Anda di halaman 1dari 18

PEMANFAATAN RESIDU PLTU TANJUNG B JEPARA MENGGUNAKAN TEKNOLOGI ELEKTROLISIS PLASMA NON-TERMAL SEBAGAI SOLUSI ABRASI PANTAI DI JEPARA

OLEH MUHAMMAD IMAM RAIS, 1006680386, UNIVERSITAS INDONESIA BIDANG SOSEKLING/SDA

ABSTRAK Indonesia adalah salah satu Negara kepulauan terbesar di dunia. Garis pantai yang sangat panjang mencapai lebih kurang 81.000 km menempatkan Indonesia di posisi kedua garis pantai terpanjang di dunia setelah Kanada. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita memanfaatkan potensi wilayah pesisir yang terdapat di seluruh wilayah Indonesia. Namun, setiap pemanfaatan sumberdaya wilayah pesisir dapat menyebabkan perubahan ekosistem dengan skala tertentu. Pemanfaatan dengan tidak mempertimbangkan prinsip ekologi bisa menyebabkan turunnya mutu lingkungan dan berlanjut dengan terjadinya kerusakan ekosistem wilayah pesisir. Salah satu kerusakan yang ditimbulkan adalah abrasi. Abrasi merupakan suatu perubahan bentuk pantai atau erosi pantai yang disebabkan

ketidakseimbangan interaksi dinamis pantai, baik akibat faktor alam maupun non alam (ulah manusia). Abrasi dapat mengakibatkan kerugian besar dengan rusaknya wilayah pantai dan pesisir dengan segala kehidupan yang ada di wilayah tersebut. Salah satu masalah abrasi di Indonesia adalah abrasi pantai di Jepara. Abrasi pantai yang mengganggu dan mengancam serta merusak kelestarian lingkungan pantai ini semakin diperparah dengan adanya pembuangan brine water dari residu PLTU Tanjung B Jepara secara langsung ke laut. Hal tersebut akan meningkatkan permukaan air laut meningkat. Selain itu, brine water yang memiliki tingkat garam yang lebih tinggi dari air laut akan menyebabkan air laut menjadi tercemar. Oleh karena itu, dibutuhkan solusi untuk menyelesaikan masalah ini. Karya tulis ini bertujuan untuk meningkatkan produksi klorin dengan penerapan teknologi elektrolisis plasma non-termal. Elektrolisis tersebut menggunakan brine water dari PLTU Tanjung B, Jepara, sebagai sumber yang dielektrolisis. Gagasan ini ditulis dengan analisis potensi dari tidak termanfaatkannya brine water. Berdasarkan Jurnal Melin-Martel, 2011 , diketahui bahwa brine water jika dielektrolisis akan menghasilkan gas klorin dan soda api (NaOH) sebagai produk utamanya. Jumlah klorin yang dihasilkan ini akan berpotensi menjadi lebih banyak jika menggunakan teknologi plasma non-termal. Hal ini berdasarkan pada percobaan Mizuno dkk (2003) yang dapat menghasilkan hidrogen delapan kali lebih banyak dengan menggunakan

elektrolisis plasma daripada menggunakan elektrolisis biasa. Saat mulai terbentuknya plasma, arus listrik yang dibutuhkan menurun secara signifikan sehingga daya listrik yang digunakan juga berkurang. Kedua hal tersebut menyebabkan elektrolisis plasma non-termal dengan menggunakan brine water akan menghasilkan klorin yang lebih banyak dengan penggunaan listrik yang lebih efisien daripada elektrolisis biasa. Oleh karena potensi klorin yang dihasilkan sangat besar, maka diperlukan pengelolaan mandiri untuk mengaplikasikan gagasan ini, yaitu dengan membangun pabrik klor-alkali.

PENDAHULUAN
Latar Belakang Air garam yang digunakan saat ini pada umumnya dibuat dengan mencampurkan air tawar dengan garam (NaCl) (Asahimas Chemical, 2012). Namun sekarang ini, air tawar / fresh water sudah menjadi krisis di dunia, termasuk di Indonesia. Di Pulau Jawa sendiri yang penduduknya mencapai 65% total penduduk Indonesia, hanya tersedia 4,5% potensi air tawar (Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian. 2012). Penulis melihat adanya potensi sumber elektrolisis selain air garam, yaitu brine water. Diketahui bahwa hasil elektrolisis brine water akan menghasilkan klorin yang jauh lebih besar (main product) daripada air laut dengan hidrogen sebagai by product-nya (Abdel-Aal et al., 2010). Brine water adalah air yang memiliki kadar garam yang lebih tinggi daripada air laut (Schlumberger, 2012). Kandungan garam pada brine water yaitu lebih dari 50 g/L, sedangkan air laut mengandung 30-50 g/L (Astle dan Weast, 1982). Mengingat potensi pemanfaatan brine water sangat besar, penulis melihat peluang untuk memanfaatkan air tersebut dari hasil limbah buangan PLTU di Indonesia. Semakin banyak PLTU di Indonesia yang umumnya berada dekat pantai, semakin banyak brine water yang tidak termanfaatkan. Padahal, biaya untuk proses desalinasi itu sangat mahal (Marwati, 2010). Salah satu PLTU yang menghasilkan residu brine water adalah PLTU Tanjung Balai B, Jepara, Jawa Tengah, yaitu sebesar 60% dari air laut yang digunakan . Penulis Memilih PLTU tersebut karena melihat adanya potensi industri di Jepara, yaitu industri klor-alkali, selain industri mebel dan ukir yang menjadi ikon kota tersebut. Teknologi yang digunakan untuk memproduksi klorin saat ini, yaitu elektrolisis biasa, membutuhkan daya yang sangat besar. Dibutuhkan daya listrik sebesar 3400 kWh untuk memproduksi satu ton klorin (Melin-Martel et al., 2011). Oleh karena itu, penulis melihat adanya teknologi lain untuk memproduksi

