Anda di halaman 1dari 10

Debby Elvira 1102012051

dan kadang-kadang menghentikan secara total aliran darah. Fase pembuluh darah ini hanya mengenai arteriol dan kapiler-kapilernya; pembuluh besar tidak cukup dapat berkonstriksi untuk mencegah pengeluaran darah. Trombosit Sumbat hemostatic yang efektif terdiri dari trombosit dan protein miripgel yaitu fibrin. Trombosit dapat menyumbat lubang kecil di pembuluh darah dan

Tugas Mandiri PBL Skenario 3 : Bercak Biru Pada Lutut

dapat membentuk suatu mekanisme hemostatic primer yang efektif. Trombosit akan mengalami peristiwa :

LI.1.

Memahami dan menjelaskan tentang Hemostasis LO.1.1. Definisi Hemostasis Hemostasis adalah penghentian perdarahan melalui mekanisme vasokontriksi dan koagulasi fisiologis atau melalui cara-cara bedah. Hemostasis adalah hambatan aliran darah didalam pembuluh darah manapun atau yang menuju area anatomis mana pun. (Dorland, 2008) Hemostasis adalah proses tubuh yang secara simultan menghentikan perdarahan dari tempat yang cedera, sekaligus mempertahankan darah dalam keadaan cair didalam kompartemen vascular. (Sacher, 2004) LO.1.2 Sistem yang berperan dalam Hemostasis Mekanisme hemostatic normal terdiri dari empat system utama yaitu : (1) system pembuluh darah, (2) trombosit, (3) system pembekuan, (4) system fibrinolitik. Sistem Pembuluh Darah Pembuluh darah memiliki satu atau lebih lapisan otot polos yang mengelilingi sel endotel yang menutupi permukaan lumen. Jika pembuluh rusak, otot tersebut akan berkonstriksi dan mempersempit jalur yang dilalui oleh darah

1. 2. 3.

Platelet adhesion Platelet activation Platelet aggregation

Pembentukan sumbat hemostatic dimulai dengan kerusakan pembuluh darah, kerusakan jaringan, atau keduanya yang menyebabkan terjadinya suatu proses yang berantai. Cedera vascular biasanya berkaitan dengan vasokonstriksi, aktivasi kontak trombosit diikuti oleh agregasi trombosit dan pengaktifan jenjang koagulasi. Kerusakan pada lapisan endotel ini menyebabkan kolagen dibawahnya terpajan, tempat trombosit dalam sirkulasi melekat (adhesi trombosit). Hal ini memicu rekrutmen lebih banyak trombosit untuk menyumbat pembuluh yang cedera (agregasi trombosit). Sistem Pembekuan Pembekuan darah (koagulasi) adalah suatu proses kimiawi yang proteinprotein plasmanya (yaitu faktor koagulasi) berinteraksi untuk mengubah molekul protein plasma besar yang larut, yaitu fibrinogen menjadi gel stabil yang tidak larut disebut fibrin. Senyawa aktif , enzim thrombin yang secara khusus mengubah fibrinofen (larut) menjadi fibrin (tidak larut).

Faktor-faktor koagulasi : Nama Faktor Kontak Aktivasi: F XII (Hageman Factor) HMW Kininogen, Prekalikrein Mengaktifkan FXII dan PK Membawa FXII & PK pada suatu permukaan F XI (PTA) Mengaktifkan FXII & FXI Fungsi

Sistem Fibrinolitik Sistem ini membatasi koagulasi hanya ditempat cedera dan perbaikan

luka serta mencegah koagulasi meluas dan tidak terkendali. Senyawa aktif pada system ini adalah enzim plasmin (berasal dari protein plasma plasminogen); plasmin merupakan enzim yang relative tidak selektif yang lebih cenderung mencerna fibrin dan fibrinogen. LO.1.3 Proses Hemostasis

Vitamin K-dependent proenzymes: Prothrombin (FII) FX FIX FVII Protein C Precursor thrombin Mengaktifkan prothrombin Mengaktifkan FX Mengaktifkan FIX & FX Menonaktifkan FVa dan VIIa

Kofaktor Tissue factor (FIII) Platelet procoagulant Phospholipid (PF3) FVIII (anti hemophilic factor) FV (proaccelerin) Protein S Kofaktor utk protein C Kofaktor untuk FIXa Kofaktor untuk FVII dan VIIa Kofaktor untuk FIXa dan FXa

