien akan menggunakan anestesi lokal pada area insersi, tanyakan adanya alergi terhadap anestesi yang digunakan. c) Jika pasien tidak menggunakan anestesi, jelaskan bahwa nanti akan muncul nyeri ketika jarum dimasukkan, tapi akan hilang ketika kateter sudah masuk. d) Jelaskan bahwa cairan yang masuk awalnya akan terasa dingin, tapi sensasi itu hanya akan terasa pada beberapa menit saja. e) Jelaskan pada pasien bahwa jika ada keluhan/ketidaknyamanan selama pemasangan, supaya menghubungi perawat. 3) Persiapan Alat a) Larutan yang benar b) Jarum yang sesuai (abbocath, wing needle/butterfly) Ukuran jarum : (1) Nomor 16 untuk bedah mayor atau trauma (2) Nomor 18 untuk darah dan produk darah, pemberian obat-obat yang kental (3) Nomor 20 digunakan pada kebanyakan pasien (4) Nomor 22 digunakan pada kebanyakan pasien, terutama anak-anak dan orang tua (5) Nomor 24 pasien pediatrik atau neonatus c) Set infus d) Selang intravena e) Alkohol dan swab pembersih yodiumpovidon f) Tourniquet

g) Sarung tangan sekali pakai h) Kasa atau balutan trasparan dan larutan atau salep yodium-povidon i) Plester j) Handuk/pengalas tangan k) Tiang penyangga IV l) Bengkok (tempat pembuangan jarum) m) Gunting 4) Prosedur Kerja Pemasangan Infus a) Baca status dan data klien untuk memastikan program terapi IV b) Cek alat-alat yang akan digunakan c) Cuci tangan d) Beri salam dan panggil klien sesuai dengan namanya e) Perkenalkan nama perawat f) Jelaskan prosedur yang akan dilakukan pada klien g) Jelaskan tujuan tindakan yang dilakukan h) Beri kesempatan pada klien untuk bertanya i) Tanyakan keluhan klien saat ini j) Jaga privasi klien k) Dekatkan alat-alat ke sisi tempat tidur klien l) Tinggikan tempat tidur sampai ketingian kerja yang nyaman m) Letakkan klien dalam posisi semifowler atau supine jika tidak memungkinkan (buat klien senyaman mungkin) n) Buka kemasan steril dengan meanggunakan teknik steril o) Periksa larutan dengan menggunakan lima benar dalam pemberian obat p) Buka set Infus, pertahankan sterilitas kedua ujungnya q) Letakkan klem yang dapat digeser tepat di bawah ruang drip dan gerakkan klem pada posisi off r) Lepaskan pembungkus lubang slang IV pada kantung larutan IV plastik tanpa menyentuh ujung tempat masuknya alat set infuse s) Tusukkan set Infus ke dalam kantong atau botol cairan (untuk kantong, lepaskan penutup protektor dari jarum insersi selang, jangan menyentuh jarumnya, dan tusukkan jarum ke lubang kantong IV. Untuk botol, bersihkanstopper pada botol dengan menggunakan antiseptik dan tusukkan jarum ke karet hitamstopper botol IV. t) Gantungkan botol Infus yang telah dihubungkan dengan set Infus pada tempat yang telah disediakan (pertahankan kesterilan set Infus) u) Isi selang Infus dengan cairan, pastikan tidak ada udara dalam selang (terlebih dulu lakukan pengisian pada ruang tetesan/the drip chamber). Setelah selang terisi, klem dioffkan dan penutup ujung selang Infus ditutup

v)

Beri label pada IV dengan nama pasien, obat tambahan, kecepatan pemberian. w) Pasang perlak kecil/pengalas di bawah lengan/tangan yang akan diinsersi x) Kenakan sarung tangan sekali pakai y) Identifikasi aksesibilitas vena untuk pemasangan kateter IV atau jarum z) Posisikan tangan yang akan diinsersi lebih rendah dari jantung, pasang torniket mengitari lengan, di atas fossa antekubital atau 10-15 cm di atas tempat insersi yang dipilih (jangan memasang torniket terlalu keras untuk menghindari adanya cidera atau memar pada kulit). Pastikan torniket bisa menghambat aliran IV. Periksa nadi distal. aa) Pilih vena yang berdilatasi baik, dimulai dari bagian distal, minta klien untuk mengepal dan membuka tangan (apabila belum menemukan vena yang cocok, lepaskan dulu torniket, dan ulangi lagi setelah beberapa menit). bb) Bersihkan tempat insersi dengan kuat, terkonsentrasi, dengan gerakan sirkuler dari tempat insersi ke daerah luar dengan larutan yodium povidon, biarkan sampai kering. (klien yang alergi terhadap yodium, gunakan alkohol 70 % selama 30 detik) cc) Lakukan pungsi vena, fiksasi vena dengan menempatkan ibu jari tangan yang tidak memegang alat infus di atas vena dengan cara meregangkan kulit. Lakukan penusukan dengan sudut 20-30, tusuk perlahan dengan pasti dd) Jika tampak aliran darah balik, mengindikasikan jarum telah masuk vena. ee) Rendahkan posisi jarum sejajar kulit dan tarik jarum sedikit lalu teruskan plastik IV kateter ke dalam vena ff) Stabilkan kateter IV dengan satu tangan dan lepaskan torniket dengan tangan yang lain gg) Tekan dengan jari ujung plastik IV karteter, lalu tarik jarum infuse keluar hh) Sambungkan plastic IV kateter dengan ujung selang infus dengan gerakan cepat, jangan menyentuh titik masuk selang infus ii) Buka klem untuk memulai aliran infus sampai cairan mengalir lancar jj) Fiksasi sambungan kateter infus (apabila sekitar area insersi kotor, bersihkan terlebih dulu) kk) Oleskan dengan salep betadin di atas area penusukan, kemudian tutup dengan kasa steril, pasang plester ll) Atur tetesan infus sesuai ketentuan mm) Beri label pada temapt pungsi vena dengan tanggal, ukuran kateter, panjang kateter, dan inisial perawat. nn) Buang sarung tangan dan persediaan yang digunakan oo) Cuci tangan