klorin dengan daya yang lebih sedikit daripada elektrolisis biasa. Teknologi tersebut adalah elektrolisis plasma non-termal. Studi mengenai produksi klorin dengan menggunakan elektrolisis plasma belum pernah dilakukan. Selama ini, baru diteliti pemanfaatan elektrolisis plasma dengan air laut untuk memproduksi gas hidrogen. Berdasarkan Jurnal Abdel-Aal et al., 2010, diketahui bahwa elektrolisis plasma dengan menggunakan air laut akan menghasilkan efektivitas yang jauh lebih tinggi karena air laut mengandung NaCl yang konduktivitasnya tinggi. Teknologi plasma diketahui dapat menghasilkan gas hidrogen delapan kali lebih banyak dari elektrolisis biasa pada proses produksi hidrogen dengan menggunakan air (Mizuno et al., 2003). Selain itu, semakin meningkatnya tegangan yang digunakan maka plasma yang terbentuk akan semakin banyak, yang membuat produktivitas hidrogen meningkat dan konsumsi energi menurun (Saksono et al., 2012). Berdasarkan hal tersebut, penulis berasumsi jika menggunakan elektrolisis plasma, jumlah klorin yang diproduksi akan semakin meningkat dan efisien.

Tujuan 1. Mempelajari potensi residu brine water PLTU Tanjung Balai B, Jepara, Jawa Tengah untuk memproduksi gas klorin 2. Mempelajari penggunaan teknologi plasma non-termal untuk meningkatkan jumlah gas klorin yang diproduksi dan meningkatkan efisiensi penggunaan listrik 3. Mengurangi potensi abrasi pantai di daerah Jepara dengan memanfaatkan residu brine water PLTU Tanjung Balai B Jepara yang selama ini dibuang begitu saja ke laut

Manfaat 1. Membuka wawasan pihak PLTU Tanjung Balai B, Jepara bahwa residu brine water yang selama ini dibuang begitu saja dapat dimanfaatkan untuk memproduksi gas klorin 2. Memberikan solusi tentang produksi gas klorin yang lebih produktif dari segi jumlah dan yang lebih efisien dari segi penggunaan listrik 3. Membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar dengan melakukan produksi klorin dari residu brine water PLTU Tanjung B Jepara

Telaah Pustaka

Penulisan gagasan ini berdasarkan jurnal Saksono et al., 2012, yang menerangkan bahwa dengan elektrolisis plasma non-termal dapat menghasilkan produk 8 kali lebih banyak dari elektrolisis biasa dan juga potensi brine water dari PLTU Tanjung B Jepara yang tidak termanfaatkan (Marwati, 2010)

Metode Penulisan Metode penulisan ini bersumber dari gagasan penulis yang melihat potensi brine water untuk menghasilkan klorin dan juga penggunaan metode elektrolisis yang menghasilkan lebih banyak produk. Ide-ide penulis tersebut dibuktikan dan dikembangkan dengan jurnal-jurnal yang ada.

ISI Analisis Situasi Pada era globalisasi saat ini, banyak industri menggunakan klorin (Cl2) sebagai salah satu bahan baku dasarnya, contohnya pada industri desinfektan, plastik, kertas, dan lain- lain (Hasan, 2006). Lebih dari 50% barang-barang kimia yang komersil menggunakan klorin sebagai bahan dasarnya (World Chlorine Council, 2012). Salah satu teknologi biasa yang digunakan untuk menghasilkan klorin adalah melalui elektrolisis air garam/saline water. Para pelaku industri penghasil klorin atau biasa disebut industri kloralkali lebih memilih air garam daripada air laut karena banyaknya pengotor pada air laut yang dapat mempengaruhi produk (Melin-Martel et al., 2011). Elektrolisis air garam merupakan teknologi

pemecahan molekul-molekul air garam menjadi atom-atom penyusunnya. Teknologi ini diterapkan berdasarkan teori yang dikembangkan oleh Michael Faraday yang menjelaskan hubungan kuantitatif antara jumlah arus listrik yang dilewatkan pada sel elektrolisis dengan jumlah zat yang dihasilkan pada elektroda. Teori yang dinyatakan oleh Faraday antara lain: 1. Jumlah zat yang dihasilkan di elektroda sebanding dengan jumlah arus listrik yang melalui sel 2. Bila sejumlah tertentu arus listrik melalui sel, jumlah mol zat yang berubah di elektroda adalah konstan tidak bergantung jenis zat Adapun reaksi elektrolisis biasa tersebut dari air garam untuk menghasilkan klorin (Cl2) dengan menggunakan arus listrik yang mengalir melalui air garam adalah sebagai berikut (Abdel-Aal et al., 2010) : Anoda: 2Cl-(aq) Cl2(g) + 2e(1)