Faktor untuk deposisi fibrin: Fibrinogen (FI) FXIII (fibrin stabilizing factor) Precursor fibrin Crosslinking fibrin Pembuluh vaskuler mengalami kerusakan, pada awalnya akan terjadi vasokontriksi temporer dinding pembuluh vaskuler. Kemudian platelet akan menempel pada permukaan vaskuler yang mengalamai kerusakan, lalu beradhesi-agregasi membentuk hemostatic plug

sementara. Platelet merupakan partikel solid dalam darah yang menyebabkan jendalan darah. Proses selanjutnya melalui jalur terpisah yang berbeda, yaitu mekanisme clotting dan anticlotting. proses hemostasis ini tergantung pada: integritas dinding pembuluh vaskuler, jumlah platelet yang adekuat, fungsi platelet yang baik, faktor pembekuan dan jalur fibrinolitik yang berfungsi dengan baik. Pasien yang menderita kelainan pendarahan, kemungkinan mengalami ganggian pada salah satu faktor tersebut. Dalam prakteknya, semua kelainan hemostasis disebabkan oleh abnormalitas trombosit atau faktor koagulasi. Sangat jarang ditemukan gangguan pendarahan disebabkan fragilitas kapiler.

5. Faktor Xa yang dihasilkan dua jalur berbeda itu akan memasuki jalur bersama. Faktor Xa akan berikatan dengan fosfolipid trombosit, ion kalsium, dan juga faktor V sehingga membentuk aktivator protrombin. 6. Selanjutnya senyawa itu akan mengubah protrombin menjadi trombin. Trombin selanjutnya akan mengubah fibrinogen menjadi fibrin (longgar), dan akhirnya dengan bantuan faktor VIIa dan ion kalsium, fibrin tersebut menjadi kuat. Fibrin inilah yang akan menjerat sumbat trombosit sehingga menjadi kuat. 7. Selanjutnya apabila sudah tidak dibutuhkan lagi, bekuan darah akan dilisiskan

Urutan mekanisme hemostasis dan koagulasi dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Segera setelah pembuluh darah terpotong atau pecah, rangsangan dari pembuluh darahyang rusak itu menyebabkan dinding pembuluh berkontraksi sehingga dengan segeraaliran darah dari pembuluh darah yang pecah akan berkurang (terjadi vasokontriksi). 2. Setelah itu, akan diikuti oleh adhesi trombosit, yaitu penempelan trombosit pada

melalui proses fibrinolitik. Proses ini dimulai dengan adanya proaktivator plasminogen yang kemudian dikatalis menjadi aktivator plasminogen dengan adanya enzim streptokinase, kinase jaringan, serta faktor XIIa. Selanjutnya plasminogen akan diubah menjadi plasmin dengan bantuan enzim seperti urokinase. Plasmin inilah yang akan mendegradasi fibrinogen/fibrin menjadi fibrin degradation product.

kolagen. ADP (adenosin difosfat) kemudian dilepaskan oleh trombosit kemudian ditambah dengan tromboksan A2 menyebabkan terjadinya agregasi (penempelan trombosit satu sama lain). Proses aktivasi trombosit ini terus terjadi sampai terbentuk sumbat trombosit, disebut juga hemostasis primer. 3. Setelah itu dimulailah kaskade koagulasi yaitu hemostasis sekunder, diakhiri dengan pembentukan fibrin. Produksi fibrin dimulai dengan perubahan faktor X menjadi faktor Xa. Faktor X diaktifkan melalui dua jalur, yaitu jalur ekstrinsik dan jalur intrinsik. Jalur ekstrinsik dipicu oleh tissue factor/tromboplastin. Kompleks lipoprotein tromboplastin selanjutnya bergabung dengan faktor VII bersamaan dengan hadirnya ionkalsium yang nantinya akan mengaktifkan faktor X. Jalur intrinsik diawali oleh keluarnya plasma atau kolagen melalui pembuluh darah yang rusak dan mengenai kulit. Paparan kolagen yang rusak akan mengubah faktor XII menjadi faktor XII yang teraktivasi. Selanjutnya faktor XIIa akan bekerja secara enzimatik dan mengaktifkan faktor XI. Faktor XIa akan mengubah faktor IX menjadi faktor IXa. 4. Faktor IXa akan bekerja sama dengan lipoprotein trombosit, faktor VIII, serta ion kalsium untuk mengaktifkan faktor X menjadi faktor Xa.

