Anda di halaman 1dari 26

Reaktor nonisothermal

Muthia Elma, M.Sc.

Reaktor Non-Isothermal
Konversi dan distribusi hasil reaksi berpengaruh kepada tipe

dan

ukuran reaktor
Reaksi di reaktor dipengaruhi oleh

temperatur dan tekanan

Pengaruh suhu dapat berhubungan dengan permasalahan operasi maupun disain reaktor baik untuk sistim reaksi tunggal maupun reaksi ganda (seri/paralel)

Jika reaksi berlangsung pada suhu tetap atau relatif tetap maka reaktor beroperasi Isotermal. jika panas reaksi yang timbul relatif kecil atau karena konsentrasinya yang rendah (encer) maka efeknya terhadap reaktor menjadi kecil (diabaikan). Pada kondisi ini maka laju reaksi tidak dipengaruhi perubahan suhu yang terjadi karena konstanta kecepatan reaksinya tetap

Jika pada reaksi-reaksi yang panas reaksinya relatif besar maka perhitungan perancangan reaktornya harus melibatkan efek panas yang terjadi, dalam hal ini dapat menggunakan persamaan neraca panas

Contoh menghitung volume yang diperlukan untuk konversi, X dalam reaktor tubular (PFR) untuk reaksi orde 1, eksotermik dioperasikan secara adiabatik, maka profil suhunya dapat digambarkan oleh kurva berikut ini

Neraca masa, kinetika dan hubungan stoikiometri adalah :

Persamaan diselesaikan dengan mengetahui konversi reaksi dan suhu reaksi

Suhu pada laju reaksi


a. Reaksi Irreversibel
Untuk reaksi orde 1 :

-rA = kCA Dengan menggunakan pers. Arhenius -rA = ko exp[-E/RT] CAo (1 xA)

konversi dan suhu pada berbagai laju reaksi untuk reaksi irreversibel

Untuk konversi tertentu maka sebaiknya reaktor dioperasikan pada suhu tinggi, selama memungkinkan (keterbatasan material reaktor) agar dapat memaksimumkan laju reaksi dan meminimumkan ukuran reaktor

b. Reaksi Reversibel Endotermik Pada reaksi endotermik reversible A B energi aktivasi reaksi kekanan lebih besar dari energi aktivasi reaksi kekiri. Laju reaksi netto merupakan selisih antara reaksi kekanan dan reaksi kekiri seperti dinyatakna dalam persamaan berikut : -rA = k1CA - k2CB

Jika pada keadaan awal tidak ada reaktan B :


-rA = k10 exp[-E1/RT] CAo (1 xA) - k20 exp[-E2/RT] CAo xA

Pada keadaan seimbang rA = 0 dan xA = xAe , maka :


X k k E E = = K = exp 1 X k k RT
Ae 1 10 2 1 Ae 2 20

K adalah konstanta kesetimbangan, maka


X =
Ae

K 1+ K

Jika temperatur naik maka nilai K juga meningkat untuk reaksi endotermik dan nilai konversi keseimbangan meningkat.

Hubungan konversi dan suhu pada berbagai laju reaksi ( reaksi reversibel Endotermik)

Konversi keseimbangan meningkat dengan kenaikan suhu. Garis equilibrium menunjukkan laju reaksi yang konstan (= nol). Garis yang dekat dengan garis equilibrium menunjukkan laju reaksi yang rendah. Makin jauh dari garis equilibriun makin tinggi laju reaksinya. Seperti pada reaksi irreversible maka untuk konversi tertentu maka sebaiknya reaktor dioperasikan pada suhu setinggi mungkin agar dapat memaksimumkan laju reaksi dan

meminimumkan ukuran reaktor

c. Reaksi Reversibel Exotermik

Untuk reaksi eksotermik reversible A B energi aktivasi reaksi kekanan lebih rendah dari energi aktivasi reaksi sebaliknya Maka :

K X = 1+ K
Ae

Jika temperatur naik maka nilai K akan menurun dan nilai konversi keseimbangan juga menurun.

Hubungan konversi dan suhu pada berbagai laju reaksi (reaksi reversibel Exotermik)

Garis equilibrium menunjukkan laju reaksi yang konstan (= nol). Akan tetapi terdapat laju reaksi nol pada suhu sama dengan nol. Garis yang dekat dengan garis equilibrium menunjukkan laju reaksi yang rendah. Makin jauh dari garis equilibrium makin tinggi laju reaksinya. Akan tetapi untuk konversi tertentu laju reaksi mula-mula akan naik sampai mencapai maksimumnya kemudian turun. Berarti jika reaktor dioperasikan pada konversi tertentu, sebaiknya dioperasikan pada temperatur optimum yang memperikan konversi maximum, hal ini dapat dicapai oleh reaktor teraduk (MFR). Sedangkan untuk reaktor plug flow, dimana konversi bervariasi sepanjang reaktor, maka suhu optimumnya juga bervariasi, sehingga perlu dicari garis operasi optimum (progression optimum temperature)

Energy Balance (Neraca energy)


Rate of flow of heat to the system from the surrounding Rate of work done by the system on the surroundings Rate of energy added to the system by mass flow into the system Rate of energy leaving the system by mass flow out of the system Rate of accumulation of the energy within the system

& W s Fin Ein Fout Eout

Control Volume
& Q dE & & Q W + Fin Ein Fout Eout = dt

Energi dinyatakan dalam enthalpy H = E + PV, maka :

Untuk keadaan steady :

Persamaan diatas perlu dinyatakan dalam bentuk yang mudah untuk digunakan dalam menghubungkan X dan T untuk perancangan reaktor. Untuk itu laju alir molar dinyatakan dalam suku-suku konversi dan enthapi sebagai fungsi suhu dengan merinci Fi dan Hi.

Untuk reaksi umum berikut : Laju alir, Fi Secara umum,

Enthalpi, Hi

Asumsi tidak ada perubahan fasa :

Kapasitas panas rata-rata :


&

Bila kapasitas panas adalah fungsi suhu sebagai berikut:

Maka bila panas reaksi pada suatu suhu diketahui, panas reaksi pada suhu lain dapat dihitung.

Neraca Energy dengan enthalpi yang terurai :

Persamaan Neraca Energy dengan kapasitas rata-rata :

Persamaan Neraca Energy Adiabatik :

Persamaan Neraca Energy Adiabatik untuk kapasitas panas variabel:

Untuk kapasitas panas konstan :

Keadaan khusus untuk CSTR, PFR, Batch :

Jika MFR/CSTR dengan pendinginan/pemanasan UA(Ta-T) dan laju alir besar :

Jika PFR/PBR dengan pendinginan/pemanasan UA(TaT) dan laju alir besar :