pp) qq) rr) ss)

Berikan reinforcement positif Buat kontrak pertemuan selanjutnya Akhiri kegiatan dengan baik Observasi klien setiap jam untuk menentukan respon terhadap terapi cairan (jumlah cairan benar sesuai program yang ditetapkan, kecepatan aliran benar, kepatenan vena, tidak terdapat infiltrasi, flebitis atau inflamasi) tt) Dokumentasikan di catatan perawatan (tipe cairan, tempat insersi, kecepatanaliran, ukuran dan tipe kateter atau jarum, waktu Infus dimulai, respon terhadap cairan IV, jumlah yang diinfuskan, integritas serta kepatenan sistem IV. b. Perawatan Infus (Elearning, 2007) 1) Definisi Perawatan Infus merupakan tindakan yang dilakukan dengan mengganti balutan/plester pada area insersi Infus. Frekuensi penggantian balutan ditentukan oleh kebijakan institusi. Dulu penggantian balutan dilakukan setiap hari, tapi saat ini telah dikurangi menjadi setiap 48 sampai 72 jam sekali, yakni bersamaan dengan penggantian daerah pemasangan IV (Gardner, 1996) 2) Tujuan a) Mempertahankan teknik steril b) Mencegah masuknya bakteri ke dalam aliran darah c) Pencegahan/meminimalkan timbulnya infeksi d) Memantau area insersi 3) Indikasi a) Pasien yang dipasang Infus lebih dari satu hari b) Balutan Infus basah atau kotor 4) Persiapan pasien a) Jelaskan pada pasien tujuan dari penggantian balutan b) Jelaskan akibat apabila balutan tidak diganti 5) Persiapan alat a) Kasa steril b) Larutan atau salep yodium povidin c) Pinset d) Kapas alkohol e) Plester f) Sarung tangan sekali pakai g) Bengkok h) Perlak kecil atau pengalas

i) Gunting 6) Hal-hal yang perlu diperhatikan a) Kaji area insersi saat mengganti balutan b) Kaji adanya tanda-tanda komplikasi c) Pertahankan teknik steril ketika mengganti balutan 7) Prosedur Kerja Perawatan Infus a) Identifikasi data klien b) Kaji kebutuhan perawatan Infus c) Siapkan peralatan (kasa steril, larutan atau salep yodiumpovidin, pinset, kapas alkohol, plester, sarung tangan sekali pakai, bengkok, pengalas/perlak kecil, gunting) d) Cuci tangan e) Jaga privasi klien f) Beri salam dan panggil klien sesuai dengan namanya g) Perkenalkan nama perawat h) Jelaskan prosedur tindakan yang akan dilakukan i) Berikan kesempatan klien untuk bertanya j) Tanyakan keluhan klien k) Dekatkan alat-alat ke samping klien l) Tinggikan tempat tidur setinggi batas kerja nyaman m) Posisikan klien senyaman mungkin n) Letakkan pengalas/perlak kecil di bawah tangan o) Pakai sarung tangan sekali pakai p) Lepaskan balutan trasparan searah dengan arah pertumbuhan rambut klien atau lepaskan plester dan kasa balutan yang lama selapis demi selapis. Untuk kedua balutan trasparan dan balutan kasa, biarkan plester memfiksasi jarum IV atau kateter tetap di tempat. q) Hentikan Infus jika terjadi flebitis, infiltrasi, bekuan, atau ada instruksi dokter untuk melepas r) Apabila Infus mengalir dengan baik, lepaskan plester yang memfiksasi jarum dan kateter. Stabilkan jarum dengan satu tangan s) Gunakan pinset dan kasa untuk membersihkan dan mengangkat sisa plester t) Bersihkan tempat insersi dengan gerakan memutar dari dalam kearah luar dengan menggunakan yodium---povidon. u) Pasang plester untuk fiksasi v) Oleskan salep/yodium-povidon di tempat insersInfus w) Letakkan kasa kecil diatas salep/yodium-povidon. x) Tutup kasa dengan plester y) Tulis tanggal dan waktu penggantian balutan