FIBRINOLISIS Fibrinolisis merupakan respons hemostatik yang normal terhadap kerusakan vaskular. Plasminogen (proenzim -globulin dalam darah dan cairan jaringan) diubah menjadi plasmin (suatu protease serin) oleh aktivator-aktivator , baik dari dinding pembuluh darah (aktivasi intrinsik) atau dari jaringan (aktivasi ekstrinsik) .

tunika intima, tunika media, dan tunika eksterna. Tunika intima lah yang berperan dalam hemostasis. Tunika intima ini pun juga terdiri dari 3 lapis, yaitu endotel, membranabasalis, dan subendotel. Subendotel pada vena terdiri dari kolagen dan fibroblas. Pada arteri, subendotel terdiri dari kolagen, fibroblas, dan otot polos. Perangkat yang mendukung koagulasi tersebut adalah: Vasokonstriksi Jika ada kerusakan endotel, endotelin-1 akan disekresikan. Endotelin ini akan menginduksi vasokonstriksi. Hal ini menyebabkan lumen pembuluh darah menyempit sehingga aliran darah ke daerah luka akan menurun, darah yang keluar pun juga berkurang. Kolagen

Di subendotel yang berfungsi sebagai tempat penempelan trombosit. Melalui vWF, kolagen akan berikatan dengan GP1b yang ada di permukaan trombosit. vWF

Merupakan suatu glikoprotein yang disekresi oleh endotel. vWF ini berfungsi untuk perantara ikatan trombosit dengan kolagen. Jalur yang terpenting terjadi setelah pelepasan tissue plasminogen activator (tPA) dari sel endotel. tPA adalah protease serin yang mengikat fibrin .Proses ini meningkatkan kemampuannya untuk mengubah plasminogen yang terikat pada trombus menjadi plasmin.Plasmin mampu memecah fibrinogen,fibrin ,faktor V,VIII, serta banyak protein lain.Pemecahan tersebut akan menghasilkan berbagai produk oemecahan (fibrin degradation product).Pelepasan tPA terjadi setelah stimulus seperti trauma ,olahraga, atau stres emosional.Protein C aktiv merangsang fibrinolisis dengan menghancurkan inhibitor tPA dalam plasma . Disisi lain,trombin menghambat fibrinolisis dengan mengaktifkan inhibitor fibrinolisis yang diaktifkan trombin ( thrombin-activated fibrinolysis inhibitor ,TAFI). 2. LO.1.4 Mekanisme kontrol pembekuan Faktor-faktor hemostasis : 1. Pembuluh darah Dinding pembuluh darah merupakan salah satu faktor yang berperan dalam hemostasis. Bagaimana pembuluh darah bisa berperan daam hemostasis. Pembuluh darah terdiri dari TROMBOSIT Bila endotel rusak endotelin akan menarik trombosit untuk adesi pada kolagen pembuluh darah Trombosit diaktifkan akan membentuk pseudopodia sehingga : Melepas substasi ADP, serotonin, dll- Mudah melekat ke kolagen endotel- Mudah melekat ke trombosit lain (agregasi trombosit) Yang menginduksi pengikatan leukosit. Otot polos dan fibroblas yang mendukung suatu protein permukaan yang disebut Tissue Factor. Tissue Factor ini akan menginduksi aktivasi faktor VII sehingga jalur koagulasi ekstrinsik akan teraktivasi. P-selectin

Yang disekresikan oleh endotel untuk melapisi dirinya. P-selecin ini berfungsi untuk menarik trombosit dan leukosit agar menempel. ICAM (intercellular Adhesion Molecules) dan PECAM ( Platelet endothelial cell adhesion molecules)