Katoda:

2Na+(aq) + 2H2O(l) + 2e- H2(g) + 2NaOH(aq)

(2)

Dari reaksi di atas, diperoleh produk utama berupa Cl2 dan NaOH, sedangkan produk sampingannya berupa H2. NaOH dapat digunakan sebagai reaktan untuk mensintesis bahan-bahan farmasi, sedangkan H2 dapat digunakan untuk memproduksi hidrogen peroksida dan amoniak (Euro Chlor, 2012). Proses elektrolisis dapat dilihat pada gambar 1.

Gambar 1. Proses Elektrolisis menggunakan membran sel Sumber : http://www.eurochlor.org/media/7812/membrane_cell_process.pdf Seiring dengan bertambahnya penduduk Indonesia maka kebutuhan akan klorin pun semakin meningkat. Kebutuhan klorin tersebut meningkat karena pada umumnya klorin dimanfaatkan sebagai bahan baku produk kebutuhan sehari-hari seperti plastik, deterjen, dan kertas (Gambar 2). Pertambahan penduduk Indonesia tersebut dari tahun ke tahun terlihat dari hasil sensus penduduk yang meningkat selama 10 tahun terakhir sebesar 15% (Badan Pusat Statistik, 2010). Mengingat kebutuhan klorin semakin meningkat, dibutuhkan gagasan untuk menghasilkan klorin dengan skala lebih besar dan efisien dari segi daya listrik yang digunakan. Bahan baku dari pembuatan klorin secara biasa adalah dengan menggunakan air garam. Air garam tersebut dibuat dengan cara melarutkan garam (NaCl) ke dalam air tawar / fresh water (Asahimas Chemical, 2012). Namun sekarang ini, air tawar / fresh water sudah menjadi krisis di dunia, termasuk di

Indonesia. Di Pulau Jawa yang penduduknya mencapai 65% dari total penduduk Indonesia, hanya tersedia 4,5% potensi air tawar nasional. Faktanya, jumlah ketersediaan air di Pulau Jawa yang mencapai 30.569,2 juta meter kubik per tahun tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan air bagi seluruh penduduknya (Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian, 2012).

Gambar 2. Berbagai produk berbahan dasar klorin Sumber : Hasan, 2006

Berdasarkan hal tersebut, dibutuhkan alternatif lain untuk menggantikan air garam, yaitu dengan menggunakan brine water. Brine water adalah adalah air yang memiliki kadar garam yang lebih tinggi daripada air laut (Schlumberger, 2012). Brine water memiliki potensi untuk menghasilkan klorin lebih banyak daripada air laut. Potensi ini berdasarkan pada semakin banyak kandungan garam maka semakin banyak gas klorin yang dihasilkan pada proses elektrolisis. Hal ini terjadi karena sumber klorin tersebut diperoleh dari NaCl sehingga semakin banyak NaCl yang terlarut maka semakin banyak gas Cl2 yang dihasilkan pada elektrolisis.

Sumber brine water yang diambil dalam gagasan ini adalah brine water dari limbah PLTU Tanjung B Jepara, Jawa Tengah. Dipilihnya PLTU tersebut karena penulis melihat adanya potensi industri di Jepara, yaitu industri klor-alkali, selain industri mebel dan ukir yang menjadi ikon kota tersebut. PLTU Tanjung B Jepara mengambil air laut sebagai sumber untuk menggerakan generator dengan cara memanaskan air laut menggunakan batu bara. Kemudian uapnya digunakan untuk menggerakan generator dan yang tidak menguap, yaitu brine water, dibuang begitu saja ke laut. PLTU tersebut menghasilkan daya listrik sebesar 1320 MW dengan membutuhkan 320 m3 air laut per jam nya. Dari 320 m3 air laut tersebut, dihasilkan sebesar 200 m3 brine water (Marwati, 2010).

Gambar 3. PLTU Tanjung B Jepara Sumber : http://1.bp.blogspot.com/-K-q1I4YIByQ/T0HRm2godhI/AAAAAAAAAhA /6z5OUzN_BVo/s1600/images.jpg

Pemanfaatan Teknologi Plasma Non-Termal dalam Proses Elektrolisis Berdasarkan teknologi untuk menghasilkan klorin, yaitu dengan menggunakan elektrolisis, penulis melihat adanya potensi menggunakan elektrolisis plasma non-termal untuk menghasilkan klorin lebih banyak dan efisien. Elektrolisis plasma (Contact Glow Discharge Electrolysis, CGDE) adalah proses elektrokimia dimana plasma dihasilkan oleh arus DC antara elektroda dan permukaan elektrolit di sekitarnya (Yan et al., 2006). Plasma non-termal memiliki densitas energi lebih rendah dari pada termal. Terdapat perbedaan suhu besar antara elektron dan partikel yang lebih berat jika dibandingkan dengan plasma termal. Elektron dengan energi yang cukup bertumbukan dengan gas latar (background) menghasilkan disosiasi, eksitasi, dan ionisasi tingkat rendah tanpa peningkatan entalpi gas yang cukup besar (Yan et al., 2006). Elektrolisis biasa dikembangkan menjadi elektrolisis plasma (CGDE) ketika tegangan yang diberikan sangat tinggi. Hasil yang didapat pada elektroda pijaran plasma (glow discharge electrode) beberapa kali