z) Bereskan alat-alat yang telah digunakan aa) Lepas sarung tangan dan cuci tangan bb) Kaji kembali fungsi dan kepatenan Infus cc) Kaji respon klien dd) Berikan renforcement positif ee) Buat kontrak pertemuan selanjutnya ff) Akhiri kegiatan dengan baik gg) Dokumentasikan waktu penggantian balutan, tipe balutan, kepatenan sistem IV, kondisi daerah vena, respon klien. B. Profil Rumah Sakit Umum Bethesda Serukam, Kecamatan Samalantan Kabupaten Bengkayang (Lokasi Penelitian) Alamat : Kompleks Rumah Sakit Umum Bethesda Serukam, Kecamatan Samalantan Kabupaten Bengkayang, PO Box 20 Singkawang, Kalimantan Barat. 1. Ruangan Perawatan Rumah Sakit Umum Bethesda Serukam, Kecamatan Samalantan Kabupaten Bengkayang terdiri dari 5 ruangan perawatan yaitu: a. Ruang Gawat Darurat b. Ruang Rawat Kebidanan c. Ruang Rawat Umum d. Ruang Rawat Intensif e. Ruang Rawat Umum Atas 2. Jumah Perawat a. Ruang Gawat Darurat Jumlah perawat 12 orang (Sekolah Perwat Kesehatan 2 orang, Diploma III Keperawatan 10 orang) b. Ruang Rawat Kebidanan Jumlah Perawat 15 orang Diploma III Keperawatan c. Ruang Rawat Umum Jumlah perawat 12 orang (Sekolah Perawat Kesehatan 1 orang, Diploma III Keperawatan 11 orang) d. Ruang Rawat Intensif Jumlah perawat 8 orang (Diploma III Keperawatan 6 orang, Sarjana kesehatan masyarakat 2 orang) e. Ruang Perawa Rawat Umum Atas Jumlah perawat 13 orang (Diploma III Keperawatan 13 orang) 3. Jumlah Tempat Tidur a. Ruang Gawat Darurat Jumlah tempat tidur triase : 4 tempat tidur Jumlah tempat tidur Observasi : 4 tempat tidur

Ruang Rawat Kebidanan Jumlah tempat tidur 15 buah c. Ruang Rawat Umum Jumlah tempat tidur 42 buah dengan rincian : Vip 8 tempat tidur termasuk 1 tempat tidur isolasi Kelas I ada 2 tempat tidur Kelas II ada 27 tempat tidur Ruangan khusus kariawan terdiri 3 tempat tidur Isolasi ada 2 tempat tidur d. Ruang Rawat Intensif Jumlah tempat tidur 5 buah dengan rincian : Isolasi 1 tempat tidur Reguler 4 tempat tidur e. Ruang Rawat Umum Atas Jumlah tempat tidur 32 buah dengan rincian : Kelas III 29 tempat Isolasi 3 tempat tidur DAFTAR PUSTAKA Strong, C F. http://www.kaskus.us/blog.php?b=1282. Diakses pada tanggal 10 Oktober 2010, Pukul 15:15 WIB. Suradinata, Ermaya. http://www.kaskus.us/blog.php?b=1282.Diakses pada tanggal 10 Oktober 2010, Pukul 15:15 WIB. Anonim.http://astaqauliyah.com/2007/02/program-penanggulangan-tbc/) Diakses pada tanggal 14 Oktober 2010, Pukul 09:30 WIB. Anonim.http://www.kebijakankesehatan.co.cc/2008/09/definisipuskesmas.html). Diakses pada tanggal 10 Oktober 2010, Pukul 15:50 WIB. http://www.kebijakankesehatan.co.cc/2008/09/definisi-puskesmas.html). Diakses pada tanggal 10 Oktober 2010, Pukul15:50 WIB. Solusindo. 2008 (www.rismaka.net/.../apa-itu-blog-definisi-blog-blogger-danblogosphere.html). Diakses pada tanggal 14 Oktober 2010, Pukul 11:00 WIB. S,Notoadmodjo,2003.(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/6656/1/09E01348.pdf) . Diakses pada tanggal 14 Oktober 2010,Pukul 09:45 WIB. Anonim.http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/6656/1/09E01348.pdf). Diak ses pada tanggal 14 Oktober 2010, Pukul 09:45 WIB. Crifton.2002)http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/6656/1/09E01348.pdf). Diakses pada tanggal 14 Oktober 2010, Pukul09:45 WIB.

b.