Trombin menghambat sintesaAMP siklik -> peningkatan ion kalsium-> hiperagregasi trombosit

yang lahir dengan hemofilia memiliki sedikit atau tidak ada faktor pembekuan . Faktor pembekuan adalah protein yang diperlukan untuk pembekuan darah normal . Ada beberapa jenis faktor pembekuan . Protein ini bekerja dengan trombosit ( platelets ) untuk membantu bekuan darah. Meskipun hemophilia merupakan penyakit herediter tetapi sekitar 20-30% pasien tidak memiliki gangguan pembekuan darah, sehingga diduga akibat lingkungan

Pada sikresi ADP yang berlebih akan mengaktifkan membran fosfolipid (faktor trombosit 3) sehingga terjadi aktifasi sistim koagulasi

Faktor-faktor pembekuan Faktor I II III V VII VIII IX X XI Fibrinogen Protrombin Faktor jaringan (tissue tromboplastin) Faktor labil Prokonvertin Faktor antihemofilik Faktor Christmas Faktor Stuart-Power Prekursor tromboplastin Plasma (plasma thromboplastin antecedent) Faktor Hageman Faktor penstabil fibrin Prekallikrein (faktor Fletcher) HMWK (faktor Fitzgerald) Nama deskriptif Bentuk aktif Subunit fibrin Protease serin Reseptor/kofaktor Kofaktor Protease serin Kofaktor Protease serin Protease serin Protease serin

endogen ataupun eksogen. Sampai saat ini dikenal 2 macam hemophilia yang diturunkan secara sex linked recessive yaitu : - Hemofilia A (hemophilia klasik), akibat defisiensi atau disfungsi faktor pembekuan VIII (FVIIIc). - Hemofilia B (Christmas disease) akibat defisiensi atau disfungsi FIX ( faktor Christmas)

Klasifikasi

Kadar Faktor VII dan Faktor IX di dalam darah

Berat Protease serin Transglutaminase Protease serin Kofaktor Sedang

Kurang dari 1% dari jumlah normalnya. Terjadi hemarthrosis & perdarahan

XII XIII

berulang. 1% - 5% dari jumlah normalnya. Jarang menyebabkan kelainan ortopedik,

Catatan : serin protease adalah Memiliki residu serin dalam lokasi aktifnya. Bersifat endopeptidase. Yang termasuk enzim ini: tripsin, kimotripsin, elastase dan subtilin

hemartrosis & perdarahan spontan. Ringan 5% - 30% dari jumlah normalnya. Mungkin tidak terjadi hemartrosis & perdarahan spontan lain tapi menyebabkan

LO.1.5 Pemeriksaan Penyaring LI.2. Memahami dan menjelaskan tentang Hemofilia SubLO.2.1 Definisi & Klasifikasi Hemofilia Hemofilia adalah penyakit perdarahan akibat kekurangan faktor pembekuan darah yang diturunkan (herediter) secara sex linked recessive pada kromosom X ( ). Orang hemofilia

perdarahan serius bila ada trauma/ luka tak berat/ pembedahan Kadar factor 25-50% dari normal. Tak terjadi perdarahan kecuali bila penderita mengalami trauma hebat & pembedahan

luas.

Hemofilia Klasik; karena jenis hemofilia ini adalah yang paling banyak kekurangan faktor pembekuan pada darah.

Hemofilia kekurangan Factor VIII; terjadi karena kekurangan faktor 8 (Factor VIII) protein pada darah yang menyebabkan masalah pada proses pembekuan darah.

LO.2.2 Epidemiologi Hemofilia Penyakit ini bermanifestasi klinik pada laki-laki. Angka kejadian hemofilia A sekitar 1:10.000 orang dan hemofilia B sekitar 1:25.000-30.000 orang. Sebanyak 18.000 orang di Amerika Serikar menderita hemofilia. Tiap tahun, sekitar 400 bayi dilahirkan dengan kelainan bawaan ini.

Hemofilia B; yang dikenal juga dengan nama : Christmas Disease; karena di temukan untuk pertama kalinya pada seorang bernama Steven Christmas asal Kanada Hemofilia kekurangan Factor IX; terjadi karena kekurangan faktor 9 (Factor IX) protein pada darah yang menyebabkan masalah pada proses pembekuan darah.