lebih besar dibandingkan nilai Faraday yang dihasilkan dari elektrolisis biasa seperti H2 yang terbentuk pada anoda dan Cl2 yang terbentuk pada katoda (Mizuno, 2003). Dalam percobaan produksi hidrogen dengan mengunakan air (H2O) murni pada suhu 80oC dan tegangan 230V, Mizuno dkk (2003) mendapatkan efisiensi penggunaan energi listrik hingga 800% dibandingkan kebutuhan energi listrik menurut Hukum Faraday tersebut. Plasma elektrolisis akan terbentuk pada kondisi tegangan yang tinggi. Sebelum plasma terbentuk, arus akan meningkat seiring dengan bertambahnya waktu (Gambar 4). Pada grafik tersebut terlihat bahwa pada detik sekitar 220 dan arus 10A, plasma mulai terbentuk. Setelah terbentuknya plasma, arus listrik menurun secara signifikan menjadi sekitar 3A dan daya menurun dari 1900W menjadi 600W (Saksono et al., 2012) sehingga dapat dikatakan bahwa penerapan teknologi plasma dalam proses elektrolisis brine water mampu mengurangi konsumsi energi listrik.

Gambar 4. Grafik hubungan antara temperatur, arus dan tegangan terhadap waktu dalam larutan KOH 0,1 M dan tegangan 200 volt Sumber : Saksono et al., 2012 Pada percobaan yang menggunakan larutan KOH 0,1 M tersebut, reaksi yang terjadi pada anoda dan katoda adalah Anoda: 2H2O O2(g) + 4H+(aq) + 4e(3)

Katoda:

2H2O + 2e- H2(g) + 2OH-(aq)

(4)

Pada saat plasma mulai terbentuk, produksi H2 meningkat seiring dengan menurunnya arus listrik (konsumsi listrik menurun). Oleh karena pembentukan spesies metastabil dari H+ dan OH- menjadi radikal H dan OH, H2 dan O2 akan terbentuk sehingga total produksi H2 meningkat. Reaksi diantara spesies metastabil dapat ditulis (Jinzhang et al., 2008): 4H+(aq) + 4e- 4H 4OH-(aq) 4OH + 4e4H+(aq) + 4OH-(aq) 4H + 4OH 2H + 2H 2H2(g) 4OH 2H2(aq) + 2O2(aq) Potensi Brine Water PLTU Tanjung B Jepara Untuk Menghasilkan Klorin Brine water pada PLTU Tanjung B Jepara dibuang begitu saja karena biaya untuk mendesalinasi yang menghasilkan air tawar / fresh water memerlukan biaya yang tinggi. Brine water tersebut jika digunakan kembali untuk sumber PLTU akan meningkatkan korosi pada peralatan logam PLTU. Hal tersebut dapat terjadi karena konduktivitas yang tinggi pada brine water sehingga mengakibatkan elektron-elektron dari peralatan logam PLTU lebih mudah untuk diikat oleh oksigen di udara yang menyebabkan terjadinya korosi. Brine water pada limbah PLTU Tanjung B Jepara mempunyai kadar garam yang cukup tinggi. Komposisi secara matematis perhitungan kandungan garamnya yaitu diketahui bahwa rata-rata air laut mengandung garam 3,5 %, artinya dalam 1 liter air laut terdapat 35 gram garam (Anderson, 2008). Namun, garam tersebut tidak semuanya NaCl. Komposisi garam tersebut dijelaskan pada Tabel 1. PLTU Tanjung B Jepara setiap jamnya membutuhkan 320m3 atau 320.000 L air laut sehingga garam yang terkandung sekitar 11.200.000 gram atau 11,2 ton. Setelah diupkan, menghasilkan buangan brine water sebanyak 200 m3 atau 200.000 L. Diasumsikan air yang teruapkan, yaitu sebanyak 120.000 L, tidak mengandung garam yang terlarut . Berdasarkan hal tersebut, kadar garam pada Brine water PLTU Tanjung B Jepara adalah 11.200.000 gram atau sekitar 5,6% dari brine water setiap jamnya. (8) (9) (5) (6) (7)

Tabel 1. Komposisi Kandungan Garam Laut Ion Penyusun Garam Laut % Massa Kandungan Dalam Garam laut

Klorida Natrium Sulfat Magnesium Kalsium Potasium Bikarbonat Bromida Borat Strontium flour Lain-Lain

55,03 30,59 7,68 3,68 1,18 1,11 0,41 0,19 0,08 0,04 0,003 Kurang dari 0,001 Sumber : Anderson, 2008