Belum ada data mengenai angka kekerapan di Indonesia, namun diperkirakan sekitar 20.000 kasus dari 200 juta penduduk Indonesia saat ini. Kasus hemofilia A lebih sering dijumpai dibandingkan hemofilia B. yaitu berturut-turut mencapai 80-85% dan 1015% tanpa memandang ras, geografi, dan keadaan sosial ekonomi. Mutasi gen secara spontan diperkirakan mencapai 20-30% yang terjadi pada pasien tanpa riwayat keluarga. Berdasarkan data terakhir dari Yayasan Hemofilia Indonesia (HMHI) Pusat jumlah penderita hemofilia yang sudah teregistrasi sampai Juli 2005 sebanyak 895 penderita yang tersebar di 21 provinsi dari 30 provinsi, berarti ada 9 provinsi yang belum membuat data registrasi kemungkinan adanya penderita hemofilia di daerahnya, dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 217.854.000 populasi (BPS Indonesia, 2004), secara nasional prevalensi hemofilia hanya mencapai 4,1/1 juta populasi, angka ini sangat kecil dibandingkan prediksi secara epidemiologi seharusnya di Indonesia penderita hemofilia 21.000 orang.

Hemofilia C ; kekurangan / tidak ada factor XI , autosomal recessive

LO.2.3 Etiologi Hemofilia Hemofilia berdasarkan penyebabnya : Hemofilia A; yang dikenal juga dengan nama :

LO.2.4 Patogenesis & Patofisiologi Hemofilia Penyakit hemofilia ditandai oleh perdarahan spontan maupun perdarahan yang sukar berhenti. Selain perdarahan yang tidak berhenti karena luka, penderita hemophilia juga bisa mengalami perdarahan spontan di bagian otot maupun sendi siku. Pada orang normal, ketika perdarahan terjadi maka pembuluh darah akan mengecil dan keping-keping darah (trombosit) akan menutupi luka pada pembuluh. Pada saat yang sama, trombosit tersebut bekerja membuat anyaman (benang-benang fibrin) untuk menutup luka agar darah berhenti mengalir keluar dari pembuluh. Pada penderita hemofilia, proses tersebut tidak berlangsung dengan sempurna. Kurangnya jumlah faktor pembeku darah menyebabkan anyaman penutup luka tidak terbentuk sempurna sehingga darah terus mengalir keluar dari pembuluh yang dapat berakibat berbahaya. Perdarahan di bagian dalam dapat mengganggu fungsi sendi yakni mengakibatkan otot sendi menjadi kaku dan lumpuh, bahkan kalau perdarahan berlanjut dapat mengakibatkan kematian pada usia dini . LO.2.5 Manifestasi Klinis Hemofilia Perdarahan merupakan gejala dan tanda klinik khas yang sering dijumpai pada kasus hemofilia. Perdarahan dapat timbul secara spontan atau akibat trauma ringan sampai sedang serta dapat timbul saat bayi mulai belajar merangkak. Tanda perdarahan yang sering dijumpai yaitu berupa hemartrosis, hematom subkutan/intramuskular, perdarahan mukosa mulut, perdarahan intrakranial, epistaksis dan hematuria. Sering pula dijumpai perdarahan yang berkelanjutan pascaoperasi kecil ( sirkumsisi,ekstrasi gigi). Hemartosis paling sering ditemukan ( 85%) dengan berturut-turut sebagai berikut, sendi lutut siku pergelangan tangan dan lainnya. Sendi engsel lebih sering

mengalami hemartrosis dibandingkan dengan sendi peluru, karena ketidakmampuannya menahan gerakan berputar dan menyudut pada saat gerakan volunter maupun intravolunter sebdangkan sendi peluru lebih mampu menhan beban tersebut kerena fungsinya. Hematom intramuskular terjadi pada otot-otot fkexor besar, khususnya pada otot betis, otot-otot regio illiopsoas ( sering pada panggul ) dan lengan bawah. Hematom ini sering menyebabkan kehilangan darah yang nyata, sindrom komprateman, kompresi saraf dan kontraktur otot. Pendarahan intrakranial merupakn penyebab utama kematian, dapat terjadi spontan atau sesudah trauma. Perdarahan retroperitoneal dan retrofangieal yang membahayakan jalan nafas dapat mengancam kehidupan. Hematuria masif sering ditemukan dan dapat menyebabkan kolik ginjal tetapi tidak mengancam kehidupan .