Berdasarkan Tabel 1, persen massa ion klorida dalam garam laut adalah 55,03% sehingga potensi brine water PLTU Tanjung B Jepara dari setiap 200 m3 untuk menghasilkan klorin jika diasumsikan semua ion klorida menjadi gas adalah 6.163.360 gram atau sekitar 6,2 ton. Elektrolsis Plasma Non-Termal Menggunakan Brine Water Ion klorida dari brine water PLTU Tanjung B, Jepara, berpotensi untuk menghasilkan klorin melalui teknologi elektrolisis plasma non-termal. Dengan menggunakan teknologi ini, kebutuhan daya listrik akan lebih efisien daripada elektrolisis biasa. Namun, masalah besar dari brine water tersebut yaitu banyaknya zat pengotor yang terlarut. Zat tersebut akan mempengaruhi proses elektrolisis karena elektrolisis membutuhkan brine water yang cukup murni, khususnya metode membran sel yang membutuhkan kemurnian yang tinggi. Zat pengotor tersebut berupa ion-ion logam maupun zat yang terlarut. Melin-Martel dkk (2011) menjelaskan dalam jurnalnya mengenai pemurnian brine water. Proses pemurnian tersebut tercantum dalam Gambar 5.

Gambar 5. Proses pemurnian brine water Sumber : Melin-Martel et al., 2011 Proses pemurnian yang pertama terdiri atas pengendapan kimia , klarifikasi, dan filtrasi. Pemurnian tahap ini akan menghilangkan kalsium, magnesium, dan sulfat pada brine water dalam bentuk CaCO3, BaSO4, dan Mg(OH)2. Penghilangan zat kimia tersebut dilakukan melalui proses pengendapan. Kalsium diendapkan oleh larutan natrium karbonat (Na2CO3). Untuk mengendapkan sulfat digunakan larutan barium klorida (BaCl2), sedangkan magnesium diendapkan dengan larutan natrium hidroksida (NaOH). Reaksi dari proses pengendapan tersebut adalah sebagai berikut : Na2CO310H2O(ac) + CaCl2(ac) CaCO3(s) + 2NaCl(ac) + 10H2O(ac) BaCl22H2O(ac) + Na2SO4 (ac) BaSO4 (s) + 2NaCl(ac) + 2H2O(ac) 2NaOH(ac) + MgCl2(ac) Mg(OH)2(s) + 2NaCl(ac) (10) (11) (12)

Proses pengendapan magnesium tersebut dapat juga dilakukan untuk berbagai logam seperti besi, nikel dan krom. Logam-logam tersebut akan mengendap dalam bentuk hidroksida yang terjadi pada tangki klarifikator. Pada tangki tersebut ditambahkan beberapa pati kentang yang digunakan sebagai penggumpal untuk zat-zat yang mengendap. Penggumpal tersebut berguna agar pada saat air dialirkan keluar tangki, zat-zat yang mengendap tidak ikut keluar. Setelah dikeluarkan dari tangki klarifikator, brine selanjutnya melalui proses filtrasi. Proses filtrasi tersebut berguna untuk menyaring padatan

berdiameter kecil yang tersuspensi. Setelah melalui proses pemurnian yang pertama, selanjunya brine water memasuki proses pensaturasian dengan cara diuapkan. Proses tersebut berguna agar konsentrasi NaCl lebih pekat sehingga lebih mudah dielektrolisis. Persamaan kesetimbangan energi untuk setiap evaporator adalah : Lo HLo + Q1 = L1 HL1 + V1 HV1 (13)

dimana Lo adalah aliran brine yang masuk ke evaporator, L1 adalah aliran brine yang keluar dari evaporator, V1 adalah jumlah air yang menguap dalam evaporator, Q1 adalah pertukaran panas, HLo dan HL1 adalah entalpi dari cairan yang masuk dan keluar evaporator, dan HV1 adalah entalpi dari uap. Proses pemurnian pertama belum cukup untuk menghilangkan kalsium, magnesium, dan strontium. Diperlukan proses pemurnian yang kedua, yaitu pertukaran ion (ion exchange). Proses tersebut memerlukan resin yang karakteristiknya berhubungan dengan gugus fungsi aminometilfosfonik. Gugus tersebut sangat berhubungan erat dengan Ca2+ dan Mg2+ sehingga memungkinkan terjadinya pertukaran ion. Setelah pemurnian tersebut, brine water dipanaskan (sampai 90oC) dan pengasaman (pH 4) dengan tujuan agar tidak terbentuknya reaksi yang kedua pada persamaan reaksi 14 dan 15. Cl2 + H2O Cl + H+ ClO + Cl + 2H+ HClO+ + ClO ClO3 + 2Cl + 2H+ (14) (15)