Perdarahan pasca operasi sering berlanjut selama beberapa jam sampai beberapa hari. Yang berhubungan dengan penyembuhan luka yang buruk LO.2.6 Pemeriksaan Fisik & Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Laboratorium - Pemeriksaan Penyaring 1. Percobaan Pembendungan (Rumple Leede, Tourniquet) Tujuan : Untuk menguji ketahanan dinding pembuluh darah Dipengaruhi oleh jumlah dan fungsi trombosit Pada trombositopenia (+) Pasang tensimeter ditengah nilai sistol dan diastole, tunggu sampai 10 menit lalu liat daerah pengamatan 2. Masa Perdarahan Dipengaruhi oleh dinding kapiler dan trombosit Untuk menentukan lamanya perdarahan pada luka yang mengenai kapiler Fungsi : menilai factor hemostasis letaknya ekstravascular Terdapat 2 metode : o Ivy (N : 1-6 menit) : pada lengan o Duke (N : 1-3 menit) : pada daun telinga 3. Hitung Trombosit (N : 150.000-450.000) Langsung (manual, otomatik, semiotomatik) Tidak langsung : SHDT membandingkan jumlah trombosit dengan RBC 4. PT Menguji factor pembekuan jalur ekstrinsik dan bersama (VII, X, V, protrombin, fibrinogen) PT memanjang jika : o Defisiensi salah satu factor diatas o Inhibitor

5. APTT

Menguji jalur intrinsic dan bersama (XII, XI, IX, VIII, X, V, Prekalikrein, Kininogen, Fibrinogen) APTT memanjang pada : o Defisiensi factor-faktor diatas o Inhibitor

Tempat perdarahan Bleeding time PPT APTT F VIII F VIII : AG F IX

Otot, sendi, postrauma N N Memanjang Rendah N N

Otot, sendi, postrauna N N Memanjang N N Rendah

Mukosa, luka kulit, postrauma Memanjang N Memanjang N Rendah N

6. TT (N : 16-20 detik) Menguji perubahan fibrinogen menjadi fibrin

7. Pemeriksaan Penyaring FXIII Pemeriksaan khusus karena kerjanya menstabilkan fibrin Pemeriksaan khusus

LO.2.8 Penatalaksanaan Hemofilia 1. Terapi Suportif Pengobatan rasional pada hemophilia adalah menormalkan kadar factor anti hemophilia yang kurang. Namun, ada beberapa hal yang harus diperhatikan : Melakukan pencegahan baik menghindari luka / benturan Merencanakan suatu tindakkan operasi serta mempertahankankadar aktivitas faktor pembekuan sekita 30 50%. Untuk mengatasi perdarahan akut yang terjadi maka dilakukantindakkan pertama seperti rest, ice, compression, elevation (RICE) pada lokasi perdarahan Kortikosteroid sangat membentu untuk menghilangkan prosesinflamasi pada sinovitis akut yang terjadi setelah serangan akuthemartroisis Analgetika diindikasi pada pasien hemartroisis dengan nyeri hebatdan sebaiknya dipilih analgetik yang tidak mengganggu agregasitrombosit (harus dihindari penggunaan aspirin dan antikoagulan). Rehabilitas medic dilakukan sedini mungkin secara komprehensif dan holistik dalam sebuah tim karena keterlambatan dalam pengelolaanakan kecacatan atau ketidakmampuan baik fisik, okupasi maupun psikososial dan edukasi

Tes Faal Trombosit Tes Ristosetin Pengukuran factor spesifik (factor pembekuan) Penguluran alpha-2 antiplasmin

LO.2.7 Diagnosis & Diagnosis Banding Diagnosis Diagnosis hemofilia dibuat berdasarkan riwayat perdarahan, gambaran klinik dan pemeriksaan laboratorium. Pada penderita dengan gejala perdarahan atau riwayat perdarahan, pemeriksaan laboratorium yang perlu diminta adalah pemeriksaan penyaring hemostasis yang terdiri atas hitung trimbosit, uji pembendungan, masa perdarahan, PT (prothrombin time - masa protrombin plasma), APTT (activated partial thromboplastin time masa tromboplastin parsial teraktivasi) dan TT (thrombin time masa trombin). Pada hemofilia A atau B akan dijumpai pemanjangan APTT sedangkan pemerikasaan hemostasis lain yaitu hitung trombosit, uji pembendungan, masa perdarahan, PT dan TT dalam batas normal. Pemanjangan APTT dengan PT yang normal menunjukkan adanya gangguan pada jalur intrinsik sistem pembekuan darah. Faktor VIII dan IX berfungsi pada jalur intrinsik sehingga defisiensi salah satu dari faktor pembekuan ini akan mengakibatkan pemanjangan APTT yaitu tes yang menguji jalur intrinsik sistem pembekuan darah. Hemofilia A Inheritance Sex linked Hemofilia B Sex linked Peny.von willebrand Autosomal dominan

2. Terapi Pengganti Faktor Pembekuan Pemberian factor pembekuan dilakuakn 3 kali seminggu untuk menghindari kecactan fisik (terutama sendi) sehingga pasien hemophilia dapat melakukan aktivitas normal. Nmaun untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan factor antihemofilik (AHF) yang cukup banyak dengan biaya yang tinggi. Terapi pengganti faktor pembekuan pada kasus hemophilia dilakukan dengan pemberian F VIII dan F IX, baik rekombinan, konsentrat maupun komponen darahyang mengandung cukup banyak faktor -faktor pembekuan tersebut. Pemberian biasanya dilakuakan dalam beberapa hari sampai luka atau pembengkakan membaik sertakhususnya selama fisioterapi. 3. Konsentrat F VIII/ F IX Hemofila A berat maupun hemophilia ringan dan sedang dengan episode perdarahan yang serius membutuhkan koreksi faktor pembekuan dengan kadar

yang tinggi yang harus diterapi dengan konsentrat F VIII yang telah dilemahkan virusnya. Faktor IX tersedia dalam 2 bentuk yaitu Prothrombin complex concentrates (PCC)yang berisi F II, VIII, IX, dan X Purified F IX concentrates yang berisis berjumlah FIX tanpa faktor yang lain. PCC dapat menyebabkan thrombosis paradoksial dan koagulasiinteravena tersebar yang disebabkan oleh sejumlah konsentrat faktor pembekuan lain.Resiko ini meningkatkan pada pemberian F IX berulang, sehingga purifefied kosentrat FIX lebih diinginkan. 4. Kriopesipitat AHF Kriopesipitat AHF adalah salah satu komponen darah non selular yang merupakan konsentrat plasma tertentu yang mengandung F VIII, fibrinogen, faktor von Willebrand.Dapat diberikan apabila konsentrat F VIII tidak ditemukan. Efek samping dapat menimbulkan alergi dan demam.

Preparat yang dipakai : 1. Cryoprecipitate mengandung F VIII, vWF, fibrinogen, F XIII 2. Lyophilized F VIII komersial dibuat dari pool donor (2000-5000 orang) bahaya penularan hepatitis dan HIV AIDS 3. Lyophilized F IX- protrombin complex concentrate mengandung semua vit K dependent factors.