Selanjutnya terbentuk produk buangan/limbah dari elektrolisis tersebut, yaitu depleted brine. Depleted brine tersebut dapat dicampurkan kembali untuk proses elektrolisis selanjutnya. pencampuran tersebut dapat dilakukan setelah proses ion exchange. Namun sebelum dicampurkan, depleted brine tersebut harus melalui proses deklorinasi. Dalam proses deklorinasi, beberapa asam klorida (pH 2-2,5) ditambahkan sehingga ekstraksi klorin yang lebih baik dapat diperoleh. Penambahan asam klorida, yang mempunyai pH 2-2.5, tidak hanya mengurangi kelarutan klorin melalui perubahan kesetimbangan hidrolisis titik, tetapi juga dapat meghambat pembentukan klorat dan hipoklorit. Hasil pemurnian tersebut menghasilkan kemurnian sekitar NaCl 30.6% berat. Jika dielektrolisis menggunakan eneltrolisis biasa maka akan menghasilkan gas klorin dengan konsentrasi 98% (Melin-Martel et al., 2011) Pada proses elektrolisis plasma non-termal dengan menggunakan brine water, reaksi yang terjadi pada anoda dan katoda akan sama dengan elektrolisis biasa menggunakan air garam (reaksi 1 dan 2) karena brine water tersebut hanya mempunyai kandungan garam yang lebih tinggi daripada air laut sehingga tidak mempengaruhi elektrolisi (Schmittinger, 2000). Setelah terbentuk plasma, akan terbentuk spesispesi aktif radikal dari komponen-komponen penyusunnya.

Menurut Mizuno (2003), elektrolisis biasa dapat dikembangkan menjadi elektrolisis plasma dengan cara menaikan tegangan diatas 100V. Berdasarkan hal tersebut, aplikasi teknologi elektrolisis plasma dengan menggunakan metode membrane sel hanya dengan menaikan tegangannya sampai terbentuk plasma. Oleh karena potensi klorin yang dihasilkan dari elektrolisis plasma non-termal dengan menggunakan bahan baku brine water sangat besar, diperlukan pendirian pabrik klor-alkali di sekitar PLTU Tanjung B, Jepara, untuk pengembangan lebih lanjut. Pada sub bab sebelumnya, diketahui potensi brine water PLTU Tanjung B Jepara dari setiap 200 m3 untuk menghasilkan klorin jika diasumsikan semua ion klorida menjadi gas adalah 6,2 ton. Dari hasil tersebut, pendapatan pabrik klor-alkali jika diketahui harga gas klorin dunia dengan kemurni 98%-99% (Steward,2013) yaitu $0,15 per 100 gram adalah $9.300 per 200 m3 brine water. Pihak-Pihak yang Terkait dalam Pengimplementasian Gagasan Pengimplementasian teknologi plasma non-termal dengan menggunakan brine water dari PLTU Tanjung B, Jepara, berupa pendirian pabrik klor-alkali. Pihak-pihak yang terkait dalam pendirian pabrik tersebut adalah: Tabel 2. Peranan elemen terkait dalam pengimplementasian gagasan No Lembaga Peranan Melakukan riset atau uji coba kelayakan 1 Lembaga Penelitian terhadap metode elektrolisis plasma dengan brine water yang akan diterapkan di daerah Jepara Meneliti, merancang, dan 2 Kalangan Akademisi mengambangkan teknologi plasma nontermal agar dapat diimplementasikan dalam skala besar Menyiapkan lahan industri yang siap pakai 3 Pemerintah Jepara serta membantu mengurus izin dan studi AMDAL Sebagai penyedia brine water dan sumber 4 PLTU Tanjung B, Jepara listrik yang digunakan dalam memproduksi klorin

Perusahaan di daerah 5 Kudus: PT. Pura Barutama dan PT. Kasih Sumber Rezeki

Sebagai investor yang akan menggunakan gas klorin sebagai bahan baku dalam proses produksinya Membangun pabrik klor alkali sesuai

Kontraktor Bangunan

dengan analisis dari lembaga penelitian dan kalangan akademisi Membantu menyosialisasikan industri pembuatan gas klorin dari elektrolisis

Media Massa

plasma menggunakan brine water kepada publik agar teknologi serupa dapat diterapkan pada PLTU lainnya di Indonesia Sebagai sumber daya manusia yang

Masyarakat Sekitar

digunakan untuk menjalankan industri KlorAlkali dalam tujuan untuk menyejahterakan masyarakat di sekitar Jepara Sumber : Hasil analisis, 2012

Alasan mengapa penulis mengadakan kerjasama dengan perusahaan di daerah Kudus adalah karena belum adanya industri yang memanfaatkan ataupun menghasilkan klorin di Jepara. Mayoritas industri yang ada di Jepara adalah industri mebel dan ukir. Industri mebel dan ukir di Jepara yang aktif mencapai 3.821 unit. Unit tersebut dapat menyerap sumber daya manusia sebesar 50.668, yaitu sekitar 22% dari jumlah penduduk Jepara (Badan Pusat Statistik Kabupaten Jepara, 2008). Oleh karena di Jepara tidak ada industri yang memanfaatkan klorin sebagai bahan baku produksi maka penulis menilik potensi industri-industri di kota terdekat, yaitu Kota Kudus yang terletak 28km dari Kota Jepara (Bismania, 2012). Langkah-Langkah Strategis Implementasi Gagasan Gagasan pemanfaatan brine water dari hasil residu PLTU Tanjung B, Jepara, dengan teknologi elektrolisis plasma non-termal dapat diimplementasikan dengan mendirikan pabrik klor-alkali. Sebelum pabrik tersebut didirikan, harus melalui beberapa tahapan penelitian sebagai berikut:

1. Tahap 1 Pada tahap ini, dilakukan riset tentang pengembangan teknologi elektrolisis plasma non-termal dengan menggunakan brine water agar dapat diimplementasikan, khususnya di Jepara. Hasil yang diharapkan dari riset ini adalah diketahui seberapa signifikannya jumlah gas klorin yang dihasilkan dengan teknologi plasma non-termal dari residu PLTU Tanjung B, Jepara, berupa brine water 2. Tahap 2 Pada tahap ini, dilakukan studi kelayakan tentang pendirian pabrik klor alkali disekitar PLTU Tanjung B, Jepara. Studi kelayakan ini meliputi berbagai aspek, diantaranya adalah studi AMDAL. Studi tersebut juga termasuk survei pendapat kepada warga sekitar mengenai pembangunan pabrik. Hasil yang diharapkan adalah terpenuhinya segala aspek yang dibutuhkan untuk pendirian pabrik ini, termasuk penyediaan lahan oleh pemerintah setempat 3. Tahap 3 Pada tahap ini, dilakukan kerjasama dengan PLTU Tanjung B Jepara dalam penggunaan brine water yang dihasilkan agar dapat dijadikan sebagai bahan baku pembuatan gas klorin. Kerjasama ini berupa pendistribusian brine water ke pabrik klor alkali yang penulis canangkan melalui jalur perpipaan 4. Tahap 4 Pada tahap ini, dilakukan kerjasama dengan berbagai industri di Kudus yang menggunakan klorin sebagai bahan baku produksi, seperti: PT. Pura Barutama dan PT. Kasih Sumber Rezeki 5. Tahap 5 Tahap kelima ini merupakan tahap pembangunan pabrik. Diharapkan dana untuk membangun industri ini berasal dari Pemerintah Kota Jepara dan para investor 6. Tahap 6 Tahap ini merupakan tahap penyosialisasian industri ini melalui media massa setempat maupun media massa nasional. Melalui media massa ini diharapkan teknologi serupa dapat dimanfaatkan oleh PLTU lainnya di Indonesia 7. Tahap 7 Pada tahap terakhir ini, dilakukan pembuatan hak paten jika telah berhasil diterapkan pada skala besar.

KESIMPULAN Inti Gagasan Hal pokok dari dirancangnya gagasan ini adalah sebagai bentuk pemanfaatan brine water hasil residu PLTU Tanjung B, Jepara, yang sebelumnya dibuang begitu saja ke laut untuk memproduksi gas klorin dengan teknologi plasma non-termal. Residu tersebut berpotensi untuk menghasilkan klorin sebagai main product melalui proses elektrolisis (Abdel-Aal et al., 2010). Adapun elektrolisis yang digunakan adalah elektrolisis plasma non-termal. Hal ini ditujukan untuk meningkatkan produksi klorin itu sendiri dan juga untuk menghemat penggunaan arus listrik. Teknik Implementasi Gagasan Agar gagasan ini dapat diimplementasikan, diperlukan kerjasama antara pihak-pihak yang telah disebutkan sebelumnya. Sebelum gagasan ini dapat terealisasikan maka seorang peneliti dari suatu lembaga penelitian harus bekerjasama dengan kalangan akademisi. Kerjasama ini dalam hal pengujian teknologi elektrolisis plasma non-termal dengan menggunakan brine water agar dapat diterapkan dalam skala besar. Kemudian Pemerintah Kota Jepara diharapkan dapat membantu dari segi pendanaan dan penyediaan lahan untuk pembangunan pabrik klor alkali yang sumber brine water-nya berasal dari PLTU Tanjung B, Jepara. Pemerintah Kota Jepara diharapkan juga melakukan kerjasama dengan kontraktor setempat untuk membangun pabrik tersebut. Selanjutnya diadakan kerjasama dengan beberapa perusahaan di daerah Kudus yang menggunakan gas klorin sebagai bahan baku kegiatan industrinya, seperti: PT. Pura Barutama dan PT. Kasih Sumber Rezeki. Adapun media massa diharapkan berperan dalam menyosialisasikan penerapan teknologi baru ini kepada publik sekaligus menginformasikan bahwa pembangunan pabrik klor alkali ini akan membuka lapangan kerja baru, khususnya bagi penduduk Jepara. Prediksi Keberhasilan Gagasan Ditinjau dari segi ekonomi, bahan baku (brine water) yang tersedia sangat melimpah karena setiap jamnya dihasilkan 200 m3 dari hasil residu PLTU Tanjung B, Jepara. Dari 200 m3 tersebut, potensi klorin yang dihasilkan adalah sebanyak 6,2 ton. Pendapatan yang diperoleh dari 200 m3 brine water adalah $9.300. Selain itu, konsumsi listrik akan lebih efisien dengan menggunakan teknologi elektrolisis plasma non-termal dibandingkan elektrolisis biasa. Berdasarkan kedua hal tersebut, dibutuhkan pengelolaan klorin yang mandiri, salah satunya yaitu dengan didirikan pabrik klor alkali. Pabrik ini diprediksikan akan

menyerap tenaga kerja yang banyak, khususnya bagi penduduk Jepara sehingga dapat mengurangi angka pengangguran. Ditinjau dari segi teknis, penggunaan brine water akan mengurangi konsumsi air tawar yang digunakan dalam industri klor alkali. Hal ini akan mengurangi dampak krisis air tawar yang melanda beberapa daerah di Indonesia, termasuk di Pulau Jawa. Keberhasilan dari gagasan ini akan tercapai apabila setiap residu dari seluruh PLTU di Indonesia dapat dikelola untuk menghasilkan klorin dengan teknologi plasma non-termal. Hal ini akan menjadi salah satu alternatif dalam memenuhi kebutuhan klorin nasional oleh industri klor-alkali seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk.