LO.2.9 Prognosis Hemofilia 5. 1-deamino 8-D Arginin Vasopresin (DDAVP) atau Desmopresin Hormon sintetik anti diuretic (DDAVP) merangsang peningkatan kadar aktivitas F VIII di dalam plasma sampai 4 kali, namun bersifat sementara. Pemberian dapat dengan intravena dengan dosis 0,3mg/kg BB dalam 30-50 NaCl 0,9% selama 15 menit atau 20 menit dengan lama kerja 8 jam. Efek samping yang dapat terjadi berupa takikardia, flushing, thrombosis (sangat jarang) dan hiponatremia. Pada hemophilia ringan, DDAV dapat mengeluarkan cadangan F VIII R : AG (factor von willebrand) untuk mengurangi kebutuhan F VIII. 6. Antifi fibrinolitik Digunakan pada pasien hemophilia B untuk menstabilisasikan bekuan / fibrindengan cara menghambat proses fibrinolisis. Epsilon aminocaproic acid (EACA) dapat diberikan secara oral maupun intravena dengan dosis awal 200mg/ kg BB ( maksimum 5g setiap pemberian ). Asam traneksamat diberikan dengan dosis 25mg/kg BB (maksimum 1,5g ) secara oral, atau 10 mg/kg BB (maksimum 1 g) secara intravena setiap8 jam. Asam traneksamat juga dapat dilarutkan 10 % bagian dengan perenteral, terutama salin normal. 7. Terapi Gen Saat ini sedang intensif dilakukan penelitian invivo denga memindahkan vector adenovirus yang membawa gen antihemofilia ke dalam sel hati. Gen F VIII relatif lebih sulit dibandingkan gen F IX, karena ukurannya (9 kb) lebih besar,namun akhir tahun1998 para ahli berhasil melakukan pemindahan plasmid-based faktor VIII secara ex vivo ke fibroblast Modalitas terapi terdiri atas : 1. Pemberian F VIII untuk hemophilia A dan F IX untuk hemophilia B selama hidup 2. Pencegahan kecacatan dengan pendidikan kesehatan 3. Rehabilitas apabila terjadi kerusakan sendi Baik dengan penanganan yang tepat dan teratur. Produk darah yang bebas virus dan program pengobatan rumah,terapi profilaksis yang diberikan 2 -3x seminggu membuat sebagian pasien hemofilia dapat menjalankan kehidupan relatif normal. Hasilnya biasanya baik dengan pengobatan. Kebanyakan orang dengan hemofilia dapat hidup relatif normal. Pasien dengan hemofilia harus membangun perawatan rutin dengan hematologi, terutama yang berhubungan dengan pusat perawatan hemofilia. Semakin cepat mengetahui catatan medis mengenai tingkat faktor IX, transfusi faktor (termasuk jenis dan jumlah), komplikasi, dan jumlah inhibitor apapun dapat menyelamatkan nyawa dalam hal situasi darurat. LO.2.10 Komplikasi Hemofilia Timbulnya inhibitor : lingkungan & gerak - suatu inhibitor terjadi jika sistem kekebalan tubuh melihat konsentrat FVIII atau FIX sebagai benda asing dan menghancurkannya -reaksi penolakan muncul segera setelah darah di infuskan. Konsentrat factor di hancurkan sebelum dapat mengehntikan perdarahan. antibodi/inhibitor pada banyak kasus dapat di atasi dengan medis darah orang tersebut dapat membeku lagi. -Penderita : cacat ( akibat hemarthrosis) dan meninggal (akibat perdarahan berat) -acquiered hemophilia : Ab terhadap FVIII normal Kerusakan sendi Akibat perdarahan berulang pada sendi yang sama selama beberapa tahun atropati hemophilia

Terjadi hemarthrosis synovium menyerap darah untuk menyingkirkannya besi tertimbun pada synovium synovium jadi tebal banyak pembuluh darah mudah terjadi perdarahan Infeksi oleh darah : 1. Penularan Hepatitis Non A 2. Penularan Hepatitis Non B 3. HIV AIDS

2. Pemeriksaan seorang carier hemofilia dengan pemeriksaan DNA probe dan diagnosis
antenatal hemofilia sampai saat ini masih belum dapat dilakukan di Indonesia.

- Pembentukan Antibodi terhadap faktor VIII ( sangat jarang ) hemofilia antibodi ( tdk dapat diobati).

LO.2.11 Pencegahan Hemofilia Konseling genetik Diagnosis Prenatal intrauterine

Belum banyak yang dapat dilakukan dalam program pencegahan penurunan secara genetik dari hemofilia ini baik di Indonesia maupun di luar negeri, dua hal yang perlu dipikirkan saat ini dan bila mungkin dapat dilaksanakan agar tidak mendapat keturunan yang menderita hemofilia yaitu:
1.

Menentukan apakah seorang wanita sebagai carier hemofilia atau tidak, dengan pemeriksaan DNA probe untuk menentukan kemungkinan adanya mutasi pada kromosom X, cara ini yang paling baik. Atau dari wawancara riwayat keluarga namun cara ini kurang akurat yaitu:

Seorang wanita diduga carier bila dia merupakan anak perempuan dari seorang laki-laki penderita hemofilia, Bila dia merupakan ibu dari seorang anak laki-lakinya penderita hemophilia. Wanita dimana saudara laki-lakinya penderita hemofilia atau dia merupakan nenek dari seorang cucu laki-laki hemofilia,

1.

Antenatal diagnosis hemofilia yaitu dengan menentukan langsung F VIII dan F IX sampel darah yang diambil dari vena tali pusat bayi di dalam kandungan dengan kehamilan 16-20 minggu.