DAFTAR PUSTAKA Abdel-Aal, H. K., Zohdy, K. M. & Kareem, M. A. 2010. Hydrogen Production Using Sea Water Electrolysis. the Open Fuel Cells Journal 3: 1-7. Anderson, Genny. (2008) Seawater Composition [Internet], Marine Science. Tersedia dalam: <http://www.marinebio.net/marinescience/02ocean/swcomposition.htm> [Diakses 17 Februari 2010]. Asahimas Chemical. 2012. Proses [Internet]. Tersedia dalam: <http://www.asc.co.id/?idm=2> [Diakses 20 Februari 2012]. Astle, M.J., Weast, R.C. ed. 1982. CRC Handbook of Chemistry and Physics. Florida : CRC Press. Badan Pusat Statistik. 2010. Penduduk Indonesia menurut Provinsi 1971, 1980, 1990, 1995, 2000 dan 2010 [Internet]. Tersedia dalam: <http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=12&notab=1> [Diakses 26 Februari 2012]. Badan Pusat Statistik Kabupaten Jepara. 2008. Jepara Dalam Angka. [Internet]. Tersedia dalam: <http://jeparakab.bps.go.id/publikasi/2009/jda_2009.pdf> [Diakses 26 Februari 2012]. Bismania. 2012. Jarak Tempuh Bus AKAP - Hitung Biaya Solar/Bensin-mu Disini [Internet]. Tersedia dalam: http://www.bismania.com/home/showthread.php?t=3312&page=1 [Diakses 24 Februari 2012] Budiman, Aditya., &Triyono, Heru.2011. DKI Jakarta Nyaris Kelebihan Penduduk [Internet], Tempo, Tersedia dalam: <http://www.tempo.co/read/news/2011/09/10/057355494/DKI-Jakarta-NyarisKelebihan-Penduduk> [Diakses: 25 Februari 2012].

Euro Chlor. 2012. How to Produce Chlorine [Internet]. Tersedia dalam: <http://www.eurochlor.org/> [Diakses 9 Februari 2012]. Hasan, A. 2006.Dampak Penggunaan Klorin. Jurnal Teknologi Lingkungan 7(1): 90-96. Jinzhang, G., et al. 2008.Analysis of Energetic Species Caused by Contact Glow Discharge Electrolysis in Aqueous Solution. Plasma Science and Technology 10(1). Marwati. (2010) Achieving Doctoral Degree by Researching Economic Potential of Brine Water Residues from Steam Power Plant [Internet]. Tersedia dalam: <http://www.ugm.ac.id/en/?q=news/achieving-doctoral-degree-researching-economic-potentialbrine-water-residues-steam-power-plant> [Diakses 8 Februari 2012]. Melin-Martel, N., Sadhwani, J.J. & Bez, S. Ovidio Prez. 2011.Saline waste disposal reuse for desalination plants for the chlor-alkali industry The particular case of pozo izquierdo SWRO desalination plant. Desalination 281: 35-41. Mizuno, T., Akimoto, T., Ohmori, T., 2003. Confirmation of Anomalous Hydrogen Generation by Plasma Electrolysis. In:4th Meeting of Japan CF Research Society, Iwate, Japan: Iwate University. Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian. 2012. Indonesia akan Krisis Air. [Internet]. Tersedia dalam: <http://pustaka.litbang.deptan.go.id/inovasi/ kl060218.pdf> [Diakses 16 Februari 2012]. Saksono, Nelson., Ariawan, Bondan., Bismo, Setijo. 2012.Hydrogen Production System Using Non-Thermal Plasma Electrolysis in Glycerol-KOH Solution. International Journal of Technologi 1: 8-15. Santorelli, Rosanna; Schervan, Ardian. (2009). Energy Production From Hydrogen Co-Generated In Chlor-Alkali Plants By The Means Of Pem Fuel Cells Systems. Via XXV Aprile 2, 20097. Italy: San Donate Milanese (Milano). Schlumberger. 2012. Oil Field Glossary. Terdapat dalam: <glossary.oilfield.slb.com> [Diakses 9 Februari 2012]. Schmittinger, P. ed. 2000. Chlorine : Principle and Industrial Practice. Freiburg : Wiley-VCH. Steward, Dough. 2012.Chlorine Element Facts [internet]. Tersedia dalam : <http://www.chemicool.com/elements/chlorine.html> [Diakses 4 November 2012] World Chlorine Council. 2012. Chlorine Products & Benefits [Internet]. Tersedia dalam: <http://www.eurochlor.org/> [Diakses 16 Februari 2012]. Yan, Z.C., Li, C. & Wang, H. 2006. Hydrogen generation by glow discharge plasma electrolysis of methanol solutions. International Journal of Hydrogen Energy 34 : 48-55.